2. GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH
2.4 Sumber Daya Perangkat Daerah
Dalam mengelola sumber daya yang baik akan meningkatkan kesejahteraan, dan sebaliknya pengelolaan sumber daya yang tidak baik akan berdampak buruk. Oleh karena itu, persoalan mendasar sehubungan dengan pengelolaan sumber daya adalah bagaimana mengelola sumber daya tersebut agar menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya.
Sumberdaya Dinas Perikanan terdiri dari : a. Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia Perikanan di Kabupaten Tangerang meliputi Sumber Daya Manusia yang ada di Dinas Perikanan dan Masyarakat.
Sumber Daya Manusia yang ada di Dinas Perikanan, pada periode Tahun 2018 berjumlah 38 orang Aparat Sipil Negara (ASN). Distribusi ASN yang ada di Dinas Perikanan dapat dilihat pada grafik berikut :
Grafik 2
Distribusi Pegawai Dinas Perikanan Tahun 2018
Selain ASN, sumberdaya manusia yang paling penting dan menjadi ujung tombak keberhasilan sektor perikanan berada pada nelayan, pembudidaya ikan dan pengolah/pemasar produk perikanan. Karena mereka sebagai pelaku utama dalam menggerakkan perekonomian
5 3
8 3
5 4
9 1
0 2 4 6 8 10
Jabatan Fungsional UPT BBI UPT TPI Bidang PKP Bidang P2N Bidang PPP Sekretariat Kepala Dinas
Jumlah Pegawai (orang)
25 daerah. Sedangkan jumlah masyarakat perikanan dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 2.1
Rumah Tangga Perikanan (RTP) Tahun 2018
NO RTP Jumlah (Orang)
1 Pembudidaya Ikan 4.419
2 Nelayan 11.982
3 Pengolah dan Pemasar Produk Perikanan 2.330 Sumber data : One Data Dinas Perikanan Tahun 2018
b. Sumber Daya Alam
Yang dimaksud dengan sumber daya alam perikanan dibedakan menjadi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Perikanan tangkap adalah usaha penangkapan ikan di habitat aslinya seperti danau, sungai dan laut, sedangkan perikanan budidaya adalah usaha pembiakkan ikan pada suatu tempat tertentu yang kemudian dapat dipanen.
Potensi wilayah Kabupaten Tangerang yang dimanfaatkan untuk usaha perikanan budidaya adalah :
JENIS BUDIDAYA LUAS (Ha)
Budidaya Air Payau 4.466,500
Tambak Bandeng 4.076,500
Tambak Udang 390,000
Budidaya Air Tawar 722,572
Rawa/Situ 193,990
Kolam 130,965
Eks Galian Pasir 397,617
Luasan wilayah budidaya yang ada di Tahun 2018, masih dapat dikembangkan mengingat masih luasnya wilayah yang belum termanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan budidaya. Tahun 2018 produksi ikan budidaya dari luasan yang dimanfaatkan menghasilkan 27.033,36 Ton. Data terkait produksi perikanan tangkap dan budidaya di Kabupaten Tangerang dapat dilihat pada Tabel berikut :
26 Tabel 2.2
Data Produksi Perikanan Tahun 2018
c. Sumber Daya Modal
Sumberdaya Perikanan yang termasuk ke dalam modal/kapital yang menjadi milik Pemerintah Daerah ada yang bergerak dan tidak bergerak.
Sumberdaya kapital yang tidak bergerak antara lain :
1. Balai Benih Ikan (BBI) Kaliasin 1 (satu) unit luas 4.615 m2 (Sertifikat Tanah No. AE 290962.10.04.07.15.4.00001, 6 Oktober 1993) di Kecamatan Sukamulya.
