LAPORAN PRAKTIK MANAJEMEN KEPERAWATAN RUANG (...)
OLEH:
KELOMPOK 1-4 1. Dyah Arumiawati, S. Kep 2. Lisa Ayu Wulandari, S. Kep 3. Sukendra Heri B.C , S. Kep 4. Zainy Valian A.S, S.Kep 5. Amalia Mardatilah, S. Kep 6. Fredi Anggoro Tri P, S. Kep 7. Priska Putri T. D, S.Kep
8. Zemy Firzatulloh S.W, S. Kep 9. Beny Setiawan, S. Kep
10. M. Nur Kholis M, S. Kep
11. Ratna Andriyani Avivah, S.Kep
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PEMKAB JOMBANG
2020
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Praktik Profesi Stase Manajemen STIKES Pemkab Jombang di Ruang telah diteliti dan disahkan pada tanggal :
KELOMPOK 1-4 1. Dyah Arumiawati, S. Kep
2. Lisa Ayu Wulandari, S. Kep 3. Sukendra Heri B.C , S. Kep 4. Zainy Valian A.S, S.Kep 5. Amalia Mardatilah, S. Kep 6. Fredi Anggoro Tri P, S. Kep 7. Priska Putri T. D, S.Kep
8. Zemy Firzatulloh S.W, S. Kep 9. Beny Setiawan, S. Kep
10. M. Nur Kholis M, S. Kep
11. Ratna Andriyani Avivah, S.Kep
Jombang, 2020
PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING LAHAN
( Dr. Ririn Pro b owati, S.Kp., M.Kes ) ( NURMA LINDA WATI S.Kep, Ns )
KEPALA
R UANGAN BIDANG
K
EPERAWATAN
( Nurma Linda Wati S.Kep, Ns ) (Puji Rahayu, S.Kep.,Ns.,M.Kep)
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, akhirnya kami dapat menyelesaikan Laporan Praktik Profesi Stase Manajemen STIKES Pemkab Jombang di Ruang. Dengan terselesaikannya laporan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Direktur (...) yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk melaksanakan praktik profesi manajemen keperawatan di ruang
2. Pepin Nahariani,S.Kep.,Ns.M.Kep selaku Kaprodi Pendidikan Profesi Ners STKES PEMKAB Jombang.
3. (kepala ruangan) yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada kami untuk melaksanakan Praktek Profesi Manajemen Keperawatan di ruang (..)
4. NurmaLinda Wati, S.Kep.,Ns selaku kepala ruangan dan CI (...) sekaligus pembimbing ruangan.
5. Dr. Ririn Probowati, S.kp.,M.Kes selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan dengan sabar kepada kami.
6. Semua staf ruang (...) baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung yang telah mendukung proses kegiatan praktek profesi manajemen keparawatan kepada kami.
7. Seluruh teman-teman atas kerjasama dan partisipasinya sehingga praktek profesi keperawatan berjalan dengan lancar.
8. Kelompok 1-4 Manajemen Keperawatan yang tetap selalu menjaga kekompakan dan semangatnya dalam menjalani proses pembelajaran manajemen.
Kami menyadari bahwa laporan praktik profesi manajemen keperawatan yang kami buat ini banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya laporan ini.
Jombang, 2020 Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pembagunan kesehatan merupakan salah satu bagian dari pembagunan nasional. Tujuan pembagunan kesehatan adalah untuk tercapainya kehidupan yang sehat bagi tiap penduduk
agar dapat tercapai derajat kesehatan yang optimal. Dalam mencapai tujuan pembagunan kesehatan perlu aanya unsur penyedian pelayanan kesehatan salah satunya dalah,rumah sakit ( Ratna,2010)
Rumah sakit merupakan unit pelayanan kesehatan dari sistem pelayanan kesehatan dan merupakan unsur strategis dilihat dari konteks jumlah biaya yang dikeluarkan (Depkes, 2007). Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit dirasakan sebagai fenomena yang harus di respon oleh perawat. Oleh karena itu, pelayanan
keperawatan perlu mendapatkan prioritas utama dalam mengembangkan pengetahuan.
Pengembangan pengetahuan dapat di kembangkan menjadi beberapa aspek keperawatan yaitu aspek keperawatan yang bersifat saling berhubungan, saling bergantung, saling mempengaruhi, dan saling berkepentingan. Oleh karena alasan-alasan diatas maka pelayanan keperawatan harus dikelola secara professional, sehingga perlu adanya
manajemen keperawatan (Priharjo, 2010)
Manajemen Keperawatan merupakan suatu proses bekerja dengan melibatkan anggota keperawatan dalam memberikan pelayanan Asuhan Keperawatan Profesional. Pemberian pelayanan keperawatan secara profesional perawat diharapkan mampu menyelesaikan
tugasnya dalam memberikan asuhan keperawatan untuk meningkatkan derajat pasien menuju ke arah kesehatan yang optimal (Nursalam, 2011).
Manajemen keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan pelayanan nyata yaitu di rumah sakit dan komunitas sehingga perawat perlu memahami konsep dan aplikasinya. Konsep yang harus dikuasai adalah konsep tentang pengelolaan bahan, konsep manajemen keperawatan, perencanaan, yang berupa rencana strategis melalui pendekatan:
pengumpulan data, analisa SWOT dan penyusunan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan secara operasional, khususnya dalam pelaksanaan Model Asuhan Keperawatan
Profesional (MAKP) dan melakukan pengawasan dan pengendalian (Nursalam, 2002)
Kualitas pelayanan keperawatan pada saat ini melibatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku dari praktisi, klien, keluarga dan dokter, dengan Metode Asuhan Keperawatan
Profesional (MAKP), model pemberian asuhan keperawatan yang saat ini sedang menjadi trend dalam keperawatan Indonesia adalah model asuhan keperawatan professional dengan metode Primary Nursing.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana pelaksanaan manajemen M1-Man di ruang...? 2. Bagaimana pelaksanaan manajemen M2-Material di ruang...? 3. Bagaimana pelaksanaan manajemen M3-Method di ruang...? 4. Bagaimana pelaksanaan manajemen M4-Money di ruang...? 5. Bagaimana pelaksanaan manajemen M5-Mutu di ruang...? 1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah melaksanakan praktek manajemen keperawatan, mahasiswa diharapkan dapat menerapkan prinsip-prinsip manajemen keperawatan dengan menggunakan Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) yang sesuai dengan ruang keperawatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
Setelah mengikuti proses praktek klinik manajemen keperawatan diharapkan mahasiswa mampu:
