BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.9 Uji Hipotesis
59
60
a. Dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel Apabila F hitung < F tabel maka hipotesis ditolak.
Apabila F hitung > F tabel maka hipotesis diterima.
b. Dengan melihat nilai probabilitas singnifikan
Apabila nilai probabilitas singnifikan > 0,05 maka hipotesis ditolak.
Apabila nilai probabilitas singnifikan < 0,05 maka H0 diterima.
3.9.3 Uji Signifikansi Parametik (Uji t)
Uji signifikansi secara parsial atau sering kali disebut uji t bertujuan untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Dasar pengambilan keputusan :
a. Dengan membandingkan nilai t hitung dengan nilai t tabel Apabila t hitung < t tabel maka hipotesis ditolak.
Apabila t hitung > t tabel maka hipotesis diterima.
b. Dengan melihat nilai probabilitas singnifikan
Apabila nilai probabilitas singnifikan > 0,05 maka hipotesis ditolak.
Apabila nilai probabilitas singnifikan < 0,05 maka hipotesis diterima.
3.9.4 Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi merupakan ukuran kesesuaian garis regresi linier berganda terhadap suatu data. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 sampai 1. Semakin mendekati 0 besarnya koefisien determinasi suatu persamaan regresi, semakin kecil pula pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
61
Dengan kata lain semakin kecil kemampuan model regresi yang dihasilkan dalam menjelaskan perubahan nilai variabel dependen. Sebaliknya, semakin mendekati 1 besarnya koefisien determinasi suatu persamaan regresi, semakin besar pula pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Dengan kata lain semakin besar kemampuan model regresi yang dihasilkan dalam menjelaskan perubahan nilai variabel dependen.
62
BAB IV
ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Objek Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan
Dalam menjalankan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara memerlukan aparatur sebagai kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, bahwa Negara berkewajiban melayani setiap warga Negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik. Kantor Pelayanan Pajak merupakan salah satu Aparatur Negara yang mengemban amanah dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Salah satu penyelenggaraan pelayanan publik di lingkungan Direkotrat Jenderal Pajak adalah dengan didirikannya Kantor Pelayanan Pajak Pratama di lingkungan instansi vertikal DJP. Pembentukan KPP Pratama ini merupakan bagian dari program reformasi birokrasi perpajakan yang sifatnya komprehensif dan telah berjalan sejak tahun 2002.
KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama didirikan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 443/KMK.01/2001 tanggal 23 Juli 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, Kantor Pelayanan Pajak (KPP), Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KPP BM), Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan dan Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan. Sebelumnya, berdasarkan
63
Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 946/KMK.01/1994 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Pajak, KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama merupakan unit pelaksana teknis dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah IV Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Raya II dan diklasifikasikan sebagai KPP tipe “A”. Kemudian berdasarkan pengumuman DJP Nomor PENG- 03/PJ.09/2007 tanggal 21 Juni 2007 bahwa KPP Jakarta Kebayoran Lama telah secara resmi beroperasi sebagai KPP Pratama sejak 12 Juni 2007.
Wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 206.2/PMK.01/2014 tanggal 17 Oktober meliputi Kecamatan Kebayoran Lama, yang terdiri dari 6 Kelurahan, yaitu:
a. Kebayoran Lama Utara b. Kebayoran Lama Selatan c. Cipulir
d. Grogol Utara e. Grogol Selatan f. Pondok Pinang
KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama kini merupakan unit pelaksana teknis yang bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah DJP Jakarta Selatan II sejak Oktober 2015. Sebagai salah satu unit penyelenggara pelayanan publik, KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama selalu berupaya memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan prima dengan mengacu kepada sistem administrasi perpajakan yang modern. Untuk mencapai tujuan yang diamanatkan, yakni mencapai tingkat kepuasan pelayanan masyarakat. KPP Pratama Jakarta
64
Kebayoran Lama berupaya menjalankan fungsi pelayanan, penyuluhan, serta pengawasan. Hal ini penting dilakukan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa telah terjadi perubahan dalam sistem administrasi perpajakan Indonesia.
