BAB III. METODE PENELITIAN
G. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Metode analisis data yang digunakan dalam analisis ini yaitu :
1. Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriftif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Statistik deskriptif adalah penyajian data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran, pictogram, perhitungan modus, median, mean, perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi dan perhitungan prosentase (Sugiono, 2012:199-200).
2. Uji Keabsahan Data
Uji data diartikan sebagai upaya mengolah data menjadi informasi sehingga karakteristik atau sifat-sifat data tersebut dapat dengan mudah dipahami. Untuk menguji data dalam penelititan ini digunakan analisis sebagai berikut:
3. Uji Validitas
Menurut Sugiyono (2016:121) “instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid’. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Pengujian validitas tiap butir menggunakan analisis item, yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah
dari keseluruhan skor tiap butir. Untuk menguji tingkat validitas data menggunakan program dengan menggunakan korelasi Bivariate Pearson.
4. Uji Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2016: 131), “Instrumen yang reliable adalah instrument yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama. Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan program SPSS dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach.
5. Uji Prasyarat
Uji prasyarat analisis digunakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah data yang di kumpulkan memenuhi prasyarat untuk di analisis dengan teknik yang telah di rencanakan. Uji prasyarat dalam penelitian ini menggunakan dua pengujian yaitu uji normalitas dan uji autokorelasi :
6. Uji Normalitas
Uji normalitas yaitu sebuah uji yang dilakukan dengan tujuan untuk menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel, apakah sebaran data tersebut berdistribusi normal atau tidak.
7. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi adalah sebuah analisis statistik yang dilakukan untuk mengetahui adakah korelasi variabel yang ada di dalam model prediksi dengan perubahan waktu. Oleh karena itu, apabila asumsi autokorelasi
terjadi pada sebuah model prediksi, maka nilai disturbance tidak lagi berpasangan secara bebas, melainkan berpasangan secara autokorelasi.
a. Analisis regresi Berganda Y = a + b, X1 + b2 .X2
Keterangan : Y = Kinerja driver gojek A = Konstan
b1+b2 = Kofisien regresi X1 = Kesepakatan Kerja Bersama X2 = Komitmen Organisasi
b. Pengujian hipotesis
a. Koefisien Determinasi (R2)
Uji koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur sejauh mana variabel bebas dapat menjelaskan variasi variabel terikat, baik secara parsial maupun simultan. Nilai koefisisen determinasi ini adalah antara nol sampai dengan satu (0 < R2 < 1). Menurut Ghozali (2016:95), . nilai .R2 .yang hampir mendekati satu sangat terbatas. Sebaliknya, nilai R2 yang hampir mendekati satu mengandung arti bahwa variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untik memprediksi variasi variabel independen.
b. Uji Parsial (Uji t)
Uji parsial bertujuan untuk mengetahui pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel terikat. Kriteria pengembilan keputusan dalam
pengujian ini menurut Ghozali (2016:99) adalah jika p valid < 0,05 maha Ha diterima. .Sebaliknnya, jika p valid ≥ 0,05 maka Ha ditolak.
30 BAB IV
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya PT. GO-jek indonesia
Go-Jek merupakan sebuah perusahaan jasa transportasi dengan menggunakan ojek dengan segala kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan kepada penggunanya yang berdiri pada tahun 2010 tapi Nadiem Makarim lebih senang menyebut perusahaan Go-Jek sebagai perusahaan teknologi.
Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi mobile, Go-Jek berhasil merevolusi industry transportasi Ojek. Fitur yang ditawarkan Go-Jek pun berbagai macam seperti pengiriman barang, pesan antar makanan, berbelanja dan bepergian di tengah kemacetan, di mana semua ide itu berawal dari Nadiem Makarim (www.biografiku.com ).
Ide untuk mendirikan Go-Jek muncul ketika Nadiem berbincang-bincang dengan tukang ojek langganannya. Dari perbincangan tersebut, ia mendapatkan informasi bahwa tukang ojek tidak menggunakan waktunya dengan efektif karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk menunggu pelanggan saja. Di sisi lain ia juga menyadari bahwa di kota megapolitan dengan tingkat kemacetan yang tinggi seperti Jakarta dibutuhkan sebuah sarana transportasi yang lebih efektif dan efisien
dibandingkan kendaraan roda empat. Dengan pemikiran seperti itu maka pada tahun 2010 Nadiem Makarim memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan mendirikan PT. GO-jek indonesia Makassar bersama dengan Michaelangelo Moran dan Brian Cu.