2. Tambak Dinas terdapat di :
a. Desa Ketapang Kec. Mauk seluas 145.481 m² (Sertifikat Tanah nomor 28.04.10.16.00001, tanggal 14 November 2017).12,08 Ha
b. Desa Lontar Kec. Kemeri seluas 73.800 m² (Sertifikat Tanah nomor 28.04.23.02.4.00002, tanggal 20 September 2017)
c. Desa Tanjung Pasir Kec. Teluknaga seluas 51.400 m² (Sertifikat Tanah nomor 28.04.13.12.4.00003, tanggal 20 September 2017)
3. Tempat Pelelangan Ikan (TPI), terdiri dari :
a. TPI Kronjo yang berada pada lahan dengan luas 590 m2 (Sertifikat Tanah No. 10.04.09.10.4.00001, Tanggal 5 Oktober 1993)
Jenis Usaha Produksi (ton) Laju Produksi
Tahun 2017 Tahun 2018 (%) I. Penangkapan
1. Laut
2. Perairan Umum
20.506,74 82,36
20.625,30 69,71
0,58 (0,15)
Subtotal 20.589,10 20.695,00 0,51
II. Budidaya 1. Tambak 2. Kolam 3. Japung
4. Budidaya Laut
12.274.63 7.292.95 671.3 6.679.76
11.978,61 7.371,01 536,40 16.147,34
(2,4) 1,1 (20,1) 141,7
Subtotal 26.918,64 36.033,36 33,86
Jumlah Total 47.507,74 56.728,36 19,4
27 b. TPI Cituis yang berada pada lahan dengan luas 1.715 m2 (Sertifikat
Tanah No. 10.04.12.22.4.00001, Tanggal 5 Oktober 1993)
c. TPI Tanjung Pasir yang berada pada lahan dengan luas 2.615 m2 (Sertifikat Tanah No. 10.04.13.16.4.00001, Tanggal 26 Pebruari 1998).
Di akhir Tahun 2018, asset Tempat Pelelangan Ikan Cituis sudah diserahkan ke Provinsi sedangkan 2 TPI yaitu Kronjo dan Tanjung Pasir akan bertahap proses penyerahannya di periode berikutnya. Hal ini karena sesuai dengan amanat Undang undang no 23 Tahun 2014. Adapun untuk penyelenggaraan dan pengelolaannya masih menjadi tugas dan kewajiban Kabupaten khususnya Dinas Perikanan.
4. Fasilitas Perbengkelan Kapal sebanyak 1 unit yang berlokasi di Desa Karang Serang Kecamatan Sukadiri.
Keberadaan fasilitas perbengkelan kapal di Karang Serang merupakan wujud kepedulian Pemerintah Daerah yang diiharapkan dapat merevitalisasi industri perkapalan tradisional yang mendukung pelayaran rakyat melalui stimulus fiskal hingga moneter misalnya kredit usaha. Dampak yang diharapkan dari adanya perbengkelan kapal ini adalah dapat menyerap tenaga kerja yang bekerja pada usaha pembuatan kapal, mengurangi ketergantungan dari daerah lain, mendinamiskan jasa penangkapan ikan yang dilakukan nelayan. Selain sarana/prasarana lahan tambak dan bangunan yang dimiliki Dinas, terdapat pula sarana/prasarana penangkapan berupa perahu/kapal dan alat tangkap. Rincian dari Keragaan Alat Tangkap dan Armada Penangkapan Ikan dapat dilihat dari Tabel 2.3 dan Tabel 2.4.
