• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Kuat Tarik, dan Bengkok Baja Tulangan

Dalam dokumen LAPORAN MAGANG HILDA rev 2 (Halaman 69-78)

TINJAUAN KHUSUS OBJEK MAGANG

B. Pengendalian Mutu

1. Uji Kuat Tarik, dan Bengkok Baja Tulangan

60 A. Pengendalian Biaya

Adanya pengendalian biaya pada pelaksanaan pembangunan merupakan hal yang sangat penting untuk menghindari terjadinya pembengkakan biaya selama pekerjaan. Pengawasan pengendalian biaya oleh Manajemen Konstruksi pada proyek ini dengan cara melakukan checklist setiap progress pekerjaan mingguan dan bulanan pada s-curve. Pengecekan laporan mingguan dan bulanan pada s-curve dapat diketahui korelasi antara biaya dan progress waktu pekerjaan.

61

Gambar 3.64 Uji Tarik Besi Gambar 3.65 Uji Bengkok Besi 2. Slump Test

Slump test adalah pengujian kekentalan beton. Slump test dilakukan untuk mengetahui workability suatu beton. Nilai slump yang diizinkan pada proyek pembngunan ini untuk bore pile, secant pile, pile cap, tie beam 18 ± 2. Nilai slump tersebut disesuaikan dengan RKS (Rencana Kerja dan Syarat Teknis) yang telah disusun oleh konsultan perencana dengan mengacu pada peraturan SNI, STM dan lain sebagainya.

Gambar 3.66 Uji Slump Beton

62 3. Uji Kuat Tekan Beton

Kuat tekan beton diuji menggunakan sampel benda uji silinder berukuran 15 x 30 cm. Pada pengujian kuat tekan bore pile dan secant pile, setiap titik bore pile dan secant pile diambil 3 sampel. 2 sampel diuji pada umur beton 28 hari dan 1 sampel digunakan sebagai spare atau cadangan ketika 2 sampel tidak memenuhi kuat tekan standart yang sudah ditentukan. Kemudian hasil kuat tekan beton dievaluasi untuk mengetahui apakah besarnya kuat tekan sudah memenuhi standart.

Evaluasi hasil uji kuat tekan beton mengacu pada peraturan SNI 2847 : 2013 – 5.6.33 (a & b).

Gambar 3.67 Uji Kuat Tekan Beton 4. Axial Load Test

Pengujian axial load test bertujuan untuk menguji kekuatan atau daya kuat pondasi ketika menerima beban. Pada pengujian axial load test ini dipilih 2 titik bore pile yaitu titik BP 187 dan BP 123. Pengujian axial load test pada proyek pembangunan ini menggunakan metode reaction pile yaitu dengan cara pembebanan menggunakan jack dan tiang di sekitar titik yang akan diuji berperan sebagai support pile .

63 Penggunaan metode reaction pile dikarenakan lokasi proyek sempit sehingga mobilisasi untuk penggunaan beban balok akan sulit. Metode pelaksanaan axial test yaitu dengan cara pembebanan pada tiang 200% dari beban rencana sebesar 340 ton. Pembacaan axial load test dilakukan selama 32 jam dengan metode pembacaan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 3.68 Jadwal Pembebanan Axial Load Test

Pengujian axial load test pada titik BP 187 didapatkan hasil penuran tiang sebesar 21,12 mm. Nilai tersebut masih memenuhi persyaratan besarnya penurunan tiang yaitu < 25mm.

64 Gambar 3.69 Pelaksanaan Axial Load Test

5. PIT Test

PIT test (Pile Integrity Tester) merupakan salah satu pengujian pada tiang pondasi yang bertujuan untuk mengetahui integritas atau keutuhan dari tiang pondasi. Satu set peralatan PIT test terdiri dari komputer, accelerometer, dan palu tangan. Hasil dari PIT test dapat mengetahui tiang mengalami keretakan, dapat mengetahui tiang mengalami pembesaran maupun pengecilan dan dapat memastikan panjang dan kondisi ujung tiang.

Pelaksanaan PIT test pada proyek pembangunan ini dilakukan pada 20 titik bore pile dengan mengacu pada ASTM D-5882. Titik bore pile yang digunakan pada pengujian harus memenuhi umur beton minimal 28 hari. Metode pelaksanaan PIT test adalah sebagai berikut :

1. Melakukan galian pada titik pondasi yang akan diuji.

2. Meratakan permukaan kepala pondasi menggunakan gerinda untuk menemukan kualitas beton yang baik.

3. Memasang accelerometer pada permukaan tiang.

4. Memasukkan data tiang pondasi pada komputer.

5. Memberi pukulan pada tiang menggunakan palu tangan.

6. Membaca hasil pengujian pada komputer.

65 Gambar 3.70 Pelaksanaan PIT Test

6. PDA Test (Pile Dynamic Load Test)

PDA test adalah sebuah pengujian pada tiang pondasi menggunakan metode wave analysis untuk mendapatkan hasil daya dukung aksial tiang, integritas dan keutuhan tiang serta besarnya energi yang ditransfer ke tiang. Pada proyek pembangunan ini dilakukan PDA test pada 8 titik bore pile. Metode pelaksanaan PDA test adalah sebagai berikut :