2. Perkembangan PT. Go-jek indonesia Makassar
Pada awal berdirinya PT. GO-jek indonesia Makassar, Nadiem hanya membawahi 20 orang driver. Saat itu, Go-Jek hanya memieliki 3 jenis layanan saja yaitu Go- Ride, Go-Mart, dan Go-Send. Order dilakukan dengan menelpon operator Go- Jek yang kemudian akan menyampaikan ke para Driver dan setelah itu Driver akan melakukan penjemputan pada lokasi Pick- Up.
PT. GO-jek indonesia Makassar kemudian mengalami banyak pekembangan dan perubahan, baik dalam bentuk aplikasi dan ragam layanan. Contohnya pada tahun 2015 PT. GO-jek indonesia Makassar Makassar meluncurkan program aplikasi android smartphone, hal ini dibuat untuk kemudahan konsumen melakukan pemesanana. Kemudian di tahun 2015 Go-Jek juga mengeluarkan berbagai layanan baru seperti layanan Go- Food, Go-Med, Go-Car, dll.
Selain itu pada akhir tahun 2016 untuk kemudahan konsumen dalam melakukan pembayaran, PT. GO-jek indonesia Makassar memperkenalkan sistem Go- Pay di mana konsumen tidak harus membayar layanan yang
dipesan dengan uang kas. Kemudian di tahun 2017 diluncurkan Go-resto, untuk memudahkan belanja makanan tanpa emnggunakan uang tunai.
Dengan berbagai kemudahan yang diberikan oleh Go-Jek, perusahaan tersebut berkembang menjadi perusahaan transportasi online terbesar di Indonesia yang membawahi sekitar 80.000 driver, telah mendapatkan suntikan dana dari beberapa perusahaan asing, dan telah tersebar di 25 (dua puluh lima) kota-kota besar di Indonesia.
Saat ini, PT. GO-jek indonesia Makassartelah menjadi perusahaan starter up unicorn dalam bidang transportasi online, istilah unicorn sendiri adalah jenis istilah yang mengacu pada perusahaan starter up yang telah memiliki valuasi sebesar 1 miliar dollar amerika atau sekitar 13,1 triliun rupiah di mana PT. GO-jek indonesia Makassar Makassar adalah perusahaan asli Indonesia pertama yang berhasil menjadi perusahaan starter up unicorn.
Selain itu PT. GO-jek indonesia Makassar juga telah mendapat berbagai macam penghargaan, diantaranya The First ASEAN Enterpreneur Award dari The World Knowledge Forum di Seoul, Asian Of The Year dari The Strait Times, perusahaan Fintech Teraktif Pendukung Gerakan Nasional NonTunai Inkusi dan Edukasi Keuangan Serta Pemberdayaan Umum dari Bank Indonesia, memnangkan penghargaan dari GEPI, Agent Of Change bidang pemberdayaan dari Dompet Dhuafa dan Bakrie Award dari Achmad Bakrie XV.
PT. GO-jek indonesia Makassar juga dimasukan ke dalam daftar 50 perusahaan yang telah mengubah dunia pada urutan ke 17 oleh majalah Fortune dan Top 10 Most Powerful Brand di Indonesia pada acara Brand Asia 2017.
3. Proses Perekrutan Driver Go-Jek Makassar
Pada awal berdiirnya PT. GO-jek indonesia Makassar, sistem perekrutan dilakukan dengan cara mendatangi pengkalan-pangkalan ojek dan langsung mengajak para ojek pangkalan untuk bergabung menjadi driver Go-Jek.
Selain itu, bagi yang berminat menjadi driver Go-Jek dapat juga mendatangi kantor Go-Jek dan mendaftar langsung dengan membawa persyaratan yang telah ditentukan yaitu KTP, SIM, dan STNK setrta menyertakan jaminan yang dapat berupa Kartu Keluarga, Akta Lahir, Buku Nikah, BPKB, atau Ijazah minimal Ijazah SMP. Setelah melakukan pendaftaran dan persyaratan dinyatakan lengkap, maka calon driver Go-Jek yang telah lulus seleksi akan diberikan 2 lembar kertas yang berisi peranjian kemitraan antara PT. GO-jek indonesia Makassar dengan Calon Driver untuk ditandatangani para calon driver, bagi calon driver yang setuju dan menandatangani surat perjanjian kemitraan tersebut akan langsung diterima untuk menjadi mitra PT. GO-jek indonesia Makassar. Sedangkan yang menolak untuk mennadatangani dianggap menlak untuk bermitra dengan PT. GO-jek indonesia Makassar.
