BAB III Metode Penelitian
H. Teknik Analisis Data
2. Uji Hipotesis
3) Kemudia klik Plots, Pastikan power estimation Terpilih.
4) Klik continue kemudian OK. Maka hasil output yang didapat pada kolom Test of Homogenity of Variance.
Kriteria pengujian: jika nilai sig > 0,05, maka dikatakan bahwa varians dari dua atau lebih kelompok populasi data adalah sama (homogen)
atau bisa disebut dengan Dependent Sample Test. Uji Paired Sample Test adalah jenis uji statistika yang bertujuan untuk membandingankan rata-rata dua grup yang saling berpasangan. Sampel berpasangan dapat diartikan sebagai sebuah sampel dengan subjek yang sama namun mengalami 2 perlakuan atau pengukuran yang berbeda, yaitu pengukuran sebelum dan sesudah dilakukan sebuah treatmen. Adapun uji Paired Sample Test ini dilakukan dengan bantuan program SPSS 25.0 dan untuk langkah- langkahnya sebagai berikut:
a. Klik menu Analyze-Compare Means-paired sampel T- test
b. Muncul kotak dialog baru, pada kotak paired variable masukkan pre-test dan post-test eksperimen pada baris
pair 1dan pre-test dan post-test kontrol masukkan pada baris pair 2.
c. Klik OK, maka akan muncul output SPSS untuk paired Sample Test
BAB IV
Hasil Penelitian dan Pembahasan A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
Kegiatan penelitian ini dilakukan di MTs. NW Mataram mulai tanggal 10 Februari 2020 sampai dengan 22 Februari 2020.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VII Semester genap tahun pelajaran 2020/2021 yang terdiri dari 2 kelas, yaitu kelas VII A dan VII B dengan jumlah seluruhnya 42 siswa. Dalam penelitian ini yang peneliti jadikan sebagai sampel penelitian adalah keseluruhan siswa kelas VII MTs. NW Mataram tahun pelajaran 2020/2021. Adapun kelas yang digunakan sebagai sampel adalah kelas VII A sebagai kelas Kontrol dan kelas VII B sebagai kelas eksperimen. Sampel yang digunakan sebelumnya diuji homogenitasnya, yang diambil dari skor atau nilai pre-test siswa sebelum diberikan perlakuan.
Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan metode eksperimental. Jenis metode eksperimen yang digunakan adalah non-equivalen control group design yaitu untuk mengetahui perbedaan kemampuan kelas yang diberikan perlakuan dan kelas yang tidak diberikan perlakuan.
Pada masing-masing kelas diberikan perlakuan yang berbeda, untuk kelas kontrol yaitu kelas VII A diberikan sebuah
perlakuan model pembelajaran konvensional dan untuk kelas eksperimen yaitu kelas VII B diberikan perlakuan dengan model pembelajaran Quantum Learnig pada saat proses pembelajaran berlangsung. Setelah 2 kali pertemuan diberikan perlakuan yang berbeda, masing-masing kelas diberikan sebuah Post-Test untuk mengetahui pengaruh dan perbedaan keduanya setelah diberikan perlakuan.
Proses penelitian ini berlangsung selama 10 hari dengan 3 kali pertemuan pada kelas kontrol dan juga kelas eksperimen.
a. Kelas kontrol (konvensional)
Pertemuan pertama pada hari Senin, 10 Februari 2020.
Peneliti memasuki kelas pada pukul 08.00 sampai dengan pukul 08.45. Pada pertemuan pertama peneliti memberikan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diberikan perlakuan metode pembelajaran konvensional untuk kelas kontrol. Peneliti membagikan soal pre-test dan siswa diberikan waktu 30 menit untuk menjawab soal pre-test tersebut.
Pertemuan kedua pada hari Selasa, 11 Februari 2020, peneliti memulai pembelajaan pada pukul 07.30 sampai dengan 08.50 WITA. Pada kelas kontrol siswa diberikan perlakuan menggunakan metode konvensional pada materi bangun datar khususnya pada segitiga, dan pada pertemuan pertama ini peneliti menyampaikan materi segitiga tentang memahami konsep
segitiga serta menentukan ukuranya. Peneliti memulai pembelajaran dengan berdoa bersama sebelum memulai pembelajaran. Setelah itu mulailah peneliti menjelaskan materi pembelajaran, yaitu mengenai pengertian segitiga, jenis-jenis segitiga, dan jumlah sudut luar dan sudut dalam segitiga sambil mengumpan-umpan pertanyaan balik kepada siswa. Setelah materi tersampaikan peneliti memberikan soal-soal dan menuliskannya dipapan tulis. Sambil siswa mengerjakan soal, peneliti berkeliling di kelas sambil menghampiri siswa yang bertanya. Setelah jam menunnjukkan pukul 08.45 siswa mengupulkan lembar jawaban mereka dan siap berdo’a menunjukkan jam pelajaran matematika telah habis.