1. Menganalisa kebutuhan tenaga di ruang ...
2. Menganalisa kecukupan sarana dan prasaranadi ruang ...
3. Menganalisa pelaksanaan MAKP di ruang...yang meliputi:
• Penerimaan pasien baru
One Day Dose
• Ronde keperawatan
• Timbang terima pasien
Discharge planning
• Supervisi
• Dokumentasi
4. Menganalisa manajemen M4-Money di ruang ...
5. Menganalisa mutu pelayanan di ruang ...
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa
1. Mahasiswa mampu menjalankan tugas sesuai peran masing-masing menurut MAKP ...
2. Mahasiswa mengumpulkan data dalam penerapan MAKP ... di ruang ...
3. Mahasiswa mengetahui masalah dalam penerapan MAKP
4. Mahasiswa dapat memproses masalah dengan metode SWOT dan membuat rencana strategi
5. Mahasiswa berpengalaman dalam penerapan MAKP ... di ruang ...
6. Meningkatkan pelayanan keperawatan melalui praktek manajemen keperawatan 1.4.2 Bagi Perawat Ruang ...
1. Melalui praktek manajemen keperawatan dapat mengetahui masalah yang ada di ruang ...
2. Melalui praktek manajemen keperawatan dapat mengetahui model asuhan keperawatan yang cocok untuk diterapkan
3. Tercapai kepuasan kerja yang optimal
4. Tercapainya hubungan yang baik antar perawat 5. Meningkatkan kinerja perawat ...
1.4.3 Bagi Pasian dan Keluarga
Pasien dan keluarga mendapatkan perawatan yang optimal 1.4.4 Bagi Institusi
1. Mampu menerapkan ilmu manajemen keperawatan khususnya MAKP ...
2. Menjalin hubungan kerjasama yang baik antar institusi
BAB II
PENGUMPULAN DATA
2.1 Visi, Misi, dan Motto 2.2.1 Visi
2.2.2 Misi 2.2.3 Motto
2.2.4 Tujuan Unit Keperawatan 2.2.5 Falsafah Keperawatan
Bantuan keperawatan yang diberikan kepada pasien, keluarga, masyarakat secara profesional tanpa memandang suku, agama dan pangkat sosial masyarakat yang dilandasi
dengan niat ibadah kepada Allah SWT.
2.2.6 10 Pedoman Perilaku Perawat 2.2 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan tanggal (. . .) yang berisi M1-M5.
2.2.1 Sumber Daya Manusia (M1-Man) 2.2.1.1 Tenaga
A. Struktur Organisasi
Ruang perawatan (...) dipimpin oleh seorang kepala ruangan dibantu oleh tiga orang perawat primer dan lima belas perawat pelaksana serta tiga orang sebagai PRS. Adapun struktur organisasi sebagai berikut:
DIREKTUR RSUD JOMBANG
WADIR YANMED DAN KEPERAWATAN
Kepala Instalasi Ruang ()
Kepala Ruangan ()
Katim I Katim II Katim III
Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana
Gambar 2.1
12 13 14 15 16
No 1 2
Nama Jabatan
B. Tenaga Keperawatan
Tabel 2.1 Tenaga Keperawatan Ruang Rawat Inap Bedah ... Lantai V...Bulan Maret 2020 NO NAMA/ N IP TUGAS
TAMBAHAN
INSTITUSI PENDIDIKAN
/THN LULUS
SIK STR PPGD TMT TMT KREDE NSIAL
PELATIHAN YANG DIIKUTI 1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
C. Tenaga Non Keperawatan
Table 2.2 Tenaga Non Keperawatan Ruang tahun 2020
NO NAMA/ N IP JABATA
N 1
2 3
D. Tenaga Medis
Table 2.3 Tenaga Medis Ruang
PDDKN/TH N LULUS
TMT TMT
3 4 5 6 7
BULAN
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli
JUMLAH P ASIEN BOR % 2.2.1.2 Gambaran Kasus
Table 2.4 Gambaran Kasus di Ruang
No Daftar P enyakit Jumlah Prosentase ( %)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
JUMLAH
2.2.1.3 Pengaturan Ketenagaan Dan Tingkat Ketergantungan
2.2.1.4 BOR
Tabel 2.11 BOR RuangRawat Inap Bedah ... Lantai V...tahun2020
Agustus
September Oktober
November Desember Total
2.2.2 Sarana dan Prasarana (M2-Material) 2.2.2.1 Gambaran Umum Ruang Praktik
2.2.2.2 Data Tempat Tidur Pasien
Tabel 2.13 jumlah tempat tidur ruang ...
No Ruangan Jumlah T T Keterangan
1 2 3 4 5
Jumlah
DENAH RUANGAN
N
O NAMA ALKES
JUMLARUS H AWAL JAN 2020AK
HIL
AN G TAMBA HAN
JUMLAH AKHIR DES 2020
KET STANDART
KECUKUPAN
1 2 3 4 5 6 7
2.2.2.3 Data Investaris
Tabel 2.14 Daftar Inventaris Alat Medis
NO LINEN 8
9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
Tabel 2.15 Daftar Inventaris Linen Ruang
STOK SKOR
AWAL RUSA HILA TAMBAHA AKHI KETER STANDART
JAN 2020
K NG N R DES
2020
ANGAN KECUKUPAN 1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
2021 22
2.16 Daftar Inventaris Alat Tulis Kantor Dan MebelerRuang Rawat Inap Bedah Al Aqsha V Tahun 2020
NO NAMA JUMLAH TAM RUSA JUMLAH KETER STANDART
BARANG AWAL BAH K AKHIR ANGAN KECUKUPAN
JAN 2020 AN DES 2020
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18
19 20
21 22
23 24 25 26 27 28 29 30 31 32
2.2.2.4 Daftar SPO
Tabel 2.17 Daftar SPO Ruang No
.
SPO Tindakan 1
2 3 4 5 6 7 89 10 11 12
JUDUL S PO Tahun KETERANGAN
13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44
45 46 47 48 49 50
SPO Pr osedur 1
2 3 4 5
Tahun
6 7 67
8 9 10
11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42
43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55566 57 58 59
60 61 62 63 64 65 66 67 68 69
Situation
Data Demograf
Diagnosis Medis Diagnosa Keperawatan
2.3 Metode Asuhan Keperawatan (M3-Methods)
2.3.1 Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)
Sistem MAKP adalah suatu kerangka kerja yang mendefinisikan empat unsur, yakni: standart, proses keperawatan, pendidikan keperawatan, dan sistem MAKP (Nursalam, 2017).
2.3.2 Timbang Terima
ALUR TIMBANG TERIMA
Asesment
Recommendation
No 1
Deskripsi l ayanan Kelas I Kelas I I Kelas I II
Gambar 2.3 Alur Timbang Terima
2.3.3 Ronde Keperawatan
2.3 Pembiayaan (M4-Money)
Sistem pembiayaan yaitu pertukaran produk dan jasa antara petugas dan pasien.
Sistem pembiayaan pada ruang (. .) 1. Jasa Layanan Keperawatan
Tabel. 2.19 Jasa Layanan Keperawatan Tindakan Yang Paling Sering dilakukan di Ruang (...)
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
NO 1 2
TARIF KELAS I KELAS II KELAS II I
2. Tarif Akomodasi, Administrasi, Visitie dan Konsultasi Dokter
Tabel.2.20 Tarif Akomodasi, Administrasi, Visitie dan Konsultasi Dokter di Ruangan
3
3. Jumlah Pasien Umum, PBI dan Non PBI
Tabel.2.21 Jumlah Pasien
NO JENIS P ASIEN JUMLAH P
ASIEN K 1
2 3 4 5 6
Jumlah
ELUAR
4. Jumlah Pasien Umum, PBI dan Non PBI tanggal 01-29 Februari 2020 Tabel.2.22 Jumlah Pasien
3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14455 16 17 18
NO JENIS P ASIEN JUMLAH P ASIEN K ELUAR 1
2 3 4 5 6 7
No Registe
r Diagnosa Hari lama
perawatan
BPJS Kelas I II III
Ongkos
Perawatan Plon BPJS 1
2
Jumlah 5.