Setelah menandatangani perjanjian kemitraan, para Driver Go-Jek akan diberikan 2 buah jaket, 2 buah helm serta 1 buah smartphone.
Gbr. 4.1 Atribut driver Go-Jek Thn. 2010-2013
Atribut yang diberikan bersifat gratis di mana driver tidak perlu membayar untuk mendapatkan atribut-atribut tersebut. Setelah resmi menjadi mitra Go- Jek para driver akan mengikuti serangkaian pelatihan yang menggunakan aplikasi Go-Jek pada Android, bagaimana melayani pelanggan dengan baik serta safety riding dan training dari Gor Sudiang.
Gbr. 4.2 Pelatihan Safety Riding PT. GO-jek indonesia Makassar kerjasama dengan Rift Drive Labs (RDL).
Gbr. 4.3. Surat Tanda Terima Jaminan.
Pada tahun 2015, PT. GO-jek indonesia Makassar melakukan perekrutan besar- besaran yang dilakuakn dalam 2 (dua) gelombang yang dilaksanakan di Gor Sudiang. Gelombang I perekrutan diselenggarakan pada tanggal 11-20 Agustus 2015. Adapun gelombang II diselenggarakan pada tanggal 21-28 Agustus 2015. Dari kedua gelombang perekrutan ini, PT. GO- jek indonesia Makassar berhasil mendongkrak jumlah Driver Go-Jek dalam jumlah yang besar. Sekitar 80.000 driver Go-Jek baru yang direkrut pada saat itu. Sejak perekrutan besar-besaran tersebut, mulai diberlakukan sistem cicilan bagi para driver untuk mendapatkan atribut-atribut driver Go-Jek.
Meskipun cicilan tersebut hanya bersifat sebagai jaminan, namun apabila driver berhenti menjadi mitra Go-Jek maka uang cicilan tersebt akan dikembalikan kepada driver tersebut pada saat driver mengembalikan atribut- atributnya.
Gbr. 4.4. Atribut driver Go-Jek Thn, 2015.
Kemudian pada tahun 2016, PT. GO-jek indonesia Makassar mulai menerima driver- driver yang bersumber dari pindahan dari driver Grab maupun Uber. Hal ini menjadi polemik baru bagi PT.GO-jek indonesia Makassar karena driver-driver pindahan ini tidak menyerahkan jaminan seperti yang dilakukan oleh driver- driver Go-Jek sebelumnya. Namun, cukup menyertakan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) selain menyerahkan fotocopy KTP, SIM, dan STNK. Oleh karena itu, mulai pada tahun 2017, jaminan dihilangkan dari persyaratann pendaftaran menjadi driver Go-Jek dan diganti dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) sebagai persyaratan mendaftar menjadi driver Go-Jek, yang untuk kemudian akan ditukarkan dengan surat keterangan sebagai mitra PT. GO-
jek indonesia Makassar. Sekarang ini, bagi yang ingin mendaftar menjadi driver Go-Jek dapat secara langsung dilakukan melalui
Gbr. 4.5. Undangan untuk menjadi driver Go-Jek.
4. Perjanjian Kemitraan dan Kebijakan PT.GO-jek indonesia Makassar
Selain menyerahkan persyaratan sebagaimana telah diuraikan di atas, para calon driver Go-Jek juga harus menandatangani surat perjanjian.
Berbeda halnya dengan perjanjian kerja atau kontrak kerja pada perusahaan- perusahaan lainnya, surat perjanjian antara PT. Go-Jek dengan para driver Go-Jek adalah perjanjian kemitraan. Di mana driver Go-Jek adalah mitra kerja dari PT. GO-jek indonesia Makassar dan bukan sebagai karyawan PT.
GO-jek indonesia Makassar.
Pada awalnya, surat Perjanjian Kemitraan tersebut dibuat tertulis di atas kertas. Namun sekarang ini , surat perjanjian tersebut dibuat secara elektronik dan disetujui secara elektronik juga. Adapun surat perjanjian kemitraan elektronik ini dapat diakses langsung melalui android smartphone dari aplikasi Go-Jek untuk masing-masing driver.