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Februari 2019 pukul 9.30 sampai dengan 11.00 WITA. Pada kelas kontrol peneliti melanjutkan perannya sebagai guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan materi selanjutnya yaitu mengidentifikasi keliling dan luas segitiga dengan pelaksanan dan langkah pembelajaran yang sama dengan hari sebelumnya, yaitu dengan penyampaian materi mengenai keliling dan luas segitiga. Hanya saja pada akhir pertemuan peneliti memberikan sebuah soal Post- Test yang sudah peneliti siapkan begitu juga dengan lembar jawaban untuk dikerjakan guna untuk mengetahui perbedaan
hasil belajar matematika siswa kelas VIIA dan VIIB setelah diberikanya perlakuan yang berbeda.
Adapun data hasil pos-test hasil belajar matematika kelas VIIA setelah diberikan perlakuan model pembelajaran konvensional sebagai berikut.
Tabel 4.1 tabel hasil belajar pre-test dan post-test kelas kontrol
NO
Kelas VIIA Konvensioanal Pre-Test Post-Test
1 72 73
2 47 55
3 44 49
4 56 58
5 56 58
6 62 64
7 49 58
8 59 61
9 62 64
10 56 61
11 65 73
12 54 55
13 54 55
14 44 52
15 47 55
16 54 61
17 52 64
18 49 58
19 66 67
Rata- rata 55,15 62,21
Nilai Minimal 44 49
Nilai Maximal 72 73
b. Kelas eksperimen (Quantum Learnig)
Pertemuan pertama pada hari Senin, 17 Februari 2020.
Peneliti memasuki kelas pada pukul 09.00 sampai dengan pukul
09.45. Pada pertemuan pertama peneliti memberikan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diberikan perlakuan metode pembelajaran Quantum Learning untuk kelas eksperimen. Peneliti membagikan soal pre-test dan siswa diberikan waktu 30 menit untuk menjawab soal pre-test tersebut.
Pertemuan Kedua pada Selasa, 18 Februari 2020 peneliti memulai pembelajaran pada pukul 09.30 sampai dengan 12.00 WITA. Peneliti mulai masuk ruang kelas dengan mengucap salam dan peneliti meminta kepada ketua kelas untuk memimpin doa sebelum belajar kemudia setelah berdoa peneliti mengecek kehadiran siswa. Sebelum memulai pelajaran peneliti menanyakan kabar siswa kemudian peneliti meminta siswa untuk kita sama-sama mengatur tempat duduk menjadi huruf U. Setelah itu peneliti mulai menyampaikan tujuan dari kegiatan belajar mengajar mengenai materi pembelajaran yang akan dibahas pada pertemuan ini yaitu mengenai memahami konsep segitiga serta menentukan ukurannya tentang pengertian segitiga, jenis-jenis segitiga, dan jumlah sudut dalam dan sudut luar segitiga. peneliti meminta pada siswa membentuk kelompok kecil beranggotakan 4-5 sesuai dengan tempat duduk yang terdekat. Kemudian peneliti meminta masing-masing ketua kelompok untuk maju dan menunjukan benda apa saja yang berbentuk segitiga yang ada didalam maupun diluar kelas kemudian peneliti memberikan
pertanyaan pada siswa yaitu apa itu segitiga sesuai dengan benda- benda yang telah ditunjuk tadi dan berapa banyak sisi sebuah segitiga. Setelah itu peneliti meminta siswa untuk mengamati sebuah tayangan vidio mengenai mengidentifikasi sifat – sifat segitiga berdasarkan sisi dan sudutnya dan mengetahui besar sudut dalam dan sudut luar segitiga diiringi dengan alunan musik.