4.1.2 Visi dan Misi KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama a. Visi
Menjadi institusi Penghimpun Penerimaan Negara yang Terbaik demi Menjamin Kedaulatan dan Kemandirian Negara.
b. Misi
Menjamin penyelenggaran negara yang berdaulat dan mandiri dengan:
1. Mengumpulkan penerimaan berdasarkan kepatuhan pajak sukarela yang tinggi dan penegakan hukum yang adil;
2. Pelayanan berbasis teknologi modern untuk kemudahan pemenuhan kewajiban perpajakan;
3. Aparatur pajak yang berintegritas, kompeten dan professional; dan 4. Kompensasi yang kompetitif berbasis system manajemen kinerja.
65
4.1.3 Struktur Organisasi KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama Gambar 4.1
Struktur Organisasi
1. Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal
Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, tata usaha, dan rumah tangga, pengelolaan kinerja pegawai, pemantauan pengendalian intern, pemantauan pengelolaan risikom pemantauan kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin, dan tindak lanjut hasil pengawasan, serta penyusunan rekomendasi perbaikan proses bisnis.
2. Seksi Pengolahan Data dan Informasi
Seksi Pengolahan Data dan Informasi mempunyai tugas melakukan pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data, pengamatan potensi perpajakan, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, pelayanan dukungan teknis komputer, pemantulan aplikasi e-SPT dan e-filling, penyiapan laporan
66
kinerja serta yang paling penting adalah perekaman Surat Pemberitahuan dan Alat Keterangan.
3. Seksi Pelayanan
Seksi Pelayanan mempunyai tugas melakukan penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya, dan pelaksanaan pendaftaran Wajib Pajak.
4. Seksi Penagihan
Seksi Penagihan mempunyai tugas melakukan urusan penatausahaan piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dekomen penagihan.
5. Seksi Pemeriksaan
Seksi Pemeriksaan mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan penyaluran surat perintah pemeriksaan pajak, dan administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya, serta pelaksanaan pemeriksaan oleh petugas pemeriksa pajak yang ditunjuk oleh kepala kantor.
6. Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan
Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mempunyai tugas melakukan pengamatan potensi perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, pembentukan dan pemutakhiran basis data nilai objek pajak dalam menunjang ekstensifikasi, bimbingan dan pengawasan Wajib Pajak baru, dan penyuluhan perpajakan.
67 7. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I
Seksi Pengawasan dan Konsultasi mempunyai tugas melakukan proses penyelesaian permohonan Wajib Pajak, usulan pembetulan ketetapan pajak, bimbingan dan konsultasi teknis perpajakan kepada Wajib Pajak, serta usulan pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan.
8. Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, III, dan IV
Seksi Pengawasan dan Konsultasi masing-masing mempunyai tugas melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak , penyusunan profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi dan himbauan kepada Wajib Pajak.
9. Fungsional Pemeriksa Pajak
Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan pemeriksaan pajak yang meliputi pemeriksaan rutin dan pemeriksaan khusus sesuai dengan jabatan fungsional masing masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4.2 Metode Analisis Data 4.2.1 Statistik Deskriptif
Statistik Deskriptif dilakukan untuk menunjukan jumlah data (N) yang digunakan dalam penelitian ini serta untuk menunjukan nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean) dan standar deviasi (α) dari masing-masing variabel yang dimiliki oleh perusahaan yang menjadi objek penelitian. Dalam penelitian ini menguji pengaruh variabel independen yaitu Self Assessment System, Pemeriksaan Pajak dan Penagihan Pajak terhadap Penerimaan Pajak
68
Pertambahan Nilai sebagai variabel dependen. Adapun hasil perhitungan statistik deskriptif adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Hasil Uji Deskriptif
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance SELF ASSESSMENT
SYSTEM 60 -,49400 4,67100 ,0868167 ,63968299 ,409
PEMERIKSAAN PAJAK 60 ,02800 ,11500 ,0542000 ,01659569 ,000 PENAGIHAN PAJAK 60 ,05700 4,32800 ,8470167 ,79088407 ,625 PENERIMAAN PPN 60 -,56500 1,02900 ,0528500 ,29036960 ,084
Valid N (listwise) 60
Sumber : Output SPSS 22 (Data Diolah Penulis)
Variabel Jumlah Self Assessment System selama periode pengamatan (2013-2017) memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0,086 dengan nilai standar deviasi 0,639. Nilai minimum Self Assessment System sebesar 0,494 dan nilai maksimum sebesar 4,671.
