• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN GEOLOGI

3.3 Tektonik Sulawesi

Tektonik Pulau Sulawesi terbentuk akibat dari peristiwa konvergen dan transform. Untuk kawasan konvergen di Sulawesi, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Indo-Australia saling bergerak dan mendekati. Pergerakan ketiga lempeng ini bersifat tumbukan. Tumbukan antar ketiganya tertekuk dan menyusup kebawah lempeng benua hingga masuk ke Astenosfer (zona melange), yang merupakan kedudukan titik-titik fokus gempa tektonik.

Banyak model tektonik yang sudah diajukan untuk menjelaskan evolusi tektonik dari Pulau Sulawesi. Ada dua peristiwa penting yang terjadi di Sulawesi bagian barat pada masa Kenozoikum. Yang pertama adalah rifting dan pemekaran lantai samudera di Selat Makassar pada Paleogen yang menciptakan ruang untuk pengendapan material klastik yang berasal dari Kalirnantan. Yang kedua adalah peristiwa kompresional yang dimulai sejak kala Miosen, kompresi ini dipengaruhi oleh tumbukan kontinen di arah barat dan ofiolit serta fragmen-fragmen busur kepulauan di arah timur. Fragmen-fragmen ini termasuk mikro-kontinen Buton, Tukang Besi dan Banggai Sula. Kompresi ini menghasilkan Jalur Lipatan Sulawesi Barat (West Sulawesi Fold Belt) yang berkembang pada kala Pliosen Awal. Meskipun ukuran fragmen-fragmen ini relatif kecil, efek dari koalisinya dipercaya menjadi penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa tektonik di seluruh bagian Sulawesi (Sompotan, 2012).

Secara regional, Pulau Sulawesi mendapat tekanan dari luar sehingga terjadi deformasi secara terus menerus, seperti tekanan dari Laut Flores di bagian selatan mengaktifkan patahan Palu-Koro dan Walanae, Banggai-Sula, dan Laut Banda. Dari timur mengaktifkan Patahan Matano, Batui, Lawanoppo, dan Kolaka.

Laut Sulawesi dari utara mengaktifkan subduksi Laut Sulawesi, Patahan Gorontalo, dan aktivitas gunung api di utara. Tekanan dari lempeng Laut Maluku dari timur menimbulkan gempa dan gunung api di Sulawesi Utara (Kaharuddin, dkk., 2011). Sehubungan dengan fenomena tektonik tersebut di atas, maka di kawasan Pulau Sulawesi terdapat banyak patahan besar.

   

       

   

 

       

 

Gambar 3.3

Struktur regional yang mempengaruhi perkembangan tektonik geologi Pulau Sulawesi menurut Katili (1973) adalah:

1. Selat Makassar yang memisahkan Paparan Sun

dari lempeng Eurasia) dengan Sulawesi Selatan dan Tengah, terbentuk karena pemekaran samudra sejak k

2. Adanya konvergensi antara lengan tenggara Sulawesi dengan Laut Banda melalui Tolo Trench

3. Dalaman Sulawesi Utara y Pasifik.

Berdasarkan litotektonik, P (Leeuwen, 1994), yaitu:

1. Mandala Barat

busur magmatik dibagi menjadi bagian utara dan bagian barat. Bagian utara memanjang dari Buol sampai sekitar Manado, sedangkan bagian barat memanjang dari Buol sampai sekitar Makassar.

Gambar 3.3 Cross section geologi regional Sulawesi (Satyana, 2008)

Struktur regional yang mempengaruhi perkembangan tektonik geologi Pulau Sulawesi menurut Katili (1973) adalah:

ar yang memisahkan Paparan Sunda (yang merupakan bagian empeng Eurasia) dengan Sulawesi Selatan dan Tengah, terbentuk karena pemekaran samudra sejak kala Miosen.

Adanya konvergensi antara lengan tenggara Sulawesi dengan Laut Banda Trench di bagian tenggara.