Kemudian guru memberikan lembar kerja kerja siswa dan meminta siswa untuk mengerjakannya dengan dibimbing oleh peneliti dalam mengerjakan LKS yang telah diberikan. Setelah itu guru memberikan salah satu perwakilan kelompok untuk membacakan hasil diskusi kedepan kelas untuk di bahas dan guru meminta kelompok lain memperhatikan dan memberikan tanggapan mengenai hasil diskusi yang telah disampaikan.
Peneliti membahas kembali hasil diskusi yang telah disampaikan bila ada hasil diskusi yang kurang tepat peneliti memberikan perbaikan. Kemudian peneliti dan siswa bersama-sama menyimpulkan pembelajaran hari ini. Setelah itu peneliti memberikan apresiasi kepada kelompok yang paling aktif dalam kelas dan memberikan evaluasi untuk materi hari ini kemudian berdoa dan bersiap untuk mengakhiri pelajaran matematika.
Pertemuan ketiga hari Rabu, 19 Februari 2020. Pukul 07.30 sampai 09.30. Peneliti melanjutkan kegiatan yang sama seperti pada pertemuan kedua hanya saja pada akhir pertemuan peneliti
melanjutkan materi tentang keliling dan luas segitiga dan di akhiri dengan memberikan soal post-test yang sudah peneliti siapkan begitu juga dengan lembar jawaban untuk dikerjakan guna untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas VIIA dan VIIB setelah diberikanya perlakuan yang berbeda.
Tabel 4.2 hasil belajar pre-test dan post-test kelas eksperimen
No
Kelas VIIB Quantum Learning
Pre-Test Post-Test
1 54 75
2 56 81
3 47 72
4 62 81
5 52 75
6 49 87
7 59 81
8 47 78
9 49 90
10 49 75
11 62 81
12 62 84
13 59 78
14 65 93
15 44 72
16 54 81
17 44 84
18 54 78
19 47 72
20 52 75
21 65 87
22 52 75
23 47 81
nilai rata – rata 53.52 79,83
nilai Minimal 44 72
Nilai Maximal 65 93
2. Uji Prasyarat Analisi a. Uji Normalitas
Uji normalitas adalah uji statistik yang dilakuakan untuk mengetahui bagaimana sebaran data pada penelitian ini. Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan untuk melihat bahwa sebaran data berdistrubusi normal. Uji normalitas yang digunakan adalah uji liliefors. Hasil uji normalitas menggunakan SPSS 25.0 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3
Hasil Uji Normalitas pre-test dan post-test Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen
Tests of Normality
Kelas
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Hasil Belajar Pre-test Eksperimen .144 23 .200* .930 23 .107 Post-test Eksperimen .159 23 .139 .937 23 .159 Pre-test Kontrol .141 19 .200* .961 19 .598 Post-test Kontrol .152 19 .200* .945 19 .329
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
Dari Tabel 4.3 menunjukkan nilai hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen untuk pre-test dan post-test. Pada kolom Kolmogorov- Smirnova, pada nilai Pre-test untuk kelas ekperimen memiliki signifikansi sebesar 0,200 lebih besar dari 0,05 dan untuk nilai Post-test kelas eksperimen memiliki signifikansi sebesar 0,139 dan lebih besar dari 0,05 begitu juga untuk nilai Pre-test dan Post-test kelas kontrol
memiliki signifikansi sebesar 0,200 dan lebih besar dari 0,05.
Berdasarkan nilai Pre-test dan Post-test kelas eksperimen maupun kelas kontrol diatas, ini berarti data yang kita miliki berdistribusi normal.
Perhatikan catatan kaki a yang diberikan, tertulis Lilliefors Significance Correction yang berarti dengan penyesuaian Lilliefors.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk rumus uji t komparatif yang akan digunakan. Pada penelitian ini menggunakan rumus pooled varians, karena n1 ≠ n2 dan varians sebelum diberikanya perlakuan (Pre-test) yaitu sama atau homogen. Hasil uji homogenitas menggunakan SPSS 25.0 dapat dilihat pada taber berikut:
Tabel 4.4
Hasil Uji Homogenitas Pre-test kelas kontrol dan kelas eksperimen Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Hasil Belajar Based on Mean .200 1 40 .657
Based on Median .175 1 40 .678
Based on Median and with adjusted df
.175 1 38.323 .678
Based on trimmed mean .190 1 40 .666
Diketahui besar Ftabel pada (df1=1,df2=40) adalah 4,02 dan dari tabel 4.4 menunjukkan bahwa Fhitung sebesar 0,200 maka, lebih kecil dari Ftabel
4,02 (pada df1=1,df2=40) dan nilai signifikansi sebesar 0,657 lebih besar
dari 0,05,dapat dikatakan bahwa varian dari dua kelompok populasi data tersebut adalah homogen.
