BAB II TINJAUAN UMUM ............................................................................................ 18-41
B. Wabah
28
2. Wabah dalam Islam
Dalam riwayat kenabian kata al-Waba>'/al-T{a'u>n telah memicu sejumlah besar diskusi dan usaha untuk menafsirkan sesuatu ketika kitab-kitab hadis utama yang disusun pada abad ketiga dan keempat Hijriyah menjadi objek komentar terperinci di kemudian hari. Pada pertenganhan abad ke-7 H / 13 M, perkataan tentang al-Ta>‘u>n dan al-Waba>' yang dikaitkan dengan Nabi saw.
menuntut adanya klarifikasi yang cukup besar, sehingga tidak mengherankan ketika dalam kitabnya Syarah S}ah}i>h} Muslim, imam al-Nawawi> merasa perlu untuk berhenti sebentar, mengumpulkan bukti yang ada dan mempertimbangkan secara rinci pernyataan tentang identitas al-Ta>‘u>n dan hubungannya dengan al- Waba', karena banyaknya keterangan pendahulu tentangnya yang telah hilang.
Pada kesempatan pertama, ia berkomentar tentang sejarah panjang t}awa>'i>n pada masa awal Islam.19 Di sini, al-Ta'u>n didefinisikan sebagai:
"Sejenis pestilence (waba') yang sangat terkenal, yang melibatkan pustula dan pembengkakan yang sangat menyakitkan, yang erupsinya disertai dengan peradangan yang membuat sensasi terbakar. Daerah sekitanya menghitam dan menjadi gelap atau memerah menjadi ungu suram yang disertai dengan terjadinya palpitasi detak jantung dan rasa mual."
Kemudian, dalam kesempatan kedua,20 al-Nawawi> memperhatikan masalah ini secara lebih rinci:
"Al-T{a>'u>n merupakan penyakit berupa pustula purulen (quruh) yang mengalami erupsi pada tubuh, muncul di selangkangan, aksila, tangan, jari-
19Lihat al-Nawawi> Muh}yi al-Di>n Yah}ya> bin Syarf Abu> Zakariya>, al-Minha>j Syarh} S{ah}i>h}
Muslim ibn al-H{ajja>j, Juz 1 (Cet. III; Bairu>t: Da>r Ih}ya>' al-Tura>s\ al-'Arabi>, 1392 H.), h. 105.
20Lihat al-Nawawi>, al-Minha>j Syarh} S{ah}i>h} Muslim ibn al-H{ajja>j, Juz 14, h. 204.
jari dan di tempat lain pada tubuh, disertai dengan pembengkakan dan rasa sakit yang hebat. Erupsi tumor-tumor ini disertai oleh peradangan yang menimbulkan sensasi terbakar, daerah di sekitarnya menghitam dan menjadi gelap atau memerah menjadi ungu yang suram, disertai palpitasi detak jantung dan rasa mual."
Adapun waba', al-Khalil dan yang lainnya mengatakan bahwa ia berarti al-Ta'u>n, juga berarti penyakit pada umumnya. Tetapi yang benar seperti yang dilaporkan oleh mereka yang lebih paham adalah bahwa melibatkan suatu kondisi penyakit yang memengaruhi sebagian besar populasi pada satu wilayah tertentu, berbeda dengan daerah lain. Ia berbeda dari penyakit biasa dalam hal prevalensi dan dalam hal lain, di mana dalam al-Waba>' hanya satu jenis penyakit yang diderita oleh banyak orang, berbeda dengan kondisi orang sakit yang mengalami berbagai jenis penyakit. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa setiap al- Ta'u>n adalah al-Waba>', tetapi tidak setiap al-Waba>' adalah al-Ta'u>n.
David Ayalon menyinggung masalah ini dalam artikelnya, the Plague and its Effects upon the Mamluk Army, dan dalam sebuah studi tentang salah satu risalah utama dalam bahasa Arab, Jacqueline Sublet mencatat bahwa pada abad pertengahan, berbagai penyakit epidemi termasuk kolera dan yang lainnya, serta bubonic plague, disebut sebagai plague.21 Dols yang mencurahkan banyak perhatian pada masalah terminologi menggambarkan t}a'u>n dan waba', di mana t}a'u>n lebih spesifik daripada waba'. Untuk pandemi pertama, ia mengamati bahwa gejalanya tidak sepenuhnya dijelaskan dalam sumber-sumber Arab dan
21"La peste aux retsde la jurisprudence: le traited 'Ibn Hajar al-Asqala>ni> sur la peste", Studi Islamica, h. 142.
30
ada keraguan dalam hal apakah semua epidemi yang disebut sebagai t}awa>'i>n untuk periode ini sebenarnya wabah plague.22
Kebingungan ini tidak luput dari para ulama Arab pada akhir abad pertengahan. Dalam risalahnya yang berbicara plague, Ibn Hajar al-'Asqala>ni>
(852) mengklaim bahwa penulis sebelumnya tidak hanya gagal dalam membedakan berbagai penyakit yang ada, bahkan mereka memasukkan bencana alam seperti banjir, kelaparan dan kekeringan dalam daftar plague. Para leksikografer akhir abad pertengahan menggambarkan bahwa dua kata t}a'u>n dan waba' adalah sinonim, yang berarti epidemi atau pestilence.23
Paparan-paparan di atas, baik dari pengertian, sinonim dan sejarah diskursus tentang al-Ta>‘u>n dalam Islam menunjunjukkan bahwa al-Ta>‘u>n adalah segala penyakit yang dapat menyebar luas dari satu makhluk ke makhluk lainnya, dari satu orang ke orang lain dan dapat membahayakan nyawa. Sementara wabah lebih spesifik kepada keadaan rusaknya sesuatu, baik lingkungan atau badan.
