BAB I PENDAHULUAN
H. Metode Penelitian
I. Sistematika Penelitian
Pada bab ini peneliti menjelaskan mengenai penegasan judul, latar belakang, Identifikasi Masalah, fokus dan sub fokus, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian penelitian terdahulu yang relevan, metode penelitian, dan sistematika penelitian.
2. Bab II Landasan Teori
Landasan teori merupakan bagian dari penelitian yang akan digunakan dalam panduan penyusunan penelitian.
3. Bab III Deskripsi Objek Penelitian
Menjelaskan gambaran umum mengenai objek penelitian, penyajian fakta dan data penelitian.
39 Nusa Putra, Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hal. 103.
4. Bab IV Analisis Penelitian
Membahas terkait analisis data yang telah di teliti, kemudian membahas terkait data-data yang sudah dikumpulkan.
5. Bab V Penutup
Menjelaskan mengenai simpulan dan rekomendasi berdasarkan pengalaman di lapangan untuk perbaikan proses pengujian selanjutnya.
25
LANDASAN TEORI A. Layanan Konseling Kelompok
1. Pengertian Layanan Konseling Kelompok
Dalam bimbingan konseling terdapat berbagai jenis layanan dan kegiatan, diantaranya adalah layanan konseling kelompok.40 Prayitno dan Erman Amti menyatakan bahwa Layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilakukan di dalam suasana kelompok. Di mana dalam konseling tersebut terdapat seorang konselor dan konseli yaitu anggota kelompok yang berjumlah lebih dari dua orang. Layanan dan konseling kelompok dapat membantu klien dalam mengentaskan serta memperoleh kesempatan untuk membahas masalah yang dialaminya dalam dinamika kelompok.41
Pengertian tersebut sejalan dengan pendapat Juntika Nurihsan yang menyatakan bahwa konseling kelompok adalah suatu bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya.42 Menurut Pietrofesa konseling kelompok adalah proses remediasi dan yang berorientasi pada problem yang mengacu pada pemecahan problemindividu di dalam situasi kelompok. Sedangkan menurut Gazda mendefinisikan konseling Kelompok merupakan hubungan antara beberapa konselor dan beberapa klien yang berfokus pada pemikiran dan tingkah laku yang
40Ifan Setiawan and Heru Mugiarso, “Konseling Kelompok Berbasis Cybercounseling Pendekatan Rational Emotive Behaviour Theraphy ( REBT ) Untuk Meningkatkan Kontrol Diri Siswa,” Englighten Jurnal Bimbingan Konseling Islam 4, no. 1 (2021): 30–41.
41Prayitno and Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling, Jakarta:
Rineka Cipta, 2015, h. 311.
42Edi Kurnanto, Konseling Kelompok, hal. 7-9.
disadari.43 Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa layanan konseling kelompok merupakan layanan yang dapat membantu individu dalam mengungkapkan dan memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi oleh individu dengan cara dinamika kelompok.
2. Komponen Konseling Kelompok
Prayitno menjelaskan bahwa dalam konseling kelompok terdapat tiga komponen yang berperan, yaitu pemimpin kelompok, peserta atau anggota kelompok dan dinamika kelompok.
a. Pemimpin kelompok
Pemimpin kelompok adalah komponen yang penting dalam konseling kelompok, dalam hal ini pemimpin bukan saja mengarahkan perilaku anggota sesuai dengan kebutuhan melainkan juga harus tanggap terhadap segala perubahan yang berkembang di dalam kelompok tersebut.
Dalam hal ini menyangkut adanya peranan pemimpin konseling kelompok, serta fungsi pemimpin kelompok.
Seperti yang diungkapkan oleh Prayitno, menjelaskan bahwa pemimpin kelompok adalah orang yang mampu menciptakan suasan sehingga anggota kelompok dapat belajar bagaimana mengatasi masalah mereka sendiri.