3. Uji Hipotesis
Uji prasyarat menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan homogen, maka uji yang digunakan adalah uji Paired Sample Test. Hasil uji Paired Sample Test menggunakan SPSS 25.0 dapat dilihat pada table dibawah ini:
a. Paired Sample Statistic
Tabel 4.5
Paired Sample Statistics
Mean N
Std.
Deviation
Std. Error Mean Pair 1 Pre-test Eksperimen 53.52 23 6.625 1.382
Post-test Eksperimen 79.83 23 5.773 1.204 Pair 2 Pre-test Kontrol 55.16 19 7.748 1.777 Post-test Kontrol 60.05 19 6.407 1.470
Berdasarkan table 4.5 diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar pada pre-test kelas eksperimen 53,52 < post- test 79,83 dan nilai rata-rata hasil belajar kelas control 55,16 < post- test 60,05 , maka itu artinya secara deskriptif ada perbedaan rata-rata hasil belajar antara pre-test dan post-test. Selanjutnya untuk membuktikan apakah perbedaan rata-rata tersebut benar-benar nyata (signifikan) atau tidak, maka kita perlu menafsirkan hasil uji Paired sample test yang terdapat pada tabel output selanjutnya.
b. Paired Samples Correlations
Tabel 4.6
Paired Sample Correlations
N Correlation Sig.
Pair 1 Pre-test Eksperimen & Post- test Eksperimen
23 .466 .025
Pair 2 Pre-test Kontrol & Post-test Kontrol
19 .890 .000
Output diatas menunjukkan hasil uji korelasi atau hubungan antara kedua data atau hubungan variabel pre-test dengan variabel post-test kelas eksperimen maupun kelas control. Berdasarkan output diatas diketahui nilai kofisien korelasi (correlations) sebesar 0,466 untuk pre-test dan post-test kelas eksperimen dengan nilai signifikansi (sig.) sebesar 0,025. Karena nilai sig. 0,025 <
probabilitas 0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada hubungan antara variabel pre-test dengan variabel post-tst kelas eksperimen, dan diketaui juga nilai kofisien korelasi (correlations) untuk kelas control 0,890 dengan nilai sig. sebesar 0,000, karena nilai sig. untuk kelas control 0,000 < probabilitas 0,05 maka dikatakan ada hubungan antara nilai pre-test dan post-test untuk kelas control.
c. Paired Sample Test
Tabel 4.7 Paired Sample Test
Paired Differences
t df Sig.
(2- tailed) Mean
Std.
Deviation Std.
Error Mean
95% Confidence Interval of the
Difference Lower Upper Pair 1 Pre-test Eksperimen
- Post-test Eksperimen
-26.304 6.449 1.345 -29.093 -23.516 -19.562 22 .000
Pair 2 Pre-test Kontrol - Post-test Kontrol
-4.895 3.573 .820 -6.617 -3.173 -5.971 18 .000
Pada output ketiga ini adalah output yang terpenting, karena pada bagian ketiga inilah kita akan menemukan jawaban dari rumusan masalah yakni apakah ada pengaruh model pembelajaran Quantum Learning terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII MTs NW Mataram. Sebelum itu, terlebih dahulu kita perlu mengetahui pedoman pengambilan keputusan dalam uji paired sampel t test berdasarkan nilai signifikansi (sig.) hasil output SPSS, adalah sebagai berikut:
1. Jika nilai sig. (2-tailed) < 0,005, maka H0 ditolak dan H1 diterima
2. Sebalikanya jika nilai sig. (2-tailed) > 0,005, maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Berdasarkan Tabel 4.7 menunjukkan bahwa pada baris dan kolom Pair 1 (Kelas Eksperimen) bahwa nilai thitung sebesar 19,562
lebih besar dari nilai ttabel berdasarkan df = 22 dan nilai signifikansi (� ∕ ) = 0,025 yaitu sebesar 2,074 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima yaitu ada pengaruh model pembelajaran Quantum Learning terhadap hasil belajar matematika kelas VII MTs. NW Mataram.
