BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
2.2 Kerangka Teori
2.2.3 Teori Psikologi Kepribadian Ludwig Klages
Klages menyusun teori kepribadian yang dapat digunakan untuk mendekati sifat kepribadian manusia hingga garis-garis terkecil, menentang pendekatan tipologis yang menurutnya tidak dapat mendekati kepribadian secara layak. Menurut Klages, aspek kepribadian dibagi menjadi empat bagian, namun yang digunakan dalam pengkajian penelitian ini hanyalah struktur kepribadian saja.
2.2.3.1 Aspek-Aspek Kepribadian
Dalam Suryabrata, Klages menggolongkan aspek kepribadian dalam empat bagian, yakni materi atau bahan atau stoff, struktur, kualitas atau sifat atau artung, dan tektonik atau bangun. Hanya struktur kepribadian yang akan
dijelaskan lebih lanut dengan mengkaji unsur humanisme di dalamnya. Apabila suatu materi dipandang sebagai isi atau bahan, maka struktur kepribadian dipandang sebagai sifat-sifat bentuknya atau sifat-sifat formalnya.
Kesimpulannya, materi adalah bentuk atau wujudnya sedangkan struktur adalah sifat dari bentuk atau wujud tersebut.
2.2.3.2 Struktur Kepribadian
Bila materi dipandang sebagai isi, bahan (dalam bahasa Jerman disebut der Stoff), maka struktur dipandang sebagai sifat-sifat bentuknya atau sifat-sifat formalnya (dalam bahasa Jerman disebut formele eigenschappen). Perbedaan tingkah laku perseorangan ditinjau dari sudut adanya dua kekuatan yang saling berhadapan satu sama lain. Dua kekuatan itu adalah kekuatan pendorong dan kekuatan penghambat, yang mana keseimbangan antara kedua kekuatan inilah yang menentukan tingkah laku seseorang (Klages dalam Suryabrata, 2010: 106).
Klages dalam Suryabrata juga membagi struktur kepribadian menjadi tiga bagian, yaitu temperamen, perasaan, dan daya ekspresi. Namun, hanya temperamen saja yang digunakan dalam penelitian ini.
a. Temperamen
Temperamen digambarkan oleh Klages sebagai suatu sifat daripada struktur.
Karena itulah peredaan-perbedaan temperamen itu juga berakar pada perimbangan antara dua kekuatan itu. Temperamen sendiri adalah sifat batin yang tetap mempengaruhi perbuatan, perasaan, serta pikiran serta merupakan bawaan sejak lahir. Dalam teorinya, Klages membagi temperamen manusia menjadi dua, yaitu:
1. Temperamen Sanguinis
Temperamen sanguinis lebih bersifat ekspresif dengan gaya reaksi yang tinggi, memiliki kemauan yang cukup kuat dan senantiasa bersikap aktif serta selalu menghindarkan diri dari rintangan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Dengan sifat tersebut, sanguin atau orang-orang dengan temperamen sanguinis memiliki beberapa kekuatan, diantaranya yaitu bersemangat, banyak bicara, dan ramah tamah. Sedangkan kelemahannya adalah egosentris dan merasa selalu ingin diandalkan. Dalam mengambil keputusan, orang-orang dengan temperamen sanguinis cenderung didominasi oleh perasaan, bukan pikiran.
Antara sifat-sifat struktur dan materi itu banyak kali terdapat afinitas (hubungan), sehingga ada seorang sanguinis yang besar sekali dinamika berpikirnya, lebih abstrak dan mempunyai kecakapan berpikir spekulatif (dalam bahasa Jerman disebut speculative begaafdheid).
