• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap Keempat

Dalam dokumen t%*'rffi .*&, ffi (Halaman 79-95)

BAB VI KENDALA YANG DI HADAPI

D. Tahap Keempat

Jika proses pembinaan telah menjalani 2/3 dari masa pidana yang sebenarnya atau sekurang-kurangnya 9 bulan. Pembinaan ini disebut pembinaan tahap akhir, yaitu kegiatan berupa perencanaan dan pelaksanaan program integrasi yang dimulai sejak berakhirnya tahap lanjutan sampai dengan berakhirnya masa hukuman dari narapidana yang bersangkutan. Pembinaan pada tahap ini terhadap narapidana yang memenuhi syarat diberikan cuti menjelang bebas atau

pembebasan bersyarat dan pembinaannya dilakukan di luar Lapas oleh Bapas yang kemudian disebut Pembimbing Klein Pemasyarakatan. Pembimbingan adalah pemberian tuntunan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, professional, kesehatan jasmani dan rohani.

Adapun pola pembinaan tersebut terbagi atas dua yaitu : 1. Pola pembinaan untuk dewasa

a. Pola pembinaan kepribadian meliputi : 1) Pembinaan kesadaran beragama

Usaha ini diperlukan agar dapat diteguhkan imannya terutama memberi pengertian agar warga binaan pemasyarakatan dapat menyadari akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang benar dan perbutan-perbuatan yang salah. Pembinaan seperti ini dilakukan setiap hari untuk yang beragama islam dan Kristen setiap hari. Antusiasme pembinaan agama ini hampir semua warga binaan pemasyarakatan mengikutinya dengan hikmat.

Berdasarkan data hasil wawancara peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang di ungkapkan Anca bahwa :

“Mereka diberikan pembinaan kesadaran beragama agar mereka mendapatkan siraman rohani, supaya mereka bisa menginstropeksi diri dan mereka juga mendengarkan rebana sehingga mereka tidak jenuh”.

Seperti yang di ungkapkan Raman bahwa :

“Narapidana di berikan siraman rohani supaya mereka mempunyai tujuan hidup serta mereka tau mana yang buruk, mana yang tidak buruk”.

Seperti yang di ungkapakan Anca bahwa :

“Di harapkan bagi narapidana setelah mendapat pembinaan agama dia akan menjalani kehidupan yang sesuaidengan norma agama”.

Berdasarkan hasil observasi peneliti, bahwaPembinaan kesadaran beragama yang dilakukan setiap hari di Lembaga Pemasyarakatan Kota Makassar bejalan lancar, dan hampir diikuti oleh semua Warga Binaan Pemasyarakatan, selain itu ada MTQ dan Rebana jadi mereka tidak jenuh mereka merasa senang dapat memperkaya ilmu pengetahuannya tentang agama.

Suasana saat narapidana di berikan siraman rohani

2) Pembinaan kesadaran berbangsa dan berngara

Berdasarkan data hasil wawancara peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang diungkapkan Surya bahwa :

“Dengan di berikanya pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara supaya mereka tau cara perilaku yang baik”.

Seperti yang di ungkapkan Raman bahwa :

“Mereka di berikan pembinaan supaya mereka tau peraturan yang di langgar oleh Negara”.

Seperti yang di ungkapkan Anca bahwa :

“Narapidana di sini di berikan pembinaan agar mereka menambah pengetahuan dan cara hidup berbangsa dan bernegara”.

Berdasarkan hasil observasi peneliti, bahwa pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara ini dilaksanakan melalui pendidikan pancasila termasuk menyadarkan mereka agar dapat menjadi warga negara yang baik yang dapat berbakti bagi bangsa dan negaranya. Perlu disadarkan bahwa berbakti untuk bangsa dan negara adalah sebagian dari iman.

Suasana saat narapidana disadarkan bahwa berbakti untuk bangsa dan negara adalah sebagian dari iman.

3) Pembinaan kemampuan intelektual (kecerdasan).

Berdasarkan data hasil wawancara peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang di ungkapkan Surya bahwa :

“Pembinaan intelektual di sini dapat di lakukan melalui pendidikan formal maupun non formal”.

Seperti yang di ungkapkan Raman bahwa :

“Bentuk pendidikan formal itu di selenggarakan dengan ketentuan yang telah di tetapkan oleh pemerintah sedangkan pendidikan non formal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan”.