28 Tabel 2.3 Keragaan Alat Tangkap Ikan Tahun 2018
No Nama Alat Tangkap Jumlah
1 Bubu 18,317
2 Jr. Payang 172
3 Jr. Rajungan 461
4 Jr. Insang 1,737
5 Pancing rawe 866
6 Pancing tegak 228
7 Jr. Dogol 295
8 Garok Kerang 252
9 Sero 31
10 Jr. Udang 417
11 Bagan 108
12 (Alat Tangkap Lainnya) Sudu 284
Jumlah 23,168
Sumber : Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang Tahun 2018 Tabel 2.4 Keragaan Armada Penangkapan Ikan Awal Tahun 2018
Ukuran Kapal Jumlah
1 < 5 GT 2.346
2 5 - 10 GT 912
3 10 - 20 GT 146
4 20 - 30 GT 35
Jumlah Kapal 3.439
Sumber : Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang Tahun 2018
29 Tabel 2.3
Pencapaian Kinerja Pelayanan OPD Tahun 2013 - 2018
No Indikator Kinerja
sesuai Tugas dan
Fungsi Perangkat
Daerah
Target
IKK Target Renstra Perangkat Daerah Realisasi Capaian Tahun Ke- Rasio Capaian pada Tahun Ke-
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
(1) (2) (4) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
1 Prosen- tase Pening- katan Produksi Perikanan Budida-ya
30,00 35,00 35,00 35,00 35 83.26 24.49 11,08 18 43,49 238 70 32 51 124,3
2 Prosen- tase Pening- katan Produksi Perikanan Tangkap
1,00 1,00 1,00 1,00 1 3.5 0.1 1.6 0,3 0,51 350 10 160 30 102,9
3 Nilai Tukar Pembu- didaya Ikan NTPi)
90 100 105 105 105 96.71 96.17 95,91 95,86 97,10 107.5 96.17 87 87 92.5
30
Nelayan (NTN)
100 100 100 105 110 115.17 117.12 118,43 119,68 123,5 115.2 117.1 118 114 112.3
5 Produksi
Perikan- an
25,764.83 26,776.96 27,789.09 28,354.58 28,920.06 41.760,05 41.430,28 40.355,33 47.507,74 47.728,36 160.8 150.7 156.1 167.6 165.0
6 Konsum-
si Ikan
53,635,000 88.148.952 96.572.088 111.581,896 114.757,335
81,714,500 88.825.874 97.904.117 112.481,75 115.175,338 152.4 100.8 101.6 100,8 100.4
Tabel 2.3
Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan Perangkat Daerah Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang
Uraian Anggaran pada Tahun ke- (.000) Realisasi Anggaran pada Tahun ke- (.000) Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun
Ke- (%)
Rata-rata Pertumbuhan Anggaran Realisasi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
Pendapatan 330.750 347.340 364.707 364.707 367.687 334.748,13 347.352,33 366.885,305 432.234,19 8
431.473,665 1,01 1 1 1,2 1,2 2,75% 7%
Belanja Belanja Tidak Langsung
5.975.366 ,093
6.001.800,3 89
5.423.544,9 13
4.811.357 ,798
5.822.423 ,466
5.091.732,6 8
5.132.208,4 69
5.335.862,16 1
4.653.388,4 46
5.505.824,1 92
85,21 85,51 98,38 96,72 94,56 0,125% 2,9%
Belanja Langsung
14.926.43 7,713
18.892.408, 421
16.324.065, 942
9.999.847 ,54
7.649.429 8.739.459,4 75
13.746.880, 697
14.432.506,4 48
7.580.038,4 54
7.186.540,6 52
58,55 72,76 88,41 75,80 93,95 (12,3%) 20,93%
31 2.6 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Pengembangan
Perangkat Daerah
Tantangan yang dihadapi Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang adalah adanya pergeseran struktur perekonomian masyarakat Kabupaten Tangerang yang dahulunya lebih mengandalkan sektor primer, beralih ke sektor industri, properti dan jasa. Mengikuti berjalannya waktu, animo masyarakat untuk melakukan usaha di sektor perikanan menjadi berkurang.
Anak-anak muda lebih memilih untuk menjadi pekerja kantoran, buruh pabrik, pengojek, ataupun menjadi tenaga kerja ke luar negeri.
Adapun peluang yang dimiliki Kabupaten Tangerang adalah potensi daerah yang masih mendukung usaha perikanan berupa potensi wilayah, pemerintah daerah yang mendukung sektor perikanan dan peluang pasar yang masih menjanjikan di sektor perikanan karena Kabupaten Tangerang masih merupakan wilayah yang termasuk dalam kawasan pengembangan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).
