• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Ekonomi

Pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia sedikit mengalami perlambatan dibandingkan tahun 2012, peningkatan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia hanya mencapai 5,78 persen atau lebih rendah dari asumsi dalam APBN-Perubahan 2013 yaitu sebesar 6,3 persen. Hal ini terjadi akibat dari pelemahan nilai rupiah yang disebabkan oleh masih tingginya impor minyak, dan penarikan dana asing dari Indonesia, yang mengakibatkan defisit neraca perdagangan serta potensi tapering off  The Fed. Namun pada akhir tahun 2013 ekspor mengalami peningkatan seiring dengan pemulihan negara-negara yang tadinya terdampak krisis global seperti China dan Amerika Serikat.

Pertumbuhan terjadi di semua sektor ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 10,19 persen, dengan nilai Rp292,4 triliun. Berturut-turut disusul sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan dengan pertumbuhan 7,56 persen, dengan nilai Rp272,1 triliun.  Sektor ketiga yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah konstruksi, di mana mencatat pertumbuhan 6,57 persen dengan nilai Rp182,1 triliun.  Sementara itu pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian tercatat paling kecil sebesar 1,34 persen dengan nilai Rp 195,7 triliun. Gadget membuat pertumbuhan signifikan di sektor komunikasi menjadi paling tinggi. Pembangunan real estate positif, demikian juga dengan lembaga keuangan. Konstruksi tumbuh positif karena ini berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dari tahun ke tahun. Terutama yang dilakukan pemerintah dalam rangka MP3EI.

Sedangkan jumlah total produk domestik bruto (PDB) sepanjang 2013 adalah Rp9.084 triliun Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB).

Sedangkan PDB Atas Dasar Harga Konstan (tahun 2000) adalah Rp2.770,3 triliun. Untuk kuartal-IV 2013 sendiri PDB ADHB sebesar Rp2.367,9 triliun, dan ADHK sebesar Rp699,9 triliun. Angka ini naik dibanding kuartal-IV 2012, dimana PDB ADHB sebesar Rp2.092,4 triliun, dan ADHK sebesar Rp662,1 triliun.

Berdasarkan data statistik Indonesia pada Desember 2013 terjadi inflasi sebesar 0,55% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 146,84. Dari 66 kota IHK, tercatat 61 kota mengalami inflasi dan 5 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manado 2,69% dengan IHK 144,59 dan terendah terjadi di Palembang dan Tangerang masing-masing 0,04% dengan IHK masing-masing 142,84 dan 149,92. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Padang Sidempuan 0,44% dengan IHK 147,74 dan terendah terjadi di Kendari 0,05% dengan IHK 149,50.

Laju inflasi pada Desember 2013 mencapai 0,55% sehingga laju inflasi tahun kalender 2013 maupun secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 8,38%. Sedangkan komponen inti pada Desember 2013 mengalami inflasi sebesar 0,45 persen, tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari−Desember) 2013 dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Desember 2013 terhadap Desember 2012) masing-masing sebesar 4,98 persen.

Nilai Tukar Mata Uang

Perkembangan nilai tukar rupiah melemah pada kuartal 1 menuju kuartal 2 tahun 2013. Sebelum Mei, nilai tukar rupiah di bawah Rp9.700 per dollar AS, dan sejak September di atas Rp10.000 per dollar AS. Kurs tengah Bank Indonesia mengalami penurunan setelah libur dan cuti bersama Natal ke posisi Rp12.260 per dollar AS. Di penghujung 2013, nilai tukar rupiah anjlok ke level terendah lima tahun terakhir.

The Growth of GDP in 2008-2013 (%) Inflation

Sources: Central Bureau of Statistics in 2013 Based on the Indonesia’s statistical data in December 2013, there was inflation 0.55% in the Consumer Price Index (CPI) amounted 146.84. The CPI of 66 cities, 61 cities recorded have inflation and 5 have deflation. The highest inflation was in Manado with 2.69% in CPI 144.59 and the lowest occurred in Tangerang and Palembang by 0.04% with CPI respectively 142.84 and 149.92. While, the deflation occurred in Padang Sidempuan at 0.44% with CPI 147.74, the lowest occurred in Kendari at 0.05% with CPI 149.50.

