• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

4.2.1 Status Gizi Orang dewasa di Desa Pasir Mukti

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Orang Dewasa di Desa Pasir Mukti mempunyai status gizi lebih yaitu sebanyak 41 (53,3%) responden dan status gizi baik yaitu sebanyak 39 (50,6%).

Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa paling banyak responden memiliki status gizi lebih. Meskipun jumlah responden yang memiliki status gizi lebih jumlahnya paling banyak, namun perbandingan jumlah responden yang memiliki status gizi normal tidak jauh berbeda dengan responden yang memiliki status gizi lebih. Hal ini dikarenakan kurangnya aktivitas fisik yang menyebabkan terjadinya penambahan berat badan, perubahan gaya hidup yang merujuk pada pola makan tinggi kalori, lemak dan kolesterol.

Tingkat stress dapat dipengaruhi oleh respons seseorang (Nasir A, 2011). Saat dalam keadaan stress orang dapat mengalami perubahan perilaku salah satunya perubahan nafsu makan, tetapi responden banyak melakukan pelarian terhadap perilaku ketika stress , responden lebih banyak melakukan sesuatu yang tidak terbiasa menjadi terbiasa tetapi bukan faktor perilaku makan yang menjadi acuan stress. Responden melampiaskan stress lebih mencari kegiatan baru dan melakukan kegiatan seperti memancing ,mencari ketenangan sehingga status gizi orang dewasa yang berubah dikarenakan aktivitas fisik yang rendah.

4.2.2 Pola Makan dewasa di Desa Pasir Mukti

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dewasa di Desa Pasir Mukti mempunyai pola makan yang baik, artinya kebutuhan zat gizi sudah terpenuhi, hasil ini diukur oleh frekuensi pangan (FFQ) , kurang sebanyak 12 (15,6%) responden, cukup sebanyak 18 (23,3%) responden dan baik sebanyak 47 (61,1%) responden.

Ada 77 responden yang diberikan gambaran konsumsi energi dan zat gizi lainnya dalam bentuk frekuensi konsumsi mereka, jenis bahan makanan yang tersedia seperti makanan pokok (Nasi, Jagung dan Ubi), Lauk Pauk Hewani (Daging, Ayam, Ikan Segar dan Telur), Lauk Pauk Nabati (Kacang- kacangan, tempe tahu), Sayuran (Kangkung, Bayam dan Daun Bawang) dan buah (Pepaya, Jeruk dan Apel). frekuensi tersebut antara lain harian, mingguan, bulanan dan tahunan yang kemudian dikonversikan menjadi konsumsi sehari. FFQ ini bisa memberikan gambaran pola atau kebiasaan makan individu terhadap zat gizi.

Semakin baik pola makan yang dikonsumsi makan akan mempengaruhi status gizi Dewasa di Desa Pasir Mukti. Hal ini dilihat dari status gizi responden di Desa Pasir Mukti lebih banyak memiliki status gizi lebih dikarenakan pola konsumsi makan yang baik sudah terpenuhi tetapi berlebihan dan aktivitas fisik yang rendah.

4.2.3 Hubungan Tingkat stress dengan status gizi pada Dewasa di Desa Pasir Mukti

Hasil analisis dengan Uji Chi-square diperoleh nilai p sebesar 0,077 (p>α), dari hasil ini dapat diketahui bahwa tingkat stress tidak berhubungan dengan status gizi pada orang dewasa di Pasir Mukti. Ada 77 responden yang diamati, berdasarkan data SPSS bawa orang dewasa dengan kategori tingkat stress ringan 15 (19,4%) orang dewasa, sedang 47 (62%) orang dewasa dan berat 15 (19,4%) orang dewasa. Orang dewasa dengan status gizi lebih memiliki tingkat stress sedang.

Timbulnya stress pada diri seorang akan diikuti dengan timbulnya perubahan kognitif maupun perilaku pada diri orang tersebut, reaksi ini disebut coping stress. Coping stress pada setiap individu berbeda-beda, dipengaruhi oleh jenis kelamin, kecerdasan, umur, kepribadian hingga faktor genetik (Sitepu J,dkk 2017).

