BAB III METODE PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
a. Analisis kelayakan instrumen 1) Uji Validitas Tes
Validitas atau kesahihan menunjukan sejauh mana alat ukur mampu mengukur apa yang ingin di ukur. 44 Setiap data harus diukur dengan alat ukur yang tepat agar hasilnya dapat dipercaya. Dalam penelitian ini, instrument yang dipakai adalah tes uraian (essay), untuk validitas setiap butir tes tersebut, maka penelitian menguji validitas instrument menggunakan Rumus Korelasi Product Moment.45 Kriteria penilaian: “Jika r_xy lebih besar atau sama dengan nilai r pada taraf signifikasi tertentu, berarti instrumen tersebut memenuhi kriteria validitas”. 2) Uji Reabilitas Tes
Reabilitas merupakan suatu pengertian bahwa suatu instrument dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrument itu
43 Ibid., hlm. 141.
44 Syofian Siregar, Statistik…,HLM.75.
45 Kasmadi Dan Nia Siti Sunariah, Panduan Modern….Hlm.78.
62
sudah baik. Tes yang digunakan berbentuk uraian (essay). Untuk mengukur reabilitas dapat digunakan Alfa Cronbach. Kriteria penilaian: “Jika semakin besar nilai cronbach yang di dapat, maka semakin tinggi tingkat reabilitas penelitian yang dilakukan”. b) Analisis deskriptif
1) Data kemampuan hasil belajar
Penilaian terhadap kemampuan hasil belajar individual dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Presentase Penguasaan Keterangan:
P= Presentasi hasil yang diperoleh F= Frekuensi hasil yang diperoleh n= Jumlah responden sempel
Ketuntasan dalam belajar disekolah dilihat menurut kriteria ketuntasan minimal, biasa disebut dengan (KKM). Jadi siswa dikatakan mencapai (KKM) atau lebih besar dari nilai (KKM) yang di tentukan. Adapun kategori tingkat penilaian untuk kemampuan hasil belajar individu sebagai berikut:
Tabel 1.6. Kategori penilaian hasil belajar individu
Rentang nilai Kategori
80 – 100 Sangat baik
66 – 75 Baik
56 – 65 Cukup
63
40 – 55 Kurang
30 – 39 Sangat kurang 2) Data Keterampilan Proses Sains (KPS)
Untuk mengetahui data keterampilan proses sains dapat menggunakan rumus sebagi berikut:
Presentase Penguasaan Keterangan:
P= Presentasi hasil yang diperoleh F= Frekuensi hasil yang diperoleh n= Jumlah responden sempel
Adapun kategori keterampilan proses sains sebagai berikut:46
Tabel 1.7. Kategori keterampilan proses sains (KPS)
No. Kategori Presentase rerata skor (%)
1. Sangat tinggi 81-100
2. Baik 61-80
3. Cukup 41-60
4. Kurang 21-40
5. Sangat kurang 0-20
3) Data Keterlaksanaan Pembelajaran
46 Etty Nurmala Fadillah. Pengembangan Instrument Penilaian Untuk Mengukur Keterampilan Proses Sains Siswa SMA. Jurnal Peneltian Pendidikan Biologi (2017), 1 (2), 123-134.
64
Untuk mengetahui data keterlaksanaan pembelajaran dapat menggunakan rumus sebagi berikut:47
Penilain Akhir
Aadapun kategori tingkat pengetahuan data keterlaksanaan pembelajaran sebagai berikut:
Tabel 1.8. Kategori keterlaksanaan pembelajaran
c) Aanalis Prasyarat 1) Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data tersebut terdapat normal atau tidak. Uji normalitas dihitung dengan menggunakan Rumus Chi Kuadrat. Kriteria penilaian: “Jika pengujian yang diambil berdasarkan nilai data probabilitas jika nilai probabilitas ( ) 0,05, maka tidak berdistribusi
47 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D, 2012.
Kategori Keterlaksanaan Pembelajaran (%)
Interprestasi 0,0 - 24,5 Sangat kurang
25,0 – 37,5 Kurang
37,6 – 62,5 Sedang
62,6 – 87,5 Baik
87,6 – 100 Sangat baik
65
normal. Data dikatakan berdistribusi normal, jika data probabilitasnya ( ) 0,05”.