Dalam kegiatan konseling kelompok, pemimpin kelompok memiliki peran. Prayitno, menjelaskan peranan pemimpin kelompok adalah memberikan bantuan, pengarahan ataupun campur tangan langsung terhadap kegiatan konseling kelompok, memusatkan perhatian kepada suasana perasaan yang berkembang dalam kelompok, memberikan tanggapan (umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadi dalam kelompok, baik yang bersifat isi maupun proses kegiatan kelompok, dan sifat kerahasiaan dari kegiatan kelompok itu dengan segenap
43Namora Lumongga Lubis, Memahami Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori Dan Praktik, (Jakarta: Kencana, 2014).
isi dan kejadian-kejadian yang timbul didalamnya menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.
b. Anggota kelompok
Keanggotaan merupakan salah satu unsur pokok dalam kehidupan kelompok. Tanpa anggota tidaklah mungkin ada kelompok. Tidak semua kumpulan orang atau individu dapat dijadikan anggota konseling kelompok. Untuk terselenggaranya konseling kelompok seorang konselor perlu membentuk kumpulan individu menjadi sebuah kelompok yang memiliki persyaratan sebagaimana seharusnya. Besarnya kelompok (jumlah anggota kelompok), dan homogenitas atau heterogenitas anggota kelompok dapat mempengaruhi kinerja kelompok. Sebaiknya jumlah anggota kelompok tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.
c. Dinamika kelompok
Dalam kegiatan konseling kelompok dinamika konseling kelompok sengaja ditumbuh kembangkan, karena dinamika kelompok adalah interaksi Interpersonal yang ditandai dengan semangat, kerjasama antar anggota kelompok, saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan mencapai tujuan kelompok. Interaksi yang Interpersonal inilah yang nantinya akan mewujudkan rasa kebersamaan diantara anggota kelompok, menyatukan kelompok untuk dapat lebih menerima satu sama lain, lebih saling mendukung dan cenderung untuk membentuk interaksi yang berarti dan bermakna didalam kelompok.
Menurut Prayitno, faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas kelompok yaitu; “Tujuan dan kegiatan kelompok;
jumlah anggota; kualitas pribadi masing-masing anggota kelompok; kedudukan kelompok; dan kemampuan ke dalam memenuhi kebutuhan anggota untuk saling berinteraksi
sebagai kawan, kebutuhan untuk diterima, kebutuhan akan rasa aman, serta kebutuhan akan bantuan moral”.44
Dengan demikian komponen konseling kelompok dijiwai oleh dinamika kelompok yang akan menentukan gerak dan arah pencapaian tujuan kelompok. Dinamika kelompok ini digunakan untuk mencapai tujuan konseling kelompok.
Konseling kelompok menggunakan dinamika kelompok sebagai media dalam upaya membimbing anggota kelompok dalam mencapai tujuan. Dinamika kelompok itu unik dan hanya dapat ditemukan dalam suatu kelompok yang benar- benar hidup. Kelompok yang hidup adalah kelompok yang dinamis, bergerak dan aktif yang berfungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai suatu tujuan.
3. Anggota Kelompok
a. Pembentukan Anggota Kelompok
Tidak semua kumpulan orang atau individu dijadikan anggota Konseling Kelompok. Suatu kelompok yang sukses dihasilkan dari perencanaan yang cermat dan terperinci. Perencanaan tujuan dasar pembentukan kelompok, cara mengumumkan dan merekrut anggota, pemilihan dan seleksi, keanggotaan, banyaknya anggota kelompok, frekuensi dan lamanya pertemuan, serta waktu pertemuan. Layanan konseling kelompok tidak selalu efektif untuk semua orang. Sebagaimana diungkapkan ada beberapa kondisi yang sangat tidak direkomendasikan dalam kriteria seseorang menjadi pemilihan anggota konseling kelompok. Menurut Farida kondisi tersebut antara lain dalam keadaan depresi, sangat takut berbicara didalam kelompok sampai-sampai keringat dingin keluar yang berlebihan, tidak memiliki keterampilan sama sekali, terlalu banyak menuntut perhatian dari orang lain sehingga dapat mengganggu di dalam kelompok tersebut. Ada beberapa hal yang perlu
44Prayitno and Amti, Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling, h.318.
menjadi perhatian ketika konselor ingin membentuk suatu kelompok konseling, antara lain besarnya kelompok, homogenitas dan heterogenitas anggota kelompok, serta peran dari anggota kelompok.
