• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rerangka Pemikiran

Dalam dokumen SKRIPSI - IBS Repository (Halaman 40-46)

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Rerangka Pemikiran

3) Anda berniat untuk menggunakan mobile coupon sesering mungkin dalam kehidupan pribadinya.

4) Anda berniat untuk menggunakan mobile coupon dalam kegiatan belanja anda.

Atas dasar hasil penelitian sebelumnya tersebut, maka hipotesisnya sebagai berikut:

H01 : Perceived Usefulness Tidak Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

Ha1 : Perceived Usefulness Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

2.2.2 Pengaruh Perceived Ease of Use Terhadap Behavioral Intention

Perceived Ease of use (PEOU) didefinisikan sebagai sejauh mana pengguna merasakan kemudahan dalam menggunakan teknologi (Ong et al., 2013). Menurut Shimp and Kavas (1984) yang telah menerapkan teori miliki Ajzen and Fishbein’s yakni theory of reasoned action (TRA) dimana teori tersebut dijadikan konseptualisasi untuk penggunaan coupon (Jayasingh & Eze, 2009). Mereka menemukan bahwa baik itu sikap personal maupun norma subjektif memainkan peran penting untuk menentukan minat menggunakan coupon. Hasil temuan penelitian (Safeena et al., 2012; Akturan dan Tezcan, 2012; Guriting dan Ndubisi, 2006; Wang et al., 2006) menunjukkan adanya hubungan yang positif antara perceived ease of use dengan minat mengadopsi mobile banking (Koksal, 2016).

Hasil temuan penelitian (Jayasingh & Eze, 2009) menyatakan perceived ease of use berpengaruh positif dan signifikan terhadap behavioral intention menggunakan mobile coupon, dengan perolehan (β=0,28). Atas dasar hasil penelitian sebelumnya tersebut, maka dapat dibuat hipotesisnya:

H02 : Perceived Ease of Use Tidak Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

Ha2 : Perceived Ease of Use Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

2.2.3 Pengaruh Perceived Credibility Terhadap Behavioral Intention

(Wang et al., 2003) perceived credibility telah didefinisikan sebagai berikut:

sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan layanan mobile akan terbebas dari ancaman keamanan (security) dan ancaman privasi (Jayasingh &

Eze, 2009).

(Wang et al., 2003) Perceived credibility memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap behavioral intentions untuk menggunakan online banking (Jayasingh & Eze, 2009). Akibatnya, perceived credibility dipergunakan dalam konstruk TAM yang mencerminkan tingkat keamanan (security) dan fokus pada pribadi (privacy concerns) ketika menerima mobile commerce (Jayasingh & Eze, 2009).

Berdasarkan hasil temuan penelitian (Jayasingh & Eze, 2009) yang menyatakan bahwa Perceived Credibility Berpengaruh Positif dan Signifikan Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon, dengan perolehan coefficient beta (β=0,14). Hasil penelitian terdahulu (Koksal, 2016) menunjukkan bahwa perceived credibility berpengaruh signifikan terhadap mengadopsi mobile banking.

Atas dasar hasil penelitian sebelumnya tersebut, maka dapat dibuat hipotesisnya sebagai berikut:

H03 : Perceived Credibility Tidak Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

Ha3 : Perceived Credibility Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

2.2.4 Pengaruh Compatibility Terhadap Behavioral Intention

(Rogers, 1995) Compatibility didefinisikan sebagai sejauh mana sebuah inovasi secara konsisten dengan nilai-nilai (value) yang sudah eksis tersebut secara potensial diadopsi orang (Jayasingh & Eze, 2009).

Berdasarkan hasil temuan penelitian (Jayasingh & Eze, 2009) yang menyatakan bahwa compatibility berpengaruh Positif dan Signifikan Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon, dengan perolehan coefficient beta (β=0,11). Hasil penelitian terdahulu (Koksal, 2016) menunjukkan bahwa perceived compatibility secara signifikan dapat meningkatkan konsumen untuk mengadopsi mobile banking.

