OLEH:
MUHAMAD HALIFI NIM. 160.105.125
JURUSAN PENDIDIKAN IPS EKONOMI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) MATARAM
2020/2021
ANALISIS KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR GURU PKn
BERSERTIFIKASI DI MTs AL-FATHIYAH KWANGPATI DESA LENDANG ARA KEC. KOPANG
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negri (UIN) Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar sarjana pendidikan
OLEH:
MUHAMAD HALIFI NIM. 160.105.125
JURUSAN PENDIDIKAN IPS EKONOMI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) MATARAM
2020/2021
MOTTO:
“Surah Al An'am ayat 135
وقٰي لق او عٱ ٰى ع مك تناكم ى ن إ ل ماع ف وسف و عت م ن وكت ةب قٰعۥهل راَدلٱ ۥهَن إ ح في ل و َٰظل ٱ
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu
tidak akan mendapatkan keberuntungan. (Q.S. Al An’am: 135).1
1 Departemen Agama. RI. AL-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: CV. Mikraj Khazanah), 2006, hlm.115.
PERSEMBAHAN
Dengan mengharap keridhoan Allah SWT, Skripsi ini saya persembahkan kepada:
Ayahanda (ATHARUDIN) dan Ibunda (MUSTIARAH) tercinta yang dengan penuh kasih sayangnya mendidik dan membimbingku serta telah berusaha sekuat tenaga dan penuh ikhlas berdoa untuk keberhasilan anaknya, dan almet tercinta yang menjadi lambang ilmu dan mencapai sebuah impian untuk mengapai cita-cita.
Kakak saya Yusraini dan adik-adik Muammar Gadafi dan Faizal Tohir telah memberikan saya motivasi sehingga dapat menyelesaikan kuliah saya di Universitas Islam Negri (UIN) Mataram.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamien, kalimat itulah yang membuat air mata penulis
menetes, kalimat itu pula yang membuat hati penulis gembira karena syukur pada Allah SWT yang selalu memberikan kekuatan dan selalu menggerakkan hati dan akal, menggelorakan semangat yang sudah lelah terlalu lama. Allah, dialah maha segalanya. Atas rahmat, berkah dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul; “Analisis Keterampilan Dasar Mengajar Guru Bersertifikasi Di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kec. Kopang” tepat dan sesuai dengan yang telah penulis rencanakan. Selawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya yang telah memberikan cahaya islam dan senantiasa memberikan teladan dengan akhlaq yang baik dan benar.
Penulis menyadari bahwa selama menempuh studi di UIN Mataram hingga sampai menyusun skripsi ini, tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang telah membantu baik bantuan secara moril maupu materil. Dengan ketulusan hati penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Supardi, M.Pd selaku pembimbing I dan Mawardi Saleh M.Pd selaku pembimbing II yang telah memberikan arahan dan bimbingannya dan yang selalu meluangkan waktunya untuk bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini bisa selesai.
2. Prof. Dr. H. Mutawali, M.Pd selaku Rektor Universitas Islam Negri (UIN) Mataram.
3. Dr. Hj. Lubna, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negri (UIN) Mataram.
4. H. Ibnu Hizam, M.Pd selaku ketua jurusan IPS Ekonomi dan Rahmat Akbar Kurniawan, M.Sc selaku sekertaris jurusan IPS Ekonomi Universitas Islam Negri (UIN) Mataram.
5. Seluruh Dosen FTK UIN Mataram yang telah mengajarkan berbagai macam ilmu.
6. Seluruh staf dan karyawan-karyawan Universitas Islam Negri (UIN) Mataram.
7. Ibu dan Ayah tercinta yang telah berjuang dan selalu memotivasi demi masa depan yang indah sehingga bisa menyelesaikan studi di Universitas Islam Negri (UIN) Mataram.
8. Ibu Kepala MTs Al-Fathiyah (Farhiyah, M.Pd) dan semua guru-guru yang telah membantu meberikan data dan informasi yang diperlukan dalam rangka menyelesaikan penulisan skripsi ini.
9. Sahabat-sahabatku tercinta kelas D yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu yang selama penyusunan skripsi telah banyak memberikan bantuan baik tenaga maupun pemikiran terimakasih banyak kawan.
10.Teman-temanku yang selalu memberikan semangat dan motivasi kepada saya sehingga selalu kuat untuk menyelesaikan kayra ilmiah ini.
Atas semua bantuan yang diberikan maka penulis hanya mampu berucap
“jaza kumullah khairon jaza”. Semoga apa yang telah mereka berikan dicatat sebagai amal ibadah di sisi Allah SWT dan mendapat balasan yang setimpal dari-nya, Amiin yaa rabbal alamien.
Skripsi ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan baik dalam hal penulisan, pilihan istilah-istilah maupun analisis dan tingkat pemahaman, maka saran dan keritik dari semua pihak yang membaca sangat saya harapkan demi penyempurnaan selanjutnya. Akhirnya hanya kepada Allah SWT penulis kembalikan semua urusan dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, dan khususnya bagi pembaca pada umumnya.
Mataram, 2020
Muhamad Halifi
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
NOTASI DINAS PEMBIMBING... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
HALAMAN PENGESAHAN ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
ABSTRAK ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian... 7
E. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 8
F. Seting Penelitian... 9
G. Telaah Pustaka ... 9
H. Kerangka Teori ... 10
1. Sertifikasi ... 10
a. Pengertian sertifikasi ... 10
b. Dasar hukum sertifikasi ... 12
c. Tujuan dan manfaat sertifikasi ... 14
2. Keterampilan Dasar Mengajar ... 15
a. Pengertian Keterampilan Dasar Mengajar ... 15
b. Bentuk-bentuk kompetensi guru ... 17
c. Keterampilan Dasar Mengajar Guru ... 18
I. METODE PENELITIAN ... 37
1. Pendekatan Penelitian ... 37
2. Kehadiran Peneliti ... 37
3. Lokasi Penelitian ... 38
4. Sumber Data ... 38
5. Prosedur Pengumpulan Data ... 39
6. Analisis Data ... 40
7. Keabsahan Data ... 42
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 47
A. Gambaran umum lokasi penelitian ... 47
B. Keterampilan Dasar Mengajar Guru Bersertifikasi di MTs Al-Fathiyah Kongpati DesaLendang Ara Kecamatan Kopang ... 58
BAB III PEMBAHASAN... 65
A. Keterampilan Dasar Mengajar Guru Bersertifikasi di MTs Al-Fathiyah Kongpati DesaLendang Ara Kecamatan Kopang ... 65
BAB IV PENUTUP ... 70
A. Kesimpulan ... 70
B. Saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 73 LAMPIRAN-LAMPIRA
DAFTAR TABEL
1.1. Data Keadaan Guru ... 40
1.2. Data Guru sertifikasi ... 41
1.3. Data Siswa Kelas I MTs Al-Fathiyah ... 49
1.4. Data Sarana Prasarana ... 44
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Wawancara dengan Pak Khalifi, S.Pd ... 65
Gambar 2. Penyampaian materi... 66
Gambar 3. Cek kehadiran siswa ... 66
Gambar 4. Pembagian kelompok ... 66
ANALISIS KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR GURU PKn
BERSERTIFIKASI DI MTs AL-FATHIYAH KWANGPATI DESA LENDANG ARA KEC. KOPANG
Oleh:
MUHAMAD HALIFI 160105125 ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan keterampilam dasar mengajar guru PKn bersertifikasi di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang. Metode penelitían yang digunakan adalah metode kualítataif jenis deskriptif dengan metode pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisis data penelitian ini menggunakan: 1) mengorganisasíkan data, 2) menguji asumsi atau permasalahan yang ada terhadap data, dan 3) mencari alternatíf penjelasan bagi data. Hasil penelitian menyatakan bahwa keterampilan dasar mengajar guru PKn bersertifíkasi di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang, dalam melaksanakan keterampilan dasar mengajar, guru PKn bersertifíkasi sudah melaksanakan delapan keterampilan dasar mengajar tersebut, namun masih belum terlaksana secara sempurna berdasarkan komponen-komponen dari setiap ketrampilan yang delapan dan masih ada keterampilan yang jarang digunakan ketika sedang mengajar seperti keterampilan bervaríasi dan keterampilan mengajar peorangan dan kelompok kecil.
