BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Mutu Pembelajaran dan Pendidikan Agama Islam
5. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
pada kehidupannya. Pengajaran ini berarti proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan supaya yang diajarkan berakhlak baik.
c. Pengajaran Ibadah
Pengajaran ibadah adalah pengajaran tentang segala bentuk ibadah dan tata cara pelaksanaannya. Tujuan daripada pengajaran ini agar siswa mampu melaksanakan ibadah dengan baik dan benar. Mengerti segala bentuk ibadah dan arti dan tujuan pelaksanaan ibadah.
d. Pengajaran Fiqih
Pengajaran fiqih adalahpengajaran yang isinya menyampaikan tentang segala bentuk hukum-hukum yang bersumber pada al-qur’an, sunnah dan dalil-dalil syar’i yang lain. Tujuan pengajaran ini adalah agar siswa mengetahui dan mengerti tentang hukum-hukum islam dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
e. Pengajaran Al-Qur’an
Pengajaran al-qur’an adalah pengajaran yang bertujuan agar siswa dapat membaca al-qur’an dan mengerti arti kandungan yang terdapat disetiap ayat-ayat al-qur’an. Akan tetapi, hanya ayat-ayat tertentu yang dimasukkan dalam materi pendidikan agama islam yang disesuaikan dengan tingkatan pendidikannya.
f. Pengajaran Sejarah Islam
Tujuan dari pengajaran sejarah islma ini adalah agar siswa dapat mengetahui tentang pertumbuhan dan perkembangan agama islam dari awalnya sampai zaman sekarang sehingga siswa dapat mengenal dan mencintai agama islam.
6. Prinsip-prinsip Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Prinsip-prinsip pembelajaran pendidikan agama islam antara lain :
a. Pentingnya menjaga motivasi belajar dan kebutuhan, minat dan keinginannya pada proses belajar, sehingga pelajar lebih ingin belajar dan lebih aktif serta senang dan tenang.
Barang siapa yang bekerja atau belajar dengan dasar motivasi yang kuat maka tidak akan mengalami kebosanan, kejenuhan, dan kelelahan yang cepat. Dengan demikian timbul keinginan belajar yang menggebu-gebu untuk mendapatkan ilmu serta kesabaran yang tiada tandingannya. Untuk itu seorang pendidik wajib memadukan antara ketegasan, tarikan, dan kekerasan (persuation and determination), supaya jiwa anak-anak tidak menjadi lemah dan kaku, dan kiranya anak jangan dipaksa.
b. Menjaga tujuan pelajar dan menolongnya untuk mengembangkan tujuan-tujuan tersebut. Jika pelajar memiliki dan memahami tujuan yang jelas dalam proses belajarnya akan menyukainya dan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh untuk mencapainya. Untuk itu guru mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menolong muridnya dalam menentukan tujuan belajarnya serta membimbingnya dalam proses pengajaran supaya ia suka/cinta kepada pelajarannya. Menjaga dan menolong murid adalah tugas dan tanggung jawab guru yang sangat mulia dalam pandangan islam, karena menuntut ilmu dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah serta untuk menggapai Ridha-Nya semata, bukan untuk menonjolkan diri dan persaingan yang tidak sehat untuk merebut kemewahan dunia semata dan mengabaikan kehidupan akhirat.
Para pendidik muslim hendaknya mendasarkan tujuan- tujuan yang halal dan baik yang sesuai dengan al-qur’an sebagaimana yang terdapat dalam Q.S At-Taubah (9: 122) yang berbunyi :
Terjemahnya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya”. (Kemenag RI.
2011: 206).
c. Kemestian memelihara kematangan yang dicapai oleh pelajar dan kesediaannya untuk belajar. Guru dalam hal ini dituntut bercakap/berbicara dengan para siswanya dengan memperhatikan tingkat kematangan dan kemampuan akalnya. Sebagaimana yang terdapat dalam Q.S Al-Baqarah (2: 286) yang berbunyi :
Terjemahnya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (Kemenag RI. 2011: 49).