Dalam bahasa Jepang, temperamen sanguinis menjadi
多 血 質
(taketsushitsu), yang mana kanji多
memiliki arti banyak, sedangkan kanji血
berarti darah, dan質
memiliki arti karakter. Jika diartikan dengan harfiah, taketsushitsu dapat diartikan sebagai ‘karakter yang berdarah tinggi’.2.Temperamen Plegmatis
Sebaliknya, seorang plegmatikus, atau orang dengan temperamen plegmatis lebih tertarik kepada kenyataan-kenyataan. Berpikirnya juga konkret dan kadang- kadang kurang dinamikanya. Maka dari itu, orang dengan temperamen plegmatis merupakan orang dengan pembawaan yang tenang dan tidak mudah terganggu.
Pada orang-orang yang kurang cendekia terdapat berpikir lepas-lepas dan tidak
mendalam, di satu pihak, dan di lain pihak jalan pikiran yang singkat pendek dan kecenderungan ke arah intinya saja. Plegmaticus biasanya lebih bertempo lambat dibandingkan dengan sanguin, suasana hati yang depresif, daya reaksi yang berat, serta keinginan untuk melakukan perubahan dan pergantian suasana relatif sedikit sekali dan seringkali menunjukkan sifat-sifat yang sangat teliti dan penuh pertimbangan kesusilaan.
Dengan sifat-sifat tersebut, plegmatikus memiliki beberapa kelebihan, seperti tenang, dapat diandalkan, dan efisien, namun plegmaticus juga merupakan orang-orang yang kikir, kurang tegas, dan cenderung mementingkan dirinya sendiri sebagai kekurangannya. (Klages dalam Suryabrata, 2010: 110).
Temperamen plegmatis jika diterjemahkan dalam bahasa Jepang, maka akan menjadi
粘液質
(nen’ekishitsu).BAB 3
METODE PENELITIAN
Pada bab ini berisi penjabaran mengenai jenis penelitian, sumber data, dan langkah-langkah penelitian telah dilakukan. Sedangkan, pada subbab jenis penelitian berisi penjelasan mengenai jenis penelitian yang digunakan. Dalam subbab sumber data merupakan penjabaran mengenai sumber data-sumber data yang digunakan dalam penelitian, sedangkan subbab terakhir adalah penjabaran mengenai langkah-langkah dalam meneliti.
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Jenis studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber kepustakaan (library research) dikarenakan data-data bersumber dari berbagai jenis bahan kepustakaan seperti buku, jurnal, serta karya ilmiah lainnya terutama yang berhubungan dengan objek penelitian, yang mana dalam penelitian ini adalah film Soshite Chichi Ni Naru. Tahapan yang pertama kali dilakukan dalam penelitian ini adalah menganalisis unsur naratif film, lalu dianalisis juga dengan
menggunakan teori psikologi kepribadian Ludwig Klages yang meliputi unsur temperamen yang termasuk dalam kajian psikologi sastra.
Psikologi sastra juga merupakan jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini. Digolongkan dalam psikologi sastra dikarenakan penelitian berfokus pada aspek kejiwaan seorang tokoh atau pelaku cerita dalam sebuah karya sastra, yakni penganalisisan karakter tokoh Nonomiya Ryota pada film Soshite Chichi Ni Naru.
Selain itu, penelitian ini juga termasuk dalam jenis penelitian struktural dikarenakan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah struktur dalam sebuah film, yang mana yang akan diteliti adalah film Soshite Chichi Ni Naru.
3.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah film yang berjudul Soshite Chichi Ni Naru karya Hirokazu Koreeda yang dirilis di Jepang pada 28 September 2013 dan berdurasi 120 menit.
Sedangkan sumber data sekunder dalam penelitian ini, merupakan sumber kepustakaan, yakni buku, jurnal, penelitian sebelumnya, serta sumber internet yang relevan yang dapat mendukung penelitian ini. Struktur naratif dalam film Soshite Chichi Ni Naru akan dikaji menggunakan buku Memahami Film 2 karya Himawan Pratista yang dibatasi pada struktur tiga babak, hubungan naratif dengan ruang, dan hubungan naratif dengan waktu. Selain itu juga dikaji menggunakan sumber mengenai teori psikologi kepribadian Ludwig Klages yang mencakup unsur temperamen. Data-data yang diperoleh kemudian dijadikan
bahan untuk menganalisis unsur naratif film dan karakter tokoh Nonomiya Ryota dalam film Soshite Chichi Ni Naru.
