BAB I PENDAHULUAN
2.7. Upaya Pengendalian Emisi Bergerak
Pada dokumen Rencana Aksi Nasional penuruan emisi-GRK (Dishub,2012) telah dipilih beberapa aksi mitigasi secara nasional. Beberapa aksi mitigasi yang dapat mengurangi emisi GRK di sektor transportasi akan dijelaskan di bawah ini.
1. Pemasangan Converter Kit.
Gasifikasi angkutan umum adalah kegiatan mengkonversi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) pada angkutan umum dengan menggunakan converter kit.
Terpasangnya converter kit pada angkutan kota yang menggunakan bensin untuk menurunkan emisi CO2 hingga 20% (Kemenhub, 2012).
2. Permen ESDM No. 0031 Tahun 2005, pasal 5 mengatur tentang pelaksanaan penghematan energi pada transportasi.
Penghematan ditujukan untuk Kendaraan pribadi dengan kapasitas ruang bakar diatas 2000cc, khususnya di pulau Sumatera,Pulau Jawa,dan pulau Bali menggunakan BBM jenis Pertamax 3. Membangun Non-Motorized Transport (Pedestarian dan Jalur Sepeda).
Non-Motorized Transport (NMT) adalah moda dasar yang dapat mengintegrasikan suatu pelayanan transportasi dengan pelayanan transportasi lainnya dan merupakan bagian dari link untuk terhubung ke asal dan tujuan perjalanan.Misalnya,pengguna transportasi umum biasanya memanfaatkan NMT untuk mengakses perjalanan dari simpul transportasi umum dan tujuan akhir mereka.
4. Pengadaan Bus Rapid Transit (BRT)
Memperluas akses ke transportasi umum berkualitas tinggi adalah cara yang terbukti untuk mengurangi penggunaan mobil dan emisi yang terkait.Masyarakat yang tinggal dengan transportasi umum yang mudah diakses cenderung memiliki lebih sedikit kendaraan, lebih jarang mengemudi dan lebih mengandalkan transportasi umum daripada daerah lain (Litman 2010).
Menurut Asosiasi Transportasi Umum Amerika (APTA), transportasi umum menghemat 37 juta metrik ton karbon dioksida setiap tahun.Gas rumah kaca dapat dikurangi hingga 24 persen melalui strategi angkutan umum yang dikoordinasikan dengan menggabungkan aktivitas perjalanan, pengembangan penggunaan lahan, dan efisiensi operasional
Angkutan massal seperti Bus Rapid Transit (BRT) merupakan jenis angkutan yang menghemat bahan bakar. hal ini dikarenakan daya tampung penumpang pada angkutan umum lebih banyak daripada angkutan pribadi. Sehingga dapat mengurangi beban emisi dapat memperlancar arus lalu lintas. Kontribusi penumpang BRT pada tahun 2050 diperkirakan sebesar 20,82% dan dapat menghemat penggunaan bahan bakar sebesar 45,81% (BPPT, 2018)
5. Sistem Manajemen Parkir
Penerapan manajemen parkir mempengaruhi kenyamanan dan kemudahan untuk mencapai tujuan perjalanan (aksesibilitas secara keseluruhan).Penerapan manajemen parkir dapat berperan sebagai
faktor tolak (push) untuk mendorong perpindahan moda ke angkutan umum dan menghindari perjalanan yang tidak terlalu penting yang membentuk strategi Manajemen Kebutuhan Transportasi (Transport Demand Management–TDM).
Penerapan manajemen parkir dapat fleksibel, cepat dan efektif dalam mengurangi masalah parkir.
Selain itu dapat juga membantu tercapainya tujuan lain seperti pengurangan kemacetan, keamanan perjalanan, peningkatan kualitas kesehatan lingkungan, penggunaan lahan yang lebih efektif dan juga masalah finansial (Safitri,2012)
6. Penerapan Intelligent Transport System (ITS)
Intelligent Transport System (ITS) merupakan teknologi komunikasi dan informasi yang diterapkan pada sarana dan prasarana transportasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan transportasi. Penggunaan ITS akan memberikan efisiensi kendaraan dalam berlalu lintas yang makin meningkat dan tingkah laku pengemudi yang makin tertib
Manajemen lalu lintas dengan cara pemasangan ITS ini sesuai dengan upaya mitigasi perubahan iklim dari sektor transportasi dalam ICCSR (2010) meliputi 3 strategi yang dilakukan dan instrument yang dapat diterapkan dalam upaya mengurangi emisi gas CO2 dari sektor transportasi.
Strategi yang sesuai dengan pemasangan ITS dalam mengurangi emisi gas CO2 yaitu strategi ketiga peningkatan sistem eksisting (improve) dengan instrument keempat penerapan sistem
“smart traffic” untuk kelancaran lalu lintas.
Ruang lingkup yang terdapat pada Intelligent Transport System (ITS) menurut Tukan (2010) adalah sebagai berikut :
1. Advanced Traveller Information System : sistem ini secara prinsip adalah sistem informasi yang menjadi panduan kendaraan untuk mendapatkan rute jalan yang optimal.
2. Advanced Traffic Management System yaitu sistem yang digunakan oleh pengelola jalan untuk memantau lalu lintas dan memberikan informasi real time kepada pengguna jalan.
3. Incident Management System adalah sistem informasi yang digunakan untuk berbagai kejadian darurat, misalkan kecelakaan, longsor atau bencana lainnya.
4. Electronic Toll Collection System.Persoalan klasik pada jalan tol adalah lama waktu yang diperlukan untuk transaksi pelanggan di gerbang tol.
5. Assistance For Safe merupakan bentuk dari ITS yang sangat maju. Kendaraan dilengkapi dengan sejumlah sensor yang dapat mengarahkan pengemudi unuk berkendara dengan aman.
Support for Public Transportation, ITS jenis ini diterapkan pada moda transpotasi umum, misalnya: bus/truk, kapal laut, feri dan pesawat terbang.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian
Pada tahapan penelitian yang akan dilakukan diawali dengan studi literatur, selanjutnya melakukan identifikasi dan perumusan masalah, pengumpulan data sekunder, penentuan titik sampling, pengambilan data primer yaitu koordinat kendaraan, jenis dan jumlah kendaraan, sumber emisi lain di sekitar jalan, melakukan perhitungan dengan metode IPCC, melakukan analisis data yang didapat secara kuantitatif, deskriptif, dan komparatif. Diagram alir penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.1
Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian Sumber : Penulis,2019
Studi Literatur
Penentuan Titik Sampling Identifikasi dan Perumusan Masalah
Pengumpulan Data Sekunder
Data Fisik Jalan Panjang dan Lebar
Jalan Data
Pertumbuhan Kendaraan
Faktor Emisi CO2
dan N2O (IPCC,1996)
Pengambilan Data Primer 1. Koordinat Titik Sampling
2. Jenis Kendaraan (Mobil, Motor, Truk, Bus) 3. Jumlah Kendaraan
4. Sumber Emisi lain di sekitar jalan
Kesimpulan dan Saran Mulai
Selesai
Analisis dan Pembahasan
1. Menghitung Beban Emisi Berdasarkan IPCC tahun 1996
2. Menganalisis Pengaruh Jumlah Kendaraan Terhadap Beban Emisi dengan melakukan uji Korelasi menggunakan SPSS versi 17
3. Menentukan skenario penurunan emisi gas rumah kaca