4.2. Analisis data subjek penelitian dan subjek wawancara
4.2.3. Respon psikomotorik pembaca komik satir saat mereka menemukan komik
56 Sedangkan dari bakpia mengatakan bahwa kasus yang dimuat dalam komik pernah dia dengar atau melihatnya dilingkungan dia untuk judul ‘melamar kerja’ tapi tidak untuk judul ‘jorok’. Karena pernah terjadi dilingkungannya membuat pemahaman dan respon afektif yaitu tertawa ironis.
Komik memiliki daya tarik visual dan sebagai media komunikasi secara visual maka sebuah cerita lebih mudah disampaikan kepada pembaca karena pembaca mampu membayangkan situasi yang ada dikomik tersebut dalam keseharian mereka. Ini adalah respon kognitif yang memproses informasi yang masuk setelah membaca komik setelahnya mengecek realitas apakah isu dalam komik tersebut sama dengan kehidupan mereka dan ketika suatu komik berhasil memenuhi syarat untuk memicu pembaca berpikir maka opini akan terbentuk dan pesan tersampaikan dengan baik kepada pembacanya.
4.2.3. Respon psikomotorik pembaca komik satir saat mereka
57 yang mau membahas isu dalam komik secara tindakan karena pada dasarnya komik satir dibuat untuk berpikir namun jika banyak yang melakukan tindakan akibat komik tersebut misalnya pemboikotan bisa saja terjadi.
Dan uraian wawancara berikut berisi jawaban atas pertanyaan apakah seseorang bisa bertindak secara fisikal karena sebuah media massa seperti komik satir.
a. Wawancara dari kubu pembaca yang pernah membuat komik disebuah platform komik dalam respon psikomotorik.
Gambar 21. dokumentasi wawancara via discord messenger tris-ghost untuk respon psikomotorik
Tris-ghost berpendapat bahwa jika komik satir muncul diberanda sosial medianya dia tak akan berkomentar atau membuat postingan untuk membahas komik satir dan isunya. Dia juga mengemukakan bahwa hal itu membuat stress karena akan menimbulkan debat dan konflik tidak perlu.
“Posting publik biasanya menimbulkan debat atau semacamnya.
Mungkin karena ini sosial media. Saya ke sosmed buat menenangkan diri, bukan menambah stress
58 atau mungkin karena kita dari kecil diajarkan untuk tidak membuat masalah. Kalau ada hal tidak disuka diamkan saja, nasehat ortu karena ortu ingin anaknya tida kena masalah. Tapi malah jadi pasif.
atau mungkin beda lagi kamu datang ke kampus atau taman kota terus teriak2 gitu, mungkin baru saya bisa bilang sesuatu. Bersuara ditempat umum lebih mudah meyakinkan saya didengar daripada di sosmed. Kamu bisa saja menghapus komenanku dan diskusi tidak akan pernah terjadi.
kalaupun kamu mau menghapus suaraku di tempat umum artinya kamu harus menyeret saya keluar ruangan physically dan orang akan melihat kegaduhan” [tris-ghost, hasil wawancara, 12 juli 2021, discord]
Dan kemudian tris-ghost beropini bahwa pembaca pada umumnya dari kecil diajarkan untuk tidak membuat masalah dan beropini dalam ranah publik akibat suatu isu bisa memicu masalah yang nanti sulit ditangani yang akhirnya membuat pembaca pada umumnya pasif dalam menanggapi bacaannya secara tindakan meski hanya berkomentar menurut opininya.
Tris-ghost mengatakan lagi kalau membuat opini secara publik dengan tempat umum bukan dalam dunia maya, lebih mudah meyakinkan dan konflik bisa lebih diredam karena kegaduhan akan terlihat dengan jelas dibanding sosial media dimana tidak ada yang menahan orang untuk berkelahi.
Gambar 22. dokumentasi wawancara via discord messenger tris-ghost untuk respon psikomotorik
59
“anak sipil terlalu cape sama tugas, mostly mereka tidak menghiraukan ini, yang ada hanya mikir ini tugas besar mau dedlen, ini dosennya kemana, etc.
Anak hukum however, lebih vokal. Keknya saya lebih sering melihat fakultas hukum cerewet daripada fakultas lain.
Dan sebenarnya juga, kampusku cukup sangat konservatif banget.
Kayaknya beberapa diskusi tidak bisa dilakukan karena sudah jelas sekali arah pembicaraannya. Dan mereka tidak mau mendengar pihak lain [liberal misalnya] dan biasanya malah masang topik agama sebagai tameng debat.” [tris-ghost , hasil wawancara, 12 juli 2021, discord]
Meski begitu dalam prakteknya tris-ghost mengatakan bahwa dilingkungannya beropini teredam dengan kegiatan perkuliahan dan lingkungan kampus yang konservatif membuat perbedaan opini seringnya ditepis dengan opini berdasarkan agama atau moral keagamaan dikampusnya. Jadi memang banyak kendala untuk beropini dengan bebas dan beropini diruang publik jadi semacam pemicu konflik yang akhirnya banyak orang enggan untuk mengeluarkan pendapatnya.
Gambar 23. dokumentasi wawancara via discord messenger irex untuk respon psikomotorik
“males karena ada hal lain yang lebih penting/baik lagi buat gw lakuin daripada buang2 waktu ngutarain opini gw di komik2 gitu dah mikir kalo opini disitu pun gaakan ngerubah apa2,malah biasanya cuma jadi ajang adu mulut berkepanjangan yang lagi2 buang2 waktu.”
