• Tidak ada hasil yang ditemukan

TeknologiPasangSurut

Dalam dokumen BUKU PENGAIRAN PASANG SURUT (Halaman 89-92)

BAB X TEKNOLOGI PENGAIRAN PASANG SURUT

10.3 TeknologiPasangSurut

Teratur mengalami periode pasang surut dalam sehari dan untuk Tidal Power perbedaan pasang-surut minimal 5 meter. Teknologi yang diterapkan sebenarnya adalah teknik tradisional hydroelectric, dengan adanya dam (bendungan) yang melewati suatu teluk atau daerah estuari. Kemudian dilengkapi pintu-pintu air dan turbin dipasang sepanjang dam yang memisahkan kolam dan laut. Teluk yang ujungnya sempit sangat cocok diterapkan.

Ketika air pasang menghasilkan tingkat air yang berbeda di dalam dan di luar dam, pintu- pintu air akan terbuka, air yang mengalir melewati turbin akan menjalankan generator untuk menghasilkan listrik. Pemanfaatan energi ini memerlukan daerah yang cukup luas untuk menampung air laut (reservoir area) dan bangunan dam bisa dijadikan jembatan transportasi.

Tidal Power dibedakan menjadi dua yaitu kolam tunggal dan kolam ganda. Pada sistem pertama, energi dimanfaatkan hanya pada saat periode air surut atau air naik. Sedangkan sistem kolam ganda memanfaatkan aliran dalam dua arah. Perbedaan tinggi antara permukaan air di kolam dan permukaan air laut pada instalasi ini semakin tinggi semakin baik. Di Jepang, sistem ini telah dikembangkan dengan pembukaan instalasi baru di Laut Ariake, Kyushu. Di Muara Sungai Severn, Inggris juga telah mulai direncanakan instalasi berskala besar untuk 12 GWlistrik.

Teknologi Tidal Fence, skala besar digunakan juga sebagai jembatan penghubung antar pulau di antara selat. Menggunakan instalasi yang hampir sama dengan Tidal Power, namun terpisah dengan turbin arus antara 5 sampai 8 knot (5,6 sampai 9 mil/jam) dapat dimanfaatkan energi lebih besar dari pembangkit listrik tenaga angin karena densitas air 832 kali lebih besar dari udara (5 knot arus = velositas angin 270 km/jam). Skala besar pembangkit tenaga arus ini sepanjang 4 km telah mulai dikerjakan tak jauh dari Sulawesi Utara yakni di Kepulauan Dalupiri dan Samar, Filipina, sekaligus membuat jembatan penghubung pada empat pulaunya. Proyek ini disponsori oleh Blue Energy Power System- Canada yang telah mengkomersialkan diri dengan berbagai modul turbin dalam berbagai skala. Diestimasi energi yang nantinya dihasilkan di Filipina ini maksimum adalah sebesar 2.200 MW dengan minimum rata-rata sebesar 1.100 MW setiap hari. Hal ini didasarkan dengan kecepatan arus rata-rata sebesar 8 knots pada kedalaman sekitar 40 meter. Modul turbin Davis yang dipakai dapat mengkonversi listrik pada lokasi tertentu seperti di sungai sebesar 5 KW sampai 500 KW sedangkan instalasi di laut bisa menghasilkan 200 MW sampai 8000 MW.

Teknologi ketiga adalah Tidal Turbine seperti turbin angin. Teknologi ini berfungsi sangat baik pada arus pantai yang bergerak sekitar 3,6 dan 4,9 knots (4 dan 5,5 m/jam). Pada kecepatan ini, turbin arus berdiameter 15 meter dapat menghasilkan energi sama dengan turbin angin yang berdiameter 60 meter. Lokasi ideal turbin arus pasut ini tentunya dekat dengan pantai pada kedalaman antara 20-30 meter. Energi listrik yang dihasilkan menurut perusahaan Marine Current Turbine - Inggris adalah lebih besar dari 10 MW per 1 km2, dan 42 lokasi yang berpotensi di Inggris telah teridentifikasi perusahaan ini. Lokasi ideal lainnya yang dapat dikembangkan terdapat di Filipina, Cina dan tentunya Indonesia.

