BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
1. Salafi Dalam Sejarah Dunia
Teologi Salafi sebenarnya dimulai jauh sebelum Ibn Taimiyah, pada masa dinasti Abbasiyah di Baghdad. Pada saat itu, banyak ahli hadits menjadi korban kebijakan pemerintah yang mencoba menerapkan ajaran mu’tazilah sebagai teologi resmi. Beberapa isu dijadikan alat untuk mengeksekusi tokoh- tokoh yang dianggap menyimpang secara teologis oleh mu’tazilah. Dalam hal ini, Ahmad ibn Hanbal dan lainnya menjadi korban dari ketidaksepakatan mereka dengan teologi “resmi” pemerintah. Ini menjadi inspirasi sikap teologis bagi sebagian ahli hadits.35
Istilah Salafi kemudian muncul untuk menyebut para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah setelah tiga generasi yang diberkahi yang mengikuti jalan mereka dalam keyakinan dan maupun dalam perilaku.
Menurut Salafi di antara para ulama tersebut adalah Abu Hanifah, Al-
‘Awza’i, al-Layts bin Sa’ad, Imam Malik Bin Anas, Abdullah Bin Al Mubarak, Shafyan bin al-‘Uyainat, Imam Al-Syafi’i, Imam Ishaq, Ahmad bin Hanbal, Imam Al Bukhari, Imam al-Muslim, Abu Daud, Ibn Taimiyah, Ibn
35 Arrazy Hasyim. Teologi Muslim Puritan; Genealogi dan Ajaran Salafi. (Tangerang Banten: Penerbit Maktabah Darussunnah, cetakan kedua 2018) hal. 43.
Qoyyim al-Jawzi, Ibn Katsir, Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, dan sejumlah muridnya seperti ‘Abd al-Aziz bin Bazz, Nashir al-Din al-Albani.36
Salafi muncul disebabkan semangat kembali kepada kejayaan masa lalu, terutama tiga abad di permulaan Islam. Tiga abad ini biasa disebut dengan al-qurun al –awa’il. Orang-orang yang hidup di zaman tersebut biasa disebut al-Salaf al-Sālih, terutama jika mereka dianggap sebagai imam panutan. ‘Abdullāh Bin ‘Abdul Hamîd al-Athari, menyebutkan:
كمّدقت نَم :فلسلاو م
ن و كئابآ يذ ا يف كقوف مه يذلا كتبارق ّيمس اذهلو ,لضفلاو ّنّسل
ل ّولأا ردصلا
حلاّصلا فلّسلاب نيعباتلا نم
“Al-Salaf adalah siapa-siapa yang mendahuluimu mulai dari orang tua dan juga yang memiliki kekerabatan denganmu dimana mereka lebih tua usianya dan memiliki keutamaan darimu, itulah alasan mengapa disebutkan masa pertama dari tabi’in sebagai Safus Sholih”37
36 M. Imdadun Rahmat, Arus Baru IslamRadikal :Transmisi Revivalisme IslamTimur Tengah ke Indonesia. (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005, hal. 64
37 ‘Adb Allāh Ibn ‘Abd al-hamid al-Athari, al-Wajiz fi ‘Aqidat al-Salaf al-Salih (cetakan Turki: Al Ghuroba’ Addaarul atsariyah lit tarjamati wat thobaa’ati wan nasyri, 1435), hal 27.