Jadi, seorang guru/pendidik tidak pantas/wajar menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang belum mampu dijangkau dengan akalnya. Sehingga akal mereka tidak terkejut dan tebebani dengan hal yang memberatkan.
d. Menjaga/memelihara perbedaan perorangan diantara para pelajar/siswa. Hendaknya guru/pendidik muslim dapat mengetahui bahwa kelemahan serta kelebihan-kelebihan diantara mereka, demikian juga halnya diantara pelajar/siswa.
7. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Strategi belajar mengajar merupakan pola umum perbuatan guru-guru dalam kegiatan mewujudkan belajar- mengajar. Pengertian dalam strateg ini menunjukkan pada karakteristik abstrak perbuatan guru-siswa dalam peristiwa belajar aktual tertentu.
a. Pendekatan suatu pembelajaran
Pendekatan diartikan sebagai orientasi atas cara memandang terhadap sesuatu. Pendekatan berbeda tentu akan berdampak langkah-langkah yang berbeda pula.
Sasaran orientasi atau pendekatan ini adalah unsur-unsur atau faktor-faktor yang terlibat langsung dengan proses belajar mengajar itu sendiri.
Dalam pembelajaran pendidikan agama islam, terdapat dua pendekatan yang perlu mendapatkan kajian lebih lanjut berkaitan dengan pembelajaran agama islam, yaitu :
Pertama, pendekatan psikologis (psicological approach), pendekatan ini perlu meliputi aspek rasional/intelektual, aspek emosional, dan aspek ingatan.
Seluruh aspek dimensi manusia sejatinya dibangkitkan untuk dipergunakan semaksimal mungkin bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat.
Kedua, pendekatan sosiol-kultural (sodio-cultural approach), merupakan suatu pendekatan yang melihat dimensi manusia tidak saja sebagai individu melainkan juga sebagai makhluk sosial-budaya yang memiliki berbagai potensi yang signifikan bagi pengemban masyarakat dan berguna.
b. Metode Pembelajaran
Pemakaian metode yang tepat sangat membantu terhadap keberhasilan materi yang akan disampaikan. Oleh karena itu metode harus dipilih, disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan karena tidak ada suatu metode yang paling baik untuk sumber materi, maka pemakaian metode harus disesuaikan dengan materi masing-masing. Beberapa macam metode antara lain :
1) Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan cara menyampaikan materi ilmu pengetahuan dan agama kepada anak didik dilakukan secara lisan.
2) Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatmya.
3) Metode Tulisan
Metode tulisan yaitu metode yang mendidik dengan huruf atau simbol apapun. Ini merupakan suatu hal yang sangat oenting dan merupakan jembatan untuk mengetahui segala sesuatunya yang belum diketahui.
4) Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan- pertanyaan dan siswa memberikan jawaban atau sebaliknya.
5) Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Demonstrasi adalah salah satu teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk
memperlihatkan kepada kelas tentang proses atau cara melakukan sesuatu.
C. Faktor-faktor yang Mendukung dan Menghambat Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Ada beberapa faktor yang menentukan kesuksesan dan keberhasilan dalam pendidikan. Faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok. Suksesnya belajar dan berhasilnya suatu pendidikan sangat dominan ditentukan oleh komponen tenaga pendidik, dalam hal ini guru disekolah. Meskipun disuatu sekolah fasilitasnya memadai, bangunannya bertingkat, kurikulumnya lengkap, sistem pembelajarannya bagus, tapi tenaga pengajarnya (guru) sebagai aplikator dilapangan tidak memiliki kemampuan (kualitas) dalam penyampaian materi, cakap menggunakan alat-alat tehnologi yang mendukung pembelajaran, maka tujuan pendidikan akan sulit dicapai sebagaimana mestinya.
