• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

H. Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul berupa data hasil observasi, wawancara dan dokumentasi foto tentang proses pembelajaran menulis teks berita melalui strategi Think Talk Write (TTW) menggunakan foto peristiwa, serta hasil tes kemampuan menulis teks berita peserta didik. Data tersebut direduksi berdasarkan masalah yang diteliti, diikuti penyajian data, dan terakhir penyimpulan atau verifikasi. Langkah analisis ini dilakukan berulang-ulang. Tahap analisis itu diuraikan sebagai berikut:

1) Menelaah Data

Data yang terkumpul melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi foto dengan melakukan proses transkripsi hasil observasi, penyeleksian, dan pemilihan data.

Data dikelompokkan berdasarkan data pada tiap siklus 2) Reduksi Data

Data keseluruhan yang telah terkumpul diseleksi dan diidentifikasi berdasarkan kelompoknya dan mengklasifikasikan sesuai kebutuhan.

3) Menyajikan Data

Penyajian data dengan cara mengorganisasikan informasi yang telah direduksi.

Keseluruhan data dirangkum dan disajikan secara terpadu sesuai siklus yang direncanakan sehingga berfokus pada pembelajaran.

4) Menyimpulkan Hasil Penelitian

Akhir temuan penelitian disimpulkan dan dilakukan kegiatan triangulasi atau pengujian temuan penelitian. Keabsahan data diuji dengan memikirkan kembali hal-hal yang telah dilakukan dan dikemukakan melalui tukar pendapat dengan ahli atau pembimbing, teman sejawat, peninjauan kembali wawancara, hasil observasi, serta triangulasi dengan teman atau guru setelah selesai pembelajaran.

Penerapan strategi Think Talk Write (TTW) menggunakan foto peristiwa dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis teks berita pada peserta didik kelas VIII SMP Negeri 5 Karossa dikaitkan dengan ketuntasan belajar. Peserta didik yang mendapatkan nilai 70 ke atas maka strategi pembelajaran Think Talk Write (TTW) menggunakan foto peristiwa dapat dikatakan berhasil/efektif. Taraf keberhasilan yang dicapai peserta didik dikatakan berhasil apabila mencapai nilai baik dan baik sekali.

Tabel 3.1 Penentuan Patokan dengan Perhitungan Persentase untuk Skala Lima No Interval Persentase

Tingkat Penguasan

Nilai Ubah Skala Lima Keterangan

0-4 E-A

1 85 – 100 4 A Sangat Baik

2 75 – 84 3 B Baik

3 60 – 74 2 C Cukup

4 40 – 59 1 D Kurang

5 0 – 39 0 E Sangat Kurang

[ CITATION Bur10 \p 399 \l 1033 ] I. Kriteria Penilaian

Kemampuan menulis teks berita peserta didik didasarkan pada tujuh hal pokok, yaitu:1) Kemenarikan judul, 2) Kelengkapan unsur berita, 3) Ejaan dan tanda baca, 4)

Kosakata dan gaya bahasa, 5) Keefektifan kalimat, 6) Keruntutan pemaparan, 7) Kerapian tulisan.

Tabel 3.2 Pedoman Penilaian Kemampuan Menulis Teks Berita No

. Aspek Penilaian

Skor

1

Kemenarikan Judul

 Padat provokatif, sesuai isi berita

 Padat, kurang provokatif, sesuai dengan isi berita

 Bertele-tele, kurang provokatif, kurang sesuai dengan isi berita

Bertele-tele, tidak provokatif, tidak sesuai dengan isi berita

3 2 1 0,5

2

Kelengkapan Unsur Berita

 Berita terdiri dari 6 unsur berita lengkap

 Berita terdiri dari 5 unsur berita

 Berita terdiri dari 4 unsur berita

 Berita terdiri < 4 unsur berita

5 4 3 2

3

Ejaan dan Tanda Baca

 Jumlah kesalahan < 3

 Jumlah kesalahan 3 – 5

 Jumlah kesalahan 6 – 8

Jumlah kesalahan > 8

3 2 1 0,5

4

Kosakata dan Gaya Bahasa

 Baku, sangat variatif, menarik, jelas (tidak ambigu)

 Baku, menarik, variatif, cukup jelas

 Beberapa kata tidak baku, monoton, kurang menarik, kurang jelas

Banyak kata yang tidak baku, monoton, kurang menarik, kurang jelas

4 3 2 1

5

Keefektifan Kalimat

 Lugas, sedehana, dan tidak berlebihan pengungkapannya

 Lugas, sedehana, dan ada berlebihan pengungkapannya

 Ambigu, terdapat kalimat majemuk yang panjang, pengungkapan berlebihan

Ambigu, banyak kalimat yang bertele-tele, banyak terdapat pengungkapan yang berlebihan.

