BAB I PENDAHULUAN
D. Definisi Operasional
4. Tingkat Penjualan
19
a) Penetapan harga dengan penetrasi pasar (market penetration pricing) adalah menetapkan harga rendah bagi produk baru untuk sejumlah besar pembeli dan pangsa pasar yang besar.
b) Penetapan harga memerah pasar, berarti penetapan harga yang tinggi untuk meraup pendapatan maksimum demi lapisan segmen yang bersedia membayar tinggi, perusahaan menghasilkan penjualan yang lebih sedikit, tetapi lebih menguntungkan.
3) Strategi penetapan harga bauran produk
Strategi penetapan harga bauran produk anatara lain, yaitu: 28
a) Penetapan harga line produk (product line pricing) adalah Menetapkan tingkat harga antara produk yang berbeda dalam lini produk berdasarkan perbedaan biaya antara produk, penilaian pelanggan dari berbagai fitur, dan harga pesaing.
b) Penetapan harga paket produk (product bundle pricing) adalah menggabungkan beberapa produk penawaran paket produk dengan harga yang lebih murah.
c) Penetapan harga produk terikat (caplive product pricing) adalah harga produk yang akan digunakan, beserta produk utama seperti film fotografi.
d) Penetapan harga produk sampingan (by product pricing) adalah Penetapan harga produk sampingan untuk membuat produk utama lebih kompetitif e) Penetapan harga produk tambahan (optimal
productpricing) adalah penetapan harga produk tambahan atau pelengkap beserta produk utama.
20
berhasil dicapai oleh suatu perusahaan melalui jumlah produk atau merek suatu perusahaan yang terjual dalam jangka waktu tertentu. Volume penjualan juga merupakan hasil akhir yang dicapai perusahaan dari hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Volume penjualan tidak memisahkan secara tunai maupun kredit tetapi dihitung secara keseluruhan dari total yang dicapai.
Seandainya volume penjualan meningkat dan biaya distribusi menurun maka tingkat pencapaian laba perusahaan meningkat tetapi sebaliknya jika volume penjualan menurun maka pencapaian laba perusahaan juga menurun.29 Dari defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu perusahaan menanamkan dapat sebagian dari dananya dalam modal kerja karena modal kerja diperlukan untuk menunjang kegiatan operasional yang bertumpu pada penjualan.
Aktivitas penjualan memegang peranan yang sangat penting, karena jika penjualan berhasil maka tujuan perusahaan untuk mencapai penjualan yang maksimal juga otomatis tercapai..30 Dalam kegiatan pemasaran yang sangat komplek dan saling berkaitan yang satu dengan yang lainnya, seperti promosi dan penjualan hendaknya dikelola dengan baik untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu laba.
Promosi berfungsi untuk meningkatkan volume penjualan juga sebagai strategi untuk menjangkau pembeli untuk melakukan pertukaran. Sedangkan penjualan adalah pemindahan barang dan jasa yang dilakukan oleh penjual.
Pada umumnya perusahaan yang ingin mempercepat proses peningkatan volume penjualan akan melakukan untuk mengadakan kegiatan promosi melalui iklan, personal selling, dan publisitas. Penjualan merupakan sumber hidup suatu perusahaan, karena dari penjualan dapat diperoleh laba
29 Swastha B., Azas-azas Marketing (Yogyakarta: Liberty, 2004), 157.
30 Daryono, Manajemen Pemasaran (Bandung : CV. Yrama Widya, 2011), 153.
21
serta suatu usaha memikat konsumen yang diusahakan untuk mengetahui daya tarik konsumen sehingga dapat mengetahui hasil produk yang dihasikan.
Dalam islam Allah SWT menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba‟. Karena manusia diciptakan untuk saling menbutuhkan satu sama lain, agar mereka dapat saling tolong menolong dalam kebaikan atau untuk kemaslahatan umum. Termasuk dalam kegiatan jual beli.
