• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sintak Model Problem Based Learning (PBL)

Dalam dokumen pengaruh model problem based learning (pbl) (Halaman 37-49)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Problem Based Learning (PBL)

3. Sintak Model Problem Based Learning (PBL)

Proses PBL mereplikasi pendekatan sistematik yang sudah banyak digunakan dalam menyelesaikan masalah atau memenuhi tuntutan- tuntutan dalam dunia kehidupan dan karier.

Sintak operasional PBL bisa mencakup antara lain sebagai berikut:22 a. Pertama-tama peserta didik disajikan suatu masalah.

22 Miftakhul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran (cet:II Pustaka Pelajar, Bandung), h.272

Peserta didik mendiskusikan masalah dalam tutorial PBL dalam sebuah kelompok kecil. Mereka mengklarifikasi fakta-fakta suatu kasus kemudian mendefinisikan sebuah masalah. Mereka membrainstorming gagasan-gagasannya dengan berpijak pada pengetahuan sebelumnya. Kemudian, mereka mengidentifikasi apa yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah serta apa yang mereka tidak ketahui. Mereka menelaah masalah tersebut. Mereka juga mendesain suatu rencana tindakan untuk menggarap masalah.

b. Peserta didik terlibat dalam studi independen untuk menyelesaikan masalah di luar bimbingan guru. Hal ini bisa mencakup:

perpustakaan, database, website, masyarakat, dan observasi.

c. Peserta didik kembali pada tutorial PBL, lalu saling sharing, informasi, melalui peer teaching atau cooperative learning atas masalah tertentu.

d. Peserta didik menyajikan solusi atas masalah.

e. Peserta didik mereview apa yang mereka pelajari proses pengerjaan selama ini. Semua yang berpartisipasi dalam proses tersebut terlibat dalam review berpasangan, dan review berdasarkan bimbingan guru, sekaligus melakukan refleksi atas kontribusinya tehadap proses tersebut.

4. Langkah-Langkah Penggunaan Model Problem Based Learning Langkah-langkah operasional dalam proses pembelajaran yang dikonsepkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah sebagai berikut: 23

a. Konsep Dasar (Basic Concept)

Fasilitator memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan peta yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran.

b. Pendefinisian Masalah (Defining The Problem)

Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan scenario atau permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai kegiatan brain storming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap scenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternative pendapat.

c. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)

Peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang dinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tetulis yang tersimpan di pepustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu:

23Kementerian Pendidikan dan kebudayaan,Model Pembelajaran Berbasis Masalah,(Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.

1) Agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan dikelas.

2) Informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. Pertukaran.

3) Pengetahuan (Exchange Knowledge)

Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.

4) Penilaian (Assessment)

Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.

C. Media Pembelajaran

1. Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah sarana pembelajaran yang digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran, di mana tujuan keterampilan menggunakan media pembelajaran yaitu memperjelas penyajian pesan agar jangan terlalu verbalitis, mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, memperlancar jalan proses pembelajaran, menimbulkan gairah belajar, memberi kesempatan kepada siswa berinteraksi langsung dan belajar secara mandiri. 24

Media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang fikiran, perasaan dan kemampuan siswa, sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Adapun menurut Association of Educationand Communication Technology (AECT) memberikan batasan mengenai media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. 25Kata media merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti perantara, sedangkan menurut istilah adalah wahana pengantar pesan. Beberapa teknologi pembelajaran, banyak memberikan batasan definisi tentang media pembelajaran, di antaranya:

a. Menurut AECT ( Association of Education end Communication Tecnonology) memberi batasan mengenai media sebagai segala

24Ramayulis, Profesi dan etika Keguruan, (Jakarta : Kalam Mulia, 2013), h. 157

25Asnawir, Basyiruddin Usman. Media Pembelajaran.(Jakarta: Ciputat Pers, 2007), h.11.

bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi.

b. Menurut NEA (National Education Assocation) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Dan dapat dilihat, didengar dan dibaca.