Salah satu yang mempengaruhi status gizi lebih adalah tingkat stress , tetapi responden mencari solusi atau masalah yang dihadapi seperti berbicara dengan tetangga lainnya,refreshing keluar rumah bersama anaknya, karena mayoritas responden orang dewasa di Desa Pasir Mukti sebagian menjadi IRT yang hanya mengurusi anaknya saja, dan mayoritas responden Dewasa di Pasir Mukti pendidikannya SD. Hal ini bisa jadi responden tidak stress karena tidak memikirkan beban pikiran, beban kerjaan, dan beban belajar. Tingkat stress pada orang dewasa tidak langsung mempengaruhi status gizi. Tingkat Stress hanya merubah perilaku seseorang dari yang tidak terbiasa dilakukan menjadi terbiasa, jadi tingkat stress itu tidak langsung mempengaruhi status gizi namun lambat laun efeknya akan merubah pola makan yang salah, Contohnya beberapa responden yang stress mengalami susah tidur sehingga durasi tidurnya tidak normal. Namun sebagian pula responden yang stress tidak melakukan hal yang sama dan serupa, tetapi mereka melakukan perubahan perilaku makan. Faktor emosional ketika stress saja tidak cukup

Lazarus dan Folkam dalam yang dikutip dari Fyrzha (2011) yang menjelaskan bahwa reaksi terhadap stress sangat tergantung pada bagaimana individu menafsirkan atau menilai arti dari peristiwa yang mengancam.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rica Ervienia Sukianto,dkk 2019. Diperoleh nilai hasil p sebesar 0,618 dan nilai koefisien sebesar 0,061 bahwa tidak terdapat hubungan tingkat stress dengan status gizi. Pada pegawai status gizi tidak berlebih tidak stress 16 (94,12%), status gizi berlebih tidak stress 40 (78,43%), status gizi berlebih stress 1 (5,88%) dan status gizi berlebih tidak stress 11 (21,57%). Dimungkinkan akibat coping stress yang dilakukan responden tidak memiliki pengaruh terhadap status gizi responden, mengingat beragamnya coping stress yang dapat dilakukan untuk mengendalikan tekanan-tekanan. Namun, penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Anitha Bunga Manginte,2015 dimana stress berhubungan dengan status gizi.

Diperoleh nilai p=0,003, yang membutuhkan hanya 35 responden saja dimana stress lebih banyak dari yang tidak stress sebanyak 19 responden (54,3%). Hal ini dikarenakan berbeda nya subjek dan jumlah subjek yang dijadikan penelitian dan peneliti ini dilakukan oleh Mahasiswa dimana Mahasiswa tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dari dalam dirinya , memiliki karakter kepribadian yang berbeda sehingga adanya perbedaan reaksi terhadap sumber stress yang sama, yang disebabkan karena intensitas stressor yang dihadapi responden lebih lima bulan selama pengerjaan skripsi selain itu juga responden masih memiliki bebrapa mata kuliah, tugas-tugas yang masih harus diselesaikan, pengurusan nilai-nilai yang belum beres dan belum mampu mengelola stress dengan baik.

4.2.4 Hubungan aktivitas fisik dengan status gizi pada Dewasa di Desa Pasir Mukti

Hasil analisis dengan Uji Chi-square diperoleh nilai p sebesar 0,002 (p<α), dari hasil ini dapat diketahui bahwa aktivitas fisik berhubungan dengan status gizi pada orang dewasa di Pasir Mukti.

Ada 77 responden yang diamati, berdasarkan pengolahan data bahwa orang dewasa dengan kategori aktivitas fisik (sedang dan berat) 51 orang ( 66,3%) dewasa memiliki aktivitas sedang dan berat dengan mayoritas diantaranya memiliki status gizi normal, sedangkan 26 (33,7%) orang dewasa

memiliki aktivitas ringan dengan mayoritas diantaranya memiliki status gizi lebih.

