BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Variabel Penelitian
Berdasarkan kajian teori diatas Arikunto (1998:10) mengemukakan bahwa
“Variabel objek penilitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”
maka peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa yang menjadi variabel bebasnya yaitu Hasil Belajar Aqidah Akhlak. sedangkan variabel terikatnya adalah Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) D. Defenisi Operasional Variabel
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam penafsiran maksud yang terkandung dalam judul penilitian ini, maka terlebih dahulu penulis memberikan pengertian/defenisi variabel penelitian secara operasional. Adapun variabel yang maksudkan antara lain:
1. Hasil belajar Aqidah Akhlak adalah suatu hasil yang di peroleh seseorang berdasarkan usaha yang di lakukan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa dalam proses pembelajaran Aqidah Akhlak yang kemudian dinilai dan diwujudkan dalam bentuk angka .
2. Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu proses pengajaran didalam kelas dengan menggunakan model pembelajaran CTL yang mengaitkan dunia nyata terhadap siswa dengan mata pelajaran, sehingga siswa mampu menarik sebuah makna di mana makna tersebut terlahir dari pengalaman (bukan makna dari sebuah dunia abstrak yang di kontruksi oleh siswa)
Jadi yang dimaksud dengan Hasil Belajar Aqidah Akhlak Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu suatu proses pengajaran didalam kelas untuk memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan model pembelajaran CTL yang mengaitkan dunia nyata terhadap siswa di MTs Ma’arif Tumbelgani Kabupaten Bantaeng.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini direncanakan dalam dua siklus.
Setiap siklus Penelitian dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan dan satu kali evaluasi.
Menurut Suharjono (2007:103) Adapun skema alur siklus yang direncanakan dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut :
Sumber : Suharjono (2007:103)
Berdasarkan skema di atas, maka prosedur kerja penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
1. Siklus I
a) Perencanaan
Dalam tahap ini, hal-hal yang dilakukan peneliti adalah:
Ide Awal
Menyusun Rencana Siklus
I
Tindakan Siklus I
Persiapan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran
Evaluasi
Observasi Siklus I
Refleksi
Analisi
Evaluasi
Belum Berhasil
Menyusun Rencana Siklus II Tindakan Siklus II
Persiapan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran
Evaluasi Observasi
Siklus II Refleksi
Analisis
evaluasi
Berhasil
1. Menelaah kurikulum Aqidah Akhlak Kelas VIII MTs.
2. Menyusun skenario pembelajaran.
3. Membuat lembar observasi.
4. Mendesain alat evaluasi dengan merencanakan analisis hasil tes.
b) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah kegiatan belajar mengajar untuk mengimplemintasikan materi yang telah disiapkan. Adapun rincian pelaksanaan kegiatan tersebut adalah:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru menyajikan materi.
3. Kesimpulan.
4. Evaluasi dan Refleksi.
5. Penutup.
c) Observasi
Kegiatan observasi dilakukan secara kontinu setiap kali pembelajaran berlangsung dalam pelaksanaan tindakan dengan mengamati tindakan guru dan aktivitas siswa.
d) Refleksi
Pada tahap fefleksi peneliti bersama guru bertindak sebagai observer mengkaji kekurangan dan tindakan yang telah diberikan. Hal ini dilakukan dengan cara melihat observasi pada siklus I. Jika refleksi menunjukkan bahwa tindakan siklus I memperoleh hasil yang belum optimal yaitu tidak tercapai kriteria ketuntasan minimal (memperoleh nilai 65), maka dilakukan siklus berikutnya.
2. Siklus II
a) Perencanaan
Dalam tahap ini, hal-hal yang dilakukan oleh peniliti adalah:
1. Menyusun Rencana Pembelajaran yang disesuaikan dengan siklus II.
2. Menyusun skenario pembelajaran yang disesuaikan dengan siklus II.
3. Membuat lembar observasi yang disesuaikan dengan siklus II.
4. Mendesain alat evaluasi dengan merencanakan analisis hasil tes.
b) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dirancang yang sesuai dengan siklus II.
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru menyajikan materi.