2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua data tersebut homogen atau tidak. Uji homogenitas juga bertujuan untuk mengetahui jumlah varians dari kelas eksperimen dan kelas control. Uji homogenitas bisa menggunakan rumus F =
Kriteria penilaian: “Jika Fhitung Ftabel berarti data bersifat homogen dan Ho diterima”.
d) Uji Hipotesis
Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan keterampilan proses sains dan hasil belajar peserta didik setelah dan sebelum diberi perlakuan. (Ho) hipotesis nol ditolak dan (Ha) hipotesis diterima.
Sebelum melakukan analisis menggunakan uji anacova terlebih dahulu melakukan uji prasyarat.
e) Uji T bertujuan untuk menguji kebenaran hipotesis yang menyatakan bahwa sampel yang diambil secara random dari populasi yang sama tidak ada perbedaan yang signifikan. Jika jumlah sampel sama dan varian homogen, maka rumus t-tes bisa menggunakan uji t polled varians menggunakan Software Spss. Kriteria penilaian: “Jika angka sig < 0.05 maka Ho ditolak, yang
66
berarti hubungan linier antara covariate dengan peubah respon”.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Kelayakan Instrumen
Penelitian ini dilakukan empat kali pertemuan, yaitu pertemuan pertama pendidik membagikan tes pre-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pertemuan ke dua dan ke tiga pendidik melakukan keterlaksanaan pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dan pertemuan ke empat pendidik membagikan post-test pada siswa. Dari pendidik ini
67
didapatkan data Keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa. Dengan kelas eksperimen diberi treatment (perlakuan) dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing.
Sedangkan kelas kontrol tidak diberi treatment (perlakuan) dengan menggunakan model pembelajaran convesional.
Berikut ini data hasil belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan kelas (eksperiment) VII B dan kelas kontrol VII A MTS Nurul Islam Sekarbela.
1. Analisis kelayakan instrumen a. Validasi pakar
Sebelum intrumen digunakan dalam penelitian maka di lakukan uji coba tujuannya untuk mengetahui layak sebuah instrumen yaitu soal tes keterampilan proses sains dan hasil belajar. Maka instrumen tersebut perlu di uji kelayakannya untuk melakukan uji kelayakan atau validitas di lakukan jenis validitas pakar yang di lakukan pada dosen di bidangnya, yaitu validitas materi, validitas bahasa dan validitas pendukung instrument sehingga instrument di katakan valid atau tidak valid. Tujuan validasi adalah untuk mengetahui tingkat kelayakan tes keterampilan proses sains dan hasil belajar di gunakan secara umum. Hasil dari kegiatan ini adalah masukan untuk perbaikan draf lembar tes keterampilan proses sians dan hasil belajar.
Setelah produk selesai di kerjakan, pada tahap ini
68
adalah menguji valid tidaknya produk ke ahli (validator) yang kompoten terhadap tes keterampilan proses sians dan hasil belajar siswa dan validasi pakar ini di lakukan dua kali. Uji validitas di berikan kepada (validator) pakar, yaitu pakar bahan ajar IPA biologi.
Peneliti memberikan 11 soal keterampilan proses sains (KPS) dan 14 soal untuk hasil belajar. Setelah di lakukan validasi pada ahli pakar (validator) semua soalnya valid baik yang dari soal KPS maupun dari hasil belajar.
B. Hasil Penelitian 1. Analisis deskriptif
a. Data keterampilan proses sains (KPS)
Hasil keterampilan proses sains didapatkan pada pre-test dan post-test. Pre-test diberikan pada pertemuan pertama sebelum di berikan perlakuan sedangkan post-test diberikan sesudah diberi perlakuan dengan menggunakan tes uraian essay.
Tabel 4.1. Data kemampuan pre-test dan post-test KPS
No. Kelas Perlakuan N Total nilai
Rata- rata 1. Eksperimen Pre-test
32 1407 43.96 Post-test
32 1333 41,65 2. Kontrol Pre-test 32 1917 59,90
69 Post-test
32 2487 77,71 Siswa kelas VII-A dan VII B yang diikuti oleh masing-masing 32 siswa. Penelitian memberikan 11 soal dalam bentuk tes uraian essay pada tes pembelajaran IPA untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa. Setiap jawaban dinilai berdasarkan ketentuan yang ada dirubrik penilaian. Berdasarkan pada tabel di atas hasil pre-test kelas eksperimen untuk kemampuan awal siswa diperoleh total nilai sebesar 1407 dengan nilai rata-rata 43,96. Hasil post-test kelas eksperimen dari hasil belajar siswa diperoleh total nilai sebesar 1333 dengan nilai rata-rata 41,65. Selanjutnya hasil pre-test kelas kontrol untuk kemampuan awal siswa diperoleh total nilai sebesar 1917 dengan nilai rata-rata 59,90. Hasil post-test kelas eksperimen dari hasil belajar siswa di peroleh total nilai sebesar 2487 dengan nilai rata-rata 77,71. Dari hasil tersebut dapat di peroleh bahwa kemampuan awal keterampilan proses sains kelas eksperimen dan kelas kontrol hampir setara untuk kedua kelas dapat di bandingkan kemapauannya sebelum menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada kelas eksperimen.
