• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rukun dan Syarat Talak

Dalam dokumen SKRIPSI - IAIN Repository (Halaman 54-58)

BAB II LANDASAN TEORI

B. Perceraian

4. Rukun dan Syarat Talak

merujukmu kembali. “Dan disunnahkan pada saat rujuk tersebut menghadirkan dua orang saksi yang adil.53

3) Atas kemauan sendiri. Yang dimaksud dengan atas kemauan sendiri disini ialah adanya kehendak pada diri suami untuk menjatuhkan talak itu dan dijatuhkan atas pilihan sendiri, bukan dipaksa orang lain. Kehendak dan kesukarelaan melakukan perbuatan menjadi dasar taklif dan pertanggungjawaban. Oleh karena itu, orang yang dipaksa melakukan sesuatu.54

b. Istri. Masing-masing suami hanya berhak menjatuhkan talak terhadap istri sendiri. Tidak dipandang jatuh talak yang dijatuhkan terhadap istri orang lain. Untuk sahnya talak, bagi istri yang ditalak disyaratkan sebagai berikut:

1) Istri itu masih tetap berada dalam perlindungan kekuasaan suami.

Istri yang menjalin masa iddah talak raj’i dari suaminya oleh hukuman Islam dipandang masih berada dalam perlindungan kekuasaan suami. Karenanya bila dalam masa itu suami menjatuhkan talak lagi, dipandang jatuh talaknya sehingga menambah jumlah talak yang dijatuhkan dan mengurangi hak talak yang dimiliki suami. Dalam hal talak ba’in, bekas suami tidak berhak menjatuhkan talak lagi terhadap bekas istrinya meski dalam masa iddahnya, karena dengan talak ba’in itu bekas istri tidak lagi berada dalam perlindungan kekuasaan bekas suami.

2) Kedudukan istri yang ditalak itu harus berdasarkan atas akad perkawinan yang sah. Jika ia menjadi istri dengan akad nikah yang batil, seperti akad nikah terhadap wanita dalam masa iddahnya,

54 Abdul Rahman Ghozali, Fiqih Munakahat, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group, 2003), 215

atau akad nikah dengan perempuan saudara istrinya (memadu antara dua perempuan bersaudara), atau akad nikah dengan anak tirinya padahal suami pernah menggauli ibu anak tirinya itu dan anak tiri itu berada dalam pemeliharaanya, maka talak yang demikian tidak dipandang ada.

c. Sighat Talak

Sighat talak ialah kata-kata yang diucapkan oleh suami terhadap istrinya yang menunjukkan talak, baik itusharih (jelas) maupun kinayah (sindiran), baik berupa ucapan/lisan, tulisan, isyarat bagi suami tuna wicara ataupun dengan suruhan orang lain. Talak tidak dipandang jatuh jika perbuatan suami terhadap istrinya menunjukkan kemarahannya, semisal suami memarahi istri, memukulnya, mengantarkannya ke rumah orang tuanya, menyerahkan barang- barangnya, tanpa disertai peryataan talak, maka yang demikian itu bukan talak.

d. Qoshdu (Sengaja), artinya bahwa dengan ucapan talak itu memang dimaksudkan oleh yang mengucapkannya untuk talak, bukan untuk maksud lain. Oleh karena itu salah ucap yang tidak dimaksud untuk talak dipandang tidak jatuh talak, seperti suami memberikan sebuah salah kepada istrinya, semestinya ia mengatakan kepada istrinya itu kata-kata: “Ini sebuah salak untukmu”, tetapi keliru ucapa, berbunyi:

“Ini sebuah talak untukmu”, maka talak tidak dipandang jatuh.55

55Abdul Rahman Ghozali, Fiqih Munakahat, h. 115

A. Jenis dan Sifat Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian lapangan, jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan. Penelitian lapangan adalah suatu penelitian yang dilakukan di lapangan atau lokasi suatu penelitian yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala objektif yang terjadi di lokasi tersebut.56

Penelitian lapangan ini pada hakekatnya merupakan metode untuk menemukan secara spesifik dan realis tentang apa yang sedang terjadi pada suatu saat ditengah kehidupan masyarakat. Penelitian lapangan ini bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam masyarakat.57

Berdasarkan pengertian di atas, penelitian lapangan merupakan penelitian yang ditujukan langsung ke lokasi penelitian yang akan diteliti, yaitu di dalam suatu masyarakat berlokasi di Desa Srisawahan Kecamatan Punggur Lampung Tengah.