b. Besarnya Anggota Kelompok
Kelompok yang terlalu kecil, misalnya 2-3 orang akan mengurangi efektifitas Konseling Kelompok. Kedalaman dan variasi pembahasan menjadi terbatas, karena sumbernya (yaitu para anggota kelompok ) memang terbatas. Di samping itu dampak layanan juga sangat terbatas, karena hanya didapat oleh 2-3 orang saja.Kondisi seperti itu mengurangi makna keuntungan ekonomis Konseling Kelompok. Hal ini tidak berarti bahwa Konseling Kelompok tidak dapat dilakukan terhadap kelompok yang beranggotakan 2-3 orang saja, hal itu dapat dilakukan tetapi kurang efektif. Sebaliknya, kelompok terlalu besar juga kurang efektif. Karena jumlah peserta yang terlalu banyak, maka partisipasi aktif individual dalam dinamika kelompok menjadi kurang intensif; kesmpatan berbicara dan memberikan/menerima
“sentuhan” dalam kelompok kurang, padahal melalui
“sentuhan- sentuhan” dengan frekuensi tinggi itulah individu memperoleh manfaat langsung dalam layanan Konseling Kelompok. Kekurangefektifan kekompakan mulai terasa jika jumlah anggota kelompok melebihi 10 orang. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Prayitno :
“Kekurang efektivan kelompok akan mulai terasa jika jumlah anggota kelompok melebihi 10 orang”.45
Menurut Wibowo jumlah anggota konseling kelompok yang ideal adalah maksimal delapan orang. hal ini untuk membedakan antara bimbingan kelompok dan konseling kelompok. Jika jumlah anggota terlalu banyak maka akan berdampak kurang kondusifnya kelompok dalam melakukan pembahasan permasalahan dalam
45Ibid, h.9.
kelompok, namun jika terlalu sedikit makan akan berdampak kepada keterbatasan sumber referensi dalam pembahasan permasalahan dan dinamika kelompok tidak akan berjalan.46
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah anggota konseling kelompok yang idela berkisar antara delapan sampai sepuluh orang. Jika kurang dari delapan orang atau lebih dari sepuluh orang akan berdampak kepada tidak efektifnya konseling kelompok karena sulit dalam pembentukan dinamika kelompok.
c. Homogenitas/Heterogenitas Anggota Kelompok
Dalam konseling kelompok homogenitas anggota kelompok akan sangat berpengaruh terhadap keberfungsian kelompok. Hal tersebut selara dengan pendapat Farida bahwa Suatu kelompok yang homogen akan lebih fungsional dibandingkan dengan kelompok yang heterogen. Misal kelompok remaja, masalah- masalah dapat difokuskan pada masalah pubertas, seperti hubungan antar pribadi, perkembangan seksual, dan kemandirian. Melalui interaksi dalam kelompok usia sebaya antara individu satu dengan yang lainya, mereka dapat berbagi rasa, saling mendukung dan salling mengerti.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam pembentukan kelompok sehingga kerjasama yang baik antar anggota kelompok dapat tercipta Perubahan yang intensif dan mendalam memerlukan sumber-sumber yang bervariasi. Dengan demikian, layanan Konseling Kelompok memerlukan anggota kelompok yang dapat menjadi sumber-sumber bervariasi untuk membahas masalah pribadi dan memecahkan masalah tertentu.
46Mungin Eddy Wibowo, Konseling Kelompok Perkembangan, (Semarang:
UNNES Press, 2005), h.18.
Menurut Prayitno kondisi dan karakteristik anggota kelompok untuk Konseling Kelompok yang baik adalah yang homogen, hal ini berkaitan dengan format dan peranan anggota kelompok, dimana untuk membahas permasalahan pribadi diutamakan anggota kelompok yang memiliki homogenitas.47 Homogenitas dalam layanan konseling kelompok yang dimaksud adalah homogen dalam hal usia dan jenjang pencapaian tugas perkembangan. Artinya bahwa dalam menentukan kelompok hendaknya dipilih yang usianya relative sama dan memiliki karakteristik jenjang pendidikan yang sama, hal ini bertujuan ketika dalam pelaksanaan konseling kelompok tidak terjadi ketimpangan saat melakukan pembahasan suatu masalah yang menjadi topik dalam kegiatan Konseling Kelompok. Dengan usia perkembangan yang relatif sama akan berdampak kepada kesamaan pemahaman dan pola pikir dalam pembahasan suatu topik permasalahan.