32 BAB III
PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS PERANGKAT DAERAH
Isu Strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan Daerah karena dampaknya yang signifikan bagi Daerah. Dan yang menjadi isu strategis adalah memiliki karakteristik bersifat penting, mendasar, mendesak, berjangka menengah/panjang, dan menentukan pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan Daerah di masa yang akan datang.
3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Perangkat Daerah
Permasalahan umum masyarakat perikanan yang sebagian besar tinggal di daerah pesisir Kabupaten Tangerang adalah masalah kemiskinan.
Disinyalir sekitar 7% dari 3,1 juta warga yang tinggal di pesisir adalah warga miskin. Pemerintah Daerah telah meluncurkan program Gerakan Pembangunan Masyarakat Pantai (Gerbang Mapan) untuk mengatasi masalah kemiskinan sejak RPJMD periode sebelumnya (2014 – 2018). Dalam program Gerbang Mapan tersebut di antaranya pemberdayaan ekonomi rakyat, perbaikan kampung kumuh, pemberian peralatan perikanan kepada nelayan maupun sanitasi lingkungan. Mayoritas mata pencarian penduduk miskin di wilayah pesisir Kabupaten Tangerang adalah nelayan dan petani penggarap tambak milik orang lain. Hampir rata-rata pendapatan sebagian besar nelayan masih rendah. Karena dari 11.982 Nelayan yang ada di Kabupaten Tangerang, hanya 3.439 Nelayan pemilik kapal (30%) sedangkan 70% nelayan adalah berstatus sebagai buruh atau pekerja yang tidak memiliki kapal. Apalagi kondisi pekerjaan nelayan yang sangat tergantung dengan alam. Apabila kondisi cuaca buruk mengakibatkan mereka tidak bisa mencari ikan sebagai sumber mata pencaharian.
33 Dari permasalahan yang ada, maka Dinas Perikanan merumuskan isu- isu strategis dari permasalahan sektor perikanan di Kabupaten Tangerang sebagai berikut :
Tabel 3.1
Pemetaan Permasalahan Pelayanan Dinas Perikanan
No Masalah Pokok Masalah Akar Masalah
1 Pendapatan Nelayan/
pembudidaya ikan masih rendah
RENDAHNYA CAPAIAN PRODUKSI PERIKANAN
Sistem Produksi di Nelayan, Pembudidaya masih Tradisional
RENDAHNYA NILAI TAMBAH PRODUK PERIKANAN
Kapasitas Kelembagaan Perikanan masih rendah
Pola Pembinaan untuk peningkatan nilai tambah produk perikanan belum maksimal
Salah satu penyebab dari melekatnya kemiskinan nelayan dan pembudidaya ikan adalah karena rendahnya pendapatan yang diperoleh mereka dalam menjalankan usaha perikanan. Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi masih relatif besar dibandingkan dengan jumlah perolehan yang mereka dapatkan dalam sekali produksi sehingga margin yang diperoleh masih belum memuaskan. Banyak faktor yang mengakibatkan hal ini, diantaranya masih rendahnya produktivitas sumber daya yang ada.
Produktivitas yang rendah merupakan dampak dari rendahnya produksi.
Skala Produksi yang rendah menjadi salah satu penyebab rendahnya margin yang diperoleh oleh pelaku usaha perikanan. Ditambah lagi, ikan merupakan produk yang mudah sekali mengalami pembusukan sehingga akan berdampak pada turunnya nilai harga produk. Hal ini membutuhkan perlakuan khusus agar ikan tetap memiliki nilai tambah.
34 Sistem produksi perikanan di Kabupaten Tangerang masih bersifat tradisional atau turun temurun. Baik nelayan maupun pembudidaya ikan masih menggunakan peralatan yang sederhana dalam melakukan usahanya.