Penelitian pemanfaatan energi arus pasut sejak tahun 1920 telah dilakukan di beberapa negara seperti, Prancis, Amerika Serikat, Rusia dan Kanada. Setelah lebih dari 40 tahun, yaitu pada tahun 1966, di Prancis telah dibangun stasiun France's La Ranee yang merupakan satu-satunya industri Pembangkit Listrik Tenaga Arus Pasang-Surut dengan skala besar di dunia (Gambar 1 a dan b). Pembangkit energi listrik yang digerakkan oleh tenaga pasang surut dengan tidal range 8-13,5 meter ini memproduksi 240 MW listrik lewat instalasi Tidal Power melewati daerah Muara Sungai Ranee, dekat Saint Malo (DAUD, 2006). Instalasi ini mensuplai 90 persen kebutuhan listrik wilayah itu. Padawaktu

itu tenaga pasut telah dapat menghasilkan 500 juta KWH per tahun, sehingga dapat mencukupi kebutuhan sebuah kota dengan jumlah penduduk 100 ribu orang menurut standard Eropa (ONGKOSONGO, 1989). Di Murmansk, Rusia, memanfaatkan 0,4 MW listrik dari jenis yang sama. Tidak jauh dari Indonesia, ada Australia yang memanfaatkannya di Kimberly dan Cinasebesar 8 MW. Kemudian pada tahun 1984, dibangun stasiun Annapolis Royal, proyek energi pasang surut dengan kapasitas 2.176 MW terletak di Teluk Fundy (Bay of Fundy), yaitu di Muara Sungai Annapolis Provinsi Nova Scotia, Kanada (Gambar 2), dengan tunggang pasut 8,7 m pada saat pasang purnama dan 4,4 m saat pasang perbani menghasilkan 30-40 juta KWH per tahun (DUXBURY et al. 2002). Di kota Hammerfest, Norwegia, listrik telah sukses dibangkitkan dengan memanfaatkan arus pasang di pantai dan mencukupi sebagian kebutuhan listrik kota dengan modul turbinBlades.

Mekanisme suatu pusat energi pasang-surut tergantung dari faktor meteorologi atau geofisika, antara lain, arah dan kecepatan angin, lamanya angin bertiup dan luas daerah yang dipengaruhi pasang-surut. Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut harus diperhatikan dengan seksama. Pada pemanfaatan energi ini diperlukan daerah yang cukup luas untuk dapat menampung air laut (reservoir area). Pada sisi lain energi ini tidak menimbulkan bahan- bahan yang beracun (unhealthy waste), "exhaust gas", "ask", "atmospheric radiation"(SOEPARDJO, 2005).

Potensi energi pasang-surut seluruh samudera di dunia tercatat sebesar 3.106 MW. Di Indonesia pada umumnya yang pasang-surutnya sekitar 5 m, antara lain di sebagian Pulau Sumatera, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Barat, Irian dan pantai selatan Pulau Jawa (SOEPARDJO,2005).

Tunggang pasut maksimum di Indonesia yang sudah terekam sampai saat ini adalah mencapai sekitar 6 m, yakni terdapat di daerah Muara Sungai Digul, Irian Jaya. Selain letaknya yang saat ini kurang prospektif, juga kemungkinan pemanfaatannya masih sangat belum realistis. Namun demikian, manakala transmigrasi sudah mulai berkembang di daerah itu, sumberdaya energi pasut ini merupakan cadangan energi yang berpotensi, sehingga patut dipertimbangkan untuk dimanfaatkan di daerah itu (ONGKOSONGO, 1989).

Wilayah Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki selat-selat sempit yang membatasi pulau-pulaunya. Selain itu, cukup banyak juga teluk dan semenanjung yang setiap harinya mengalami pasang dan surut yang memiliki potensi untuk digali energinya.

Hal ini memungkinkan untuk memanfaatkan tenaga pasang-surut, sebagai sumberdaya energi yang diperlukan oleh manusia. Pada saat laut pasang dan saat laut surut aliran airnya dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan listrik.Dari penelitian yang telah dilakukan, diketahui ada beberapa daerah di Indonesia yang mempunyai potensi energi pasang surut (SOEPARDJO, 2005),

Yaitu :

1. .Bagan Siapi-api; pasang surut mencapai 7m,

2. Teluk Palu; daerah ini dilihat dari struktur geologisnya merupakan suatu patahan(Palu Graben) yang memungkinkan adanya gejala pasangsurut,

3. Teluk Bima di Sumbawa (Nusa TenggaraBarat), 4. KalimantanBarat,

5. IrianJaya,

6. Pantai selatan PulauJawa.

Dalam dokumen BUKU PENGAIRAN PASANG SURUT (Halaman 89-92)

Dokumen terkait