• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Tentang Pembelajaran Matematika

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Pustaka

3. Tinjauan Tentang Pembelajaran Matematika

2) Pemahaman Interpretatif adalah kegiatan membaca yang bertujuan agar para pembaca memiliki kemampuan untuk menganalisis makna konotatif pada kata yang tersirat di dalam teks bacaan, membedakan kalimat utama dengan kalimat penjelas dalam bacaan, menjelaskan hubungan sebab-akibat yang dapat diambil dari dua paragraf.

3) Pemahaman kritis adalah kegiatan membaca kemampuan yang dimiliki pembaca untuk menjelaskan ide pokok dalam bacaan, membedakan fakta dengan imajinasi dalam bacaan.

4) Pemahaman kreatif adalah kegiatan membaca agar pembaca dapat mencontohkan fakta-fakta dalam bacaan yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari dan menarik kesimpulan dari isi.19

Kesimpulannya, mengacu pada tingkatan pemahaman dikelompokkan menjadi empat tingkatan. Peneliti menyusun kisi- kisi tes yang sesuai dengan indikator pada masing-masing tingkatan membaca pemahaman. Maka diperlukan pengukuran yang baik terhadap kemampuan tingkatan tersebut, sehingga diperoleh tingkat membaca pemahaman siswa.

3. Tinjauan tentang Pembelajaran Matematika

bertujuan mempersiapkan siswa menghadapi perubahan yang selalu berkembang.20

Matematika adalah bahasa simbol tentang berbagai gagasan dengan menggunakan istilah-istilah yang didefinisikan secara cermat, jelas, dan akurat.21 Matematika dikategorikan menjadi dua yaitu matematika praktik dan matematika teknik. Matematika praktik dipandang dalam kehidupan sehari-hari seperti menghitung, menempatkan, mengukur, mendisain, bermain dan menjelaskan, sedangkan matematika teknik berhubungan dengan cara-cara matematika dikaitkan dengan aturan-aturan formal. Misalnya, aturan dalam operasi hitung.

Belajar matematika melibatkan pengumpulan gagasan matematika dan secara berurutan membayangkan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih baik. Belajar dengan pemahaman dapat ditingkatkan lebih jauh melalui interaksi kelas sebab siswa mengusulkan gagasan matematika, belajar untuk mengevaluasi pemikiran mereka sendiri dan pemikiran orang lain, dan mengembangkan keterampilan penalaran matematika.22

20 Fatrima Santri Syafri, Pembelajaran Matematika Pendidikan Guru SD/MI (Yogyakarta: Matematika, 2016), hlm. 10.

21J. Tombokan Runtukahu dan Selpius Kandou, Pembelajaran...,hlm 28.

22Turmudi, Taktik dan Strategi Pembelajaran Matematika (Jakarta: PT. Leuser Cita Pustaka. 2009) , hlm. 11.

Kesimpulannya, matematika merupakan pengetahuan terstruktur, satu kemampuan merupakan prasayarat bagi kemampuan berikutnya. Kesulitan belajar yang terjadi seperti kesulitan dalam mengingat dan kesulitan dalam bahasa. Ada anak yang mengerti sistem bilangan, tetapi tidak mampu mengingat kembali.

Pembelajaran matematika dapat dilaksanakan dengan baik jika guru menguasai konsep-konsep matematika yang akan diajarkan.

b. Konsep Matematika

Belajar matematika yang efektif dan efisien tidak dengan sendirinya terjadi karena membutuhkan cukup waktu dan perencanaan yang baik. Guru memegang peranan penting dalam menyediakan lingkungan belajar yang sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Tujuannya yaitu megetahui kesiapan anak untuk belajar matematika dan pemikiran mereka berubah sesuai dengan perkembangan usianya.23

Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika oleh sebab itu, pendidik harus memahami pengetahuan tentang hakikat konsep matematika akan membantu pendidik dalam mengajarkan konsep- konsep matematika di Sekolah Dasar. Pembelajaran matematika

23Pitadjeng, Pembelajaran..., hlm. 13.

Sekolah Dasar merupakan dasar bagi penerapan konsep matematika pada jenjang selanjutnya.

Pemahaman konsep merupakan kecakapan yang paling dasar dalam matematika. kecakapan ini sangat mempengaruhi kecakapan- kecakapan matematika yang lain. Seorang siswa tidak akan mampu menyelesaikan suatu permasalahan sesuai dengan prosedurnya jika siswa tidak memiliki pemahaman konsep yang baik.