Variabel Jumlah Pemeriksaan Pajak selama periode pengamatan (2013- 2017) memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0,054 dengan nilai standar deviasi 0,016. Nilai minimum Jumlah Pemeriksaan Pajak sebesar 0,028 dan nilai maksimum sebesar 0,115.
Variabel Jumlah Penagihan Pajak selama periode pengamatan (2013- 2017) memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0,847 dengan nilai standar deviasi 0,790. Nilai minimum Jumlah Penagihan Pajak sebesar 0,057 dan nilai maksimum sebesar 4,328.
Variabel Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai selama periode pengamatan (2013-2017) memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0,052 dengan nilai standar
69
deviasi 0,290. Nilai minimum Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0,565 dan nilai maksimum sebesar 1,029.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat penyimpangan data karena rata-rata jumlah Self Assessment System, Pemeriksaan Pajak, Penagihan Pajak dan Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai lebih besar dari pada standar deviasi masing-masing variabel.
4.2.2 Uji Asumsi Klasik
Pengujian ini dilakukan untuk menguji kualitas data sehingga data diketahui keasliannya dan menghindari terjadinya estimasi bias. Pengujian asumsi klasik ini menggunakan empat uji, yaitu uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel residual memiliki distribusi normal dan mengetahui distribusi data dalam satu variabel yang akan digunakan dalam sebuah penelitian apakah data layak atau tidak dianalisis. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal.
Dalam penelitian ini, normalitas dapat diketahui dengan melihat tabel One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test pada kolom Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu data dikatakan berdistribusi normal apabila p value (Sig.) > 0,05. Berdasarkan hasil output SPSS untuk uji normalitas adalah sebagai berikut:
70 Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 60
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation ,26736803
Most Extreme Differences Absolute ,099
Positive ,099
Negative -,066
Test Statistic ,099
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber : Output SPSS 22 (Data Diolah Penulis)
Berdasarkan Tabel 4.2 diatas, diperolah hasil Asymp. Sig. (2-
tailed)Unstandardized Residual = 0,200 > 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa data residual berkontribusi normal.
2. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi di antara variabel bebas. Untuk mengetahuiapakah suatu model regresi bebas dari multikolonieritas, yaitu dapat dilakukan dengan melihat Tolerance > 0,10 atau sama dengan nilai VIF < 10.
71 Tabel 4.3
Hasil Uji Multikolonieritas
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
Collinearity Statistics
B
Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -,198 ,131 -1,516 ,135
SELF ASSESSMENT
SYSTEM ,023 ,056 ,051 ,409 ,684 ,994 1,006
PEMERIKSAAN
PAJAK 2,481 2,162 ,142 1,147 ,256 ,991 1,009
PENAGIHAN PAJAK ,135 ,045 ,368 2,988 ,004 ,996 1,004 a. Dependent Variable: PENERIMAAN PPN
Sumber : Output SPSS 22 (Data Diolah Penulis)
Berdasarkan Tabel 4.3output SPSS diatas menunjukan besarnya nilai Tolerance dan Variant Inflation Factor (VIF) untuk masing-masing variabel independen yaitu nilai Tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa antar variabel independen tidak terjadi multikolonieritas.
Penjelasannya sebagai berikut:
1. Variabel Jumlah Self Assessment System (X1)
Tolerance 0,994 > 0,10 dan VIF 1,006< 10, maka tidak terjadi multikolonieritas.
2. Variabel Jumlah Pemeriksaan Pajak (X2)
Tolerance 0,991 > 0,10 dan VIF 1,009< 10, maka tidak terjadi multikolonieritas.
3. Variabel Jumlah Penagihan Pajak (X3)
Tolerance 0,996 > 0,10 dan VIF 1,004< 10, maka tidak terjadi multikolonieritas.
72 3. Uji Heteroskedastisitas
Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas. Jika variabel independen signifikan di atas 0,05 secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka tidak ada indikasi terjadi Heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji glejser. Hasil uji glejser yang mengusulkan untuk meregresi nilai absolute residual terhadap variabel independen. Hasil uji glejser dapat dilihat dalam Tabel 4.4
Tabel 4.4
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) ,191 ,084 2,263 ,028
SELF ASSESSMENT
SYSTEM -,019 ,036 -,071 -,538 ,593
PEMERIKSAAN PAJAK -,310 1,397 -,029 -,222 ,825
PENAGIHAN PAJAK ,033 ,029 ,148 1,120 ,268
a. Dependent Variable: ABS_RES2
Sumber : Output SPSS 22 (Data Diolah Penulis)
Dari tabel Coefficients diatas dengan menggunakan uji glejser menunjukan bahwa model penelitian tidak mengalami gangguan heteroskedastisitas, karenaa tingkat nilai signifikan diatas 0,05.