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau menggambarkan

56 Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan Tehnik Penyusunan Skripsi, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2011), 96

57 Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 28.

secara tepat mengenai situasi, kondisi, gejala atau kelompok tertentu yang terjadi saat penelitian itu berlangsung.58 Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut.59

Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.60 Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, mengembangkan teori, memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.61

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dipahami penelitian deskriptif kualitatif adalah dari penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau menjabarkan tentang suatu kondisi dan situasi, yang penjabarannya tertuang dalam bentuk kalimat dan bukan berbentuk angka.

B. Sumber Data

Sumber data merupakan subyek dari mana data dapat diperoleh. Data merupakan hasil pencatatan baik berupa fakta dan angka yang dijadikan bahan

58 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia-Press, 1986), 10

59 Juliansyah Noor, Metode Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya Ilmiah, (Jakarta: Kencana, 2011), 35

60 Nurul Zuriah, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi, (Jakarta:

Bumi Aksara, 2009), 92

61 Juliansyah Noor, Metode Penelitian., 34

untuk menyusun informasi.62 Adapun sumber yang penulis gunakan dalam menyusun proposal ini ada dua yakni:

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya, baik melalui wawancara, observasi maupun laporan dalam bentuk dokumen tidak resmi yang kemudian diolah oleh peneliti.63

Adapun yang menjadi informan para penelitian ini adalah:

a. Orang tua, hal ini dikarenakan untuk mengetahui faktor penyebab orang tua melalaikan kewajiban hadhanahnya pasca bercerai guna mendapat bukti yang kuat sebagai pendukung argumentasi.

b. Pihak keluarga, hal ini dikarenakan dapat memberikan keterangan- keterangan yang dapat mendukung penelitian mengenai faktor penyebab orang tua melalaikan kewajiban hadhanah pasca bercerai.

c. Tetangga, hal ini dikarenakan dapat memberikan keterangan yang dapat mendukung penelitian mengenai faktor penyebab orang tua melalaikan kewajiban hadhanah pasca bercerai.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, tetapi mencakup tulisan atau

62 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi II, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), 129

63 Zainuddin Ali, Metode Peneliti Kuantitatif, Kualitatif, R & D, (Bandung:

Alfabeta, 2013), 225

dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian, hasil-hasil penelitian dalam bentuk laporan dan lain-lain.64

Adapun yang menjadi sumber data sekunder dapat berupa dokumen, hasil penelitian dan buku-buku yang ada relevansinya dengan penelitian. Adapun yang menjadi acuan sumber data sekunder Abdul Rahman Ghazali, Fiqh Munakahat, Jakarta: Media Gruop, 2003, Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Kencana: Prenada Media,2006, Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004.

C. Teknik Pengumpulan Data

Data artinya informasi yang didapat melalui pengukuran-pengukuran tertentu, untuk digunakan sebagai landasan dalam menyusun argumentasi logis menjadi fakta.65 Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, maka penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:

1. Metode Wawancara

Wawancara adalah sebuah dialog atau Tanya jawab yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewee) baik secara langsung maupun tidak langsung dengan sumber data.66 Wawancara dapat berfungsi deskriptif yaitu menggambarkan kenyataan seperti dialami orang sehingga dapat

64 Sugiyono, Metode Penelitian., 225

65 Abdurrahmat Fathoni, Metode Penelitian., 104

66 Edi Kusnadi, Metodelogi Penelitian, (Metro: Ramayana Pers dan STAIN Metro, 2008), 96

memperoleh gambaran yang lebih obyektif tentang masalah yang diselidiki.67

Dalam penelitian ini digunakan jenis wawancara bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara wawancara bebas dan terpimpin, jadi pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti, dalam pelaksanaan wawancara ini pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal apa saja yang akan dijadikan pertanyaan.68

Metode wawancara untuk mendapatkan data tentang alasan, tujuan dan model dalam faktor kelalaian orang tua dalam pelaksanaan hadhanah pasca bercerai, wawancara dengan Ibu, Sumiah, Ibu Marni, Bapak Bambang, Ibu Lestri, Pihak Istri Ibu Tari, Ibu sinta, Ibu Ana, Untuk pengambilan data melalui wawancara atau secara lisan langsung dengan sumber datanya, dilakukan dengan melalui tatap muka dan jawaban responden direkam dan dirangkum sendiri oleh peneliti.