The rate of inflation in December 2013 reached 0,55% to the inflation rate of calendar in 2013 nor on the annual basis (yoy) recorded at 8.38%. While the core component of the December 2013 have inflation at 0.45 percent, the inflation level of core components in the calendar year (January to December) of 2013 and a core component inflation level every year (December 2013 to December 2012) amounted to 4.98 per cent.

Currency Exchange Rates

The exchange rate development weakened in the first quarter until the second quarter of 2013. Before May, the rupiah’s exchange rate was under Rp 9.700 per U.S. dollars and since September over Rp 10,000 per U.S. dollar. Indonesia Bank middle rate decreased after the Christmas holidays and time off together to position Rp 12.260 per U.S. dollar. At the end of 2013, the rupiah’s exchange rate fell to the lowest level of the past five years

Sumber: Badan Pusat Statistik Tahun 2013 Pertumbuhan GDP Tahun 2008-2013 (%) Inflasi

4,63 6,01

2008

2009

2010 2011

2012

6,22 6,49

6,23

2013 5,78

Melemahnya rupiah dipicu oleh masih tingginya permintaan valuta asing domestik di tengah pasokan yang terbatas. Hal ini menimbulkan ketidakseimbangan di pasar valas domestik. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga disebabkan oleh meningkatnya tekanan terhadap kinerja transaksi berjalan yang disebabkan oleh pertumbuhan ekspor yang masih terbatas dan impor yang masih tinggi, sejalan dengan masih kuatnya permintaan domestik.

Pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang menciptakan sentimen negatif. Kekhawatiran terhadap dampak pengetatan kebijakan fiskal Amerika Serikat, kelangsungan program stimulus ekonomi oleh The Fed, serta masih tingginya ketidakpastian prospek penanganan krisis Eropa dan kondisi ekonomi makro Eropa yang masih lemah menyebabkan masih rentannya proses pemulihan ekonomi global. Selain itu, masih rendahnya harga komoditas internasional yang menjadi basis utama ekspor Indonesia ikut menciptakan kondisi yang tidak kondusif bagi perkembangan rupiah.

Perkembangan Industri Pupuk

Pupuk memiliki peranan yang sangat penting bagi peningkatan usaha tani nasional. Dengan demikian, ketergantungan terhadap pupuk semakin besar ketika pemerintah berhasil melaksanakan program pembangunan pertanian melalui swasembada pangan, terutama mengenai usaha intensifikasi. Pupuk adalah senyawa kimia anorganik/ organik yang dijumpai di alam atau dibuat manusia yang memiliki nilai hara langsung atau tidak langsung bagi tanaman, pemberian pupuk yang tepat akan menghasilkan perubahan pertumbuhan yang sifatnya positif bagi tanaman. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar separuh dari produksi pangan dunia merupakan akibat langsung dari aplikasi pupuk. Irigasi, varietas benih dan teknologi, praktek budidaya, pengendalian gulma dan hama, dan kepadatan penanaman berkontribusi sisanya. Namun, pupuk melakukan jauh lebih dari hasil dorongan, mereka memperkuat tanaman dan pertumbuhan kecepatan dan kedewasaan. Kalium, khususnya, meningkatkan kualitas fisik dan rasa banyak tanaman.

Kebutuhan nasional akan pupuk meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan pangan dalam negeri. Pemerintah menaruh perhatian yang maksimal dalam memenuhi kebutuhan akan pangan yaitu dengan bersinergi dengan industri-industri pupuk nasional dalam upaya peningkatan kapasitas produksi pertanian. Seiring dengan permintaan yang besar akan pupuk maka peluang perkembangan industri pupuk cukup besar, terlihat dari gambaran supply-demand Urea nasional.