Selain Perjanjian Kemitraan tersebut, para driver Go-Jek juga harus memenuhi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh PT.GO-jek indonesia Makassar (PT. Aplikasi Karaya Anak Bangsa/ AKAB) dalam pelaksanaan tugas-tugas hariannya sebagai driver Go-Jek. Sebagaimana halnya dengan perjanjian kemitraan, kebijakan-kebijakan PT. GO-jek indonesia Makassar dapat diakses melalui info-info yang langsung dikirim ke android para driver dan dapat juga melalui website https://driver.go-jek.com/hc.id
Gbr. 4.6. Surat Perjanjian Kemitraan, perekrutan
5. Hubungan Antara Penyedia Aplikasi, Driver Gojek, dan Penumpang.
Intisari:
Hubungan hukum antara perusahaan penyedia aplikasi dengan driver sebagai penyedia layanan untuk penumpang (konsumen) adalah
hubungan kemitraan karena tidak ada unsur upah dan perintah, bukan merupakan hubungan kerja. Sedangkan hubungan hukum antara driver (sebagai penyedia layanan) dengan penumpang adalah hubungan antara penyedia layanan jasa dengan konsumen.
Hubungan Kemitraan Antara Perusahaan Penyedia Aplikasi dengan Driver. Sebagaimana yang pernah dijelaskan dalam artikel Sopir Taksi, Karyawan atau Mitra Usaha?, Umar Kasim dalam artikelnya Menghindari Penyelundupan Hukum dalam Perjanjian Pemborongan Pekerjaan menjelaskan bahwa perjanjian kemitraan adalah bentuk umum suatu hubungan hukum antara satu pihak dengan pihak lainnya atas dasar hubungan kemitraan (partnership agreement). Ketentuan umum perjanjian kemitraan adalah Pasal 1338 jo Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUH Perdata”). Sedangkan, ketentuan khusus, bisa merujuk pada ketentuan persekutuan perdata dalam Pasal 1618 KUH Perdata s.d.
Pasal 1641 KUH Perdata, yakni hubungan hukum para pihak antara mitra satu dengan mitra lainnya dengan memasukkan suatu “modal” sebagai
“seserahan” (inbreng).
Umar Kasim dalam artikelnya yang lain, Status Hukum Tenaga Kerja Tidak Tetap di Lingkungan Instansi Pemerintah, mengatakan bahwa ada yang dinamakan perjanjian melakukan pekerjaan atas dasar kemitraan (partnership agreement). Bentuknya, bisa perjanjian bagi hasil, perjanjian keagenan (baik secara pribadi atau korporasi), inti-plasma, sub-kontrak, perjanjian pembayaran (“setoran”) sejumlah nilai uang tertentu, dan lain- lain.
Jika hubungan antara pengusaha penyedia aplikasi dan driver adalah hubungan kemitraan, maka Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan peraturan perundang-undangan lain di bidang ketenagakerjaan tidak berlaku. Ini karena peraturan perundang- undangan di bidang ketenagakerjaan mengatur mengenai hal-hal sehubungan dengan pekerja dan pengusaha.
Sedangkan, jika ini adalah perjanjian kemitraan, maka yang terjadi adalah bukan hubungan kerja atasan bawahan yang mempunyai unsur
pekerjaan, upah, dan perintah, melainkan kesetaraan antara para pihak dalam hubungan kemitraan tersebut. Ini karena dalam hubungan kemitraan tidak ada unsur upah dan perintah.
Jadi hubungan hukum antara pengusaha penyedia aplikasi dengan driver adalah setara (mitra) karena tidak ada unsur upah dan perintah.
Penjelasan lebih lanjut silakan Anda simak Sopir Taksi, Karyawan atau
Mitra Usaha? dan Status Hubungan Pengojek dan Perusahaan Aplikasi Layanan Ojek.
Kemudian terkait dengan pertanyaan Anda, bagaimana hubungan hukum yang terjadi antara driver dengan penumpang angkutan berbasis aplikasi?
Hubungan Hukum Antara Driver dengan Penumpang
Untuk mengetahui hubungan hukum antara driver dengan
penumpang, menurut kami perlu kita ketahui terlebih dahulu Kebijakan Umum yang berlaku di perusahaan penyedia aplikasi yang bersangkutan.