2. Metode Observasi

Observasi ialah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. Observasi menjadi salah satu teknik pengumpulan data, apabila sesuai dengan tujuan penelitian, direncanakan

67 Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 113

68 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian., 146

dan dicatat secara sistematis serta dapat dikontrol keandalanya (reabilitasnya) dan kesahihannya (validitasnya).69

Sedangkan menurut pendpat lain bahwa observasi dapat dilakukan dengan cara ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang di observasi ataupun tidak, yang jelas observasi merupakan teknik pengumpulan data yang penting dalam penelitian kualitatif.70

Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa observasi ini adalah suatu cara digunakan dalam mengumpulkan data suatu pengamatan dan juga pencatatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana salah satu metode yang penulis gunakan dalam mengumpulkan data dengan cara mengamati mencatat dan juga mengingat tentang fenomena yang akan diteliti karena pengamatan dalam observasi harus dilakukan untuk memperoleh data tentang gambaran secara umum daerah penelitian

3. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah metode yang dipakai untuk memperoleh informasi dari sumber tertulis atau dokumen-dokumen, baik berupa buku-buku, majalah, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.71 Sifat utama data ini tidak terbatas pada ruang dan waktu sehingga member peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam.72

69 Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004), 54

70 Uhar Suharsaputra, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, (Bandung:

Rafika Aditama, 2012), 209

71 Edi Kusnadi, Metodologi Penelitian., 102

72 Juliansyah Noor, Metode Penelitian., 141

Uraian di atas bahwa pengumpulan data dengan menggunakan metode dokumen diperlukan untuk mendukung kelengkapan data adalah dokumen atau catatan yang berkaitan dengan faktor kelalaian orang tua dalam pelaksanaan hadhanah pasca bercerai di Desa Srisawahan Kecamatan Punggur Lampung Tengah.

D. Teknik Analisis Data

Analisis data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar.

Analisis data pertama-tama mengorganisasikan data. Analisis data ini bertujuan untuk menemukan tema dan hipotesiskerja yang akhirnya diangkat menjadi konsep, proposisi, kategori atau variabel, yang berguna untuk membangun teori substansif.73

Analisis data dimulai sejak peneliti berada dilapangan, setelah tema dan hopotesis sudah ditemukan peneliti. Analisis yang dilakukan lebih intensif, tema dan hipotesis diperkaya, diperdalam dan lebih ditelaah lagi dengan menggabungkannya dengan data dari sumber lain, sehingga muncullah analisis kualitatif.74

Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif dengan menggunakan metode berfikir induktif. Metode berfikir induktif yaitu pengambilan kesimpulan dimulai dari pertanyaan atau hal-hal khusus, menuju

73 Moh. Kasiran, Metodelogi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif, (Malang: UIN Maliki Press, 2008), 288

74 Ibid., 177

kesimpulan yang bersifat umum. Proses berfikir induktif tidak dimulai dari teori tetapi dari fakta khusus berdasarkan penelitian lapangan.75

Berdasarkan uraian dan keterangan di atas, penggunakan data yang telah diperoleh dalam bentuk uraian kemudian data tersebut dianalisa dengan menggunakan cara berfikir induktif dalam inetraksi sosial di masyarakat, dan berfungsi sebagai penunjang untuk mengidentifikasi dan mengklarifikasi temuan bahan nonhukum bagi keperluan penelitian.

75 Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, (Bandung: Sinar Baru, 2011), 7

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Profil Desa Srisawahan

Desa Srisawahan adalah salah satu nama desa yang ada di Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah, dirintis pembukaannya pada bulan Februari 1955, sebelum menjadi daerah pemukiman warga merupakan hutan rimba dan hutan muda.76 Pertama kali dibuka oleh penduduk yang berjumlah 57 kepala keluarga (KK), kemudian bertambah dengan adanya pendatang baru sampai dengan tahun 1957 dan berkembang menjadi 197 kepala keluarga (KK) yang saat itu penduduknya pun masih jarang. Setelah itu diakui oleh Departemen Transmigrasi dan disahkan oleh Pemerintah Tahun 1957 dan diberi nama Desa (Kampung) Srisawahan yang oleh pelopor perintis nama Desa Srisawahan diartikan sebagai Desa yang memiliki area persawahan padi yang luas (Sri= padi dan Sawahan= Daerah sawah).