b. Data kemampuan hasil belajar
70
Hasil belajar di dapatkan pada pre-test dan post- test. Pre-test di berikan pada pertemuan pertama sebelum di berikan perlakuan sedangkan post-test diberikan sesudah di beri perlakuan dengan menggunakan tes uraian essay.
Tabel 3.2 Data kemampuan pre-test dan pos-test hasil belajar
No. Kelas Perlakuan N Total nilai
Rata- rata 1. Eksperimen Pre-test
32 2419
75.59 Pos-test
32 2315
72.34 2. Kontrol Pre-test
32 1188 37.125 Pos-test
32 2036 63.625 Siswa kelas VII-A dan VII B yang diikuti oleh masing-masing 32 siswa. Penelitian memberikan 14 soal dalam bentuk tes uraian essay pada tes pembelajaran IPA untuk mengetahui hasil belajar siswa. Setiap jawaban dinilai berdasarkan ketentuan yang ada dirubrik penilaian. Berdasarkan pada tabel diatas hasil pre-test kelas eksperimen untuk kemampuan awal siswa diperoleh total nilai sebesar 2419 dengan nilai rata-rata 75.59. Hasil post-test kelas eksperimen dari hasil belajar siswa diperoleh total nilai sebesar 2315 dengan nilai rata-rata 72,34. Selanjutnya
71
hasil pre-test kelas kontrol untuk kemampuan awal siswa diperoleh total nilai sebesar 1188 dengan nilai rata-rata 37,12. Hasil post-test kelas eksperimen dari hasil belajar siswa diperoleh total nilai sebesar 2036 dengan nilai rata-rata 63,62. Dari hasil tersebut dapat diperoleh bahwa kemampuan awal hasil belajar sains kelas eksperimen dan kelas kontrol hampir setara untuk kedua kelas dapat dibandingkan kemapauannya sebelum menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada kelas eksperimen.
4.1 Grafik Keterampilan proses sains (KPS)
72 3) Keterlaksanaan Pembelajaran
Keterlaksanaan pembelajaran ini diperoleh menggunakan metode observasi dan obsevernya pendidik.
Proses pembelajaran menggunakan dua kali keterlaksanaan selama empat kali pertemuan. Kelas kontrol menggunakan proses pembelajaran konvesional sedangkan kelas eksperimen menggunakan proses pembelajran inkuiri terbimbing.
Tabel 4.3. Data keterlaksanaan pembelajaran KPS dan Hasil Belajar
No. Kelas Pertemuan Frekuensi Kategori
1. Eksperimen Ke-1 73% Baik
Ke-2 71% Baik
2. Kontrol Ke-1 92% Baik
Ke-2 68% Baik
2. Analisis Prasyarat
0 500 1000 1500 2000 2500
1 2 3 4 5 6 7 8
Eksperimen (Pre-test)
1407
Eksperimen (Post-Test)
1333
Kontrol (Pre-Test)
1917
Kontrol (Post-Test)
2487
43.96 41.65 59.9 77.71
Kelas Perlakuan N
Total nilai Rata-rata
73 1. Uji Normalitas
Uji normalitas di dapatkan pada pre-test dan post-test. Pre-test di berikan pada pertemuan pertama sebelum di berikan perlakuan sedangkan post-test di berikan sesudah di beri perlakuan dengan menggunakan tes uraian essay.
a) Uji normalitas pre-test dan post-test KPS.
