Pasal 45 Ayat (1)
4.3.1 Upaya Hukun Non-Litigasi
53
digolongkan kepada penyelesaian yang berkualitas tinggi, karena sengketa yang diselesaikan secara demikian akan dapat selesai tuntas tanpa meninggalkan sisa kebencian dan dendam. Dengan demikian, penyelesaian sengketa secara nonlitigasi adalah penyelesaian masalah hukum secara hukum dan nurani, sehingga hukum dapat dimenangkan dan nurani orang juga tunduk untuk mentaati kesepakatan/ perdamaian secara sukarela tanpa ada yang merasa kalah. 51
Penyelesaian sengketa melalui perdamaian bersumber pada budaya masyarakat Indonesia, seperti kerapatan adat, rungun adat, peradilan adat atau peradilan desa.
Lembaga musyawarah, mufakat dan tenggang rasa merupakan falsafah negara yang digali dari hukum adat dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. 52 Negoisasi adalah salah satu cara penyelesaian sengketa tanpa melalui pengadilan yang bertujuan mencapai kesepakatan bersama atas dasar kerjasama yang lebih harmonis dan kreatif. Penyelesaian sengketa secara negoisasii biasanya digunakan dalam kasus yang tidak terlalu pelik, dimana para pihaknya beritikad baik untuk mencari jalan keluar pada persoalan yang mereka hadapi. Negoisasi biasanya dilaksanakan ketika antara kedua belah pihak jika kedua belahh pihak tersebut masih menjalin komunikasi dengan baik dan masih ada rasa saling percaya dan masih ada keinginan untuk mencapai kesepakatan serta menjalin hubungan dengan baik. Sarana penyelesaian sengketa ini dinilai paling efektif karena terbukti dari 80% sengketa di bidang bisnis tercapai penyelesaiannya melalui negoisasi. Karakteristik yang di miliki negoisasi yaitu :
1. Melibatkan orang, baik sebagai individual, mewakili organisasi atau perusahaan tertentu, bisa sendiri atau dalam kelompok;
2. Mengandung konflik yang terjadi dari awal sampai akhir proses negoisasi atau sampai adanya kesepakatan;
3. Menggunakan cara penukaran sesuatu, contohnya tawar menawar (bargain) maupun tukar menukar (barter);
51 Muryati, D. T., & Heryanti, B. R., 2011, Pengaturan dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa Nonlitigasi di Bidang Perdagangan. Jurnal Dinamika Sosbud, 3(1), h.50.
52 Badan Pembinaan Hukum Nasional, 2003, Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII , Beberapa Pemikiran Mengenai Penyelesaian Sengketa Di Bidang Ekonomi Dan Keuangan Di Luar Pengadilan Oleh Mariam Darus,( Jakarta: Percetakan Negara RI, 2003) h. 478.
4. Melalui pertemuan secara langsung atau tatap muka antara pihak-pihhak yang bersengketa;
5. Negoisasi biasanya mneyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi yang kita inginkan terjadi;
6. Hasil akhir dari negoisasi adalah berbentuk kesepakatan yang diambil dan disetujui oleh kedua pihak yang bersengketa, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah sepakat untuk tidak mengambil kesepakatan.
Akan tetapi negoisasi ini memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya pada penyelesaian sengketa,, yaitu:
a. Kelebihan negoisasi
(1) Tidak melibatkan banyak orang
(2) Bebas dalam menentukan kesepakatan yang di ambil
(3) Dalam prosesnya pihak-pihak dapat memantau jalannya pernegosiasian (4) Meminimalisir perhatian publik
(5) Win-Win Solution
(6) Bisa digunakan di berbagai tahap penyelesaian sengketa b. Kekurangan negoisasi
(1) Fakta-fakta yanng ditetapkan tidak menjamin obyektif (2) Tidak bisa menyelesaikan sengketa tertentu
(3) Negoisasi bisa gagal jika ada pihak yang memiliki posisi lemah
Proses mediasi memerlukan seseorang negoisator sebagai penengah dalam penyelesaian sengketa. Supaya negoisasi berlangsung dengan baik dan memuaskan para pihak negoisiator harus memiliki strategi-strategi sebagai cara dasar mengendalikan hubungan kekuatan, pertukaran informasi dan interaksi antar pihak yang bersengketa. Adapun syarat-syarat menjadi negosiator sebagai berikut:
1. Berkepribadian baik, percaya diri.
2. Bersikap ramah, sopan.
3. Disiplin.
4. Memiliki wawasan yang luas.
55
5. Komunikatif.
6. Dapat membaca situasi dan peluang.
7. Sabar, ulet dan tidak mudah putus asa.
8. Berpikir positif dan optimis.
9. Mampu mengendalikan emosi dengan baik.
10. Memiliki pemikiran jangka panjang.
Menurut Garry Goodpaster, dikatakan meskipun mekanisme negoisasi sangat kompleks dan beragam namun secara essensial terdapat tiga dasar negoisasi, yaitu:
1. Bersaing (competiting);
Negoisasi dengan cara kompetitif atau bersaing atau dapat disebut dengan
“hard bargaining” (tawar-penawar bersikeras), distributif, posisional,, “zero- sum bargaining” (menang tawar-menawar sebesar kekalahan pihak lawan), atau “win-lose bargaining” (tawar-menawar menang kalah). Negoisasi bersaing mempunyai maksud memaksimalkan keuntungan yang didapat oleh pelaku tawar-menawar kompetitif terhadap orang lain. yaitu upaya mencari kemenangan, mendapatkan harga termurah, dan persyaratan yang lebih menguntungkan dibanding dengan pihak lain.