Kemudian beliau menjelaskan selanjutnya :
قلطأ اذإ سلا ل ف ع ن ؛داقتعلاا ءاملع د إف
ن نورقلا باحصأ لوح رودت مهتافيرعت لأا ةثلاثلا
م ةلضفملا ىلو ن
باتلاو ةباحصلا نيع
وأ احصلا مهيعباتو نيعباتلاو ةب باحصأف ؛ ةيريخلاب الله لوسر مهل دهش نمم ؛ ناسحإب
ه ذ ملا نورقلا ه ىلع ةملأا لضفأ ةكراب
قلاطلإا
“Jika istilah Salaf disebutkan secara mutlak oleh ulama aqîdah -tanpa dikaitkan dengan istilah lainnya- maka definisinya mencakup tiga generasi utama yaitu para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan baik, dan mereka yang dipersaksikan oleh Rasulullah Sallā Allāh ‘alayhi wa-sallam sebagai generasi terbaik. maka orang-orang yang berada pada tiga generasi yang penuh keberkahan ini adalah sebaik-baik umat secara mutlak”
عأ مهو دهلا ملا ى ، باصمو للا حي ؛ لودعلا ملاسلإا ءاملع نم مهعبت نم مث ؛یج لاعلأا ةمئلأا نم
ا م ل هشم ، ةماملإاب مهل دو
او لضفل هيف ةماملإاو ،ةنسلا عابتاو ، ، ةعدبلا بانتجاو ، ا
الله لوسرو ، اهنم رذحلاو و
ص مه ؛ ناسحإب مهل نوعباتلاو هتباح
لإ وعدي نم لكو ،ةملأا هذه فلس لثم ى
لإ اعد ام ي ه الله لوسر لع وهف ؛ناسحإب مهل نوعباتلاو ، هتباحصو نم فلسلا جهن ى
.
ذهلو مس ا ي لا سلاب لولأا ردص لا فل
ص ا حل
“…Dan mereka seperti Menara petunjuk arah, seperti lentera bagi kegelapan, kemudian yang mengikuti mereka dari ulama-ulama yang ‘udul (benar-benar bertaqwa) yaitu ulama-ulama yang diakui keimaman, keutamaannya, ulama yang berpegang teguh dengan sunnah dan diakui sebagai imam di atasnya. Ulama yang juga menjauhi bid’ah dan memperingatkan manusia darinya. Rasulullah SallAllāhu ‘alaihi Wasallam, kemudian para sahabat dan orang- orang yang mengikuti mereka ddengan baik adalah salafnya umat ini, dan siapa saja yang mendakwahkan seperti apa yang di dakwahkan oleh Rasulullah SallAllāhu ‘alaihi Wasallam,
Semangat untuk mengikuti “generasi emas” itulah yang secara otomatis melahirkan sikap-sikap religiusitas yang khas. Semua aspek keagamaan mulai dari teologi, fiqh, kaidah berpikir, berpakaian dan atribut-atribut keseharian pun diharuskan mengikuti apa yang disebut dengan manhaj al-salaf. 38
Sehingga Ibnu Atsir menambahkan, bahwa generasi pertama dari para tabi’in disebut salaf sholih.39
Penyebutan istilah Salafi sejatinya sudah dilakukan oleh Nabi sallā Allāh 'alayhi wa-sallam tatkala beliau bersabda kepada Fatimah saat sakit keras menjelang wafatnya,
لوسر لوق هنمو نع الله يضر ءارهزلا ةمطاف هتنبلا و الله
ه ا : لا معن هنإف س
فل انأ
كل
“maka sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.40 Oleh karenanya Bakar Abu Zaid, berkata jika disebut Salaf, Salafiyyun atau Salafiyyah maksudnya adalah nisbah kepada salafush shalih yaitu para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, bukan orang-orang yang cendrung kepada hawa nafsu dari generasi sesudah sahabat dan menyempal dari jalan para sahabat dengan nama atau simbol (sering disebut khalafi). Adapun orang-orang yang terus di atas manhaj kenabian
kemudian para sahabatnya maka dia berada di atas jalan Salaf. Oleh Karenanya dinamakanlah generasi pertama ini dengan As Salafussholih. (‘Adb Allāh Ibn ‘Abd al-hamid al-Athari, al-Wajiz fi ‘Aqidat al-Salaf al-Salih (cetakan Turki: Al Ghuroba’ Addaarul atsariyah lit tarjamati wat thobaa’ati wan nasyri, 1435), hal 28).