Tabel 4.4. Uji normalitas pre-test dan post-test KPS
Jika nilai signifikan < 0,05 maka data mempunyai varian tidak normal. Jika signifikan >
0,05 maka data mempunyai variant normal. Nilai hasil belajar KPS pre-test siswa kelas eksperimen nilai signifikan = 0,124 > 0,05 data berdistribusi normal. Nilai hasil belajar KPS post-test siswa kelas eksperimen nilai signifikan = 0,028 < 0,05 data berdistribusi tidak normal. Dan nilai hasil Normalitas
(KPS)
Sig kolmog rof
Sig Keteran
gan Pre-test
Eksperimen
0,124 0,124>0,05 Normal Post-test
Eksperimen
0,028 0,028<0,05 Tidak normal Pre-test
Kontrol
0,028 0,028<0,05 Tidak normal Post-test
Kontrol
0,056 0,056<0,05 Normal
74
belajar pre-test siswa kelas kontrol nilai signifikan
= 0,028 < 0,05 data berdistribusi tidak norma. Dan nilai hasil belajar post-test siswa kelas kontrol nilai signifikan = 0,056 data berdistribusi norma.
Kedua data tersebut ada yang berdistribusi normal baik dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
Maka uji hipotesis yang di gunakan yaitu uji statistik non parametrik yaitu Uji Mann Whitney U Test.
b) Uji normalitas pre-test dan post-test hasil belajar.
Tabel 4.5. Uji normalitas pre-test dan post-test Hasil belajar
J
J
Jika normalitas pre-test dan post-tes hasil belajar nilai signifikan < 0,05 maka data mempunyai varian tidak normal. Jika signifikan >
0,05 maka data mempunyai variant normal. Nilai hasil belajar pre-test siswa kelas eksperimen nilai
Normalitas Hasil belajar
Sig kolm ogrof
Sig Keteran gan Pre-test
Eksperimen 0.010 0.010<0,05 Tidak normal Post-test
Eksperimen 0.000 0.000<0,05 Tidak normal Prit-test
Kontrol 0.017 0.017<0,05 Tidak normal Post-test
Kontrol 0.029 0.029<0,05 Tidak normal
75
signifikan = 0,010 < 0,05 data berdistribusi tidak normal. Nilai hasil belajar post-test siswa kelas eksperimen nilai signifikan = 0,000 > 0,05 data berdistribusi tidak normal. Dan nilai hasil belajar pre-test siswa kelas eksperimen nilai signifikan = 0,017 > 0,05 data berdistribusi tidak norma. Dan nilai hasil belajar pre-test siswa kelas kontrol nilai signifikan = 0,029 data berdistribusi tidak norma.
Kedua data tersebut tidak ada yang berdistribusi normal baik dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Maka uji hipotesis yang di gunakan yaitu uji statistik non parametrik Uji Mann Whitney U Test.
2. Uji Homogenitas
a. Uji homogenitas pre-test dan post-test KPS
Tabel 4.6 Uji homogenitas pre-test dan post-test KPS Kelas Variab
el
Perlak uan
Sig Ketrangan Kontrol KPS Pre-
test
0.21 5
Homogenitas Post-
test
0.24 3
Homogenitas Eksperi
men
Hasil Belajar
Pre- test
0.24 3
Homogenitas Post-
test
0.23 8
Homogenitas Homogenitas KPS pre-test dan post-test kelas kontrol dan pre-test dan post-test kelas eksperimen.
76
Berdasarkan KPS nilai signifikan pre-test 0,215 > 0,05 data berdistribusi homogen. Nilai signifikan post-test 0,243 > 0,05 data berdistribusi homogen. Dan kelas eksperimen KPS pre-test 0,243 > 0,05 data berdistribusi homogenitas. Dan nilai signifikan post- test 0,283 > 0,05 data berdistribusi homogenitas.
Artinya data berdistribusi homogenitas layak di lakukan untuk uji hipotesis dengan menggunakan uji statistik non parametrik yaitu Uji Mann Whitney U Test.
b. Uji homogenitas pre-test dan post-test hasil belajar Uji homogenitas didapatkan pada pret-tes dan
post-test. Pre-test diberikan pada pertemuan pertama sebelum diberikan perlakuan sedangkan post-test diberikan sesudah diberi perlakuan dengan menggunakan tes uraian essay.
Tabel 4.7. Uji homogenitas pret-tes dan post-tes Hasil Belajar
Kelas Variab el
Perlaku an
Sig Ketranga n Kontrol KPS Pre-test
0.063 Homogeni tas Post-test
0.107 Homogeni tas
Eksperi men
Hasil Belajar
Pre-test
0.108 Homogeni tas
Post-test
0.080 Homogeni tas
77
Homogenitas hasil belajar pre-test dan post- test kelas kontrol dan pre-test dan post-test kelas eksperimen. Berdasarkan hasil belajar kelas kontrol pre-test nilai signifikan 0,063 > 0,05 data berdistribusi homogenitas. Nilai signifikan post-test 0,107 > 0,05 data berdistribusi homogenitas. Dan hasil belajar kelas eksperimen pre-test nilai signifikan 0,108 > 0,05 data berdistribusi homogenitas. Dan nilai signifikan post- test 0,080 > 0,05. Artinya data berdistribusi homogenitas layak di lakukan untuk uji hipotesis dengan menggunakan uji statistik non parametrik Uji Mann Whitney U Test.