Kata kunci: Keterampilan Dasar Mengajar, Guru PKn Bersertifikasi.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan adalah tolak ukur dari suatu negara, sebuah negara akan díkatakan maju tergantung pada keadaan pendidíkan. Negara akan maju dan berkembang apabila sektor pendidíkan sebagai kunci pembangunan menjadi hal yang harus diutamakan di dalam suatu negara. Dalam hal ini salah satu komponen yang menjadi kunci untuk meraíh kesuksesan pendidíkan adalah seorang guru.
Seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidík, ada beberapa hal yang harus diperhatíkan seperti penguasaan materi, penguasaan metode dan kelas, sikap serta kepríbadiannya. Hal-hal tersebut harus diperhatikan karena berkaitan dengan bagaimana seorang guru mengajar secara professional. Pendidikan merupakan suatu bidang yang memfokuskan kegíatannya pada proses belajar mengajar (transfer ilmu).2 Jadi tugas seorang guru sangat berkaitan dengan kualitas pendidikan yang merupakan suatu proses yang berintegrasi dengan proses peningkatan kualítas SDM itu sendiri.
Pendidikan adalah kegiatan untuk menjadíkan manusia muda atau membuat orang muda ini hidup sesuai standar yang diterima oleh masyarakat. Pendidikan merupakan kebutuhan yang terpentíng dalam kehidupan setiap orang, sehingga dalam pendidikan memerlukan dasar nilai-nilai ideal yang dapat menjadi sumber
2 Chairul Anwar, Teori-teori Pendidikan, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2017), hlm. 13
kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantar pada apa yang dicíta-citakan.3 Perkembangan manusia dalam seluruh aspek baik itu kepribadían dan kehidupan dapat di pengaruhi oleh pendidikan. Pendidikan memilíki kekuatan atau pengaruh yang dinamis dalam menyiapkan kehidupan manusia untuk masa depannya.
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberíkan oleh guru supaya memperoleh ilmu dan pengetahuan, penguasan, kemahiran, dan tabiat, serta pembentukan sikap dan keyakinan pada peserta didík. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan suatu proses untuk membantu peserta didík agar dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik dan optimal.4 Jadi seorang guru sebelum mengajar harus mampu merencanakan kegiatan pembelajaran. Dalam merencanakan kegiatan pembelajaran juga dipersiapkan secara sistematís, jelas, dan optimal, seperti halnya dalam pembuatan Rancangan Program Pembelajaran atau RPP.
Jika seorang pendidík dalam proses pembelajaran tidak memilíki keahlian dalam mengajar, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Seperti halnya pada penyampaian materi, seorang pendidík harus kreatíf dan mempunyai ide-ide baru dalam penyampaian materi, agar peserta didik tidak merasa bosan ketíka belajar. Peserta didik jika dalam proses pembelajaran hanya duduk dan mendengarkan, maka peserta didík akan merasa bosan, lesu, mengantuk, dan
3 Mohammad Syaefuddin, “Implementasi Pembelajaran Tematik di Kelas 02 SD Negeri Demangan Yogyakarta”, Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah, Vol. 2, No. 2, Desember 2017, hlm. 139-144.
4 Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 19.
tidak akan memperhatikan gurunnya dalam menyampaikan materi, sehingga tujuan tidak tercapai. Disaat peserta didik merasa resah, bosan dan jenuh,tentu suasana belajar akan kurang kondusif, dan akan berdampak negatif kepada proses pembelajaran. Sebaliknya, jika suasana belajar yang kondusif, menarik dan menyenangkan maka pasti akan dengan mudah tercapainya tujuan pembelajaran, dan proses pembelajaran akan lebih menyenangkan. Dalam hal ini guru dapat menerapkan keterampilan dasar mengajar yang dapat membantu berjalannya proses pembelajaran secara maksimal.
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang kompleks yaitu dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran, dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Dalam proses pembelajaran yang kompleks tersebut, keterampilan dasar mengajar sangat dibutuhkan oleh seorang guru, karena pada saat proses penyampaian materi pembelajaran keterampilan mengajar dapat membantu memudahkan guru dalam penyanpaian materi tersebut. Keterampilan mengajar juga merupakan kebutuhan yang harus dimiliki oleh setiap guru. Jadi untuk membuat pembelajaran yang kreatif, dan menyenangkan juga diperlukan keterampilan dasar mengajar. Keterampilan dasar mengajar merupakan salah satu usaha untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi peserta didik.
“Keterampilan guru dalam proses belajar mengajar Menurut Euis Karawati &
Donni Juni Priansa antara lain: keterampilan membuka dan menutup
pelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan member penguatan, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil”.5
Jadi keterampilan dasar mengajar menurut pemaparan yang diatas hanya ada lima keterampilan yang harus dimiliki oleh guru, namun diperjelas lagi dalam buku Lalu Mukhtar Hully bahwa:
“Keterampilan dasar mengajar pendidik, yaitu keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaraan, keterampilan membimbing disukusikelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, dan keterampilan mengajar perseorangan”.6
Jadi dari kedua pemaparan diatas, sudah jelas bahwa delapan keterampilan dasar mengajar harus dimiliki dan diketahui oleh seorang guru, juga harus mampu memahami dan menerapkannya dalam proses kegiatan belajar mengajar. Maka dengan demikian seorang guru yang professional akan mampu membuat kegiatan belajar peserta didik lebihm baik. Namun sebelum menjadi seorang guru maka haruslah terlebih dahulu menempuh jenjang pendidikan keguruan, supaya benar- benar mampu menjadi seorang guru yang professional dan mampu menciptakan kegiatan belajar yang efektif dan menyenangkan yaitu dengan menerapkan keterampilan dasar mengajar.
Untuk menjadi guru yang professional, seorang guru juga harus perlu untuk mengikuti seleksi sertifikasi yang diadakan oleh pemerintah untuk mengetahui
5 Euis Karawati & Donni Juni Priansa. Manajmen Kelas, (Bandung: Alfabeta, 2014) hlm. 32- 34
6 Lalu Mukhtar, dan Hully, Profesi Keguruan , (Yogyakarta: Alam Tara Institute, 2016), hlm.
43
sejauhmana kemampuan seorang guru, sehingga apakah layak dikatakan sebagai seorang guru yang professional.
“Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sertifikasi merupakan penghargaan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai bukti formal bahwa dia telah menjadi tenaga professional.7 Diperkuat lagi oleh Indryawati bahwa, sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru”.8
Jadi, berdasarkan pendapat para ahli diatas guru sertifikasi merupakan suatu kegiatan yang diadakan oleh pemerintah untuk para guru untuk meningkatkan kompetensi guru dengan memberikan penghargaan/sertifikat kepada guru yang telah memenuhi persyaratan sebagai guru profesional seperti, memiliki kualifikasi akademik yang bagus, memiliki kompetensi, sehat jasmanai dan rohani, dan harus juga memiliki kemampuan untu k meningkatkan pendidikan nasional yang lebih baik dari tahun ke tahun.
“Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dikemukakan bahwa sertifikasi adalah peroses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen”.9
Berdasarkan pemaparan tersebut sudah jelas bahwa guru yang sudah sertifikasi merupakan guru yang sudah layak dikatakan sebagai tenaga professional sehingga sudah pantas untuk diberika pengakuan atau sertifikat pendidik sebagai bukti ke professionalannya.
7Khairul Azwar, Dkk, “Pengaruh Sertifikasi dan Kerja Guru Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa di SMP Negeri 2 Banda Aceh”, Jurnal Administrasi Pendidikan, Vol. 3, No 2, Mei 2015, hlm. 139.
8 Fakhrunnisak, dan Hazhira Qudsyi, “Perbedaan Subjective Well Being Antara Guru Bersertifikasi dan Non Sertifikasi”, Jurnal RAP UNP, Vol. 6, No 2, November 2015, hlm. 128.
9Undang-Undang, No. 14, Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen BAB I Pasal 1 (ayat 12).
Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus Tahun 2020 di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang, dilatar belakangi oleh guru PKn yang sudah menempuh serta lulus sertifikasi. guru dalam prakatek dan penyusunan sebagai tenaga pengajar sekaligus pendidik belum terlaksana secara sempurna, karena masih menganggap bahwa sebagai guru itu hanya memberikan catatan kemudian di jelaskan dengan metode ceramah saja dan masih banyak yang saya temukan siswa yang ketika belajar sudah dimulai masih ada yang berbicara sama teman sebangkunya.10
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti mengangkat judul tentang
“Analisis Keterampilan Dasar Mengajar Guru PKn Bersertifikasi di MTs Al- Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Keterampilan Dasar Mengajar Guru PKn Bersertifikasi di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Keterampilan Dasar Mengajar Guru PKn Bersertifikasi di MTs Al- Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang.
10 Observasi, Kwangpati, 20 Agustus 2020
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang dapat diperoleh mengenai Analisis Keterampilan Dasar Mengajar Guru PKn Bersertifikasi di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang yaitu :
a. Manfaat teoritis
1. Penelitian isi sebagai sarana mengembangkan ilmu pengetahuan yang secara teoritis dapat dipelajari untuk menganalisis keterampilan dasar mengajar guru.
2. Penelitian ini bermanfaat sebagai sarana pertimbangan dalam penelitian dimasa yang akan datang untuk peningkatan dan kemajuan pendidikan.
b. Manfaat praktis
1. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif dan efesien.
2. Bagi Madrsah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang positif untuk memperbaiki SDM dan pelaksanaan pembelajaran di madrasah.
3. Bagi penyelenggara sertifikasi, supaya menjadi bahan evaluasi dan bahan pengkajian program sertifikasi yang lebih baik dimasa yang akan datang.
E. Ruang Lingkup dan Setting penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini yang dilakukan oleh peneliti disesuikan dengan latar belakang penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya. Maka disini penulis akan memberikan beberapa penegasan istilah-istilah yang berkaitan dengan judul skripsi ini, yaitu: Ruang lingkup terfokus pada Keterampilan Dasar Mengajar Guru PKn Bersertifikasi di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang.
2. Setting penelitian
Setting penelitian merupakan tempat peneliti akan melakukan penelitian.
Dalam hal ini, peneliti memilih tempat penelitian sesuai dengan judul penelitian ini, yaitu Analisis Keterampilan Dasar Mengajar Guru PKn Bersertifikasi di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang. Lokasi ini dipilih oleh peneliti karena peneliti melihat bahwa adanya sangkut paut judul yang di angkat oleh peneliti di sekolah itu dan juga penelitian tentang keterampilan dasar mengajar guru PKn bersertifikasi ini baru pertama kali dilakukan.
Maka dari itu peneliti tertarik melakukan penelitian di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara tentang: Analisis Keterampilan Dasar Mengajar Guru PKn Bersertifikasi di MTs Al-Fathiyah Kwangpati Desa Lendang Ara Kecamatan Kopang.
F. Telaah Pustaka
Telaah pustaka merupakan karya ilmiah yang memiliki kemiripan atau keterkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti. Dengan adanya keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa suatu penelitian biasa ditindak lanjuti dari penelitian sebelumnya, atau adanya hubungan dan relevansi tersebut bukan berarti memiliki kesamaan dan kemiripan yang persis sama dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya. Setiap penelitian, baik penelitian terdahulu maupun penelitian yang akan dilakukan peneliti tentunya memiliki fokus masalah yang berbeda-beda dan beragam.
1. Penelitian Nurul Huda, yang berjudul Analisis Kemampuan Guru Melaksanakan Delapan Keterampilan Dasar Mengajar Dalam Pembelajaran Matematika Di SMA Negri Se-Kecamatan Narmada Tahun Pelajaran 2018/2019, Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan guru melaksanakan delapan keterampilan dasar mengajar dalam pembelajaran Matematika Di SMA Negri Se-Kecamatan Narmada Tahun Pelajaran 2018/2019 dan mengetahui hubungan antara kemampuan guru melaksanakan delapan keterampilan dasar mengajar dalam pembelajaran Matematika Di SMA Negri Se-Kecamatan Narmada Tahun Pelajaran 2018/2019 , penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan metode penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru matematika di SMA Negri Se-Kecamatan Narmada yang dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara, hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa kemampuan guru melaksanakan delapan keterampilan dasar mengajar dalam kategori baik dengan rata-rata sekor 51.375. dan kemampuan guru melaksanakan keterampilan dasar mengajar yang memiliki hubungan sangat kuat dengan nilai koefensi 0.8493.11
2. Penelitian Regina, yang berjudul Analisis keterampilan dasar mengajar guru pada kelompok kecil dan perorangan mata pelajaran IPS di SMP Srijaya Negara Palrmbang, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan dasar mengajar guru pada kelompok kecil dan perorangan mata pelajaran IPS serta kesulitan yang ada. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Tehnik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah Indikator keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi dengan siswa berada pada kategori sangat baik, indikator berorganisasi berada pada kategori baik, indikator membimbing dan memudahkan belajar berada pada kategori baik, indikator merencanakan dan melaksanakan kegiatan mengajar berada pada kategori sangat baik.