60 Gambar 24. dokumentasi wawancara via discord messenger irex untuk respon
psikomotorik
“penting sih penting aslinya
namanya juga ngemukain pendapat
cuma ya hal lain yang perlu dipentingin selain cuap2 opininya setelah sekian lama w mikir ada 2 hal lain yang sama pentingnya dengan lu beropini
-mikirin konsekuensi lu buka suara -nerima opini orang
selagi lu dah siap ma 2 itu there u go silahkan beropini
kalo ga siap well ini ya opini gw pribadi ugha sih aslinya kwkwk mending ditahan dulu ato mungkin puter otak buat susun kata2 dulu buat ngelontarin opini biar minimalisir konsekuensi yang sekiranya bakal kurang baik” [irex, hasil wawancara, 10 juli 2021, discord]
Dari irex sendiri kurang memiliki reaksi secara tindakan untuk beropini dan memilih pasif dan mengerjakan hal lain dan ini mengindikasikan bahwa beropini adalah sesuatu yang merepotkan dan bisa menyebabkan masalah baru. Saat diberi pertanyaan apakah beropini itu penting, dia mengatakan hal itu penting dengan syarat bisa mengantisipasi konflik yang akan datang setelah beropini. Meski menahan diri untuk beropini irex mengatakan bahwa apa yang dia katakan dalam wawancara pada akhirnya opininya juga.
61 Gambar 25. dokumentasi wawancara via discord messenger angga untuk respon
psikomotorik
“Aku lebih ke arah gak mau nanggepin soalnya kaya sebelumnya, gak terlalu menohok buatku wkwkwk. Tapi kalau emang disuruh memilih, ya lebih milih buat artikel di Rismed” [angga , hasil wawancara, 09 juli 2021, discord]
Sama seperti angga yang tidak tergerak untuk melakukan tindakan tapi ini murni karena komik satir yang diberikan tidak terlalu relevan untuk diberi tindakan meski jika diberi pilihan untuk beropini dia bisa menyalurkannya dalam artikel karena profesi sampingan angga adalah sebagai penulis artikel. Ada indikasi orang akan mudah beropini jika dilindungi oleh suatu instansi atau penyalur opini yang menutup identitas pemilik opini tersebut agar tidak ada masalah terjadi.
Gambar 26. dokumentasi wawancara via discord messenger angga mengenai alasan dirinya jarang beropini didepan orang
“biasanya emang gak niat nyulut2 masalah lebih.” [angga, hasil wawancara, 07 juli 2021, discord]
62 b. Wawancara dari kubu pembaca yang pernah membuat komik
disebuah platform komik terhadap respon psikomotorik.
Gambar 27. dokumentasi wawancara via discord messenger tree untuk respon psikomotorik
Dalam wawancara terhadap pembaca awam ada beberapa yang memiliki keinginan untuk beropini setelah membaca komik satir karena mereka belum memiliki keterampilan untuk membalas dengan membuat komik balasan terhadap isu mereka cenderung membahas komiknya diranah pertemanan mereka, contohnya seperti yang dikatakan tree kalau dirinya lebih suka membahas isu sebuah komik dilingkungan pertemanan tertutup.
“Paling cuma rant sih, dan paling cuma dishare ke temen-temen deket karena ya, aku gamau ambil resiko postinganku didramain kan. Jadi kek, ga kushare ke publik gitu.” [tree, hasil wawancara, 10 juli 2021, discord]
Karena tidak ada keberanian dan tidak ingin membuat masalah yang besar akibat berbeda pendapat saat mengutarakan opini, tree lebih sering membagikan opininya dilingkaran pertemanannya. Dan cukup wajar mengingat tree masih dalam usia
63 pelajar. Konflik akibat perbedaan pendapat ini biasanya disebut drama jika ranahnya dalam sosial media.
Gambar 28. dokumentasi wawancara via discord messenger kurara untuk respon psikomotorik
“gue gapunya tenaga banyak jadi gue bakal ngerant aja.”
[kurara, hasil wawancara, 07 juli 2021]
Sama seperti tree, kurara memilih untuk mengeluarkan pendapatnya lewat rant atau postingan opini disosial medianya sebagai respon dalam bentuk tindakannya membuat postingan pribadi dilingkungan pertemanannya.
Gambar 29. dokumentasi wawancara via facebook messenger bakpia untuk respon psikomotorik
“Depend siapa pengirimnya, kalau orang yang bukan aku kenal, aku cuman react aja sih.
64 Then again di indonesia opini yang paling banyak di setiap sosmed antara komen kontroversial pengen viral pakek bahasa yang menggurui semua pembaca atau kalimat "login"
Lalu berakhir "off baperan"
So yea, opini ku akan aku simpan buat diriku sendiri dan teman yang kuanggap bijak menerima pendapatku” [bakpia, hasil wawancara, 13 juli 2021]
Dari bakpia juga berpandangan serupa dia hanya merespon sebuah isu jika yang menyampaikannya adalah teman terdekatnya.
Dikarenakan kurangnya toleransi beropini orang-orang disosial media meski sosial media adalah ruang bebas berpendapat. Namun, kebebasan tersebut bisa memicu konflik yang akhirnya orang-orang menjadi pasif beropini untuk menghindari masalah.
Dalam hasil wawancara terakhir, ada kecenderungan bahwa komik memenuhi dua respon yaitu afektif dan kognitif sedangkan untuk psikomotorik pembaca yang diwawancarai enggan memberikan respon secara tindakan dan memilih untuk menyimpan opini mereka dipikiran sendiri ataupun kalau melakukan tindakan cukup dalam lingkup pertemanan mereka karena lebih meminimalisir konflik yang tidak perlu akibat perbedaan pendapat.
65