4 3 2 1 6 Keruntutan Pemaparan

 Runtut, dari informasi yang sangat pentingmenuju informasi yang kurang penting, sesuai dengan pola piramida terbalik

4 3

 Runtut, kurang sesuai dengan pola piramida terbalik

 Melompat-lompat dan tidak sesuai dengan pola piramida terbalik

Tidak memperhatikan pola piramida terbalik

2 1

7

Kerapian Tulisan

 Rapi, tulisan jelas terbaca dan tidak ada coretan

 Rapi, tulisan cukup jelas terbaca dengan beberapa coretan

 Kurang rapi, tulisan kurang jelas terbaca karena ada coretan

Tidak rapi, tulisan tidak jelas terbaca karena banyak coretan

2 1,5

1 0,5

Skor Maksimal 25

[ CITATION And15 \p 61- 63 \l 1033 ]

Nilai Perolehan Peserta didik ¿skor perolehan skor maksimal ×100

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini yakni hasil dari kemampuan menulis teks berita peserta didik dan hasil dari proses pembelajaran . Hasil penelitian dari kemampuan menulis teks berita peserta didik yang berupa angka dideskripsikan secara kuantitatif sedangkan hasil penelitian dari proses pembelajaran kemampuan menulis teks berita dideskripsikan secara kualitatif. Proses peningkatan pembelajaran kemampuan menulis teks berita melalui strategi Thin Talk Write (TTW) menggunakan foto peristiwa pada peserta didik kelas VIII SMP Negeri 5 Karossa dilaksanakan melalui tiga tahapan yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1. Deskripsi Hasil Penelitian Data Perencanaan Pembelajaran Kemampuan Menulis Teks Berita melalui Strategi Think Talk Write (TTW) menggunakan Foto Peristiwa pada Peserta Didik kelas VIII SMP Negeri 5 Karossa

a. Siklus I

Pada siklus I, persiapan yang dilakukan dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan rencana pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti, guru, dan peserta didik.

Kegiatan peneliti meliputi: (1) berkolaborasi dengan guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menawarkan penggunaan strategi think talk write menggunakan foto peristiwa dalam pembelajaran kemampuan menulis teks berita, (2) membantu guru menyiapkan materi pembelajaran yang akan digunakan,

(3) menyiapkan media pendukung pembelajaran, (4) membuat lembar observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran di kelas ketika pelaksanaan tindakan sedang berlangsung, dan (5) membuat alat evaluasi untuk mengukur peningkatan hasil belajar kompetensi berbicara peserta didik setelah melalui serangkaian tindakan pada siklus I.

Kegiatan guru, meliputi: (1) berkolaborasi dengan peneliti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), (2) melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan petujuk dalam RPP, (3) bersama peneliti melakukan tes siklus pertama, (4) bersama peneliti mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung proses pembelajaran, (5) memberikan umpan balik kepada peserta didik.

Rencana kegiatan peserta didik, meliputi: (1) mengikuti kegiatan pembelajaran, (2) menyelesaikan tes hasil belajar, (3) menerima umpan balik dari guru, (4) mengisi lembar daftar wawancara dan jurnal.