Ditemukan ada sepuluh kesulitan keterampilan mengajar kelompok kecil yaitu guru menunjukkan sikap terbuka dan luwes ke siswa, guru memberi pujian, guru menyelipkan humor, guru mengadakan supervisi proses lanjut, guru membantu siswa menilai kemajuannya sendiri, guru memahami kepribadian siswa, guru mendorong untuk menghargai sesama, guru memberikan
11 Nurul Huda, “Analisis Kemampuan Guru Melaksanakan Delapan Keterampilan Dasar Mengajar Dalam Pembelajaran Matematika Di SMA Negri Se-Kecamatan Narmada Tahun Pelajaran 2018/2019”, (skripsi, FKIP Universitas Mataram, Mataram, 2018 ), hlm. xvii.
kulminasi, guru mengembangkan supervisi proses awal dan pemaduan. Ada tiga kesulitan mengajar perorangan yaitu guru memuji siswa yang berhasil dan menyemangati yang belum berhasil, guru membantu siswa menilai kemajuannya sendiri, guru menunjukkan kesungguhan melalui pandangan dan ekspresi wajah.12
3. Dwi Fitrah Nurngaeni, dengan judul Keterampilan guru dalam pengelolaan kelas pada pembelajaran TEMATIK kelas IV di MI Muhammadiyah 1 Slinga Kec. Kaligondang Kab. Purbalingga, tujuan dari penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui lebih lanjut tentang keterampilan guru dalam mengelola kelas pada pembelajaran TEMATIK. Penelitian ini adalah study kasus Kualitatif deskriptif, yang mengumpulkan data dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan menganalisis data dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitiannya yaitu (1) Mengedepankan tiga aspek. Pertama, penguatan pendidikan karakter (PPK) pada kegiatan belajar mengajar seperti dalam diskusi jadi siswa disuruh untuk maju membacakan hasil diskusi. Diskusi tersebut dapat membantu membentuk karakter siswa agar lebih percaya diri, disiplin, dan aktif. Kedua, literasi. Pada setiap awal pertemuan siswa disuruh membaca materi atau cerita yang berkaitan dengan tema. Ketiga, keterampilan abad 21 atau disebut juga dengan 4C (Creative, Critical thinking,
12 Regina, “Anallisis Keterampilan Dasar Mengajar Guru Pada Kelompok Kecil Dan Perorangan Mata Pelajaran IPS di SMP Srijaya Negara Palembang”, (Skripsi, FKIP Universitas Sriwijaya Inderalaya, 2016). hlm. xiv
Communicative, dan Collaborative) yakni guru terkadang mengajak siswanya untuk belajar diluar kelas agar siswa tidak mudah bosan. (2) Menggunakan metode diskusi. Metode diskusi sering kali digunakan karena untuk melatih kepercayaan diri siswa, melatih siswa untuk berani mengungkapkan pendapatnya, melatih siswa untuk berani berbicara didepan kelas, melatih siswa untuk bekerja sama dan lain-lain.13
4. Luluk Il Makhsunah, yang penelitiannya berjudul Analisis Keterampilam Guru dalam Mengadakan Variasi pada Pembelajaran Variasi pada Pembelajaran Kelas V di SD Gugus Budi Utomo Kecamatan Mijen Kota Semarang, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan mengadakan variasi pembelajaran kelas V yang dilakukan oleh guru SD gugus Budi Utomo Kecamatan Mijen Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan menggunakan tehnik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, angket dan dokuementasi. Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitiannya adalah secara keseluruhan 5 SD Gugus Budi Utomo dalam menguasai keterampilan mengadakan variasi mempunyai persentase 76,75% dengan kriteria baik. Perolehan skor dari tertinggi ke terendah yaitu SDN Jatibarang 01 sebesar 85% dengan kriteria baik, SDN Kedungpane 01 sebesar 77,50% dengan kriteria baik, SD Islam Imama
13 Dwi Fitrah Nurngaeni, “Keterampilan guru dalam pengelolaan kelas pada pembelajaran TEMATIK kelas IV di MI Muhammadiyah 1 Slinga Kec. Kaligondang Kab. Purbalingga”, (Skripsi, FTIK IAIN Purwokerto, 2018). hlm. v
sebesar 76,25% dengan kriteria baik, SDN Kedungpane 02 sebesar 74%
dengan kriteria baik, dan SDN Jatibarang 02 sebesar 71% dengan kriteria baik.14
Dari beberapa paparan telaah pustaka diatas, terdapat kesamaan varibel antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti yaitu sama-sama meneliti tentang keterampilan dasar mengajar guru walaupun dari penelitian terdahulu ada yang hanya saja meneliti satu keterampilan saja.
Dari penelitian terdahulu metode yang digunakan oleh peneliti terdahulu yang dilakukan oleh Nurul Huda adalah menggunakan metode kuantitatif, sedangkan penelitian Regina menggunakan metode deskriptif kualitatif, adapun penelitiannya Dwi Fitrah Nurngaeni menggunakan deskriptif kualitatif juga, dan penelitian yang dilakukan oleh Luluk Il Makhsunah menggunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu terletak subyek, obyek, hasil dan tempat penelitian.
Jadi persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan sekarang adalah sama-sama menggunakan metode deskriptif kualitatif dan mengumpulkan data dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumntasi. Sedangkan perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah subyek, obyek, hasil dan tempat penelitian.
14 Luluk Il Makhsunah, “Analisis Keterampilam Guru dalam Mengadakan Variasi pada Pembelajaran Variasi pada Pembelajaran Kelas V di SD Gugus Budi Utomo Kecamatan Mijen Kota Semarang” (Skrpsi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negri Semarang, Semarang, 2016), hlm. viii
G. Kerangka teori 1. Sertifikasi
a. Pengertian sertifikasi
Sertifikasi merupakan suatu bentuk pengakuan yang diberikan kepada guru tentang profesinya. Denim dalam Suprihatiningrum (2013:
215) menjelaskan bahwa sertifikasi (sertification) mengandung makna, jika hasil penelitian atas persyaratan pendaftaran yang diajukan calon penyandang profesi dipandang memenuhi persyaratan, kepadanya diberikan pengakuan oleh negara atas kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Bentuk pengakuan tersebut adalah pemberian sertifikat kepada penyandang profesi tertentu, yang di dalamnya memuat penjelasan tentang kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh pemegangnya.15 Di perjelas lagi tentang sertifikasi menurut Undang- undang yaitu, “Proses pemberian sertifikat oleh lembaga yang ditetapkan
pemerintah kepada tenaga pendidik yang memenuhi kualifikasi persyaratan”.16
Dari pemaparan pendapat diatas, sertifikasi merupakan suatu program yang diadakan oleh lembaga untuk dijadikan sebagai wadah guru mengembangkan kemampuannya sebagai guru professional yang didalam
15 Asnandar Abubakar. “Dampak Sertifikasi Guru Terhadap Kualitas Pendidikan Pada Madrasah Aliyah di Kota Kendari”, Jurnal Al-Qalam, Vol. 21, Nomor 1, Juni 2015, hlm. 119.
16 Ikhsan Jamad Akbar, “Pengaruh Sertifikasi dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru MTs N 1 Kota Bengkulu”, Jurnal An-Nizom, Vol. I, No 2, Agustus 2016, hlm. 109.
program tersebut tidak sembarangan orang bias ikut, karena ada persyaratan-persyaratan tertentu yang harus di penuhi oleh peserta sertifikasi. Didalam program sertifikasi itu ada tes yang diberikan baru diberikan sertifikasi atau pengakuan sebagai guru professional.