Menurut Kemenkes 2014, Aktivitas fisik yang ringan adalah salah satu faktor pemicu status gizi lebih. Aktivitas fisik yang ringan pada orang dewasa mayoritas adalah IRT karena cenderung lebih banyak yang tidak bekerja berat, melakukan aktivitas ringan seperti menyapu, mengepel dan duduk saja. Aktivitas fisik yang sedang dan berat pada orang dewasa mayoritas buruh dan pekerja lainnya karena lebih banyak melakukan aktivitas diluar rumah seperti buruh yang bekerja di teknik mesin.

Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi adalah aktivitas fisik. Asupan energi yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan pengeluaran energi yang seimbang (kurang melakukan aktivitas fisik) akan menyebabkan terjadinya penambahan berat badan, perubahan gaya hidup yang merujuk pada pola makan tinggi kalori, lemak dan kolesterol dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik dapat menimbulkan masalah gizi lebih (Hidayati,2010).

Aktivitas fisik yang rendah juga akan mempengaruhi perubahan status gizi karena kurangnya suatu gerakan dari dalam tubuh sehingga terjadi penumpukkan kalori dan zat lainnya di tubuh. Pada orang dewasa perempuan yang menjadi IRT cenderung memiliki aktivitas fisik yang rendah karena tidak adanya aktivitas luar yang dilakukan dan kurangnya gerakan tubuh sehingga mempengaruhi status gizi nya.

Aktivitas fisik akan mempengaruhi terjadinya status gizi yang disebabkan adanya ketidakseimbangan anatara asupan intake energy kedalam tubuh dan energy yang dikeluarkan oleh tubuh. Status gizi dengan kategori gemuk dan obesitas bukan hanya akibat karena pola makan yang buruk saja.(Colley,2013). Ketimpangan dalam masukan dan pemakaian kalori juga dapat disebabkan oleh rendahnya aktivitas fisik (sudargo,2014).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitri Raya Hasibuan 2021 diperoleh nilai p sebesar 0,019 (p<α). Pada pedagang di pasar Raya Medan Mega Trade Center, bahwa dari 96 pedagang aktivitas fisik ringan 31 orang (32,3%), aktivitas fisik sedang 45 orang (46,9%), dan aktivitas fisik berat 20 (20,8%). Ada sebanyak 65 pedagang yang memiliki

normal sebesar 24,6%. Sedangkan pada 31 pedagang lainnya memiliki aktivitas fisik kurang aktif (ringan) dengan mayoritas diantaranya memiliki status gizi berat badan lebih dan obesitas dengan persentase sebesar 48,8%

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Isana Feby Dheany 2020 diperoleh nilai sebesar 0,001 sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan aktivitas fisik dengan status gizi pada dewasa usia 20-24 di Provinsi Jawa tengah dengan menggunakan uji Chi Square. Berdasarkan data penelitian bahwa sebanyak 14,5% status gizi obesitas memiliki aktivitas fisik cukup. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulan Nugrayanti,et al 2020 disimpulkan ada hubungan antara aktivitas fisik dengan status gizi pada atlet diperoleh nilai p sebesar 0,000 (< 0,05) dimana 35,5% aktivitas fisik atlet normal lebih besar dari aktivitas fisik atlet tidak normal.

4.2.5 Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi pada Dewasa di Desa Pasir Mukti

Hasil analisis dengan Uji Chi-square diperoleh nilai p sebesar 0,005 (p<α), dari hasil ini dapat diketahui bahwa pola makan berhubungan dengan status gizi pada Dewasa di Desa Pasir Mukti.

Ada 77 responden yang diamati, berdasarkan pengolahan data bahwa dewasa dengan memiliki pola makan kurang 12 orang ( 66,3%), dewasa memiliki pola makan cukup 18 orang ( 23,3%) dan dewasa memiliki pola makan lebih 47 orang (61%) dengan mayoritas diantaranya memiliki pola makan lebih sebanyak 47 orang (61%) dan memiliki status gizi lebih.