4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi menurut Ghozali (2016:107) bertujuan menguji apakah model regresi linear ada koleasi antara kesalahan pengganggu pada periode t
73
dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi kolerasi maka dinamakan adanya problem autokorelasi. Metode pengujian yang sering digunakan adalah dengan uji Durbin-Watson (DW test) dengan ketentuan sebagai berikut:
Tabel 4.5 Tabel Autokorelasi
Hipotesisnol Keputusan Jika
Tidakadaautokorelasipositif Tidakadaautokorelasipositif Tidakadakorelasinegatif Tidakadakorelasinegatif Tidakadaautokorelasi, positifatau negative
Tolak No decision
Tolak No decision Tidakditolak
0 < d < dl dl < d < du 4 – dl < d < 4 4 – du < d < 4 – dl
du < d < 4 – du
Sumber : Ghozali, 2016: 107
Berdasarkan tabel statistik Durbin-Watson dengan signifikasi 0,05 dan jumlah data (n) = 60, serta jumlah variabel independen (k) = 3 dapat dilihat nilai dL dan dU pada Tabel DW yang disajikan sebagai berikut:
74 Tabel 4.6
Tabel Durbin-Watson (DW), α = 5%
N
k=1 k=2 k=3 k=4 k=5
dL dU dL dU dL Du Dl dU Dl dU
51 1,5086 1,5884 1,4684 1,6309 1,4273 1,6754 1,3855 1,7218 1,3431 1,7701 52 1,5135 1,5917 1,4741 1,6334 1,4339 1,6769 1,3929 1,7223 1,3512 1,7694 53 1,5183 1,5951 1,4797 1,6359 1,4402 1,6785 1,4000 1,7228 1,3592 1,7689 54 1,5230 1,5983 1,4851 1,6383 1,4464 1,6800 1,4069 1,7234 1,3669 1,7684 55 1,5276 1,6014 1,4903 1,6406 1,4523 1,6815 1,4136 1,7240 1,3743 1,7681 56 1,5320 1,6045 1,4954 1,6430 1,4581 1,6830 1,4201 1,7246 1,3815 1,7678 57 1,5363 1,6075 1,5004 1,6452 1,4637 1,6845 1,4264 1,7253 1,3885 1,7675 58 1,5405 1,6105 1,5052 1,6475 1,4692 1,6860 1,4325 1,7259 1,3953 1,7673 59 1,5446 1,6134 1,5099 1,6497 1,4745 1,6875 1,4385 1,7266 1,4019 1,7672 60 1,5485 1,6162 1,5144 1,6518 1,4797 1,6889 1,4443 1,7274 1,4083 1,7671 61 1,5524 1,6189 1,5189 1,6540 1,4847 1,6904 1,4499 1,7281 1,4146 1,7671
Berdasarkan Tabel DW diatas, didapat nilai dL sebesar 1,4797 dan dU sebesar 1,6889.
Dan untuk mengetahui apakah terdapat autokolerasi dalam model regresi dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut:
75 Tabel 4.7 Hasil Uji Autokolerasi
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 ,390a ,152 ,107 ,27443625 2,092
a. Predictors: (Constant), PENAGIHAN PAJAK, SELF ASSESSMENT SYSTEM, PEMERIKSAAN PAJAK
b. Dependent Variable: PENERIMAAN PPN
Sumber : Output SPSS 22 (Data Diolah Penulis)
Dari Tabel 4.7 didapat nilai DW yang dihasilkan dari model regresi adalah 2,092. Sesuai dengan rumus uji autokolerasi 0 < d < dl jadi dapat disimpulkan 0 <
2,092< 1,479 maka diindikasikan bahwa tidak terdapat autokolerasi positif dalam penelitian ini.
4.3 Hasil Pengujian Hipotesis
4.3.1Analisis Regresi Linear Berganda
Hasil analisis regresi dapat dilihat pada tabel 4.8 menunjukan hasil pengujian dengan regresi pada tingkat signifikan 0,05.