Dengan demikian dalam konseling kelompok homogenitas sangat ditekankan guna menghindari kesenjangan saat melakukan suatu pembahasan topik permasalahan. Hal ini dikarenakan dalam konseling kelompok yang menjadi pembahasan adalah permasalahan pribadi maka sangat dianjurkan dalam pemilihan anggota kelompoknya adalah individu yang berada pada jenjang usia perkembangan yang relatif sama, dan hal ini pula yang membedakan antara konseling kelompok dan bimbingan kelompok.
d. Peran anggota kelompok
Anggota kelompok merupakan pihak yang memiliki peran yang sangat besar dalam konseling kelompok karena menjadi aktor utama dalam pencapaian tujuan pelaksanaan layanan konseling kelompok. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan layanan konseling
47Ibid, h. 70.
terdapat asas-asas dalam pelaksanan layanan konseling kelompok yang salah satunya adalah asas kemandirian yaitu keputusan diambil sendiri oleh klien. Dalam kegiatan layanan konseling kelompok, anggota kelompok memiliki perananan sebagai pihak yang menjadi subyek sekaligus objek dalam pelaksanaan layanan.
Dalam hal ini prayitno mengistilahkannya dengan aktifitas mandiri. Sebagaimana yang dinyatakan bahwa Peran Anggota Kelompok dalam layanan bimbingan kelompok dan Konseling Kelompok bersifat dari, oleh, dan untuk para anggota kelompok sendiri. Masing- masing anggota kelompok beraktifitas langsung dan mandiri dalam bentuk:
1) Mendengar, memahami dan merespon dengan tepat dan positif (3-M).
2) Berfikir dan berpendapat
3) Menganalisis, mengkritisi dan berargumentasi 4) Merasa, berempati dan bersikap.
5) Berpartisipasi dalam kegiatan bersama.
Aktifitas mandiri masing-masing anggota kelompok itu diorientasikan pada kehidupan bersama dalam kelompok. Kebersamaan ini diwujudkan melalui:
1) Pembinaan keakraban dan keterlibatan secara emosional antar anggota kelompok
2) Kepatuhan terhadap aturan kegiatan dalam kelompok 3) Komunikasi jelas dan lugas dengan lembut dan
bertatakrama.
4) Kesadaran bersama untuk menyukseskan kegiatan kelompok.
Berdasarkan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa anggota kelompok memiliki peranan sebagai subjek sekaligus objek dalam pelaksanaan konseling kelompok. Adapun untuk melihat peran tersebut, dapat diamati dalam bentuk Mendengar, memahami dan
merespon dengan tepat dan positif (3-M),berfikir dan berpendapat, menganalisis, mengkritisi dan berargumentasi, merasa, berempati dan bersikap, berpartisipasi dalam kegiatan bersama. Yang secara umum dalam kegiatan konseling kelompok dapat diamati melalui pembinaan keakraban dan keterlibatan secara emosional antar AK, kepatuhan terhadap aturan kegiatan dalam kelompok, komunikasi jelas dan lugas dengan lembut dan bertatakrama, kesadaran bersama untuk menyukseskan kegiatan kelompok.
4. Pendekatan dan Teknik Pembentukan Kelompok
Pembentukan kelompok dalam keegiatan bimbingan dan konseling dapat digunakan berbagai pendekatan. Kelompok untuk layanan Konseling Kelompok dapat dibentuk melalui pengumpulan sejumlah individu (siswa dan individu lainnya) yang berasal dari :
a. Satu kelas siswa yang dibagi dalam beberapa kelompok b. Kelas-kelas siswa yang berbeda dihimpun dalam satu
kelompok
c. Lokasi dan kondisi yang berbeda dikumpulkan menjadi satu kelompok.48
Pengelompokan individu itu dengan memperhatikan aspek-aspek relatif homogenitas dan heterogenitas sesuai dengan tujuan layanan.Data hasil instrumentasi, himpunan data dan sumber-sumber lainnya dapat menjadi pertimbanggan dalam pembentukan kelompok.Penempatan seseorang dalam kelompok tertentu dapat merupakan penugasan, penetapan secara acak, ataupun pilihan bebas individu yang bersangkutan. Dalam hal ini, seseorang atau lebih dapat ditempatkan dalam kelompok tertentu untuk secara khusus memperoleh layanan Konseling Kelompok .
48Ibid, h. 212-217.
5. Tujuan Konseling Kelompok
Prayitno menjelaskan bahwa tujuan konseling kelompok adalah sebagai berikut;49
a. Tujuan Umum
Tujuan umum kegiatan konseling kelompok adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi peserta didik, khususnya kemampuan komunikasi peserta layanan.