Pola makan adalah banyaknya jumlah bahan pangan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi seseorang. Dengan demikian diharapkan pola makan yang beraneka ragam dapat memperbaiki status gizi seseorang. Berdasarkan hasil pola makan responden dewasa di Desa Pasir Mukti, sebagian memiliki pola makan yang baik yang berarti sudah mencukupi sehingga cenderung status gizi mayoritas memiliki gizi lebih (Sulistyoningsih,2011).

Pola makan sebagai salah satu indikator gaya hidup, memiliki pengaruh terhadap status gizi. Pola makan yang tidak sehat yaitu rendah serat dan tinggi lemak dapat mengakibatkan peningkatan berat badan. Status gizi pada orang dewasa dipengaruhi konsumsi makanan sehari-hari dan aktivitas fisik. Orang dewasa cenderung kurang memperhatikan asupan makanannya.

Mereka lebih suka dengan makanan yang manis, berlemak dan gurih.

Sedangkan makanan yang mengandung serat seperti buah dan sayur sering diabaikan, hal ini dapat menyebabkan tidak seimbangnya makanan yang pada akhirnya menyebabkan kegemukan (Kurniasih, dkk dalam junaz 2015).

Responden Dewasa di Desa Pasir Mukti melakukan pola makan 3 kali sehari dan responden lebih banyak makan tinggi karbohidrat dan tinggi lemak dan tidak sesuai takaran yang sudah disesuaikan. Responden juga jarang mengkonsumsi buah dan sayur karena sebagian tidak suka sayur dan buah, sehingga responden memiliki status gizi lebih.

Peneliti ini sejalan dengan penelitian Fitri Raya Hasibuan,2021 didapatkan nilai p-value sebesar 0,000 sehingga disimpulkan terdapat hubungan antara pola makan dengan status gizi menggunakan uji Chi-Square.

Dari 96 pedagang yang diamati terdapat 73 pedagang yang memiliki pola makan yang tidak baik dengan mayoritas diantaranya memiliki kategori status gizi lebih dan obesitas dengan persentase sebesar 75,3%.

4.3 Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian ini terdapat kekurangan dari peneliti maupun dari responden yaitu adanya pertanyaan kuesioner yang belum terisi atau terlewatkan. Karena masa pandemi ada batas waktu untuk tatap muka langsung, Sehingga pertanyaan responden yang belum terisi akan ditanyakan secara online dengan cara menghubungi responden melalui Whatsapp untuk menanyakan kembali pertanyaan yang belum terisi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Hubungan Tingkat Stress dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi pada Orang Dewasa di Desa Pasir Mukti, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Status Gizi Pada Dewasa di Desa Pasir Mukti mengalami gizi lebih. Dari 77 responden orang dewasa terdapat 41 (53,3%) orang dewasa yang mengalami gizi lebih dan 36 (46,7%) orang dewasa yang memiliki gizi baik.

2. Tingkat stress Dewasa di Desa Pasir Mukti, dari 77 responden ditemukan sebanyak 39 (50,6%) orang dewasa memiliki tingkat stress rendah , 24 (31,2%) orang dewasa memiliki tingkat stress ringan dan 14 (18,2%) orang dewasa memiliki tingkat stress berat.

3. Aktivitas fisik Dewasa di Desa Pasir Mukti, dari 77 responden ditemukan sebanyak 24 (31,2%) orang dewasa memiliki aktivitas fisik rendah, 38 (49,3%) orang dewasa memiliki aktivitas fisik sedang dan 15 (19,5%) orang dewasa memiliki aktivitas fisik berat.

4. Pola Makan Dewasa di Desa Pasir Mukti mempunyai pola makan yang baik, artinya kebutuhan zat gizi sudah terpenuhi, hasil ini diukur oleh frekuensi pangan (FFQ) , kurang sebanyak 12 (15,6%) responden, cukup sebanyak 18 (23,3%) responden dan baik sebanyak 47 (61,1%) responden.