3.3 Langkah-langkah Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan psikologi sastra sebagai objek kajiannya. Subbab ini menjabarkan langkah-langkah yang penulis lakukan dalam penelitian ini.
3.3.1 Identifikasi Data
Unsur-unsur pembangun cerita atau informasi-informasi yang didapat penulis dalam film Soshite Chichi Ni Naru merupakan data yang akan dianalisis penulis melalui platform tayangan daring KissAsian. Pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam tahap ini adalah teknik transkripsi atau pengalihan tuturan, yaitu dari bentuk bunyi ke dalam bentuk tulisan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mempermudah proses penelitian dengan menyalin huruf atau kata dalam bentuk teknik terjemahan.
Lalu penulis mengumpulkan data untuk penganalisisan menggunakan penelitian kepustakaan yakni buku, jurnal, penelitian sebelumnya, serta sumber internet yang relevan yang memiliki hubungan dengan permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian.
3.3.2 Analisis Data
Dalam menganalisis data, penulis terlebih dahulu menganalisis unsur naratif film yang digunakan untuk mengetahui unsur-unsur naratif film yang terkandung dalam film Soshite Chichi Ni Naru menggunakan referensi menurut buku Memahami Film Edisi 2 yang ditulis oleh Himawan Pratista, yang dibatasi pada
struktur tiga babak, hubungan naratif dengan ruang, dan hubungan naratif dengan waktu. Setelahnya penjelasan mengenai tokoh Nonomiya Ryota dalam film Soshite Chichi Ni Naru menggunakan teori psikologi kepribadian Ludwig Klages meliputi unsur temperamen.
3.3.3 Penyajian Data
Berdasarkan hasil analisis, data akan disusun dalam bentuk laporam dan diuraikan dengan metode deskripsi guna menjelaskan adegan yang terjadi, kemudian digunakan untuk memaparkan mengenai penganalisisan karakter tokoh Nonomiya Ryota dalam film Soshite Chichi Ni Naru, juga untuk memaparkan data-data berupa cuplikan adegan yang berupa tangkapan layar dan cuplikan teks percakapan yang terdapat dalam film Soshite Chichi Ni Naru.
BAB 4
KARAKTER TOKOH NONOMIYA RYOTA DALAM FILM SOSHITE CHICHI NI NARU
Bab ini terdiri atas dua subbab, yang mana pada subbab pertama membahas mengenai analisis unsur naratif dalam film Soshite Chichi Ni Naru yang dianalisis menggunakan teori unsur naratif film oleh Himawan Pratista, sedangkan dalam subbab kedua membahas karakter tokoh Nonomiya Ryota dalam film Soshite Chichi Ni Naru yang dianalisis menggunakan teori psikologi kepribadian Ludwig Klages.
4.1 Analisis Unsur Naratif Film Soshite Chichi Ni Naru
Di bagian ini, penulis akan memaparkan hasil penelitian mengenai unsur-unsur naratif film yang terkandung dalam film Soshite Chichi Ni Naru karya Hirokazu Koreeda dengan menggunakan teori unsur naratif film oleh Himawan Pratista.
Adapun unsur-unsur naratif film tersebut meliputi struktur tiga babak, hubungan naratif dengan ruang, dan hubungan naratif dengan waktu.
4.1.1 Struktur Tiga Babak
Subbab ini akan menjabarkan mengenai analisis struktur tiga babak dalam film Soshite Chichi Ni Naru yang terdiri atas tahap persiapan, tahap konfrontasi, dan tahap resolusi.