Seperti yang di ungkapkan Raman bahwa :

“Narapidana di sini di berikan pembinaan pendidikan non formal yang paling mudah itu seperti cerama umum, dan membaca buku yang ada di perpustakaan”.

Berdasarkan hasil observasi peneliti, bahwa usaha ini diperlukan agar pengetahuan serta kemampuan berfikir warga binaan pemasyarakatan semakin meningkat sehingga dapat menunjang kegiatan-kegiatan positif yang diperlukan selama masa pembinaan. Pembinaan intelektual (kecerdasan ) dapat dilakukan baik melalui pendidikan formal maupuan melalui pendidikan non-formal.

Suasana saat narapidana di berikan cerama

4) Pembinaan kesadaran hukum.

Berdasarkan data hasil wawancara peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang di ungkapkan Surya bahwa :

“Petugas penyuluhan hokum dapat di adakan setiap hari kemerdekaan dan di ikutioleh semua warga binaan pemasyarakatan”.

Seperti yang di ungkapakn Raman bahwa :

“Semua WBP bertujuan untuk membentuk keluarga sadarhukum”.

Seperti yang di ungkapkan Anca bahwa :

“Petugas bekerjasama dengan POLRES dan memberikan penyuluhan tentang aturan hukum yang harus di taati”.

Berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa Pembinaan kesadaran hukum warga binaan pemasyarakatan dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan hukum yang bertujuan untuk mencapai kadar kesadaran hukum yang tinggi sehingga sebagai anggota masyarakat, mereka menyadari hak dan kewajibannya dalam rangka turut menegakkan hukum dan keadilan, perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia, ketertiban, ketentraman, kepastian hukum dan terbentuknya perilaku setiap warga negara Indonesia yang taat kepada hukum.

Suasana narapidana saat apel pagi

b. Pola pembinaan kemandirian

Berdasarkan data hasil wawancara peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang di ungkapkan Surya bahwa :

“Pembinaan kemandirian itu seperti pembinaan dalam usaha mandiri, contonya itu seperti menyulam, menjahit, sablon dan mengayam”.

Seperti yang di ungkapkan Raman bahwa :

“Narapidana di berikan ketrampilan untuk mendukung usaha-usaha kecil”.

Seperti yang di ungkapkan Anca bahwa :

“Narapidana di berikan ketrampilandi sesuaikan dengan bakat dan minat mereka”.

Berdasarkan hasil wawancara secara langsung dari peneliti, bahwa semua ketrampilan yang diberikan sudah sesuai dengan bakat dan minat yang di inginkan oleh maisng-masing warga binaan sehingga mereka dapat memperoleh pembinaan ketrampilan ini dengan senang. Contohnya dalam pembinaan kertrampilan pertukangan kayu, narapidana betul-betul diajari dari cara pertama kayu yang tak berbentuk menjadi meja, kursi almari dan sebagainya. Dan itu dibimbing sampai benar-benar siap dipasarkan.

Berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa semua narapidana bebas memilih jenis apa yang sesuai dengan bakat minat serta kemampuan yang dimiliki oleh narapidana, namun bagi warga binaan yang memang pada dasarnya memiliki sifat malas untuk bekerja, maka Lembaga Pemasyarakatan benar-benar seperti

kurungan besi, maka hari-harinya dalam menunggu kebebasanpun akan terasa lama. maka semua pembinaan ketrampilan tentang bakat dan minat narapidana sudah tepat sasaran.

Suasana saat pembuatan batako atau paping blok

2. Pola pembinaan untuk anak-anak

Berdasarkan data hasil wawancara peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang di ungkapkan Surya bahwa :

“Pembinaan anak-anak disini juga ditanamkan pola pembinaan kemandirian dan kepribadian, cuman khusus anak-anak jadi lebih ditanamkan pendidikan dan pengasuhan”.

Seperti yang di ungkapkan Raman bahwa :

“Pembinaan anak di sini kita tanamkan yang namanya pendidikan dan pengasuhan jadi kita berikan pembinaan seperti pembacaan iqra, tilawa, adzan karena anak-anak harus akan kasih sayang”.

Seperti yang di ungkapkan Anca bahwa :

“Harapan setelah di berikan pembinaan agar narapidana mempunyai tujuan setelah bebas”.

Berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa pembinaan anak-anak di sini juga mempunyai pola pembinaan kepribadian dan pola pembinaan kemandirian.