76 Tabel 4.8
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -,198 ,131 -1,516 ,135
SELF ASSESSMENT
SYSTEM ,023 ,056 ,051 ,409 ,684
PEMERIKSAAN PAJAK 2,481 2,162 ,142 1,147 ,256
PENAGIHAN PAJAK ,135 ,045 ,368 2,988 ,004
a. Dependent Variable: PENERIMAAN PPN
Sumber : Output SPSS 22 (Data Diolah Penulis)
Berdasarkan tabel diatas maka dapat disusun persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Penerimaan Pajak = 0,198 + 0,023 + 2,481 + 0,135 + e Keterangan :
Y = Penerimaan Pajak a = Konsanta
b1,b2,b3 = Koefisien Regresi X1 = Self Assessment System X2 = Pemeriksaan Pajak X3 = Penagihan Pajak e = Standar Eror
77
Dari hasil persamaan regresi linear berganda diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Konstanta (α) sebesar 0,198 artinya apabila semua variabel bebas (Self Assessment System, Pemeriksaan Pajak dan Penagihan Pajak) dianggap konstan atau bernilai 0, maka penerimaan PPN yang diterima (Y) akan sebesar 0,198.
2. Koefisien regresi Self Assessment System (X1) sebesar 0,023 artinya apabila Self Assessment System (X1) mengalami kenaikan sebesar 1 satuan sedangkan variabel lainnya dianggap konstan maka penerimaan PPN (Y) mengalami kenaikan sebesar 0,023%.
3. Koefisien regresi Pemeriksaan Pajak (X2) sebesar 2,481 artinya apabila Pemeriksaan Pajak (X2) mengalami kenaikan sebesar 1 satuan sedangkan variabel lainnya dianggap konstan maka penerimaan PPN yang diterima (Y) mengalami kenaikan sebesar 2,481%.
4. Koefisien regresi Penagihan Pajak (X3) sebesar 0,135 artinya apabila Penagihan Pajak (X3) mengalami kenaikan sebesar 1 satuan sedangkan variabel lainnya dianggap konstan maka penerimaan PPN yang diterima (Y) mengalami kenaikan sebesar 0,135% atau 135%.
5. Standar error (e) merupakan variabel acak dan memepunyai distribusi probabilitas. Standar error (e) mewakili semua faktor yang mempunyai pengaruh terhadap Y tetapi tidak dimasukan dalam persamaan.
78 4.3.2Uji Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk menganalisis besarnya pengaruh Self Assessment System, Pemeriksaan Pajak dan Penagihan Pajak dengan tingkat signifikasi 5% (α
= 0,05). Apabila nilai signifikasi F-hitung < tingkat tertentu (5%) maka terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terkait. Begitu juga sebaliknya apabila nilai signifikasi F-hitung > tingkat signifikasi tertentu (5%) maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terkait.
Menentukan nilai F-tabel dapat ditentukan dengan tingkat signifikasi 5% = 0,05 dengan derajat kebebasan df1 = 3 dan df2 = 56, maka dapat didapat nilai F tabel sebesar 2,77.
Tabel 4.9
Tabel F untuk dfl = 3 dan df = 56
df untuk penyebut (N2)
df untuk pembilang (N1)
1 2 3 4 5
55 4,02 3,16 2,77 2,54 2,38
56 4,01 3,16 2,77 2,54 2,38
57 4,01 3,16 2,77 2,53 2,38
Tabel 4.10 Uji Simultan (Uji F)
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression ,757 3 ,252 3,350 ,025b
Residual 4,218 56 ,075
Total 4,975 59
79
a. Dependent Variable: PENERIMAAN PPN
b. Predictors: (Constant), PENAGIHAN PAJAK, SELF ASSESSMENT SYSTEM, PEMERIKSAAN PAJAK
Sumber : Output SPSS 22 (Data Diolah Penulis)
Berdasarkan tabel 4.12 diatas menunjukan bahwa tingkat signifikan 0,025< 0,05 maka dengan demikian Ho tidak diterima dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa Self Assessment System, Pemeriksaan Pajak dan Penagihan Pajak berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai.