4.1.1.1. Tahap Persiapan
Dalam struktur tiga babak, tahap persiapan merupakan titik paling kritis dalam sebuah cerita film karena dari titik inilah semua bermula. Dalam film Soshite Chichi Ni Naru, tahap persiapan berdurasi sekitar 15 menit dari total 120 menit durasi film. Film diawali dengan menampilkan tokoh anggota keluarga Nonomiya, yakni Ryota, Midori, dan Keita, yang diperkenalkan melalui adegan wawancara antara keluarga Nonomiya dengan pihak sekolah dalam rangka mendaftarkan Keita sekolah. Setelahnya, film berjalan dengan menampilkan kegiatan sehari-hari anggota keluarga Nonomiya. Ryota, sang kepala keluarga yang bekerja sebagai arsitek di salah satu perusahaan besar yang mengabiskan hampir separuh hidupnya untuk bekerja, dari pagi hingga malam, dari awal pekan hingga akhir pekan. Akibat dari dirinya yang memiliki orientasi hidup pada pekerjaannya, ia menyerahkan semua pekerjaan rumah dan urusan anaknya, Keita, kepada Midori, istrinya, yang bekerja sebagai ibu rumah tangga karena ia tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan hal-hal tersebut.
Ryota yang merupakan pekerja keras, memiliki ekspektasi besar terhadap Keita sedari dini untuk menjadi seorang pekerja keras seperti dirinya. Berbeda dengan suaminya, Midori cenderung enggan untuk memberikan banyak beban kepada Keita yang masih berusia enam tahun.
Sampai pada suatu ketika, Midori memberitahu Ryota bahwa mereka mendapat undangan untuk datang ke rumah sakit Maebashi, tempat dimana Midori melahirkan Keita, dengan maksud bahwa pihak rumah sakit memiliki suatu hal penting untuk diberitakan kepada Ryota dan Midori. Tak diduga, sesampainya disana, kedua pasangan tersebut mendapat kabar bahwa Keita kemungkinan besar tertukar dan bukanlah anak kandung mereka. Kecurigaan pihak rumah sakit tersebut didasari oleh seorang anak yang lahir di hari yang sama dengan Keita memiliki hasil tes darah yang tidak sesuai dengan kedua orang tuanya. Kejadian ini merupakan inciting incident atau adanya peristiwa, aksi, atau tindakan yang memicu terjadinya kejadian selanjutnya, yang mana kejadian selanjutnya adalah anggota keluarga Nonomiya melakukan tes DNA atas saran dari pihak rumah sakit demi menemukan titik terang atas asumsi mereka. Pada segmen berikutnya, arah cerita pun berubah, sebagai bentuk aksi titik balik cerita pertama atau turning point pertama.
Gambar 1. Midori mengabarkan Ryota bahwa ia baru saja mendapat panggilan dari rumah sakit Maebashi, tempat dimana ia melahirkan Keita. (Soshite Chichi Ni Naru,
00.09.45)
みどり:あ、そうだ。今日まえばし病院から電話があったの。
良多
:病院?みどり:ほら、けいた生んだ。
良多
:なんだって。みどり:何か話したいことが会って。
良多
:何?みどり:あったのが話すって。何だろう。。。
良多
:面倒のことじゃなにんで良いんだけどな。Midori: Aku hampir lupa. Ada telepon dari rumah sakit Maebashi Ryota: Rumah sakit apa?
Midori: Tempat aku melahirkan Keita.
Ryota: Ya, dan?
Midori: Entahlah, mereka bilang ingin bicara dengan kita.
Ryota: Membicarakan apa?
Midori: Mereka akan mengatakannya saat kita disana. Aku cemas.
Ryota: Kuharap bukan hal buruk.
(Soshite Chichi Ni Naru,0.09.45-0.10.11)
Gambar 2. Ryota dan Midori datang ke rumah sakit Maebashi untuk memenuhi panggilan dari pihak rumah sakit Maebashi. (Soshite Chichi Ni Naru, 0.10.24)
良多
:取り中があって。。。そんなの僕たちを。。。話ですよね。病院の人:ええ。
Ryota: Anak tertukar? Itu biasanya terjadi di masa lalu, saat kami dilahirkan.