5. Hasil analisis uji statistik Chi-square pada penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan aktivitas fisik dengan status gizi pada Dewasa di Pasir Mukti, dengan nilai p-value sebesar 0,001.

6. Hasil analisis uji statistik Chi-square pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan tingkat stress dengan status gizi pada Dewasa di Pasir Mukti, dengan nilai p-value sebesar 0,067

7. Hasil analisis uji statistik Chi-Square pada penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan pola makan dengan status gizi pada Dewasa di Desa Pasir Mukti, dengan nilai p-value sebesar 0,005.

5.2 Saran

1. Bagi Responden

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pengetahuan terhadap pentingnya aktivitas fisik dan tingkat stress pada Orang dewasa,

agar memperhatikan status gizi, karena aktivitas fisik, tingkat stress dan pola makan mempunyai peranan yang baik terhadap status gizi.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan penelitian selanjutnya bagi institusi di Universitas Binawan dan pihak-pihak yang membutuhkan informasi dalam mengatasi masalah status gizi lebih pada orang dewasa.

3. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi penulis dalam menambah wawasan dan pengetahuan dalam mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan

4. Bagi peneliti selanjutnya

Diharapkan peneliti selanjutnya melakukan penelitian lain untuk melakukan penelitian dengan design penelitian yang berbeda agar tidak hanya menggambarkan hubungan antar variabel saja tetapi dapat mengetahui sebab akibat dari setiap variabel yang berkaitan dengan status gizi pada dewasa.

DAFTAR PUSTAKA

Abadini, D & Wuryaningsih, C, E,. 2019. Determinan Aktivitas Fisik Orang Dewasa Pekerja Kantoran di Jakarta Tahun 2018. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 14(1), 15-28

Adhitya, S. D. 2016. Tingkat Aktivitas Fisik Operator Layanan Internet Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. [Skripsi] Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negri Yogyakarta: Yogyakarta

Agustin, F., Fayasari, A., & Dewi, G. K. 2018. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Gizi Seimbang Terhadap Status Gizi Lebih Pada Pegawai Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Suroso Jakarta Utara. Ilmu Gizi Indonesia. 1 (2):93-103.

Almatsier, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Angesti, A, N,. & Manikam, R, M. 2020. Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Mahasiswa Tingkat Akhir S1 Fakultas Kesehatan Universitas Mh. Thamrin. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 12(1), 1-15

Berita Daerah Kota Bogor. 2018. Peraturan Walikota Kota Bogor Nomor 84 Tahun 2018 Tentang Rencana Aksi Daerah Pangan Dan Gizi Kota Bogor Tahun 2020-2024.Bogor: Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum.

https://jdih.kotabogor.go.id/assets/file/peraturan/20190424031739.pdf (Diakses 1 November 2020).

Budhayanti, W.2018. Status Gizi dan Status Tanda Vital Mahasiswa Akfis UKI.ISSN e-journal.5:544-556

Damayanti A S.2016. Hubungan Citra Tubuh, Aktivitas Fisik, Dan Pengetahuan Gizi Seimbang Dengan Status Gizi Remaja Putri [Skripsi Tesis], Universitas Airlangga.

Dheany, I F.2020.Frekuensi Konsumsi Softdrink, Aktivitas Fisik Dan Status Gizi Pada Orang Dewasa Usia 20-24 Tahun Di Provinsi Jawa Tengah (Analisis Riset Data Kesehatan 2018).[Skripsi]. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Ditya, T. 2018. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Polasi Dewas Di Dusun Dlingseng, Kulon Progo D.I. Yogyakarta.

[Skripsi] Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma: Yogyakarta.

Erliana, E & Hartoto, S. 2019. Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa. Jurnal Mahasiswa, 7(2), 225-228.

Fatah,Nurul.2014.Hubungan Pola Makan Terhadap Pertumbuhan Anak Di Sd Negeri 1 Karangjambe Kecamatan Wanadadi Kabupaten

Banjarnegara.[Thesis]UMP:Semarang.