Dalam kaitan ini, sering menjadi kenyataan bahwa kemampuan bersosialisasi/berkomunikasi seseorang sering terganggu perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap yang tidak objekstif, sempit serta tidak efektif.
b. Tujuan Khusus
Secara Khusus, konseling kelompok bertujuan untuk membahas topik-topik tertentu yang mengandung permasalahan aktual (hangat) dan menjadi perhatian peserta. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan sikap yang menunjang diwujudkannya tingkahlaku yang lebih efektif.
Menurut Winkel dalam buku Edi Kurnanto menyatakan bahwa Konseling Kelompok memiliki beberapa tujuan diantaranya yaitu:50
a. Masing-masing anggota kelompok memahami dirinya dengan baik dan menemukan dirinya sendiri;
b. Para anggota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga meraka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas- tugas perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka;
49Prayitno and Amti, Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling, h.143.
50Edi Kurnanto, Konseling Kelompok, hal. 10-11.
c. Para anggota kelompok memperoleh kemampuangan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri;
d. Para anggota kelompok menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain
e. Masing-masing anggota kelompok menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai;
f. Para anggota kelompok lebih berani melangkah maju dan menerima resiko yang wajar dalam bertindak;
g. Para anggota kelompok lebih menyadari dan menghayati makna dan kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama;
h. Masing-masing anggota kelompok semakin menyadari bahwa hal-hal yang memprihatinkan bagi dirinya sendiri kerap juga menimbulkan rasa prihatin dalam hati orang lain;
i. Para anggota kelompok belajar berinteraksi dengan anggota yang lain secara terbuka.
Sama halnya dengan pernyataan Edi Kurnanto yang menyatakan bahwa tujuan pelaksanaan konseling kelompok adalah “untuk meningkatkan kepercayaan diri konseli.
Kepercayaan diri dapat ditinjau dalam kepercayaan diri lahir dan batin yang di implementasikan kedalam tujuh ciri yaitu, cinta diri dengan gaya hidup dan perilaku untuk memelihara diri, sadar akan potensi dan kekurangan yang dimiliki, memiliki tujuan hidup yang jelas, berfikir positif dengan apa yang akan dikerjakan dan bagaimana hasilnya, dapat berkomunikasi dengan orang lain, memiliki ketegasan, penampilan diri yang baik, dan memiliki pengendalian perasaan.”51
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan konseling kelompok adalah
51Ibid. h. 12
memanfaatkan dinamika kelompok untuk membantu konseli atau peserta didik dalam mengentaskan masalah hidup yang dihadapinya. Tujuan pelaksanaan konseling kelompok bagi konseli adalah untuk mengembangkan berbagai keterampilan meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan terhadap orang lain
6. Asas Konseling Kelompok
Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional, begitu juga layanan konseling kelompok yang merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling disekolah.Sebagai sebuah pekerjaan professional penyelenggaraan layanan konseling kelompok harus memperhatikan penerapan kaidah-kaidah dalam layanan bimbingan dan konseling yang terkenal dengan istilah asas-asas bimbingan dan konseling. Apabila asas-asas tersebut dilaksanakan dan terselenggara dengan baik, diharapkan proses pelayanan mengarah kepada tercapainya tujuan yang diharapkan.
Dalam kegiatan konseling kelompok terdapat asas yang sama dengan asas pelaksanaan layanan bimbingan kelompok secara umum. Setidaknya terdapat 12 asas dalam kegiatan layanan konseling kelompok, yaitu asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian, kegiatan, kadinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan dan tut wuri handayani. Sebagaimana dinyatakan oleh Prayitno: “Asas-asas yang dimaksud dalam layanan bimbingan dan konseling meliputi asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian, kegiatan, kadinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan dan tut wuri handayani.”52
Adapun menurut Wibowo, yang paling ditekankan dalam pelaksanaan layanan konseling kelompok adalah asas kerahasiaan. Sebagaimana dinyatakan bahwa: Norma
52Prayitno and Amti, Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling, h.115.
kelompok yang pertama kali yang sangat penting untuk dikemukakan adalah kerahasiaan, dia menambahkan bahwa kerahasiaan merupakan persoalan pokok yang paling penting dalam konseling kelompok dan konselor sebagai pemimpin kelompok saja yang harus menjaga kerahasiaan tentang apa yang terjadi selama konseling kelompok, tetapi pemimpin kelompok harus mengingatkan kepada semua anggota kelompok mengenai pemeliharaan kerahasiaan segala sesuatu yang terjadi selama konseling kelompok dan itu merupakan rahasia bersama.53
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya dalam pelaksanaan layanan konseling kelompok memiliki asas yang sama dengan pelaksanaan layanan bimbingan konseling secara umum yang memiliki 12 asas, akan tetapi asas dalam pelaksanaan layanan konseling kelompok yang diterapkan oleh guru bimbingan dan konseling di SMPN 2 Sragi Lampung selatan yaitu kerahasiaan, kesukarelaan, kemandirian, kenormatifan dan keahlian.