B. Pembahasan
Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Quantum Learning terhadap hasil belajar matematika kelas VII MTs. NW Mataram. Dalam hal ini hasil belajar siswa kelas VII A dan VII B diperoleh dengan penerapan model pembelajaran yang berbeda dimana kelas VII A sebagai kelas kontrol diterapkanya model pembelajaran konvensional dan untuk kelas VII B sebagai kelas eksperimen dengan diterapkan model pembelajaran Quantum Learning. Sebelum penerapan model pembelajaran dikelas baik untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen maka peneliti memberikan soal Pre-test dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diterapkanya model pembelajaran pada masing-masing kelas.
Selanjutnya kedua kelas diberi pembelajaran materi bangun datar khususnya segitiga dengan diterapkannya perlakuan (treatmen) yang berbeda, pada kelas kontrol diberikan perlakuan model pembelajaran konvensional dan kelas eksperimen diberi perlakuan model pembelajaran Quantum Learning dengan pelaksanaan pembelajaran pada dua kelas membutuhkan waktu 3 kali pertemuan.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksankan selama 3 kali pertemuan yang terdiri dari 2 kali pertemuan untuk proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk pemberian soal Pre-test. Pada kelas kontrol dan kelas eksperimen terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar setelah diberikannya perlakuan (treatmen) berbeda. Hal ini dapat dilihat pada rata-
rata hasil belajar sebelum perlakuan kelas kontrol (konvensional) = 55,15 dan setelah pemberian perlakuan konvensional = 60,05 sedangkan rata-rata hasil belajar sebelum perlakuan kelas eksperimen (Quantum Learning) = 53,52 dan setelah diberikan perlakuan Quantum Learning = 79,82.
Langkah selanjutnya sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu peneliti melakukan pengujian prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas dengan menggunakan bantuan program SPSS 25.0 Adapun hasil dari uji normalitas kedua kelas yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen untuk Pre-test dan Post-test bahwa memiliki signifikansi sebesar 0,200 kecuali untuk nilai Post-test kelas eksperimen memiliki signifikansi sebesar 0.139 namun tetap lebih besar dari 0,05. Artinya data tersebut berdistribusi normal. Sedangkan hasil uji homogenitas post-test untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan nilai Fhitung< Ftabel (0,200<
4,02) dan nilai signifikansi 0,657> 0,05 artinya nilai post-test kelas kontrol dan kelas eksperimen dinyatakan homogen.
Setelah dilakukan uji normalitas dan homogenitas, maka langkah selanjutanya adalah pengujian hipotesis. Pada penelitian ini menggunakan uji hipotesis yaitu uji t paired samples test. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan bantuan program SPSS 25.0 diketahui nilai thitung pada kolom dan baris pair 1 (Kelas ekperimen) bernilai negatif yaitu sebesar -19,562.
thitung bernilai negative ini dikarenakan nilai rata-rata hasil belajar pre-test lebih rendah dari pada nilai rata-rata hasil belajar post-test. Dalam konteks seperti ini maka nilai thitung negative dapat bermakna positif. Sehingga nilai
thitung menjadi 19,562. Selanjutnya dengan menggunakan taraf signifikansi 5% atau 0,05, maka nilai ttabel berdasarkan nilai df = 22 dan nilai signifikansi (� ∕ 2) = 0,025 yaitu sebesar 2,074. Karena thitung> ttabel (19,562 > 2,074) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Kemudian rata- rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen sebelum diberikan perlakuan adalah 53,52 dan setelah diberikan perlakuan rata-rata nilainya menjadi 79,83. Sedangkan rata- rata hasil belajar siswa pada kelas kontrol sebelum diberikan perlakuan adalah 55,15 dan setelah diberikan perlakuan rata-rata nilainya menjadi 60,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diberikan perlakuan Quantum Learning lebih tinggi dibandingan dengan kelas kontrol yang diberikan perlakuan konvensional. Dalam artian bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Quantum Learning terhadap hasil belajar matematika kelas VII MTs. NW Mataram.
Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa model pembelajaran Quantum Learning berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas VII MTs NW Mataram. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar sebelum dan sesudah diberikanya perlakuan pada kelas kontrol dan eksperimen yang mengalami peningkatan setelah diberikan perlakuan.