Didalam program sertifikasi ini bukan hanya mengikuti tes kemudia lansung di berikan pengakuan oleh lembaga, namun ada juga beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta sertifikasi baru dinyatakan lulus. Adapun kompetensi tersebut yaitu, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi pribadi serta kompetensi sosial.
1) Kompetensi Pendagogik
Yang dimaksud dengan kompetensi pendagogik adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik.
2) Kompetensi Profesional
Kompetensi ini menuntut guru untuk dapat beradaptasi dengan ilmu terkini. karena ilmu selalu berkembang dan memiliki sifat dinamis.
3) Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial dapat dilihat dari seorang guru yang dapat bersosial dengan masyarakat sekitar mulai dari peserta didik dengan sesama guru dan masyarakat.
4) Kompetensi Kepribadian
Kompetensi ini terkait dengan guru sebagai teladan yang dapat menjadi contoh bagi peserta didik yang mengharuskan memiliki keperibadian yang dewasa, stabil, arif, bijaksana dan dapat mengembangkan diri dan bisa mengevaluasi kinerja sendiri.17
17 Dharmawan Haryo Dewanto, Dkk, “Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja Guru di SMA N 1 Gianyar”, Jurnal Vol. 3, No 2, Mei 2015, hlm. 3.
b. Dasar hukum sertifikasi
Dasar hukum sertifikasi guru dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen membahas secara detail hal-hal yang berkaitan dengan guru dan dosen, adapun pasalnya sebagai berikut:18
1) Pasal 8, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2) Pasal 9, kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjanan atau program diploma empat.
3) Pasal 10 ayat (1), kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
4) Pasal 11 ayat (1), sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan.
5) Pasal 12, setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu.
6) Pasal 14 ayat (1), dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak:
a) Memperoleh penghasilan diatas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
b) Mendapat promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
c) Memperoleh perlindungan dalm melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
d) Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya;
e) Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalannya;
f) Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sangsi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang undangan;
18 UU No. 14, Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen, pasal 8-14.
g) Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas;
h) Memiliki kebebasan untk berserikat dalam organisasi profesi;
i) Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan.
j) Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi;
dan/atau
k) Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.
Berdasarkan penjelasan diatas bahwa, sertifkasi pendidik tidak hanya melekat kepada penerima sertifikat yaitu guru dan dosen, namun lembaga pendidikan yang dijadikannya tempat untuk mengaplikasikan keprofesionalitasannya juga. Guru dan dosen secara mendasar harus memiliki nilai kompetensi yang mampu ditunjang dengan hak fasilitas yang didapatkan, tidak serta merta serifikasi melekat dalam jabatannya.
Disamping jabatan sertifikasi, guru dan dosen diharuskan secara terus- menerus mengembangkan kualitas kompetensi kepada lembaga yang menaunginya. Sehingga pendidikan di Indonesia itu akan menjadi semakin membaik.
c. Tujuan dan manfaat sertifikasi
Sertifikasi pendidikan bertujuan untuk menentukan kelayakan seorang untuk melaksanakan tugas sebagai agen pembelajran. Adapun manfaat uji sertifikasi pendidik adalah:
1) Melindungi profesi pendidik dari peraktik-peraktik yang tidak kompeten sehingga merusak profesi pendidik.
2) Melindungi masyarakat dari praktik-peraktik pendidik yang tidak berkualitas.
3) Menjadi bahan penjaminan mutu bagi lembaga pendidik tenaga pendidik (LPTK) dan kontrol mutu bagi pengguna layanan pendidik.
4) Menjaga lembaga penyelenggara pendidik dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku.19
Diperjelas lagi berdasarkan undang-undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang di jelaskan pada bab dua tentang kedudukan, fungsi, dan tujuan. Pada pasal 4 yang berbunyi, kedudukan guru sebagai tenaga professional sebagai mana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agem pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Pada pasal 6 juga dijelaskan yang berbunyi, kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan system pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negra yang demokkratis dan bertanggung jawab.20
Berdasarkan pemaparan yang diatas bahwa, tujuan sertifikasi guru atau pendidik adalah untuk memberikan pembelajaran yang lebih
19 Sitomorang Winarno, “Pendidikan Profesi dan Sertifikasi Pendidik”, (Saka Mitra Kompetensi, 2019), hlm. 34.
20 Undang-Undang, No. 14, Tahun 2005, Bab II tentang Kedudukan, Fungsi, dan Tujuan, pasal 4 dan 6.
dari guru-guru yang belum ikut sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi guru dan mutu pendidikan supaya menerbitkan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negra yang demokratis dan bertanggung jawab. Agar sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2. Keterampilan Dasar Mengajar Guru a. Pengertian Keterampilan Dasar Mengajar
Keterampilan merupakan suatu kemampuan untuk mengubah atau membuat sesuatu menjadi lebih bermakna sehingga menghasilkan sebuah nilai dalam mengerjakan. Suatu keterampilan haruslah kita melatih dan mengembangkan dan diasah sehingga kemampuan seseorang tersebut akan bertambah menjadi ahli atau profesional dalam salah satu bidang tersebut. Mengajar merupakan upaya yang dilakukan untuk menyampaikan dan memahamkan ilmu. Sedangkan mengajar diartikan sebagai kegiatan penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa.21 Proses penyampaian tersebut sering juga dianggap sebagai proses mentransfer pengetahuan. Mengajar juga dapat diartikan sebagai suatu proses menanamkan pengetahuan, nilai, dan keterampilan kepada siswa melalui kegiatan belajar untuk membantu siswa dalam menjawab
21 Novan Ardi Wijayani, Menejemen Kelas (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 27.
tantangan hidupnya yang efektif dan efesien. Mengajar juga memilki prinsip-prinsip umum yang dijadikan sebagai pegangan oleh seorang pendidik dalam melaksanakan kegiatan mengajar.
Keterampilan dasar mengajar merupakan kemampuan seorang guru dalam memberikan informasi atau pengetahuan secara professional kepada peserta didik, dengan secara bermakna dan efektif dan menyeluruh.22Jadi keterampilan atau kemampuan mengajar harus dimiliki oleh seorang pendidik, dan dengan memiliki keterampilan mengajar, pendidik dapat mengelola proses pembelajaran dengan baik yang terealisasikan dalam hasil belajar peserta didik.
b. Bentuk-bentuk kompetensi guru
Ada empat bentuk-bentuk kompetensi guru mengajar yang harus dikuasai oleh seorang guru menurut PP (Peraturan Pemerintah) nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, yaitu:
1) Kompetensi pedagogik, yaitu merupakan kemampuan dalam mengelola peserta didik yang meliputi: pemahaman wawasan/
landasan pendidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum/silabus, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2) Kompetensi keperibadian, merupakan kemampuan keperibadian yang mantap, setabil, dewasa, arif, dan bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat,
22Yuni Rhamayanti, “Pentingnya Keterampilan Dasar Mengajar Bagi Mahasiswa Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Prodi Pendidikan Matematika”, Jurnal Penelitian dan Pembelajaran MIPA, Vol. 3. No. 1, 2018, hlm. 65-72.
mengevaluasi kinerja sendiri dan pengembangan diri secara berkelanjutan.
3) Kompetensi sosial, yaitu kemampuan pendidik sebagai bagian dari mayarakat untuk:
1. Berkomunikasi lisan dan tulisan,
2. Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional,
3. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, peserta didik.
4. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
4) Kompetensi profesional, merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara lusa dan mendalam, seperti:
a) Konsep, struktur dan metode keilmuan/teknologi yang koheren dengan materi ajar.
b) Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah c) Hubungan konsep dasar dengan materi yang terkait
d) Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
e) Kompetensi secara profesional dalam konteks global dengan tetap memperhatikan budaya nasional.23
3. Komponen Keterampilan Dasar Mengajar Pendidik dalam proses pembelajaran
Sebagai guru yang professional, guru harus bisa melakukan tugas dan kewajibannya sebagai pengajar dengan baik. Didalam mengajar seorang guru sangat penting untuk memiliki keterampilan-keterampilan dalam mengajar sehingga dalam proses belajar mengajar akan bisa berjalan dengan efektif.
Keterampilan dasar mengajar merupakan kompetensi pedagogik pendidik yang merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh pendidik seperti
23http://hendriansdiamond.blogspot.com/2012/02/kompetensi-guru-mengajar.html?m=1, jam 16.18, tanggal 27 januari 2020.
kemampuan atau kecakapan pendidik dalam membimbing aktivitas belajar.24 Sehingga dalam menerapkan keterampilan dasar mengajar guru ini, akan lebih membantu seorang guru dalam proses belajar dan dalam penyampaian materi.
Adapun keterampilan dasar mengajar meliputi:
a. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran 1) Membuka Pelajaran
a) Pengertian membuka pelajaran
Keterampilan membuka pelajaran adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan pra-kondisi bagi peserta didik agar mental maupun perhatiannya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya, sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Hasibuan, dkk, berpendapat bahwa membuka pelajaran merupakan usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi agar minat maupun perhatian peserta didik terfokus pada apa yang akan dipelajarinya. Dengan kata lain membuka pelajaran artinya memberikan arahan kepada peserta didik pada materi
24 Eka Safitri dan Uep Tatang Sontani, “Keterampilan Mengajar Guru dan Motivasi Belajar Siswa Sebagai Determinan Terhadap Hasil Belajar”. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Perkantoran, Vol. 1. No. 1, Agustus 2016, hlm. 152-162.
pembelajaran.25 Usaha yang dilakukan ini diberikan untuk mempersiapkan peserta didik sebelum memulai pembelajaran.
Sedangkan keterampilan membuka dalam buku Moh. Uzer Usman mengatakan bahwa yang dimaksud dengan set induction (membuka pelajaran) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh pedidik dalam kegiatan belajar-mengajar untuk menciptakan prakondisi bagi peserta didik agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar.26Dari kedua pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa dalam keterampilan membuka pelajaran pendidik harus memberikan pengantar atau pengarahan terhadap materi yang akan disampaikan kepada peserta didik agar siap mental dan tertarik untuk mengikutinya.
b) Komponen-komponen membuka pelajaran (1) Menarik perhatian siswa.
Komponen menarik perhatian peserta didik sangat diperlukan dalam membuka pelajaran, dan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan variasi dalam gaya
25 Barnawi dan M. Arifin, Micro Teaching, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), hlm. 128
26 Moh. User Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017), hlm.
91.
mengajar, variasi menggunakan media, serta interaksi antara peserta didik dengan pendidik.
(2) Menimbulkan motivasi.
Motivasi perlu diberikan oleh pendidik untuk peserta didik, motivasi ini akan timbul apabila pendidik dapat menciptakan suasana belajar yang hangat dan antusias serta tidak lupa untuk memperhatikan minat peserta didik.
(3) Memberikan acuan.
Pemberian acuan dapat dilakukan dengan berbagai usaha, seperti mengajukan pertanyaan sebelum memulai pembelajaran, menyampaikan tujuan dan batasbatas tugas yang akan dilakukan. Pemberian acuan ini bertujuan untuk menyampaikan gambaran mengenai materi yang akan disampaikan.
(4) Membuat kaitan.27
Membuat kaitan atau hubungan antara materi yang akan dipelajari dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan mengenai materi yang sebelumnya, karena dengan mengaitkan materi yang sebelumnya atau lama dengan materi yang akan disampaikan atau baru maka akan lebih bermakna.
27 Fitri Siti Sundari dan Yuli Mullyawati, “Analisis Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa PGSD”, Jurnal Ilmiah Pendidikan, Vol. 1, No. 1, 2017, hlm. 26-36.
2) Menutup pembelajaran
Menutup pelajaran merupakan suatu cara yang dilakukan oleh pendidik dalam mengakhiri penjelasan atau pembahasan pada suatu topik bahasan, dalam hal ini kegiatan menutup pelajaran berupa pertanyaan-pertanyaan, ringkasan serta kesimpulan sebagai evaluasi dalam pembelajaran. Dapat dikatakan juga sebagai kegiatan yang bertujuan untuk menyimpulkan kegiaan inti.28 Maksudnya adalah memberikan gambaran secara menyeluruh tentang apa yang telah dipelajarai oleh peserta didik, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik, serta tingkat keberhasilan pendidik dalam proses pembelajaran.
Sedangkan menurut buku Moh. Uzer Usman menutup pelajaran (closere) ialah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar-mengajar.29 Jadi kegiatan menutup pelajaran yaitu merangkum atau meringkas inti pokok dari pembelajaran, mengevaluasi peserta didik, dan memberi tindak lanjut seperti memberikan tugas pekerjaan rumah atau PR.
a) Komponen-komponen menutup pelajaran
(1) Meninjau kembali. Pelajaran yang telah disampaikan oleh pendidik dapat ditinjau ulang dengan memberikan tugas merangkum atau meringkas, agar pendidik dapat mengetahui
28 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm.
200
29 Moh. Uzer Usman, Ibid, hlm. 92.
sampai mana pemahaman peserta didik selama proses pembelajaran.
(2) Mengevaluasi. Kegiatan evaluasi yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam setiap akhir penggal pembelajaran yaitu dengan memberikan tugas kepada peserta didik seperti melakukan tanya jawab, mengerjakan soal, dan mendemonstrasikan pelajaran.
(3) Tindak lanjut.30 Tindak lanjut dalam pembelajaran dapat diberikan oleh pendidik seperti tugas dalam bentuk pekerjaan rumah atau PR, kunjungan lapangan serta percobaan.
b. Keterampilan Menjelaskan 1) Pengertian
Menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang sesuatu benda, data dan fakta sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku.31 Keterampilan menjelaskan dalam pembelajaran ialah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, sebagai missal antara sebab akibat, definisi dengan contoh atau dengan
30 Uluul Khakim, I Nyoman Sudana Degeng, Utami Widiati, “Pelaksanaan Membuka dan Menutup Pelajaran Oleh Guru Kelas 1 Sekolah Dasar”, Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 9, September 2016, hlm. 1730-1734.
31 Mulysa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013, hlm. 80.
sesuatu yang belum diketahui.32 Dapat disimpulkan bahwa keterampilan menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan segala sesuatu yang berhubungan antara satu dengan yang lain dalam proses pembelajaran.
Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki oleh pendidik, mengingat besar pembelajaran menuntut pendidik memberikan penjelasan. Oleh sebab itu keterampilan menjelaskan perlu ditingkatkan agar dapat mencapai hasil yang optimal.