Seperti disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 275 sebagai berikut:
َن ْوُم ْوُقَي َلْ او ب ِ رلا َن ْوُلُكْأَي َنْيِذَّلَا ِا
َّلْ
ُقَي اَم َك ْيِذَّلا ُم ْو َخَتَي
ُهُطَّب
ُلاَق ْمُهَّنَاِب َكِل ذ ِِۗ سَمْلا َنِم ُن طْيَّشلا ْٰٓو
َّنِا ا ْلا اَم ِ رلا ُلْثِم ُعْيَب ۘاو ب
َف ِۗاو ب ِ رلا َمَّرَح َو َعْيَبْلا ُ هاللّٰ َّلَحَا َو ْنَم
اَج ْوَم ٗهَء ِ بَّر ْنِ م ةَظِع ٖه
ِهاللّٰ ىَلِا ٰٓٗهُرْمَا َو َِۗفَلَس اَم ٗهَلَف ى هَتْناَف َو ِۗ
َداَع ْنَم َا َكِٕى لوُاَف
ُب حْص
َن ْوُدِل خ اَهْيِف ْمُه ۚ ِراَّنلا
Artinya: “orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang- orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”31
Ayat di atas menjelakan bahwa perniagaan atau jual beli merupakan kegiatan yang di ridhai Allah SWT. dan mengambil riba merupakan hal yang diharamkan untuk dimakan. Mengambil riba dalam jual beli tidak hanya merugikan diri sendiri namun juga merugikan orang lain.
31 QS. Al-Baqarah [2]:275.Al-„Aliyy, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2006), hlm. 299.
22
merugikan bagi diri sendiri. Dan dengan perniagaan atau jual beli manusia dapat saling tolong- menolong.
Menurut Kotler dan Kevin Keller (2012) volume penjualan adalah barang yang terjual dalam bentuk uang untuk jangka waktu tertentu dan didalamnya mempunyai strategi pelayanan yang baik. Ada beberapa usaha untuk meningkatkan volume penjualan, diantaranya adalah:
1) Kualitas produk
Kualitas produk sering sekali diperhatikan oleh para konsumen, tidak jarang konsumen lebih memilih mengeluarkan uang lebih demi mendapatkan barang dengan kualitas baik.
2) Harga
Harga merupakan hal pertama yang diperhatikan konsumen selain kualitas produk. Harga sangat berperan dalam meningkatkan volume penjualan.
3) Promosi
Adanya promosi seperti memberikan potongan harga seringkali mengundang para konsumen untuk membeli produk yang member promo tersebut. Tidak bisa dipungkiri barang yang memberikan promosi seperti pemotongan harga atau promo yang gencar lainnya lebih menarik perhatian pembeli.
4) Distribusi
Distribsi atau memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen ke konsumen tentu sangat mempengaruhi peningkatan volume penjualan, dibutuhkan distribusi yang cepat dan tepat agar konsumen bisa membeli barang yang diinginkannya dari produsen.
5) Kualitas Sumber Daya Manusia (Pendidikan dan Pelatihan)
Dalam rekruitmen pegawai, harus ditetapkan criteria khusus seperti kemauan untuk bekerja keras, memiliki komitmen untuk memajukan usaha dan menjunjung tinggi professional kerja. Dalam
23
meningkatkan kualitas sumber daya manusia tentunya membutuhkan pendidikan dan pelatihan.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan 1) Kondisi dan kemampuan penjual
Penjual sebagai pihak pertama dan pembeli sebagai pihak kedua melakukan ransaksi jual-beli atau pemindahan hak milik secara komersial atas barang jasa yang pada prinsipnya melihatkan dua belah pihak.
2) Kondisi pasar
Adapun faktor-faktor kondisi pasar yang perlu di perhatikan yaitu jenis pasarnya, segmen pasarnya, daya belinya, frekuensi pembelian, keinginan dan kebutuhan.
3) Modal
Apabila barang yang dijual tersebut belum dikenal oleh calon pembeli, atau apabila lokasi pembeli jauh dari tempat penjual. Semua ini hanya dapat dilakukan apabila penjualan memiliki sejumlah modal yang diperlukan untuk itu.
4) Kondisi perusahaan
Pada perusahaan besar, biasanya masalah penjualan di tangani oleh bagian tersendiri (bagian penjualan) yang di pegang orang-orang tertentu/ahli di bidang penjualan.
5) Faktor lain
Faktor-faktor lain, seperti: periklanan, peragaan, kampanye, pemberian hadiah, sering mempengaruhi penjualan.
c. Indikator Volume atau Tingkat Penjualan
Menurut Philip Kotler ada tiga indikator penjualan dari volume penjualan yaitu mencapai volume penjualan, mendapatkan laba, menunjang pertumbuhan;32
1) Mencapai volume penjualan maksudnya adalah kemampuan peusahaan dalam memperoleh besarnya
32 Ridha Alhalim, Pengaruh Strategi Pemasaran terhadap Tujuan Penjualan pada PT. Danbi Internasional di Kabupaten Garut, (Skripsi, Universitas Pasunda, Bandung, 2015), hlm. 28.