Disini setiap guru hendaknya harus memahami fungsinya karena sangat besar pengaruhnya terhadap cara bertindak dan berbuat dalam menunaikan pekerjaan sehari-hari dikelas dan dimasyarakat. Guru yang memahami kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik profesional, selalu terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan sikap tidak puas
terhadap pendidikan. Persiapan yang diikuti hendaknya sejalan dengan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
Faktor yang mendukung mutu pembelajaran yaitu : 1. Kepemimpinan yang positif dan kuat
Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor kepemimpinan yang diterapkan sangat menentukan peningkatan mutu pendidikan.
2. Harapan yang Tinggi
Tantangan berpikir bagi siswa, mutu pendidikan dapat diperoleh jika harapan yang diterapkan peserta didik memberikan tantangan kepada mereka untuk berkompetensi untuk mencapai tujuan pendidikan.
3. Monitor Terhadap Kemajuan Siswa
Aspek monitor menjadi penting karena keberhasilan siswa tidak akan terekam dengan baik tanpa adanya aktifitas monitoring.
4. Tanggung Jawab Siswa dan Keterlibatannya dalam kehidupan sekolah
Pendidikan akan berkualitas jika menghasilkan lulusan yang bertanggung jawab, disiplin, kreatif, dan terampil.
5. Intensif dan Hadiah
Penerapan pendidikan yang memberikan hadiah dan intensif bagi keberhasilan pendidikan akan meningkatkan usaha belajar siswa.
6. Keterlibatan Orang Tua dalam Kehidupan Sekolah
Faktor ini telah menjadi klasik sebagai realisasi dan tanggung jawab pendidik.
Faktor yang menghambat mutu pembelajaran yaitu bisa datangnya dari guru itu sendiri, dari peserta didik, lingkungan keluarga, ataupun karena faktor fasilitas.
1. Guru
Sebagai seorang pendidik, tentunya ia juga mempunyai banyak kekurangan, kekurangan itu bisa menjadi penyebab terhambatnya kreatifitas pada guru tersebut. Diantaranya tipe kepemimpinan guru, gaya guru yang monoton, kepribadian guru, pengetahuan guru, dan terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku peserta didik serta latar belakangnya.
2. Peserta Didik
Peserta didik dalam kelas dapat dianggap sebagai seorang individu dalam suatu masyarakat kecil yaitu kelas dan sekolah. Mereka harus tau hak-haknya sebagai bagian dari satu kesatuan masyarakat disamping mereka juga harus tau kewajibannya dan keharusan menghormati hak- hak orang lain dan teman-teman sekelasnya.
3. Keluarga
Tingkah laku peserta didik didalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter dari keluarga akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif dan apatis. Problem klasik yang dihadapi guru memang banyak yang berasal dari lingkungan keluarga.
Kebiasaan yang kurang baik dari lingkungan keluarga seperti tidak tertib, tidak patuh pada disiplin, kebebasan yang berlebihan atau terlampau terkekang merupakan latar belakang yang menyebabkan peserta didik melanggar dikelas.
4. Fasilitas
Fasilitas yang ada merupakan upaya penting bagi guru memaksimalkan programnya, fasilitas yang kurang lengkap akan menjadi kendala yang berarti bagi seorang guru dalam beraktifitas. Kendala tersebut ialah jumlah peserta didik didalam kelas sangat banyak, besar atau kecilnya suatu ruangan kelas yang tidak sebanding dengan jumlah siswa dan keterbatasan alat penunjang mata pelajaran.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian survey (lapangan) dengan pendekatan kualitatif dengan mengeksploitasi data dilapangan dengan metode analisis deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran tentang bagaimana Peran Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar.
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar. Sedangkan objek penelitian yaitu kepala skolah sebagai responden dalam penelitian ini. Penunjukan lokasi ini dilakukan secara langsung. Penempatan lokasi penelitian berdasarkan pokok permasalahan pada Peran Kepala Sekolah yang ada di Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar.
