• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERENCANAAN

3.6. RONDE KEPERAWATAN

Ronde keperawatan merupakan suatu kegiatan dalam mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan disamping klien, membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan pada kasus tertentu yang dilakukan oleh Katim, kepala ruangan, perawat pelaksana serta melibatkan seluruh anggota tim.

1. Kriteria klien yang dilakukan ronde :

a. Klien dengan masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah dilakukan tindakan keperawatan.

b. Klien dengan kasus baru atau langka 2. Karakteristik :

a. Klien dilibatkan secara langsung.

b. Klien merupakan fokus kegiatan.

c. PP, PA,Karu,Gizi Farmasi Dan Fisoterapi serta DPJP dan konselor melakukan diskusi bersama.

d. Konselor memfasilitasi kreatifitas.

e. Konselor membantu mengembangkan kemampuan PP, PA untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.

Prosedur pelaksanaan Ronde Keperawatan 1) Persiapan

a. Penetapan kasus maksimal 1 hari sebelumnya waktu pelaksanaan ronde.

b. Pemberian informed consent kepada klien / keluarga.

2) Pelaksanaan ronde

a) Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan

dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan.

b) Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.

c) Pemberian justifikasi oleh PP atau konselor / kepala ruangan tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan.

d) Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan akan yang akan ditetapkan.

3) Pasca ronde

Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menetapkan

PP

Penetapan Pasien

Persiapan Pasien :

Inform Concernt Hasil Pengkajian/ Validasi data

TAHAP PELAKSANAAN DI NURSE STATIONPenyajian Masalah

Apa diagnosis keperawatan?

Apa data yang mendukung? Bagaimana intervensi yang sudah TAHAP PRA RONDE

tindakan yang perlu dilakukan.

3. Alur Ronde Keperawatan

TAHAP RONDE PADA BED KLIEN

TAHAP PASCA RONDE

dilakukan?

Apa hambatan yang ditemukan?

Validasi Data

Diskusi Katim-Katim, Konselor,KARU

Lanjutan-diskusi di Nurse Station

Kesimpulan dan rekomendasi solusi masalah

Gambar 3.3 Alur Ronde Keperawatan

Penerapan Ronde Keperawatan a. Penanggung jawab :

b. Tujuan :

c. Waktu :

d. Rencana Strategi :

1) Menentukan klien yang akan dijadikan subyek dalam ronde keperawatan.

2) Menentukan kasus sulit dengan masalah keperawatan yang tidak terselesaikan.

3) Menentukan strategi ronde keperawatan yang akan dilakukan.

4) Menentukan materi dalam pelaksanaan ronde keperawatan.

5) Menyiapkan petunjuk tseknis pelaksanaan ronde keperawatan.

6) Membuat format pendokumentasian kegiatan ronde keperawatan.

7) Melaksanakan ronde keperawatan bersama-sama dengan PPA

8) Mendokumentasikan kegiatan ronde keperawatan sesuai dengan format yang telah dibuat.

9) Mengevaluasi kegiatan ronde keperawatan yang telah dilakukan.

e. Kriteria Evaluasi :

1) Struktur :

a) Menetukan penanggungjawab ronde keperawatan.

b) Menetapkan kasus yang akan di rondekan.

c) Memberikan informed consent kepada klien dan keluarga.

2) Proses :

a) Melaksanakan ronde keperawatan bersama-sama Kepala ruangan dan staf keperawatan.

b) Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan intervensi yang telah dilaksanakan tetapi belum mampu mengatasi masalah pasien.

c) Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.

d) Pemberian masukan solusi tindakan yang lain yang mampu mengatasi masalah klien tersebut.

3) Hasil

a) Dapat dirumuskan tindakan keperawatan untuk menyelesaikan masalah pasien.

b) Hasil diskusi yang disampaikan dapat ditindak lanjuti dan dilaksanakan.

3.7. Sentralisasi Obat

Kontroling terhadap penggunaan dan konsumsi obat merupakan salah satu peran perawat sehingga perlu dilakukan dalam satu pola/alur yang sistematis sehingga

penggunaan obat benar-benar dikontrol oleh perawat sehingga resiko kerugian baik material maupun nonmaterial dapat dieleminasi. Upaya sistematik meliputi uraian terinci tentang pengelolaan obat secara ketat oleh perawat diperlukan sebagai bentuk tanggung jawab dalam menyelenggarakan kegiatan keperawatan.

Sentralisasi obat adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan diberikan kepada pasien diatur baik penerimaan stok, penyimpanan, distribusi dan pembariannya oleh petugas khusus/ farmasi (UDD) atau diberikan kepada perawat selama 1 kali 24 jam (ODD) (Nursalam, 2011).

1. Tujuan Sentralisasi Obat

Tujuan sentralisasi obat adalah menggunakan obat secara bijaksana dan

menghindari pemborosan, sehingga kebutuhan asuhan keperawatan pasien dapat terpenuhi (Nursalam, 2011).

Hal-hal berikut ini adalah beberapa alasan yang paling sering mengapa obat perlu disentralisasikan:

a. Memberikan bermacam-macam obat untuk satu pasien.

b. Menggunakan obat yang mahal dan bermerek.

c. Meresepkan obat sebelum diagnosis pasti, dibuathanya untuk mencoba.

d. Menggunakan dosis yang lebih besar dari pada yang diperlukan.

e. Memesan obat lebih daripada yang dibutuhkan, sehingga banyak yang tersisa sesudah batas kadaluarsa.

f. Meletakkan obat ditempat yang lembab, terkena cahaya atau panas.

g. Mengeluarkan obat (dari tempat penyimpanan) terlalu banyak pada suatu waktu sehingga dipakai berlebihan atau dicuri (Nursalam, 2011).