Harapan masyarakat Kampung Srisawahan pada waktu memberi Nama Desanya betul-betul berkeinginan agar nantinya daerah yang ditempati itu menjadi daerah persawahan yang akhirnya dapat memperbanyak hasil produksi pertanian yang sasarannya dapat membawa peningkatan kesejahteraan dan pembangunan masyarakat demi mencapai cita-cita masyarakat.

76 Profil Desa Srisawahan Dikutip Pada Tanggal 11 Desember 2019

2. Visi dan Misi Desa Srisawahan

Visi dan Misi Desa Srisawahan adalah sebagai berikut:

a. Visi Desa Srisawahan

Terwujudnya Masyarakat Yang Makmur Dengan Peningkatan Sumber Daya Manusia Untuk Menuju Desa Agribisnis.

b. Misi Desa Srisawahan

1) Meningkatkan SDM melalui pendidikan formal maupun informal memperbaiki dan menambah sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

2) Meningkatkan dan menambah kerjasama dengan Dinas terkait khususnya pertanian untuk pengetahuan dan produksi pertanian 3) Meningkatkan dan menggali serta pemanfaatan usaha pertanian.

4) Meningkatkan dan mengelola Pendapatan Asli Desa.

5) Melaksanakan Spesifikasi wilayah untuk produk unggulan.

6) Mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih.

3. Kondisi Geografis Desa Srisawahan a. Letak Dan Batas Wilayah

Desa Srisawahan adalah salah satu Desa di Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah. Terletak diketinggian 650 Mdpl. Sedangkan batas wilayah sebelah utara Desa Srisawahan berbatasan dengan Desa Saptomulyo, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Wonosari, sebelah timurnya berbatasan dengan Sritejokencono, dan sebelah Barat berbatasan dengan desa Badransari.

b. Luas Wilayah

Luas wilayah Desa Srisawahan 1.082,6 ha dengan perincian luas pemukiman warga 19,250 ha, luas persawahan 2,45 ha, luas perkebunan 2 ha, luas kuburan 1 ha, dan luas prasarana umum lainya 3 ha.

c. Keadaan Iklim

Di Desa Srisawahan iklimnya sama dengan di daerah-daerah lain di seluruh wilayah Indonesia yakni tropis (sedang) yang terdiri dari musim penghujan dan musim kemarau, musim kemarau biasanya di mulai dari bulan Maret hingga September adapun musim penghujan dengan curah hujan 2000mm/tahun di mulai bulan Oktober sampai Februari dan suhunya rata-rata 23° C

d. Keadaan Lahan Pertanian

Pada komoditas padi luas lahan panen sebesar 70 ha produksi sejumlah 366 ton, komoditas jagung luas lahan 104 ha produksi sejumlah 427 ton, kacang tanah luas lahan 14,7 ha produksi sejumlah 48 ton, ubi kayu luas lahan panen sebesar 19,9 ha 314,6 ton.

4. Keadaan Demografi

Penduduk adalah unsur terpenting dalam suatu wilayah, karena penduduklah yang melakukan aktivitas untuk mendayagunakan segala potensi yang ada, baik itu potensi alam maupun manusianya. Sesuai dengan data yang diperoleh pada monografi Desa Srisawahan bahwa jumlah penduduk dengan perincian sebagai berikut:

a. Jumlah penduduk wanita = 2748 jiwa b. Jumlah penduduk laki-laki = 2616 jiwa c. Jumlah Kepala Keluarga = 2391 KK 5. Kondisi Ekonomi

Jumlah penduduk yang banyak menandakan bahwa adanya faktor penarik penduduk untuk tinggal ada daerah tersebut seperti banyaknya lahan pekerjaan maka tingkat ekonomi merupakan faktor yang dominan bagi dinamika suatu masyarakat, sehingga kemajuan masyarakat pada tingkat usaha yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.77

Jika dilihat secara cermat, ada beberapa sektor yang mampu mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi di Kampung Srisawahan, yang paling signifikan adalah sector pertanian dan peternakan.ini dilihat dari luasnya lahan pertanian yang mendominasi sekitar 75 % dari seluruh wilayah Kampung Srisawahan sekaligus mata pencaharian masyarakat Kampung Srisawahan adalah sebagai Petani dan Buruh tani disamping itu pula sektor perdagangan sangat baik, hal ini sangat membantu upaya Pemerintah Kampung dalam rangka menurunkan angka Pengangguran.

