• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Pemerintahan Kelurahan

Dalam dokumen PERSETUJUAN PEMBIMBING (Halaman 57-61)

A. Hasil Penelitian

6. Struktur Pemerintahan Kelurahan

Dari hasil dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti, dalam pelaksanaan pemerintahan desa terdapat struktur pemerintahan yang ada di dalamnya, sturktur tersebut menggambarkan struktur kerja pemerintahan Kelurahan yang ada di Kelurahan Lompo Riaja Kecamatan Tanete Riaja Kabupate Barru. Srtuktur Pemerintahan Kelurahan yang ada di Kelurahan Lompo Riaja yang diperoleh dari buku profil Kelurahan, dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Struktur Organisasi Pemerintahan Kelurahan Lompo Riaja

Tabel di atas menegaskan pola/tata pembagian dan hubungan unit-unit organisasi pemerintahan Kelurahan Lompo Riajaberdasarkan kedudukan, tugas dan fungsi unit-unit kerja dalam struktur organisasi pemerintahan desa.

Kepala Kelurahan

BPD

Sekertaris Kelurahan

Ka. UR.

KEU.

Ka. UR.

PEM.

Ka. UR.

PEMB.

Ka. UR.

UMUM.

Kepala Lingkungan

Kepala Lingkungan

Kepala Lingkungan

Kepala Lingkungan

41

1) Stratifikasi Sosial

Menurut Soerjono Soekanto bahwa dalam suatu masyarakat ada sesuatu yang dihargai dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai.

Maka barang sesuatu itu menjadi bibit yang akan menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat tersebut. Sesuatu yang dihargai mungkin berupa tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan, keturunan atau keluarga terhormat.

Pelapisan sosial sebagaimana yang nampak dalam pergaulan sehari-hari di Desa Lompo Riaja umumnya didasarkan pada faktor kemampuan pribadi (keturunan, kekayaan, pendidikannya atau kemampuan menggalang/ memotivasi dan lain-lain). Seseorang yang dulunya bukan keturunan bangsawan atau orang yang dihormati akan tetapi dengan usaha kerja keras dan ditunjang oleh kemampuan pribadi telah menjadi kaya karena dia adalah seorang yang berpendidikan tinggi sehingga berpengaruh dalam masyarakat. Dengan kata lain, bahwa stratifikasi sosial di Kelurahan Lompo Riaja sifatnya terbuka sehingga dapat memberi peluang yang sama kepada setiap anggota masyarakat untuk menempati kelas atas.

Bagaimanapun juga, proses stratifikasi sosial sesuatu masyarakat selalu terkait oleh kebudayaan serta perkembangan sejarahnya seiring dengan perubahan zaman akibat modernisasi dan kemajuan teknologi yang telah membawa perubahan-perubahan nilai dan patokannya sehingga terbentuklah sistem stratifikasi sosial yang baru. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dimanfaatkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian

42

memunculkan patokan/ukuran stratifikasi sosial yang baru. Patokan yang dulunya menentukan seseorang pada strata tertentu didominasi oleh keturunan serta kekayaan.Akan tetapi sekarang telah berubah dan yang menentukan strata/kelas sosial seseorang lebih banyak didominasi oleh faktor kemampuan berprestasi dalam ilmu pengetahuan dan penguasaannya serta penguasaan keterampilan disamping faktor keturunan yang memang mempunyai kemampuan pribadi yang dulunya tidak merupakan suatu keharusan.

2) Struktur Sosial Masyarakat (a) Peranan Keluarga

Masyarakat Kelurahan Lompo Riaja terdiri atas kesatuan-kesatuan kecil yang unsur-unsurnya adalah Ayah, Ibu dan anak. Kesatuan-kesatuan keluarga kecil ini merupakan inti dari pada suatu masyarakat, dalam istilah antropologi disebut rumah tangga, dalam bahasa Makassar disebut Sipammanakang.

Dibeberapa desa, keseluruhan telah mempunyai pengaruh bahasa lain sehingga keseluruhan disebut Passibijaiang Bella yang artinya persaudaraan dimana segolongan orang-orang menjadi anggota dari suatu keluarga rumah tangga dalam mana mereka itu sama-sama makan dari satu periuk.

Pembentukan rumah tangga baru sampai sekarang bagi masyarakat Kabupaten Barru umumnya dan Lompo Riajapada khususnya memproitaskan pada garis keturunan yang sama, misalnya keturunan bangsawan dalam bahasa Makassar disebut Karaeng harus kawin dengan keturunan yang sama. Dalam proses pembentukan rumah tangga tersebut sejumlah orang yang satu sama lain masih mempunyai pertalian darah dan mengakui masih mempunyai nenek

43

moyang yang sama. Hubungan mereka masih ke bawah dari perhitungan ego makin renggang, sehingga pada suatu generasi tertentu sudah tidak dapat lagi dihitung garis-garis hubungan keluarga di antara mereka.

(b) Sistem Kebudayaan

Sebagaimana halnya masyarakat Kelurahan Lompo Riajapada umumnya masih memegang teguh tata cara dari adat istiadat setempat. Masyarakat Kelurahan Lompo Riajadalam aktivitas sehari-harinya masih terkait dengan aturan-aturan yang ada, seperti contohnya upacara perkawinan, upacara kematian, upacara keagamaan dan lain sebagainya. Di dalam merealisasikan konsep-konsep tersebut, berikut ini akan dikemukakan tentang nilai-nilai kebudayaan yang masih di lakukan oleh masyarakat Lompo Riajapada umumnya yaitu sebagai berikut : Kegiatan dalam seni sastra, yang antara lain berupa pengumpulan syair-syair makassar yang biasanya berupa buku-buku oleh ahlinya yang dikenal gelora kebudayaan daerah. Sampai sekarang beberapa serial dari buku-buku tersebut masih ada dan disimpan untuk di baca oleh kalangan masyarakat baik dalam bentuk huruf lontara maupun dalam bentuk huruf latin.

Upacara-upacara khusus kedaerahan yang biasanya berupa perkawinan secara adat yang disertai dengan berbagai macam variasi dan tetek bengeknya, upacara keagamaan juga demikian halnya serta upacara kematian dan lain sebagainya.

Kegiatan dalam bentuk kesenian, yamg meliputi kecapi, gendang, seruling dan lain sebagainya. Hal ini kadangkala merupakan suatu gabungan yang berfungsi sebagai pengiring dalam kegiatan tari-tari adat dan upacara perkawinan yang merupakan pegangan daerah ini. Dan yang paling penting diketahui bahwa adat

44

saling harga-menghargai orang-orang di daerah Lompo Riaja ini masih tinggi.

Seperti halnya dalam suatu acara perkawinan ada saja orang-orang tertentu yang masih merupakan dambaan untuk hadir dalam acaranya, dengan harapan bahwa hadirnya orang-orang tersebut maka penilaiannya dari orang disekitarnya adalah tinggi dan lain-lain sebagainya

Kemudian yang terakhir adalah budaya ”Tudang Sipulung” yang merupakan pengungkapan ”Musyawarah” dalam menghadapi suatu permasalahan atau merencanakan suatu pembangunan di desa ini. Bahwa dengan melihat masih banyaknya nilai-nilai budaya yang masih memerlukan pengembangan dan pemeliharaan, maka pemerintah dengan masyarakat dalam hal ini dituntut untuk senantiasa melestarikannya baik melalui jalur formal maupun dengan melalui jalur-jalur non formal.

Dalam dokumen PERSETUJUAN PEMBIMBING (Halaman 57-61)

Dokumen terkait