Pemasukan Dana Bulan Januari dan Februari 2020
Tabel.2.23 Pemasukan Ruang Rawat Inap Bedah ... Lantai...Januari dan Februari 2020
No Bulan Pemasukan D
ana
1 Januari
2 Februari
6. Daftar Perincian Tarif Perawatan Rumah Sakit
Tabel.2.24 Jumlah Perincian Tarif Perawatan Rumah Sakit Pasien BPJS Berdasarkan Jumlah Kasus Terbanyak
19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47
48 49 50 51 52 53 54 55 Total 2.4 Kualitas Pelayanan Keperawatan (M5-Mutu)
2.5.1 Indikator Mutu Klinik ( Patien Safety)
Pendataan indikator mutu klinik kejadian pasien jatuh dan kejadian decubitus dilakukan oleh tim Patient safety
Bulan Kejadian Dekubitus(%)
Kejadian Salah Obat(%)
KetidakpatuhanKetidakpatuhan Identifkasi(%)Dalam SBAR(%) Januari
Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober
November Desember Rata-rata
No 1.
2.
Diagnosa Medis Jumlah
3.
4.
5.
6.
7.
Tabel 2.25 Indikator Patien Safety di Ruang
Tabel 2.26 Indikator Mutu Pelayanan Keperawatan Keselamatan Pasien di Ruang ... Selama Bulan...2021
Pasien sa fety Jumlah
Pasien Jatuh Resiko jatuh Resiko Dekubitus Dekubitus
Tabel 2.27 Sepuluh Diagnosa Terbanyak
3.
4.
perawatan anda
Perawat segera datang jika anda perlukan Perawat memberikan informasi tentang fasilitasyangtersediadancara
penggunaannya
CRESPONSIVNESS (Cepat tanggap)
Perawat selalu menawarkan bantuan walau tidak diperlukan Perawat segera menangani anda setelah tiba di ruang rawat inap Perawat menjelaskan obat-obatan yang saya gunakan
Perawat membantu anda untuk pelayanan foto laboratorium di RS dll Perawat menyediakan waktu untuk rubah
posisi pasien, melatih mobilisasi DASSURANCE (Jaminan)
8.
9.
10.
2.5.2 Kepuasan Pasien
Kepuasan pelanggan hasil yang dirasakan atas penggunaan produk dan jasa sama atau melebihi harapan yang diinginkan (Yamit, 2002). Sedangkan menurut Pohan (2007) menjelaskan bahwa kepuasan pasien adalah tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanana kesehatan yang diperolehnya, setelah pasien membadingkan dengan apa yang diharapkannya.
NO DAFTAR PERTANYAAN JAWABAN KETERANGAN
YA TIDAK A TANGABLE (Bukti Nyata)
1. Perawat memberikan penjelasan tentang peraturan dan tata tertib
2. Perawat menjaga kerapian dan kebersihan ruangan
3. Perawat selalu menjaga kerapian, ramah, sopan
4. Perawat menjaga kebersihan dan kerapian alat –alat yang digunakan
B REALIBILITY (Keandalan)
1. Perawat mampu memecahkan masalah keperawatan secara professional
2. Perawat memberi penjelasan hal-hal yang harus dipatuhi atau dilarang dalam
1.
2.
Perawat memberi perhatian terhadap keluhan anda
Perawat memberikan salam dan senyum dalam pelayanan 3.Perawattelitidanterampildalam
melaksanakan tindakan
4. Perawat dapat menjawab pertanyaan tentang
E
tindakan yang diberikan EMPHATI (Empati)
1. Perawat memberikan penjelasan tentang tindakan
dilaksanakan
keperawatan yang akan 2.
3.
4.
Perawat mudah dihubungi dan ditemui jika dibutuhkan
Perawat melakukan observasi/pengukuran tensi, nadi, suhu, pernafasan, dan cairan infus secara teratur Perawat tidak membedakan dalam merawat
5.
pasien
Perawat perhatian dan memberi dukungan moril terhadap anda
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Pasien 1
Pasien 2 Pasien 3 Pasien 4 Pasien 5 Pasien 6 Pasien 7 Pasien 8 Pasien 9 Pasien 1 0
Pasien 1 1 Pasien 1 2 Pasien 1 3
Tabel 2.28 Tabel kepuasan Pasien Selama Perawatan di Ruang Kriteria :
NO Penilaian Pelayanan dokter Pelayanan Pelayanan Rata - Rata
0- perawat administrasi
14.
15.
16.
17.
Pasien 1 4 Pasien 1 5 Pasien 1 6 Pasien 1 7 Rata - Rata
NO 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
PENILAIAN FASILITAS
Rata - Rata
20 : Tidak puas 80-100 : Sangat Puas 20-40 : Cukup puas 40-60 : Baik
60-80 : Puas
2.5.3 Kecemasan
2.28
Tabel
Kecemasan Pasien Selama Perawatan di Ruang Rawat Inap Bedah ... Lantai ...
Tanggal ...
No Penilaian Skor Keterangan
1 Pasien 1 2 Pasien 2 3 Pasien 3 4 Pasien 4 5 Pasien 5 6 Pasien 6 7 Pasien 7 8 Pasien 8 9 Pasien 9 10 Pasien 10 11 Pasien 11 12 Pasien 12
13 Pasien 13 14 Pasien 14
2 M2 (SARANA PRASARANA)
Internal Factore (IFAS) Bobot Rating Bobot x R ating
STRENGTH 15 16 18
Pasien 15
Pasien 16 Pasien 17
Keterangan:
NoAnalisis S WOT Bobot Rating Bobot x R ating
1 Internal Factore (IFAS)
STRENGTH(K ekuatan)
Total
WEAKNESS( Kelemahan)
Total Eksternal Factor (EFAS)
OPPORTUNITY (Peluang)
Total
TREATHENED(Ancaman)
Total
1. Skor 20-44: normal atau tidak cemas 2. Skor 45-59: kecemasan ringan
3. Skor 60-74: kecemasan sedang 4. Skor 75-80: kecemasan berat 2.5 Analisa SWOT
1. Analisa SWOT M1 (MAN)
2. Analisa SWOT M2
Total WEAKNESS
Total Eksternal Factor (EFAS)
OPPORTUNITY
Total TREATHENED
Total
3. Analisa SWOT M3 3 M3 (METODE)
A. MAKP
Internal Faktor (IFAS) STRENGTH
Bobot Rating Bobot x Rating
Total
Total Ekternal Faktor (EFAS)
OPPORTUNITY
Total TREATHENED
Total C.
Internal Faktor (IFAS) STRENGTH
WEAKNESS
Total Ekternal Faktor (EFAS)
OPPORTUNITY
Total THREATENED
Total B.
Internal Faktor (IFAS) STRENGTH
Total WEAKNESS
Total THREATENED
Total E.
Internal Faktor (IFAS) STRENGHT
Total Total WEAKNESS
Total Eksternal Faktor (EFAS)
OPPORTUNITY
Total THREATENED
Total D.
Internal Faktor (IFAS) STRENGHT
Total WEAKNESS
Total Ekternal Faktor (EFAS)
OPPORTUNITY
WEAKNESS
Total Ekternal Faktor (EFAS)
OPPORTUNITY
Total TREATHENED
Total F.
Internal Faktor (IFAS) STRENGTH
Total WEAKNESS
Total Ekternal Faktor (EFAS)
OPPORTUNITY
Total TREATHENED
Total G.