Perkembangan penduduk miskin di Kampung Srisawahan dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang signifikan, meskipun sebenarnya hal ini sangat riskan dengan labilnya kondisi ekonomi global, sehingga harus ada penguatan terutama di bidang peningkatan Sumber daya alam maupun Sumber daya manusia.

77 Profil Desa Srisawahan Dikutip Pada Tanggal 11 Desember 2019

Secara Sosial dan ekonomi, penduduk Desa Srisawahan dikelompokkan dalam basis mata pencaharian pada sektor Pertanian, agama dan pendidikan. Mata pencaharian penduduksebagian besar adalah Pertanian dengan aktifitas utama bertanam padi dan jagung dan sayuran.

Daftar mata pencaharian masyarakat Desa Srisawahan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.78

Tabel 1 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian No Pekerjaan/Mata Pencaharian Jumlah

1 Karyawan Swasta 750

2 PNS 98

3 TNI/POLRI 27

4 Swasta 37

5 Wiraswasta/Pedagang 1100

6 Petani 1.2010

7 Tukang 57

8 Buruh Tani 2750

9 Pensiunan 85

10 Peternak 18

11 Jasa 7

12 Pengrajin 5

13 Belum Bekerja/pengangguran 2910

Sumber: Dokumentasi Desa Srisawahan Kecamatan Punggur

Hal ini didukung dengan topografi dan kondisi yang sangat mendukung di Desa Srisawahan sehingga potensial dalam melakukan kegiatan usahatani sayuran dan perkebunan. Kekayaan alam di Desa Srisawahan merupakan aset yang sangat berhaga dan patut dijaga sebagai salah salu penopang hidup masyarakat.

6. Struktur Organisasi Desa Srisawahan Kecamatan Punggur

78 Profil Desa Srisawahan Dikutip Pada Tanggal 11 Desember 2019

Adapun struktur organisasi atau kepengurusan Desa Srisawahan dapat dilihat sebagaimana gambar atau bagan di bawah ini:

Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Srisawahan Gambar 1

Bagan Struktur Pemerintahan Kampung Srisawahan

Gambar 1 Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Srisawahan B. Kelalaian Orang Tua dalam Pelaksanaan Hadhanah Pasca Bercerai

Kaur Pelayanan TUKIYAT Kaur Kesra

ANAS WIDIANTORO Kepala Desa

MUJIONO

Sekreatris Desa

KUSMIYATI BPK

SUPARDI

Kaur Umum

Kepala Dusun 1 EDI SUSWANTO

TUMIRAN

Kaur Keuangan YOGA TUKIYAT

UMIRAN Kepala Dusun 2

GHOLIB.S

Kaur Pemerintahan HARIYANTO Kepala Dusun 3

SUGIYANTO

Pernikahan adalah sebagai satu cara untuk mengembangkan keturunan, juga melaksanakan salah satu sunnah dalam agama Islam. Namun dalam kenyataannya tidak jarang dalam sebuan pernikahan yang sudah berlangsung, kedua pasangan suami dan istri dalam perjalanan rumah tangganya putus yang diakibatkan oleh perceraian.

Hadhanah (mengasuh anak) adalah kewajiban orang tua yang berkaitan dengan memelihara, merawat, dan mendidik anak-anak dari lahir sampai anak itu sanggup berdiri sendiri mengurus dirinya. Belum mampu menghindarkan dirinya dari sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri, oleh karena itu orang tua berkewajiban mengasuh, mewawat dan mendidik anak-anaknya.

Permasalahan hadhanah khususnya pasca perceraian suami istri merupakan masalah yang mendapat perhatian khusus dalam ajaran Islam.

Dikarenakan anak pada permulaan hidupnya sampai umur baliqh memerlukan orang lain dalam kehidupannya, baik dalam pengaturan fisiknya, maupun dalam pembentukan akhlaknya. Maka dari itu dapat diketahui faktor kelalaian orang tua dalam pelaksanaan hadhanah pasca bercerai yaitu:

1. Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebabnya kelalaian orang tua dalam pelaksanaan hadhanah pasca bercerai, mayoritas responden bekerja sebagai petani, pengasilan yang diperoleh hanya cukup untuk makan setiap harinya. Pemenuhan hak anak adalah kegiatan untuk menjamin kebutuhan, melindungi dan memberikan apa yang seharusnya anak dapatkan yakni hak untuk hidup, tumbuh berkembang, dan diasuh

dan dipelihara oleh orang tuanya sendiri. Ada beberapa faktor yang melatar belakangi tidak terpenuhinya hak anak dalam hadhânah pasca perceraian yang berujung pada penelantaran anak salah satunya adalah himpitan ekonomi. Menurut penjelasan dari Ibu Sumiyah (Nama Samaran) warga Desa Srisawahan menjelaskan bahwa:

