UANG DALAM BINGKAI ISLAM
C. Rekomendasi Islam
mengundang spekulasi dengan margin trading, seperti sekarang ini (Ghazali, 1990).
Untuk kembali kepada penggunan uang emas dan perak, merupakan sesuatu yang amat sulit. Hal ini disebabkan karena terbatasnya jumlah cadangan emas dan perak. Akibatnya, kebutuhan transaksi dalam perekonomian yang cepat berakselerasi, tidak sebanding dengan cadangan emas yang tersedia. Pertumbuhan aktivitas ekonomi yang semakin banyak dan sangat beragam, sulit untuk dapat diimbangi dengan sejumlah produksi emas yang dapat dihasilkan oleh tambang-tambang di seluruh dunia. Kondisi ini menjadikan pencetakan uang kertas tidak lagi perlu dijamin oleh cadangan emas atau logam mulia. Realitas ini, selanjutnya mengundang terjadinya bisnis spekulasi mata uang yang disebut dengan transaksi maya. Uang telah dijadikan sebagai komoditas yang diperdagangkan, bukan untuk kebutuhan sektor riil. Padahal, dalam konsep Islam, uang tidak boleh dijadikan sebagai komoditas, karena itu Islam dengan tegas melarang spekulasi mata uang.
Ayat tersebut menjelaskan orang-orang yang menimbun emas dan perak baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk kekayaan biasa dan mereka tidak mau mengeluarkan zakatnya akan diancam dengan azab yang pedih. Artinya secara tidak langsung ayat ini juga nenegaskan kewajiban zakat bagi logam mulia secara khusus. Lalu dalam QS. Al-Kahfi ayat 19 disebutkan:
ْمَك ْمُهْ نِم ٌلِئاَق َلاَق ْمُهَ نْ يَ ب اوُلَءاَسَتَ يِل ْمُهاَنْ ثَعَ ب َكِلََٰذَكَو اَنْ ثِبَل اوُلاَق ْمُتْ ثِبَل
ْمُكِقِرَوِب ْمُكَدَحَأ اوُثَعْ باَف ْمُتْ ثِبَل اَِبِ ُمَلْعَأ ْمُكُّبَر اوُلاَق ٍمْوَ ي َضْعَ ب ْوَأ اًمْوَ ي ُهْنِم ٍقْزِرِب ْمُكِتْأَيْلَ ف اًماَعَط َٰىَكْزَأ اَهُّ يَأ ْرُظْنَ يْلَ ف ِةَنيِدَمْلا َلَِإ ِهِذََٰه َلََو ْفَّطَلَ تَ يْلَو اًدَحَأ ْمُكِب َّنَرِعْشُي
(Begitulah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka:
Sudah berapa lamakah kamu berada [disini?]". Mereka menjawab:
"Kita berada [disini] sehari atau setengah hari". Berkata [yang lain lagi]: "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada [di sini]. Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun)
Ayat itu menceritakan kisah tujuh pemuda yang bersembunyi di sebuah gua (Ash-habul Kahfi) untuk menghindari penguasa yang zalim. Mereka lalu ditidurkan Allah selama 309 tahun. Ketika mereka terbangun dari tidur panjang itu, salah seorang dari mereka diminta oleh yang lain untuk mencari makanan sambil melihat keadaan.
Utusan dari pada pemuda itu membelanjakan uang peraknya (wariq) untuk membeli makanan sesudah mereka tertidur selama 309 tahun.
Al-Quran menggunakan kata wariq yang artinya uang logam dari perak atau istilah saat ini dikenal dengan dirham.
Jika demikian adanya, maka mata uang yang direkomendasikan dalam Islam adalah dinar dan dirham. Dinar adalah koin emas berkadar 22 karat (91,70%) dengan berat 4,25
gram. Sedangkan dirham adalah koin perak murni (99.95%) dengan berat 2.975 gram. Standar dinar dan dirham ini telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW, pada tahun 1 Hijriyah, dan kemudian ditegakkan oleh Khalifah Umar ibn Khattab pada tahun 18 Hijriyah. Pada saat itu untuk pertama kalinya Khalifah Umar ibn Khattab mencetak koin Dirham. Sedangkan orang yang pertama kali mencetak Dinar emas Islam adalah Khalifah Malik ibn Marwan pada tahun 70 Hijriah, dengan tetap mengacu kepada ketentuan dari Rasulullah SAW maupun Umar ibn Khattab RA, yaitu dalam rasio berat 7/10 (7 dinar berbanding 10 dirham).