Begitu juga halnya dalam mengembangkan komponen kompetensi strategi dan penalaran adaptifnya. Jika tingkat pemahaman konsepnya masih rendah, siswa tidak akan mampu mengembangkan komponen-komponen tersebut. Oleh karena itu menumbuhkan dan mengembangkan pemahaman konsep sangat penting bagi siswa, terutama bagi siswa Sekolah Dasar. Adapun hakikat konsep matematika sebagai berikut:24

1) Hakikat Bilangan dan Operasi Bilangan

Simbol-simbol yang menyatakan nama-nama bilangan disebut angka. Anak belajar bilangan melalui pengalamannya dengan melihat angka-angka disekitar kehidupannya. Misalnya,

24J. Tombokan Runtukahu dan Selpius Kandou, Pembelajaran..., hlm 45

ketika siswa melihat nomor rumah, nomor mobil, angka pada jam dinding, dan masih banyak yang lainnya.Anak melalui pengalamannya dapat mengadakan operasi atau pengerjaan bilangan dengan mengadakan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Pengetahuan dasar setiap operasi bilangan merupakan dasar dari semua kegiatan operasi bilangan. Misalnya anak hendak menjumlahkan dua bilangan 6 dan 2 untuk mendapatkan bilangan yang ketiga perlu dilakukan operasi hitung sehingga memperoleh nilai 8 sebagai hasil penjumlahan. Model-model untuk setiap operasi perlu diberikan guru, sehingga anak mengetahui bahwa suatu operasi dapat digunakan dengan cara- cara yang berbeda sesuai situasi.

2) Hakikat Geometri dan Pengukuran

Pemahaman akan hakikat geometri akan membantu guru dalam mengajarkan konsep geometri, terutama memberikan pemahaman tentang peranan hakikat konsep dalam menyampaikan struktur mengajarkan matematika. Geometri adalah studi tentang ruang dan berbagai bentuk dalam ruang.

Geometri membantu menyampaikan dan menguraikan tentang bentuk-bentuk geometri yang terdapat disekitar.

Keterkaitan antara berbagai elemen matematika dapat dikembangkan anak sehingga terjadi bagian-bagian matematika yang saling berhubungan. Sebuah topik matematika terkait dengan topik matematika sebelumnya. Sebagai contoh, anak harus menguasai penjumlahan sebelum mempelajari perkalian untuk mengetahui luas sebuah bangun datar segitiga anak harus menguasai operasi bilangan.

Menurut Eggen dan Kauchak yang dikutip dari jurnal pendidikan matematika mengenai pengetahuan siswa dan pemahamannya tentang suatu konsep bisa diukur melalui empat cara, yakni dengan meminta mereka untuk:

a) Mendefinisikan konsep

b) Mengidentifikasi karakteristik-karakeristik konsep c) Menghubungkan konsep dengan konsep-konsep lain

d) Mengidentifikasi atau memberikan contoh dari konsep yang belum pernah dijumpai sebelumnya. 25

Kesimpulannya, pemahaman konsep penting bagi siswa.

Pada dasarnya penanaman konsep memerlukan waktu yang

25Nor Aulia Mukrimatin dkk “Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas V SD Negeri Rau Kedung Jepara Pada Materi Perkalian Pecahan”, Anargya: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, Vol.1 No.1 April 2018, hlm.68.

cukup lama, apalagi menanamkan konsep kepada siswa Sekolah Dasar yang belum mampu berpikir secara abstrak.

4. Tinjaun tentang Kemampuan Menyelesaian Soal Cerita Matematika a. Pengertian

Menurut Muhsetyo soal cerita matematika adalah soal yang dinyatakan dengan serangkaian kalimat dalam bentuk cerita.26 Soal cerita dapat disajikan dalam bentuk lisan maupun tulisan, soal cerita yang berbentuk tulisan berupa sebuah kalimat yang mengilustrasikan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari.27 Soal cerita matematika berawal dari kehidupan nyata siswa sehingga hal ini akan memudahkan siswa untuk dapat menerjemahkan soal cerita ke dalam kalimat matematika.

b. Aspek-aspek Penyelesaian Soal Cerita Matematika

Terdapat tiga aspek dalam menyelesaikan soal cerita matematika, yaitu aspek bahasa, prasyarat dan terapan. Aspek bahasa, kemampuan membaca digunakan untuk menerjemahkan masalah, sedangkan menalar untuk mengetahui maksud

26Endang Setyo Winarni & Sri Harmini, Matematika untuk PGSD, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016), hlm. 124.

