• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan dan Peluang Pesantren Dalam Pendidikan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Pondok Pesantren Era Digital 4.0

2. Tantangan dan Peluang Pesantren Dalam Pendidikan

Dampak Inovasi disrupsi bisa kita rasakan langsung dalam gaya hidup dan bermasyarakat era revolusi digital, perkembangan sains dan teknologi.

Seperti kehadiran Internet of Things (IoT), big data, cloud data base, blockchain, dan lain-lain telah mengubah pola kehidupan manusia.

Mobilitas semakin mudah dengan perkembangan sains dan teknologi. Akses internet yang mudah mendorong pertumbuhan e-commerce yang melahirkan

46Solichin, Pesantren Di Antara Generasi AlfaDan Tantangan Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, (IAIN Syekh Nurjati, Februari 2018), OASIS: Jurnal Ilmiah Kajian IslamVol. 2, No.2, h. 101.

transportasi online, niaga elektronik. Peralihan transaksi tunai ke e-cash atau e-money perlahan mulai mengerus transaksi tunai di kehidupan era RI 4.0.47

Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia.48

Industri 4.0 sebagai fase revolusi teknologi mengubah cara beraktifitas manusia dalam skala, ruang lingkup, kompleksitas, dan transformasi dari pengalaman hidup sebelumnya. Manusia bahkan akan hidup dalam ketidak pastian (uncertainty) global, oleh karena itu manusia harus memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan yang berubah sangat cepat.

Tiap negara harus merespon perubahan tersebut secara terintegrasi dan komprehensif. Respon tersebut dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan politik global, mulai dari sektor publik, swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil sehingga tantangan industri 4.0 dapat dikelola menjadi peluang.

Tantangan industri 4.0 sebagai berikut:

a. Masalah keamanan teknologi informasi.

b. Keandalan dan stabilitas mesin produksi.

c. Kurangnya keterampilan yang memadai.

47Bower & Christensen, Pesantren Di Antara Generasi AlfaDan Tantangan Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, (IAIN Syekh Nurjati, Februari 2018), OASIS: Jurnal Ilmiah Kajian IslamVol. 2, No.2, h.102.

48Tjandrawinata, Era Industri 4.0: Tantangan dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Indonesia, (Universitas Negeri Makassar : Maret 2018), h. 6.

d. Keengganan untuk berubah oleh para pemangku kepentingan, dan e. Hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi.49

Lebih spesifik, menjelaskan tantangan industri 4.0 sebagai berikut.50 Tabel 1.1

Tantangan Industri 4.0

Tantangan ekonomi 1. Globalisasi yang terus berlanjut:

a. Keterampilan antar budaya b. Kemampuan berbahasa c. Fleksibilitas waktu d. Keterampilan jaringan e. Pemahaman proses

2. Meningkatnya kebutuhan akan inovasi:

a. Pemikiran wirausaha b. Kreativitas,

c. Pemecahan masalah d. Bekerja di bawah tekanan e. Pengetahuan mutakhir f. Keterampilan teknis g. Keterampilan penelitian h. Pemahaman proses

3. Permintaan untuk orientasi layanan yang lebih tinggi:

a. Pemecahan konflik

49Wolter, Era Industri 4.0: Tantangan dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Indonesia, (Universitas Negeri Makassar : Maret 2018), h. 7.

50Hecklau et al, Era Industri 4.0: Tantangan dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Indonesia, (Universitas Negeri Makassar : Maret 2018), h. 7.

b. Kemampuan komunikasi c. Kemampuan berkompromi d. Keterampilan berjejaring

4. Tumbuh kebutuhan untuk kerja sama dan kolaboratif:

a. Mampu berkompromi dan kooperatif b. Kemampuan bekerja dalam tim c. Kemampuan komunikasi d. Keterampilan berjejaring

Tantangan Sosial 1. Perubahan demografi dan nilai sosial:

a. Kemampuan mentransfer pengetahuan

b. Penerimaan rotasi tugas kerja dan perubahan pekerjaan yang terkait (toleransi ambiguitas) c. Fleksibilitas waktu dan tempat

d. Keterampilan memimpin 2. Peningkatan kerja virtual:

a. Fleksibilitas waktu dan tempat b. Keterampilan teknologi c. Keterampilan media d. Pemahaman keamanan TI 3. Pertumbuhan kompleksitas proses:

a. Keterampilan teknis b. Pemahaman proses c. Motivasi belajar d. Toleransi ambiguitas e. Pengambilan keputusan