40
C. Variabel Penelitian
Sutrisno Hadi (1998:97) Variabel adalah segala yang bervariasi yang menjadi objek penelitian. Jadi berdasarkan judul maka variabel ini adalah Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar.
Variabel Bebas adalah Peran Kepala Sekolah. Variabel Terikat adalah Peningkatan mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
D. Devenisi Operasional Variabel
1. Peran Kepala sekolah dalam penelitian ini diartikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dari murid yang menerima pelajaran.
Untuk itu usaha keras kepala sekolah agar perlu memperhatikan peningkatan mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam penelitian ini diartikan sebagai peningkatan kualitas pembelajaran yang merupakan bagian dari materi Pendidikan yang diajarkan didalam suatu lembaga pendidikan. Memberikan suatu harapan
kepada peserta didik untuk dapat beragama yang baik dan mampu mengamalkan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh mata pelajaran tersebut.
E. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Dalam suatu penelitian merupakan faktor utama yang harus diperhatikan sebab ini menjadi kunci terhadap segala rangkaian kegiatan penelitian.
Menurut Sugiyono (2008:115), “Populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu. Ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan”.
Data populasi penelitian ini adalah guru, siswa kelas XI, XII, dan XIII di Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar.
Tabel I
Populasi Penelitian
NO Guru dan Siswa Laki-Laki Perempuan Jumlah
1. Guru 18 33 51
2. Kelas XI 120 130 250
3. Kelas XII 100 100 200
4. Kelas XIII 20 30 50
Jumlah 158 293 600
Sumber data : kantor Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar.
2. Sampel
Sampel tiap penelitian memerlukan sejumlah orang yang harus diselidiki. Secara ideal yang harus diselidiki keseluruhan populasi bila terlampau besar, maka diambil sejumlah sampel yang bersifat representatif yaitu yang memiliki keseluruhan populasi itu.
Menurut Sugiyono (2008:116) “Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”.
Sedangkan menurut Arikunto (2008:116) penentuan pengambilan sampel sebagai berikut :
Apabila kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung sedikit banyaknya dari :
1) Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana.
2) Sempit luasnya pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya dana.
3) Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti untuk peneliti yang resikonya besar, tentu saja jika sampelnya besar hasilnya akan lebih baik.
Berdasarkan pendapat diatas, maka penentuan sampel pada penelitian adalah 70 x10 % = 70 orang.
100
Dengan demikian jumlah populasi dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 640 orang.
Tabel II Sampel Penelitian
No Guru dan Siswa Laki-Laki Perempuan Jumlah
1. Guru - 2 2
2. Kelas XIII 10 15 25
Jumlah 10 17 27
Sumber data : kantor Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar.
F. Instrumen Penelitian
Untuk memudahkan peneliti dalam pengumpulan data, maka peneliti menggunakan beberapa instrument pengumpulan data yang terdiri dari :
1. Menurut Ridwan (2004 : 104) Pedoman Observasi adalah merupakan tehnik pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat kegiatan dari dekat kegiatan yang dilakukan.
2. Menurut Arikunto (2006 : 151) Pedoman Angket adalah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadi atau hal-hal yang ia ketahui.
3. Menurut Nazir (1998) Pedoman wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).
4. Menurut Hardiansyah (2010 : 143) Catatan dokumentasi yaitu mengumpulkan data dokumen yang dapat dijadikan sebagai pelengkapi data yang dibutuhkan.
G. Teknik Pengumpulan Data
Dalam rangka pengumpulan data. Peneliti menggunakan metode sebagai berikut :
1. Observasi yaitu mengadakan penelitian secara sistematis berkenaan dengan fenomena-fenomena yang Nampak dalam proses pembelajaran disekolah.
2. Wawancara yaitu mengumpulkan data melalui informasi wawancara siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Makassar.
3. Dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen yang dapat dijadikan sebagai pelengkapi data yang dibutuhkan.
