BAB I PENDAHULUAN
3.6 Skenario Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca
c. Tidak Ada Korelasi
Korelasi dinyatakan tidak ada apabila hasil perhitungan korelasi mendekati 0 atau sama dengan 0. Hal ini menunjukkan naik turunnya nilai suatu variabel tidak mempunyai kaitan dengan naik turunnya nilai variabel lainnya (Alihta, 2017).
3. Pengadaan Bus Rapid Transit (BRT)
Skenario penerapan Bus Rapid Transit (BRT) dilakukan dengan mengalihkan 30% jumlah kendaraan sepeda motor dan mobil kemudian menggantinya dengan sistem BRT yang berkapasitas 80 penumpang.Asumsi pada penumpang kendaraan sepeda motor adalah 1 orang dan penumpang kendaraan mobil adalah 2 orang (DNPI, 2010).
Perhitungan Penurunan Emisi GRK dengan cara : beban emisi kendaraan sebelum menggunakan BRT- beban emisi kendaraan setelah menggunakan BRT / beban emisi sebelum menggunakan BRT x 100%.
Alternatif terpilih dilakukan berdasarkan skenario penurunan. Kriteria untuk alternatif skenario penurunan beban emisi GRK dapat dilihat pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5 Penentuan Skor pada Skenario Penurunan Terpilih
No Kriteria
Skor
3 2 1
Bagus Sedang Buruk
1 % Penurunan Beban Emisi* 67% - 100% 33% - 66% 0% - 33%
2 Biaya Investasi (Juta
$US/Km)** 1-10 11-20 21-30
3 Operasional Mudah Sedang Sulit
4 Sejalan dengan Orientasi
Pembangunan Nasional*** Sangat Cukup Tidak
5 Sustainable Transport Berkelanjutan Sedang Tidak Berkelanjutan 6 Environmental Friendly Ramah Lingkungan Sedang Tidak Ramah
Lingkungan Sumber : * Dishub Kota Medan, 2015
** Tambunan, 2010
*** RAN GRK, 2010
Berdasarkan penentuan skor pada skenario penurunan terpilih terdapat enam kriteria dengan 3 kategori yang ditentukan sebagai dasar skoring yaitu bagus dengan poin 3, sedang dengan poin 2, dan tidak dengan poin 1.Kriteria pertama yaitu persen penurunan beban emisi untuk kategori bagus persen penurunan emisi sekitar 67%-100% yang berarti skenario tersebut mampu menurunkan beban emisi lebih dari setengah emisi awal sehingga masuk dalam kategori bagus sehingga diberi poin 3, begitu juga dengan kategori sedang yang berarti skenario tersebut mampu mencapai efisiensi penurunan sekitar 33%-66% dan diberi poin 2 dan kategori buruk yang berarti skenario penurunan hanya mencapai persen efisiensi penurunan sekitar 0%-32% (Dishub Kota Medan,2015)
Selanjutnya kriteria kedua ditinjau dari biaya investasi yang dihabiskan dalam perencanaan skenario penurunan (Juta $US/Km) dengan kategori bagus yaitu perencanaan skenario penurunan menghabiskan biaya sekitar1-10 Juta $US/Km, lalu untuk kategori sedang biaya yang dihabiskan sekitar
11-20 Juta $US/Km, dan dengan biaya tertinggi yaitu masuk kedalam kategori buruk menghabiskan biaya sekitar 21-30 Juta $US/Km (Tambunan,2010)
Ditinjau dari segi operasional, untuk kategori bagus berarti skenario mudah diterapkan dan dijalankan secara efektif dan efisien. Pada kategori sedang, pengoperasian dari skenario penurunan tergolong bisa diterapkan namun ada kesulitan untuk diterapkan yang disesuaikan dengan kondisi eksisting kota Medan, sementara kategori buruk berarti tingkat pengoperasian termasuk sulit sehingga skenario penurunan tidak dapat direncanakan.
Berdasarkan visi dan misi pembangunan nasional apakah sejalan dengan orientasi pembangunan Indonesia, untuk kategori bagus berarti skenario tersebut sejalan dengan orientasi pembangunan nasional peningkatan kualitas sumber daya alam dan lingkungan, sebagai bagian dari penghormatan, lalu untuk kategori sedang skenario tersebut cukup sejalan dengan orientasi pembangunan sementara untuk kategori buruk skenario penurunan tersebut sama sekali tidak sejalan dengan orientasi pembangunan nasional (RAN GRK,2010).
Kriteria Sustainable Transport berarti suatu transportasi yang tidak menimbulkan dampak yang membahayakan kesehatan masyarakat atau ekosistem dan dapat memenuhi kebutuhan mobilitas yang ada secara konsisten (OECD,1994).Hal ini berarti untuk kategori bagus skenario tersebut mampu memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat mendatang tanpa meninggalkan dampak buruk, sementara untuk kategori sedang skenario tersebut dapat memenuhi kebutuhan mobilitas namun menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem atau lingkungan, dan untuk kategori buruk skenario penurunan tersebut sama sekali tidak mampu memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat.