Pengamatan dilakukan oleh peneliti terhadap kegiatan guru dan peserta didik selama proses pembelajaran kompetensi bebricara berlangsung (berdasarkan lembar obserasi). Rencana pelaksanaan pembelajaran diracancang agar relevan dengan kondisi peserta didik. Oleh karena itu, ditentukan upaya tindakan yang memiliki tujuh unsur pembelajaran yang meliputi: (1) indikator, (2) tujuan pembelajaran, (3) materi pembelajaran, (4) metode pembelajaran, (5) langkah-langkah pembelajaran, (6) sumber, alat, dan media pembelajaran, (7) penilain.

b. Siklus II

Pada siklus II peneliti dan guru merumuskan rencana pelaksanaan pembelajaran tetap sama pada siklus I, hanya pelaksanaannya akan lebih dimaksimalkan dari kekurangan-kekurangan pada siklus I yakni menyiapkan materi pembelajaran dan media pendukung proses pembelajaran. Pengumpulan data tetap dilakukan berdasarkan lembar observasi aktivitas peserta didik dan kinerja guru serta daftar wawancara dan jurnal akhir siklus.

2. Deskripsi Hasil Penelitian Data Pelaksanaan Pembelajaran Kemampuan Menulis Teks Berita melalui Strategi Think Talk Write (TTW) menggunakan Foto Peristiwa pada Peserta Didik kelas VIII SMP Negeri 5 Karossa

a. Siklus I

1) Kegiatan Pembelajaran Siklus I a) Pertemuan Pertama

Pada pertemuan pertama, guru menyampaikan materi pembelajaran yang akan diajarkan yaitu mengenai kemampuan menulis teks berita dan aspek-aspek kemampuan menulis teks berita. Penekanan pembelajaran pada pertemuan pertama ini adalah kemampuan awal peserta didik mengenai aspek-aspek kemampuan menulis teks berita. Guru menjelaskan mengenai pengertian menulis teks berita dan aspek- aspek kemampuan menulis teks berita yang meliputi kemenarikan judul, kelengkapan unsur berita, ejaan dan tanda baca, kosakata dan gaya bahasa, keefektifan kalimat, keruntutan pemaparan, dan kerapian tulisan. Selanjutnya guru memberikan

kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya apabila ada hal yang belum dipahami terkait materi yang telah dijelaskan.

Guru membagi peserta didik menjadi 6 kelompok secara heterogen yang beranggotakan 5-6 peserta didik. Selanjutnya guru membagikan foto peristiwa.

Peserta didik kemudian menyusun daftar pertanyaan terkait foto peristiwa yang dibagikan dan mengidentifikasi kelengkapan unsur berita yang bisa tersajikan.

b) Pertemuan Kedua

Pada pertemuan kedua guru dan peserta didik bertanya jawab mengenai kendala yang dihadapi peserta didik dalam kemampuan menulis teks berita.

Kemudian peserta didik yang dibagi ke dalam kelompok heterogen mengerjakan lembar kerja peserta didik (LKPD) yang memuat foto peristiwa yang akan dianalisa.

Peserta didik menyusun daftar pertanyaan terkait foto peristiwa sebagai bagian hasil berpikir (think) dan mendiskusikan secara kelompok (talk), untuk selanjutnya secara individu dalam kelompok menulis teks berita (write).

2) Data dan Analisis Data Observasi Aktifitas Peserta didik pada Siklus I

Pada siklus I ini, data proses pembelajaran diperoleh dari hasil observasi terhadap aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran kemampuan menulis teks berita dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Setiap pertemuan berlangsung selama 2 x 45 menit. Kegiatan observasi dilakukan dengan menggunakan format observasi peserta didik yang telah disediakan

sebelumnya. Gambaran proses pelaksanaan setiap pertemuan pada siklus I diuraikan seperti berikut ini.

a) Pertemuan Pertama

Pada pertemuan pertama, peneliti memodelkan langkah-langkah pembelajaran kepada guru, selanjutnya guru mata pelajaran menjelaskan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan metode yang digunakan dalam penelitian. Materi pembelajaran yang diberikan adalah mengenai materi pembelajaran kemampuan menulis teks berita. Kelas dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok terdiri dari lima atau lebih peserta didik.

Tabel 4.1 Aktivitas Peserta didik pada Pertemuan Pertama

No Kegiatan Pembelajaran

Persentase Keaktifan %

Jumlah Aktif Kurang

Aktif Tidak Aktif

1.

Peserta didik menyimak materi

yang disampaikan oleh guru. 10 (32,26)

8 (25,81)

13 (41,93)

31 (100%)

2.