24
jumlah unit produk yang dijual dan sesuai dengan target pencapaian penjualan produk.
2) Mendapat laba maksudnya adalah memperoleh keuntungan dari operasinya atau produk yang terjual.
3) Menunjang pertumbuhan maksudnya dalah menjaga atau mempertahankan volume penjualan, aktiva dan laba.
5. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) a. Pengertian Mikro Kecil Menengah (UMKM)
Perkembangan sektor usaha kecil dan menengah (UMKM) memberikan arti penting yang melekat pada upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi tingkat kemiskinan suatu negara. UMKM merupakan bagian penting dari perekonomian suatu negara atau daerah, tidak terkecuali Indonesia. Pertumbuhan dan perkembangan sektor UMKM ditetapkan sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan, terutama bagi negara-negara dengan pendapatan per kapita yang rendah.33
UMKM juga berperan penting dalam perekonomian di Indonesia. UMKM memiliki proporsi sebesar 99,99%
dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia atau sebanyak 56,54 juta unit. Pada saat krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1998 UMKM lah yang relatif mampu bertahan dibandingkan perusahaan besar, karena sebagian usaha berskala kecil tidak terlalu tergantung pada modal besar atau pinjaman dari luar dalam mata uang asing., suatu perusahaan berskala besar secara umum selalu berurusan dengan mata uang asing sehingga ada fluktuasi nilai tukar dan paling berpotensi mengalami imbas krisis.34
b. Ciri-Ciri UMKM
Ciri-ciri usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)
33 Dimas Hendika Wibowo, Zainul Arifin, Sunarti, “Analisis Strategi Pemasaran Untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM,” Jurnal Administrasi Bisnis Vol.29 No.1 (Desember 2015): 60.
34 Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Profil Bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), (Jakarta: Kerja Sama LPPI Dengan Bank Indonesia, 2015), 5.
25 antara lain sebagai berikut:
1) Ciri-ciri Usaha Mikro
a) Jenis komoditi atau barang usahanya tidak selalu tetap yang sewaktu waktu dapat berganti.
b) Tempat usahanya tidak menetap yang sewaktu- waktu dapat pindah tempat.
c) Tidak menerapkan pengelolaan keuangan yang sederhana dan tidak memisahkan keuangan rumah tangga dan perusahaan.
d) Tingkat pendidikan relatif rendah.
e) Biasanya tidak ada izin usaha atau persyaratan hukum lainnya, termasuk NPWP
f) Biasanya tidak dapat mengakses bank, tetapi beberapa lembaga keuangan selain bank dapat diakses.35
2) Ciri-ciri Usaha Kecil
a) Produk/jenis produk yang dibudidayakan umumnya bersifat tetap dan tidak mudah berubah.
b) Tempat usaha/tempat usaha umumnya tetap dan tidak berpindah-pindah.
c) Pada umumnya salah dalam melakukan pengelolaan administrasi keuangan walaupuni masih sederhana, tetapi keuangan perusahaan mulai terpisah dari keuangan keluarga.
d) Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan hukum lainnya. Termasuk NPWP.
e) Wirausahawan sudah memiliki pengalaman dalam berwirausaha
f) Beberapa orang memiliki akses ke bank dalam hal kebutuhan modal.
g) Sebagian besar belum dapat membuat manajemen
35 Siska Maya, “Strategik Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah Guna Menghadapi Tantangan di Era Mea,” Jurnal: Ekonomika dan Manajemen Vol.6 No.2 (Oktober 2017): 160.
26 usaha dengan baik.36 3) Ciri-ciri Usaha Menengah
a) Secara umum, mereka memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik, lebih terorganisir dan lebih modern, terutama tugas-tugas seperti keuangan, pemasaran dan produksi dipisahkan dengan jelas.
b) Dengan memperkenalkan sistem akuntansi secara berkala, pengelolaan keuangan dilakukan, memfasilitasi audit, mengevaluasi dan inspeksi termasuk oleh lembaga bank.
c) Menerapkan aturan, manajemen dan organisasi.
d) Semua persyaratan hukum sudah ada, termasuk izin lingkungan, izin usaha, izin lokasi, NPWP, dan upaya pengelolaan lingkungan.37
Dari ciri-ciri UMKM tersebut di atas UMKM Kopi di Kabupaten Lombok Utara masuk dalam golongan Usaha Mikro dan Usaha Kecil, dengan harapan kedepan supaya UMKM Kopi di KLU mampu mengembangkan usahanya lebih maju lagi.