Kapal-kapal yang dimiliki nelayan Kabupaten Tangerang masih didominasi oleh kapal di bawah tonase 5GT. Sehingga kemampuan penangkapan ikan para nelayan Kabupaten Tangerang masih sangat terbatas. Sedangkan pembudidaya ikan di Kabupaten Tangerang masih sangat terbatas dalam sarana dan prasarana produksi budidaya.
Kapasitas kelembagaan perikanan masih rendah sehingga sistem informasi di kalangan para pelaku usaha perikanan masih sangat terbatas.
Kapasitas kelembagaan tidak hanya sebatas pengembangan dan penguatan individu organisasi, penyediaan teknik dan managemen pelatihan melainkan termasuk di dalamnya masalah pemberdayaan, modal sosial, perkembangan nilai budaya dan relasi kekuasaan yang mempengaruhi. United Nations Development Programs (UNDP) membagi kapasitas kelembagaan dalam 3 dimensi yaitu :
1. Tenaga kerja (kualitas sumberdaya manusia dan cara sumberdaya manusia dimanfaatkan),
2. Modal atau dimensi fisik (termasuk material, peralatan, ruang dan gedung), dan
3. Teknologi, yaitu organisasi dan gaya manjemen, fungsi perencanaan, komunikasi serta sistem informasi manajemen)
3.2Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala daerah dan wakil kepala daerah Terpilih
Visi Kabupaten Tangerang RPJMD 2019 – 2023 adalah Mewujudkan masyarakat Kabupaten Tangerang yang religius, cerdas, sehat dan sejahtera. Dalam mencapai visi tersebut Bupati terpilih periode 2019 – 2023 menetapkan 6 (enam) misi yang akan dijalankan yaitu :
1. Meningkatkan penerapan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat menuju masyarakat yang relijius
35 2. Meningkatkan akses, mutu dan pemerataan pelayanan pendidikan dan
kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan sehat
3. Mengembangkan ekonomi daerah yang kompetitif dan berbasis kerakyatan.
4. Meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan yang professional, transparan dan akuntabel
5. Meningkatkan pemerataan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah
6. Mengembangkan inovasi daerah dalam rangka meningkatkan kualitas daya saing daerah, masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya.
Dinas Perikanan dalam menjalankan tugas pokok dan kewewenangannya mendukung kepada visi mewujudkan masyarakat Kabupaten Tangerang yang sejahtera secara umum, dan pelaku usaha perikanan secara khusus. Penjabaran visi ini, Dinas Perikanan fokus kepada menjalankan misi sebagai berikut :
1. Misi ketiga yaitu Mengembangkan ekonomi daerah yang kompetitif dan berbasis kerakyatan
2. Misi keempat yaitu Meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan yang professional, transparan dan akuntabel
3.3Telaahan Renstra Dinas Perikanan dan Renstra Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Pada Renstra Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten tercantum dalam Misi Meningkatkan kualitas pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Tujuan yang ingin dicapai oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi adalah Meningkatnya Perekonomian Secara Berkelanjutan Berbasiskan Potensi Ekonomi Lokal dengan sasaran Pertumbuhan Sektor Perikanan yang optimal.
36 Dalam mencapai Tujuan dan sasaran tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten membuat kebijakan-kebijakan strategis melalui 5 Program yaitu :
a. Program Tata Kelola Pemerintahan dengan sasaran Meningkatnya Pelayanan Perkantoran
b. Program Peningkatan Produksi Perikanan Tangkap dengan sasaran Meningkatnya produksi perikanan
c. Program Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan dengan sasaran Meningkatnya Luas Laut yang Terawasi
d. Program Peningkatan Daya Saing Perikanan dengan sasaran Meningkatnya aktivitas perikanan yang bersertifikat SNI dan Terwujudnya Standar Peningkatan Kualitas Pengujian dan Penerapan Mutu Hasil Perikanan
e. Program Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan sasaran Meningkatnya kesejahteraan nelayan dan Peningkatan Jumlah Produksi Benih Ikan Laut dan Payau (Milyar Ekor).