Pihak RS: Benar.
(Soshite Chichi Ni Naru,0.10.27-0.10.34) 4.1.1.2 Tahap Konfrontasi
Dalam tahap ini, sebagian besar berisikan usaha dari tokoh utama atau protagonis untuk menyelesaikan solusi dari masalah yang telah timbul dari tahap persiapan.
Turning point pertama atau masalah pertama timbul ketika hasil tes DNA keluar dan menunjukkan bahwa Keita bukanlah anak kandung dari Ryota dan Midori.
Gambar 3. Ryota dan Midori membaca hasil tes DNA Keita yang menunjukkan Keita tidak memiliki hubungan darah dengan keduanya. (Soshite Chichi Ni Naru, 00.14.05)
し尿一野々宮りょうた、し尿二野々宮みどりと、し尿三の野々宮けいた を生物がかんけいと。
Narasi: “Hasil tes nomor 1 dari Nonomiya Ryota, hasil tes nomor 2 dari
Nonomiya Midori, hasil tes nomor 3 dari Nonomiya Keita, menunjukkan mereka tak berhubungan.”
(Soshite Chichi Ni Naru, 0.13.51-0.14.05) Berdasarkan dari adegan di atas, pihak rumah sakit pun bertindak sebagai mediator atau pihak penengah dengan turut mengundang keluarga kandung dari Keita, yakni Saiki Yudai dan Saiki Yukari. Kehadiran mereka menambah karakter baru dalam film. Kepada dua belah pihak keluarga, pihak rumah sakit dengan pengacaranya, menghadapkan mereka dengan dua pilihan, yaitu untuk tetap mengurus anak yang sudah mereka rawat selama enam tahun, atau menukarnya. Sebagai bahan pertimbangan, pihak rumah sakit menyarankan kedua belah pihak keluarga untuk melakukan penukaran sebelum waktu masuk sekolah tiba agar kasus ini cepat selesai, namun ide tersebut ditolak dengan alasan terlalu cepat.
Gambar 4. Pertemuan pertama Ryota dan Midori dengan Yudai dan Yukari. (Soshite Chichi Ni Naru, 00.16.20)
病院の人:とにかく、こう言うケスは、最首運的には、百パ-セントご 両親は交換と言う選択肢は選びます。お子さんの諸頼を考えたら、鵜決 断は早い法がよいと尾も思います。できれば、小学校になる前に。
みどり:突然そんなこと言われても。
ゆかり:四月ってたては半年もないじゃないですか。
雄大:犬や猫ならともかく。
ゆかり:犬や猫だっても無理よ。
雄大:そうや。犬の猫でも、普通は無理ですよ。ね、それに、そう言う 話を持ち出すまえに、小田倉何かすることはあるんちゃうんですか。
病院の人:ええ、ですから今、弁護牛の織間先生との相談してましてい て。れいを。。それはもう。。何ですけれどもう。ここはまず、何より も二人のお子さんの諸頼を考えてですね。
Pihak RS: Dalam kasus seperti ini, para orangtua 100% memilih untuk melakukan pertukaran. Demi masa depan anaknya, kalian harus memutuskannya sesegera mungkin. Sebelum sekolah dasar dimulai.
Midori: Itu cepat sekali.
Yukari: Itu bulan April, kurang dari enam bulan lagi.
Yudai: Mereka bukan binatang peliharaan.
Yukari: Bahkan sekalipun jika itu binatang peliharaan!
Yudai: Kau benar. Bahkan hewan peliharaan tak bisa ditukar begitu saja. Lagi pula, apa kalian sudah memikirkan kemungkinan yang lain, selain pertukaran?
Pihak RS: Ya, tentu saja, pengacara rumah sakit, pak Orima, sedang meninjau kasus ini. Bagi pihak orang tua, tentu ini merupakan situasi yang sulit. Sekarang tak diragukan lagi, dan jika kita memikirkan masa depan mereka...