36 Siska Maya, “Strategik Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah Guna Menghadapi Tantangan di Era Mea,” 161 .
37 Andi Sulfani, “Efektivitas Pengembangan Usaha Mikro di Indonesia,” Jurnal:
Aplikasi
Manajemen, Ekonomi dan Bisnis Vol.2 No.2 (April, 2018): 64.
27 BAB II
PENELITIAN TERDAHULU YANG RELEVAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Dalam melakukan penelitian tentunya penelitian terdahulu bisa dijadikan referensi untuk melakukan penelitian lanjutan, kaitannya dengan judul yang diangkat oleh peneliti, ada beberapa penelitian terdahulu yang menjadi bahan acuan penelitian ini yakni sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ahda Segati Pada Jurnal JEBI (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam) pada tahun 2018 yang berjudul
“Pengaruh Pengetahuan persepsi sertifikasi halal, kualitas produk, dan harga terhadap persepsi peningkatan penjualan”38
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui “Pengaruh Pengetahuan persepsi sertifikasi halal, kualitas produk, dan harga terhadap persepsi peningkatan penjualan (studi kasus pada Catering Aqiqah Nurul Hayat Yogyakarta) Variabel dependen dalam penelitian ini adalah peningkatan penjualan sedangkan variable independen terdiri dari sertifikasi halal, kualitas produk, dan harga. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 150 orang. Penelitian ini menggunakan kuisioner sebagai data primer kemudian hasil datanya dianalisis menggunakan regresi berganda dengan melakukan uji simultan (F), uji determinasi, dan uji parsial (t) dengan tingkat signifikan sebesar 5 persen (α=0,05) yang diolah dengan bantuan alat SPSS 23.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel sertifikasi halal, kualitas produk, dan harga yang diakui berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi pertumbuhan penjualan pada catering Nurul Hayat Yogyakarta. Hal ini terlihat dari nilai uji-F yang menunjukkan bahwa nilai uji-F sebesar 6,954 pada taraf signifikansi 0,000. Nilai F tabel sebesar 2,67 yang berarti nilai F hitung > F tabel. Selain itu, nilai alpha atau signifikansinya lebih
38 Ahda Segati, “Pengaruh Persepsi Halal, Kualitas Produk, dan Harga terhadap Persepsi Peningkatan Penjualan,” JEBI (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam), Vol.3, no.2 (2018): 159-169.
28
kecil dari 0,05 (0,000). Dari kesimpulan H0 ditolak dan H1 diterima yaitu kehalalan produk, kualitas produk, dan harga yang terjangkau ditunjukkan dengan adanya pengaruh sertifikasi halal, kualitas produk dan harga dengan peningkatan penjualan perusahaan catering Aqiqah Nurul Hayat uji Koefisiensi Determinasi (R2) dengan nilai sebesar 0.126 atau 12.6%. Hal ini dapat diartikan persepsi sertifikasi halal, kualitas produk, dan harga secara langsung dapat memberikan informasi akan kualitas produk sehingga mempengaruhi pada persepsi peningkatan penjualan pada Catering Aqiqah Nurul Hayat Yogyakarta.
2. Penelitian jurnal oleh Sartika Doloksaribu dan Edwin Agung Wibowo, Pada Jurnal Program Studi Manajemen Universitas Riau Kepulauan pada tahun 2019 yang berjudul “Pengaruh Kualitas Produk dan Harga terhadap Tingkat Penjualan Jig Di PT.
Mitra Global Bersama”.39 Jumlah populasi pada penelitian ini adalah konsumen dari PT. Mitra Global Bersama yakni berjumlah 63 orang. Dengan meneliti populasi yang diperoleh sebanyak 63 orang, maka populasi dapat diambil menjadi sampel sejumlah 63 sampel. Adapun alat analisis yang digunakan adalah analisis linier berganda dengan alat bantu SPSS 16.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data dapat disimpulkan bahwa variabel kualitas produk variabel (X1) tidak berpengaruh positif signifikan terhadap variabel tingkat penjualan (Y), yang dapat dilihat dari nilai koefisien regresi yang positif (0,652) < (2,042), dengan nilai signifikansi 0,519 (lebih besar dari 0,05). Variabel Harga Variabel harga (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel tingkat penjualan (Y), yang dapat ditentukan dari nilai koefisien regresi positif (3,750) > ttabel (2,042) dan angka signifikansi 0,001 (kurang dari 0,05). Uji F (uji simultan) menyimpulkan secara simultan atau bersama-sama dalam pengujian bahwa hubungan antara variabel kualitas produk dan harga berpengaruh terhadap tingkat penjualan.