Bagi negara-negara mayoritas muslim, fenomena memomulerkan penggunaan dinar dan dirham sebagai alat tukar pembayaran dan kegiatan transaksi ekonomi dilandasi oleh beberapa hal (Islahi, 1997), yaitu: Pertama, dalam Al-Qur’an dan Hadis banyak menyebutkan harta dan kekayaan dengan istilah emas dan perak.
Keyakinan ini semakin mendorong penggunaan atas keduanya meski tidak ada keharusan. Dalam sejarah Islam, terdapat dua kelompok yang mendefinisikan uang. Kelompok pertama adalah yang membatasi uang hanya pada emas dan perak saja, diantaranya Mujahid, AbuHanifah, An-Nakha'i, Abu Yusuf, An-Nabhani dan Baqir Sadr. Sedang yang tidak membatasi uang hanya pada emas dan perak saja adalah Laith ibn Sa' ad, Ibnu Taymiyah, As-Syaibani, Ibn Hazm, dan Az- Zuhri.
Kedua, dalam upaya menegakkan rukun Islam yaitu membayar zakat dan menegakkan hukum Islam yaitu hukuman bagi pencuri yang ukuran standarnya adalah dinar dan dirham. Seorang muslim yang memiliki harta emas, uang dan kekayaan lainnyayang telah mencapai nishab (ukuran berat) senilai emas 20 dinar wajib membayar zakat. Bagi pencuri yang senilai Vs dinar, maka padanya wajib dikenakan hukuman had (potong tangan), meski dalam tatanan implementasi sangat sulit untuk diterapkan.
Ketiga, bahwa uang emas bersifat universal dan dapat diterima oleh setiap manusia karena bahannya adalah emas dan relatif lebih sulit untuk dipalsukan. Uang emas memiliki warna, kadar dan kekuatan tertentu yang tidak bisa dibuat dari bahan logam lain.
Berbeda dengan uang kertas yang tidak jarang sulit untuk diterima oleh manusia dannegara lain, apakah alasan politis maupun alasan lain. Pemalsuan terhadap uang kertasjuga lebih mudah untuk dilakukan.
Keempat, uang emas dapat digunakan sebagai alat simpanan yang nilainya relatif stabil. Dengan uang emas, nilainya tidak mengalami fluktuasi yang tajam, kerena nilai uang nominal sama dengan nilai intrinsiknya. Hal ini berbeda dengan uang kertas yang nilainya sangat fluktuatif dan berbeda antara nilai nominal dengan nilai intrinsik uang. Stabilitas uang kertas sebagai alat pembayaran juga tidak terjamin, akibat digunakannya konsep time value of money dan kesalahan dalam memungsikan uang. Efek samping yang dirasakan dalam aktifitas ekonomi adalah bahwa nilai uang (kertas) akan berubah setiap kurun waktu karena nilainya mengalami penyusutan. Hal inilah yang membuat uang kertas dapat dipergunakan sebagai alat komoditi perdagangan dan spekulasi, bukan sebagai alat tukar pembayaran. Dampak digunakannya uang sebagai komoditi perdagangan adalah kehancuran nilai mata uang yang dijadikan sebagai sarana spekulasi, sehingga menyebabkan nilai mata uang jatuh. Jatuhnya nilai mata uang inilah yang banyak disimpulkan para ekonom sebagai penyebab kehancuran dan krisis ekonomi suatu negara.
Emas dan perak dipilih sebagai mata uang dengan empat alasan (Mardani, 2012), yaitu: Pertama, Al-Quran dan Hadis banyak menyebutkan harta dan kekayaan dengan istilah emas dan perak (dinar dan dirham). Keyakinan ini semakin mendorong penggunaan atas keduanya meski tidak ada keharusan. Kedua, sebagai upaya menegakkan rukun Islam, yaitu membayar zakat dan menegakkan
hukum Islam yaitu hukuman bagi pencuri yang ukuran standarnya adalah dinar dan dirham. Ketiga, bersifat universal dan dapat diterima oleh setiap manusia karena bahannya adalah emas dan perak, maka relatif lebih sulit untuk dipalsukan. Keempat, uang emas dan perak dapat digunakan sebagai alat simpanan yang nilainya relatif stabil.