Internal Faktor (IFAS) STRENGTH
Total WEAKNESS
Total Ekternal Faktor (EFAS)
M4 (KEUANGAN) Internal Faktor (IFAS) STRENGTH
Bobot Rating BxR Skor
Total WEAKNESS
Total Eksternal Faktor (EFAS)
OPPORTUNITY
Total TREATHENED
Total H. PENERIMAAN PASIEN BARU
Internal Factor (IFAS) STRENGTH
Total WEAKNESS
Total Eksternal factor (EFAS)
OPPORTUNITY
Total TREATHENED
Total 4. Analisis SWOT (M4)
OPPORTUNITY
Total THREATHENED
Total
No. MARKET
A. IFAS (Internal Factor Sistem) STRENGTH
Bobot RatingB X R Skor
1.
2.
3.
TOTAL
WEAKNESS
TOTAL
Eksternal Faktor (EFAS) OPPORTUNITY 1.
2.
3.
TOTAL
THREATENED 1.
2.
TOTAL
5. Analisa SWOT (M5)
Diagram Layang Analisa SWOT
BAB III PERENCANAAN
3.1 PENGORGANISASIAN
1. Kepala R uangan : 2. Pembimbing Ruang :
3. Pembimbing Akademik : Dr. Ririn Probowati, S.Kp., M.Kes 4. Ketua Kelompok : Sukendra Heri Bangkit Cahyono
5. Wakil Ketua : Fredy Anggoro Triprayogo 6. Sekretaris : 1. Priska Putri Tasari Devi
2. Dyah Arumiawati
3. Ratna Andriyani Avivah
7. Bendahara : 1. Lisa
A
yu W
ulandari 2. Amalia Mardatilah 8. Humas : 1 . Z emy F irzatullah
2. Zainy Valian Ash Shiddiqi 3. Beny Setiawan
9. Perlengkapan : 1. M. Nur Kholis 10. Penanggung Jawab kegiatan
Penanggung jawab MAKP : Supervisi Keperawatan : Sentralisasi O bat : Discharge Planning : Ronde Keperawatan :
Timbang T erima :
Dokumentasi Kep :
Penerimaan pasien baru : Sarana dan Prasarana :
`
3.1.1 Alokasi Waktu Dan Tempat
Penyelanggaraan praktik profesi ners manajemen keperawatan oleh kelompok 1-4 di Ruang (....)
3.2 MODEL ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAl (MAKP)
Setelah dilakukan analisa masalah dengan menggunakan metode SWOT kelompok mencoba untuk menerapkan Model Asuhan Keperawatan Profesional ...
Model asuhan keperawatan profesional ... di (...) saat ini menerapkan MAKP model (...), dan telah terdapat tugas, peran dan wewenang yang jelas pada setiap
anggota tim. Pada pelaksanaan MAKP (...) bisa berjalan maksimal dikarenakan
Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan
pembagian jumlah ketenagaan pada masing-masing shift sudah sama dan sudah jelas.
Struktur Organisasi Di Ruang (...)
Berikut ini model keperawatan...:
3.2.1. Pembagian Tugas
1. Tugas Kepala Ruangan 1) Perencanaan
2) Pengorganisasian 3) Pengarahan
4) Pengawasan 5) Evaluasi 2. Perawat primer
3. Perawat Associated (PA)
3.3. PERENCANAAN KEGIATAN MAKP
3.3.1. Penerapan Model Praktik Keperawatan Professional (MAKP)
1. Penanggung J awab:
2. Tujuan :
3. Waktu :
4. Rencana Strategi :
5. Kriteria E valuasi : 1) Struktur :
2) Proses :
Menerapkan MAKP : 3) Hasil :
3.4. SUPERVISI KEPERAWATAN
Supervisi keperawatan adalah salah satu fungsi pokok manager berupa proses pemberian sumber-sumber yang dibutuhkan perawat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya
untuk pencapaian tujuan, meliputi:
1. Langkah-langkah Supervisi : a. Pra s upervisi
1) Supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi.
2) Supervisor menetapkan tujuan supervisi, instrumen.
b. Supervisi
1) Supervisor ikut dalam pendokumentasian kegiatan pelayanan bersama-sama perawat primer dan perawat pelaksana.
2) Supervisor meneliti dokumentasi status pasien.
3) Supervisor mendapatkan hal-hal yang perlu dilakukan pembinaan.
4) Supervisor memanggil PP dan PA yang perlu dilakukan pembinaan.
5) Supervisor mengklasifikasi permasalahan yang ada.
6) Supervisor memberikan masukan kepada PP dan PA
c. Evaluasi
1) Supervisor mengevaluasi hasil bimbingan.
2) Supervisor memberikan reward atau umpan balik kepada PP.
2. Prinsip Supervisi
a. Supervisi d ilakukan sesuai s truktur o rganisasi
b. Supervisi memerlukan pengetahuan dan ketrampilan dasar manajemen, kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan kepemimpinan
c. Fungsi Supervisi diuraikan dengan jelas, terorganisir dan sesuai standart
d. Supervisi merupakan proses kerjasama yang demokrasi
antara supervisor dan perawat pelaksana
e. Supervisi menerapkan visi, misi, falsafah, tujuan dan rencana yang spesifik
f. Supervisi menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi efektif, kreativitas dan motivasi
g. Supervisi mempunyai tujuan yang berhasil guna dan berdaya guna dalam pelayanan keperawatan yang memberi kepuasan klien, perawat
dan manajer.
3. Fungsi dan peran supervisor
Fungsi dan peran supervisor khususnya dalam supervisi keperawatan mempertahankan keseimbangan manajemen pelayanan keperawatan, manajemen sumber daya, dan manajemen anggaran yang tersedia.
Manajemen pelayanan keperawatan meliputi : mendukung pelayanan keperawatan, rencana program keperawatan, implementasi dan evaluasi keperawatan.
4. Tugas Supervisor.
a. Mempertahankan standart praktek keperawatan.
b. Menilai kualitas asuhan keperawatan yang diberikan.
c. Mengembangkan peraturan dan prosedur pelayanan keperawatan, bekerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya.
d. Memantapkan kemampuan perawat.
e. Memastikan asuhan keperawatan profesional dilaksanakan.
5. Teknik Supervisi
a. Secara Langsung
Supervisi dilakukan secara langsung pada kegiatan yang sedang berjalan.
Supervisor terlibat dalam kegiatan, memberikan reward dan perbaikan Prosesnya :
1) Perawat pelaksana melakukan secara mandiri suatu tindakan keperawatan didampingi supervisor
2) Selama proses, supervisor memberi dukungan, reinforcement dan petunjuk
3) Supervisor dan perawat pelaksana melakukan diskusi setelah kegiatan selesai, yang bertujuan untuk menguatkan cara yang telah sesuai dan memperbaiki
Ka. Bid Perawatan Kasi Perawatan
Ka Ru
Supervisi Menetapkan kegiatan dan
tujuan serta instrument / alat
PP1 PP2
Delegasi Menilai kinerja Perawat
PA PA
Kualitas Pelayanan Meningkat
Feed back Koreksi atau
pemecahan masalah
Reward /
kekurangan dan reinforcement positif dari supervisor.
b. Secara Tidak Langsung
Supervisi dilakukan melalui laporan tertulis maupun maupun lisan. Supervisor tidak terlibat atau melihat langsung apa yang terjadi di lapangan, seingga mungkin terjadi kesenjangan fakta. Umpan balik dapat diberikan secara tertulis.