3. Penelitian jurnal oleh Mety Rachmasari, Bambang Mulyatno
39 Sartika Doloksaribu dan Edwin Agung Wibowo, “Pengaruh Kualitas Produk dan Harga terhadap Tingkat Penjualan Jig Di PT. Mitra Global Bersama,”Jurnal Program Studi Manajemen Universitas Riau Kepulauan, Vol 02, No 01, (Juli 2019). 1-18
29
Setiawan, Siswanto Imam Santoso Pada Jurnal Program Studi Manajemen Universitas Riau Kepulauan pada tahun 2019 yang berjudul “Pengaruh Harga dan Kualitas Produk terhadap Volume Penjualan Karet PT. Perkebunan Nusantara IX Semarang”.40 Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dengan mewawancarai karyawan di perusahaan berdasarkan pertanyaan- pertanyaan yang telah disiapkan. Data sekunder adalah data dan data time series yang diperoleh dari sumber perpustakaan terkait PT Perkebunan Nusantara IX Semarang. Karena data runtun waktu yang digunakan adalah dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 sebanyak 36 data. Oleh karena itu, digunakan 36 sampel. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen yaitu harga dan kualitas terhadap variabel dependen yaitu volume penjualan dapat diperoleh dengan menggunakan uji Regresi Linier Berganda yang diolah dengan bantuan alat SPSS 16.
Berdasarkan hasil uji F pada Tabel 4 terlihat bahwa F hitung lebih besar dari Ftabel yaitu 5,012 > 3,285, dan nilai Sig lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,013, sehingga dapat disimpulkan bahwa harga dan kualitas produk memiliki dampak yang signifikan terhadap volume penjualan. Hasil ini diperkuat dengan penelitian Ismayanti (2016), dimana hasil perhitungan yang diperoleh dari nilai F dapat disimpulkan bahwa kualitas dan harga produk berpengaruh signifikan terhadap penjualan. Hasil uji-t menunjukkan bahwa nilai Sig variabel kualitas sebesar 0,041, nilai sig variabel harga sebesar 0,019. Nilai signifikansi variabel harga dan kualitas lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 yang berarti variabel harga dan kualitas berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi Kurnia Sari dan Ilyda Sudardjat Pada Jurnal Ekonomi dan Keuangan pada tahun 2019
40 Mety Rachmasari, Bambang Mulyatno Setiawan, Siswanto Imam Santoso,
“Pengaruh Harga dan Kualitas Produk terhadap Volume Penjualan Karet PT. Perkebunan Nusantara IX Semarang,” Journal of Agricultural Socioeconomics and Business, Vol. 2, No. 2, (2019). 87-94.
30
yang berjudul “Analisis Pengaruh Labelisasi Halal terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan Impor dalam Kemasan pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara”.41
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui “Labelisasi Halal berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan Impor dalam Kemasan pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Keputusan Pembelian Produk Makanan Impor sedangkan variabel independen oenelitian ini adalah Labelisasi Halal. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 2782 orang. Penelitian ini menggunakan kuisioner sebagai data primer kemudian hasil datanya dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dan analisis regresi moderasi dengan melakukan uji determinasi dan uji parsial (t) dengan tingkat signifikan sebesar 5 persen (α=0,05) yang diolah dengan bantuan alat SPSS 16.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan pengujian regresi menunjukkan hipotesis kedua diterima yaitu variabel religiusitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk kemasan oleh mahasiswa PTKIN se- Sumatera Barat, hal ini ditunjukkan dengan nilai thitung = 14,118
> ttabel = 1,653 dan signifikan 0,000 < a =0,05. Sedangkan nilai koefisienreligiusitas pada persamaan regresi bernilai positif yaitu sebesar 0,240 yang berarti bahwa semakin tinggi tingkat religiusitas mahasiswa maka keputusan terhadap pembelian produk kemasan juga akan semakin meningkat. Selanjutnya variabel moderating memiliki nilai koefisien sebesar 0.007 dengan probabilitas signifikansi sebesar 0.003 (sig < 0.05) dan memberikan pengaruh sebesar 22.8%. Ketika secara parsial label halal mempengaruhi keputusan pembelian produk kemasan hanya sebesar 20.5%. Dan setelah diinteraksikan dengan religiusitas pengaruhnya berubah menjadi 22.8%, artinya ada peningkatan pengaruh terhadap keputusan pembelian produk kemasan sebesar 2.3% setelah diinteraksikan dengan religiusitas. Dengan demikian
41 Dewi Kurnia Sari, “Analisis Pengaruh Labelisasi Halal terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan dalam Kemasan pada Mahasiswa Kedokteran Univesitas Sumatera Utara,” Jurnal Ekonomi dan Bisnis Keuangan, Vol.1, no.4 (2019): 49-56.