3. Peyimpulan.
4. Evaluasi dan refleksi.
5. Penutup.
c) Observasi
Kegiatan observasi dilakukan secara kontinu setiap kali pembelajaran berlangsung dalam pelaksanaan tindakan dengan mengamati tindakan guru dan aktivitas siswa.
d) Refleksi
Tahap refleksi ini peneliti bersama guru bertindak sebagai observer telah mengkaji kekurangan dan tindakan yang telah diberikan tindakan perbaikan- perbaikan sesuai dengan siklus I sehingga apa yang diharapkan bisa tercapai
sesuai dengan yang diinginkan. Jika hasil yang diperoleh pada siklus II sudah optimal yaitu tercapai kriteria ketuntasan minimal (memperoleh nilai 65), maka tidak perlu dilakukan siklus berikutnya, karena tercapai ketuntasan belajar.
F. Instrumen Penelitian 1. Lembar Observasi
Lembar observasi berupa catatan tentang situasi dan kondisi belajar siswa mengenai kehadiran murid, perhatian dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
2. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar berupa soal essay yang dilaksanakan setiap pertemuan akhir siklus yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran Aqidah Akhlak setelah mengikuti proses pembelajaran yang terlihat pada nilai yang diperolehnya.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Adapun teknik yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
1. Teknik Observasi adalah cara pengumpulan data dengan mengamati aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang dapat memperlihatkan pengelolaan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) oleh guru dan partisipasi siswa secara keseluruhan. Lembar pengamatan ini mengukur secara individual maupun kelas bagi keaktifan belajar mereka.
2. Teknik Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang telah diajarkan sehingga dapat ditentukan hasil belajar yang diperoleh oleh setiap siswa. Tes ini dilakukan pada akhir pertemuan setiap siklus
H. Teknik Analisis Data
Dalam analisis data, peneliti membandingkan hasil catatan yang dilakukan peneliti sendiri dengan catatan kolaborator. Dengan perbandingan tersebut, unsur kesubjektifan dapat dikurangi. Hasil penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif.
Data hasil belajar yang diperoleh dikategorikan berdasarkan kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Dalam Bukunya Asrori Moh. 2007:155) Kategorisasi tersebut terdiri atas 5 kriteria penilaian terhadap hasil belajar, yaitu kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi, sebagai berikut:
Tabel 3.1 Kategorisasi Hasil Belajar Tingkat Penguasaan Kategori
0 - 54 Sangat Rendah
55 - 64 Rendah
65 - 79 Sedang
80 - 89 Tinggi
90 - 100 Sangat Tinggi
Sumber: Asrori Moh. (2007: 155)
I. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah apabila hasil belajar Aqidah Akhlak siswa meningkat melalui penerapan model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning (CTL) yang dilihat dari peningkatan skor rata-rata hasil belajar siswa dari siklus I hingga siklus II.
Dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu tuntas individu apabila memperoleh skor minimal 65 dari skor ideal 100 dan tuntas klasikal apabila minimal memperoleh skor 85 dari jumlah siswa yang mendapat nilai lebih besar atau sama dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Di samping itu sikap, minat, keaktifan, kehadiran, kerjasama, dan motivasi belajar siswa terhadap model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning (CTL) menjadi lebih meningkat yang dapat dilihat pada saat pelaksanaan tindakan berlangsung dan hasil lembar observasi pada akhir setiap siklus.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Tumbelgani Kabupaten Bantaeng
Sejarah Berdirinya MTs. Ma’arif Tumbelgani Kacamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng yang di dirikan pada tahun 1990 pada awalnya sekolah ini di bangun di atas tanah dengan luas lokasi 45 meter persegi, dan tanah ini wakaf dari masyarakat setempat.
Alamat sekolah MTs. Ma’arif Tumbelgani Kabupaten Bantaeng Jl.
Bungung Barania No.04 Kelurahan Pallantikang Kecamatan Bantaeng Kabupaten/Kota Banteang Kode Pos : 92411 Propensi Sulawesi Selatan.
Berdasarkan Surat Keterangan Izin Pendirian Sekolah Yaitu Kepala Kementrian Agama Kabupaten Bantaeng :Wt/6-c/PP.03.2/377/1990. Dan Tanggal 28 Desember 1990 Telah Terdaftar Sebagai Sekolah Swasta di Kabupaten Bantaeng yang di naungi oleh Kementrian Agama Kabupaten Bantaeng.
Sejak berdirinya, MTs. Ma’arif Tumbelgani Kabupaten Bantaeng pada Tahun 1990 yang di pimpin Pertama kali oleh Hj. Maryam Khalid pada periode 1990-1999, periode Kedua di pimpin oleh H. Hasibu B.A pada tahun 1999-2005 dan periode Ketiga di pimpin oleh H. Muh. Badwi Jufri, S.Ag pada tahun 2005 sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan dan peningkatan baik dari sarana dan prasarana, penyelenggaraan kegiatan, maupun guru.