Peserta didik mengutarakan pendapat mengenai menulis teks berita menggunakan think talk write melalui foto peristiwa

10 (32,26)

9 (29,03)

12 (38.71)

31 (100%)

3.

Peserta didik membentuk kelompok heterogen dipandu oleh guru.

18 (58,07)

9 (29,03)

4 (12,90)

31 (100%)

4. Peserta didik membaca teks berita

yang dibagikan guru 13

(41,93)

4 (12,90)

14 (45,17)

31 (100%)

5.

Peserta didik menyusun daftar pertanyaan berkaitan isi teks berita 9

(29,03)

9 (29,03)

13 (41,94)

31 (100%)

6.

Peserta didik menuliskan unsur- unsur berita dalam foto peristiwa berdasarkan strategi think talk write (TTW)

12 (38,71)

7 (22,58)

12 (38,71)

31 (100%)

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa pada kegiatan pembelajaran, mulai dari kegiatan peserta didik menyimak materi yang disampaikan guru, didominasi oleh peserta didik yang tidak aktif sebanyak 13 orang (41,93%), peserta didik yang kurang aktif sebanyak 8 orang (25,81 %), dan peserta didik yang aktif sebanyak 10 orang (32,26%). Menurut pengamatan peneliti, banyaknya peserta didik yang tidak aktif dan kurang aktif dalam menyimak materi pembelajaran disebabkan karena mata pelajaran bahasa Indonesia pada saat itu berada di jam terakhir. Peserta didik terlihat lelah dan tidak bersemangat dalam menerima materi pembelajaran.

Pada kegiatan pembelajaran peserta didik mengutarakan pendapat mengenai menulis teks berita menggunakan think talk write melalui foto peristiwa hanya 10 peserta didik (32,26%) yang aktif mengangkat tangan dan mengutarakan pendapat mereka. Terdapat 9 orang peserta didik (29,03%) tampak kurang aktif untuk

memberikan pendapat dan 12 peserta didik (38,71%) terlihat tidak aktif sama sekali dalam mengutarakan pendapat. Menurut pengamatan peneliti, hal ini disebabkan oleh kebanyakan peserta didik belum memiliki keberanian untuk ikut aktif memberikan kontribusi dalam mengutarakan pendapatnya.

Pada kegiatan pembelajaran peserta didik membentuk kelompok secara heterogen yang dipandu oleh guru, diperoleh data sebanyak 18 peserta didik (58,07%) aktif, 9 peserta didik (29,03%) kurang aktif, dan 4 peserta didik (12,90%) tidak aktif. Menurut pengamatan peneliti, hal tersebut disebabkan oleh kecenderungan peserta didik untuk berkelompok dengan teman duduk mereka sehingga kurang antusias terhadap kelompok yang dibentuk oleh guru.

Pada kegiatan pembelajaran peserta didik membaca teks berita yang dibagikan guru, terdapat 13 peserta didik (41,93%) aktif, kemudian sebanyak 4 peserta didik (12,90%) kurang aktif, dan 14 peserta didik (45.17%) tidak aktif. Menurut peneliti, kegiatan pembelajaran ini didominasi oleh peserta didik yang tidak aktif karena kebanyakan peserta didik hanya bergantung pada teman-teman dalam kelompoknya.

Suasana pembelajaran yang saat itu berada di jam terakhir, membuat peserta didik kurang antusias dalam membaca teks berita.

Pada kegiatan pembelajaran peserta didik menyusun daftar pertanyaan berkaitan isi teks berita, terdapat 9 peserta didik (29,03%) aktif, kemudian sebanyak 9 peserta didik (29,03%) kurang aktif, dan sebanyak 13 peserta didik (41,94%) tidak aktif.

Menurut pengamatan peneliti, banyaknya peserta didik yang tidak aktif dalam menyusun daftar pertanyaan berkaitan isi teks berita disebabkan karena peserta didik

cenderung bergantung kepada teman sekelompoknya yang aktif dan mereka terlihat masih ragu-ragu dalam mengutarakan pendapat.