31
Temuan ini menunjukkan religiusitas memperkuat pengaruh label halal terhadap keputusan pembelian produk kemasan.
5. Penelitian yang dilakukan oleh M. Imamuddin, Syahrul dan Raymond Dantes Journal of Social Community pada tahun 2020 yang berjudul “Pengaruh Label Halal Dimoderasi Religiusitas terhadap Keputusan Pembelian Produk Kemasan oleh Mahasiswa PTKIN se-Sumatera Barat”.42
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui “Label Halal Dimoderasi Religiusitas berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian Produk Kemasan oleh Mahasiswa PTKIN se-Sumatera Barat. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Keputusan Pembelian Produk Makanan Impor, variabel moderasinya adalah religiusitas sedangkan variabel independen penelitian ini adalah Labelisasi Halal. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 82 orang. Penelitian ini menggunakan kuisioner sebagai data primer kemudian hasil datanya dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dengan melakukan uji determinasi dan uji parsial (t) dengan tingkat signifikan sebesar 5 persen (α=0,05) yang diolah dengan bantuan alat SPSS 17.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel labelisasi halal dengan Keputusan Pembelian Produk Makanan Impor dalam Kemasan, hal ini dilihat dari nilai Sig 0,025 < 0,05. Maka hipotesis yang diajuka dalam penelitian ini dinyatakan diterima. Mengenai pernyataan bahwa labelisasi halal memberikan kenyamanan dan keamanan bagi konsumen muslim alam mengkonsumsi suatu produk makanan impor dalam kemasan diketahui bahwa terdapat 52 responden (63,41%) yang menjawab setuju. Dengan adanya labelisasi halal maka akan mempengaruhi keputusan konsumen muslim untuk membeli dan mengknsumsi produk makanan impor dalam kemasan, seperti yang terdapat pada pernyataan bahawa karean memiliki labelisasi halal terdapat 51 responden (62,20%) yang menjawab setuju.
42M. Imamuddin, Syahrul dan Raymond Dantes, “Pengaruh Label Halal Dimoderasi Religiusitas terhadap Keputusan Pembelian Produk Kemasan oleh Mahasiswa PTKIN se-Sumatera Barat,” Journal of Social Community, Vol.5, no.1 (2020): 14-25.
32 B. Kerangka Berfikir
Sebagai acuan berfikir dalam penyusunan karya ilmiah ini, peneliti mencoba untuk menalarkan bentuk fikiran penelitian ini dalam bentuk susunan kerangka berfikir, dari kerangka berfikir ini, penulis akan mencoba menggambarkan paradigma-paradigma yang akan menjadi permasalahan pada penelitian ini sehingga kerangka berfikir penelitian ini dapat digambarkan pada bagan berikut ini :
Labelisasi Halal (X2)
Ha1
Tingkat Penjualan
Ha2 Produk UMKM (Y) Kualitas Produk (X3)
Ha3
Harga (X4)
Dari kerangka berfikir tersebut penulis akan menggunakan tiga variabel independen dengan satu variabel dependen. Adapun variabel independen tersebut yakni labelisasi halal, kualitas produk dan harga. variabel dependennya yakni tingkat penjualan. Karena kerangka berfikir tersebut menunjukkan bentuk asosiatif/hubungan pengaruh, maka dapat digambarkan yakni pengaruh variabel independen X1, X2 dan X3 terhadap variabel Y dengan pendekatan analisis linier berganda.
C. Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian ilmiah hipotesis bagian daripada kerangka penelitian yang dibutuhkan untuk mengemukakan pendapat terhadap rumusan masalah. Hipotesis merupakan dugaan sementara terhadap tujuan penelitian yang diturunkan dari kerangka pemikiran yang telah dibuat. Dalam menyusun hipotesis, ada 4 macam hipotesis dalam penelitian yakni hipotesis deskriptif, hipotesis komparatif, hipotesis