• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Penulisan

BAB V: PENUTUP

G. Sistematika Penulisan

21

4. Metode Analisis Data

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode deskriptif analisis dan komparatif yaitu pertama, dilakukan proses pengumpulan data mengenai topik pembahasan yaitu berkenaan dengan ayat-ayat yang menyinggung toleransi paham mazhab dalam tafsir Al-Qur‟an. Kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut. Setelah penulis mengetahui data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu primer dan sekunder, maka langkah berikutnya adalah melakukan reduksi data dan selanjutnya dilakukan penyajian, penulis menelaah ayat-ayat yang menyinggung toleransi paham mazhab dalam tafsir Al-Qur‟an dengan melakukan penelusuran melalui hadits-hadits jika ada, serta pendapat-pendapat para mufassir sebagai sumber pendukung.

22

Bab ketiga, berisi tentang biografi mufassir dan profil kitab tafsir al- Jâmi` li al-Ahkâmi Al-Qurân al-Qurthubî karya imam al-Qurthubî dan kitab tafsir al-Munîr fî al-`Aqîdah wa al-Syarî`ah wa al-Manhaj karya Wahbah az-Zuhaili.

Bab keempat, berisi penafsiran ayat-ayat toleransi dalam kitab tafsir al-Jâmi` li al-Ahkâmi Al-Qurân al-Qurthubî karya imam al-Qurthubî dan kitab tafsir al-Munîr fi al-`Aqîdah wa al-Syarî`ah wa al-Manhaj karya Wahbah az-Zuhaili. Kemudian memaparkan persamaan dan perbedaan pendapat dan analisa tafsir dari kedua kitab tafsir tersebut.

Bab Kelima, merupakan bab penutup, yang berisi kesimpulan dan saran-saran. Ini adalah langkah akhir penulis dalam melakukan penelitian, dimana dalam bab ini penulis berharap mampu memberikan kontribusi yang berarti berupa kesimpulan terhadap penelitian serta saran-saran yang memberikan dorongan dan inspirasi bagi peneliti berikutnya.

111 BAB V

PENUTUP A. Kesimpulan

Penjelasan dalam setiap bagian penelitian yang telah diuraikan diatas merupakan merupakan jawaban dari permasalahan dalam penelitian ini.

Pandangan imam al-Qurthubi dan Wahbah Az-Zuhaili mengenai ayat-ayat toleransi yang dibahas oleh penulis memiliki kesamaan dan perbedaan dalam penafsirannya. Selanjutnya uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penafsiran Imam Al-Qurhubi

Dalam menafsirkan ayat-ayat toleransi, Imam Al-Qurthubi banyak memaparkan riwayat. Penafsiran dimulai dengan

2. Penafsiran Wahbah Az-Zuhaili 3. Persamaan penafsiran

4. Perbedaan penafsiran

a. Imam Al-Qurthubi banyak memaparkan riwayat a.

5.

6. Tafsir QS. Yûnus [10]: 99, tentang “Larangan memaksa orang yang tidak beriman menjadi beriman”. Tindakan memaksakan orang agar beriman merupakan tindakan yang justru bertentangan dengan Al- Qur`an itu sendiri. Karena dalam ayat ini berdasarkan kedua tafsir diatas, berpesan bahwa untuk urusan keimanan seseorang tidak boleh di paksakan. Jadi memaksakan orang lain yang belum beriman agar beriman dengan cara paksaan, itu tindak intoleran yang justru tidak

112

sejalan dengan Al-Qur`an. Bahwa berdakwah itu wajib, mengajak orang untuk beriman itu wajib, tetapi tidak dengan cara paksaan.

7. Tasfir QS. Al-Mumtahanah [60]: 8, tentang “Izin dari Allah kepada muslim untuk bergaul atau bersilaturahmi dengan non muslim”.

Dalam hal ini al-Quthubi dan Wahbah Zuhaili sama sama menafsirkan bahwa kaum muslimin boleh bersikap baik kepada kaum non muslim selama mereka tidak memerangi kaum muslim dan tidak membantu yang lainnya untuk menghancurkan kaum muslim.

Imam al-Qurthubî memiliki tiga pendapat dalam menafsirkan ayat ini yaitu:

Pertama, ayat ini merupakan keringanan dari Allah swt. untuk membina hubungan silaturahim dengan orang-orang yang tidak memusuhi kaum mukminin dan tidak pula memerangi mereka.

Menurut Imam al-Qurthubî hukum boleh membina hubungan silaturahim ini ada karena adanya sebuah alasan, yakni perdamaian.

Kedua, orang-orang yang disebut sebagai yang tidak memerangi adalah kaum perempuan dan anak-anak, maka allah menganjurkan berbuat baik kepada mereka.

Sedangkan menurut Wahbah Zuhaili dalam tafsir al-Munîr, Allah swt tidak melarang untuk berbuat baik kepada kaum kafir yang menjalin perjanjian damai dengan kaum Mukminin untuk tidak memerangi dan mencelakai kaum Mukminin. Allah swt juga sama sekali tida melarang untuk memperlakukan mereka dengan adil, seperti Khuza‟ah dan yang lainnya yang membuat perjanjian dengan Rasulullah saw bahwa mereka tidak memerangi beliau dan kaum Mukminin.

