• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Tingkat stress

intensitas aktivitas fisik menggunakan cara mengalikan pengeluaran energi istirahat. Sebagai contoh, melakukan aktivitas yang membutuhkan konsumsi oksigen sebanyak 10,5 mL O2/kg/menit setara dengan 3 MET yaitu, 3 kali dari tingkat istirahat (Strath et al., 2013).

Salah satu kuesioner untuk pengukuran aktivitas fisik ialah kuesioner Aktivitas Fisik International (IPAQ) yang memiliki dua versi, panjang dan pendek. Berdasarkan pedoman proses data IPAQ – short & long form (2005). Karakteristik dari IPAQ ialah sebagai berikut:

a. IPAQ mengukur aktivitas fisik yang dilakukan di seluruh domain lengkap meliputi: Aktivitas fisik di waktu luang, Aktivitas domestik dan berkebun, Aktivitas fisik terkait kerja, Aktivitas fisik terkait transportasi

b. IPAQ menanyakan tentang tiga tipe spesifik aktivitas yang dilakukan di empat domain di atas. Tipe aktivitas spesifik yang dinilai adalah berjalan, aktivitas intensitas sedang, dan aktivitas intensitas berat.

c. Item-item dalam IPAQ versi pendek telah terstruktur untuk menyediakan skor terpisah pada aktivitas berjalan, aktivitas intensitas sedang, dan aktivitas intensitas berat.

Komputasi dari total skor memerlukan penjumlahan dari durasi (dalam menit) dan frekuensi (dalam hari) dari kegiatan tersebut.

2.4 Tingkat stress

fisiologis. Stress emosi dapat menimbulkan perasaan negatif atau destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain. Stress intelektual akan mengganggu persepsi dan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah, Stress social akan mengganggu hubungan individu terhadap kehidupan (Rasmun, 2004). Stres menurut Priyoto (2014) adalah suatu reaksi fisik dan psikis terhadap suatu tuntutan yang menyebabkan ketegangan dan mengganggu stabilitas kehidupan sehari-hari. Stres dapat memengaruhi asupan dan status gizi seseorang. Saat mengalami stres, seseorang cenderung tidak selera makan atau sebaliknya akan makan berlebihan yang berdampak pada adanya perubahan status gizi (Nurkhopipah, 2017).

2.4.2 Bentuk stress

Menurut (Lumongga LN, 2009) bentuk stres dibagi menjadi dua yaitu:

a. Distres

Distres merupakan bentuk stres negatif yang dapat mengganggu, merusak dan merugikan. Keadaan ini dapat muncul bila individu tidak mampu mengatasi keadaan emosinya. Ciri-ciri individu yang mengalami distres yaitu mudah marah, cepat tersinggung, sulit berkonsentrasi, sukar mengambil keputusan, pelupa, pemurung, tidak energik dan cepat bingung.

b. Eustres

Eustres adalah bentuk stres yang positif. Keadaan stres yang menimpa individu dapat dikelola dengan baik dan justru memberi manfaat dan semangat positif dalam menghadapi suatu kejadian atau mencapai sesuatu.

2.4.3 Tingkat stress

Menurut Priyoto (2014) stres dapat dibagi menjadi tiga tingkat,

yaitu:

a. Stres Rendah

Stres rendah adalah stresor yang dihadapi setiap orang secara teratur, seperti terlalu banyak tidur, kemacetan lalu lintas, kritikan dari atasan. Situasi seperti ini biasanya berlangsung beberapa menit atau jam. Stresor rendah biasanya tidak disertai dengan gejala yang berat. Ciri- cirinya, yaitu semangat meningkat, penglihatan tajam, energi meningkat, kemampuan menyelesaikan pekerjaan meningkat. Stres yang rendah berguna, karena dapat memacu seseorang untuk berpikir dan berusaha lebih tangguh untuk menghadapi tantangan hidup.

b. Stres Sedang

Berlangsung lebih lama dari beberapa jam sampai beberapa hari. Situasi perselisihan yang tidak terselesaikan dengan rekan, anak yang sakit, atau ketidakhadiran dari anggota keluarga merupakan penyebab stres sedang. Ciri- ciri dari stres sedang, yakni sakit perut, otot-otot terasa tegang, perasaan tegang, dan gangguan tidur.

c. Stres Tinggi

Stres pada kategori tinggi adalah situasi yang lama dirasakan oleh seseorang dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan, seperti perselisihan perkawinan secara terus menerus, kesulitan finansial yang berlangsung karena tidak ada perbaikan, berpisah dengan keluarga, berpindah tempat tinggal, dan memiliki penyakit kronis. Ciriciri dari stres pada kategori tinggi, yaitu sulit beraktivitas, gangguan hubungan sosial, sulit tidur, negativistik, penurunan konsentrasi, takut tidak jelas, keletihan meningkat, tidak mampu melakukan pekerjaan sederhana, gangguan sistem meningkat, dan perasaan takut

meningkat.