7. Tahap-tahap Konseling Kelompok
Sebelum diselenggarakan konseling kelompok, ada beberapa tahapan yang perlu dilaksanakan terlebih dahulu.
Menurut Prayitno, membagi tahapan penyelenggaraan konseling kelompok menjadi 4 tahap yaitu;54
a. Tahap pembentukan
Tahap pembentukan merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukan diri kedalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun harapan-harapan yang ingin dicapai.
53Mungin Eddy Wibowo, Konseling Kelompok Perkembangan, (Semarang:
UNNES Press, 2005, h. 8).
54Ibid,h.325.
b. Tahap peralihan
Tahap peralihan ini merupakan “jembatan” antara tahap pertama dan tahap ketiga. Tahap pada tahap ini tugas konselor adalah membantu para anggota untuk mengenali dan mengatasi halangan, kegelisahan, keengganan, sikap mempertahankan diri dan sikap ketidak sabaran yang timbul pada saat ini.
c. Tahap kegiatan
Tahap kegiatan merupakan tahap inti dari kegiatan konseling kelompok dengan susana yang ingin dicapai yaitu, terbahasanya secara tuntas permasalahan yang dihadapi oleh anggota kelompok dan terciptanya susana untuk mengembangkan diri, baik yang menyangkut pengembangan kemampuan berkomunikasi maupun menyangkut pendapat yang dikemukakan oleh kelompok.
d. Tahap pengakhiran
Pada tahap pengakhiran terdapat dua kegiatan yaitu, penilaian (evaluasi) dan tindak lanjut (follow up). Tahap ini merupakan tahap penutup dari serangkaian kegiatan konseling kelompok dengan tujuan telah tuntasnya topik yang dibahas oleh kelompok tersebut. Oleh karena itu pemimpin kelompok berperan untuk memberikan penguatan (reinforcement) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh kelompok tersebut.
Berdasarkan tahap-tahap konseling yang telah dikemukakan diatas, kiranya konseling haruslah dilakukan dengan sistematis, sesuai dengan yang telah diuraikan agar tujuan dari konseling kelompok yag telah dirumuskan dapat terlaksana dengan baik dan efektif.
B. Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) 1. Pengertian Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)
Menurut Gantina Komalasari Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah “pendekatan behavior kognitif yang
menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran.”55 Konseling REBT atau yang lebih dikenal dengan Rational Emotive Behaviour Therapy adalah konseling yang menekankan interaksi berfikir dan akal sehat (rational thingking), perasaan (emoting), dan berperilaku (acting). Teori ini menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam terhadap cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku, sehingga seseorang akan memiliki kepercayaan diri dan mampu memecahkan masalah serta memiliki tujuan hidup yang berarti bagi orang lain.56 Selain itu pendekatan REBT menurut Albert Ellis
“menekankan kepada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku”. Ellis berpandangan bahwa pendekatan REBT merupakan “terapi yang sangat komprehensif, yang menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan emosi, pikiran dan perilaku”.57
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan REBT adalah terapi yang berusaha menghilangkan pemikiran klien yang tidak logis atau irasional dan menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional dengan cara menghadapi klien dengan keyakinan- keyakinan irasionanya serta menyerang, menantang, mempertanyakan, dan membahas keyakinan-keyakinan yang irasional.
2. Konsep Dasar Rational Emotive Behavior Therapy Menurut Gantina dkk menyatakan bahwa Pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) dikembangkan oleh Albert Ellis pada tahun 1950-an yang
55Gantina Komalasari, Wahyuni, and Karsih, Teori Dan Teknik Konseling, h.201.
56Achmad Mubarok, Imas Rahman Kania, and Muhyani, “Rational Emotive Behaviour Therapy (Rebt) Berbasis Islam,” Annual Conference on Islamic Education and Social Sains(ACIEDSS) 20, no. 2 (2019): 1–17.
57Bradlay T. Erford, 40 Teknik Yang Harus Diketahui Seriap Konselor, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2016), h. 269.