Nilai toleransi pada ayat ini terlihat jelas dimana kaum muslim dianjurkan untuk berbuat baik kepada non muslim, dengan catatan

113

selama hubungan yang terjalin dikedua pihak berjalan dengan baik serta saling menjaga kepercayaan masing-masing dan juga jika umat non muslim tidak menyerang, dan tidak memerangi umat Islam.

8. Tafsir QS. Al-Mumtahanah [60]: 9, tentang “Larangan muslim bergaul dan ber-muwâlâh dengan non muslim yang membahayakan Islam dan umat Islam”.

Penjelasan tafsir pada surat Al-Mumtahanah ayat 9 ini berkaitan dengan ayat sebelumnya pada ayat 8. Dalam kedua tafsir ini dijelaskan bahwa Allah swt. melarang kaum muslim untuk menjalin hubungan dengan orang-orang kafir yang memusuhi kaum muslim, serta yang membantu, menyokong, dan mendukung pihak-pihak yang memerangi dan mengusir kaum muslim.

Wahbah Zuhaili dalam tafsir al-Munîr mempertegas tentang ancama Allah swt. terhadap orang yang menjalin muwâlâh dengan orang-orang kafir. dan menjadikan mereka sebagai wali , dengan menyatakan bahwa barang siapa yang menjadikan orang-orang kafir seperti itu da nmenjadikan mereka sebagai wali, dengan menyatakan bahwa barangsiapa yang menjadikan orang-orang kafir seperti itu sebagai wali, membantu mereka dan dan bersikap pro kepada mereka, orang-orang yang berbuat seperti itu adalah orang-orang yang telah mendzalimi dirinya sendiri. Mereka menjalin muwâlâh dengan orang yang seharusnya dimusuhi disebabkan ia adalah musuh Allah swt, Rasul-Nya dan kitab-Nya.

Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munîr juga menjelaskan bahwa kaum kafir yang dimaksud dalam ayat ini adalah kaum kafir Quraisy. Namun, menurut hemat penulis, hukum ini berkaitan dengan

114

orang-orang kafir mana saja, bukan hanya kaum kafir Quraisy.

Dengan catatan, bahwa larangan bergaul dengan non muslim atau ber-muwâlâh dengan non muslim ini, adalah jika non muslimnya membahyakan, memerangi atau ikut membantu mendukung upaya- upaya yang memerangi umat Islam. Jadi dalam memahami ayat ini perlu dilihat kaitannya (munasabahnya) dengan ayat al-Quran lainnya yang mengatakan bahwa Allah membolehkan umat Islam bergaul dengan umat non muslim selagi mereka tidak menyerang umat Islam 9. Tafsir QS. Al-An‟âm [6]: 108, tentang “Larangan memaki

sesembahan kaum non Muslim”

Dalam hal ini al-Qurthubi dan Wahbah az-Zuhaili sama sama menafsirkan, menegaskan, dan melarang kaum muslim untuk memaki, menghina dan merendahkan sesembahan agama-agama lainnya. Karena hal ini akan sangat memicu pembalasan dendam mereka terhadap apa yang kita yakini, dan parahnya lagi mereka akan mencaci maki Nabi Muhammad saw. dan juga Allah SWT. Jika ada sesuatu yang membuat kita marah atas sikap mereka, kita harus menahan diri untuk tidak menyinggung sesembahan mereka, karena dampak nya akan lebih besar.

Dewasa ini sangat mudah sekali melihat tindakan intoleran semacam ini di kehidupan sehari-hari terutama di social media, untuk mengatasinya kita dianjurkan untuk tidak membalas ucapan mereka yang menyinggung keyakinan kita, adapun jika kita membalasnya harus dengan kata-kata yang lebih bijak.

10. Tafsir QS. Al-Kâfirûn [109]: 1-6

115

Nabi Muhammad saw menolak dengan tegas tawaran kaum Quraisy untuk menyembah tuhan mereka sebab tidak mungkin Rasulullah menerima ajaran yang bertolak belakang dengan wahyu yang sudah diterima dari Allah.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah Swt untuk mengatakan kepada orang-orang yang membencinya untuk menjelaskan keyakinannya secara jelas dan konsisten kepada orang-orang kafir Quraisy. Sampai kapan pun.

Sebab mereka menyembah berhala yang berbeda-beda tergantung tempat, situasi dan kondisi.145

Wahbah az-Zuhaili dan al-Qurthtûbi menjelaskan Nabi Muhammad dan pngikutnya tidak akan menyembah sesembahan kaum kafir Quraisy hingga masa-masa yang akan datang. Kaum Muslim hanya akan menyembah Allah Swt dengan penuh ketaatan serta meraih ridha-Nya. Adapun sebaliknya kaum kafir Quraisy dianjurkan untuk menyembah tuhan mereka dengan sepenuh hati.

Kata ad-Dîn pada ayat ke enam menurut al-Qurthubi merupakan sebuah ancaman. Sedangkan menurut wahbah az-Zuhaili adalah balasan dan ibadah.

Dokumen terkait