3.4Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Berdasarkan tujuan dari Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tangerang Tahun 2010 – 2030 yaitu Mewujudkan Pengembangan Kawasan Industri, Permukiman Dan Kawasan Pengembangan Perkotaan Baru Pantai Utara Yang Berwawasan Lingkungan Dan Berdaya Saing Menuju Masyarakat Madani, maka perlu dipersiapkan sebelumnya pembangunan kawasan pesisir sebagai daerah penyangga dan masyarakatnya menjadi masyarakat yang maju. Pembangunan kawasan pesisir ini menjadi strategis karena bila tidak tersentuh pembangunan atau pengembangan secara ekonomi akan mengakibatkan terjadinya ketimpangan (disparitas) yang dapat berakibat kepada timbulnya kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin.
37 Dampak yang bisa terjadi adalah adanya potensi tindakan kriminal akan tinggi sehingga berakibat kepada melemahnya investasi yang kondusif di kawasan tersebut. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tangerang, Peta Tutupan Lahan yang menggambarkan potensi perikanan berupa empang berada di sepanjang wilayah utara pantai/pesisir Kabupaten Tangerang.
Isu strategis pembangunan berkelanjutan Kabupaten Tangerang, meliputi 5 pilar yaitu :
1. Pilar Sosial yang mengacu pada Tujuan Pembangunan tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender
2. Pilar Lingkungan yang mengacu pada Tujuan Pembangunan air bersih dan sanitasi layak, kota dan permukiman yang berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim, ekosistem lautan, ekosistem daratan
3. Pilar ekonomi yang mengacu pada Tujuan Pembangunan ekonomi bersih dan terjangkau, pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi, industry, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, kemitraan untuk mecapai tujuan
4. Pilar hukum dan Tata Kelola yang mengacu pada Tujuan Pembangunan Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh
38 3.5Penentuan Isu-isu Strategis
Dalam menentukan isu strategis Dinas Perikanan, dilakukan dengan cara mengidentifikasi permasalahan pokok yang memiliki keterkaitan vertikal dengan isu strategis yang ada di Kabupaten Tangerang yaitu Aspek Pembangunan Ekonomi terkait meningkatnya ekonomi daerah.
Meningkatnya ekonomi suatu daerah dapat dilihat dari sudut berkembangnya kegiatan perekonomian yang menunjang produktivitas sumber dayanya. Sektor perikanan merupakan salah satu alternatif masyarakat dalam mengembangkan perekonomiannya. Permasalahan kemiskinan yang ada di Kabupaten Tangerang disinyalir sekitar 7% dari 3,1 juta warga yang tinggal di pesisir adalah warga miskin. Sedangkan mayoritas penduduk di lingkungan pesisir adalah bermata pencaharian sebagai nelayan.
Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan (disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari).