MTs Ma’arif Tumbelgani Kabupaten Bantaeng belum Terakreditasi pada tahun 1990 sampai sekarang.
39
1. Visi Dan MisiMTs. Ma’arif Tumbelgani Kab.Bantaeng a. Visi
Terwujudnya Generasi Yang Unggul Dalam Prestasi Trampil, Tekun Beribadah dan Berahklatul Kharimah
b. Misi
1) Menyelanggarakan pendidikan yang berkualitas dalam pencapaian prestasi akademik dan non akademi
2) Meningkatkan pengetahuan dan pretasionalisme tenega pendidikan sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan
3) Mewujudkan pembelajaran dan pembinaan dalam mempelajari Al-Quran, Fiqhi, dan Barasanji (Tamrinul Kitabih), Kreasi Seni dan Olahraga
4) Mewujudkan pembentukan karakter islami yang mampu mengaktualisasikan diri dalam masyarakat
5) Menyelenggarakan tata kelola madrashah yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel.
2. Keadaan GuruMTs. Ma’arif Tumbelgani Kab.Bantaeng
Guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, dalam usaha mengantarkan kepada siswa kedewasaan baik dalam berfikir maupun dalam bertingka laku. Oleh karena itu, guru dituntut keahliannya dalam mengajar dan mendidik siswanya, agar ilmu dan bidang studi yang diajarkan mudah diserap dan ditransfer anak didik. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan, ia merupakan salah satu
komponen dalam pendidikan, sehingga keberadaan sangat dibutuhkan. Bahkan tanpa guru, proses belajar mengajar tidak bisa akan terwujud.
Dengan demikian, nampak jelas bahwa keberhasilan suatu sekolah khususnya di MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng tergantung pada aktivitas dan kreativitas seorang guru dalam memberikan bimbingan dan pembelajaran terhadap siswa. Kemudian klasifikasi tenaga pengajar dan staf pengawai di MTs.
Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng sebanyak 25 orang termasuk kepala sekolah, dengan rincian 12 orang guru laki-laki dan 13 orang guru perempuan. Mengenai keadaan guru di MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng, penulis memberikan gambaran sebagaimana tercantum pada Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1
Keadaan guru di MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. BantaengTahun Ajaran 2015
No Nama Guru Jenis Kelamin L/P Ket/Status
1 H. Muh. Badwi Jufri., S.Ag L PNS
2 Hj. St. Nurlinda., S.Pd.I P PNS
3 Rostini., S.Pd P PNS
4 Muhammad Rusli., S.Pd L PNS
5 Sri Wahyuni., S.Pd P Honor
6 Ismail., SE L Honor
7 Ihsan., S.Pd L Honor
8 Syarifuddin., S.Pd L Honor
9 Subhan., S.Pd L Honor
10 Salam., S.Pd L Honor
11 Abd. Rahman., M. S.Pd L PNS
12 Drs. H. Abd Muin Jufri L PNS
13 Nur Afdan., S.Si L Honor
14 Andi Paradillah., S.Pd P PNS
15 Astuty .R., SS. S.Pd P PNS
16 Indrawati., S.Pd P Honor
17 Sri Wahyuni., S.Pd P PNS
18 Sofyan., S.Pd.I L Honor
19 Ahdaniar Bustang., S.Pd P Honor
20 Umrawati Hamring., S.Pd.I P Honor
21 Andi Nesti Ramdani P Honor
22 Dewi Sartika P Honor
23 Hajerah P Honor
24 Sahrul L Honor
25 Ulfah .M., SE P Honor
Jumlah Guru 12 13 25
Sumber: Kantor TU. MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng Tahun 2015 3. Struktur Organisasi
MTs.Ma’arif Tumbelgani Kab.Bantaeng
Komite Sekolah Sirajuddin. A.Ma.Pd
Kepala Sekolah H. Muh. Badwi Jufri.. S.Ag
Pengelola Perpus Hajerah
Peng. Leb. Fisika Nur Abdan. S.Si
Pengawai . T.U.