38 M. Imdadun Rahmat, Arus Baru IslamRadikal :Transmisi Revivalisme IslamTimur Tengah ke Indonesia. (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005, hal. 64
39 Ibid.
40 Hadits riwayat Muslim 2450. Lihat kitab . Salim Bin ied Al Hilaly. Limadza Ikhtartu Manhajis Salafi?
mereka menisbatkan diri kepada al-Salaf al-Sālih sehingga mereka di sebut Salaf dan Salafiyyun dan nisbah kepada mereka adalah Salafi. Syaikh juga berkata:
لسلا قيرط ؛ ةداجلا ىلع ايفلس نك مهرثأ افق نمم مهدعب نمف ،مهنع الله يضر ةباحصلا نم حلاصلا ف
41،اهوحنو ،تادابعلاو ،ديحوتلا نم ؛نيدلا باوبأ عيمج يف
“jadilah dirimu sebagai Salafi sejati yang meniti jalan al-Salaf al-Sālih dari kalangan sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam setiap bidang agama seperti tauhid, ibadah dan sebagainya”
Fauzan ibn Halil ibn Rabāhi al-Suhaimi berkata:42
لأل نأ م لاإ ةيريخلاو ةاجنلا قحتسي لا عباتلا نأو ،هب اولمعو ،هيلإ اوقبسو ،ىدهلاو ريخلاب اومدقت افلس ة
هفلس نم جهن ىلع ريسلاب ،
او لاو ،راصنلأاو نيرجاهملا نم نولولأا نوقباسلا هيلإ قبس امب لمعل
لإا فصول عباتلل قاقحتسا ناسح
ا ةعباتمب لاإ نيقباسل
Sesungguhnya umat (Islam) memiliki salaf (pendahulu) dalam kebaikan dan petunjuk, merekalah yang pertama menerima dan mengamalkan kebaikan dan petunjuk itu. Oleh karenanya seorang tidaklah mendapatkan kesuksesan dan kebaikan kecuali dengan menempuh jalan pendahulunya, dan beramal dengan apa yang telah dipraktekkan oleh pendahulunya dari Muhajirin dan Anshor, dan tidaklah seseorang disifatkan dengan kebaikan kecuali dengan mengikuti mereka.
Selanjutnya penggunaan kata Salafi secara masif dilakukan oleh Ibnu Taimiyah (728 H/1328). Ibnu Taimiyah sangat sering mengaitkan pendapatnya dengan ulama pada masa awal Islam atau masa Salaf. Bahkan
41 (Bakr Bin Abdillah Abu Zaid. Hilya Tholibil Ilmi. Dar Ibnul Jauzi, KSA. Cetakan pertama. 1427 H.)
42 Fauzan Bin Halil Bin Rabaahi As Suhaimi. Ususu Manhajis Salaf Fid Dakwati IlAllāhi.
Dar Ibnul Qoyyim. 1423 H. Al Mamlakatu Al Arabiyah As Su’udiyah. Hal. 22.
tidak jarang Ibnu Taimiyah menyakini bahwa pendapatnya adalah pendapat yang paling sesuai dengan pandangan ulama Salaf. Ini terlihat dari frekuensi kata salaf ditemukan berulang kali dalam satu karya saja. Sebagai contoh, Ibn Taimiyah menyebutkan kata “salaf” lebih dari empat puluh kali dalam kitab Iqtida’ al-Sirat al-Mustaqim. Pengulangan ini untuk sebuah kitab kecil karena hanya terdiri dari satu volume, termasuk sangat banyak. Bahkan dalam kitab yang lebih kecil Al-‘Aqîdah al-Isbahaniyah, Ibn Taimiyah menyebutkan kata tersebut lebih dari tiga puluh kali. Ini adalah sekilas dari kitab-kitab kecil yang ditulis oleh Ibn Taimiyah, dan tentu penyebutan term salaf akan lebih banyak dalam karya-karyanya yang lebih besar. Term ini disebutkan secara berulang-ulang kali dengan beberapa konteks. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan pendapatnya lebih dekat dengan mereka.43
Hal yang sama juga dilakukan oleh Ibn Qoyyim Al Jawziyah (751 H/1349), murid setia Ibn Taimiyah. Ibn Qoyyim menyebutkan Term “salaf”
lebih dari tujuh puluh kali dalam kitab I’lam al-Muaqqi’in. Begitu juga kitab Ighathat al-Lahfan dan As-Sawa’iq al-Mursalah. Ia menggunakan kata tersebut sekitar lima puluh kali.44