2) Komponen-komponen keterampilan menjelaskan
a) Merencanakan pesan yang disampaikan. Dalam merencenakan pesan yang akan disampaikan harus terlebih dahulu diperhatikan isi pesan serta orang yang akan menerima pesan, dalam hal ini adalah peserta didik. Peserta didik juga harus diperhatikan agar kesiapan dalam menerima pesan benar-benar ada.
b) Penyajian suatu penjelasan.33 Penyajian suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan kejelasan, penggunaan contoh, pemberian tekanan, dan penggunaan balikan.
32 Moh. Uzer Usman, Ibid, hlm. 89.
33 Ibid, hlm. 90.
c. Keterampilan Mengadakan Variasi 1) Pengertian
Mengadakan variasi dalam proses pembelajaran diartikan sebagai perubahan pengajaran dari yang satu ke yang lain yang bertujuan untuk menghilangkan rasa kebosanan dan kejenuhan peserta didik dalam menerima materi yang diberikan oleh pendidik, sehingga peserta didik dapat kembali aktif serta berpartisipasi dalam belajar.34 Terdapat juga pengertian variasi dari buku Moh. Uzer Usman, variasi stimulus adalah suatu kegiatan pendidik dalam konteks proses interaksi belajarmengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan peserta didik sehingga, dalam situasi belajar-mengajar, peserta didik senantiasa menunjukkan ketekunan, antusias, serta penuh partisipasi.35 Dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengadakan variasi yaitu suatu kegiatan menarik dan menyenangkan yang dilakukan oleh pendidik dalam kegiatan pembelajaran untuk mengatasi kejenuhan dan kebosanan siswa karena pembelajaran yang monoton, dengan mengadakn variasi dalam kegiatanpembelajaran diharapkan pembelajaran lebih bermakna dan optimal.
34 Nurlaili, “Analisis Keterampilan Dasar Mengajar Guru Dalam Perspektif Guru Pamong Pada Mahasiwa Prodi PGMI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Fatah Palembang”.
Jurnal Ilmiah PGMI, Vol. 4. No. 1, Juni 2018, hlm. 28-40.
35 Moh. Uzer Usman, Ibid, hlm. 84.
2) Komponen-komponen keterampilan mengadakan variasi
a) Variasi gaya mengajar. Variasi dalam gaya mengajar guru yaitu mencakup suara yang jelas, jernih dan irama tepat, gerak atau mimik dapat memeperjelas penyampaian materi, kesenyapan untuk menyegarkan kembali perhatian peserta didik, perubahan posisi pendidik yang dapat menjangkau seluruh bagian kelas, pemusatan perhatian, serta kontak pandang.
b) Variasi penggunaan media dan alat-alat pembelajaran. Perbedaan alat indra yang digunakan peserta didik dalam memahami pelajaran adalah tugas seorang pendidik untuk memberikan pemahaman secara adil. Hal ini dapat dilakukan oleh pendidik dengan mengadakn variasi dalam menggunakan media atau alat pembelajaran.
c) Variasi dalam pola interaksi.36 Variasi dalam pola interaksi ini dilakuakn agar tidak menimbulkan kebosanan, kejenuhan dan menghidupkan suasana kelas menjadi kelas yang menyenangkan.
d. Keterampilan Memberikan Penguata 1) Pengertian
Keterampilan memberi penguatan merupakan keterampilan yang memberi respon positif dengan tujuan mempertahankan dan
36 Mika Ambarawati, “Analisis Keterampilan Mengajar Calon Guru Pendidikan Matematika Pada Mata Kuliah Micro Teaching”, Jurnal Pedagogia, Vol. 5. No. 1, Februari 2016, hlm. 81-90.
meningkatkan prilaku tertentu. Penguatan juga dapat dikatakan sebagai respons terhadap suatu tingkah laku yang sengaja diberikan agar tingkah laku tersebut dapat terulang kembali.37 Keterampilan memberi penguatan juga merupakan segala bentuk respon yang bersifat verbal ataupun nonverbal sebagai umpan balik yang diberikan terhadap tingkah laku peserta didik. yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feadback) bagi si penerima (peserta didik) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi.
Penguatan juga sebagai suatu respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.38 Keterampilan memberi penguatan adalah respon positif seorang pendidik baik yang bersifat verbal (sentuhan) maupun nonverbal (ucapan) terhadap suatu tingkah laku peserta didik yang dapat menimbulkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
2) Komponen-komponen keterampilan memberi penguatan
a) Penguatan verbal. Pengautan verbal ini berupa kata atau kalimat yang disampaikan secara lisan oleh pendidik.
37 Ibid. hlm. 141.
38 Moh. Uzer Usman, Ibid, hlm. 80.
b) Penguatan Nonverbal.39 Penguatan nonverbal dapat diartikan sebagai penguatan tanpa kata-kata, yang meliputi penguatangesture, penguatan pendekatan, penguatan dengan menyentuh, penguatan dengan memberikan kegiatan yang menyenangkan, penguatan berupa simbol atau benda dan penguatan dengan memberikan jawaban kepada peserta didik yang hanya sebagian saja yang benar dan pendidik tidak langsung menyalahkan peserta didik.
e. Keterampilan Bertanya 1) Pengertian
Guru perlu memiliki keterampilan dasar dalam bertanya kepada peserta didik dan mampu memotivsi peserta didik untuk bertanya kepada guru. Sehingga aliran komunikasi, pengetahuan dan proses transfer keilmuan akan semakin cepat dan tepat. Setiap pengajaran, evaluasi, pengukuran, dan penilaian dilakukan dengan pertanyaan.
Pertanyaan yang baik akan menuntun kita pada jawaban yang sesungguhnya dan pertanyaan yang buruk akan menjauhkan kita dari jawaban yang memuaskan.40 Keterampilan bertanya merupakan suatu ucapan yang dilontarkan pendidik kepada peserta didik sebagai stimulus agar peserta didik merespon dan menunjukkan respon umpan
39 Basori, Keterampilan Dasar Mengajar Pedoman Bagi Calon Guru , (Surakarta: UNS, 2018), hlm. 52.
40 Ibid. hlm. 145.
balik atau balikan dari peserta didik.41 Keterampilan bertanya bisa dibilang sebagai keterampilan yang dapat membantu peserta didik dalam proses pembelajaran, yaitu memperoleh ilmu pengetahuan atau informasi serta meningkatkan kemampuan berfikir.
Keterampilan bertanya terbagi menjadi dua yaitu keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan. Keterampilan bertanya dasar merupakan kemampuan pendidik dalam memberikan pertanyaan untuk mengetahui daya ingat peserta didik. Sedangkan keterampilan bertanya lanjutan merupakan kemampuan pendidik dalam meberikan pertanyaanuntuk mengetahui kemampuan berfikir peserta didik yang lebih kompleks atau luas.
2) Komponen-komponen keterampilan bertanya
Komponen-komponen keterampilan bertanya dasar yaitu:
a) Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat. Pertanyaan yang diberikan harus jelas dan singkat, serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik dan sesuai dengan taraf perkembangannya.
b) Pemberian acuan. Pendidik sebelum memberikan pertanyaan kepada peserta didik perlu memberikan acuan yang berupa informasi yang berhubungan dan sesuai dengan pertanyaan yang akan diberikan.