Permasalahan biaya nafkah anak setelah orang tua bercerai adalah hal yang sangat penting untuk menjamin kehidupan sehari-hari anaktersebut. Sebab setelah terjadinya perceraian anak selalu menjadi korban, sedangkan anak tidak bersalah atas perceraian kedua orang tuanya tanggung jawab tentang biaya nafkah anak setelah terjadinya perceraian pada prinsipnya dibebankan kepada orang tua laki-laki.79

Dalam kenyatannya melaksanakan kewajibannya sebagai ayah pasca perceraian ada kendala dalam pelaksanaannya, Kendala yang sering dijumpai paraayah adalah karena keterbatasan ekonomi. dimana ayah kebanyakan berpenghasilan kecil dan ada juga ayah yang tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Menurut penjelasan dari Baoak Sodiqin (Nama Samaran) Tokoh Agama Desa Srisawahan menjelaskan bahwa:

Apabila ada kendala dalam melaksanakan kewajibanya dalam hal pemberian hak nafkah anak karena keterbatasan ekonomi, tidak ada alasan yang menjadikan kewajiban ayah gugur. Akan tetapi kewajibanya tetap melekat dan harus memberikan segalanya untuk anak demi kelangsungan hidup. jika ayah dalam keadaan fakir, tetapi mampu bekerja dan memang benar-benar telah bekerja, tetapi penghasilannya tidak mencukupi, kewajiban nafkah kepada anak itu tetap tidak menjadi gugur.80

79 Wawancara dengan Ibu Sumiyah (Nama Samaran) di Desa Srisawahan Kecamatan Punggur Lampung Tengah pada tanggal 12 Desember 2019

80 Wawancara dengan bapak Sodiqin Tokoh agama di Desa Srisawahan Kecamatan Punggur Lampung Tengah tanggal 12 Desember 2019

Menurut penjelasan ibu Tari (Nama Samaran) memberikan penjelasan sebagai berikut:

Bahkan ada orang tua pasca perceraian yang hanya bekerja srabutan dan penghasilannya tidak menentu, namun kebalikannya ketika ekonomi tergolong rendah, dengan kebutuhan keluarga tidak tercukupi untuk memenuhi kebutuhan hadhanah khususnya pasca perceraian.81

Sedangkan menurut pendapat Ibu Sinta (Nama Samaran) menjelaskan bahwa:

Faktor ekonomi adalah dilihat dari segi kemampuan biaya nafkah anak setelah terjadinya perceraian yang merupakan masalah penting untuk menjamin sebab anak-anak yang dilahirkan dalam perkawinan tersebut tidak tahu menahu dan tidak bersalah atas perceraian orang tuanya.82

Berbeda menurut pendapat Ibu Ana (Nama Samaran) menjelaskan bahwa:

Yang kami pahami hak asuh anak setelah bercerai biasanya bagi anak yang belum mumayyiz itu hak asuhnya ada pada Ibunya, tetapi secara materi atau biaya hidupnya ada dari Ayahnya. Apabila Ayah tidak bertanggungjawab dan tidak mampu dari segi materi maka pemeliharaan anak itu akan berada di pihak Ibunya.83

Hak asuh anak itu bukan hanya dilihat untuk kepentingan baik Ayah maupun Ibunya, tetapi juga dilihat untuk kepentingan anak itu sendiri dari mulai biaya makan sandang dan pendidikan yang sedang dan akan ditempuhnya semua membutuhkan nafkah dhahir. Salah satu yang melatar belakangi terjadinya pengabaian terhadap nafkah anak pasca

81 Wawancara dengan Ibu Tari (Nama Samaran) di Desa Srisawahan Kecamatan Punggur Lampung Tengah tanggal 12 Desember 2019

82 Wawancara dengan Ibu Sinta (Nama Samaran) di Desa Srisawahan Kecamatan Punggur Lampung Tengah tanggal 12 Desember 2019

83 Wawancara dengan Ibu Ana (Nama Samaran) di Desa Srisawahan Kecamatan Punggur Lampung Tengah tanggal 12 Desember 2019

Dalam dokumen SKRIPSI - IAIN Repository (Halaman 54-58)

Dokumen terkait