27Wahyudin “Analisis kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika ditinjau dari kemampuan verbal”, Beta Jurnal Tadris Matematika, vol..9, No.2, (November) 2016, hlm. 151.

permasalahan yang diberikan. Sehingga secara umum pada soal cerita matematika terkandung konsep matematika, seperti pengalian, penambahan, pengurangan, dan pembagian.

Ketika menyelesaikan soal cerita, siswa harus mengonversikan dalam bentuk angka dan membuat sketsa pemahamannya. Kemampuan siswa menerjemahkan kalimat sehari- hari ke dalam kalimat matematika menjadi kunci dalam pemecahan masalah dalam bentuk soal cerita. Maka penyelesaian soal cerita diselesaikan dengan langkah-langkah yang runtun seperti yang dijelaskan oleh George Polya meliputi:

1) Memahami masalah

2) Membuat rencana untuk menyelesaikan masalah 3) Melaksanakan rencana yang telah dibuat

4) memeriksa ulang jawaban yang diperoleh. 28

Keterampilan matematika harus dibangun dari keterampilan sebelumnya. Menemukan cara untuk membantu siswa berkutat dengan keterampilan dan konsep-konsep umum melalui tugas dan konteks yang berbeda merupakan faktor penting jika pendidik ingin

28 Rosselina Tria Andanik&Meita Fitrianawati “Pengaruh Keterampilan Membaca Pemahaman terhadap Kemampuan Pemecahan Soal Cerita Matematika Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar”, Fundadikdas Vol. 1 No. 1 Edisi Maret 2018, hlm 42

membuat kemajuan.29 Model, materi dan strategi matematika akan sangat membantu siswa dalam belajar matematika.

Kesimpulannya, anak berkesulitan belajar matematika perlu adanya strategi pendidik agar dapat membantu kesulitan yang dimilik anak. Strategi yang dapat digunakan seperti menggunakan objek-objek konkret dan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran matematika. Pemecahan masalah matematika seyogyanya ditanamkan dari Sekolah Dasar. Kegiatan yang perlu dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita adalah siswa memahami setiap kalimat soal yang terdapat dalam soal cerita matematika.

c. Materi Pokok Matematika Kelas V Tabel 2.1

Kompetensi Dasar Matematika Kelas V Semester Genap

Kompetensi Dasar Indikator Materi

3.5 Menjelaskan dan menentukan volume bangun ruang dengan menggunakan satuan volume seperti kubus satuan serta hubungan pangkat tiga dengan akar

3.5.1Menjelaskan volume bangun ruang.

3.5.2Menjelaskan

hubungan pangkat tiga dan akar pangkat tiga.

Volume bangun ruang kubus dan balok

29Mike Ollerton, Panduan Guru Mengajar Matematika, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010), hlm. 127.

Kompetensi Dasar Indikator Materi pangkat tiga.

4.5 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume bangun ruang menggunakan

satuan volume

melibatkan pangkat tiga dan akar pangkat tiga.

4.5.1 Menyelesaikan masalah yang berkaitan volume bangun ruang.

3.6 Menjelaskan dan menemukan jaring-jaring bangun ruang sederhana (kubus dan balok).

3.6.1 Menentukan jaring- jaring kubus. 3.6.2 Menentukan jaring-jaring balok.

Jaring-Jaring bangun ruang

(Sumber: Buku Guru Senang Belajar Matematika/

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. -- Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018).30

B. Kerangka Berpikir

Kemampuan membaca pemahaman merupakan suatu proses memahami makna suatu bacaan yang harus dikuasai siswa. Pentingnya

30Purnomosidi dkk, Buku Guru Senang Belajar Matematika/ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, (Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018), hlm. 126.

kemampuan membaca pemahaman yang baik akan memberikan kemudahan bagi siswa untuk dapat menyelesaikan soal cerita, sedangkan siswa yang rendah dalam memahami bacaan dalam soal cerita akan memiliki nilai di bawah rata-rata kentuntasan minimal.

Terdapat dua variabel dalam penelitian ini yaitu kemampuan membaca pemahaman sebagai variabel independen dan kemampuan menyelesaikan soal cerita sebagai variabel dependen. Variabel ini peneliti menjadikannya sebagai tolak ukur untuk menguraikan teori-teori yang berkaitan dengan variabel yang ingin diteliti.