Gagne menyatakan bahwa, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Briggs berpendapat, media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar, misalnya buku, film bingkai, kaset dan lain-lain Perkembangan selanjutnya Martin dan Briggs memberikan batasan mengenai media pembelajaran yaitu mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan siswa. 26

Kesimpulan dari berbagai pendapat di atas adalah:

a. Media adalah wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada penerima pesan tersebut

b. Bahwa materi yang ingin disampaikan adalah pesan instruksional c. Tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar pada

penerima pesan (anak didik)

26Muhaimin dkk,Strategi Belajar Mengajar (Penerapan dalam pembelajaran pendidikan Agama), (Surabaya: Citra Media, 1996), h. 91

Berdasarkan beberapa batasan tentang media pembelajaran, maka dapat dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung dalam media pembelajaran, antara lain:27

a. Media pembelajaran memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu yang dapat dilihat, didengar atau diraba dengan panca indera.

b. Media pembelajaran memiliki pengertian non fisik yang dikenal sebagai soft ware (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disamapaikan kepada siswa.

c. Penekanan media pembelajaran terdapat pada visual dan audio.

d. Media pembelajaran memiliki pengertian alat bantu pada prosesbelajar baik dalam kelas maupun di luar kelas

e. Media pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

f. Media pembelajaran dapat digunakan secara massa (misalnya: Radio, Televisi) kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: slide, film, Video, OHP) atau perorangan (misalnya: Modul, Komputer, radio, tape/kaset video recorder).

g. Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan suatu ilmu.

27Azhar Arsyad. Media Pembelajaran. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h.78

Jadi dari batasan-batasan dan ciri-ciri umum di atas media pembelajaran berupa hard ware dan soft ware dan bisa dilihat serta didengar dan juga bisa membantu guru untuk memperlancar dalam proses belajar mengajar sehingga terjadi komunikasi dan interaksi edukatif. Dan membantu mempermudah siswa dalam memahami pesan yang disampaikan oleh guru

2. Macam-macam Media Pembelajaran

Ada beberapa jenis media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, antara lain :

1) Media grafis

Media grafis adalah media visual. Dalam media ini, pesan yang akan disampaikan dapat dituangkan dalam bentuk simbol. Oleh karena itu simbol-simbol yang digunakan perlu difahami benar artinya, agar dalam penyampaian materi dalam proses belajar mengajar dapat berhasil secara efektif dan efisien.

Media grafis berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan apabila tidak digrafiskan, misalnya: pelaksanaan shalat atau tentang konsep sifat wajib, mustahil bagi Allah, dan konsep lainnya. Media grafis selain sederhana dan mudah pembuatannya, media grafis juga termasuk media yang relatif murah

ditinjau dari segi biayanya. Adapun jenis-jenis media grafis, antara lain:28

a) Gambar atau Foto

media yang paling umum dipakai. Dia merupakan bahasa yang umum, yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana-mana.

Media gambar adalah media visual dalam bentuk grafis. Media grafis didefinisikan sebagai media yang mengkombinasikan fakta dan gagasan secara jelas dan kuat melalui suatu kombinasi pengungkapan kata-kata dan gambar-gambar.

b) Sketsa

Gambar yang dibuat secara tepat dan spontan dengan menggunakan garis-garis sederhana, menggambar sketsa termasuk jenis dari kegiatan menggambar ekspresif. Tujuan utama menggambar ekspresif ialah ekspresinya. Karena itu dapatlah dikatakan bahwa menggambar ekspresif ialah kegiatan menggambar yang berfungsi sebagai penyalur ungkapan perasaan penciptanya.

c) Diagram

Suatu gambaran untuk memperlihatkan atau menerangkan suatu data yang akan disajikan. Atau definisi diagram yang lainnya adalah lambang-lambang tertentu yang dapat dipakai untuk

28Asnawir,Basyiruddin Usman,, Media Pembelajaran. 2002. (Jakarta: Ciputat. Pers). h.