Pada kegiatan pembelajaran peserta didik menuliskan unsur-unsur berita dalam foto peristiwa berdasarkan strategi think talk write (TTW), terdapat 12 peserta didik (38,71%) aktif, kemudian sebanyak 7 peserta didik (22,58%) kurang aktif, dan sebanyak 12 peserta didik (38,71%) tidak aktif. Menurut peneliti, banyaknya peserta didik yang tidak aktif disebabkan kecenderungan peserta didik untuk bergantung kepada teman sekelompoknya.

b) Pertemuan Kedua

Berdasarkan perencanaan penelitian yang telah ditetapkan, maka pada pertemuan kedua, materi pembelajaran yang diajarkan selanjutnya adalah menyusun daftar pertanyaan dan unsur-unsur berita berdasarkan foto peristiwa yang dibagikan, selanjutnya peserta didik menuliskan teks berita dengan memperhatikan 7 aspek penilaian.

Tabel 4.2 Aktivitas Peserta Didik pada Pertemuan Kedua

No Kegiatan Pembelajaran

Persentase Keaktifan %

Jumlah Aktif Kurang

Aktif Tidak Aktif

1.

Peserta didik bertanya jawab mengenai materi kriteria penulisan berita yang baik dan benar

21 (67,74)

6 (19,36)

4 (12,90)

31 (100%)

2. Peserta didik membentuk kelompok 19 7 5 31

heterogen

(61,30) (22,58)

(16,12)

(100%)

3.

Peserta didik mengerjakan LKPD

yang memuat foto peristiwa 11 (35,49)

7 (22,58)

13 (41,93)

31 (100%)

4.

Peserta didik menyusun daftar pertanyaan berdasarkan pengamatan terhadap foto peristiwa

14 (45,17)

13 (41,93)

4 (12,90)

31 (100%)

5.

Peserta didik menuliskan unsur- unsur berita dalam foto peristiwa berdasarkan strategi think talk write (TTW)

13 (41,94)

9 (29,03)

9 (29,03)

31 (100%)

6.

Peserta didik menulis berita berdasarkan foto peristiwa melalui strategi think talk write (TTW)

15 (48,39)

5 (16,12)

11 (35,49)

31 (100%)

Berdasarkan tabel 4.2, kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan peserta didik bertanya jawab mengenai materi kriteria penulisan berita yang baik dan benar, didominasi oleh peserta didik yang aktif sebanyak 21 orang (67,74%), peserta didik yang kurang aktif sebanyak 6 orang (19,36%), dan peserta didik yang tidak aktif sebanyak 4 orang (12,90%). Menurut pengamatan peneliti, peserta didik yang aktif pada kegiatan pembelajaran ini bertambah karena peserta didik antusias mengikuti pembelajaran yang menggunakan media foto peristiwa.

Dalam tahap membentuk kelompok heterogen, 19 peserta didik (61,30%) terlihat aktif, 7 peserta didik (22,58 %) kurang aktif, dan 5 peserta didik (16,12%) tidak aktif. Berdasarkan pengamatan peneliti, peserta didik yang aktif secara teknis sudah memahami efektifitas kerjasama dalam kelompok pembelajaran. Peserta didik yang kurang aktif sebanyak 7 orang terlihat masih kurang kuat minat untuk kecenderungan belajar kelompok. Peserta didik yang kurang aktif disebabkan karena peserta didik tersebut masih kurang persuasif terhadap dinamika kelompoknya.

Pada kegiatan pembelajaran peserta didik mengerjakan LKPD yang memuat foto peristiwa, menunjukkan 11 peserta didik (35,49%) aktif. Terdapat 7 peserta didik (2,58%) terlihat kurang aktif disebabkan karena peserta didik merasa kurang percaya memahami teks berita. 13 peserta didik (41,93%) tampak tidak aktif dalam disebabkan mereka lebih cenderung mendengarkan pendapat temannya, tanpa mau berusaha mengerjakan sendiri LKPD..

Pada kegiatan pembelajaran peserta didik menyusun daftar pertanyaan berdasarkan pengamatan terhadap foto peristiwa, diperoleh data sebanyak 14 peserta didik (45,17%) aktif, 13 peserta didik (41,93%) kurang aktif, dan 4 peserta didik (12,90%) tidak aktif. Pada kegiatan pembelajaran ini, peserta didik yang aktif sebanyak 14 orang sudah secara antusias dan aktif menyusun daftar pertanyaan.

