SIFAT DASAR, POLA PIKIR, SIKAP MENTAL, WAWASAN DAN ETIKA USAHA
4. Tugas refleksi (reflection task)
Tugas yang didesain untuk menstimulasi pengusaha agar berpikir tentang pemahaman dan perasaan mereka seiring kemajuan yang mereka lakukan di sepanjang proses kewirausahaan.
Pengusaha yang mampu meningkatkan adaptasi kognitifnya memiliki kemampuan yang teruji untuk (1) mengadopsi situasi baru, hal ini menyediakan dasar di mana pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang akan mempengaruhi pembelajaran atau pemecahan permasalahan dalam situasi baru; (2) menjadi kreatif, kemampuan ini dapat menciptakan ide, solusi atau ilham yang orisinil dan adaptif; dan (3) mengkomunikasikan alasan seseorang di balik respons tertentu.
Dengan adanya ketidakpastian alamiah dan tingginya resiko dalam tindakan wirausaha, terdapat kemungkinan bahwa pengusaha akan mengalami kegagalan. Kegagalan dapat menjadi sesuatu yang berharga apabila ada sesuatu yang dapat dipelajari dari hal tersebut.
Kita sekarang akan menyelidiki proses pembelajaran dari kegagalan bisnis.
Pembelajaran dari Kegagalan Bisnis
Meskipun terdapat banyak kasus kegagalan bisnis, hal yang paling umum terjadi adalah pengalaman yang tidak mencukupi. Pengusaha yang memiliki pengalaman lebih banyak
Kewirausahaan (Berbasis Budaya Lokal) Dr. JERRY WUISANG, S.Pd., M.M.
akan memiliki pengetahuan untuk melakukan peran dan tugas yang dibutuhkan secara lebih efektif dalam meraih keberhasilan. Pengalaman ini tidak hanya berasal dari keberhasilan. Bahkan, dapat dikatakan akan lebih banyak belajar dari kegagalan.
Ahli kewirausahaan ternama, Rita McGrath berpendapatan bahwa, karena para pengusaha umumnya mnecari keberhasilan dan menghindari kegagalan dalam proyek mereka, maka kesalahan dianggap tidak hanya sebagai sesuatu yang menghambat proses pembelajaran dan pemahaman, namun juga membuat proyek menghadapi kemungkinana gagal lebih besar atau lebih mahal dari yang seharusnya. Meskipun Porfesor McGrath berfokus pada kegagalan proyek dalam sebuah perusahaan, terlihat bahwa proses embelajaran dari kegagalan juga memberi manfaat bagi masyarakat melalui penerapan pengetahuan pada bisnis yang berkelanjutan. Bisnis lain dapat belajar dari sbeuah kesalaha pengusaha dan bahwa pembelajaran dapat membantu perekonomian kita.
Motivasi untuk mengelola bisnis sendiri umumnya tidak hanya berhubungan dengan keuntungan pribadi, tetapi juga kesetiaan pada suatu produk, kesetiaan pada pasar dan pelangganm pertumbuhan pribadi, dan kebutuhan untuk membuktikan diri sendiri.
Sjeumlah pengusaha menggunakna bisnis mereka untuk “menciptakan produk yang lahir dari keinginan dan kebutuhan emreka sendiri. Mereka umumnya menciptakan untuk mengekspresikan konsep subjektif dair kecantikan, emosi atau sejumlah nilai estetika yang ideal.” Untuk anggota keluarga bisnis, perusahaan tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga sebuah konteks bagi aktivitas keluarga serta pembentukan kebanggaan dan identitas keluarga. Hal ini mengakibatkan kegagalan suatu bisnis cenderung menghasilkan respon emosi yang negatif dari pengusaha; respon emosi negatif ini disebut dengan kesedihan (grief).
Kesedihan dapat mengganggu kemampuan pengusaha untuk belajar dari kegagalan sekaligus pada motivasi mereka untuk mencoba kembali. Bagi pengusaha, belajar dari kegagalan bisnis timbul ketika mereka menggunakan informasi yang tersedia menganai mengapa bisnis yang dilakukan gagal (feedback information) untuk merevisi pengetahuan yang telah dimiliki mengenai bagaimana mengelola bisnis mereka sendiri secara efektif (entrepeneurial knowledge) yang merevisi asumsi tentang konsekuensi atas penilaian, keputusan, tindakan dan non tindakan sebelumnya.
Terdapat dua deskripsi utama dari proses pemulihan kesedihan yang dikelompokkan sebagai orientasi pada kehilangan atau orientasi pada perbaikan.
Orientasi pada kehilangan (loss-orientation) pendekatan atas pemulihan kesedihan yang melibatkan usaha, pemrosesan, sejumlah aspek dari pengalaman kehilangan dan sebagai hasil dari proses ini, memutus ikatan emosional atas objek yang hilang.
Orientasi pada perbaikan (restoration-orientation) pendekatan atas pemulihan kesedihan berdasarkan pada penghindaran dan tindakan proaktif terhadap sumber sekunder stres yang timbul dari rasa kehilangan yang besar.
Untuk mempercepat proses pemulihan kesedihan, dapat dilakukan proses ganda kesedihan (dual process for grief) yang melibatkan pergerakan antara dua pendekatan pemulihan kesedihan (orientasi pada kehilangan dan orientasi pada perbaikan).
Pergerakan di anatra kedua orientasi ini membuat seseorang mampu memperoleh manfaaat dari masing-masing orientasi tersebut dan meminimalisasi pengeluaran untuk salah satu gaya karena waktu yang terlalu lama, hal ini mengingat proses pemulihan sangat penting karena dengan cepat mengurangi gangguan emosi atas pembelajaran.