Husain, A., Tendean, L., & Queljoe, E. D. 2015. Pengaruh Kelebihan Berat Badan / Overweight. Jurnal e-Biomedik (eBm), 3(3), 1-4.

Heryuditasari, K.2018.Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Obesitas.[skripsi]

Fakultas Ilmu Keperawatan Insan Cendekia Media: Jombang

Irwan.2009.Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang kesehatan : JDIH BPK RI. https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/38778/uu-no-36-tahun- 2009. (Diakses 30 oktober 2020)

Jahja,Y. 2011. Psikologi Perkembangan Dewasa Akhir Universitas Sumatra Utara http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/19289/Chapter%20l.

pdf?sequence=5&isAllowed=y. (Diakses pada 1 November 2020)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No 28_Th_20 19_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Ind onesia.pdf (diakses 29 Oktober 2020, jam 06:38 WIB).

_____________________________________________.2018.Survey Konsumsi Pangan.Jakarta: Badan Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia

Kesehatan.http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wpcontent/uploads/201 8/09/Survey-Konsumsi-Pangan_SC.pdf ( Diakses 22 Oktober 2020)

_____________________________________________.2018.Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS), Jakarta: Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan Republik Indonesia.

https://www.litbang.kemkes.go.id/laporan-riset-kesehatan-dasar-riskesdas/

(Diakses 14 Oktober 2020 )

______________________________________________.2018 Laporan Provinsi Jawa Barat Riskesdas 2018. Jakarta: Lembaga Penerbit Badan Penelitian danPengembanganKesehatan.https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.ph p/lpb/article/view/3662 (Diakses 30 Oktober 2020)

______________________________________________.2018. Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RepublikIndonesia.https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdat in/profilkesehatan-indonesia/PROFIL_KESEHATAN_2018_1.pdf (Diakses 14 Oktober 2020)

Kompas.2014.Pengertian Gizi Lebih atau Over Nutrition Menurut WHO.https://

Nadhila, N. 2016. Motivasi Penyandang Disabilitas Fisik Tuna Netra Usia

Dewasa Awal dan Dewasa Madya.

motivasipenyandangdisabilitasfisiktunanetra_NurinNadhilla.pdf (Diakses 15 oktober 2020).

Nidayanti, S. 2019. Hubungan Tingkat Pengetahuan Asupan Gizi dan Aktivitas Terhadap Status Gizi Atlet Sepak Bola PS Kerinci Tahun 2018.[Skripsi].

Program Studi Gizi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Sumbar.

Peraturan Pemerintah Pusat.2009. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta. Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum BPK RI.

Perdana, M, D, P. 2018. Gambaran Tingkat Aktivitas Fisik Pada Usia Dewasa Awal.[Skripsi]. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah: Yogyakarta

Purnama,H., & Suahda, T. 2019. Tingkat Aktivitas Fisik Pada Lansia Di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. e-issn. 5(2):102-106

Putra, Y, W & Rizqi, A, S. 2018. Index Massa Tubuh (Imt) Mempengaruhi Aktivitas Remaja Putri Smp Negeri 1 Sumberlawang. Gaster, 15(1), 105- 115.

Rahmayani,R.D.2019. Gambaran Tingkat Stres Berdasarkan Stressor Pada Mahasiswa Kedokteran Tahun Pertama Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.jurnal fk unand.8(1):103-110 Ranggadwipa, D.D.2014. Hubungan Aktivitas Fisik dan Asupan Energi Terhadap

Massa Lemak Tubuh dan Lingkar Pinggang pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.[Skripsi] Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro : Semarang

Rusyadi, S.2017.Pola Makan Dan Tingkat Aktivitas Fisik Mahasiswa Dengan Berat Badan Berlebih Di Universitas Negri Yogyakarta.[skripsi] Fakultas Teknik Universitas Negri Yogyakarta: Yogyakarta

Roring, M.N.2020.Hubungan Antara Pengetahuan Gizi, Aktivitas Fisik, Dan Intensitas Olahraga Dengan Status Gizi.Jurnal Biomedik, 12(20), 110-116 Safitri, D. E., & Rahayu, N. S. 2020. Determinan Status Gizi Obesitas pada Orang

Dewasa. Arkesmas, 5(1), 1-15.