Kriteria terakhir untuk penentuan skenario penurunan terpilih adalah Environmental Friendly yang dibagi dalam tiga kategori juga yaitu kategori bagus yang berarti skenario penurunan tersebut tidak menimbulkan dampak lingkungan baik bagi air,tanah, dan udara serta memprioritaskan keselamatan penggunanya. Kategori kedua yaitu sedang berarti skenario penurunan tersebut menimbulkan polusi bagi lingkungan meskipun dalam jumlah yang sedikit.
Sementara untuk kategori terakhir yaitu buruk berarti skenario tersebut sangat menimbulkan polusi bagi lingkungan sekitar.
Sedangkan skor penilaian untuk kriteria untuk skenario penurunan beban emisi GRK pada penerapan BRT, Manajemen Parkir, dan ITS dapat dilihat pada Tabel 3.6.
Tabel 3.6 Penentuan Alternatif Skenario Terpilih
No Kriteria
Skenario Penurunan Beban Emisi GRK
BRT Manajemen
Parkir ITS
1 % Penurunan Beban Emisi* 1 1 1
2 Biaya Investasi (Juta $US/Km)** 3 3 1
3 Operasional 2 3 2
4 Sejalan dengan Orientasi
Pembangunan Nasional*** 3 3 3
5 Sustainable Transport 3 1 1
6 Environmental Friendly 3 3 3
TOTAL 15 14 11
Sumber : Analisis Data, 2019.
Berdasarkan Tabel 3.6 nilai skor tertinggi pada alternatif skenario penurunan beban emisi GRK terpilih yaitu pada penerapan Bus Rapid Transit (BRT) dengan total skor sebesar 16 poin, dan terendah pada penerapan ITS dengan total skor sebesar 11 poin. Hal ini dapat disimpulkan semakin tinggi skor pada kriteria skenario penurunan, maka penurunan beban emisi GRK semakin efektif
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jumlah Kendaraan
Traffic Counting atau perhitungan jumlah kendaran berdasarkan jenis kendaraan dilakukan di 12 (dua belas) lokasi penelitian, dimana pada satu lokasi penelitian di hitung pada hari kerja (Weekday) dan hari libur (Weekend) yang masing-masing hari dilakukan 12 jam perhitungan, adapun lokasi penelitian tersebut adalah di ruas Jalan Pulau Jawa, Jalan Kapt. Sumarsono, Jalan Gatot Subroto, Jalan S. Parman, Jalan Balai Kota, Jalan H. M. Yamin, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Dr. Mansyur, Jalan SM Raja, Jalan A. H. Nasution, Jalan Flamboyan, dan Jalan Letjen Jamin Ginting.
4.1.1 Jenis dan Jumlah Kendaraan Hari Kerja (Weekday)
Penelitian pada hari kerja dilakukan pada hari dimulai pada hari Selasa, 9 April 2019 di tiga lokasi (Jalan Pulau Jawa, Jalan Kapt Sumarsono, Jalan Letjen Jamin Ginting), kemudian di lanjutkan pada hari Kamis, 11 April 2019 (Jalan H. M Yamin, Jalan SM Raja, Jalan Flamboyan), lalu hari Selasa 16 April 2019 (Jalan Gatot Subroto, Jalan Brigjen Katamso), Selasa 23 April 2019 (Jalan S. Parman, Jalan Balai Kota, Jalan A. H. Nasution) dan diakhiri pada hari Kamis 25 April 2019 (Jalan Dr. Mansyur). Jumlah kendaraan sepeda motor, mobil, bus, dan truk di dua belas lokasi penelitian disajikan dalam bentuk grafik pada Gambar 4.1 s/d Gambar 4.4. Perhitungan jumlah kendaraan pada hari kerja (weekday) setiap 1 jam selama 12 jam pada setiap lokasi dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.1 Jenis dan Jumlah Kendaraan Berdasarkan Jenis pada Hari Kerja (Weekday) No
Lokasi Penelitian Waktu
Jumlah Kendaraan (unit) Sepeda
Motor
Mobil Bus Truk
1 Jalan Pulau Jawa 07.00 s/d 19.00 8.959 1.937 17 2.388
2 Jalan Kapt. Sumarsono 07.00 s/d 19.00 22.752 10.993 31 4.402 3 Jalan Gatot Subroto 07.00 s/d 19.00 44.933 31.237 83 690
4 Jalan S. Parman 07.00 s/d 19.00 25.927 22.837 52 233
5 Jalan Balai Kota 07.00 s/d 19.00 64.557 59.573 95 223 6 Jalan H. M. Yamin 07.00 s/d 19.00 25.380 16.037 17 294 7 Jalan Brigjen Katamso 07.00 s/d 19.00 46.028 19.949 25 378 8 Jalan Dr. Mansyur 07.00 s/d 19.00 32.639 18.708 14 122 9 Jalan SM. Raja 07.00 s/d 19.00 46.302 45.104 1.068 6.039 10 Jalan A. H Nasution 07.00 s/d 19.00 46.462 34.986 435 3.138
11 Jalan Flamboyan 07.00 s/d 19.00 27.555 7.643 25 1.017
12 Jalan Letjen Jamin Ginting 07.00 s/d 19.00 15.062 10.787 301 3.359 Sumber : Survey, 2019.
Pada Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa jumlah kendaraan tertinggi dari kedua belas lokasi penelitian pada hari kerja (weekday) yaitu jenis kendaraan sepeda motor dengan total kendaraan sebesar 406.556 unit, kemudian diikuti dengan jenis kendaraan mobil, truk, dan bus. Jalan Balai Kota merupakan ruas jalan dengan jumlah kendaraan sepeda motor dan mobil tertinggi pada hari kerja (weekday), dengan jumlah kendaraan sepeda motor sebesar 64.557 unit dan mobil 59.573 unit.