3. Uji Hipotesis
Karena uji notrmalitas KPS ada dua data yang normal dan hasil belajar tidak ada data yang normal. Maka berdasarkan data uji prasyarat pada uji normalitas tidak berdistribusi normal, maka uji hipotesis yang digunakan uji non parametrik yaitu Uji Mann-Whitney U Test.
Dengan kriteria sebagai berikut:
Jika angka signifikansi > 0,05, maka Ho diterima dan Ha di tolak
Jika angka signifikansi < 0,05, maka Ha ditolak dan Ho diterima
78
Tabel 4.8 Uji Mann-Whitney U Test Selisih Pre-test dan Post-test KPS dan Hasil Belajar Kelas Variabel Perlakuan Sig Keter
angan Kontrol
(A)
KPS Pre-test 0.113 Ho
Post-test Eksperimen
(B)
Hasil Belajar
Pre-test 0.752 Ho
Post-test
Berdasarkan hasil dengan uji non parametrik yaitu Uji Mann_Whitney U Test diperoleh hasil yakni nilai KPS signifikan sebesar 0,113 > 0,05. Dengan demikian, berdasarkan kriteria pengujian Ho diterima dan Ha ditolak pada taraf signifikan = 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap keterampilan proses sains. Dan nilai signifikan hasil belajar sebesar 0,752 >
0,05. Dengan demikian, berdasarkan kriteria pengujian Ho
diterima dan Ha ditolak pada taraf signifikan = 0,05.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap hasil belajar.
79 C. Pembahasan
1. Keterampilan Proses Sains (KPS)
Keterampilan proses sains adalah keterampilan yang di peroleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi. Keterampilan proses sains dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar memperhatikan pengembangan pengetahuan sikap, nilai serta keterampilan.
Aspek KPS yang diteliti pada penelitian ini meliputi mengajukan pertanyaan, mengamati (observasi), berhipotesis, merencanakan percobaan, menafsirkan (interprestasi), dan berkomunikasi. Penelitian ini dilakukan empat kali pertemuan, yaitu pertemuan pertama pendidik membagikan tes pre-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pertemuan ke dua dan ke tiga pendidik melakukan keterlaksanaan pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dan pertemuan ke empat pendidik membagikan post-test pada siswa.
Siswa kelas ekperimen dan kelas kontrol yang diikuti oleh masing-masing 32 siswa. Pendidik memberikan 11 soal dalam bentuk tes uraian essay pada tes pembelajaran IPA untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa.
Setiap jawaban di nilai berdasarkan ketentuan yang ada dirubrik penilaian. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test kelas eksperimen untuk kemampuan awal siswa diperoleh
80
dengan nilai pre-test rata-rata sebesar 43.96 dan nilai post- test rata-rata 41,65. Selanjutnya hasil pre-test dan post-test kelas kontrol untuk kemampuan awal siswa diperoleh dengan nilai rata-rata 59,90 dan nilai post-test rata-rata 77,71. Di lihat secara deskriptif pada rata-rata nilai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen banyak nilai yang jatuh kebanding dengan nilai kelas kontrol.
Karena saat itu pemberian tes post-test kelas eksperimen dan kelas kontrol sudah mau jam pulang sehingga ada faktor eksternal. Pada saat itu jam nya pemberian tes post- test kurang pas karena siswa sudah cape, lapar, sehingga siswa buru-buru mengerjakan tes yang sudah di bagikan oleh pendidik dengan jadwalnya yang kurang pas siswa mengerjakannya dengan buru-buru. Dan berdasarkan apa yang pendidik ajarkan sudah baik, pendidik sudah memberikan yang terbaik. Pendidik menggunakan langkah- langkah model pembelajaran inkuiri terbimbing dan pendidik mengajar materi pencemaran lingkungan. Namun ada faktor eksternal yang mempengaruhi siswa dalam mengerjakan soal. Pada saat pemberian tes post-test itu waktunya di jam terakhir, sehingga peserta didik tidak konsentrasi mengerjakannya karena di lihat dari KPS sama hasil belajar peneliti berikan diwaktu yang sama. Dari hasil tersebut dapat diperoleh bahwa kemampuan awal keterampilan proses sains kelas eksperimen dan kelas
81
kontrol hampir setara untuk kedua kelas dapat dibandingkan kemapuannya sebelum menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan sesudah menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada kelas eksperiment.