4. Angket yaitu mengharuskan peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan untuk
pernyataan tertulis untuk dijawab kepada responden terpilih tentang Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar.
H. Teknik Analisis Data
Untuk mengolah data menjadi sebuah pembahasan, maka peneliti menganalisis data dengan teknik analisis deskriptif yaitu berusaha memberikan gambaran dari data yang diperolah dengan menggunakan rumus persentase sesuai dengan tabel sebelumnya.
Tehnik pengolahan data yang dilakukan senantiasa disesuikan dengan jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini terhadap data kualitatif yang diperoleh melalui instrumen pedoman wawancara dan telaah dokumen, akan dituangkan secaras tertulis dan dianalisis sesuai dengan prinsip-prinsip pengolahan dengan tabel frekuensi. Dan rumus persentase sebagai berikut :
P = F × 100 % N
Keterangan :
P = Angka Persentase
F = Frekuensi Banyaknya Individu
N = Jumlah Frekuensi Banyaknya Individu
Hasil dari perhitungan tersebut, kemudian peneliti tabulasikan dalam bentuk tabel frekuensi dan diberikan interpretasi terhadap hasil tabulasi untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Singkat Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar
Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar (MAN), merupakan Madrasah Aliyah Negeri pertama di Makassar, yang bernama Madrasah Aliyah Negeri Ujung Pandang. Sejarah singkat MAN 1 Makassar bermula sejak dikeluarkannya SKB 3 Menteri Agama, No. 6 Tahun 1975, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No. 37/U/1975 dan Menteri dalam Negeri No. 36 Tahun 1975 tanggal 24 Maret 1975.
2. Profil Sekolah
a. Nama Sekolah : MAN 1 Makassar
b. NSM & NSPN : 131.1.73.71.0026. & 40320479 c. Provinsi : Sulawesi Selatan
d. Kabupaten/Kota : Makassar e. Kecamatan : Rappocini f. Desa/kelurahan : Gunung Sari
g. Jalan dan Nomor : Tala’Salapang No. 46 h. Kode Pos : 90221
i. Telepon : Kode Wilayah : 0411 Nomor: 868996 j. Fax/ e-mail : 0411-864905
: [email protected] k. Status Sekolah : Negeri
l. Akreditasi : Tahun 2012 m. Tahun Berdiri : Tahun 1978 n. Tahun Penegerian : 1978
o. Bangunan Sekolah : Milik Negara
48
3. Visi dan Misi MAN 1 Makassar a. Visi MAN 1 Makassar
Memiliki IPTEK, IMTAQ, yang didasari nilai Islam, mampu bersaing secara global dan dapat mengaktualisasikan dalam masyarakat.
b. Misi MAN 1 Makassar
1. Meningkatkan pelayanan pembelajaran dengan pengetahuan umum dan keislaman.
2. Menumbuhkan penghayatan dan ketaqwaan terhadap islam dan nilai budaya.
3. Melaksanakan pembelajaran, bimbingan dan keterampilan secara efektif dan efisien, agar siswa dapat berkembang secara optimal.