Maka, dalam penelitian ini diperlukan adanya alat ukur berupa tes soal objektif dan subjektif. Soal disusun berdasarkan indikator dan diuji validitas dan reliabilitasnya dengan tujuan tes yang digunakan dapat mengukur variabel dalam penelitian ini.

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan dari kajian teori.

Hipotesis menggunakan bentuk kalimat pernyataan dan menghubungkan secara umum maupun khusus variabel yang satu dengan yang lainnya.31

Berdasarkan teori-teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini yaitu:

Ha : Kemampuan membaca pemahaman berpengaruh positif terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika kelas V di MIN 1 Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020

Ho : kemampuan membaca pemahaman tidak berpengaruh positif terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika kelas V di MIN 1 Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020.

31 Imam Gunawan, Pengantar Statistika Inferensial, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada,2016), hlm 107

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian expostfacto karena variabel-variabel yang akan diteliti sudah ada dan terjadi secara alami. Variabel kemampuan membaca pemahaman sebagai variabel terikat dan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika sebagai variabel bebas sudah terjadi ketika peneliti melakukan penelitian, sehingga tidak ada rekayasa maupun pemberian perlakuan tertentu terhadap variabel yang diteliti.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain korelasi sederhana yang bertujuan melihat pengaruh kemampuan membaca pemahaman terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan atau memberikan perlakuan terhadap variabel yang akan diukur.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V di MIN 1 Mataram dengan jumlah siswa sebanyak 67 siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika yang diwakili oleh

siswa, karena karakteristik tersebut terdapat dalam diri siswa. Sehingga populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas V SD/MI (Populasi Terlampir)

Tabel 3.1

Populasi Siswa MIN 1 Mataram Tahun 2019/2020

No Kelas Jumlah

1 V A 32

2 V B 35

Jumlah 67 Siswa

2. Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling dengan alasan sampel yang diambil dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi.32 Penentuan Sampel menggunakan rumus isaac dan michael dengan taraf kesalahan 5% dengan jumlah sampel sebanyak 55

siswa. Cara pengambilan anggota sampel dengan undian. Maka setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel.

Dalam penelitian ini peneliti menentukan ukuran sampel dari populasi dengan menggunakan undian sebanyak 55 kali. Jadi sampel

32Sugiyono, metode penelitian pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2017) hlm 120

pada penelitian ini adalah 55 siswa kelas V di MIN 1 Mataram yang terpilih menjadi sampel penelitian. (anggota sampel terlampir).

C. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Adapun pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari s/d bulan Juli 2020.

2. Tempat Penelitian

Adapun lokasi dalam penelitian ini adalah MIN 1 Mataram kota Mataram. Jl. Airlangga No.31 B, Punia, Kec. Mataram, Kota Mataram.

D. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini berbentuk korelasi sederhana. Variabel kemampuan membaca pemahaman sebagai variabel bebas yang (mempengaruhi) perubahan variabel lain dan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika sebagai variabel terikat yang (dipengaruhi). Penelitian ini menggunakan paradigma sederhana yang bersifat sebab-akibat untuk mengetahui pengaruh antar variabel, sehingga penelitian ini terdiri atas satu variabel independen dan dependen.

X = kemampuan membaca pemahaman

Y= kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika r

Gambar 3.1 Variabel Penelitian E. Desain Penelitian

Sugiyono menyatakan bahwa “Desain penelitian harus spesifik, jelas, dan rinci, ditentukan secara mantap sejak awal, menjadi pegangan langkah demi langkah.33 Jadi desain penelitian adalah sebuah rancangan, pola, bentuk dan model penyelidikan yang akan digunakan dalam penelitian sebagai gambaran tentang apa yang ingin peneliti dan bagaimana penelitian itu akan dilakukan untuk mengumpulkan data yang valid.

Desain penelitian ini berawal dari masalah yang bersifat kuantitatif.

Rumusan masalah dinyatakan dalam kalimat pertanyaan, selanjutnya peneliti menggunakan teori untuk menguraikan variabel penelitian, kemudian desain penelitian menghubungkan antara variabel X dengan variabel Y.