Atas dasar hasil penelitian sebelumnya tersebut, maka dapat dibuat hipotesisnya sebagai berikut:

H04 : Compatibility Tidak Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

Ha4 : Compatibility Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

2.2.5 Pengaruh Social Influence Terhadap Behavioral Intention

Social influence adalah sejauh mana setiap individu percaya bahwa siapa pun orangnya dinilai penting dimana orang tersebut menyarankan anda untuk melakukan tindakan.

(Kleijnen, Wetzels, dan Ruyter,2004) social influence berkorelasi signifikan dengan sikap menggunakan (Jayasingh & Eze, 2009). Social Influence merupakan variabel ditambakan ke model TAM, dan hasil penelitian menunjukkan social influence berpengaruh signifikan terhadap Behavioral Intention. Berdasarkan hasil

temuan penelitian (Jayasingh & Eze, 2009) yang menyatakan bahwa Social Influence Berpengaruh Positif dan Signifikan Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon, dengan perolehan coefficient beta (β=0,22).

Atas dasar hasil penelitian sebelumnya tersebut, maka dapat dibuat hipotesisnya sebagai berikut:

H05 : Social Influence Tidak Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

Ha5 : Social Influence Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

2.2.6 Pengaruh Personal Inovativeness Terhadap Behavioral Intention

(Jeffres dan Atkin, 1996) diffusion theory, mengadopsi inovasi adalah sebuah fungsi dari seseorang yang inovatif, atau seseorang yang bersedia untuk mencoba yang inovatif (Jayasingh & Eze, 2009). Banyak penelitian yang menggunakan personal innovativeness sebagai variabel prediktor (variabel bebas) untuk menjelaskan mengenai mengadopsi inovasi. (Rogers, 1995) menyatakan bahwa keinovativan mempengaruhi tingkat pengadopsian (Jayasingh & Eze, 2009). Berdasarkan hasil temuan penelitian (Jayasingh & Eze, 2009) yang menyatakan bahwa personal inovativeness tidak memiliki pengaruh terhadap behavioral intention menggunakan mobile coupon, dengan perolehan nilai Sig (0,15) sehingga hasil penelitiannya tidak signifikan. Berdasarkan hasil penelitian (Ha & Im, 2014) menunjukkan bahwa personal innovativeness terhadap behavioral intention dengan perolehan nilai β=0,236***.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, menyatakan bahwa (Hung et al., 2003) personal innovativeness dapat meningkatkan pengadopsian layanan mobile, (Li,

2004) internet shopping, dan (Busselle et al., 1999) internet di Universitas.

(Manning et al., 1995) beberapa peneliti juga berpendapat bahwa keinovatifan merupakan sifat seorang individu untuk mengadopsi sesuatu yang baru (Allil &

Khan, 2016).

Selanjutnya, berdasarkan penelitian (Busselle et al., 1999) menunjukkan bahwa personal innovativeness berpengaruh signifikan terhadap minat mengadopsi, dimana personal innovativeness disini dibedakan antara adopter dan non-adopters. Atas dasar hasil penelitian sebelumnya tersebut, maka dapat dibuat hipotesisnya sebagai berikut:

H06 : Personal Inovativeness Tidak Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

Ha6 : Personal Inovativeness Berpengaruh Positif Terhadap Behavioral Intention Menggunakan Mobile coupon

Berdasarkan uraian penjelasan penelitian terdahulu yang digunakan, maka dapat dibuat rerangka penelitian seperti di bawah ini:

Gambar 2.1 Model Penelitian

Perceived Usefulness

Perceived Ease of Use

Perceived Credibility

Compatibility

Social Influence

Personal Innovativeness

Behavioral Intention Mobile

Coupon

H1 H2 H3 H4 H5 H6

Dalam dokumen SKRIPSI - IBS Repository (Halaman 40-46)

Dokumen terkait