4. Menumbuhkan semangat juang yang terbaik kepada warga sekolah.
Menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai islam pada
4. Keadaan Pendidikan dan Tenaga Pendidikan MAN 1 Makassar
a. Kepala Sekolah
TABEL 3
Kepala Sekolah Dan Guru
No Nama P/L Pendidikan Jabatan
1. Drs. H. Amiruddin Rauf, S.pd, M.Pd
L S1 Kepala Sekolah
2. Dra. Hj. Hama Hasyim, M.pd
P S1 Matematika
3. Dra. Hudaya P S1 Qur’an Hadits
4. Dra. St. Salmawati P S1 Biologi
5. Dra. Dewi P S1 Fisika
6. Drs. Ahmad Syakir, M.pd
L S1 Biologi
7. Dra. Hj.
Rahmawati
P S1 Aqidah Akhlak Fiqhi
Ushol Fiqhi
8. Drs. Sawal L S1 Olahraga
9. Hj. St. Salmiyah K, S.Ag
P S1 Kimia
10. H. Syarifuddi, S.pd, M.pd
L S1 -
11. Dra. Jalwiah P S1 Muatan Lokal 12. Dra. Hj. Narmawati P S1 Kimia
13. Dra. Hj. Hilmah Latif
P S1 Bhs. Indonesia
14. St. Nursiah S.Pd P S1 Bhs. Inggris 15. Dra. Hj. Murniati P S1 Muatan Lokal 16. Dra. St. Nur Fatma P S1 Muatan Lokal 17. Andriany Ningsih
Taufieq, S.pd
P S1 Muatan Lokal
18. Dra. Izzatul
Mubaroqah, M.pd
P S1 Fisika
19. Mursalin, S.pd, M.si
L S1 Keterampilan
20. Dzawil Marhamah.
S.pd
L S1 Bhs. Indonesia
21. Ramli Rasyid, S.Ag, M.Pd.I
P S1 Fiqhi
Ilmu Hadits Ilmu Tafsir
22. Burhanuddin, S.pd L S1 Matematika 23. Rabaniah, S.pd P S1 Sejarah 24. St. Musdalifah,
S.Ag
P S1 Biologi
25. Nadhirah Kadir, S.pd
P S1 Bhs. Indonesia
26. Dra. Muliana P S1 Aqidah Akhlak Fiqhi
Qur’an Hadits 27. Nurdin, S.pd, M.si L S1 Geografi 28. Agussalim, S.Pd L S1 Seni Budaya 29. Abdul Rifai, S.Ag L S1 PKN
30. Haris, S.s L S1 Bhs. Inggris
31. Halimah S.Ag. P S1 Ekonomi
32. Sunarti, S.Pd P S1 Bhs. Jerman 33. Gufran Walad,
S.Ag
L S1 Sastra Arab
Bhs. Arab Ilmu Kalam 34. Muriati, S.pd P S1 Bhs. Indonesia 35. Mardiah, S.Pd P S1 Matematika 36. Ahmad Bakhtiar
Arma, S.sos
L S1 Sosiologi
37. Hj. Mase Intang, A.Md
P S1 Kep.
Perpustakaan
38. Nirwana, S.Pd P S1 BK
39. Dra. Hj. Nuratiah P S1
40. Drs. Fajaruddin L S1 Penjaskes 41. Hj. Herawati, S.Pd P S1 Biologi 42. Hj. Rahmah, S.Pd P S1 Bhs. Inggris 43. Dra. Hj. Anianti P S1
44. Dra. Hj. Nur Hasia P S1 Perpustakaan 45. Nurfaidah, S.Pd P S1 Seni Budaya 46. Fatmah, S.Ag,
M.M
P S1 Bhs. Indonesia
Sumber: Kantor Tata Usaha Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar Tahun ajaran 2013/2014
b. Guru
Tabel 4
Kualifikasi Pendidikan, Jenis Kelamin dan Jumlah Guru
No Tingkat Pendidikan Jumlah dan Status Guru
Jumlah GT/PNS GTT/Guru
Bantu
L P L P
1. S3/S2 - - - - -
2. S1 14 32 - - 46
3. D-4 - - - - -
4. D3/Samud - - - - -
5. D2 - - - - -
6. D1 - - - - -
7. SMA/Sederajat - - - - -
Jumlah 14 33 46
Sumber Data : Kantor tata MAN 1 Makassar tahun ajaran 2013/2014
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sumber daya manusia di SMP Ittihad Disamakan Makassar sangat memadai dalam rangka meningkatkan minat belajar siswa yang ada di sekolah tersebut.Hal ini didukung dengan posisi tenaga mengajar yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
c. Keadaan Sarana dan Prasarana
Keadaan sarana dan prasarana Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar terlihat dari ruang kelas, ruang guru, ruang kantor, ruang kepala sekolah, ruang kepala tata usaha, ruang wakil kepala sekolah, ruang BP/BK, ruang koperasi sekolah, ruang osis, ruang pramuka, ruang perpustakaan, ruang multimedia, bendahara, lab. Biologi & kimia, lab. Fisika & geografi, lab.