Paradigma sederhana digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kemampuan membaca pemahaman (sebagai variabel independen)

33Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016), hlm

X Y

dan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika (sebagai variabel dependen), sehingga variabel tersebut berbentuk hubungan kausal untuk melihat sebab-akibat.

Pengumpulan data penelitian menggunakan instrumen berbentuk tes soal objektif dan subjektif yang telah dihitung validitas dan reliabilitasnya.

Gambar 3.2 Desain Penelitian Variabel penelitian

Hipotesis Penelitian Kemampuan membaca

pemahaman (X)

Instrumen penelitain berupa:

1. Angket 2. Tes 3. Observasi 4. Dokumentasi

Teknik Analisis Data

Kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika (Y)

Analisis Data Awal 1. Uji Normalistas 2. Uji Linieritas

Analisis Data Hipotesis Uji Regresi Sederhana

F. Instrumen/Alat dan Bahan Penelitian 1. Instrumen/ Alat Penelitian

Menurut Sugiyono instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati Secara spesifik, semua fenomena ini disebut variabel penelitian.34 Alat yang digunakan oleh peneliti sebagai alat pengumpulan data yaitu tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengukur kemampuan membaca pemahaman dan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika.

a. Angket

Angket adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan yang bertujuan untuk memperoleh informasi dari responden.

b. Tes

Tes digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek penelitian. Lembar instrumen berupa tes yang terdiri atas butir-butir soal. Setiap butir soal mewakili satu variabel yang diukur.35 Tes yang digunakan dalam penelitian

34Sugiyono, Metode..., hlm. 103.

35Sandu Siyoto & Ali Sodik, Dasar Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015), hlm. 78.

merupakan tes hasil belajar yang bertujuan mengukur penguasaan dan kecakapan individu diberbagai bidang pengetahuan.

1) Instrumen Kemampuan Membaca Pemahaman

Instrumen tingkat kemampuan membaca pemahaman pada penelitian ini berupa soal pilihan ganda dan soal uraian. Sehingga instrumen penelitian menggunakan gabungan antara tes objektif dan tes subjektif. Soal pilihan ganda sebanyak 20 butir soal dan 5 soal untuk essay.

Indikator-indikator dalam tes ini didasarkan pada teori kemampuan membaca pemahaman yaitu empat tingkatan membaca pemahaman diantaranya kemampuan literal, interpretatif, kritis dan kreatif.

Tabel 3.2 Kisi-Kisi

Tes Kemampuan Membaca Pemahaman Tingkat

Membaca Pemahaman

Indikator Jenis soal

No.

Item

Literal Menjawab tentang fakta dan detail materi

PG 2,5,6, 8,9,10 ,11,13

,17 10

Memahami arti kata dalam wacana

PG 4

Interpretatif Menentukan hubungan sebab-akibat

PG 7,16,1 8

5 Menganalisis reaksi

emosional tokoh

PG 3

Menentukan kalimat utama pada paragraf

PG 15

Kritis Menarik kesimpulan PG 12,20

6 Uraian 4,5 Mengidentifikasi judul

yang sesuai dengan isi bacaan

PG 1

Uraian 1 Kreatif Memecahkan masalah

sehari-hari sesuai teori

PG 14,19 Uraian 2,3 4

2) Instrumen Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika.

Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika digunakan tes bentuk objektif dan subjektif dengan jumlah sebanyak 10 butir soal. Hal ini dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika yang telah diberikan.

Tes ini memuat tentang materi pokok yang sudah diajarkan kepada siswa. Instrumen disusun menggunakan kisi-kisi yang mengacu pada kompetensi dasar dan indikator dalam materi geometri bangun ruang yang meliputi analisis unsur-unsur bangun ruang, menentukan jaring-jaring bangun ruang dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan bangun ruang.

Tabel 3.3

Kisi-Kis Tes Kemampuan Soal Cerita Matematika

Kompetensi Dasar Indikator Jenis No ∑

3.5 Menjelaskan dan menentukan volume bangun ruang dengan menggunakan satuan volume.

3.5.1 Menganalisis unsur dan volume kubus

PG 1

2 3.5.2 Menganalisis

unsur dan volume balok

PG 3

4.5 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume bangun ruang.

