BAB 4 KARAKTER TOKOH NONOMIYA RYOTA DALAM FILM
4.2 Karakter Tokoh Nonomiya Ryota dalam Film Soshite Chichi Ni
4.2.1.2 Temperamen Plegmatis
良多:ちょっとやめて手来る、今考えてだんから。
みどり:正確なくやくかけたなに。
良多:何どうあの店主のかんこくなんだろう?
みどり:そんなこと言って。
Midori: Bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah ini?
Ryota: Hmm..
Midori: Kau mengatakannya seolah ini adalah persoalan sepele. Aku masih tak percaya, pantas saja ia marah!
Ryota: Bisa tolong diam sebentar? Biarkan aku berpikir sejenak.
Midori: Tepat saat kita mulai akrab…
Ryota: Mengapa aku harus bersikap sabar menghadapi seorang penjaga toko yang memberiku saran?
Midori: Jangan mulai lagi.
(Soshite Chichi Ni Naru menit 00.55.15)
Sebagai akibat dari sifatnya yang memiki kemauan yang kuat, Ryota menganggap bahwa keluarga Saiki menjadi saingannya dan merendahkan mereka dengan anggapan bahwa keluarga Saiki tidak akan bisa melakukan hal apa yang ia bisa. Dikarenakan sifat tersebut merupakan dampak dari keinginannya yang kuat, dapat dikatakan sifat tersebut merupakan ciri dari seorang sanguinis.
Gambar 37. Ryota mengutarakan keinginannya untuk mengadopsi Keita dan Ryusei kepada Yudai dan Yukari. (Soshite Chichi Ni Naru menit 0.53.43)
雄大:家であいつのおじいさんははらすくしてまてるからも半分ぶけて 子供がえりしかてるからさ家の中4人がいるもので。
ゆかり:5人ね子供。一人じゃとても面倒ができない。
雄大:おれか。
良多
:じゃ、二人ともこちにゆずてくれませんか。雄大:は、二人て?
良多
: けいたとりゅせいと。雄大:それ本気にいてる?
良多
:ええ。だめですか。雄大:ないよう言うあ思うたら。
ゆかり:しつれよちょう-な-何よ?
良多
:、子供の幸せ考えるときに。ゆかり:あたしのこもふこうだと言うの?
Yudai: Kakek dari anak-anak tinggal bersama kami, kurasa dia sepertinya lapar.
Sedikit demi sedikit dia kembali menjadi anak-anak, rasanya seperti mengurus empat orang anak.
Yukari: Lebih tepatnya lima orang, aku tak sanggup mengurus mereka semua.
Yudai: Maksudmu aku?
Ryota: Kalau begitu, kami bersedia untuk merawat kedua anak itu.
Yudai: Hah? Kedua anak itu?
Ryota: Keita dan Ryusei.
Yudai: Tunggu, kau bersungguh-sungguh?
Ryota: Ya, apakah memungkinkan?
Yudai: Aku tak percaya ini Yukari: Kau menghina kami!
Ryota: Jika kita memikirkan masa depannya...
Yukari: Maksudmu anak kami tidak punya masa depan?
Ryota: Aku memiliki kemampuan finansial yang lebih baik.
Yudai: Ada banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Sekarang kau ingin membeli anak, begitu maksudmu?
Ryota: Bukankah kau bilang kau tertarik dengan uangnya?
(Soshite Chichi Ni Naru, 00.53.26)
Melihat perekonomian keluarga Saiki yang kurang berkecukupan sepertinya, ditambah lagi bahwa beban biaya yang mereka tanggung lebih banyak dibanding keluarga Nonomiya, maka dari itu Ryota mengajukan untuk mengadopsi keduanya. Secara materil, sudah pasti ia lebih mampu untuk menghidupi Keita dan Ryusei sampai mereka dewasa kelak dibanding keluarga Saiki. Namun, keluarga Saiki menolak ide realistis yang keluar dari mulut Ryota tersebut. Menurut mereka, Ryota berlaku tidak sopan dan secara tidak langsung menjatuhkan keluarga Saiki. Dalam adegan ini, Ryota menunjukkan ketertarikannya kepada kenyataan yang merupakan ciri seorang plegmatis, karena mencoba memikirkan masa depan Keita dan Ryusei yang lebih layak dengan keadaan finansialnya yang lebih cukup dibandingkan dengan keluarga Saiki.
Gambar 34. Ryota dan Yudai mengobrol sambil menunggu Keita dan Ryusei bermain.
(Soshite Chichi Ni Naru menit 00.52.38) 雄大:もっと一緒にいる時間すくたねよ、子供と。
良多
:まあ、色の家族がいんじゃないですかね。雄大:お風呂も一緒は入らないとって?
良多
:うちはなんでも人は自主的ほしいなんですよ。Yudai: Seharusnya, anda sedikit meluangkan waktu anda bersama anak.
Ryota: Ya, ada keluarga yang seperti itu.
Yudai: Pernahkah anda mandi di ofuro bersama?
Ryota: Di keluarga saya, kami menerapkan hidup sendiri-sendiri.
(Soshite Chichi Ni Naru menit 00.52.38-00.52.48)
Dalam adegan diatas, terlihat jelas perbedaan cara pandang Ryota dan Yudai dalam membangun kedekatan kepada anak. Menurut Yudai, dengan mandi bersama dapat meningkatan kedekatan dengan anak, namun Ryota berpikir bahwa hal tersebut tidaklah penting dan semua bias dikerjakan sendiri-sendiri.