Hal ini dikarenakan Balai Kota adalah kawasan pemerintahan, sehingga didominasi oleh jenis kendaraan sepeda motor. Adapun untuk kendaraan angkutan umum baik penumpang maupun barang yaitu kendaraan bus dan truk tertinggi berada pada ruas Jalan SM. Raja, dengan jumlah kendaraan bus sebesar 1.068 unit dan truk 6.039 unit. Adapun ruas jalan dengan kepadatan lalu lintas tertinggi terdapat pada Jalan SM. Raja dengan total seluruh kendaraan pada hari kerja (weekday) sebesar 91.401 unit.Kondisi eksisting ruas jalan SM.Raja merupakan ruas jalan yang menjadi kawasan antar lintas provinsi yang juga terhubung dengan ke arah pusat Kota Medan serta kawasan industri sehingga terjadinya penumpukan dan kepadatan lalu lintas di jalan tersebut.
4.1.2 Jenis dan Jumlah Kendaraan Hari Libur (Weekend)
Penelitian pada hari libur dilakukan pada hari Minggu, 14 April 2019 (Jalan Pulau Jawa, Jalan Kapt Sumarsono, Jalan Letjen Jamin Ginting), Minggu, 5 Mei 2019 (Jalan H. M Yamin, Jalan SM Raja, Jalan Flamboyan), Minggu 12 Mei 2019 (Jalan Gatot Subroto, Jalan Brigjen Katamso, Jalan A. H. Nasution), dan Minggu 19 Mei 2019 (Jalan S. Parman, Jalan Balai Kota, Jalan Dr.
Mansyur). Jumlah Total Kendaraan Berdasarkan Jenis pada Hari Libur (Weekend) disajikan pada Tabel 4.2. Grafik jumlah kendaraan sepeda motor, mobil, bus, dan truk disajikan pada Gambar 4.4 s/d Gambar 4.8. Perhitungan jumlah kendaraan pada hari libur (weekend) setiap 1 jam selama 12 jam pada setiap lokasi dapat dilihat pada lampiran II.
Tabel 4.2 Jenis dan Jumlah Kendaraan Berdasarkan Jenis pada Hari Libur (Weekend)
No Lokasi Penelitian Waktu Jumlah Kendaraan
Sepeda Motor
Mobil Bus Truk
1 Jalan Pulau Jawa 07.00 s/d 19.00 3.767 721 15 392
2 Jalan Kapt. Sumarsono 07.00 s/d 19.00 21.118 14.345 52 1.217 3 Jalan Gatot Subroto 07.00 s/d 19.00 25.331 29.611 34 31
4 Jalan S. Parman 07.00 s/d 19.00 15.412 20.495 50 81
5 Jalan Balai Kota 07.00 s/d 19.00 33.721 40.999 61 51
6 Jalan H. M. Yamin 07.00 s/d 19.00 15.207 12.137 4 72
7 Jalan Brigjen Katamso 07.00 s/d 19.00 24.327 15.609 12 94
8 Jalan Dr. Mansyur 07.00 s/d 19.00 20.907 12.808 5 40
9 Jalan SM. Raja 07.00 s/d 19.00 46.484 42.350 724 1.843 10 Jalan A. H Nasution 07.00 s/d 19.00 33.755 23.198 311 888
11 Jalan Flamboyan 07.00 s/d 19.00 25.784 9.992 11 168
12 Jalan Letjen Jamin Ginting 07.00 s/d 19.00 14.793 12.403 334 836 Sumber : Survey, 2019.
Tabel 4.2 menunjukkan jenis dan jumlah kendaraan berdasarkan jenis pada hari libur (weekend) dimana jumlah kendaraan tertinggi dari kedua belas lokasi yaitu jenis kendaraan sepeda motor,lalu diikuti dengan jenis kendaraan mobil,truk, dan bus. Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa lokasi penelitian dengan jumlah setiap jenis kendaraan tertinggi pada hari libur (weekend) terdapat pada ruas Jalan SM. Raja, dengan total jumlah kendaraan sebesar 91.041 unit dengan persentasi sepeda motor sebesar 51%, mobil 46%, bus 1%, dan truk 2%. Ruas Jalan SM.
Raja merupakan ruas jalan arteri primer yang juga merupakan kawasan antar lintas provinsi, sehingga dilewati oleh berbagai jenis kendaraan,terutama pada hari libur (weekend). Hal ini dikarenakan pada hari libur masyarakat umumnya melakukan perjalanan jauh untuk kegiatan rekreasi.