Proses ganda pemulihan kesedihan memiliki sejumlah implikasi praktis, yaitu:
(1) Pengetahuan bahwa perasaan dan reaksi yang dialami pengusaha adalah hal yang normal bagi seseorang yang menghadapi kehilangan speerti itu dan dapat membantu mengurangi perasaan malu dan bersalah. Hal ini kemudian dapat mendorong
Kewirausahaan (Berbasis Budaya Lokal) Dr. JERRY WUISANG, S.Pd., M.M.
pengusaha untuk mengeluarkan perasaan sedihnyam sehingga mungkin akan mempercepat proses pemulihan.
(2) Terdapat hasil psikologis dan fisik yang ditimbukan dari perasaan kehilangan yang berkaitan dengan kesedihan. Menyadari bahwa hal tu merupakan “gejala”kesedihan dapat mengurangi sumber sekunder dari stress dan juga membantu melalui pilihan perawatan.
(3) Terdapat proses pemulihan dari kesedihan yang menawarkan hiburan bagi pengusaha bahwa segala perasaan kehilangan, sedih dan ketidakberadayaan yang mereka rasakan, pada akhirnya akan hilang.
(4) Pemulihan dari kehilangan memberikan sebuah kesempatan untuk meningkatkan pengetahui kewirausahaan seseorang. Hal ini memberikan manfaat bagi individu dan masyarakat.
SIKAP MENTAL WIRAUSAHA
Setiap wirausaha tidak hanya memiliki sifat dasar dan pola pikir berwirausaha saja, tetapi juga membutuhkan sikap mental yang baik agar dapat menggapai sukses, diantaranya yaitu:
(1) Berani. Keberanian adalah modal utama dalam berusaha, terutama berani dalam memutuskan untuk mengubah paradigma bahwa setelah selesai kuliah adalah bukan menjadi pegawai/orang gajian, tetapi setelah lulus sekolah/kuliah akan berani menjadi usahawan/berwirausaha.
(2) Jujur. Kejujuran merupakan mata uang yang akan laku di mana-mana (Pytagoras).
Jujur kepada mitra/pemangku kepentingan usaha kita (pembeli/pelanggan, pemasok, pemerintah dan atau calon pembeli lainnya.
(3) Tekun. Ketekunan merupakan kesadaran dari sifat penting bagi seorang wirausaha, terutama tetap tekun pada saat bisnis mengalami guncangan.
(4) Ulet. Keuletan menjadi modal utama agar tetap tahan banting dan tahan dalam situasi dan kondisi apapun, kondisi kritis dan atau atidak.
(5) Sabar. Kesabaran sering menjadi penentu dalam keberlanjutan usaha, orang yang tidak sabar sering mendorong untuk berbuat tidak jujur kepada mitra usaha dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan besar dalam jangka pendek, tidak memikirkan bisnis jangka panjang.
(6) Tabah. Ketabahan menjadipenentu bagi seorang pengusaha teruatama pada saat usaha mengalami pasang surut.
(7) Positif. Sikap dan berpikir positif akan mendorong dan memacu pengusaha utuk meningkatkan usahanya.
(8) Rendah hati. Rendah hati akan menjadi modal bagi pengusaha terutama penilaian bagi pihak lain atau mitra usaha bahwa wirausaha tersebut dapat dijadikan mitra usaha dalam jangka panjang sebab biasanya orang yang rendah hati akan menyenangkan bagi mitra usaha.
(9) Kemauan (daya juang tinggi). Kemauan atau daya juang tinggi merupakan sikap yang harus dimiliki secara kuat, sebab akan mendorong percepatan usaha tersbeut untuk maju.
(10) Tanggung jawab. Rasa tanggung jawab yang tinggi atas jenis usaha/bisnis apapun yang dimilki oleh seorang pengusaha akan menata usahanya lebih hati-hati dan penuh tanggung jawab terutama bagi mitra dan para staf atau pegawainya.
Kewirausahaan (Berbasis Budaya Lokal) Dr. JERRY WUISANG, S.Pd., M.M.
MOTIVASI Konsep Dasar
Motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuatu, sedangkan motif adalah kebutuhan, keinginan, dorongan atau impuls. Motivasi seseorang tergantung pada kekuatan motifnya.
Motif dengan kekuatan yang sangat besar yang akan menentukan perilaku seseorang, motif ini seringkali berkurang apabila telah mencapai kepuasan ataupun karena menemui kegagalan.
Teori Motivasi Hirarki Kebutuhan Maslow
Maslow berpendapat bahwa hirarki kebutuhan manusia dapat dipakai untuk melukiskan dan meramalkan motivasinya. Teorinya tentang motivasi didasarkan pada dua asumsi, yang pertama kebutuhan seseorang tergantung dari apa yang telah dipunyainya, dan kedua, kebutuhan merupakan hirarki dilihat dari pentingnya. Menurt Maslow, ada lima kategori kebutuhan manusia, yaitu: physiological needs (fisiologis), safety (keamanan), social (afiliasi), esteem (penghargaan), dan self actualization (perwujudan diri). Bila satu tingkat kebutuhan sudah terpenuhi, maka akan muncul tingkat kebutuhan yang lainnya.
Teori Motivasi Hawthorne
Satu hal yang sangat penting ditemukan bahwa untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan, perlu adanya faktor
human relation. Jika karyawan mendapat perhatian khusus secara pribadi terhadap dirinya dan juga terhadap kelompoknya, maka produktivitasnya akan meningkat.
Maka, seorang wirausaha harus pandai mendekati dan
memperhatikan pekerjaan yang sedang dikerjakan karyawan, kemudian memberi pujian spontan, atau tepuk bahunya sebagai tanda kebanggan pimpinan memiliki karyawan seperti dia. Hal ini dikenal dengan “manajemen tepuk” yang memberikan andil dalam meningkatkan produktivitas.