Bahasa, lab. Komputer, gedung tata busana, gedung elektro, masjid, tempat wudhu, dapur, Wc. Guru/pegawai, dan Wc.
Siswa.
Tabel 5
Keadaan Sarana dan Prasarana Madrasah Aliyah Negeri Makassar
NO FASILITAS JUMLAH KETERANGAN
1 Ruang Kepala Sekolah 1 Baik
2
Ruang Wakil Kepala
Sekolah 4 Baik
3 Ruang Guru 1 Baik
4
Ruang Kepala Tata
Usaha 1 Baik
5 Ruang Kantor 1 Baik
6 Ruang Kelas 14 Baik
7 Ruang BP/BK 1 Baik
8 Ruang UKS/PMR 1 Baik
9 Ruang Koperasi Sekolah 1 Baik
10 Ruang Osis 1 Baik
11 Ruang Pramuka 1 Baik
12 Ruang Perpustakaan 1 Baik
13 Ruang Multimedia 1 Baik
14 Bendahara 1 Baik 15 Lab. Biologi & Kimia 1 Baik 16 Lab. Fisika & Geografi 1 Baik
17 Lab. Bahasa 1 Baik
18 Lab. Komputer 1 Baik
19 Gedung Tata Busana 1 Baik
20 Gedung Elektro 1 Baik
21 Masjid 1 Baik
22 Tempat Wudhu 1 Baik
23 Dapur 1 Baik
24 Kantin 1 Baik
25 Wc. Guru/Pegawai 2 Baik
26 Wc. Siswa 8 Baik
Sumber data : Kantor Tata Usaha MAN 1 Makassar. Tahun Ajaran 2013/2014
d. Keadaan Siswa
Dalam hal kapasitas jumlah siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar membagi jumlah siswanya menjadi kelas XI, XII dan XIII. Untuk kelas XI berjumlah 20 orang, kelas XII berjumlah 20 orang dan kelas XIII berjumlah 20 orang.
Adapun keadaan siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar Tahun 2013/2014 adalah sebagai berikut :
Tabel 6
Keadaan siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar Tahun Ajaran 2013/2014
No Populasi Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Kelas XI 120 130 250
2 Kelas XII 100 150 250
3 Kelas XIII 40 60 100
Jumlah 270 260 600
Sumber data : Kantor Tata Usaha MAN 1 Makassar tahun Ajaran 2013/2014
B. Peran Kepala Sekolah di Madrasah Aliyah Negeri 1 Makassar Semakin lama pengetahuan manusia semakin berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang semakin hari semakin meningkat dan berkembang. Namun walaupun demikian, Tidak sering dapat kita pungkiri bahwa Peranan Kepala Sekolah juga sama seperti guru dalam mendidik dan mengajar peserta didik disekolah. Karena Kepala Sekolah merupakan pembimbing, pengarah, pendidik, pengajar, serta pendorong dalam proses menuju kedewasaan peserta didik
Kepala sekolah memiliki wewenang yang penuh terhadap sekolah yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pikiran dan perhatiannya tercurahkan kepada pengembangan sekolah.
Perhatian terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah salah satu langkah untuk pengembangan sekolah.
Disamping itu, kepala sekolah juga mampu menjadi teladan yang bai bagi sekolah, baik terhadap guru, pegawai, dan kepada peserta didik, maupun masyarakat luas. Dengan keteladanan yang baik akan melahirkan kepemimpinan yang bijak, dedikasi yang tinggi,