Dewi Sartika
Hajerah
Syahrul .L
Ulfah .M, SE Pramuka
Indrawati. S.Pd
Peng. Leb. Biologi Ihsan. S.Pd
PMR Andi Nasti .R
UD. Kurikulum Hj. St. Nurlindah S.Pd.I
UD. Kesiswaan Salam S.Pd.I
UD. Hub. Masya Ismail. SE UD. Sarana & Pra
Syarifuddin S.Ag
Wali Kelas VII.A Ahdaniar .B. S.Pd
VII.B Sri Wahyuni. S.Pd
VII.C Irnawati. S.Pd
Wali Kelas VIII.A Syarifuddin. S.Ag
VIII.B Ihsan. S.Pd
VIII.C Nur. Afdan. S.Si
Wali Kelas IX.A Ismail. SE
IX.B Hj. St. Nurlindah. S.Pd.I
Guru Mata Pelajaran
Siswa-Siswi
4. Keadaan SiswaMTs. Ma’arif Tumbelgani Kab.Bantaeng
Siswa merupakan objek utama bagi pendidik dalam dunia pendidikan formal. Oleh sebab itu dalam dunia pendidikan hendaknya ada suatu sistem yang tidak bisa dipisahkan disamping adanya berbagai fasilitas.
Adapun keadaan siswa MTs Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng pada Tahun Pelajaran 2015/2016 yaitu 181 siswa dengan perincian kelas VII.A sebanyak 25 siswa, kelas VII.B sebanyak 25 siswa, kelas VII.C sebanyak 23 siswa, kelas VIII.A sebanyak 19 siswa, kelas VIII.B sebanyak 18 siswa, kelas VIII.C sebanyak 19 siswa, kelas IX.A sebanyak 26 siswa dan kelas IX.B sebanyak 26 siswa. untuk lebih jelasnya, keadaan siswa MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab.
Bantaeng dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini : Tabel 4.2
Keadaan siswa MTs. Ma’arif Tumbelgani Kabupaten Bantaeng Tahun Pelajaran 2015
No Kelas Jumlah Siswa
Jumlah Laki-laki Perempuan
1 VII.A 9 16 25
2 VII.B 14 11 25
3 VII.C 11 12 23
4 VIII.A 6 13 19
5 VIII.B 7 11 18
6 VIII.C 7 12 19
7 IX.A 9 17 26
8 IX.B 11 15 26
Jumlah Siswa Keseluruhan 181
Sumber Data: Kantor TU. MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng Tahun 2015
5. Sarana Dan PrasaranaMTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng Sarana adalah suatu yang dapat dipakai sebagai alat atau media dalam mencapai suatu tujuan. Sedangkan prasarana adalah perangkap penunjang utama suatu proses atau usaha pendidikan agar tujuan pendidikan tercapai. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2005 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa setiap satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidik sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.
Sarana juga merupakan penunjang utama proses belajar mengajar disekolah tanpa sarana maka proses belajar tidak akan berjalan semaksimal mungkin. Oleh sebab itu proses belajar mengajar di MTs Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng cukup memadai dengan dilengkapinya sarana dan prasarana.
Mengenai sarana dan prasarana MTs Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng dapat dilihat pada Tabel 4.3 sebagai berikut :
Tabel 4.3
Sarana Dan Prasarana MTs. Ma’arif Tumbelgani Kabupaten Bantaeng
No Jenis, Ruangan, Gedung Sekolah Keterangan
Jumlah Baik Rusak
1. Ruangan Kepala Sekolah - 1
2. Ruangan Untuk Guru-Guru - 1
3. Ruangan Kelas Untuk Belajar - 8
4. Ruangan Tata Usaha - 1
5. Perpustakaan - 1
6. WC/ Kamar Kecil - 2
7. Gudang - 1
8. Ruang BK - 1
9. Aula Atau Ruangan Pertemuan - 1
10. Laboratorium IPA - 1
11. Laboratorium Komputer - 1
12. Kantin Sekolah - 1
13 Halaman Sekolah - 1
Sumber Data: Kantor TU. MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng Tahun 2015
B. Hasil Penelitian
Pada bab ini membahas tentang hasil penelitian yang menunjukkan
“Peningkatan hasil belajar Aqidah Akhlak” siswa kelas VIII.B MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng setelah diterapkan model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning (CTL)
Metode pelaksanaannya mengikuti prinsip kerja Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang merupakan penelitian yang menggunakan beberapa siklus, setiap siklus terdapat empat tahap yaitu Perencanaan (Planning), Tindakan (Action), Pengamatan (Observation), dan Refleksi (Reflection). Pelaksanaan penelitian ini dimulai pada tanggal 03 Februari sampai dengan 24 Maret 2015
Data yang digunakan menggunakan analisis kualitatif yaitu data hasil pengamatan, sedangkan data tentang hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan Statistik Deskriptif yaitu skor rata-rata, standar deviasi, frekuensi dan persentase nilai terendah dan nilai tertinggi yang dicapai siswa setiap siklus.