The weakening rupiah was triggered by the high domestic demand for foreign exchange in the limited supply. This had led to an imbalance in the domestic foreign exchange market. In addition, a weak exchange rate was also caused by increased pressure to the current account caused by the growth of exports that was still restricted and imports that was still high, in line with strong domestic demand.

Rupiah’s movement was also influenced by external factors that create negative sentiment. Concerns about the impact of U.S.

tightening fiscal policy, the sustainable economic stimulus by the Fed, as well as the high uncertainty handling prospect of the crisis in Europe and the conditions European macroeconomic were still weak caused global economic recovery was still susceptible.

Moreover, the low international commodity prices that became the main base of Indonesian exports took part create in conducive conditions to the rupiahs development

Fertilizer Industry Development

Fertilizer has a very important role for the improvement of the national farming. Thus, the dependence on fertilizer will be greater when the government succeeded in implementing agricultural development programs through self-sufficiency, especially regarding intensification. Fertilizers are chemical compounds organic/ inorganic which occur in nature or man-made which have nutrient value directly or indirectly to the plants, proper application of fertilizer will result positive changes for the growth of plants.

Research shows that about half of the world's food production is a direct result of the fertilizers application. Irrigation seed varieties, and technology, cultivation practices, control pest and weed, and planting densities contribute at the rest. However, fertilizer conducts more than drive results; they strengthen and plants growth speed and maturity. Potassium, in particular, improve the physical quality and taste of many plants.

National fertilizer demand increases in line with the increasing of domestic food needs. The government put maximum attention to fulfill the demand for food by making synergy with the national fertilizer industries in an effort to increase agricultural production capacity. Along with the strong demand for the fertilizer then opportunities of industry development are quite large, visible from the picture of national Urea supply-demand.

No. KeteraNgaN DescriptioN 2009 2011 2013 2015 2020

1. Kap. Produksi Production Capacity 8,297 8,297 8,297 8,880 10,488

2. Produksi Production 6,722 6,742 7,000 7,800 8,100

3. Rate Produksi Production Rate (%)

3 = (2/1)x100% 81.0 81.3 84.4 87.8 77.5

4. Konsumsi Consumption 6,149 6,019 6,360 6,446 7,000

5.

Produksi-Konsumsi Production-Consumption 5 = 4-2

Surplus Surplus

573 573

723 723

640 640

1,354 1,254

1,100 1,100 Gambaran Supply – Demand Urea di Indonesia pada periode

tahun 2009 – 2020 adalah sebagai berikut: The Picture of Supply – Demand Urea in Indonesia in the period of 2009 – 2020 is as follows:

(000 Ton)

Sumber : Fertecon Urea Outlook, 2012-1 Source: Fertecon Urea Outlook, 2012-1

Kapasitas produksi pabrik urea di Indonesia pada tahun 2013 adalah 8,29 juta ton/tahun dan beroperasi pada rate produksi 84,4%. Produksi urea di Indonesia diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dimana pada tahun 2009 konsumsi dalam negeri mencapai 6,15 juta ton dan selebihnya sebesar 0,57 juta ton dialokasikan sebagai ekspor, inventory dan bahan baku produk lain. Ekspor urea sebesar 607 ribu ton dilakukan ke negara- negara tetangga seperti India, Malaysia, Filipina, Thailand dengan komposisi ekspor: Pusri sebesar 129.000 ton, PT PKG 8000 ton, PT PKC 500 ton, PT PKT 197.000 ton dan PT PIM 272.000 ton.

Berdasarkan Road Map dari Departemen Pertanian kebutuhan pupuk urea di Dalam Negeri setiap tahun meningkat rata-rata 6,3%

dan diperkirakan pada tahun 2015 kebutuhan pupuk urea mencapai 6,93 juta ton. Kebutuhan pangan yang meningkat dimungkinkan bagi Pupuk Indonesia untuk melakukan penguatan pangsa pasar.

Pupuk Indonesia kedepan akan melakukan terobosan- terobosan untuk memperkuat bisnis usaha dengan memperkuat hubungan bisnis dengan pemasok dan juga konsumen.