Sebagai contoh, kami mengutip Term and Condition dari Gojek Indonesia (PT Aplikasi Karya Anak Bangsa) yang antara lain menyebutkan bahwa:
a. ...,
b. Aplikasi ini merupakan aplikasi perangkat lunak yang berfungsi sebagai sarana untuk menemukan layanan dengan menggunakan sepeda motor yang disediakan oleh pihak ketiga (pengemudi ojek) ("Penyedia(-penyedia) Layanan"). Aplikasi ini menawarkan informasi tentang layanan yang ditawarkan oleh Penyedia Layanan....,
c. ..., d. ...,
e. Untuk menghindari keragu-raguan, kami adalah perusahaan teknologi, bukan perusahaan transportasi atau kurir dan kami tidak memberikan layanan transportasi atau kurir. Kami tidak mempekerjakan Penyedia
Layanan dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap tindakan dan/atau kelalaian Penyedia Layanan. Aplikasi ini hanya merupakan sarana untuk memudahkan pencarian atas Layanan. Adalah
tergantung pada Penyedia Layanan untuk menawarkan Layanan kepada Anda dan tergantung pada Anda apakah Anda akan menerima tawaran Layanan dari Penyedia Layanan.
Dari penjelasan tersebut dapat kita lihat bahwa Gojek Indonesia
merupakan perusahaan teknologi, bukan perusahaan transportasi yang memberikan layanan transportasi. Hubungan hukum antara Gojek
Indonesia sebagai penyedia aplikasi dengan driver ojek sebagai penyedia layanan untuk penumpang (konsumen) adalah hubungan kemitraan bukan hubungan kerja. Sedangkan hubungan hukum antara driver ojek (sebagai penyedia layanan) dengan penumpang merupakan hubungan hukum antara penyedia layanan jasa dengan konsumen.
Menurut hemat kami, hubungan antara penumpang dengan driver adalah konsumen dengan penyedia layanan jasa. Hal ini karena menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen (“UU Perlindungan Konsumen”), konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Dengan demikian, baik pengusaha penyedia aplikasi dan driver ojek sebagai penyedia layanan jasa wajib melaksanakan hak penumpang sebagai konsumen yaitu:
a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif
h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Sebagai contoh, pemenuhan hak konsumen ini jika kita ambil dari Gojek Indonesia adalah PT Aplikasi Karya Anak Bangsa memberikan santunan musibah kecelakaan kepada seluruh pelanggan GO-JEK yang menggunakan layanan. Konsumen akan menerima penggantian sampai dengan Rp. 10 juta* dan untuk biaya rumah sakitnya sampai dengan Rp.
5 juta*.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Dasar hukum:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;
3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Gambar 4.7 Aplikasi Costumer
B. Deskripsi Responden
Dalam rangka mengumpulkan data untuk penelitian ini telah disebar kuesioner kepada 100 responden. Kuesioner tersebut disebar di beberapa pangkalan driver gojek yang tersebar di daerah Jakarta Selatan. Berikut merupakan gambaran responden yang menjawab kuesioner :
Deskripsi Karakteristik Responden
No Keterangan Jumlah Persentase 1 Jenis Kelamin :
a. Laki-laki 98 98%
b. Perempuan 2 2%
Total 100 100%
2 Pendidikan Terakhir :
a. SMA/SMK 50 50%
b. D3 0 0%
c. S1 8 8%
d. SMP/MTS 11 11%
e. SD 31 31%
Total 100 100%
3 Status :
a. Menikah 66 66%
b. Belum Menikah 34 34%
Total 100 100%
Tabel 4.1 Deskripsi Karakteristik Responden
Berdasarkan tabel diatas, dapat kita lihat bahwa seluruh jumlah responden laki- laki 98 orang dan perempuan 2 orang. Kemudian sebanyak 50 orang memiliki pendidikan terakhir SMA/SMK, 8 orang merupakan S1, 11 orang SMP/MTS, 31 orang SD. Dan untuk status pernikahan 66 orang telah menikah dan 34 orang belum menikah
C. Analisa Deskriptif
X1.1
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid STS 1 1,0 1,0 1,0
TS 2 2,0 2,0 3,0
N 8 8,0 8,0 11,0
S 32 32,0 32,0 43,0
SS 57 57,0 57,0 100,0
Total 100 100,0 100,0
Tabel 4.2 Analisa Deskriptif
Data SPSS .2021
Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa 1 orang responden menjawab STS , 2 orang menjawab TS dan 8 orang menjawab N , 32 menjawab S , 57 orang menjawab SS terhadap pernyataan yang diberikan sehingga dapat disimpulkan bahwa perjanjian kerja bersama PT. GO-jek indonesia Makassar memiliki kejelasan hubugan antara PT. GO-jek indonesia Makassar dengan Drivernya.