(Soshite Chichi Ni Naru, 0.17.56 – 0.18.52)
Dirasa sesi mediasi pertama bersama pihak rumah sakit tidak membuahkan solusi, kedua belah pihak keluarga memutuskan bertemu di sebuah pusat perbelanjaan tanpa sepengetahuan pihak rumah sakit untuk mendiskusikan masalah tersebut. Kedua belah pihak keluarga pun memiliki pandangan yang berbeda mengenai kasus ini. Yudai membicarakan mengenai besarnya uang ganti
rugi yang akan ia dapat, sedang Ryota penasaran dengan bagaimana kasus ini bisa terjadi. Dikarenakan kasus ini menyangkut banyak hal, Ryota yang memiliki kenalan dengan seseorang di firma hukum, menawarkan diri untuk mengurus kasus ini. Disini pula, untuk pertama kalinya, kedua belah pihak keluarga juga bertemu dengan anak kandung mereka masing-masing, dimana pasangan Nonomiya bertemu dengan Ryusei dan pasangan Saiki bertemu dengan Keita.
Gambar 5. Kedua pasangan Nonomiya dan Saiki saat berdiskusi mengenai kasus penukaran anak yang menimpa anak mereka. (Soshite Chichi Ni Naru menit 0.25.45)
Dibalik penawarannya yang terlihat menolong, Ryota sebenarnya memiliki rencana lain, apalagi setelah melihat kondisi keluarga Saiki yang menurutnya jauh dari kata layak. Rencananya yaitu keinginannya untuk mendapat hak asuh atas keduanya, yaitu Keita dan Ryusei. Ryota beralasan bahwa ia enggan untuk melepas Keita yang sudah diasuhnya sejak bayi, namun ia juga merasa menjadi figur ayah bagi Ryusei karena hubungan darah yang mengikat mereka. Menurutnya, pasangan Saiki tak mampu dan layak untuk mengurus anak dengan baik berdasarkan pertemuannya dengan keluarga Saiki. Ia pun tidak keberatan untuk membayar uang kompensasi kepada keluarga Saiki jika ia dapat memenangkan hak asuh atas keduanya. Berbalik dari rencana Ryota, dibanding menyetujui rencana Ryota, justru temannya menyarankan Ryota untuk
bersatu dengan pihak keluarga Saiki dan menuntut kompensasi dari rumah sakit Maebashi.
Demi segera menyelesaikan kasus ini, pihak rumah sakit Maebashi kembali mengadakan mediasi dengan kedua belah pihak keluarga di suatu restoran. Pada diskusi kali ini, pihak rumah sakit memberikan saran kepada kedua belah pihak keluarga agar Keita dan Ryusei untuk segera bertukar tempat sementara dengan alasan bahwa anak-anak memiliki kemampuan adaptasi yang cepat pada lingkungannya. Saat pasangan Saiki berpikir bahwa mereka butuh pertimbangan saran dari anak mereka yang lain, Miyu dan Yamato, Ryota justru memberikan ide untuk mencoba pertukaran pada akhir pekan, yang mana ide dari Ryota itulah yang akhirnya disetujui.
Setelah penukaran itu berlangsung sukses, kedua belah pihak keluarga kembali bertemu di pusat perbelanjaan tanpa hadirnya pihak rumah sakit Maebashi. Melihat Ryota yang tidak pernah ikut bermain bersama Keita, Yudai mengutarakan rasa penasarannya itu kepada Ryota dan betapa terkejutnya ia akan perbedaan dirinya dengan Ryota dalam memandang pengasuhan anak.
Gambar 6. Ryota dan Yudai membicarakan tentang pola asuh mereka. (Soshite Chichi Ni Naru menit 00.52.13)
雄大:もっと一緒にいる時間作ったほうがいいよ、子供と。
良多:まあ、色んな親子があっていいんじゃないんですかね。
雄大:お風呂もいっしょうはえないんだって?