4.3.3Uji Parsial (Uji t)
Uji t yaitu suatu uji untuk mengetahui signifikasi pengaruh variabel bebas (Self Assessment System, Pemeriksaan Pajak dan Penagihan Pajak) secara parsial atau individual menerangkan terhadap variabel terikat (Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai), Pengujian ini dinilai dengan taraf signifikasi α = 5%.
Menentukan nilai t-tabel dapat ditentukan dengan tingkat signifikasi 5% = 0,05 dengan derajat kebebasan df = 56. T-tabel dapat dilihat dari tabel statistik sebagai berikut:
Tabel 4.11 Tabel t untuk df 55-57
Pr 0,25 0,10 0,05 0,025 0,01 0,005 0,001
Df 0,50 0,20 0,10 0,050 0,02 0,010 0,002
55 0,67898 1,29713 1,67303 2,00404 2,39608 2,66822 3,24515 56 0,67890 1,29685 1,67252 2,00324 2,39480 2,66651 3,24226 57 0,67882 1,29658 1,67203 2,00247 2,39357 2,66487 3,23948
80
Berdasarkan tabel tersebut, didapat nilai t-tabel sebesar 2,00324, sedangkan t-hitung dapat dilihat dari hasil output SPSS pada tabel coefficients sebagai berikut:
Tabel 4.12 Hasil Uji Parsial (Uji t)
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -,198 ,131 -1,516 ,135
SELF ASSESSMENT
SYSTEM ,023 ,056 ,051 ,409 ,684
PEMERIKSAAN PAJAK 2,481 2,162 ,142 1,147 ,256
PENAGIHAN PAJAK ,135 ,045 ,368 2,988 ,004
a. Dependent Variable: PENERIMAAN PPN
Sumber : Output SPSS 22 (Data Diolah Penulis)
Berdasarkan Tabel 4.10 diatas, maka dapat dijelaskan mengenai pengaruh secara parsial masing-masing variabel bebas sebagai berikut:
1. Pengaruh Self Assessment System terhadap Penerimaan PPN
Dari Tabel 4.9 tersebut menunjukan bahwa t-tabel variabel Self Assessment System sebesar 0,409 dimana t-hitung bernilai lebih kecil dari t-tabel sebesar 2,003 (0,409< 2,003) dan tingkat signifikan sebesar 0,05 (0,684> 0,05). Dengan keadaan tersebut maka Ho₁ diterima dan Ha₁ ditolak. Hal ini menunjukan bahwa Self Assessment System tidak berpengaruh terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai.
81
2. Pengaruh Pemeriksaan Pajak terhadap Penerimaan PPN
Dari Tabel 4.9 tersebut menunjukan bahwa t-tabel variabel Pemeriksaan Pajak sebesar 1,147 dimana t-hitung bernilai lebih kecil darit-tabel sebesar 2,003 (1,147< 2,003) dan tingkat signifikan sebesar 0,05 (0,256> 0,05). Dengan keadaan tersebut maka Ho₂ diterima dan Ha₂ ditolak. Hal ini menunjukan bahwa Pemeriksaan Pajak tidak berpengaruh terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai.
3. Pengaruh Penagihan Pajak terhadap Penerimaan PPN
Dari Tabel 4.9 tersebut menunjukan bahwa t-tabel variabel Penagihan Pajak sebesar 2,988 dimana t-hitung bernilai lebih besar dari t-tabel sebesar 2,003 (2,988> 2,003) dan tingkat signifikan sebesar 0,05 (0,004< 0,05). Dengan keadaan tersebut maka Ho₂ ditolak dan Ha₂ diterima. Hal ini menunjukan bahwa Penagihan Pajak berpengaruh terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai.
4.3.4Koefisien Determinasi (R²)
Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R² yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Berdasarkan penelitian ini dapat dilihat tabel 4.13.
82 Tabel 4.13
Uji Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 ,390a ,152 ,107 ,27443625
a. Predictors: (Constant), PENAGIHAN PAJAK, SELF ASSESSMENT SYSTEM, PEMERIKSAAN PAJAK
b. Dependent Variable: PENERIMAAN PPN
Sumber : Output SPSS 22 (Data Diolah Penulis)
Berdasarkan tabel diatas diperoleh bahwa nilai koefisien determinasi (adjusted R²) sebesar 0,107 atau sebesar 10,7%. Hal ini berarti bahwa variabel Self Assessment System, Pemeriksaan Pajak dan Penagihan Pajak mampu menjelaskan variabel Penerimaan PPN sebesar 10,7%, sedangkan sisanya 89,3%
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.
