• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori perilaku pemilih

Dalam dokumen ORIENTASI POLITIK MASYARAKAT PEMILIH (Halaman 35-40)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Teori perilaku pemilih

Dalam kaitan ini pemilu merupakan sarana dan jalur langsung untuk mencapai posisi elite penguasa. Dengan begitu maka pemilu diharapkan bisa berlangsung pergantian atau sirkulasi elite penguasa secara kompetitif dan demokratis.

Keempat, sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat.

Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk pendidikan politik bagi rakyat yang bersifat langsung, terbuka, massal, dan diharapkan dapat mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi.

diperjuangkannya ditentukan sejauh mana pejabat public tersebut mampu meresponi prefersi masyarakat pada umumnya. Semakin perilaku dan kebijakan pejabat publik tersebut mendekati preferensi masyarakat, dan semakin luas jangjauannya terhadap masyarakat, maka kelangsungan dan sukses pejabat dan kebijakan public tersebut menjadi semakin besar.

Karena itu, mengetahui preferensi dan aspirasi politik anggota masyarakat secara sistematik menjadi mutlak dalam demokrasi. Ia menentukan bukan saja nasib pejabat publik dan kebijakan – kebijakan yang akan dikeluarkannya, tapi juga keberlangsungan dan kualitas demokrasi secara keseluruhan. Menyerap dari masyarakat luas tentang preferensi politik mereka akan sangat membantu bagi proses pembuatan kebijakan – kebijakan public yang realistic. Bukan hanya elit – elit politik dan kelompok – kelompok strategis yang diuntungkan oleh informasi tersebut, tapi juga masyarakat luas pada umumnya.

Karena umur demokrasi Indonesia masih sangat muda, tradisi pembuatan kebijakan publik yang didasarkan atas preferensi publik secara luas dan sistematis masih lemah. Belum ada lembaga yang memonitor secara berkala bagaimana preferensi politik masyarakat, bagaimana masyarakat menyikapi isu – isu politik jangka pendek yang berkembang dalam politik lokal maupun nasional. Karena itu study tentang opini publik sebagai input untuk pembuatan kebijakan – kebijakan public menjadi mendesak dan strategis bagi efektifitas dan kematangan demokrasi.

Salah satu fokus masalah yang sangat penting dalam pembuatan kebijakan – kebijakan publik tersebut adalah perilaku politik pemilih, yaitu keputusan – keputusan atau tindakan – tindakan yang dilakukan oleh warga Negara biasa yang punya hak untuk memilih. Mereka ini menentukan siapa yang harus menjadi pejabat publik dan kebijakan apa yang harus dibuat oleh para pejabat tersebut.

1. Model – Model Perilaku Memilih (Voting Behavior)

Perilaku memilih (voting Behavior) adalah tindakan sesorang ikut serta dalam memilih orang, partai politik, atau isu public tertentu. Secara lebih khusus, perilaku memilih adalah keikut sertaan dalam pemilihan umum, pilihan atas partai politik tertentu, pilihan atas calon untuk jabatan politik tertentu, dan pilihan atas issu publik tertentu.

Dalam studi perilaku memilih, secara garis besar setidaknya ada tiga model untuk menjelaskan masalah – masalah perilaku memilih tersebut yang kemudian akan menjelaskan kearah mana orientasi politik dari pkl tersebut : model sosiologis, model psikologis, dan model ekonomi – politik atau pilihan rasional (rational choice theory).

a) Model Sosiologis (The Colombia School of Electoral Behavior) Model Sosiologis adalah yang paling awal dalam tradisi studi perilaku memilih. Ia berasal dari Eropa Barat dan dikembangkan di Amerika oleh para ilmuwan sosial yang mempunyai latar belakang pendidikan Eropa pada tahun 50-an. Model ini dikembangkan dengan asumsi bahwa perilaku memilih ditentukan oleh karakterisitik

sosiologis para pemilih, terutama kelas sosial, dan kelompok etnik/kedaerahan.

Kalau semua partai yang bersaing sama – sama akan memperjuangkan kepentingan kelas sosial bawah bila mereka berkuasa nantinya, maka kelas sosial akan menjadi kabur signifikansinya.

Gerald Pomper memperinci pengaruh pengelompokan sosial dalam kajian voting behavior kedalam dua variable yaitu, variable predisposisi sosial ekonomi pemilih mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku pemilih. Apakah preferensi politik ayah atau ibu akan berpengaruh pada preferensi politik anak? Predisposisi sosial-ekonomi ini bisa berupa agama yang dianut, tempat tinggal, kelas sosial, karakteristik demografi dan semacamnya Muhammad Asfar (1997).

b) Model Psikologis (The Michigan Survey Research Centre)

Pertanyaan terhadap model sosiologis muncul berkaitan dengan mekanisme bagaimana faktor – faktor sosiologis tersebut berpengaruh terhadap perilaku memilih. Bagaimana posisi kelas sosial, sentimen keagamaan, sentimen etnik, sentimen ras, atau sentimen kedaerahan berhubungan dengan keputusan untuk memilih partai politik atau calon pejabat publik tertentu.

Faktor sosiologis tersebut tidak bisa langsung mempengaruhi keputusan untuk memilih tapi diperantarai oleh persepsi dan sikap,

dan calon pejabat publik. Maka yang muncul kemudian, bukan faktor sosiologis secara objektif, melainkan faktor sosiologis sebagaimana dipersepsikan. Didalam prosesnya, pentingnya faktor sosiologis akan terkait dengan faktor psikologis.

Didalam faktor psikologis ini terbangun sebuah persepsi dan sikap partisan seseorang karena proses sosialisasi politik yang dialaminya. Partai politik, seperti halnya agama, kelas sosial, dan lain- lain., adalah sebuah entitas independent yang akan membentuk sentiment dan identitas politik seseorang yang tersosialisasi kedalam partai politik tersebut. Identitas partai politik ini yang memperantarai faktor – faktor tersebut dengan opini dan sikap terhadap partai politik, calon – calon pejabat publik, isu – isu politik terkait, dan keputusan untuk memilih partai atau calon pejabat publik tertentu.

c) Model Rasionalitas/Sosial Ekonomi (Faktor Pelengkap)

Isu – isu politik, citra partai dan calon, terutama bagaimana kinerja calon dan partai politik dipersepsikan, dipercaya bukan hanya masalah psikologis dan partisanship tapi merupakan pertimbangan rasional : bagaimana seseorang memposisikan dirinya terhadap isu tertentu, dan bagaimana partai dan calon menyikapi isu – isu tersebut.

Pertemuan antara posisi atau preferensi atas isu seorang pemilih dengan posisi atas isu yang sama dari calon atau partai politik menentukan perilaku memilih seseorang.

Pemerintahan koalisi dapat mengaburkan arti penting model ini untuk menjelaskan perilaku memilih, sebab pemerintahan koalisi mengaburkan partai mana yang sesungguhnya berkuasa dalam pemerintahan sekarang (incumbent). Dalam konteks pemerintahan koalisi, perlu dilakukan modifikasi terhadap kekuatan – kekuatan yang bersaing dalam pemilu kedalam kelompok incumbent versus kekuatan lawannya.

Dalam dokumen ORIENTASI POLITIK MASYARAKAT PEMILIH (Halaman 35-40)

Dokumen terkait