Cuman khusus anak, kita tanamkan pendidikan dan pengasuhan seperti pembacaan iqra, tilawa, adzan karena anak-anak harus akan kasih sayang.

Sehingga mempunyai tujuan setelah bebas. Di harapkan dalam menjalani kehidupan setelah dari lembaga pemasyarakatan tidak masuk kembali dalam dunia criminal, harapanya yaitu agar menjadi warga Negara yang baik dan berguna bagi masyarakat.

Suasana saat pembacaan al-Qur’an

KENDALA YANG DI HADAPI DALAM PEMBINAAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN DI KOTA MAKASSAR

Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data di lakukan dengan teknik wawancara yang di lakukan oleh 10 orang informan yang seluruhnya berjenis kelamin laki-laki di mana dalam wawancara ini menggunakan teknik trianggulasi.

Dan cara pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling dengan beberapa pertimbangan oleh peneliti.

Dari hasi wawancara penelitian Lembaga Pemasyarakatan merupakan wadah bagi warga binaan untuk menjalani masa pidananya serta memberikan pembinaan dan keterampilan agar warga binaan dapat diterima kembali masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan kota makassar bukan ditujukan sebagai tempat untuk sekedar menampung narapidana. Lebih jauh, tempat penahanan dan pemasyarakatan bukanlah tempat untuk menjatuhkan hukuman semata, namun menjadi pusat pembinaan dan pemasyarakatan itu sendiri.

Seperti yang di ungkapkan Basruddin bahwa:

“Kalau untuk mengisi waktu luang, saya rasa lebih dari cukup, karena disini banyak kegiatan-kegiatan yang di ciptakan dan di laksanakan oleh petugas untuk kami. Tetapi kalau untuk mengasah keterampilan dan keahlian tentunya tidak cukup karena tenaga ahli yang memberikan kami pelatihan juga sangat terbatas”.(22 oktober 2016)

75

“Factor penghambat kelancaran pembinaan narapidana seperti pola dan tata letak bangunanya, struktur organisasi, kepemimpinan lembaga pemasyarakatan, kualitas dan kuantitas petugas, dan sumber daya alam”.

Seperti yang di ungkapkan Wahyudi bahwa:

“Kendala yang dihadapi dalam pembinaan seperti keterbatasan bangunan, kami memanfaatkan ruang kantor yang tidak dipakai”.

Berdasarkan hasil observasi penlitian informan dapat simpulkan bahwah Sebagian besar kalau untuk mengasah keterampilan dan keahlian tentunya tidak cukup karena tenaga ahli yang memberikan pelatihan sangat terbatas sehingga ada Faktor penghambat kelancaran pembinaan bagi narapidana dan juga menjadi Kendala yang dihadapi dalam pembinaan.

a. Faktor penghambat kelancaran pembinaan bagi narapidana

Sebuah pekerjaan berat yang dipikul Lemabaga Pemasyarakatan kota Makassar, karena Lapas Makassar adalah wadah bagi orang yang bermaslah seperti pelaku kejahatan atau pelaku pidana. Dimana Lapas Makassar adalah sebagai tempat untuk berinteraksi antar narapidana satu dengan yang lain, yang terdiri dari berbagi latar belakang masing-masing narapidana.

Apabila interaksi narapidana berjalan dengan baik, maka proses pembinaan yang dilakukan oleh petugas sudah berjalan, tetapi apabila proses interaksi ini belum berjalan dengan baik maka petugas harus bekerja extra. Agar proses pembinaan dan pembimbingan bisa berjalan dengan lancar, maka petugas harus bersabar dengan mengamati karakter dari masing-masing narapidana dengan

ini menjadi permasalahan yang besar di hadapi oleh para petugas dimana narapidana dengan narapidan yang lain harus mempunyai hubungan yang baik. Agar teciptanya proses pembinaan. Namun apabila ada gesekan permasalahan antara narpidana yang satu dengan yang lain, maka akan menyulitkan proses pembinaan selain itu juga akan mempersulit narapidana itu sendiri. Dimana narapidana yang berkelahi tidak akan mendapatkan masa pengurangan hukumannya atau remisi, selain itu narapidana ditempatakan disuatu sel khusus atau ruang isolasi dan mendapatkan hukuman dari petugas. Sanksi yang diberikan oleh narapidana yang melanggar peraturan sangat tegas diberikan oleh narapidana yang melakukan perkelahian. Oleh sebab itu narapidana di dalam Lapas sangat mematuhui aturan tersebut, walaupun di dalam Lapas mereka sering tidak sepaham, dari berbagi narapidana yang penulis wawancarai walaupun mereka terkadang tidak sepaham, tetapi mereka sangat menghindari kontak fisik.