6. Alur Supervisi
Gambar 3.1.alur supervisi Keterangan : Kegiatan supervisi
Delegasi dan Supervisi 7. Penerapan Supervisi
a. Penanggung jawab :
b. Tujuan :
c. Waktu :
d. Rencana Kegiatan :
1) Membuat konsep supervisi keperawatan yang sesuai standar.
2) Menentukan materi supervisi keperawatan
3) Merevisi format supervisi yang sesuai standar.
4) Menyiapkan petunjuk teknis pelaksanaan supervisi keperawatan.
5) Melaksanakan supervisi keperawatan bersama-sama perawat ruangan.
6) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan supervisi keperawatan.
7) Melakukan evaluasi dari kegiatan supervisi yang telah dilakukan.
e. Kriteria Evaluasi :
1) Struktur :
a) Menentukan penanggung jawab supervisi keperawatan.
b) Menyusun konsep supervisi keperawatan.
c) Menentukan materi supervisi.
2) Proses :
a) Melaksanakan supervisi keperawatan bersama perawat ruangan dan supervisor.
b) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan supervisi keperawatan.
3) Hasil :
a) Mahasiswa mampu melaksanakan supervisi secara optimal.
b) Supervisor mengevaluasi hasil supervisi.
c) Supervisor memberikan reward/feed back pada PP dan PA.
3.5. TIMBANG TERIMA
Timbang terima merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan laporan yang berkenaan dengan keadaan pasien.
Nursalam (2008), menyatakan timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien. Handover adalah waktu dimana terjadi perpindahan atau transfer tanggungjawab tentang pasien dari perawat yang satu ke perawat yang lain. Tujuan dari handover adalah menyediakan waktu, informasi yang akurat tentang rencana perawatan pasien, terapi, kondisi terbaru, dan perubahan yang akan terjadi dan antisipasinya.
Langkah-Langkah
1. Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap.
2 Shift yang akan menyerahkan perlu mempersiapkan hal-hal apa yang akan disampaikan
3. PP menyampaikan kepada penanggungjawab shift selanjutnya meliputi : a. Kondisi a tau k eadaan k lien s ecara u mum.
b. Tindak lanjut atau dinas yang menerima operan.
c. Rencana kerja untuk d inas y ang m enerima operan.
d. Penyampaian operan di atas harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru.
e. PP
d an
a nggota
k edua shift dinas bersama-sama secara
langsung melihat keadaan klien.
Tahapan
Timbang terima memiliki 3 tahapan yaitu:
1. Persiapan yang dilakukan oleh perawat yang akan melimpahkan tanggungjawab.
Meliputi faktor informasi yang akan disampaikan oleh perawat jaga sebelumnya.
2. Pertukaran shift jaga, dimana antara perawat yang akan pulang dan datang melakukan pertukaran informasi. Waktu terjadinya operan itu sendiri yang berupa pertukaran informasi yang memungkinkan adanya komunikasi dua arah antara perawat yang shift sebelumnya kepada perawat shift yang datang.
3. Pengecekan ulang informasi oleh perawat yang datang tentang tanggung jawab dan tugas yang dilimpahkan, Merupakan aktivitas dari perawat yang menerima operan untuk melakukan pengecekan data informasi pada medical record atau pada pasien langsung.
Klien
Diagnosis medis Masalah kolaboratif Diagnosis keperawatan
Rencana Tindakan
Yang telah dilakukan Yang akan dilakukan
Perkembangan keadaan klien
Perencanaan teratasi seluruhnya, sebagian, belum teratasi dan terdapat masalah baru
Gambar 3.2. Mekanisme Timbang Terima Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Dilaksanakan tepat pada saat pergantian shift.
2. Dipimpin oleh kepala ruangan atau penanggung jawab 3. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yang akan dinas
4. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis, dan menggambarkan kondisi pasien saat ini serta menjaga kerahasiaan pasien.
5. Timbang terima harus berorientasi pada permasalahan pasien.
6. Pada saat timbang terima di kamar pasien, menggunakan volume yang cukup sehingga pasien di sebelahnya tidak mendengar sesuatu yang rahasia bagi klien. Sesuatu yang
dianggap rahasia sebaiknya tidak dibicarakan secara langsung di dekat klien.
7. Sesuatu yang mungkin membuat pasien terkejut dan shock sebaiknya dibicarakan di nurse station (Nursalam, 2008).
1. Penerapan Timbang Terima a. Penanggung jawab :
b. Tujuan :
c. Waktu :
1) Mendiskusikan teknik timbang terima bersama-sama dengan staf perawatan di Ruang...RSUD Jombang
2) Timbang terima dapat dilakukan secara lisan dan tertulis dalam buku operan.
3) Merevisi materi timbang terima dengan berfokus pada masalah keperawatan.
4) Melaksanakan timbang terima bersama dengan kepala ruangan dan staf keperawatan.
5) Dilaksanakan pada setiap pergantian shift.
6) Dipimpin oleh PP sebagai penanggung jawab shift.
7) Diikuti perawat, mahasiswa yang berdinas atau akan berdinas.
8) Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis yang menggambarkan kondisi saat ini dengan tetap menjaga kerahasiaan klien.
9) Timbang terima berorientasi pada permasalahan keperawatan, rencana keperawatan, tindakan dan perkembangan kesehatan klien.
10) Mendokumentasikan hasil timbang terima klien pada buku operan.
d. KriteriaEvaluasi : 1) Struktur :
a) Menentukan penanggungjawab timbang terima.
b) Menyusun teknik timbang terima bersama-sama dengan staf keperawatan.
c) Menentukan materi timbang terima.
d) Status pasien disiapkan.
e) Persiapan buku laporan timbang terima.
2) Proses :
a) Melaksanakan timbang terima bersama dengan Karu dan staf keperawatan pada pergantian shift.
b) Timbang terima dipimpin oleh PP sebagai penanggung jawab shift.
c) Timbang terima diikuti oleh perawat, mahasiswa yang berdinas atau akan berdinas.
3) Hasil
a) Perawat mampu meloparkan timbang terima yang berisi (identitas,
diagnosis medis, Hari rawat pasien,masalah keperawatan, intervensi yang sudah dan
belum dilaksanakan, intervensi kolaboratif, rencana umum pasien).
b) Perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara paripurna.
c) Dapat meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat.
d) Menjalin hubungan kerja sama yang bertanggung jawab antar perawat.
e) Pelaksanaan asuhan keperawatan dapat berjalan berkesinambungan.
3.6. RONDE KEPERAWATAN
Ronde keperawatan merupakan suatu kegiatan dalam mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan disamping klien, membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan pada kasus tertentu yang dilakukan oleh Katim, kepala ruangan, perawat pelaksana serta melibatkan seluruh anggota tim.
1. Kriteria klien yang dilakukan ronde :
a. Klien dengan masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah dilakukan tindakan keperawatan.
b. Klien dengan kasus baru atau langka 2. Karakteristik :
a. Klien dilibatkan secara langsung.
b. Klien merupakan fokus kegiatan.
c. PP, PA,Karu,Gizi Farmasi Dan Fisoterapi serta DPJP dan konselor melakukan diskusi bersama.
d. Konselor memfasilitasi kreatifitas.
e. Konselor membantu mengembangkan kemampuan PP, PA untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.
