• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Pencegahan, Penanganan dan Pemberdayaan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Upaya Pencegahan, Penanganan dan Pemberdayaan

Perlindungan terhadap perempuan dan anak dari segala tindak kekerasan merupakan permasalahan yang sangat serius karena kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan kasus terbesar dari tindak kekerasan yang dilaporkan dan menjadi bagian dari upaya pemenuhan HAM. Masyarakat selama ini pada umumnya menganggap bahwa kekerasan dalam rumah tangga dengan korbannya sebagian besar adalah perempuan dan anak, dianggap permasalahan pribadi yang tidak dapat dicampuri oleh orang lain. Faktor

25

budaya patriarkhi dengan dominasi laki-laki sebagai ciri khas dalam rumah tangga dan lingkungan sosial, anggapan kelemahan fisik, ketergantungan ekonomi dan sebagainya menjadi faktor pendorong terjadinya tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

Namun, karena jumlahnya semakin membesar, dengan berbagai bentuk dan kualitas modus yang sangat menyakitkan dan merupakan pelanggaran hak azasi manusia, maka kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak harus ditanggulangi. Lokus kekerasan dalam rumah tangga masih mendominasi dari berbagai kasus kekerasan dengan korban perempuan dan anak.

Untuk itu, dalam upaya memberikan jaminan perlindungan kepada warga negara, pada tanggal 22 September 2004 telah diterbitkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Undang-Undang ini merupakan jaminan dari negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga. Undang-undang ini mengatur perlindungan dan hak-hak korban, saksi dan pendamping korban. Di samping itu, Undang-undang ini juga mengatur tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah serta kewajiban dari masyarakat untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (Margaretha Hanita, 2016).

Selanjutnya (Margaretha Hanita, 2016) menegaskan bahwa :

...pelaksanaan Undang-undang ini tidak begitu saja bisa berjalan, akan tetapi perlu diperkenalkan dan diberikan pemahaman kepada semua pihak. Perlu pula dilakukan upaya untuk memastikan, bahwa Undang-undang ini dilaksanakan secara konsisten oleh semua pihak yang mempunyaikewajiban sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Undang-undang ini. Di samping Undang-undang banyak pihak yang merespon tindak kekerasan terhadap perempuan dengan membentuk lembaga layanan yang mengembangkan layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan. Fokus layanan adalah layanan terpadu sebagai layanan dan dukungan yang terpadu dengan kebutuhan dan serta hak korban. Tujuan lembaga ini adalah mengeleminir tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak secara sistematik mengupayakan implementasi komitmennya untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hal ini seiring meningkatnya kasus-kasus

26

kekerasan baik yang terjadi dalam rumah tangga, lingkungan masyarakat maupun lingkungan tempat bekerja. Pada umumnya korban-korban tindak kekerasan ini berasal dari masyarakat tingkat menengah ke bawah atau masyarakat kurang mampu.

Berdasarkan pernyataan tersebut, menegaskan bahwa upaya tindak pencegahan, penanganan dan pemberdayaan sebaiknya dilakukan secara terpadu dengan tetap memperhatikan kebutuhan korban bagi keberlanjutan kehidupannya. Sehubungan dengan hal tersebut, secara konkret Pemerintah DKI telah membentuk lembga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak dengan mengeluarkan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 159/2002 Tentang Pembentukan Pusat Perlindungan dan Layanan bagi Perempuan dan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No 714/2003 Tentang Pedoman dan Juklak Pusat Perlindungan dan Layanan bagi Perempuan. Setelah itu Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 64 tahun 2004 jo. Nomor 55 tahun 2005 tentang pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Provinsi DKI Jakarta.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta adalah merupakan pusat kegiatan terpadu yang menyediakan pelayanan bagi masyarakat DKI Jakarta terutama perempuan dan anak korban tindak kekerasan melalui wahana operasional pemberdayaan perempuan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. P2TP2A ini dikelola oleh masyarakat dengan pemerintah daerah dengan melaksanakan pelayanan fisik, informasi, rujukan, konsultasi dan berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan dan anak. P2TP2A DKI Jakarta merupakan wadah pelayanan dan pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak yang berbasis masyarakat.

27

Eksistensi P2TP2A lebih dikukuhkan dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 8 Tahun 2011 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak dari Tindak Kekerasan, pasal 16 Pencegahan adalah upaya langsung yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk melakukan mencegah terjadi tindak kekerasan kepada perempuan dan anak. Pasal 17 dalam Perda Nomor 8 mengatakan bahwa Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, yang selanjutnya disingkat dengan P2TP2A, adalah Unit Pelayanan Terpadu yang dibentuk oleh Pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan kepada perempuan dan anak korban kekerasan secara komprehensif meliputi pelayanan informasi, pendampingan dan bantuan hukum, pelayanan konseling, pelayanan medis dan rumah aman melalui rujukan. Dalam pasal pasal 12 ayat dikatakan Bentuk pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan sesuai standar pelayanan minimal yang ditetapkan pemerintah dan dilaksanakan oleh SKPD dan UKPD yang tugas dan fungsinya di bidang sosial; kesehatan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, mental dan spiritual.

Pembentukan P2TP2A Provinsi DKI Jakarta memiliki tujuan umum untuk melakukan pelayanan bagi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dan berupaya memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan perempuan dan anak dalam rangka terwujudnya Kesetaraan dan Keadilan Gender. Disamping tujuan umum, P2TP2A juga memiliki tujuan khususnya yaitu :

1) Menyediakan sarana yang dikelola oleh masyarakat secara mandiri atau kemitraan antara masyarakat dengan pemerintah bagi perempuan dan anak yang membutuhkan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan bagi penyelesaian masalah yang dihadapi perempuan dan anak korban tindak kekerasan.

28

2) Meningkatkan kepedulian berbagai lembaga atau organisasi masyarakat dan pemerintah untuk memberikan pelayanan yang bersahabat bagi perempuan dan anak.

3) Meningkatkan tanggung jawab semua pihak untuk mencegah, menghentikan dan tidak mentolelir segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.

4) Terbebasnya perempuan dan anak dari berbagai tindak kekerasan berbasis gender pada berbagai aspek kehidupan.

D. PROMOSI EDUKASI PERLINDUNGAN KEKERASAN PEREMPUAN DAN

Dokumen terkait