f. Penyelesaian masalah g. Keterampilan analisis

Tantangan Teknis 1. Perkembangan teknologi dan penggunaan data eksponensial:

a. Keterampilan teknis b. Kemampuan analisis

c. Efisiensi dalam bekerja dengan data d. Keterampilan koding

e. Kemampuan memahami keamanan TI f. Kepatuhan

2. Menumbuhkan kerja kolaboratif:

a. Mampu bekerja dalam tim b. Kemampuan komunikasi virtual c. Keterampilan media

d. Pemahaman keamanan TI

e. Kemampuan untuk bersikap kooperatif Tantangan

Lingkungan

Perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya:

a. Pola pikir berkelanjutan b. Motivasi menjaga lingkungan

c. Kreativitas untuk mengembangkan solusi keberlanjutan baru

Tantangan Politik dan Aturan

1. Standarisasi:

a. Keterampilan teknis b. Keterampilan koding c. Pemahaman proses 2. Keamanan data dan privasi:

a. Pemahaman keamanan teknologi informasi b. Kepatuhan

a. Dakwah di era digital

Pada hakekatnya dakwah adalah segala upaya orang Islam yang bersifat mengajak atau memotivasi umat manusia untuk menerima, merealisasikan dan mengaktualisasikan ajaran Islam dalam setiap aspek kehidupannya yang dilaksanakan secara teratur dan sungguh-sungguh dengan menggunakan media dan metode tertentu. Dakwah yang dimaksudkan adalah dakwah dalam dimensi kerisalahan dan dimensi kerahmatan. Dakwah dalam dimensi kerisalahan ialah usaha seseorang atau sekelompok muslim untuk meneruskan tugas Rasulullah SAW menyampaikan dinul Islam kepada seluruh umat manusia agar mereka lebih mengetahui, memahami, menghayati (mengimani) dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pandangan hidupnya.51

Dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan yang demikian, maka dakwah sebenarnya mengarah pada perubahan perilaku manusia pada tingkat individual maupun kelompok atau masyarakat ke arah perilaku yang semakin Islami.

Metode dan strategi dengan cara yang bijaksana. Sebagaimana firman Allah swt.

51Abdul Karim Syeikh, Pola Dakwah Dalam Era Informasi, Jurnal Al-Bayan / VOL.

22, NO. 31, Januari-Juni 2015, h. 110.

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.52

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan supaya dakwah di era informasi tetap relevan, responsif, efektif dan produktif, yaitu:53

1. Jika selama ini makna da‟i dipahami dalam arti yang sangat sempit, disamakan dengan muballigh, maka sekarang makna da‟i harus diperluas.

2. Jika selama ini isi pesan (materi dakwah) agak terfokus pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ibadah mahdhah, kini perlu diperluas mencakup segala aspek kehidupan umat manusia sebagai realisasi dari ajaran Islam yang bersifat kaffah.

3. Di samping tidak mengenyampingkan penggunaan pendekatan interpersonal, semua jenis media massa, seperti radio, video, audio casset, televisi, surat kabar, internet dan lain-lain dapat digunakan sebagai media dakwah.

52Al-qur‟an terjemahan kementerian agama, An-Nahl: 125. h. 364.

53Abdul Karim Syeikh, Pola Dakwah Dalam Era Informasi…, h. 115-118.

4. Lapangan dakwah sebagai tempat beradanya objek dakwah tidak hanya dipusatkan di mesjid-mesjid, mushalla, dan balai-balai pengajian, tetapi juga perlu diperluas kepada objek dakwah (warga masyarakat) yang berada di tempat-tempat lain.

5. Evaluasi pelaksanaan dakwah sangat perlu diadakan oleh penyelenggara dakwah untuk mengetahui umpan balik daripada objek dakwah.

6. Pemahaman tentang paradigma dakwah sebagai suatu pemahaman yang secara aktual terkait dengan kondisi masyarakat objek dakwah perlu dipikirkan dan dipertimbangkan oleh penyelenggara dakwah.

7. Aktivitas dakwah harus dilakukan secara terus-menerus di setiap waktu dan di semua tempat.

8. Orientasi dakwah harus mengacu pada kegiatan internalisasi, sosialisasi dan pengaktualisasian ajaran Islam dengan menggunakan pendekatan yang dapat menggugah aspek rasionalitas ranah kognitif dan ranah afektif yang memungkinkan bertumbuhnya pemahaman objek dakwah terhadap pesan yang telah diterimanya menjadi sikap atau prilaku islami, yang selanjutnya tercermin dalam tingkah laku dan perbuatannya sehari-hari.

Dokumen terkait