Dari permasalahan yang ada pada Tabel 3.1, maka Dinas Perikanan merumuskan isu strategis berdasarkan isu strategis Kabupaten Tangerang pada aspek Pembangunan Ekonomi. Sektor perikanan ambil bagian dalam meningkatkan ekonomi daerah terkait penanganan kemiskinan nelayan dan pembudidaya ikan. Fokus penanganan kemisikinan adalah peningkatan pendapatan nelayan/pembudidaya ikan yang menjadi tujuan Dinas Perikanan. Sistematika alur berpikirnya dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1
Isu Strategis Dinas Perikanan
ASPEK PEMBANGUNAN
EKONOMI
MENINGKATNYA EKONOMI DAERAH
PENINGKATAN PENDAPATAN NELAYAN/PEM- BUDIDAYA IKAN
39 BAB IV
TUJUAN DAN SASARAN
4.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Dinas Perikanan
Tujuan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Dinas Perikanan yaitu meningkatkan pendapatan Nelayan/Pembudidaya ikan. Tingkat Pendapatan masyarakat di suatu daerah dapat dijadikan sebagai salah satu indikator untuk menentukan kemajuan daerah. Apabila pendapatan suatu daerah relatif rendah maka dikatakan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut rendah. Demikian ketika pendapatan suatu daerah relatif tinggi maka kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya dapat dikatakan tinggi juga. (Danil dalam Reza 2014:47). Untuk mencapai tujuan tersebut, maka ditetapkan Sasaran Jangka Menengah Dinas yaitu :
1. Meningkatnya Produksi Perikanan
2. Meningkatnya Nilai Tambah Produk Perikanan 3. Meningkatnya Penilaian Akuntabilitas Kinerja Dinas
Gambar 4.1
Tujuan dan Sasaran Dinas Perikanan
Gambar 4.1 menunjukkan bahwa bila produksi perikanan yang dihasilkan oleh para nelayan dan pembudidaya ikan meningkat, serta diikuti dengan faktor harga ikan yang menguntungkan maka diharapkan pendapatan nelayan/pembudidaya ikan pun akan meningkat. Oleh karena ikan
SASARAN (S)
1. Meningkatnya Produksi Perikanan
2. Meningkatnya Nilai Tambah Produk
Perikanan
3. Meningkatnya Penilaian Akuntabilitas
Kinerja Dinas
TUJUAN
Meningkatkan pendapatan Nelayan/Pembudidaya ikan
40 merupakan produk yang mudah sekali mengalami penurunan mutu dan kualitas akibat proses pembusukan maka perlu disiasati dengan meningkatkan nilai tambah produk perikanan agar harga ikan tidak turun.
Untuk mendukung pencapaian tujuan yang lebih terarah maka ditetapkan pula dukungan perencanaan, penganggaran, administrasi dan pelaporan kinerja Dinas dengan sasaran Meningkatnya Penilaian Akuntabilitas Kinerja Dinas. Hal ini diperlukan karena dalam rangka mencapai tujuan Dinas yang lebih akuntabel, transparan, efektif, efisien, ekonomis dan tepat sasaran. Adanya keselarasan mulai dari Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan yang dituangkan dalam bentuk Program Kegiatan sangat menentukan keberhasilan Dinas dalam kinerja. Setiap Kegiatan harus dapat memberikan output (keluaran) bagi penerima, dan dirasakan hasilnya serta berdampak terhadap masyarakat dalam bentuk manfaat (benefit).
4.2 Perumusan Tujuan dan Sasaran Dinas Perikanan
Pendapatan nelayan/pembudidaya ikan merupakan jumlah produksi yang diperoleh dikalikan harga produk setelah dikurangi biaya operasional produksi. Sehingga Dinas berupaya untuk meningkatkan pendapatan nelayan/pembudidaya melalui faktor peningkatan jumlah produksi dan dari sisi harga yang diperoleh nelayan/pembudidaya/pengolah/pemasar.
Indikator yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan Tujuan Dinas adalah Nilai Tukar Nelayan/pembudidaya (NTNP). NTNP adalah salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani subsektor perikanan di pedesaan. NTNP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk perikanan dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTNP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli nelayan/petani. NTNP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima nelayan/ pembudidaya (It) terhadap indeks harga yang dibayar nelayan/ pembudidaya (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang
41 Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar nelayan/ pembudidaya (Ib), NTNP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi nelayan/pembudidaya, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya. Nilai indikator ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari data BPS.