Peserta didik yang kurang aktif hanya bertindak sebagai pendukung untuk menyemarakkan diskusi berkaitan identifikasi daftar pertanyaan, sedangkan peserta didik yang tidak aktif adalah peserta didik yang hanya mengikuti pendapat temannya.

Pada kegiatan menuliskan unsur-unsur berita dalam foto peristiwa berdasarkan strategi think talk write (TTW), peneliti memperoleh data bahwa terdapat 13 peserta didik (41,94%) yang aktif dalam berdiskusi, peserta didik yang lain tampak pasif dan masih ragu-ragu untuk menuliskan unsur-unsur teks berita. Terdapat 9 peserta didik (29,03%) tampak kurang aktif dan sebanyak 9 peserta didik (29,03%) terlihat tidak aktif dalam menulis unsur berita berdasarkan foto peristiwa.

Pada kegiatan pembelajaran peserta didik menulis berita berdasarkan foto peristiwa melalui strategi think talk write (TTW), terdapat 15 peserta didik (48.39%) dinyatakan aktif, kemudian sebanyak 5 peserta didik (16,12%) dinyatakan kurang aktif, dan sebanyak 11 peserta didik (35,49%) tidak aktif. Menurut pengamatan peneliti, hanya 15 peserta didik yang secara aktif menulis teks berita.

Observasi pembelajaran kompetensi berbicara pada siklus pertama dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati dalam observasi ini meliputi perilaku yang ditunjukkan peserta didik dan guru selama mengikuti pembelajaran. Dari kegiatan observasi ini juga diperoleh data mengenai menulis teks berita peserta didik mulai dari aspek kemenarikan judul, kelengkapan unsur berita, ejaan dan tanda baca, kosakata dan gaya bahasa, keefektifan kalimat, keruntutan pemaparan, dan kerapian tulisan.. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, secara keseluruhan proses pembelajaran kemampuan menulis teks berita siklus pertama masih dikategorikan belum memuaskan.

Melalui observasi pada siklus I ada beberapa respon perilaku peserta didik yang dapat dilihat dalam menerima pembelajaran kemampuan menulis teks berita melalui

strategi Think Talk Write (TTW) menggunakan foto peristiwa. Selama pembelajaran tidak semua peserta didik dapat mengikuti dengan baik. Mereka terlihat masih sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Dalam proses belajar-mengajar peserta didik tampak tidak siap dalam mengikuti pembelajaran. Beberapa orang peserta didik terlihat berbicara dengan temannya ketika guru menjelaskan materi pembelajaran.

Pada kegiatan inti, peserta didik tampak tidak aktif dalam menyusun daftar pertanyaan, mengidentifikasi unsur-unsur, dan menulis berita.

Pada akhir pembelajaran, secara kolaboratif kegiatan refleksi antara guru dan peneliti dilakukan. Dalam proses itu, dapat diakui bahwa pembelajaran memang belum berlangsung lancar sehingga hasil yang dicapai belum mencapai target penilaian yang ditetapkan. Agar dapat mencapai hasil yang baik tersebut, pelaksanaan siklus II masih perlu dilakukan. Oleh karena itu, pelaksanaan siklus II dilakukan lebih cermat guna mengatasi kendala-kendala pada siklus I. Hal ini disebabkan guru belum menjelaskan secara terperinci tentang materi teks berita dan strategi think talk write menggunakan foto peristiwa.

Setelah dilaksanakan pembelajaran menulis teks berita melalui strategi think talk write menggunakan foto peristiwa pada siklus I dapat diketahui bahwa strategi yang digunakan guru cukup banyak disukai peserta didik. Peserta didik merasa lebih mudah untuk memahami materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Namun tidak semua peserta didik bersikap seperti itu, beberapa anak terlihat tidak begitu antusias mengikuti kegiatan pembelajaran. Terlihat peserta didik berbicara sendiri dan bergurau dengan teman sebangkunya, atau berjalan-jalan ke bangku temannya.