Saputra,M.2016. Analisis Status Gizi Buruk Dan Gizi Kurang Pada Balita Di Kota Bengkulu Tahun 2016. [Skripsi] Fakultas Kesehatan masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dehasen:Bengkulu

Sugiyanto, Alhusna & Puspowati D. 2017. Hubungan Kebiasaan Konsumsi Lemak Dan Aktivitas Fisik Terhadap Status Gizi Pada Pegawai Di Kantor Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam (Fmipa) Universitas

Negeri Yogyakarta. [Skripsi thesis]. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Suharsa, H. & Sahnaz. 2016. Status Gizi Lebih Dan Faktor-Faktor Lain Yang Berhubungan Pada Siswa Sekolah Dasar Islam Tirtayasa Kelas IV Dan V Di Kota Serang Tahun 2014. Jurnal Lingkar Widyaiswara, 3(1), 53-76 Supariasa. 2016. Ilmu Gizi Teori dan Aplikasi. Jakarta: EGC Hidayat.

Sorongan, C. I. 2012. Hubungan Antara Aktivitas Fisik Dengan Status Gizi Pelajar Smp.[Skripsi] FKM Universitas Sam Ratulangi: Manado

Tommy, A.2018. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Populasi Dewasa di Dusun Dlingseng, Kulon Progo, D.I.

Yogyakarta.[Skripsi] Fakultas Farmasi Universitas Sanatha Dharma:Yogyakarta

WHO.2018. Pengertian Aktivitas Fisik.

http://www.who.int/topics/physical_activity/en/, (Diakses 22 oktober 2018)

Yudrik, J. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT. Kharisma Putra Utama.

245-249

LAMPIRAN

Lampiran 1 :

LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN

Bersama surat ini saya Khalda Gina Aulia, mahasiswi Universitas Binawan, selaku peneliti utama dalam penelitian dengan judul “ Hubungan Tingkat Stres dan Aktivitas Fisik Terhadap Status Gizi Pada Orang Dewasa di Desa Pasir Mukti” memohon kesediaan saudara/i untuk menjadi responden penelitian tersebut dan bersedia mengisi kuesioner yang terlampir.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stress dan aktivitas fisik terhadap status gizi pada orang dewasa di desa pasir mukti.

Penelitian ini membutuhkan responden sebanyak 77 responden dari orang dewasa di Desa Pasir Mukti dengan metode cross sectional. Penelitian ini sudah mendapatkan izin dari pihak dari Desa Pasir Mukti.

A. Kesukarelaan untuk ikut penelitian

Saudara/i bebas memilih keikutsertaan menjadi responden dalam penelitian ini tanpa adanya paksaan. Apabila saudara/i telah memutuskan untuk ikut, anda juga bebas untuk mengundurkan diri atau berubah pikiran tanpa dikenai denda ataupun sanksi lainnya

B. Prosedur penelitian

Prosedur penelitian adalah sebagai berikut :

e. Responden akan diberikan penjelasan mengenai penelitian terlebih dahulu secara tertulis. Penelitian ini membutuhkan persetujuan dari pihak desa. Pihak desa akan diberikan lembar persetujuan yang menyatakan bahwa Bapak/Ibu mengizinkan anaknya menjadi responden dalam penelitian ini. Setelah itu lembar persetujuan dapat dikembalikan ke peneliti.

f. Tahap selanjutnya, orang dewasa akan diukur data antropometri yang berupa berat badan dan tinggi badan. Dalam penelitian ini,protokol yang saya terapkan yaitu responden wajib mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer sebelum diukur dan wajib menggunakan masker dan menjaga jarak serta responden yang akan diukur dibatasi

Dokumen terkait