2. Teknik Pengelolaan Sentralisasi Obat

Teknik pengelolaan sentralisasi obat UDD adalah pengelolaan obat dimana obat diberikan langsung oleh farmasi kepada pasien , kecuali obat injeksi yang diserahkan kepada perawat, sesuai dengan jam pemberian pada setiap pasien.

Penanggung jawab pengelolaan obat langsung di handle oleh depo farmasi. Tugas perawat dalam hal ini adalah mengawasi kepatuhan pasien dalam minum obat oral

dan memberikan terapi IV sesuai dengan kebutuhan pasien.

3. Penerimaan obat

a. Setiap visite dokter, obat dicatat oleh perawat pada resep dan billing b. Kemudian perawat menyerahkan resep obat pada petugas farmasi

c. Petugas farmasi akan mengantarkan obat oral langsung kepada pasien setiap kali minum. Sedangkan obat berupa injeksi diberikan kepada perawat sesuai kebutuhan pasien, biasanya petugas farmasi akan mendistribusikan obat 3x sehari, yaitu pagi, sore dan malam.

4. Pembagian obat

a. Obat yang telah diterima untuk

selanjutnya disalin dalam buku daftar pemberian obat.

b. Obat yang telah disimpan untuk

selanjutnya diberikan oleh perawat dengan memerhatikan alur yang tercantum dalam buku daftar penerimaan obat: dengan terlebih dahulu dicocokan dengan terapi yang diinstruksikan dokter dan kartu obat yang ada pada pasien.

c. Pada s

aat p

emberian o bat,

p erawat menjelaskan macam obat, kegunaan obat, jumlah obat, dan efek samping.

Usahakan tempat atau wadah obat kembali ke perawat setelah obat dikonsumsi.

Pantau efek samping pada pasien.

d. Sediaan

o bat

y ang

a da

s elanjutnya

diperiksa setiap pagi oleh kepala ruang atau petugas yang ditujukan dan didokumentasikan dalam buku masuk obat. Obat-obatan yang hampir habis akan diinformasikan kepada keluarga dan kemudian dimintakan resep kepada dokter penganggung jawab pasien

5. Penambahan Obat Baru

Bila terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau perubahan alur pemberian obat, maka informasi ini akan dokumentasi pada buku obat dan billing,

selanjutnya di konfirmasikan kepada depo farmasi.

6. Obat Khusus

a. Obat d

isebut k husus

a pabila

s ediaan yang memiliki harga yang cukup mahal, memiliki jadwal pemberian yang cukup sulit, memiliki efek samping yang cukup besar atau hanya diberikan dalam waktu tertentu atau sewaktu saja.

b. Pemberian obat khusus dilakukan

dengan menggunakan format pemberian obat oral/injeksi khusus untuk obat tersebut dan dilakukan oleh perawat primer.

c. Informasi yang diberikan kepada

klien/keluarga meliputi nama obat, kegunaan obat, waktu pemberian, efek samping, penanggung jawab pemberian. Tempat obat, sebaiknya diserahkan atau ditunjukkan kepada keluarga setelah pemberian obat. Usahakan terdapat saksi dari

keluarga pada saat pemberian obat. Alur pelaksanaan sentralisasi obat berdasarkan menurut Nursalam 2011.

3.7.1. Alur Sentralisai Obat

Dokter Resep Perawat Farmasi

Kroscek

Sesuai Tidak Se suai

Pengaturan dan pengelolaan oleh

petugas farmasi

Penerimaan dan pendistribusian oleh farmasi ke perawat

Dikembalikan Ke ruangan

Obat Habis

Obat sisa

1.1.1.1.1.2 Perset 1.1.u1

j. u1 a.1

n.1

1.1.1.1.1.1 Dikembalikan

1. Pasien Penerapan s entralisasi o bat

2. Penanggung j awab :

a. Tujuan :

b. Waktu :

c. Rencana strategi :

1) Merencanakan sentralisasi obat klien dengan bekerja sama dengan perawat, dokter dan bagian farmasi.

2) Membuat lembar persetujuan pasien/ keluarga pasien terhadap rencana dilakukannya sentralisasi obat.

3) Membuat petunjuk teknis pengisian format sentralisasi obat.

4) Membuat format pemberian obat yang ringkas, lengkap dan jelas.

5) Mendokumentasikan hasil pelaksanaaan pengelolaan sentralisasi obat.

6) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan sentralisasi obat.

d. Kriteria Evaluasi :

1) Struktur :

a) Menetukan penanggungjawab sentralisasi obat.

b) Menyiapkan format sentralisasi obat

2) Proses :

a) Melaksanakan sentralisasi obat klien bersama-sama dengan perawat, dokter dan bagian farmasi.

b) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan pengelolaan sentralisasi obat.

3) Hasil :

a) Klien menerima sistem sentralisasi obat.

b) Perawat mampu mengelola obat klien.

c) Mutu pelayanan kepada klien terutama dalam pemberian obat meningkat.

d) Pengelolaan obat efektif dan efisien.

Dokumen terkait