4.4 Pembahasan Hasil Penelitian
4.4.1 Self Assessment System (X1) Tidak Berpengaruh Terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (Y)
Hipotesis pertama (H1) menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh SelfAssessment System (X1) terhadap penerimaan PPN (Y) dan hasil pengujianuntuk variabel Self Assessment System (X1) menunjukkan nilai t sebesar0,409 dengan nilai signifikansi sebesar 0,684. Nilai signifikansi tersebut lebihdari 0,05 (0,684> 0,05) yang berarti bahwa hipotesis pertama (H1) yang menyatakan tidak terdapat pengaruh Self Assessment System (X1) terhadap penerimaan PPN (Y) ditolak. Dengan demikian, Self Assessment System (X1) tidak berpengaruh terhadap penerimaan PPN (Y).
83
Hasil Penelitian ini menyatakan kelemahan Self Assessment System yang memberikan kepercayaan pada Wajib Pajak untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri pajak terutang dalam praktiknya sulit berjalan sesuai dengan yang diharapkan, bahkan disalahgunakan.
Ini terbukti masih banyak Wajib Pajak yang sengaja melakukan kecurangan- kecurangan dan melalaikan kewajibannya dalam melaksanakan pembayaran pajak yang telah ditetapkan sehingga menyebabkan timbulnya pajak terutang yang belum dibayarkan oleh Wajib Pajak sehingga mengakibatkan berkurangnya penerimaan pajak Pertambahan Nilai.
H1 : Self Assessment System tidak berpengaruh terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai
Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Ida Ayu Ivon Trisnayati dan Jati (2015) menyatakan bahwa Self Assessment System berpengaruh positif terhadap penerimaan Pajak Pertambahan Nilai.
4.4.2 Pemeriksaan Pajak (X2) Tidak Berpengaruh Terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (Y)
Hipotesis kedua (H2) menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh Pemeriksaan Pajak (X2) terhadap penerimaan PPN (Y) dan hasil pengujian untuk variabel Pemeriksaan Pajak (X2) menunjukkan nilai t sebesar 1,147 dengan nilai signifikansi sebesar 0,256. Nilai signifikansi tersebut lebih dari 0,05 (0,256> 0,05) yang berarti bahwa hipotesis kedua (H2) yang menyatakan tidak terdapat pengaruh Pemeriksaan Pajak (X2) terhadap penerimaan PPN (Y) ditolak. Dengan
84
demikian, Pemeriksaan Pajak (X2) tidak berpengaruh terhadap penerimaan PPN (Y).
Hasil Penelitian ini menyatakan Pemeriksaan Pajak tidak berpengaruh terhadap Penerimaan Pajak pertambahan Nilai karena adanya faktor kecurangan yang dilakukan oleh Wajib Pajak maka tingkat Pemeriksaan Pajak meningkat sehingga mempengaruhi penerimaan pajak.
H2 : Pemeriksaan Pajak tidak berpengaruh terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai
Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Ida Ayu Ivon Trisnayati dan Jati (2015) menyatakan bahwa Penagihan Pajak berpengaruh positif terhadap penerimaan Pajak Pertambahan Nilai.
4.4.3 Penagihan Pajak (X3) Berpengaruh Terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (Y)
Hipotesis ketiga (H3) menyatakan bahwa terdapat pengaruh Penagihan Pajak (X3) terhadap penerimaan PPN (Y) dan hasil pengujian untuk variabel Penagihan Pajak (X3) menunjukkan nilai t sebesar 2,988 dengan nilai signifikansi sebesar 0,004.
Nilai signifikansi tersebut kurang dari 0,05 (0,004<0,05) yang berarti bahwa hipotesis ketiga (H3) yang menyatakan terdapat pengaruh jumlah Penagihan Pajak (X3) terhadap penerimaan PPN (Y) diterima. Dengan demikian, jumlah Penagihan Pajak (X3) berpengaruh terhadap penerimaan PPN (Y).
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Penagihan Pajak merupakan tindakan menegur,melaksanakan penyitaan dan memberikan surat perintah kepada Wajib Pajak untuk membayar pajak terutang. Tindakan Penagihan Pajak sudah berjalan