4.5.1 Menyelesaikan masalah berkaitan volume bangun ruang kubus

PG 5

6 Uraian 3,5

4.5.2 Menyelesaikan masalah berkaitan dengan volume bangun balok

Uraian 1,2,3

3.6 Menjelaskan dan menemukan jaring-jaring bangun ruang sederhana kubus dan balok

3.6.1 Menentukan jaring-jaring kubus

PG 4

3.6.2 Menentukan 2 jaring-jaring balok

PG 2

c. Observasi

Observasi dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran matematika siswa kelas V, kemampuan bahasa, serta perolehan nilai yang didapatkan siswa dalam pembelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia.

Dalam observasi ini, tanya jawab dilakukan dengan wali kelas dan guru matematika kelas V MIN 1 Mataram. Dengan tujuan untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya mengenai proses pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya mengenai kemampuan membaca pemahaman yang dimiliki siswa dan pada mata pelajaran matematika khususnya mengenai kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita matematika.

d. Dokumentasi

Dalam penelitian ini, peneliti memperoleh informasi mengenai dokumen nilai semester ganjil mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia tahun pelajaran 2019/2020.

2. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Analisis data dalam penelitian merupakan hal yang sangat penting dilakukan dan diperlukan ketelitian dari peneliti. Sebelum masuk dalam pengujian hipotesis atau pengujian data, maka peneliti menyusun pengujian validitas dan reliabilitias sebagai alat ukur. instrumen penelitian diuji coba sebelum digunakan untuk mendapat data yang diperlukan.

Terlebih dahulu peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas.

a. Validitas Instrumen

Validitas mengacu pada kesesuaian, ketepatan, kebermaknaan dan kegunaan dari kesimpulan spesifik yang dibuat oleh berdasarkan data yang telah dikumpulkan.36 Teknik korelasi point biseral digunakan untuk menghitung validitas soal pilihan ganda, sedangkan untuk soal uraian digunakan korelasi product moment. Adapun rumus korelasi point biseral untuk butir soal pilihan ganda adalah:

36David Firna Setiawan, Prosedur dalam Pembelajaran, (Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2018), hlm. 215.

keterangan :

: Korelasi Point Biseral

Mp : rata-rata skor total yang menjawab benar pada butir soal Mt: rata-rata skor total

Sdt: standar deviasi skor total

p : proporsi siswa yang menjawab benar q :proporsi siswa yang menjawab salah

sedangkan untuk butir uraian digunakan rumus korelasi product moment. Adapun rumusnya sebagai berikut:

Keterangan:

rxy : Angka Indeks Korelasi “r” Product Moment N : Banyaknya Sampel

xy : Jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y x : Jumlah seluruh skor x (butir soal yang bersangkutan) y : Jumlah seluruh skor y (jumlah keseluruhan butir soal) b. Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas merupakan ukuran suatu kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel.37 Suatu tes dapat

37I wayan pantiyasa, Metodologi Penelitian, ( Yogyakarta: CV Andi Offset, 2013), hlm. 65.

dikatakan memiliki taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka reliabilitas tes menggunakan rumus Cronbach-Alpha sebagai berikut:

Keterangan:

rἱ : reliabilitas instrumen n : banyaknya butir pertanyaan

∑σb² : Jumlah varians butir σt² : Varians total

Tabel 3.4

Interpretasi koefisien reliabilitas38

Interval Interpretasi

0,80 < ri<1,00 Reliabilitas sangat tinggi 0,60 < ri<0,80 Reliabilitas tinggi 0,40 < ri<0,60 Reliabilitas sedang 0,20 < ri<0,40 Reliabilitas rendah 1,00 < ri<0,20 Tidak reliabilitas

38Alfira, Statistik Penelitian

3. Revisi Instrumen

Setelah diperoleh butir soal yang valid dan reliabel, maka peneliti menyusun kembali kisi-kisi kemampuan membaca pemahaman dan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika direvisi pada bagian nomor item pertanyaan. Adapun kisi-kisi instrumen kemampuan membaca pemahaman setelah direvisi adalah sebagai berikut:

Tabel 3.5

Revisi Instrumen Kemampuan Membaca Pemahaman Tingkat

Membaca Pemahaman

Indikator Jenis

soal

No.

Item

Literal Menjawab tentang fakta dan detail materi

PG 2,5,6, 9,11,1 3,17

8 Memahami arti kata dalam

wacana

PG 4

Interpretatif Menentukan hubungan sebab akibat

PG 7,16

4 Menganalisis reaksi

emosional tokoh

PG 3

Menentukan kalimat utama paragraf.

PG 15

Dokumen terkait