33.

menjelaskan sarana, prosedur serta kegiatan-kegiatan yang sudah biasa dilaksanakan dalam suatu sistem.

d) Media Bagan

memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu penyajian.

Dalam bagan chart sering dijumpai bentuk grafis yang lain seperti:gambar, diagram, kartun atau lambang verbal. Agar menjadi media yang baik, bagan hendaknya dibuat: secara sederhana, lugas, tidak berbelit belit, dan up to date. Ada beberapa macam bentuk bagan, yaitu: bagan pohon, bagan arus, dan bagan garis waktu.

e) Kartun

Kartun merupakan salah satu jenis media grafis yang digunakan dalam dunia pendidikan, berfungsi sebagai alat memperjelas materi, menciptakan nilai rasa lebih dalam memahami materi, sebagai media kritisi, dan sebagainya. Sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis, kartun merupakan suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan suatu pesan secara cepat dan ringkas, atau sesuatu sikap terhadap orang, situasi, atau kejadian-kejadian tertentu. Kartun biasanya hanya mengungkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana, tanpa detail, dengan menggunakan simbol-simbol, serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti secara cepat. Ketertarikan seseorang terhadap

kartun dibandingkan dengan media yang lain juga dikarenakan simbol-simbol tertentu dalam kartun yang menyebabkan kelucuan, selain itu isi kartun menceriterakan berbagai fenomena dalam kehidupan sehari-hari.

f) Visual, khususnya diagram, amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks.

g) Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus.

h) Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi

i) Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terlebih dahulu j) Warna harus digunakan secara realistik.

k) Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen.

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam penerapan media grafis tidak perlu panjang dan lebar namun sebaiknya media grafis itu sederhana dan jelas, sesuai dengan kemampuan siswa.

Dalam pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti peneliti menggunakan media grafis gambar. 29

29Azhar Arsyad. Media Pembelajaran. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h.91

D. Media Magic Addition Machine

Magic Addition Machine adalah media mesin tambahan yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar dengan mengunaakn Mechanistic Mathematics Education dapat dunia nyata, dunia fantasi, atau dunia matematik formal asalkan nyata dalam fikiran siswa. Sehingga siswa dapat mudah memahami materi dengan mengaitkan kedalam kehidupan sehari-hari dan tujuan pembelajaran juga dapat tercapai.

Magic addition Machine merupakan sebuah media yang mengkonstruksi aturan melalui proses mathematizaion. Media pembelajaran ini merupakan reaksi terhadap pembelajaran matematika modern (New Math) di Amerika dan pembelajaran matematika di Belanda sebelumnya yang dipandang sebagai Mechanistic Mathematics Education. Istilah realistik di sini tidak selalu terkait dengan dunia nyata, tetapi penyajian masalah dalam konteks yang dapat dijangkau siswa. Konteks dapat dunia nyata, dunia fantasi, atau dunia matematik formal asalkan nyata dalam fikiran siswa.

Sehingga siswa dapat mudah memahami materi dengan mengaitkan ke dalam kehidupan sehari-hari dan tujuan pembelajaran juga dapat tercapai. 30

Bahwa “alat permainan edukatif (APE) adalah permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan”. Penggunaan alat peraga edukatif sangat dianjurkan dalam pembelajaran, karena dapat membantu guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa dengan lebih mudah. Namun, ada beberapa alat peraga edukatif yang juga pernah

30Azhar Arsyad. Media Pembelajaran. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h.78

digunakan oleh guru dalam pembelajaran matematika yaitu seperti dakon matematika dan dekak FPB dan KPK. Akan tetapi, berdasarkan penggunaan alat peraga edukatif tersebut hasil belajar siswa belum mampu untuk ditingkatkan, ini terbukti dengan hasil belajar siswa yang rendah. 31

E. Metode Konvensional

1. Pengertian Metode Konvensional

Metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah metode konvensional ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan.

