• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

H. Kerangka Teori

1. Sertifikasi

a. Pengertian sertifikasi

Sertifikasi merupakan suatu bentuk pengakuan yang diberikan kepada guru tentang profesinya. Denim dalam Suprihatiningrum (2013:

215) menjelaskan bahwa sertifikasi (sertification) mengandung makna, jika hasil penelitian atas persyaratan pendaftaran yang diajukan calon penyandang profesi dipandang memenuhi persyaratan, kepadanya diberikan pengakuan oleh negara atas kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Bentuk pengakuan tersebut adalah pemberian sertifikat kepada penyandang profesi tertentu, yang di dalamnya memuat penjelasan tentang kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh pemegangnya.15 Di perjelas lagi tentang sertifikasi menurut Undang- undang yaitu, “Proses pemberian sertifikat oleh lembaga yang ditetapkan

pemerintah kepada tenaga pendidik yang memenuhi kualifikasi persyaratan”.16

Dari pemaparan pendapat diatas, sertifikasi merupakan suatu program yang diadakan oleh lembaga untuk dijadikan sebagai wadah guru mengembangkan kemampuannya sebagai guru professional yang didalam

15 Asnandar Abubakar. “Dampak Sertifikasi Guru Terhadap Kualitas Pendidikan Pada Madrasah Aliyah di Kota Kendari”, Jurnal Al-Qalam, Vol. 21, Nomor 1, Juni 2015, hlm. 119.

16 Ikhsan Jamad Akbar, “Pengaruh Sertifikasi dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru MTs N 1 Kota Bengkulu”, Jurnal An-Nizom, Vol. I, No 2, Agustus 2016, hlm. 109.

program tersebut tidak sembarangan orang bias ikut, karena ada persyaratan-persyaratan tertentu yang harus di penuhi oleh peserta sertifikasi. Didalam program sertifikasi itu ada tes yang diberikan baru diberikan sertifikasi atau pengakuan sebagai guru professional.

Didalam program sertifikasi ini bukan hanya mengikuti tes kemudia lansung di berikan pengakuan oleh lembaga, namun ada juga beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta sertifikasi baru dinyatakan lulus. Adapun kompetensi tersebut yaitu, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi pribadi serta kompetensi sosial.

1) Kompetensi Pendagogik

Yang dimaksud dengan kompetensi pendagogik adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik.

2) Kompetensi Profesional

Kompetensi ini menuntut guru untuk dapat beradaptasi dengan ilmu terkini. karena ilmu selalu berkembang dan memiliki sifat dinamis.

3) Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial dapat dilihat dari seorang guru yang dapat bersosial dengan masyarakat sekitar mulai dari peserta didik dengan sesama guru dan masyarakat.

4) Kompetensi Kepribadian

Kompetensi ini terkait dengan guru sebagai teladan yang dapat menjadi contoh bagi peserta didik yang mengharuskan memiliki keperibadian yang dewasa, stabil, arif, bijaksana dan dapat mengembangkan diri dan bisa mengevaluasi kinerja sendiri.17

17 Dharmawan Haryo Dewanto, Dkk, “Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru di SMA N 1 Gianyar”, Jurnal Vol. 3, No 2, Mei 2015, hlm. 3.

b. Dasar hukum sertifikasi

Dasar hukum sertifikasi guru dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen membahas secara detail hal-hal yang berkaitan dengan guru dan dosen, adapun pasalnya sebagai berikut:18

1) Pasal 8, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

2) Pasal 9, kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjanan atau program diploma empat.

3) Pasal 10 ayat (1), kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

4) Pasal 11 ayat (1), sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan.

5) Pasal 12, setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu.

6) Pasal 14 ayat (1), dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak:

a) Memperoleh penghasilan diatas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;

b) Mendapat promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;

c) Memperoleh perlindungan dalm melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;

d) Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya;

e) Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalannya;

f) Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sangsi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang undangan;

18 UU No. 14, Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen, pasal 8-14.

g) Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas;

h) Memiliki kebebasan untk berserikat dalam organisasi profesi;

i) Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan.

j) Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi;

dan/atau

k) Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa, sertifkasi pendidik tidak hanya melekat kepada penerima sertifikat yaitu guru dan dosen, namun lembaga pendidikan yang dijadikannya tempat untuk mengaplikasikan keprofesionalitasannya juga. Guru dan dosen secara mendasar harus memiliki nilai kompetensi yang mampu ditunjang dengan hak fasilitas yang didapatkan, tidak serta merta serifikasi melekat dalam jabatannya.

Disamping jabatan sertifikasi, guru dan dosen diharuskan secara terus- menerus mengembangkan kualitas kompetensi kepada lembaga yang menaunginya. Sehingga pendidikan di Indonesia itu akan menjadi semakin membaik.

c. Tujuan dan manfaat sertifikasi

Sertifikasi pendidikan bertujuan untuk menentukan kelayakan seorang untuk melaksanakan tugas sebagai agen pembelajran. Adapun manfaat uji sertifikasi pendidik adalah:

1) Melindungi profesi pendidik dari peraktik-peraktik yang tidak kompeten sehingga merusak profesi pendidik.

2) Melindungi masyarakat dari praktik-peraktik pendidik yang tidak berkualitas.

3) Menjadi bahan penjaminan mutu bagi lembaga pendidik tenaga pendidik (LPTK) dan kontrol mutu bagi pengguna layanan pendidik.

4) Menjaga lembaga penyelenggara pendidik dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku.19

Diperjelas lagi berdasarkan undang-undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang di jelaskan pada bab dua tentang kedudukan, fungsi, dan tujuan. Pada pasal 4 yang berbunyi, kedudukan guru sebagai tenaga professional sebagai mana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agem pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Pada pasal 6 juga dijelaskan yang berbunyi, kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan system pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negra yang demokkratis dan bertanggung jawab.20

Berdasarkan pemaparan yang diatas bahwa, tujuan sertifikasi guru atau pendidik adalah untuk memberikan pembelajaran yang lebih

19 Sitomorang Winarno, “Pendidikan Profesi dan Sertifikasi Pendidik”, (Saka Mitra Kompetensi, 2019), hlm. 34.

20 Undang-Undang, No. 14, Tahun 2005, Bab II tentang Kedudukan, Fungsi, dan Tujuan, pasal 4 dan 6.

dari guru-guru yang belum ikut sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi guru dan mutu pendidikan supaya menerbitkan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negra yang demokratis dan bertanggung jawab. Agar sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

2. Keterampilan Dasar Mengajar Guru

Dokumen terkait