BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
2.2 Kerangka Teori
2.2.1 Teori Struktur Naratif Film
Dalam pembentukannya, unsur pembentuk film dibagi menjadi dua bagian unsur besar, yang mana adalah unsur naratif dan unsur sinematik. Kedua unsur tersebut saling berhubungan dan berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk suatu film, dan keduanya tidak dapat dipisahkan ataupun berdiri sendiri. Dapat dikatakan bahwa unsur naratif adalah materi yang diolah dalam film, sedangkan unsur sinematik adalah cara pengolahan materi tersebut di dalam film (Pratista, 2017:23).
Dalam penelitian ini, peneliti hanya berfokus pada struktur naratifnya saja. Unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita film. Setiap film (fiksi) tidak mungkin lepas dari unsur naratif karena adanya unsur-unsur dalam cerita, seperti tokoh, masalah, konflik, lokasi, dan waktu. Elemen-elemen tersebut saling berinteraksi satu sama lain untuk membentuk satu jalinan persitiwa yang memiliki maksud dan tujuan (Pratista, 2017:24). Menurut Pratista (2017:63), naratif adalah suatu rangkaian peristiwa yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab-akibat (kausalitas) yang terjadi pada suatu ruang dan waktu. Dalam penelitian ini, penulis hanya menggunakan tiga unsur tersebut dikarenakan tiga unsur tersebut cukup untuk mendeskripsikan film Soshite Chichi Ni Naru.
2.2.1.1. Struktur Tiga Babak
Struktur tiga babak atau sering pula diistilahkan struktur Hollywood klasik merupakan model struktur cerita yang paling tua, populer, serta berpengaruh dalam sejarah film. Inti plot struktur tiga babak umumnya adalah perseteruan abadi antara pihak baik dan pihak jahat. Informasi cerita biasanya menggunakan informasi tak terbatas. Alur cerita biasanya menggunakan pola linier dan seringkali mengambil bentuk cerita perjalanan, pengejaran, atau pencarian.
Struktur tiga babak umumnya hanya mememiliki satu pelaku cerita utama (protagonis) sebagai penggerak cerita. Struktur tiga babak terbagi dalam tiga tahapan yang masing-masing memiliki durasi yang sudah baku. Babak pertama (persiapan) berdurasi sekitar ¼ durasi film, babak kedua (konfrontasi) adalah
yang terpanjang sekitar separuh durasi filmnya, sementara babak ketiga (resolusi) umumnya kurang dari ¼ durasi film (Pratista, 2017:77)
a. Tahap Persiapan
Tahap permulaan atau persiapan adalah titik paling kritis dalam sebuah cerita film karena dari sinilah semuanya bermula. Pada titik inilah ditentukan aturan permainan cerita, juga telah ditentukan pelaku utama dan pendukung; pihak protagonis dan antagonis; masalah dan tujuan; serta aspek ruang dan waktu cerita. Pengenalan karakter beserta latar belakang kisahnya sering diistilahkan eksposisi (Pratista, 2017:77).
Pada tahap ini, selalu ada peristiwa, aksi, atau tindakan yang memicu terjadinya perubahan cerita yang sering diistilahkan sebagai inciting incident.
Peristiwa ini yang memicu terjadinya titik balik cerita atau turning point pertama (Pratista, 2017:78).
b. Tahap Konfrontasi
Tahap pertengahan atau konfrontasi, sebagian besar berisi usaha dari tokoh utama atau protagonis untuk menyelesaikan solusi dari masalah yang telah ditentukan dari tahap permulaan. Pada tahap ini, alur cerita mulai berubah arah dan biasanya disebabkan oleh aksi di luar perkiraan yang dilakukan karakter utama atau pendukung. Tindakan ini yang memicu terjadinya konflik yang seringkali berisi konfrontasi (fisik) antara pihak protagonis dan antagonis.
Pada separuh durasi film, selalu terdapat titik tengah cerita atau midpoint, dimana cerita bergerak kembali ke arah yang berbeda akibat adanya informasi, aksi, atau tokoh baru yang muncul. Pada tahap ini, tempo cerita semakin
meningkat hingga klimaks cerita. Menjelang akhir tahap, sebelum titk balik kedua atau turning point kedua, tokoh utama selalu mengalami titik terendah, baik segi fisik maupun mental, dimana tujuan atau penyelesaian masalah seolah jauh dari jangkauan sampai ada suatu hal yang menyebabkan tokoh untuk bangkit yang menandai mulainya turning point kedua.
c. Tahap Resolusi
Tahap penutupan adalah klimaks cerita, puncak dari konflik atau konfrontasi akhir. Pada titik inilah, cerita film mencapai titik ketegangan tertinggi.
2.2.1.2 Hubungan Naratif dengan Ruang
Ruang adalah tempat di mana para tokoh cerita bergerak dan melakukan aktivitas. Peristiwa-peristiwa dalam film biasanya terjadi di suatu tempat atau lokasi dengan dimensi ruang yang jelas. Ruang atau latar cerita dapat berupa tempat yang sebenarnya, atau tempat fiktif. Naratif sendiri sudah pasti terikat dengan ruang, tidak mungkin suatu cerita terjadi tanpa adanya ruang tempat rangkaian cerita itu sendiri (Pratista, 2017:65).
2.2.1.3 Hubungan Naratif dengan Waktu
Sama halnya seperti ruang, naratif juga terikat dengan waktu yang mana cerita juga tidak mungkin terjadi tanpa adanya unsur waktu di dalamnya. Ada beberapa aspek waktu yang berhubungan dengan naratif film, yaitu urutan waktu, durasi waktu, dan frekuensi waktu (Pratista, 2017:66).
a. Urutan Waktu
Urutan waktu menunjuk pada pola berjalannya waktu cerita sebuah film. Urutan waktu secara umum dibagi menjadi dua pola, yaitu linier dan nonlinier. Sebagian
besar plot film dituturkan dengan pola linier, dimana waktu berjalan sesuai urutan aksi peristiwa tanpa adanya interupsi waktu yang signifikan. Penuturan secara linier memudahkan penikmat untuk melihat hubungan kasualitas, jalinan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Jika urutan waktu cerita dianggap sebagai A-B-C-D-E, maka urutan waktunya juga sama. Sekalipun sebuah cerita disajikan secara simultan dan menggunakan multiplot, jika terjadi dalam watu yang bersamaan maka polanya juga tetap dianggap linier (Pratista, 2017:67).
Sedangkan pola nonlinier adalah pola yang memanipulasi urutan waktu kejadian dengan mengubah urutan plotnya sehingga membuat hubungan kasualitas tidak jelas. Jika urutan waktu cerita diibaratkan dengan A-B-C-D-E, maka urutan waktunya dapat menjadi C-D-E-A-B. Pola nonlinier jarang digunakan dalam film cerita (Pratista, 2017:68).
b. Durasi Waktu
Durasi waktu adalah durasi atau rentang waktu sebuah film dalam menampilkan ceritanya. Durasi film rata-rata hanya berkisar 90 hingga 120 menit, namun durasi cerita film umumnya memiliki rentang waktu yang lebih panjang, seperti beberapa jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan abad (Pratista, 2017:69).
c. Frekuensi Waktu
Frekuensi waktu melalui penggunaan teknik kilas-balik atau kilas-depan, adegan yang sama dapat muncul kembali bahkan bisa berkali-kali sesuai tuntutan cerita (Pratista, 2017:70).