3. Wabah dalam Kesehatan
Dalam al-Mu‘jam al-Wasi>t{. Ibra>hi>m Mus}t}afa> dkk menjelaskan bahwa
نوغاعما
adalah penyakit neoplastik epidemik yang disebabkan oleh kuman / bakteri yang menginfeksi (menimpa) tikus dan ditularkan oleh kutu kepada tikus lainnya hingga menimpa manusia. Hal serupa juga dinukilkan oleh Ibn H}ajar al-‘Asqala>ni> dalam kitabnya Baz\l al-Ma‘u>n fi> al-Ta>‘u>n dari Yu>suf Khiat}.24
22Lebih lanjut lihat; Lawrence I. Conrad, T{a'u>n dan Waba' Konsep Plague dan Pestilence dalam Awal Periode Islam, Makalah, American University of Bairu>t.
23Lihat; Edward William Lane, An Arabic-English Lexicon, Juz 5(London, 1893 M.), h.
1856. Lihat juga; G. W. Freytag,, Lexicon Arabico-Latinum (Halis Saxonum, 1837 M.), h. 376.
24Lihat Ibra>hi>m Mus}t}afa>, dkk., al-Mu‘jam al-Wasi>t}, Juz 2, (Kairo: Da.r al-Da‘wah, t.th.), h. 558. Lihat juga Ah}mad bin ‘Ali> bin H}ajar al-‘Aqala>ni>, Baz\l al-Ma>‘u>n fi al-T}a‘u>n, (Riya>d}: Da>r al-‘A<s}imah; t.th.), h. 22.
Beranjak dari penjelasan tentang kata al-Ta>‘u>n di atas, baik dari segi bahasa maupun istilahnya, dapat dipahami bahwa al-Ta>‘u>n adalah sebuah penyakit menular yang dapat menimpa / menulari setiap makhluk hidup, baik hewan maupun manusia. Penyakit tersebut berasal dari kuman yang menghinggapi makhluk hidup (hewan atau manusia) yang kemudian menyebar dengan bantuan kutu pada hewan dan cairan pada manusia.
Selain dengan kata al-Ta>‘u>n , wabah penyakit juga terkadang disebut dengan kata al-Waba>’. Majiduddin Abu> al-Sa‘a>da>t membedakan antara kata al- Ta>‘u>n dan al-Waba>’, yakni; kata al-Ta>‘u>n adalah penyakit secara umum, sedangkan kata al-Waba>’ ialah suatu penyakit yang mencemari udara, merusak suasana hati dan badan.25 Wabah ini adalah materi yang beracun, menyebabkan luka bengkak yang mematikan pada bagian-bagian yang lembut dari tubuh.
Penyebabnya adalah darah kotor yang membuat pembusukan hingga menyebabkan kematian. Lebih lanjut Ibn Hajar menjelaskan al-Waba>’ adalah penyakit yang menyerang seluruh manusia dan terjadi di waktu yang sama dengan penyakit yang sama, sebagaimana yang dikutip oleh Saifuddin Dhuhri dalam artikelnya.26
Di sini t}a'u>n kembali dikaitkan dengan adanya bubo purulen di pangkal paha dan aksila akibat plague. Data medis modern menegaskan bahwa rasa sakit pada bubo ini sering terjadi, disertai demam yang sangat tinggi (40-42 derjat celcius), dengan intensitas yang dapat menyebabkan korban jatuh pingsan atau mengalami histeria dan delirium. Serangan besar-besaran plague bacilli pada
25Lihat Majid al-Di>n Abu> al-Sa‘a>da>t al-Muba>rak bin Muh}ammad bin Muh}ammad bin Muh}ammad ibn ‘Abd al-Kari>m al-Syaiba>ni>, al-Niha>yah fi> Gari>b al-H}adi>s\ wa al-As\ar, Juz 3, (Bairu>t: al-Maktabah al-Ilmiah, 1399 H/1979 M), h. 127.
26Saifuddin Dhuhri, "Sejarah Singkat Ulama dalam Merespon Wabah", Artikel, (2020):
h. 2.
32
organ internal biasanya menyebabkan antara lain, komplikasi, mual dan jantung berdebar-debar, serta bercak-bercak yang berubah warna pada kulit, seperti yang dimaksud oleh para penulis kedokteran. Al-Nawawi> dengan jelas menggambarkan kondisi yang biasa diamati dalam kasus bunonic plague yang berulang.
Ada satu bagian yang tampak aneh dari penjelasan di atas. Ibn Sina dan al-Nawawi> menyebutkan bahwa pembengkakan atau pustula tidak hanya di area tubuh di mana kelenjar getah bening yang meradang menyebabkan bubo yang khas, tetapi juga di tempat-tempat lain, seperti jari dan tangan, di mana t}a'u>n tidak mungkin dimaknai dengan bubonic plague. Demikian pula dengan sumber- sumber sastra, ditemukan kasus-kasus di mana seseorang dikatakan diserang t}a'u>n pada bagian leher, tetapi seringkali ada penjelasan tentang korban yang mengalami t}a'u>n sangat parah, kasusnya pada bagian jari-jemari.27 Kemudian istilah itu tampaknya dapat dimaksudkan tidak hanya pada penyakit itu sendiri dan pada bubo, tetapi juga pada bercak-bercak yang berubah warna, pustula dan manifestasi kulit lainnya yang disebabkan oleh kerusakan yang ditimbulkan oleh plague bacilli di aliran darah dan jaringan subkutan.28