Selama pembelajaran berlangsung peserta didik juga kurang begitu aktif, terlihat peserta didik masih ragu dan takut untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Strategi yang dilakukan selama pelaksanaan siklus pertama membuat peserta didik menjadi cukup aktif dalam proses pembelajaran. Berdasarkan data-data tersebut, dinyatakan bahwa penggunaan strategi think talk write menggunakan foto peristiwa masih perlu diterapkan pada kegiatan pembelajaran pada siklus selanjutnya.

2) Data dan Analisis Data Observasi Aktivitas Guru pada Siklus I

Pada siklus I ini, data proses pembelajaran diperoleh dari hasil observasi, terhadap aktivitas guru selama proses pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Setiap pertemuan berlangsung selama 2 x 40 menit. Kegiatan observasi dilakukan dengan menggunakan format observasi guru yang telah disediakan sebelumnya. Gambaran proses aktivitas guru setiap pertemuan pada siklus I diuraikan seperti berikut ini.

a) Pertemuan Pertama

Pada pertemuan pertama di siklus I ini diperoleh gambaran aktifitas guru yang disajikan lewat tabel berikut:

Tabel 4.3 Aktivitas Guru Pertemuan Pertama No

. Kegiatan Pembelajaran

Sangat

Baik Baik Cukup Kurang

1. Guru membuka pelajaran √

2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

3. Guru memberikan motivasi

belajar √

4. Guru mengorganisasikan kelas menjadi kelompok-kelompok kecil

√ 5. Guru mengarahkan peserta

didik pada materi pembelajaran

√ 6. Guru mengobservasi kegiatan

kemampuan menulis teks berita peserta didik selama proses pembelajaran

7. Guru memberikan penguatan atau penghargaan kepada peserta didik

8. Guru menutup pelajaran √

Berdasarkan tabel 4.3, diperoleh data bahwa aktivitas guru dalam proses pembelajaran pada pertemuan pertama belum terlaksana secara maksimal. Ada beberapa aktivitas guru yang terlaksana dengan baik yaitu pada saat membuka pelajaran, mengorganisasikan kelompok-kelompok, mengarahkan peserta didik pada kondisi pembelajaran, dan pada saat guru menutup pelajaran. Selanjutnya aktivitas guru yang cukup baik yaitu guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberi penguatan terhadap pendapat peserta didik. Pada aktivitas memberikan motivasi kepada peserta didik dan mengobservasi kegiatan kemampuan menulis teks berita peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung, guru kurang melaksanakannya dengan baik.

Guru kurang memberikan motivasi belajar kepada peserta didik sebelum memasuki pembelajaran. Hal inilah yang sering kali menjadi penyebab rendahnya

minat peserta didik dalam mengikuti pelajaran khususnya kemampuan menulis teks berita. Upaya guru dalam menanamkan minat dan keterampilan menulis teks berita kepada peserta didik sangat kurang. Selanjutnya pada kegiatan mengobservasi kegiatan menulis teks bertita peserta didik, guru tidak melaksanakannya dengan maksimal. Ada beberapa aktivitas guru yang seharusnya dapat dihindari dalam kegiatan ini seperti sering mengangkat telepon di hadapan peserta didik dan adanya keperluan administrasi sekolah yang mengaharuskan guru meninggalkan kelas untuk sementara waktu. Hal ini tentunya berpengaruh pada tingkat keseriusan dan antusias peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Guru juga tidak maksimal dalam memberikan penguatan terhadap pendapat yang dikemukakan oleh peserta didik.

b) Pertemuan Kedua

Pada pertemuan kedua di siklus I ini diperoleh gambaran aktifitas guru yang disajikan lewat tabel berikut:

Tabel 4.4 Aktivitas Guru Pertemuan Kedua

No Kegiatan Pembelajaran Sangat

Baik

Baik Cukup Kuran g

1. Guru membuka pelajaran

2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

3. Guru memberikan motivasi belajar

4. Guru mengorganisasikan kelas menjadi kelompok-kelompok kecil

5. Guru mengarahkan peserta didik pada

materi pembelajaran

6. Guru mengobservasi kegiatan

kemampuan menulis teks berita peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung

Dokumen terkait