1. Melaksanakan pekerjaan galian tanah pada lokasi titik bore pile yang akan diuji.

2. Melakukan pemotongan kepala bore pile dengan cara dibobok hingga menemukan beton bersih.

3. Memasang sabuk pada kepala bore pile.

4. Memberi sika grout pada kepala bore pile yang berfungsi untuk meratakan kepala bore pile.

5. Meratakan badan bore pile yang akan diberi sensor menggunakan gerinda.

6. Memasang sensor yang telah terhubung dengan alat PDA pada badan bore pile.

66 7. Melakukan pengujian dengan menjatuhkan hammer seberat 5 ton dengan alat bantu service crane. Hammer diberi tali sebagai alat penyeimbang supaya jatuhnya hammer tepat pada atas kepala bore pile.

8. Pembacaan hasil tes dilakukan ketika tinggi jatuh hammer pada 50 cm dan 1 m.

Gambar 3.71 Persiapan PDA Test Gambar 3.72 Pelaksanaan PDA Test C. Pengendalian Waktu

Pengendalian waktu merupakan upaya untuk mengontrol agar pelaksanaan pekerjaan tidak melebihi waktu yang telah direncanakan karena akan berpengaruh terhadap biaya yang akan dikeluarkan. Pelaksanaan pengendalian waktu oleh manajemen konstruksi dilakukan menggunakan master schedule dan time scheduling (Kurva S) dari setiap item pekerjaan. Kurva S menggambarkan grafik hubungan antara bobot prestasi pekerjaan dengan waktu pelaksanaan sehingga dapat diketahui progress pekerjaan yang telah terlaksana. Kontraktor melaporkan pekerjaan yang telah dilaksanakan melalui laporan harian, mimgguan dan bulanan kepada manajemen konstruksi untuk kemudian dilakukan analisa progress pekerjaan menggunakan kurva S.

67 D. Pengendalian K3

Sebuah pekerjaan konstruksi tidak lepas dengan adanya peraturan mengenai K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Peraturan K3 konstruksi telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 1980 yang membahas mengenai K3 pada konstruksi bangunan. K3 termasuk dalam upaya pengendalian lingkungan kerja yang sehat dan aman sehingga dapat mengurangi besarnya angka kecelakaan kerja.

Pengendalian K3 yang dilaksanakan oleh konsultan pengawas pada proyek pembangunan ini meliputi :

1. Pengecekan kondisi lapangan setiap hari meliputi lingkungan lapangan dan pekerja.

2. Melakukan safety patrol setiap 1 kali dalam seminggu, yaitu merupakan kegiatan inspeksi keliling pada area lapangan proyek untuk menemukan keadaan yang membahayakan pekerja dan lingkungan sekitar.

Gambar 3.73 Safety Patrol 3.4.4 Permasalahan dan Solusi

Pelaksanaan pekerjaan konstruksi tidak terlepas dengan adanya kendala pada saat pelaksanaan di lapangan. Namun kendala yang terjadi pada saat pelaksanaan dapat diatasi dengan beberapa solusi sehingga pekerjaan tidak

68 terhambat karena kendala tersebut. Beberapa permasalahan dan solusi yang terjadi ketika pelaksanaan pekerjaan struktur bawah pada proyek pembangunan Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta dijelaskan pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.1 Permasalahan dan Solusi pada Proyek Pembangunan Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta

No PERMASALAHAN SOLUSI

1. Tanah longsor saat pengeboran Penggunaan slurry atau tanah merah dijadikan solusi untuk mengatasi tanah longsor saat pengeboran.

2. Undercast Bore Pile, yaitu kurangnya beton pada bore pile sehingga panjang bore pile yang dihasilkan tidak sesuai dengan rencana.

Pengecoran kembali titik bore pile yang mengalami undercast dengan membaluri terlebih dahulu kepala bore pile menggunakan cabond atau lem perekat beton lama dengan beton baru.

3. Koordinat titik tiang bore pile mengalami pergeseran.

Terdapat 1 titik bore pile yang keluar atau geser dari koordinat rencana. Oleh karena itu dilakukan pelebaran pile cap dan akan memengaruhi volume beton

69 yang akan digunakan pada pile cap tersebut.

3.5 Penugasan Magang di Proyek A. Mapping Pekerjaan

Penugasan mapping pekerjaan lapangan dilaksanakan setiap hari. Mapping yang dilakukan yaitu mapping pekerjaan titik bore pile, pile cap, tie beam yang telah dilaksanakan.

Dalam dokumen LAPORAN MAGANG HILDA rev 2 (Halaman 69-78)

Dokumen terkait