Peranan Pupuk Indonesia dalam menunjang Industri pupuk nasional

PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertujuan untuk turut melaksanakan dan menunjang kebijakan serta program Pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional dan ekspor. Status Pupuk Indonesia sebagai perusahan focused holding telah memberikan perubahan positif baik dari sisi kinerja operasional maupun kinerja keuangan.

Dalam rangka pencapaian program Ketahanan Pangan maka Pemerintah menugaskan produsen pupuk untuk dapat menjamin pengadaan dan penyaluran pupuk sampai ke tangan petani.

Wilayah Tanggung Jawab Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi ditetapkan oleh Pupuk Indonesia sehingga dapat dilakukan dengan cepat, karena cukup diputuskan oleh Pupuk Indonesia, lebih fleksibel karena setiap ada Perubahan yang signifikan (Kemampuan Produksi) dapat langsung disikapi. Apabila terjadi gangguan produksi, maka untuk menjaga agar pasokan ke wilayah yang menjadi tanggung jawab produsen yang mengalami gangguan produksi tidak terganggu, maka dilakukan realokasi antar produsen. Realokasi ditetapkan oleh Pupuk Indonesia.

Dengan menerapkan pola koordinasi strategis holding maka penugasan Pemerintah untuk menyalurkan dan menjual pupuk bersubsidi (PSO) ke seluruh wilayah Indonesia telah terpenuhi dengan baik, maka peningkatan sinergi, efisiensi dan produktivitas seluruh perusahaan Anggota Holding mampu memberikan peningkatan kontribusi yang signifikan, serta arah Pengembangan industri pupuk secara lebih terintegrasi.

The production capacity of urea factory in Indonesia in 2013 was 8.29 million tons / year and operates on a production rate at 84.4%.

Urea production in Indonesia preferred to fulfill the domestic needs where the domestic consumption in 2009 reached 6.15 million tons and 0.57 million tons of the rest allocated as exports, inventory and other raw materials. The Urea exports amounted to 607 thousand tons carried to neighboring countries such as India, Malaysia, Philippines, Thailand with the composition: Pusri was 129,000 ton, PT PKG 8000 ton, PT PKC 500 ton, PT PKT 197,000 ton and PT PIM 272,000 ton.

According to the Road Map of Department of Agriculture the domestic needs of urea increases each year by an average 6.3%

and estimated the urea fertilizer demand reaches 6.93 million tons in 2015. The increasing of food needs makes opportunity for Pupuk Indonesia to strengthen market share. Pupuk Indonesia in the future will make breakthroughs effort to strengthen the business by strengthening business relationships with suppliers and consumers.

Pupuk Indonesia Roles in Supporting National Fertilizer Industry

PT Pupuk Indonesia (Persero) is a State Owned Enterprises (SOEs) aimed to conduct and support policies and programs of government to fulfill the needs of national food and export.

Pupuk Indonesia’s status as a focused holding company has given a positive change both in terms of operational performance and financial performance.

In order to achieve food security program, the Government assigns the fertilizer manufacturers to ensure the procurement and distribution of fertilizer reaches the farmers The Area of Responsibilities to Procurement and Distribution of Subsidized Fertilizer is established by Pupuk Indonesia that can be done quickly, as fairly decided by Pupuk Indonesia, this is more flexible because any significant changes (Production Capability) can be directly addressed. In the event of disruption of production, to ensure that the supply to the area that become responsibility of the producers who suffered production disruptions are not disturbed, then conducted the reallocation between manufacturers. Reallocation set by Pupuk Indonesia.

By implementing the holding strategic coordination pattern then government’s assignment to distribute and sell the subsidized fertilizer (PSO) to all parts of Indonesia has been properly fulfilled, then the increase synergy, efficiency and productivity across the enterprise Holding Members able to provide a contribution significant increase, as well as the direction of development of the fertilizer industry to be more integrated manner.

PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara dalam bidang pupuk di Indonesia. Perusahaan ini dulu bernama PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) di  Palembang,  Sumatera Selatan  yang merupakan perusahaan pupuk urea pertama di Indonesia dan berganti nama menjadi PT Pupuk Indonesia (Persero) berdasarkan Keputusan  Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-17695.AH.01.02. Tahun 2012.

Sejarah PT Pupuk Indonesia (Persero) terdiri dari dua fase. Fase pertama yang masih bernama PT Pupuk Sriwidjaja adalah sebagai unit usaha yang berdiri sendiri dari kurun tahun 1959 hingga 1997.

Fase kedua ditandai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 tanggal 7 Agustus 1997 juncto PP 35 tanggal 28 feb 1998 yang menunjuk PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) sebagai induk Perusahaan dari perusahaan Produsen Pupuk, EPC, dan Perdagangan (Holding Company).

Total aset pada PT pupuk Indonesia tahun 2013 sebesar Rp65,8 triliun dengan total pendapatan tahun 2013 sebesar Rp56,3 triliun. PT Pupuk Indonesia membawahi sejumlah anak Perusahaan sebagai berikut:

PT Petrokimia Gresik (PKG), memproduksi dan memasarkan pupuk urea, ZA, SP-36, Phonska, DAP, NPK, ZK dan industri kimia lainnya serta pupuk organik.

PT Pupuk Kujang (PKC), memproduksi dan memasarkan pupuk urea, NPK, organik dan industri kimia lainnya.

PT Pupuk Kaltim (PKT), memproduksi dan memasarkan pupuk urea, NPK, organik dan industri kimia lainnya.

PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), memproduksi dan memasarkan pupuk urea, organik dan industri kimia lainnya

PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, memproduksi dan memasarkan pupuk urea, NPK, organik dan industri kimia lainnya.

PT Rekayasa Industri (REKIND), bergerak dalam penyediaan jasa engineering, procurement & construction (EPC).

PT Mega Eltra (ME), bergerak dalam bidang usaha perdagangan umum.

PT Pupuk Indonesia Logistik (PILog), bergerak dalam bidang usaha pelayaran/angkutan laut untuk barang yang dilakukan untuk umum dan kepentingan grup dan afiliasi perusahaan.

PT Pupuk Indonesia (Persero) is a State-Owned Enterprises in the field of fertilizer in Indonesia. The company was formerly known as PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) in Palembang, South Sumatra, which is the first urea fertilizer company in Indonesia and changed its name to PT Pupuk Indonesia (Persero) based on the Ministry of Justice and Human Rights of the Republic of Indonesia No. AHU- 17695.AH.01.02.

The history of PT Pupuk Indonesia (Persero) consists of two phases.

The first phase is called PT Pupuk Sriwidjaja is as a stand-alone business unit from the period 1959 to 1997. The second phase is marked by a Government Regulation (PP) No. 28 dated August 7 1997 juncto with Regulation 35 dated Feb 28, 1998 appointed PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) as the parent company of the Fertilizer Producers Company, EPC, and Trade (Holding Company).

Total assets of PT Pupuk Indonesia in 2013 amounted to Rp65,8 trillion with total revenues in 2013 amounted to Rp 56, 3 trillion . PT Pupuk Indonesia leads several subsidiaries as follows:

PT Petrokimia Gresik (PKG), produces and markets urea fertilizer, ZA, SP-36, Phonska, DAP, NPK, ZK, and other chemical industries as well as organic fertilizer.

PT Pupuk Kujang (PKC), produces and markets urea, NPK, organic and other chemical industries.

PT Pupuk Kaltim (PKT), produces and markets urea, NPK, organic and other chemical industries

PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), produces and markets urea, organic and other chemical industries

PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, produces and markets urea fertilizer, NPK, organic, and other chemical industries.

PT Rekayasa Industri (REKIND), is engaged in the provision of engineering services, procurement &

construction (EPC).

PT Mega Eltra (ME), is engaged in general trading business.

PT Pupuk Indonesia Logistics (PILog), is engaged in the shipping / sea transport business for goods that done to the public and interest groups and affiliate companies.

Dokumen terkait