BAB 5 SIMPULAN
Penelitian ini mengkaji karakter tokoh Nonomiya Ryota dalam film Soshite Chichi Ni Naru. Film ini bercerita tentang dua keluarga yang anaknya ditukar dengan latar sosio-ekonomi yang berbeda, dan dihadapkan pada dua pilihan, memilih darah daging mereka atau memilih anak yang selama ini mereka rawat.
Dalam menganalisis unsur naratif yang terkandung dalam film, penelitian ini menggunakan teori struktur naratif film oleh Himawan Pratista. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dalam menganalisis unsur temperamen tokoh dengan menggunakan teori psikologi kepribadian oleh Ludwig Klages.
Simpulan hasil analsis akan terbagi dalam dua bagian, pertama adalah hasil analisis naratif film dan kedua adalah hasil analisis unsur temperamen.
Pertama adalah naratif film. Struktur tiga babak terdiri atas tiga bagian, yakni tahap persiapan yang mengenalkan kehidupan sehari-hari keluarga Nonomiya, sifat Ryota, sampai akhirnya keluarga Nonomiya mendapat panggilan dari rumah sakit Maebashi dan diminta untuk melakukan tes DNA sebagai turning point pertama, tahap konfrontasi yang menceritakan proses diskusi antara
keluarga Nonomiya, keluarga Saiki, dan pihak rumah sakit untuk mempertimbangkan menukar Keita dan Ryusei atau tidak, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menukar Keita dan Ryusei yang mana merupakan bagian dari midpoint, sampai akhirnya Ryusei kabur dari rumah keluarga Nonomiya sebagai turning point kedua, dan tahap terakhir yaitu tahap resolusi, dimana Ryota akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Ryusei dan Keita. Hubungan naratif dengan ruang terdiri dari delapan tempat, yaitu sekolah, rumah keluarga Nonomiya, kanotor, rumah sakit Maebashi, rumah ibu Midori, pusat perbelanjaan, rumah keluarga Saiki, rumah ayah Ryota, pengadilan, dan sungai. Sedangkan naratif dengan waktu, urutan waktu berjalan dengan linier dengan pola A-B-C-D-E, durasi film berdurasi dua jam dan durasi waktu berjalan kurang lebih selama empat bulan, serta tidak ditemukannya frekuensi waktu atau kilas balik dalam film ini.
Selanjutnya merupakan hasil analisis karakter tokoh Ryota. Dalam penelitian ini, karakter Ryota dikaji menggunakan unsur temperamen Klages yang dibagi menjadi dua, yakni sanguinis dan plegmatis. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, unsur temperamen sanguinis tampak adalah ambisius dan sombong, sedangkan unsur plegmatis yang terlihat adalah realistis dan individualis.
Dalam penelitian ini lebih terfokus pada temeperamen yang muncul pada diri Ryota. Selain itu, masih banyak aspek lain yang menarik dikaji dari film Soshite Chichi Ni Naru, seperti aspek sosial yang terkandung dikarenakan dalam film ini menunjukkan adanya kesenjangan sosial antara keluarga Nonomiya
dengan keluarga Saiki, atau pola pengasuhan anak dalam keluarga Nonomiya atau keluarga Saiki.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Anas. 2015. Psikologi Sastra. Surabaya: Unesa University Press.
Dado, P. 2020. “Ekspresi Ambisi dalam Novel A Stranger In The Mirror Karya Sidney Sheldon”. (Skripsi). Manado. Universitas Sam Ratulangi.
Endaswara, S., 2013. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Caps.
Fisikawati, A. R., dkk. (2018). Mengembangkan Sikap Religius untuk Mengurangi Individualisme pada Siswa di Zaman Global. In Prosiding Seminar Nasional “Penguatan Pendidikan Karakter Pada Siswa Dalam Menghadapi Tantangan Global, 11, 189-193
Hasan, L. N. (2021). Temperamen Tokoh Utama dalam Novel Tante Haryati Oleh JFX Hoery (Kajian Psikologi Kepribadian Ludwig Klages).
Baradha: Jurnal Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, 18, 2.
Minderop, Albertine. 2016. Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Minderop, Albertine. 2005. Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Noor, Redyanto. 2015. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang: Fasindo.
Nurgiyantoro, Burhan. 2012. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nurizqika, Alif Yoga. 2020. “Konflik Batin sebagai Pemicu Timbulnya Gejala Schizoid Tokoh Utama dalam Anime Yahari Ore no Seishun Love
Comedy wa Machigatteru Karya Watari Wataru (Kajian Psikologi Sastra)”. (Skripsi). Semarang. Universitas Diponegoro.
Pratista, Himawan. 2017. Memahami Film Edisi 2. Yogyakarta: Montase Press.
Purwiyanti, C. R., & Surana. (2021). Temperamennya Tokoh-Tokoh dalam Novel Langit Mendhung Sajroning Pangangen Karya Tulus Setiyadi (Kajian Psikologi Kepribadian Ludwig Klages). Baradha: Jurnal Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, 20, 4.
SturtzSreetharan, Cindi. 2017. Resignifying the Japanese father: Mediatization, commodification, and dialect. Elsevier. 53, (45-48).
Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Press.
Trianton,Teguh. 2013. Film Sebagai Media Belajar. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Wardani, Y.A. dan Wahyudi, A., 2019. Struktur Kepribadian Tokoh Sandjojo dalam Drama Penggali Intan Karya Kirdjomuljo (Kajian Psikologi Ludwig Klages). SASTRANESIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(1), pp.49-60.
Wellek, Rene dan Warren Austin. 2014. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Wiyatmi. 2011. Psikologi Sastra: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Kanwa Publisher.
Sumber Internet
_____.2013. https://kissasian.li/Drama/Like-Father-Like-Son
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. 2016. KBBI Daring, https://kbbi.kemdikbud.go.id/.