Prosedur pelaksanaan Ronde Keperawatan 1) Persiapan
a. Penetapan kasus maksimal 1 hari sebelumnya waktu pelaksanaan ronde.
b. Pemberian informed consent kepada klien / keluarga.
2) Pelaksanaan ronde
a) Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan
dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan.
b) Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.
c) Pemberian justifikasi oleh PP atau konselor / kepala ruangan tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan.
d) Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan akan yang akan ditetapkan.
3) Pasca ronde
Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menetapkan
PP
Penetapan Pasien
Persiapan Pasien :
Inform Concernt Hasil Pengkajian/ Validasi data
TAHAP PELAKSANAAN DI NURSE STATIONPenyajian Masalah
Apa diagnosis keperawatan?
Apa data yang mendukung? Bagaimana intervensi yang sudah TAHAP PRA RONDE
tindakan yang perlu dilakukan.
3. Alur Ronde Keperawatan
TAHAP RONDE PADA BED KLIEN
TAHAP PASCA RONDE
dilakukan?
Apa hambatan yang ditemukan?
Validasi Data
Diskusi Katim-Katim, Konselor,KARU
Lanjutan-diskusi di Nurse Station
Kesimpulan dan rekomendasi solusi masalah
Gambar 3.3 Alur Ronde Keperawatan
Penerapan Ronde Keperawatan a. Penanggung jawab :
b. Tujuan :
c. Waktu :
d. Rencana Strategi :
1) Menentukan klien yang akan dijadikan subyek dalam ronde keperawatan.
2) Menentukan kasus sulit dengan masalah keperawatan yang tidak terselesaikan.
3) Menentukan strategi ronde keperawatan yang akan dilakukan.
4) Menentukan materi dalam pelaksanaan ronde keperawatan.
5) Menyiapkan petunjuk tseknis pelaksanaan ronde keperawatan.
6) Membuat format pendokumentasian kegiatan ronde keperawatan.
7) Melaksanakan ronde keperawatan bersama-sama dengan PPA
8) Mendokumentasikan kegiatan ronde keperawatan sesuai dengan format yang telah dibuat.
9) Mengevaluasi kegiatan ronde keperawatan yang telah dilakukan.
e. Kriteria Evaluasi :
1) Struktur :
a) Menetukan penanggungjawab ronde keperawatan.
b) Menetapkan kasus yang akan di rondekan.
c) Memberikan informed consent kepada klien dan keluarga.
2) Proses :
a) Melaksanakan ronde keperawatan bersama-sama Kepala ruangan dan staf keperawatan.
b) Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan intervensi yang telah dilaksanakan tetapi belum mampu mengatasi masalah pasien.
c) Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.
d) Pemberian masukan solusi tindakan yang lain yang mampu mengatasi masalah klien tersebut.
3) Hasil
a) Dapat dirumuskan tindakan keperawatan untuk menyelesaikan masalah pasien.
b) Hasil diskusi yang disampaikan dapat ditindak lanjuti dan dilaksanakan.
3.7. Sentralisasi Obat
Kontroling terhadap penggunaan dan konsumsi obat merupakan salah satu peran perawat sehingga perlu dilakukan dalam satu pola/alur yang sistematis sehingga
penggunaan obat benar-benar dikontrol oleh perawat sehingga resiko kerugian baik material maupun nonmaterial dapat dieleminasi. Upaya sistematik meliputi uraian terinci tentang pengelolaan obat secara ketat oleh perawat diperlukan sebagai bentuk tanggung jawab dalam menyelenggarakan kegiatan keperawatan.
Sentralisasi obat adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan diberikan kepada pasien diatur baik penerimaan stok, penyimpanan, distribusi dan pembariannya oleh petugas khusus/ farmasi (UDD) atau diberikan kepada perawat selama 1 kali 24 jam (ODD) (Nursalam, 2011).
1. Tujuan Sentralisasi Obat
Tujuan sentralisasi obat adalah menggunakan obat secara bijaksana dan
menghindari pemborosan, sehingga kebutuhan asuhan keperawatan pasien dapat terpenuhi (Nursalam, 2011).
Hal-hal berikut ini adalah beberapa alasan yang paling sering mengapa obat perlu disentralisasikan:
a. Memberikan bermacam-macam obat untuk satu pasien.
b. Menggunakan obat yang mahal dan bermerek.
c. Meresepkan obat sebelum diagnosis pasti, dibuathanya untuk mencoba.
d. Menggunakan dosis yang lebih besar dari pada yang diperlukan.
e. Memesan obat lebih daripada yang dibutuhkan, sehingga banyak yang tersisa sesudah batas kadaluarsa.
f. Meletakkan obat ditempat yang lembab, terkena cahaya atau panas.
g. Mengeluarkan obat (dari tempat penyimpanan) terlalu banyak pada suatu waktu sehingga dipakai berlebihan atau dicuri (Nursalam, 2011).
2. Teknik Pengelolaan Sentralisasi Obat
Teknik pengelolaan sentralisasi obat UDD adalah pengelolaan obat dimana obat diberikan langsung oleh farmasi kepada pasien , kecuali obat injeksi yang diserahkan kepada perawat, sesuai dengan jam pemberian pada setiap pasien.
Penanggung jawab pengelolaan obat langsung di handle oleh depo farmasi. Tugas perawat dalam hal ini adalah mengawasi kepatuhan pasien dalam minum obat oral
dan memberikan terapi IV sesuai dengan kebutuhan pasien.
3. Penerimaan obat
a. Setiap visite dokter, obat dicatat oleh perawat pada resep dan billing b. Kemudian perawat menyerahkan resep obat pada petugas farmasi
c. Petugas farmasi akan mengantarkan obat oral langsung kepada pasien setiap kali minum. Sedangkan obat berupa injeksi diberikan kepada perawat sesuai kebutuhan pasien, biasanya petugas farmasi akan mendistribusikan obat 3x sehari, yaitu pagi, sore dan malam.
4. Pembagian obat
a. Obat yang telah diterima untuk
selanjutnya disalin dalam buku daftar pemberian obat.
b. Obat yang telah disimpan untuk
selanjutnya diberikan oleh perawat dengan memerhatikan alur yang tercantum dalam buku daftar penerimaan obat: dengan terlebih dahulu dicocokan dengan terapi yang diinstruksikan dokter dan kartu obat yang ada pada pasien.
c. Pada s
aat p
emberian o bat,
p erawat menjelaskan macam obat, kegunaan obat, jumlah obat, dan efek samping.
Usahakan tempat atau wadah obat kembali ke perawat setelah obat dikonsumsi.
Pantau efek samping pada pasien.
d. Sediaan
o bat
y ang
a da
s elanjutnya
diperiksa setiap pagi oleh kepala ruang atau petugas yang ditujukan dan didokumentasikan dalam buku masuk obat. Obat-obatan yang hampir habis akan diinformasikan kepada keluarga dan kemudian dimintakan resep kepada dokter penganggung jawab pasien
5. Penambahan Obat Baru
Bila terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau perubahan alur pemberian obat, maka informasi ini akan dokumentasi pada buku obat dan billing,
selanjutnya di konfirmasikan kepada depo farmasi.