Pendekatan pembelajaran adalah suatu pandangan dalam mengupayakan cara siswa berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara Perceival dan Ellington, mengemukakan dua kategori pendekatan pembelajaran, kedua kategori pendekatan tersebut adalah pendekatan pembelajaran berorientasi guru (teacher oriented) dan pendekatan pembelajaran berorientasi siswa (learner oriented). 32

Pembelajaran konvensional merupakan salah satu pendekatan pemebelajaran yang masih berlaku dan layak digunakan oleh guru-guru disekolah pada umunya. Pembelajaran konvensional pada penelitian ini

31 Sundayana, Rostina. Media dan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika.Bandung: Alfabeta., 2014), h. 67

32Eveline Siregar dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran,( Bogor, Ghia Indonesia, 2010), h. 75

adalah pemebelajaran ekspositori. Pada pemebelajaran ini guru lebih banyak memberi materi kepada siswa, dan siswa hanya menyimak informasi yang diberikan oleh guru. 33

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berpusat pada guru, sehingga siswa kebanyakan pasif mendengarkan uraian guru dan semua siswa harus belajar menurut kecepatan guru, siswa hanya menerima, mencatat dan menghafal materi pelajaran.

2. Ciri-ciri pembelajaran konvensional adalah:

1) Siswa adalah penerima informasi secara pasif, dimana siswa menerima pengetahuan dari guru dan pengetahuan diasumsinya sebagai badan dari informasi dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan standar.

2) Belajar secara individual

3) Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis 4) Perilaku dibangun atas kebiasaan

5) Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final 6) Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran 7) Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik 8) Interaksi di antara siswa kurang

9) Guru sering bertindak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.

33 Zulyadaini, Perbandingan Hasil Belajar Matematika Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Coop-Coop Dengan KonvensionaL. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi. Vol.16 No.1. 2016). h. 155

3. Langkah-langkah Metode Konvensional

1) Guru memberikan apersepsi terhadap siswa dan memberikan motivasi kepada siswa tentang materi yang diajarkan

2) Guru memberikan motivasi

3) Guru menerangkan bahan ajar secara verbal 4) Guru memberikan contoh-contoh

5) Guru memberikan kesempatan untuk siswa bertanya dan menjawab pertanyaan

6) Guru memberikan tugas kepada siswa yang sesuai dengan materi dan contoh soal yang telah diberikan

7) Guru mengkonfirmasikan tugas yang telah dikerjakan oleh siswa 8) Guru menuntun siswa untuk menyimpulkan inti pelajaran

9) Mengecek pengertian dan pemahaman siswa 4. Kelebihan dan Kelemahan Metode Konvensional

Adapun kelebihan dari metode konvensional (ceramah) adalah:

1) Guru mudah menguasai kelas

2) Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas 3) Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar 4) Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya 5) Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik 6) Lebih ekonomis dalam hal waktu

7) Memberikan kesempatan pada guru untuk menggunakan pengalaman, pengetahuan dan kearifan

8) Dapat menggunakan bahan pelajaran yang luas

9) Membantu siswa untuk mendengar secara akurat, kritis dan penuh perhatian

10) Dapat menguatkan bacaan dan belajar siswa dari beberapa sumber lain.

Adapun kelemahan Metode Konvensional (ceramah) adalah:

a) Siswa yang bertipe visual menjadi rugi, dan hanya siswa yang bertipe auditif (mendengarkan) yang benar-benar menerimanya.

b) Mudah membuat siswa menjadi jenuh

c) Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya

d) Siswa cenderung menjadi pasif dan guru menjadi aktif. 34 F. Hasil Belajar Siswa

1. Pengertian Hasil Belajar Siswa

Belajar adalah adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui tindakan latihan atau pengalaman, belajar merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.35

Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman. Hasil belajar, yaitu perubahan-prubahan yang terjadi pada diri siswa baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagi hasil dari

34Hamzah. B. Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008), h.21

35Anurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta, 2009), h. 35

kegiatan belajar. Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan diatas dipertegas lagi oleh Nawawi dalam K. Brahim yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran disekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran menentu. Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan mengajar36

Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku.

tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya37

Berdasarkan pengertian menurut ahli dapat ditarik kesimpulan Hasil belajar merupakan pengukuran terhadap apa yang telah dipelajari. Hasil belajar dimanfaatan untuk perbaikan dan penyempurnaan proses kegiatan belajar dan mengajar. Apabila hasil belajar telah diketahui maka dapat dinilai sejauh mana prestasi belajar yang dicapai. Hasil belajar dapat diketahui dari evaluasi hasil belajar. Evaluasi atau penilaian hasil belajar merupakan suatu usaha untuk mendapatkan informasi tentang kemampuan siswa baik kemampuan penguasaan konsep, sikap maupun ketrampilan.

36 Ahmad Susanto, teori belajar dan pembelajaran disekolah dasar, (Jakarta : Kencana, 2013), h. 5

37Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2012), h. 22

2. Macam-macam hasil belajar

Hasil belajar sebagai mana telah dijelaskan di atas meliputi pemahaman konsep (aspek kognitif), keterampilan proses (aspek psikomotor), dan sikap siswa (aspek afektif) untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan sebagai berikut:38

a) Pemahaman konsep

Untuk mengukur hasil belajar siswa yang berupa pemahaman konsep, guru dapat melakukan evauasi produk.

b) Keterampilan proses

Usman dan setawati mengemukakan bahwa keterampilan proses merupakan keterampilan yang mmengarah kepada pembangunan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu siswa.

c) Sikap

Menurut Sadirman sikap merupakan kecenderungan untuk melakukan sesuatu dengan cara merode, pola, dan teknik tertentu terhadap dunia sekitarnya. Baik berupa individu-individu maupun objek-objek tertentu.

3. Jenis dan Sistem Penilaian Hasil Belajar

Dilihat dari fungsinya, jenis penelitian ada beberapa macam, yaitu:39

38 Ahmad Susanto, Teori Belajar Dan Pembelajaran Disekolah Dasar, (Jakarta : Kencana, 2013), h.6

39Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2012), h. 5

a) Penilaian formatif

Penilaian yang dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar belajar mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri.

b) Penilaian sumatif

Penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program, yaitu akhir catur wulan, akhir semester, dan akhir tahun.

c) Penilaian diagnostik

Penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahan-kelemahan siswa serta faktor penyebabnya

d) Penilaian selektif

Penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi e) Penilaian penempatan

penilaian yang bertujuan untuk mengetahui keterampilan prasyarat yang diperlukan bagi suatu program belajar dan penguasaan belajar.

4. Prosedur evaluasi Hasil Belajar

Berdasarkan pengertian evaluasi hasil belajar kita mendapatkan bahwa hasil belajar merupakan suatu proses yang sistematis. Agar evaluasi hasil belajar dapat diadministrasikan atau dilaksanakan oleh penilaian seseiorang , tahapan prosedur hasi belajar yang perlu dilalui seseorang penilai meliputi : persiapan, penyususnan alat ukur, pelaksanaan, pengolahan, penafsiran hasil pengukuran dan pelaporan penggunaan hasil evaluasi.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar secara umum menurut Slameto pada garis besarnya meliputifaktor intern dan faktor ekstern yaitu:40

a. Faktor intern

Dalam faktor ini dibahas 2 faktor yaitu:

1) Faktor jasmaniah mencakup faktor kesehatan dan cacat tubuh 2) Faktor psikologis mencakup Intelegensi, perhatian, minat, bakat,

motivasi, kematangan, kesiapan, faktor kelelahan b. Faktor ekstern

Faktor ini dibagi menjadi 3 faktor, yaitu:

1) Faktor keluarga mencakup cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan

2) Faktor sekolah meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah

3) Faktor masyarakat meliputi kegiatan dalam masyarakat, massa media, teman bermain, bentuk kehidupan bermasyarakat.

40 Slameto, Profesi Kependidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008),h. 54

Dalam dokumen pengaruh model problem based learning (pbl) (Halaman 37-49)

Dokumen terkait