C. Penyajian Data Siklus I
Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus I pembelajaran Aqidah Akhlak dengan materi yang diberikan pada pertemuan Pertama Siklus I adalah Namimah (Mengadu Domba), pertemuan Kedua Siklus I dengan materi yang diberikan adalah Dendam, dan Pertemuan Ketiga siklus I tentang materi yang diberikan adalah Hasad (Iri Hati, Dengki), meliputi Empat Tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Masing-masing kegiatan diuraikan sebagai berikut:
1. Tahap Perancanaan
Pada Tahap Perencanaan pembelajaran Aqidah Akhlak pada siklus I.
Peneliti dan guru kelas VIII.B MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng berkolaborasi dalam mempersiapkan dan melakukan hal sebagai berikut:
a) Menelaah kurikulum/Silabus Aqidah Akhlak Kelas VIII.B
b) Menyusun skenario pembelajaran yang berkolaborasi dengan guru kelas VIII.B MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Untuk setiap kali pertemuan pada Siklus I.
c) Membuat Lembar Observasi.
d) Mendesain Alat Evaluasi dengan merencanakan analisis hasil tes sebagai alat evaluasi untuk mengetahui hasil yang diperoleh oleh siswa.
Setelah peneliti melakukan hal tersebut diatas kemudian peneliti mengimplementasikannya pada saat proses pembelajaran berlangsung sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Adapun Pelaksanaan tindakan Siklus I pada pertemuan I dilaksanakan pada hari Selasa 03 Februari 2015 pukul 10.30 sampai 12.00, Pertemuan II pada Hari Selasa 10 Februari 2015 pukul 10.30 sampai 12.00, dan Pertemuan III pada Hari Selasa 17 Februari 2015 pukul 10.30 sampai 12.00, dengan Materi Akhlak Tercelah Kepada Sesama Manusia.
Pelaksanaan Tindakan Peneliti ini, bertindak sebagai guru dan guru kelas sebagai observer. Observer memperhatikan guru dalam mengajarkan materi dengan berorientasi pada tahap-tahap Penerapan Model Pembelajaran Contekstual Teaching and Learning (CTL) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Aqidah Akhlak pada Siswa Kelas VIII MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng dan mengoptimalkan peran siswa dalam proses belajar mengajar. Proses pembelajaran pada Siklus I dibagi menjadi 3 tahapan sesuai dengan Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran yaitu Kegiatan Awal, Kegiatan Inti Dan Kegiatan Akhir.
Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan pada Siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini :
K E G I A T A N
Waktu Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Nilai / Karakter
15 M e n i t
Guru menyampaikan untuk berdoa sebelum belajar dan absensi
Menanyakan kabar siswa serta
Mengecek kehadiran dan kesiapan siswa serta kebersihan kelas
Guru memberikan motivasi,mengkondisi
Peserta didik berdoa bersama dan absensi
Peserta didik memberikan respon dan berpartisipasi aktif
Religius
Disiplin
A W A L
kan peserta didik untuk mengikuti pelajaran
Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Peserta didik menyimak penyampaian guru
Rasa ingin tahu
K E G I A T A N
I N T I
45 M e n i t
a). Eksplorasi
Guru mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan.
Guru menyajikan materi kepada siswa.
b). Elaborasi
Guru meminta siswa untuk menjelaskan kembali tentang Materi yang diajarkan
Guru memberikan Tugas kepada siswa
c). Konfirmasi
Guru memberikan evaluasi penilaian kepada siswa
Peserta didik memperhatikan dan merespon penjelasan guru
Peserta didik berpartisipasi
Peserta didik mengerjakan tugas secara individu
Disiplin
Komunikatif
Mandiri
Jujur
Mandiri
K E G I A T A N A K H I R
20 M e n i t
Guru memberikan refleksi dengan memberikan informasi pembelajaran
Guru memberikan kesimpulan
Guru memberikan pesan-pesan moral
Guru menutup pelajaran dengan mengajak murid berdoa bersama-sama
Keluar kelas dengan tertib pada waktunya
Peserta didik menindak lanjuti hasil refleksi
Peserta didik berdoa bersama- sama
Kreatif
Religius
3. Tahap Observasi/Pengamatan
Kegiatan Observasi/pengamatan dilakukan secara kontinu setiap kali pembelajaran berlangsung dalam pelaksanaan tindakan dengan mengamati tindakan guru dan aktivitas siswa dengan menggunakan Analisis Kualitatif.