6. Obat Khusus
a. Obat d
isebut k husus
a pabila
s ediaan yang memiliki harga yang cukup mahal, memiliki jadwal pemberian yang cukup sulit, memiliki efek samping yang cukup besar atau hanya diberikan dalam waktu tertentu atau sewaktu saja.
b. Pemberian obat khusus dilakukan
dengan menggunakan format pemberian obat oral/injeksi khusus untuk obat tersebut dan dilakukan oleh perawat primer.
c. Informasi yang diberikan kepada
klien/keluarga meliputi nama obat, kegunaan obat, waktu pemberian, efek samping, penanggung jawab pemberian. Tempat obat, sebaiknya diserahkan atau ditunjukkan kepada keluarga setelah pemberian obat. Usahakan terdapat saksi dari
keluarga pada saat pemberian obat. Alur pelaksanaan sentralisasi obat berdasarkan menurut Nursalam 2011.
3.7.1. Alur Sentralisai Obat
Dokter Resep Perawat Farmasi
Kroscek
Sesuai Tidak Se suai
Pengaturan dan pengelolaan oleh
petugas farmasi
Penerimaan dan pendistribusian oleh farmasi ke perawat
Dikembalikan Ke ruangan
Obat Habis
Obat sisa
1.1.1.1.1.2 Perset 1.1.u1
j. u1 a.1
n.1
1.1.1.1.1.1 Dikembalikan
1. Pasien Penerapan s entralisasi o bat
2. Penanggung j awab :
a. Tujuan :
b. Waktu :
c. Rencana strategi :
1) Merencanakan sentralisasi obat klien dengan bekerja sama dengan perawat, dokter dan bagian farmasi.
2) Membuat lembar persetujuan pasien/ keluarga pasien terhadap rencana dilakukannya sentralisasi obat.
3) Membuat petunjuk teknis pengisian format sentralisasi obat.
4) Membuat format pemberian obat yang ringkas, lengkap dan jelas.
5) Mendokumentasikan hasil pelaksanaaan pengelolaan sentralisasi obat.
6) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan sentralisasi obat.
d. Kriteria Evaluasi :
1) Struktur :
a) Menetukan penanggungjawab sentralisasi obat.
b) Menyiapkan format sentralisasi obat
2) Proses :
a) Melaksanakan sentralisasi obat klien bersama-sama dengan perawat, dokter dan bagian farmasi.
b) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan pengelolaan sentralisasi obat.
3) Hasil :
a) Klien menerima sistem sentralisasi obat.
b) Perawat mampu mengelola obat klien.
c) Mutu pelayanan kepada klien terutama dalam pemberian obat meningkat.
d) Pengelolaan obat efektif dan efisien.
3.8. DOKUMENTASI KEPERAWATAN
Dokumentasi adalah catatan otentik yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum. Komponen dari dokumentasi mencakup aspek komunikasi, proses keperawatan, standar keperawatan.
1. Tujuan Utama Pendokumentasian
a. Mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat kebutuhan klien, merencanakan, melaksanakan tindakan keperawatan dan mengevaluasi tindakan.
b. Dokumentasi untuk penelitian, hukum dan etika.
2. Manfaat dan Pentingnya Dokumentasi Keperawatan
a. Hukum
Semua catatan informasi tentang klien merupakan dokumentasi resmi dan bernilai hukum, oleh karena itu data harus diidentifikasi secara lengkap, jelas, objektif dan ditandatangani oleh tenaga kesehatan atau perawat. Dalam hal ini perlu
dicantumkan waktu dan sebaiknya dihindari adanya penulisan yang dapat menimbulkan
interpretasi yang salah.
b. Jaminan Mutu (kualitas pelayanan)
Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat akan memberi kemudahan perawat untuk menyelesaikan masalah klien serta untuk mengetahui sejauh mana masalah dapat teratasi. Hal ini juga memungkinkan perawat untuk mengetahui adanya masalah baru secara dini.
c. Komunikasi
Dokumentasi merupakan alat perekam masalah yang berkaitan dengan klien sehingga dapat dijadikan sebagai alat komunikasi antar tenaga kesehatan
d. Keuangan
Semua tindakan keperawatan yang belum, sedang dan telah diberikan dicatat dengan lengkap sebagai acuan dalam menentukan biaya perawatan klien.
e. Pendidikan
Dokumentasi berisi kronologis dari kegiatan asuhan keperawatan yang dapat digunakan sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi keperawatan.
f. Penelitian
Data yang terdapat dalam dokumentasi keperawatan mengandung informasi yang dapat digunakan sebagai bahan riset untuk pengembangan ilmu keperawatan.
g. Akreditasi
Dokumentasi keperawatan dapat digunakan untuk melihat sejauh mana peran dan fungsi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan.
3. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pendokumentasian (Potter dan Perry,1984) a. Jangan menghapus dengan tipe x atau menghapus tulisan yang salah. Cara yang
benar adalah dengan mencoret tulisan yang salah dengan 2 garis kemudian dituliskan kata salah dan diberi paraf, setelah itu dituliskan catatan yang benar.
b. Jangan mengkritik klien atau tenaga kesehatan yang lain yang dapat digunakan sebagai bukti terhadap asuhan keperawatan yang tidak professional.
c. Jangan tergesa – gesa melengkapi catatan, pastikan dulu bahwa datanya akurat.
d. Catat hanya fakta, akurat, reliable.
e. Jangan biarkan pada akhir catatan perawat kosong. Coret bagian sisa yang kosong dan bubuhkan tanda tangan.
f. Semua catatan ditulis dengan tinta dan bahasa yang lugas.
g. Jika mempertanyakan suatu instruksi catat bahwa anda sedang mengklarifikasi.
h. Tulis hanya untuk diri sendiri.
i. Hindari penulisan yang kurang spesifik.
j. Catatlah dokumentasi dengan waktu dan diakhiri dengan tanda tangan. Pastikan urutan kejadian dicatat dengan benar dan ditanda tangani.
4. Kelompok mencoba membuat suatu model pendokumentasian yang mengacu pada model PIE. Teknik pengisian lembar dokumentasi keperawatan:
a. Pengkajian pada waktu klien masuk diikuti pengkajian persistem.
b. Pengkajian dilakukan secara komprehensif.
c. Lembar dokumentasi asuhan keperawatan:
1) Pengisian nama, umur, jenis kelamin, tanggal, dan nomor register klien.
2) Tiap lembar data diisi problem, intervensi dan evaluasi.
d. Pada kolom problem ditambahkan data subjektif dan objektif.
e. Pada kolom intervensi, intervensi langsung terhadap penyelesaian masalah ditandai dengan “I” (intervensi), nomor masalah dicatat dan dibuat oleh katim.
f. Pada kolom evaluasi dicatat keadaan klien sebagai pengaruh dari intervensi diidentifikasi dengan tanda “E” (evaluasi) dan nomor masalah, berisi tentang jam dan paraf perawat.
g. Setiap masalah yang diidentifikasi dievaluasi sesuai dengan hasil dari jumlah ewss (setiap pergantian jaga).
1) Keuntungan
a. Memungkinkan pengguanaan proses keperawatan.
b. Rencana tindakan dan catatan perkembangan dapat dihubungkan.
c. Memungkinkan pemberian asuhan keperwatan secara kontinyu.
d. Perkembangan klien dapat dengan mudah digambarkan.