2. Kompromi (compromising)
Strategi komproni di dalam penyelesaian sengketa biasa disebut “soft barganing” (negoisasi lunak), “winn-some-lose-some” (mendapat denga member), atau “take and give bargaining”. Hal tersebut berarti bahwa pihak yang bersalah harus memberi ganti rugi atas beberapa keinginan yang diinginkan untuk mendapatkan sesuatu tertentu.
3. Kolaborasi pemecahan masalah (problem solving)
Negoisasi pemecahan masalah (problem solving) atau bisa di sebut negoisasi integratif atau kepentingan (positive-sum atau win-win). Strategi ini bertujuan untuk memenuhi kepentingan sendiri, juga kepentingan pihak mitra unuk memaksimalkan keuntungan, para pihhak hharus berkolaburasi guna menyelesaikan problem dan menemukan kesepakatan.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi jalannya negoisasi, yaitu : (1) kekuatan tawar-menawar; (2) pola tawar-menawar; (3) strategi dalam tawar menawar53. Melakukan negoisasi untuk menyelesaikan sengketa harus melalui beberapa tahapan-tahapan sebagaimana pendapat Howard Raiffa (dikutip oleh Suyud Margono) sebagai berikut: 54
1. Tahap persiapan
Langkah awal dalam mempersiapkan perundingan adalah apa yang dibutuhkan/diinginkan. Dengan kata lain, negosiator harus mengenali dulu kepentingan sendiri sebelum mengenal kepentingan orang lain, misalnya seberapa terbukanya informasi yang harus diberikan, dimana perundingan akan dilaksanakan, dan apa sasaran atau tujuan yang diinginkan. Pada tahap ini juga melakukan penentuan hal-hal yang bersifat logistik, seperti siapa yang harus bertindak sebagai perunding, apakah memerlukan perunding dengan keterampilan khusus, jika perundingan bersifat internasional apakah yang akan digunakan dan siapa yang bertanggungjawab sebagai penyedia penerjemah. Lalu, dilakukanlah simulasi (simulated role playing), hal tesebut sangat bermanfaat dalam mempersiapkan strategi bernegoisasi.
2. Tahap tawaran awal (opening gambit)
Pada tahap ini perunding melakukan strategi tentang siapa yang terdahulu harus menyampaikan tawaran, dan bagaimana menyikapi tawaran tersebut.
Jika dalam tahap penawaran ini terdapat dua tawaran, maka midpoint (titik diantara dua tawaran) merupakan solusi atau kesepakaan, sebelum ditetapkannya midpoint alangkah lebih baik jika dibandingkan dengan level aspiration para pihak.
3. Tahap pemberian konsensi (the negotiated dance)
Konsensi yang akan dikemukakan tergantung dengan konteks negoisasi dan konsesni yang diberikan oleh pihak lawan. Negoisator berperan penting dalam konsensi dan menjaga posisi tawar-menawar sampai pada tingkat
53 Ibid
54Howard Raiffa, The Art and Science of Negotiation, Cambridge, Massachusetts : Harvard University Press, 1982, dalam Suyud Margono op.cit., hlm.48-50.
57
yang diinginkan. Seorang perunding harus melakukan kalkulasi yang tepat tentang agresiitas, seperti bagaimana menjaga hubungan baik dengan pihak lawan, empati pada pihak lawan dan fairness.
4. Tahap akhir permainan (end play)
Tahap akhir permainan ini meliputi pembuatan komitmen atau membatalkan komitmen yang telah dinyatakan sebeulmnya.
Lebih lanjut Howard Raiffa juga mneyatakan, bahwa agar dalam suatu negoisasi dapat berlangsung secara efektif dan mencapai kesepakatan, ada beberapa kondisi yang mempengaruhinya, yaitu:
1) Pihak-pihak bersedia melakukan negoisasi dengan sukarela berdasarkan kesadaran penuh (willingness);
2) Pihak-pihak siap untuk melakukan negoisasi;
3) Memiliki wewenang untuk mengambil keputusan (authoritative)
4) Memiliki kekuatan yang relatif seimbang sehingga dapat menciptakan saling bergantungan (relative equal bargaining power);
5) Memiliki kemauan untuk menyelesaikan masalah.
Gambar Mekanisme Negoisasi55 (Menurut UU. No 30 Tahun 1999)
55 Muryati, D. T., & Heryanti, B. R. (2011). Pengaturan dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa Nonlitigasi di Bidang Perdagangan. Jurnal Dinamika Sosbud, 3(1), 49-65.h. 10.
Dari gambar mekanisme benegoisasi diatas konsumen yang dirugikan penyalahgunaan data pribadinya dan penyelenggara pinjaman online harus ada kesepakatan atau kemauan kedua belah pihak untuk menempuh upaya penyelesaian sengketa melalui proses negoisasi, setelah sepakat untuk melakukan negoisasi pihak-pihak yang bersengketa salah satunya berhak menunjuk negoisiator dalam proses negoisasi, selanutnya dalam proses negoisasi melalui beberapa tahapan yaiu.
tahaap persiapam,, tahap tawaran awal, tahap pemberian konsensi, dan tahap akhir pemainan. Jika semua tahapan tersebut sudah dilaksankan dan tercapai kata sepakat antara kedua pihak maka harus mengajukan pendaftaran perjanjian akta kesepakatan pada Pengadilan Negeri, apabila hasil kesepakatan eksekusi tidak dilaksanakan maka salah satu pihak yang merasa dirugikan mengajukan permohonan flat eksekusi. Apabila dalam negoisasi tidak mencapai kesepakatan antara dua pihak yang bersengketa maka dapat menggunakan upaya penyelesaian
59
sengketa lain misalnya mediasi atau upaya penyelesaian sengketa litigasi di Pengadilan Negeri.