Adapun factor-faktor tersebut antara lain : a. Pola dan tata letak bangunan

Berdasarkan data hasil wawancara, peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang di ungkapkan Surya bahwa :

“Kurangnya pasilitas bangunan sehingga narapidana di sini setiap berkumpul dalam suatu ruangan mereka tidak cukup dalam ruangan”.

Seperti yang di ungkapkan Raman bahwa :

“Letak bangunan bagi narapidana itu sangat berguna dalam mendukung proses pembinaan”.

“Letak bangunan di sini juga merupakan factor yang penting bagi narapidana untuk melakukan pembinaan”.

Berdasarkan hasil observasi peneliti, bahwa letak bangunan perlu diwujudkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan, karena pola dan tata bangunan merupakan factor yang penting guna mendukung pembinaan sesuai dengan tujuan pemasyarakatan sehingga narapidana menjalankan pembinaan dengan secara baik.

Suasana narapidana saat menjalankan pembinaan

b. Struktur Organisasi

Berdasarkan data hasil wawancara, peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang di ungkapkan Surya bahwa :

“Setiap staf yang ada di lembaga ini harus menjalankan tugasnya masing-masing”.

Seperti yang di ungkapkan Raman bahwa :

“Struktur organisasi yang ada di lembaga kota Makassar ini ada hubungan dan jalur perintah dari petugas yang bersangkutan”.

Seperti yang di ungkapkan Anca bahwa :

“Setiap petugas dapat menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya”.

khususnya hubungan dan jalur-jalur perintah dan staf hendaknya mampu melaksanakan dengan berdaya guna agar pelaksanaan tugas disetiap unit kerja berjalan dengan lancer di lembaga pemasyarakatan kota Makassar. Setiap petugas harus mengerti dan dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya masing-masing.

Suasana saat petugas lapas menjalankan tugasnya

c. Sumber Daya Alam

Berdasarkan data hasil wawancara, peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang di ungkapkan Surya bahwa :

“Salah satunya yaitu factor pendukung proses pembinaan”.

Seperti yang di ungkapkan Raman bahwa :

“Sebagai konsekuensi bagi pelaksanaan pemasyarakatan”.

“Sumber daya alam di sini sangat bermanfaat sekali bagi pembinaan”.

Berdasarkan hasil observasi peneliti, bahwa konsekuensi dari pelaksanaan pemasyarakatan, maka sumber daya alam merupakan salah satu factor yang sangat mempengaruhi proses pembinaan dan juga bermanfaat bagi pembinaan di lembaga kota Makassar.

Suasana saat proses pembinaan

b. Kendala yang di hadapi dalam pembinaan.

Berdasarkan data hasil wawancara, peneliti mencoba menginterprestasikan data hasil wawancara.

Seperti yang di ungkapkan Surya bahwa :

“Kendala yang di hadapi lembaga pemasyarakatan kota Makassar ini salah satunya itu seperti keterbatasan gedung”.

“Banyaknya pelatan yang rusak salah satunya factor penghambat kelancaran proses pelaksanaan pembinaan”.

Seperti yang di ungkapkan Anca bahwa :

“Kurangnya pasilitas-pasilitas yang ada di lembaga ini”.

Berdasarkan hasil observasi peneliti, bahwa kendala yang dihadapi oleh Lapas Makassar yaitu faktor intern diantaranya adalah sarana gedung Lapas, kurangnya peralatan atau fasilitas baik dalam jumlah mutu juga banyaknya perlatan yang rusak menjadi salah satu fakor penghambat kelancaran proses pelaksanaan pembinaan. Selain itu dilihat dari Sumber Daya Manusia (SDM), atau kuantitas dan kualitas dari petugas adanya suatu usaha yang harus dilakukan agar kualitas dari petugas Lemabaga Pemasyarakatan mampu menjawab segala masalah dan tantangan yang selalu ada dan muncul di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan..

Suasana saat petugas lapas melihat gedung yang ingin di perbaiki

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen t%*'rffi .*&, ffi (Halaman 79-95)

Dokumen terkait