Perumusan Tujuan dan Sasaran Dinas Perikanan serta target capaian tiap tahun jangka menengah dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 4.1
Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan Perangkat Daerah
Penentuan target capaian selama 5 tahun perencanaan dilakukan dengan cara mengevaluasi realisasi 2 tahun terakhir pada kondisi awal kinerja
TUJUAN SASA- RAN
INDIKAT OR KINERJA TUJUAN DAN SASARA
N
DEFINISI OPERASIONAL
SA- TU- AN
KONDISI AWAL
KINERJA TARGET CAPAIAN
KONDI SI AKHIR
2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023
1 Mening- katkan Pendapat- an Nelayan/
pembudida ya ikan
Nilai Tukar Nelayan Petani (NTNP)
perbandingan indeks harga yang diterima
nelayan/
pembudidaya (It) terhadap indeks harga yang dibayar nelayan/
pembudidaya (Ib In-
deks 107,77 108.64 109.51 110.38 111.25 112.12 112.99 112.99
MENING -KATNYA PRODUK SI PERIKAN AN
Pertumb uhan Produksi Ikan
Selisiih produksi ikan tahun n dengan tahun n-
1 dibandingkan produksi ikan n-1
% 0 (0.6) 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 6.5
MENING KAT-NYA NILAI TAMBAH PRODUK PERIKAN AN
Persenta se Nilai Tambah Produk Olahan Ikan
Persentase nilai tambah olahan ikan dibanding- kan dengan harga ikan hasil olahan dalam satuan yang sama
% - - 20 20 20 20 20 20
2 Meningkat kan Akunta- bilitas Kinerja Dinas
MENING KATNYA PENILAI AN AKUNTA BI-LITAS KINERJA DINAS
Nilai AKIP OPD
Nilai akuntabilitas
kinerja yang mengidentifikasi
kemampuan OPD dalam perencanaan,
pengukuran, pelaporan, capaian kinerja
dan evaluasi internal.
Kate
gori 62.00 72.41 75 75 75 75 75 75
42 yaitu tahun 2017 dan 2018. Pertimbangan target yang dibuat dari tahun 2019 sampai dengan 2023 merupakan angka harapan yang rasional dapat dicapai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki Daerah.
Sampai dengan akhir RPJMD pada Tahun 2023 ditargetkan NTNP mencapai angka 112,99. Penentuan peningkatan setiap tahun sebesar 0,87 dari tahun awal 2018 sebesar 108,64. Selama 5 tahun ada peningkatan daya beli nelayan/pembudidaya sebesar 4,35 poin.
Untuk Sasaran 1 (S1) : meningkatnya produksi perikanan, menggunakan indikator pertumbuhan produksi ikan dalam satuan persen (%). Sampai dengan akhir RPJMD Tahun 2023 ditargetkan akumulasi pertumbuhan produksi ikan sebesar 50% dengan sebaran di tahun ke-1 (pertama) 10% dan 4 tahun berikutnya masing-masing 10%. Pertumbuhan produksi ikan setiap tahunnya ditargetkan tumbuh sebesar 10%.
Dasar penentuan 10% setiap tahunnya adalah pertumbuhan tahun 2018 sebesar 19,4% dikurangi pertumbuhan produksi budidaya laut (kerang hijau). Untuk Tahun 2019 -2023 pertumbuhan produksi perikanan meliputi produksi perikanan tangkap baik laut dan perairan umum serta produksi perikanan budidaya meliputi budidaya air tawar dan air payau (tambak).
Sedangkan pada Renstra sebelumnya (2013 -2018) produksi perikanan budidaya meliputi perikanan air tawar, payau dan laut. Untuk perencanaan 5 tahun ke depan, budidaya laut sudah menjadi wewenang Pemerintahan Provinsi. Budidaya laut yang ada di Kabupaten Tangerang itu sendiri masih merupakan budidaya kerang yang keberadaanya masih menjadi masalah dalam keamanan pangannya. Hal ini disebabkan karena perairan laut di sekitar wilayah Kabupaten Tangerang mengalami pencemaran logam berat yang berbahaya bagi tubuh manusia yang mengkonsumsinya.
Untuk Sasaran 2 (S2) : Meningkatnya Nilai Tambah Produk Perikanan, menggunakan indikator Peningkatan Nilai Tambah Produk Olahan Ikan dalam satuan persen (%). Indidkator ini diperoleh dari penghitungan dari rata-rata selisih harga produk olahan ikan dengan harga ikan segar dalam satuan berat yang sama. Salah satu upaya Pemerintah Daerah untuk meningkatkan