2) Kerugian
a. Tidak dapat digunakan untuk pencatatan semua disiplin ilmu.
b. Pembatasan rencana tindakan keperawatan yang tidak aplikatif uuntuk beberapa situasi keperawatan.
3) Bagian dari dokumentasi keperawatan:
1. Format pengkajian dengan menggunakan format pengkajian
2. Persistem
a. Nama k lien :
b. Umur :
c. No re gister :
d. Diagnosis m edis :
e. Diagnosis k eperawatan : f. Kolom t anggal d an j am :
g. Kolom p roblem :
h. Kolom i ntervensi :
i. Evaluasi :
j. Kolom tanda tangan :
1.
Penerapan Dokumentasi keperawatan b. Penanggung jawab :c. Tujuan :
d. Waktu :
e. Rencana strategi :
1) Mendiskusikan format pengkajian dan pendokumentasian asuhan keperawatan sesuai dengan kasus di Ruang Mawar
2) Merevisi format pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi asuhan keperawatan.
3) Membuat format pendokumentasian asuhan keperawatan SOAP
4) Melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan bersama dengan perawat ruangan.
5) Mengevaluasi pelaksanaan sistem dokumentasi asuhan keperawatan yang telah dilakukan.
f.Kriteria Evaluasi : 1) Struktur :
a) Menentukan penanggung jawab kegiatan.
b) Mendiskusikan format pengkajian dan pendokumentasian sesuai dengan kasus di Ruang Mawar
c) Menyiapkan format pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
d) Menyiapkan format/pendokumnetasian keperawatan.
2) Proses :
a) Penggunaan standar terminologi (pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi).
b) Data yang relevan dan bermanfaat dikumpulkan kemudian di catat sesuai dengan prosedur dalam catatan yang permanen.
c) Diagnosis keperawatan disusun berdasarkan klasifikasi dan analisa data yang akurat.
d) Rencana tindakan keperawatan ditulis dan dicatat sebagai bagian dari catatan yang permanen.
e) Observasi dicatat secara akurat, lengkap dan sesuai urutan waktu.
f) Evaluasi dicatat sesuai dengan urutan waktu meliputi selama dirawat, dirujuk, pulang ataupun perubahan status klien, respon klien terhadap tindakan.
g) Rencana tindakan yang direvisi, berdasarkan hasil yang diharapkan klien.
3) Hasil :
a) Mahasiswa mampu menerapkan pendokumentasian secara ringkas, baik dan benar.
b) Pendokumentasian dilakukan segera setelah melakukan tindakan keperawatan.
Dokumentasi asuhan keperawatan pada status pasien lengkap dan benar.
3.9. Discharge Planning
Perencanaan pelaksanaan discharge planning adalah suatu dokumentasi untuk menyelesaikan masalah, tujuan, dan intervensi pasien yang akan pulang dan asuhan keperawatan saat pasien di rumah.
1. Langkah-langkah dalam perencanaan pulang a. Pra Discharge Planning :
1) Katim mengidentifikasikan pasien yang direncanakan untuk pulang.
2) Katim melakukan identifikasi kebutuhan pasien yang akan pulang.
3) Katim membuat perencanaan pasien pulang.
4) Melakukan kontrak waktu dengan pasien dan keluarga.
b. Tahap pelaksanaan Discharge Planning :
1) Menyiapkan pasien dan keluarga, peralatan, status, kartu dan lingkungan.
2) Katim dibantu perawat pelaksana melakukan pemeriksaan fisik sesuai kondisi pasien.
3) Katim memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan pasien dan keluarga untuk perawatan di rumah tentang : aturan diet, obat yang harus diminum di rumah, aktivitas, yang harus di bawa pulang, rencana kontrol, yang perlu di bawa saat kontrol, prosedur kontrol, jadwal pesan khusus.
4) Katim memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk mencoba mendemonstrasikan pendidikan kesehatan yang telah diajarkan.
5) Katim memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bertanya bila belum mengerti.
c. Tahap post pelaksanaan Discharge Planning :
1) Karu melakukan evaluasi terhadap perencanaan pulang
2) Karu memberikan reinforcement atau reward kepada pasien dan keluarga jika dapat melakukan dengan benar apa yang sudah dilaksanakan.
3) Follow up
Alur Discharge Planning
Menyambut kedatangan pasien.
Orientasi ruangan, jenis pasien, peraturan & denah ruangan.
1.1.1
1.1.1 M..11..e11m.1.1p..e11rkenalkan pasien pada teman sekamar, perawat, dokter & tenaga kesehatan yang lain.
Pasien MaMsuelkakukan pengkajian keperawatan.
RS
Pemeriksaan klinis & pemeriksaan penunjang yang lain.
Melakukan asuhan keperawatan. Perawat
Penyuluhan kesehatan : penyakit, perawatan, pengobatan, diet, aktivitas, kontrDolo. kter Pasien Selama
di rawat
Tim kesehatan lain
Pasien KRS Perencanaan pulang
Program HE :
Pengobatan / kontrol. Kebutuhan nutrisi Aktivitas & istirahat Perawatan di rumahLain - lain Surat kontrol Resep
Sisa obat Foto
Monitoring oleh petugas kesehatan & keluarga
Kontrol RS 1.1.1.1.1.1.2 Home Care
Gambar 3.5 Alur Discharge Planning
Tahapan Discharge Planning
1) Penanggung jawab :
2) Tujuan :
3) Waktu :
Rencana Strategi :
a. Mendiskusikan sistem pendokumentasian kegiatan
discharge planning dengan Kepala Ruang Mawar RSUD Jombang.
b. Membuat format pendokumentasian discharge planning . c. Membuat petunjuk teknis pengisian format discharge
planning.
d. Merencanakan jadwal pelaksanaan discharge planning pada pasien baru datang, selama perawatan dan akan pulang.
e. Melaksanakan penyuluhan kesehatan pada pasien baru datang, selama perawatan dan akan pulang.
f. Melaksanakan pendokumentasian discharge planning
dengan benar.
g. Evaluasi s istem p elaksanaan discharge planning yang telah dilakukan.
Kriteriaevaluasi
a. Evaluasi struktur
1) Persiapan pasien, peralatan, status, kartu dan lingkungan.
2) Penyusunan struktur pelaksanaan Discharge Planning Evaluasi proses
1) Discharge Planning dilaksanakan pada semua pasien pulang.
2) Materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan klien.
Evaluasi hasil
1) Terdokumentasinya pelaksanaan pasien pulang.
2) Pasien dan keluarga dapat mengetahui perawatan di rumah tentang : aturan diet, obat yang harus diminum di rumah, aktivitas, yang harus di bawa pulang, rencana kontrol, yang perlu di bawa saat kontrol, prosedur kontrol, jadwal pesan khusus.
3.10. PENERIMAAN PASIEN BARU
Penerimaan pasien baru adalah suatu cara dalam menerima kedatangan pasien baru pada suatu ruangan. Dalam penerimaan pasien baru disampaikan beberapa hal mengenai
orientasi ruangan, perawatan, medis, dan tata tertib ruangan (Nursalam, 2013) Tujuan
a. Menerima dan menyambut kedatangan pasien dengan hangat dan terapeutik.
b. Meningkatkan komunikasi antar perawat dengan klien.
c. Mengetahui kondisi dan keadaan klien secara umum.
d. Menurunkan tingkat kecemasan pasien saat MRS.
e. Pasien dapat mengetahui kondisi ruangan