Dalaman Sulawesi Utara yang terbentuk akibat penujaman l

Berdasarkan litotektonik, Pulau Sulawesi dibagi menjadi 4 kelompok Leeuwen, 1994), yaitu:

Mandala Barat (West & North Sulawesi Volcano-Plutonic Arc

busur magmatik dibagi menjadi bagian utara dan bagian barat. Bagian utara memanjang dari Buol sampai sekitar Manado, sedangkan bagian barat memanjang dari Buol sampai sekitar Makassar.

geologi regional Sulawesi (Satyana, 2008)

Struktur regional yang mempengaruhi perkembangan tektonik geologi

da (yang merupakan bagian empeng Eurasia) dengan Sulawesi Selatan dan Tengah, terbentuk

Adanya konvergensi antara lengan tenggara Sulawesi dengan Laut Banda

bat penujaman lempeng

dibagi menjadi 4 kelompok

Plutonic Arc), sebagai busur magmatik dibagi menjadi bagian utara dan bagian barat. Bagian utara memanjang dari Buol sampai sekitar Manado, sedangkan bagian

   

       

   

 

       

 

a. Mandala Barat Bagian Utara (Manado), terdiri dominasi batugamping sebagai satuan batuan penyusun Cekungan Ratatotok. Satuan batuan lainnya yaitu kelompok breksi dan batupasir, kemudian kelompok Tufa Tondano berumur Pliosen, batuan Kuarter terdiri kelompok batuan gunung api muda, kelompok batuan termuda terdiri atas batugamping koral, endapan aluvial sungai, dan danau.

b. Mandala Barat Bagian Barat (Enrekang), terdiri dari satuan batupasir malih berumur Kapur Akhir, satuan batuserpih berumur Eosen- Oligosen Awal, satuan batugamping berumur Eosen, satuan batupasir gampingan berumur Oligosen-Miosen Tengah, satuan batugamping berlapis berumur Oligosen-Miosen Tengah, satuan klastika gunung api berumur Miosen Akhir, satuan batugamping terumbu berumur Pliosen Awal, dan satuan konglomerat berumur Pliosen.

2. Mandala Tengah (Central Sulawesi Metamorphic Belt), berupa batuan malihan yang ditumpangi batuan bancuh sebagai bagian blok dari Australia. Meliputi Kabupaten Donggala dan Toli-Toli Sulawesi Tengah.

Urutan stratigrafi dari termuda yaitu endapan aluvium, endapan teras Kuarter, batuan tufa berumur Pliosen-Kuarter, batuan yang termetamorfkan rendah dan batuan malihan yang keduanya termasuk ke dalam Formasi Tinombo berumur Kapur Akhir-Eosen Awal, batuan gunung api yang menjari dengan Formasi Tinombo berumur Kapur Akhir-Oligosen Awal, inrtusi garanit berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir yang ditemukan menerobos Formasi Tinombo.

3. Mandala Timur (East Sulawesi Ophiolite Belt), merupakan ofiolit yang merupakan segmen kerak samudera berimbrikasi dan batuan sedimen berumur Trias-Miosen. Terdapat sesar Lasolo yang membagi lembar daerah Kendari menjadi dua yaitu Lajur Tinondo yang merupakan himpunan batuan yang bercirikan asal paparan benua terdiri batuan malihan berumur Paleozoikum yang diduga zaman Karbon serta Lajur Hialu yang merupakan himpunan batuan bercirikan asal kerak samudera.

   

       

   

 

       

 

4. Banggai-Sula dan Tukang Besi Continental Fragments, kepulauan yang terdiri dari Banggai, Sula dan Buton yang merupakan pecahan benua yang berpindah dikarenakan sesar strike slip dari New Guinea.

Gambar 3.4 Pembagian keadaan tektonik Pulau Sulawesi (Leeuwen, 1994)  

 

       

   

 

       

 

Gambar 3.

3.4 Geologi Daerah Penelitian

Dokumen terkait