2.4.4 Gejala stress

Gejala stres yang muncul umumnya dibagi ke dalam tiga aspek yaitu :

1. gejala fisik berupa gangguan tidur (tidak bisa tidur atau terbangun tengah malam dan tidak bisa melanjutkan tidurnya) dan berubahnya selera makan.

2. Gejala emosional berupa perubahan suasana hati, merasa gelisah, cemas dan tidak memiliki semangat dalam melakukan akivitas (malas).

3. Gejala berupa tidak bisa fokus dalam berpikir, pikiran menjadi kacau dan berpikir negatif menjadi meningkat (Astiko, 2013 dalam Putri & Savari, 2013); dan pikiran menjadi kacau (Rini, Kartika, & Qurroyzhin, 2007).

2.4.5 faktor yang mempengaruhi stress

Faktor yang mempengaruhi stress terbagi menjadi 2 faktor yaitu faktor internal dan eksternal:

1. Faktor internal :

Faktor tipe kepribadian. Individu dengan tipe kepribadian A sangat kompetitif dan berorientasi pada pencapaian, merasa waktu selalu mendesak dan sulit untuk bekerjasama dengan orang lain yang dianggap olehnya tidak kompeten. Tipe kepribadian ini memiliki kerentanan yang tinggi terhadap stress (Nechita F, Nechita D, Pirlog M-C, Rogoveanu 2014)

Kondisi fisik merupakan salah satu faktor internal penyebab stres. Didapatkan adanya kesulitan tidur, nutrisi dan olahraga yang kurang serta penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, kesulitan tidur merupakan penyebab tersering terjadinya stress ((Shah M, Hasan S,

Malik S, Sreeramaredd, 2010).

2. Faktor eksternal :

Sebagai faktor eksternal, peran orang tua dan keluarga juga turut mempengaruhi kejadian stress, Orang tua berperan dalam mendidik, mendisiplinkan, membimbing serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma yang berlaku. Konflik ini yang kemudian dapat menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri dan memicu terjadinya stres. Selain itu, tingginya harapan orang tua atas keberhasilan juga mempengaruhi kejadian stress (Shah M, Hasan S, Malik S, Sreeramaredd, 2010).

2.4.6 Pengukuran tingkat stress

Tingkatan stres ini diukur dengan menggunakan Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) oleh Lovibond & Lovibond (1995). DASS adalah seperangkat skala subyektif yang dibentuk untuk mengukur status emosional negatif dari depresi, kecemasan dan stres. DASS 42 dibentuk tidak hanya untuk mengukur secara konvensional mengenai status emosional, tetapi untuk proses yang lebih lanjut untuk pemahaman, pengertian, dan pengukuran yang berlaku di manapun dari status emosional, secara signifikan biasanya digambarkan sebagai stres. DASS dapat digunakan baik itu oleh kelompok atau individu untuk tujuan penelitian. Tingkatan stres pada instrumen ini berupa normal, ringan, sedang, berat, sangat berat. Psychometric Properties of The Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS) terdiri dari 42 item, yang mencakup 3 subvariabel, yaitu fisik, emosi/psikologis, dan perilaku. Jumlah skor dari pernyataan item tersebut, memiliki makna 0-29 (normal), 30-59 (ringan), 60-89 (sedang), 90-119 (berat), >120 (Sangat berat).

2.4.7 Skoring kuesioner Dass 42

Skoring untuk penilaian kuesioner tingkat stress

menggunakan DASS 42 adalah

- Skala depresi : 3, 5, 10, 13, 16, 17, 21, 24, 26, 31,34, 37, 38, 42.

- Skala kecemasan : 2, 4, 7, 9, 15, 19, 20, 23, 25, 28, 30,36, 40, 41.

- Skala stress : 1, 6, 8, 11, 12, 14, 18, 22, 27, 29, 32, 33, 35, 39.

Tabel 3. Indikator penilaian skoring DASS 42

Tingkat Depresi Kecemasan Stress

Normal 0-9 0-7 0-14

Ringan 10-13 8-9 15-18

Sedang 14-20 10-14 19-25

Parah 21-27 15-19 26-23

Sangat parah >28 >20 >34

Sumber: Mubarak, et al ( 2015)

Dokumen terkait