a) Hasil observasi guru pada Siklus I Pertemuan 1, 2 dan 3 menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan beberapa aspek yang direncanakan sesuai dengan Langkah-Langkah Model Pembelajaran Contekstual Teaching and Learning (CTL) antara lain sebagai berikut:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru menyajikan materi pembelajaran sebagai pengantar.
3. Peyimpulan.
4. Evaluasi dan refleksi.
5. Penutup.
b) Hasil observasi sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran Siklus I pertemuan 1, 2 dan 3 antara lain sebagai berikut :
1. Hasil Analisis Kualitatif
Selama berlangsungnya penelitian pada Siklus I tercatat sikap yang terjadi pada setiap siswa terhadap pelajaran Akidah Akhlak. Sikap siswa tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung dikelas.
Data tentang sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran Akidah Akhlak diperoleh melalui lembar observasi. Sedangkan deskriptif tentang sikap siswa
selama mengikuti proses pembelajaran pada siklus I ditunjukkan pada Tabel 4.5 berikut :
Tabel 4.5 Hasil Observasi Sikap Murid Selama Mengikuti Proses Pembelajaran Siklus I.
No Aspek yang diamati Pertemuan
Jumlah Persentasi 1 2 3 4 (%)
1. Jumlah kehadiran siswa pada
saat pembelajaran 14 15 16 T
E S S I K L U S I
45 75,21
2. Siswa yang memperhatikan
pada saat proses pembelajaran 9 11 13 33 53,30
3.
Siswa yang memberi respon pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran
10 13 14 37 61,50
4.
Siswa yang mengajukan pertanyaan mengenai materi pelajaran yang belum dimengerti
9 10 12 31 51,60
5.
Siswa yang kurang percaya diri dalam mengerjakan soal (tidak mengerjakan, menyontek, dll)
10 12 10 32 53,10
6.
Siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses
pembelajaran (bermain, dll)
9 11 9 29 48,30
Rata-rata 57,16
Adapun sikap siswa dari siklus I adalah sebagai berikut :
a. Masih banyak siswa yang tidak hadir mengikuti pelajaran baik itu tidak hadir tanpa keterangan maupun yang izin dengan persentasi 75.21%.
b. Perhatian siswa pada siklus I ini masih rendah seperti kurang antusiasnya siswa pada saat proses pembelajaran dan menyelesaikan Lembar Kerja Siswa secara individu dengan jumlah persentase 53,30%
c. Siswa yang mengajukan pertanyaan mengenai materi pelajaran yang belum dimengerti dengan jumlah persentase 51,60%
d. Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar sudah baik tetapi siswa yang memberi respon pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran tidak maksimal dengan jumlah persentase 61,50%
e. Siswa yang kurang percaya diri dalam mengerjakan soal (tidak mengerjakan, menyontek, dll) dengan jumlah persentase 53,10%
f. Siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (bermain, ribut, dll) dengan jumlah persentase 48,30%
2. Hasil Belajar Siswa Siklus I a. Hasil Analisis Kuantitatif
Pada siklus I dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian setelah penyajian materi selama 3 kali pertemuan. Adapun data skor hasil belajar siklus I dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini :
Tabel 4.6 Statistik Skor Hasil Belajar Siswa KelasVIII MTs. Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng
No Statistik Nilai Statistik
1 Jumlah Objek 18
2 Skor Ideal 90
3 Skor Tertinggi/Maksimun 90
4 Skor Terendah/Minimun 50
5 Skor Rata-Rata 64,42
6 Median/Nilai Tengah 65
7 Rentang Skor 70
8 Standar Deviasi 50
Berdasarkan tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa siswa kelas VIII MTs.
Ma’arif Tumbelgani Kab. Bantaeng yang berjumlah 18 siswa yang diajar melalui Penerapan Model Pembelajaran Contekstual Teaching and Learning (CTL) dalam