X1.2
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid TS 1 1,0 1,0 1,0
N 15 15,0 15,0 16,0
S 55 55,0 55,0 71,0
SS 29 29,0 29,0 100,0
Total 100 100,0 100,0
Tabel 4.3 Analisa Deskriptif
Data SPSS .2021
Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa 1 orang responden menjawab TS , dan 15 orang menjawab N , 55 menjawab S , 29 orang
menjawab SS , terhadap pernyataan yang diberikan sehingga dapat disimpulkan bahwa perjanjian kerja bersama PT. GO-jek indonesia Makassar memiliki kejelasan hubugan antara PT. GO-jek indonesia Makassar dengan Drivernya.
X1.3
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid TS 5 5,0 5,0 5,0
N 29 29,0 29,0 34,0
S 31 31,0 31,0 65,0
SS 35 35,0 35,0 100,0
Total 100 100,0 100,0
Tabel 4.4 Analisa Deskriptif
Data SPSS .2021
Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa 5 orang responden menjawab TS , dan 29 orang menjawab N , 31 menjawab S , 55 orang menjawab SS terhadap pernyataan yang diberikan sehingga dapat disimpulkan bahwa perjanjian kerja bersama PT. GO-jek indonesia Makassar memiliki kejelasan hubugan antara PT. GO-jek indonesia Makassar dengan Drivernya.
X1.4 Frequenc
y
Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid TS 10 10,0 10,0 10,0
N 27 27,0 27,0 37,0
S 41 41,0 41,0 78,0
SS 22 22,0 22,0 100,0
Total 100 100,0 100,0
Tabel 4.5 Analisa Deskriptif
Data SPSS .2021
Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa, 10 orang menjawab TS dan 27 orang menjawab N , 41 menjawab S , 22 orang menjawab SS terhadap pernyataan yang diberikan sehingga dapat disimpulkan bahwa perjanjian kerja bersama PT. GO-jek indonesia Makassar memiliki kejelasan hubugan antara PT. GO-jek indonesia Makassar dengan Drivernya.
X2.1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid N 14 14,0 14,0 14,0
S 36 36,0 36,0 50,0
SS 50 50,0 50,0 100,0
Total 100 100,0 100,0
Tabel 4.6 Analisa Deskriptif
Data SPSS .2021
Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa, 14 orang menjawab N , dan 36 menjawab S , 56 orang menjawab SS terhadap pernyataan yang diberikan sehingga dapat disimpulkan bahwa perjanjian kerja bersama PT.
GO-jek indonesia Makassar memiliki kejelasan hubugan antara PT. GO-jek indonesia Makassar dengan Drivernya.
X2.2
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid N 26 26,0 26,0 26,0
S 47 47,0 47,0 73,0
SS 27 27,0 27,0 100,0
Total 100 100,0 100,0
Tabel 4.7 Analisa Deskriptif
Data SPSS .2021
Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa, 26 orang menjawab N , dan 47 menjawab S , 27 orang menjawab SS terhadap pernyataan yang diberikan sehingga dapat disimpulkan bahwa perjanjian kerja bersama PT.
GO-jek indonesia Makassar memiliki kejelasan hubugan antara PT. GO-jek indonesia Makassar dengan Drivernya.
X2.3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid TS 3 3,0 3,0 3,0
N 30 30,0 30,0 33,0
S 41 41,0 41,0 74,0
SS 26 26,0 26,0 100,0
Total 100 100,0 100,0
Tabel 4.8 Analisa Deskriptif
Data SPSS .2021
Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa, 3 orang menjawab TS dan 30 orang menjawab N , 41 menjawab S , 26 orang menjawab SS terhadap pernyataan yang diberikan sehingga dapat disimpulkan bahwa perjanjian kerja bersama PT. GO-jek indonesia Makassar memiliki kejelasan hubugan antara PT. GO-jek indonesia Makassar dengan Drivernya