• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Tentang Notaris

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.2. Tinjauan Pustaka

2.2.4. Tinjauan Tentang Notaris

adalah pembukuan yang dilakukan oleh seorang notaris berdasarkan keinginan pihak yang aktanya akan didaftarkan untuk dibukukan kedalam sebuah buku khusus yang dimiliki oleh notaris yang bersangkutan. Pada Pasal 15 ayat (2) huruf b Undang-Undang Jabatan Notaris diatur mengenai kewenangan notaris dalam membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar pada buku khusus. Melihat dari isi ketentuan Pasal 1875 KUHPerdata, fungsi dilakukannya waarmerking pada perjanjian dibawah tangan dalam hal terjadi sengketa untuk tahap pembuktian di persidangan yaitu perjanjian tersebut dapat digunakan sebagai alat bukti karena perjanjian yang sudah diserahkan ke notaris untuk di Waarmerking akan tercatat secara hukum, tetapi tidak menjamin mengenai isinya diperkenankan oleh hukum yang menandatanganinya orang-orang yang bersangkutan, dikarenakan waarmerking hanya untuk penegasan bahwa tanggal penandatanganan surat tersebut telah di waarmerking atau didaftarkan dalam buku khusus oleh notaris. Objek yang diperjanjikan dalam suatu perjanjian harus ditentukan dengan jelas, jika tidak akan membuat perjanjian batal demi hukum.29

Notaris. Salah satu pertimbangannya, disebutkan bahwa: Notaris sebagai pejabat umum yang menjalankan profesi dalam memberikan jasa hukum kepasa masyarakat, perlu mendapat perlindungan dan jaminan demi tercapainya kepastian hukum. Pasal 1 UU No. 2 Tahun 2014 Tentaang Jabatan Notaris menyebutkan: Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.30

Ketentuan mengenai notaris telah diatur secara khusus dalam bentuk perundang-undangan, yaitu Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris yang kemudian dirubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut dengan UU No.2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris). UU No.2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris dibentuk oleh karena Reglement op Het Notaris Ambt in Indonesie yang mengatur mengenai jabatan Notaris tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat.31

30 Shofia Chairunnisa, “Kekuatan Pembuktian Akta Di Bawah Tangan Dikaitkan Dengan Kewenangan Notaris Dalam Legalisasi Dan Waarmerking Berdasarkan Uu No. 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris,” PhD Thesis. Universitas Islam Malang (2020): 1–48. Hal. 1.

31 Ibid. Hal. 3.

Pengaturan tentang jabatan notaris telah dimulai diatur dengan Reglement op Het Notarisin Nederlands Indie, pada tahun 2004 diundangkanlah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang jabatan Notaris. Pengaturan jabatan notaris lebih disempurnakan lagi dengan adanya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (Perubahan UUJN), yang telah disahkan pada tanggal 17 Januari tahun 2014 oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).

Notaris adalah orang yang mendapat kuasa dari pemerintah (dalam hal ini , kuasa dari Departemen Kehakiman) untuk mengesahkan dan menyaksikan berbagai surat perjanjian, surat wasiat, akta dan sebagainya.32

Kewenangan notaris telah ditentukan dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Kewenangan notaris dalam KUHPerdata, yang meliputi:

a. Akta perjanjian kawin, perjanjian yang dibuat dalam akta notaris;

b. Akta penyerahan piutang-piutang atas nama dan barang-barang lain yang tidak bertubuh;

c. Akta penjualan;

d. Akta hibah;

e. Akta pembelian dan atau pemindahtanganan barang tak bergerak;

f. Akta pemisah harta kekayaan;

32 Laurensius Arliman S, Notaris Dan Penegakan Hukum Oleh Hakim (Yogyakarta:

Deepublish Publisher, 2015). Hal. 1-18.

g. Surat wasiat atau testamen.33

Tugas dan wewenang notaris erat hubungannya dengan perjanjian- perjanjian, perbuatan-perbuatan dan ketetapan-ketetapan yang menimbulkan hak dan kewajiban antara para pihak, yaitu memberikan jaminan atau alat bukti terhadap perbuatan, perjanjian, dan juga ketetapan tersebut agar para pihak yang terlibat di dalamnya mempunyai kepastian hukum.34 Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris Pasal 15 ayat (2) menyebutkan bahwa kewenangan notaris sebagai berikut:

1. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat dibawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

2. Membukukan surat dibawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

3. Membuat kopi dari asli surat dibawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;

4. Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya;

5. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta;

6. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan atau 7. Membuat akta risalah lelang.35

33 Salim HS, Peraturan Jabatan Notaris (Jakarta: Sinar Grafika, 2018). Hal. 1-33.

34 Fatriansyah, “Peran Majelis Pengawas Wilayah Notaris Dan Majelis Kehormatan Notaris Terhadap Pembinaan Dan Pengawasan Notaris Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris,”

Legalitas: Jurnal Hukum 14, no. 2 (2023): 291–298. Hal. 291.

35 Pasal 15 ayat (2), Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang

Hukum perjanjian ada akibat hukum tertentu jika syarat subjektif dan syarat objektif tidak dipenuhi. Jika syarat subjektif tidak terpenuhi, maka perjanjian dapat dibatalkan (vernietigbaar) sepanjang ada permintaan oleh orang-orang tertentu atau yang berkepentingan. Jika syarat objektif tidak dipenuhi, maka perjanjian batal demi hukum (nietig), tanpa perlu ada permintaan dari para pihak, dengan demikian perjanjian dianggap tidak pernah ada dan tidak mengikat siapapun.

Walaupun notaris hanya mengikuti kehendak dari para pihak, notaris juga memiliki larangan dan ketidakwenangan notaris untuk membuat akta, Pasal 52 ayat (1) dan Pasal 53 UUJN menegaskan dalam keadaan tertentu notaris dilarang membuat akta, larangan ini hanya ada pada subjek hukum para penghadap, jika subjek hukumnya dilarang, maka substansi akta (perbuatannya) apapun tidak diperkenankan untuk dibuat. Pembuatan akta tersebut telah melanggar Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Penanaman Modal No. 25 Tahun 2007 dan juga pembuatan akta nominee dalam bidang pertanahan dengan mencederai Asas Nasionalitas dalam UUPA juga jelas melanggar ketentuan pemilikan Hak Atas Tanah yang dimiliki oleh orang asing hanyalah Hak Pakai. Apabila notaris tetap membuatkan akta nominee yang mengandung perbuatan melawan hukum tersebut, maka akibatnya adalah perjanjian dan/atau pernyataan itu dinyatakan batal demi hukum.36

Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris,” Peraturan BPK.go.id (n.d.).

36 Endah Pertiwi, Op.Cit. Hal. 7.

Alternatif ketika notaris tidak mau membuat akta otentik adalah seringkali notaris membantu merancangkan akta di bawah tangan untuk para pihak, kemudian ditandatangani oleh para pihak selayaknya akta di bawah tangan biasa, kemudian selanjutnya akta di bawah tangan tersebut di waarmerking di notaris yang bersangkutan. Ketika notaris membantu membuatkan akta di bawah tangan sebelum di waarmerking oleh notaris yang bersangkutan. Ketika notaris membantu membuatkan akta di bawah tangan sebelum didaftarkan/waarmerking, peneliti berpendapat bahwa bukan berarti tidak ada pertanggungjawaban dari notaris sama sekali. Notaris juga dapat dimintai pertanggungjawaban secara perdata dalam hal ia terbukti melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sebagaimana didefinisikan Pasal 1365 KUH Perdata yaitu tiap perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. jika perbuatan notaris yang membantu membuatkan akta di bawah tangan sebelum di waarmerking oleh dirinya memenuhi Pasal 1365 KUH Perdata, maka notaris tersebut dapat dimintai pertanggungjawaban perdata37

37 Rizky Ramadhani Irham Rafly Dzikry Abida, “Tanggung Jawab Notaris Terhadap Waarmerking Akta Di Bawah Tangan Yang Pembuatannya Dibantu Oleh Notaris,” Jurnal Education and Development 9, no. 1 (2021): 154–157. Hal. 156-157.

Dokumen terkait