Nilai hasil belajar KPS pre-test dan post-test siswa kelas eksperimen dengan nilai signifikan 0,124 > 0,05 data berdistribusi normal. Dan nilai hasil belajar KPS post-test siswa dengan nilai signifikan 0,028 < 0,05 data berdistribusi tidak normal. Selanjutnya nilai hasil belajar pre-test dan post-test siswa kelas kontrol dengan nilai signifikan 0,028< 0,05 data berdistribusi tidak norma. Dan nilai hasil belajar post-test siswa kelas kontrol nilai signifikan 0,056 data berdistribusi normal. Di lihat dari hasil uji normalitas tersebut ke dua data berdistribusi normal dan dua data berdistribusi tidak normal. Maka uji hipotesis yang digunakan yaitu uji statistik non parametrik yaitu Uji Mann Whitney U test.
Uji homogenitas berdasarkan KPS kelas kontrol pre- test dan post-test dengan nilai signifikan 0,063 > 0,05 data berdistribusi homogenitas. Nilai signifikan post-tet 0,107 >
0,05 data berdistribusi homogenitas. Dan hasil belajar kelas eksperimen pre-test nilai signifikan 0,108 > 0,05 data berdistribusi homogenitas. Dan nilai signifikan post-test 0,080 > 0,05. Artinya data berdistribusi homogenitas layak
82
dilakukan untuk uji hipotesis dengan menggunakan uji statistik non parametrik Uji Mann Whitney U Test.
Berdasarkan hasil dengan uji non parametrik yaitu Uji Mann_Whitney U Test diperoleh hasil yakni nilai KPS signifikan sebesar 0,113 > 0,005. Dengan demikian, berdasarkan kriteria pengujian Ho diterima dan Ha ditolak pada taraf signifikan = 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap keterampilan proses sains. Karena dilihat dari selisih tidak kurang jauh kurangnya lalu data ini tidak semuanya rendah namun ada juga yang naik. Karena ada faktor eksternal dan pemberian tes dengan waktu yang tidak cocok. Kalo dilihat dari data selisih tidak jauh kurang namun data ini tidak semuanya rendah jadi banyak juga yang naik dan tidak terlalu tinggi. Selain datanya yang selisih tidak terlalu banyak dan tidak terlalu parah. Langkah inkuiri terbimbing dalam proses mengajar siswa sudah di terapkan untuk membuat hipotesis sehingga secara deskriptif dia rendah karena di lihat data tidak terlalu banyak yang rendah dan dilihat dari selisih tidak jauh dari selisihnya. Pendidik memberi bersamaan dalam satu pertemuan 80 menit. Yaitu 40 menit untuk kerja keterampilan proses sains dan 40 menit untuk kerja hasil belajar di waktu yang sama. Sehingga dengan waktu yang kurang bagus sama dan datanya hampir sama. Karena
83
dilihat dari KPS sama hasil belajar pendidik memberikan diwaktu yang sama.
Pada kenyataannya di lapangan hasil belajar kelas eksperimen meningkat karena menggunakan model pembelajaran iktuiri terbimbing dengan langkah- langkahnya peserta didik menjadi aktif dan meningkat. Jadi siswa mulai aktif untuk bertanya dan berpendapat ketika penyampaian materi. Langkah inkuiri yang pertama oriantasi, merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan mengimpulkan kesimpulan. Dimana peserta dibagi menjadi 5 kelompok sehingga peserta didik mulai aktif bertanya dan berpendapat dalam proses pembelajaran. Pendidik menunjukkan adanya perbedaan nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Oriantasi, pada keteralaksanan pembelajaran pertama pendidik masuk ruangan dan mengkondisikan kelas agar siap mengikuti pembelajaran lalu memberikan salam dan berdoa setelah itu peneliti memberikan apersepsi. Dan pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran dan menyampaikan langkah-langkah pembelajaran pencemaran lingkunngan. Pendidik menyampaikan indikator pencapain kompetensi dalam proses pembelajaran pencemaran lingkungan. Pertama menjelaskan pengertian pencemaran lingkunagan, kedua menjelaskan macam- macam