Model Quantum Learning lebih efektif karena pembelajaran quantum sangat menekankan pada kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar siswa akan disediakan media – media yang bisa membuat siswa merasa nyaman dan tidak membosankan
dalam mengikuti pembelajaran di kelas dan siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zahrul Fauddah pada tahun 2017 dengan berjudul “Pengaruh penggunaan model pembelajaran Quantum Learning terhadap hasil belajar IPS terpadu siswa kelas VII SMP Negeri 1 Air Hitam Kabupataten Lampung Barat”
menggunakan metode eksperimen semu yang menunjkkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPS dimana siswa yang diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran Quantm Learning mendapat nilai lebih tinggi dibanding dengan nilai siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional dan terdapat pengaruh penggunaan model Quantum Learning terhadap hasil belajar IPS siswa kelas VII SMP Negeri 1 Air hitam30.
30Zahrul Faudah,”Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Quantum Learning Terhadap Hasil Belajar IPS Terpadu Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Air Hitam Kabupaten Lampung Barat Tahun Pelajaran 2016/2017”.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data, pengujian hipotesis serta hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan peneliti, maka dapat disimpulkan yaitu terdapat pengaruh model pembelajaran Quantum Learning terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII MTs. NW Mataram tahun pelajaran 2019/2020
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam rangka mengetahui pengaruh model pembelajaran Quantum Learning terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII MTs. NW Mataram, maka saran peneliti adalah sebagai berikut:
1. Disarankan kepada guru dan calon guru matematika untuk menggunakan model pembelajaran yang lebih variatif sehingga siswa lebih antusias dan semangat dalam mengikuti pembelajaran di dalam kelas.
2. Sebaiknya guru dan calon guru matematika menggunakan model pembelajaran Quantum Learning karena model pembelajaran ini dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.
Daftar Pustaka
Achamd Irmansyah, “Efektifitas Pembelajaran Matematika Melalui Model
Pembelajaran Realistic Matematic Education (RME) Terhadap Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Siswa SD”, Vol.12, Nomor 1, Maret 2011.
Adi Nurjaman, 2105, Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa SMP Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share. Al- Khawarizmi: Jurnal Pendidiksn dan Pembelajaran Matematika Volume 9, Nomor 1, Maret 2015.
Achmad Susanto, Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah, Jakarta : KENCANA, 2013.
Alfi Zahrul Faudah, “Pengaruh Penggunaan Model Quantum Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu kelas VII Di SMP Negeri Air Hitam KAbupaten Lampung BaratTahun Pelajaran
2016/2017”,Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, Bandar Lampung,2016.
Alfira Mulya Astuti, Statistika Penelitian,Mataram : Insan Madani Publishing Mataram, 2016.
Bobbi Depporter&Mike Hernacki, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2015
Desma Yulia, Muhammad Arifin, “Pengaruh Penggunaan Media Filem Animasi dala, Pembelajaran IPS Terpadu Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII di SMP Kartini 1 Batam Tahun Pembelajaran 2013/2014”, Historia, Vol.10,2016.
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Jakarta Utara : PT Raja Grafindo Perseda,2011.
Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2107.
Muliati, Psikologi Belajar, Yogyakarta : C.V. ANDI OFSET, 2005.
Nur Hasan Rohim, “Penerapan Model Pembelajaran Quantum Learning Berdasarkan Gaya Belajar Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pada MAteri Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Peserta Didik Kelas VIII MTs. Sunan Ampel Plososari Patean Kendal Tahun Pelajaran 2014/2015, Skripsi, FITK UIN Walisongo, Semarang, 2014.
Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kenncana, 2017.
Safruddin, “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Pendidikan Model Quantum Learning Dengan Setting Kooperatif Pada Siswa Kelas XI IPA 2 SMA Negeri 1 Masamba” Proseding Seminar Nasional Volume 03, Nomor 1.
Setya Heri Kuswanto, Skripsi, “Peningkatan Kemampuan Memahami Konsep Matematika Pada Volume Bangun Ruang Dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran two stay-two strayi (TS-TS)”, 2008.
Sofian Siregar, Statistik Parametrik Untuk Penelitian Kuantitatif, Jakarta : PT Bumi Aksara, 2014
Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, Bandung : Alfabeta
Zainal Arifin, Sudarti, Albertus Djoko Lesmono “Pengaruh Model Quantum Learning Disertai Metode Eksperimen Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Di SMA Negeri Kalisat”, Jurnal Pembelajaran Fisika, Vol.4 No.4, Maret 2016.