41 Zainal Asril, Micro teaching, (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hlm.81.
c) Pemusatan perhatian. Pendidik harus menarik perhatian peserta didik sebelum mengajukan pertanyaan, agar peserta didik tetap fokus dalam pembelajaran dan dapat menjawab pertanyaan.
d) Penyebaran pertanyaan. Pendidik hendaknya berusaha agar semua peserta didik mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan secara merata, dalam penyebaran ini pertanyaan yang diberikan berbeda- beda.
e) Pemindahan giliran. Pemindahan giliran untuk menjawab pertanyaan dapat diberikan kepada peserta didik yang berbeda tetapi dengan pertanyaan yang sama.
f) Pemberian waktu berpikir. Sebelum menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan, pendidik hendaknya diam sejenak untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir dalam memberikan jawaban.
g) Pemberian tuntunan. Jika peserta didik dalam menjawab pertanyaan masih salah atau tidak dapat menjawab, pendidik hendaknya memberikan tuntunan agar peserta didik dapat menjawab dengan benar.
Komponen-komponen keterampilan bertanya lanjutan, yaitu:
a) Mengubah tuntunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan.
b) Pengaturan urutan pertanyaan. Pertanyaan yang diajukan oleh pendidik harus mempunyai urutan yang logis, yang sifatnya dari
rendah ke yang lebih tinggi dan kompleks. Purutan pertanyaan yang diberikan yaitu dari tingkat mengingat, pemahaman, analisis, sintesis dan evaluasi.
c) Penggunaan pertanyaan pelacak dengan menggunakan teknik.
Untuk mengetahui pemahaman peserta didik dengan jawaban yang sudah diberikan, pendidik perlu melakukan keterampilan melacak seperti meminta peserta didik untuk memberikan penjelasan tentang jawabannya, memberikan alasan, dan memberikan contoh yang relavan.
d) Peningkatan terjadinya interaksi.42 Peningkatan terjadinya interaksi ini dilakukan ketika peserta didik mengajukan pertanyaan, pendidik tidak segera menjawab tetapi melontarkannya kembali kepada peserta didik lainnya.
f. Keterampilan Mengelola Kelas 1) Pengertian
Mengelola kelas merupakan keterampilan pendidik untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya jika terjadi gangguan dalam proses belajar
42 Neneng Aminah, Irmawati L. Kusuma Dewi, Dina Pratiwi D. Santi, “Keterampilan Bertanya dan Sefl Confidence Mahasiswa Pendidikan Matematika Pada Mata Kuliah Pembelajaran Mikro”. Jurnal Nasional Pendidikan Matematika, Vol. 1. No. 1, Maret 2017, hlm. 109-117.
mengajar.43 Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika pendidik mampu mengatur peserta didik dan sarana pengajaran serta mengendalikanya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Secara lebih rinci, Edi Soegito & Yuliani Nurani mengatakan bahwa keterampilan mengelola kelas merupakanseperangkat kegiatan untuk mengembangkan tngkah laku peserta didik yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif, dan megembangkan serta mempertahankan oganisasi kelas yang efektif.44 Jadi keterampilan mengelola kelas merupakan suatu tindakan dari seorang pendidik dalam mengatur suasana kelas, agar kelas tersebut dapat memberikan suasana belajar yang nyaman bagi peserta didik, serta tidak merasa bosan ketika belajar didalam kelas.
2) Komponen-komponen keterampilan mengelola kelas
Secara umum komponen keterampilan mengelola kelas terbagi menjadi dua yaitu komponen yang bersifat preventif dan kuratif.
a) Komponen yang bersifat preventif, yaitu komponen yang berhubungan dengan tindakan penciptaan dan pemeliharaan
43 Istihana, “Pengelolaan Kelas Di Madrasah Ibtidaiyah”, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar. Vol. 2. No. 2, Agustus 2015, hlm. 267-284.
44 Barnawi & M. Arifin, Ibid. hlm. 153
kondisi optimal. Komponen yang bersifat preventif terdiri dari menunjukkan sikap tanggap, memberi perhatian secara visual dan verbal, memusatkan perhatian kelompok, memberi petunjuk yang jelas, menegur dengan bijaksana, dan memberi penguatan.
b) Komponen yang bersifat kuratif, yaitu komponen yang berhubungan dengan tindakan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Komponen ini terdiri dari memodifikasi tingkah laku, memecahkan masalah secara kelompok, dan mencari solusi masalah.45 Kedua komponen tersebut saling berhubungan dan saling keterkaitan.
g. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil 1) Pengertian
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam iteraksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan keputusan, atau pemecahan masalah.46 Menurut Drs. Muhammad Uzair Usman mengatakan bahwa diskusi kelompok kecil adalah peserta didik berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil dibawah pembinaan pendidik atau temannya untuk berbagi iformasi, pemecahan masalah atau pengambilan keputusan, dilaksanakan dalam
45 Zainal Asril, Ibid, hlm. 153.
46 Udin Syaefudin Saud, Pengembangan Profesi Guru (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 67.
suasana terbuka.47 Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil merupakan salahnsatu strategi yang memungkinkan peserta didik untuk menguasai suatu konsep atau memecahkan masalah melalui suatu proses memberi kesempatan berfikir, berinteraksi sosial serta berlatih bersikap positif. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil yaitu suatu pembinaan yang diberikan oleh seorang pendidik dalam kegiatan belajar yang termasuk dalam memecahkan masalah, mengambil keputusan secara bersama dan berbagi informasi dan dilakukan dalam kelompok kecil.
2) Komponen-komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
a) Pemusatan perhatian. Memusatkan perhatian ini dapat pendidik lakukan dengan menyampaikan topik, tujuan diskusi, dan cara untuk mencapai diskusi.
b) Memperjelas masalah atau pendapat. Untuk menghindari perbedaan pendapat hendaknya pendidik menjelaskan masalah yang akan dibahas dan batasan-batasan masalahnya.
c) Menganalisa pandangan peserta didik. Sering terjadinya perbedaan pendapat dalam diskusi, maka pendidik hendaknya dapat meminta peserta didik untuk mempertegas inti gagasan dan mengemukakan alasan dari pendapat yang disampaikan.
47 Zainal Asril, Ibid, hlm. 79.
d) Meningkatkan pola pikir peserta didik. Pendidik dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menentang pola berpikir peserta didik, memberikan contoh-contoh verbal, memberikan waktu untuk berpikir dan memberi dukungan dari pendapat peserta didik.
e) Menyebarkan kesempatan berpartisipasi. Dalam diskusi, biasanya yang aktif hanya peserta didik itu-itu saja, namun pendidik harus bisa membuat peserta didik yang lain juga ikut serta aktif dalam diskusi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mendorong peserta didik untuk berpendapat, dan memberikan kesempatan berbicara secara bergilir.
f) Menutup diskusi.48 Pendidik harus mampu membimbing peserta didik dalam menyimpulkan hasil diskusi dan menindak lanjuti hasil diskusi serta memberikan nilai hasil diskusi.
h. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan 1) Pengertian
Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan pendidik memberikan perhatian kepada setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara pendidik denganpeserta didik
48 Shoffan Shoffa, Keterampilan Dasar Mengajar Microteaching, (Surabaya: Mavendra, 2017), hlm. 82.