SYAHID DALAM WABAH PERSPEKTIF HADIS
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Meraih Gelar Sarjana Agama (S.Ag) pada Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Univeristas Islam Negeri Alauddin Makassar
Oleh:
Muh Ridwan NIM: 30700117071
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2022
ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Muh Ridwan
NIM : 30700117071
Tempat/Tanggal Lahir : Cumpiga, 11 November 1999
Jurusan : Ilmu Hadis
Fakultas : Ushuluddin dan Filsafat
Judul : Syahid dalam Wabah Perspektif Hadis
Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya sendiri. Jika dikemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Samata, 04 Februari 2022 Penyusun,
Muh Ridwan NIM: 30700117071
iii
PENGESAHAN SKRIPSI
iv
KATA PENGANTAR
مي ِحَّرلا ن َمْحَّرلا الله مسِب
Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah swt. Tuhan Yang Maha Pengasih dan penyayang bagi setiap hati makhluk-Nya dimuka bumi ini, yang mengajarkan ilmu kepada manusia dan kepada-Nya manusia yang beriman bersujud dan berdo’a memohon perlindungan dan meminta pertolongan serta keselamatan dunia dan akhirat.
Salawat dan salam tidak lupa penulis limpahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad saw. yang telah menyampaikan risalah, amanat dan nasehat keislaman kepada seluruh manusia. Semoga Allah memberinya kebaikan, wasilah, keutamaan, kemuliaan dan kedudukan yang tinggi.
Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari doa yang senantiasa dipanjatkan oleh kedua orang tua penulis, H. Dahang dan Hj. Madina keduanya senantiasa memberikan nasehat, semangat dan doa tanpa henti kepada penulis.
Selanjutnya, kepada kakak kandung penulis, Suriani, Sabri, Kartini dan Hamsah yang selalu memberikan semangat kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Skripsi ini dapat terselesaikan dengan adanya bantuan yang penulis peroleh dari berbagai pihak. Tidak memungkinkan menyebutkan mereka satu persatu di sini. Meskipun begitu, pihak yang secara langsung terkait dan berjasa dalam pengerjaan tulisan ini harus disebutkan. Namun, penulis memohon pengertian mereka yang seharusnya disebutkan namun tidak disebutkan karena keterbatasan ruang atau mungkin juga karena penulis terlupa dalam mencantumkannya.
v
Selanjutnya, izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak- pihak yang berkontribusi dalam penyelesaian studi strata 1 Program Studi Ilmu Hadis di UIN Alauddin Makassar:
1. Prof. Drs. Hamdan Juhanis M.A., Ph.D; Prof. Dr. Mardan, M. Ag; Dr.
Wahyuddin, M. Hum; Prof. Dr. Darussalam, M. Ag; Dr. H. Kamaluddin Abunawas, M. Ag. Selaku Rektor, wakil Rektor I, II, III, dan IV UIN Alauddin Makassar (periode 2019-2024).
2. Dr. Muhsin Mahfudz, M. Ag; Dr. Hj. Rahmi Damis, M.Ag; Dr.
Darmawati H., S. Ag., M. Hi. Selaku dekan, wakil dekan I, II, dan III Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik (periode 2019-2024).
3. Andi Muh. Ali Amiruddin, S.Ag. M.A. dan Dr. Muhammad Ali, M. Ag.
Selaku ketua dan sekretaris jurusan Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar (periode 2019-2024).
4. Prof. Dr. Arifuddin Ahmad, M.Ag. dan Andi Muh. Ali Amiruddin, S.Ag.
M.A. selaku pembimbing I dan II penulis yang senantiasa memberikan bimbingan kepada penulis selama proses penyelesaian skripsi ini.
5. Dr. Andi Darussalam, M.Ag. dan Ibunda Dr. Risna Mosiba, Lc., M.Th.I.
selaku penguji I dan II penulis yang selalu memberikan kritikan dan saran- saran untuk perbaikan penulisan skripsi ini.
6. Ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada Musyrif Ma’had Aly Tafsir Hadis Khusus, yakni ayahanda Dr. Abdul Ghany Mursalin, S. Th.I., M.Th.I. yang telah senantiasa memberikan semangat dan sekaligus menjadi orang tua yang selalu mengingatkan, memberikan nasehat, motivasi dan dukungan moril lainnya selama penulis menempuh studi.
7. Seluruh dosen di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar yang telah berjasa mengajar dan mendidik penulis
vi
selama menjadi mahasiswa di UIN Alauddin Makassar serta staf akademik yang dengan sabarnya melayani penulis dan tetap ramah terhadap mahasiswa, utamanya bagi kami yang berada di tahap penyelesaian.
8. Terima kasih juga kepada keluarga besar SANAD (student and alumnus department sanad of tafsir hadis khusus Makassar) kepada kakak-kakak terkhusus kepada kakanda M. Yusuf Assagaf, S.Ag. M.Ag. yang masih sempat meluangkan waktunya untuk memberikan saran-saran dan masukan kepada penulis selama proses penyelesaian skripsi ini.
9. Sanak keluarga yang telah memberikan dukungan dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Penulis belum bisa memberikan apa-apa. Tetapi penulis memohon kepada Allah swt. agar memberikan kemurahannya untuk mereka.
10. Teman-teman SANTHREE (sanad tafsir hadis khusus Makassar angkatan thirteen) saudara sema’had yang selalu bersedia membantu, mengingatkan dan memberikan semangat tambahan kepada penulis.
Terima kasih banyak atas kebersamaan, persahabatan, candaan, dan beragam kisah lainnya selama ini, panjang umur hal-hal baik.
11. Teman-teman penulis, khususnya kelas ilmu hadis khusus yang menemani berjuang dari awal hingga akhir dalam perjalanan studi hadis ini yang senantiasa memberikan semangat dan ilmu-ilmu tentang akhirat dan duniawi.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu, namun tidak sempat penulis sebutkan namanya. Semoga bantuan dan motivasi yang telah diberikan bernilai ibadah di sisi-Nya. semoga Allah swt. senantiasa meridhoi semua amal usaha yang peneliti telah laksanakan
vii
dengan penuh kesungguhan serta keikhlasan. Selanjutnya semoga Allah swt.
merahmati dan memberkahi segala perjuangan positif dalam penulisan skripsi ini.
Sebagai suatu karya ilmiah, skripsi ini masih mempunyai banyak kekurangan-kekurangan di dalamnya, baik yang berkaitan dengan materi maupun metodologi penulisan. Karena itu, sumbangan pemikiran yang konstruktif sangatlah diharapkan dalam rangka penyempurnaan karya ilmiah ini.
Samata, 14 Februari 2022 Penulis,
Muh Ridwan NIM: 30700117071
viii DAFTAR ISI
JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... viii
PEDOMAN TRANSLITERASI ... x
ABSTRAK ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1-17 A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Pengertian Judul dan Ruang Lingkup Pembahasan ... 8
D. Kajian Pustaka ... 11
E. Metodologi Penelitian ... 13
F. Tujuan dan Kegunaan ... 16
BAB II TINJAUAN UMUM ... 18-41 A. Syahid ... 18
1. Definisi Syahid ... 18
2. Macam-Macam Syahid ... 19
3. Bentuk-Bentuk Syahid ... 23
B. Wabah ... 27
1. Definisi Wabah ... 27
2. Wabah dalam Islam ... 28
3. Wabah dalam Kesehatan ... 30
C. Kaedah Kesahihan Hadis ... 32
BAB III KUALITAS HADIS ... 42-80 A. Klasifikasi Melalui Takhri>j al-H{adi>s\ Syahid Dalam Wabah ... 42
1. Pengertian Takhri>j al-H{adi>s\ ... 42
2. Metode Takhri>j al-H{adi>s\ ... 42
3. Pengumpulan Hadis dari Beberapa Kitab Sumber ... 47
4. I’tibar Sanad ... 53
ix
B. Penilaian Terhadap Matan dan Sanad Hadis Syahid dalam Wabah ... 57
1. Naqdl al-Sanad ... 57
2. Naqd al-Matan ... 70
3. Natijah Kualitas Sanad dan Matan ... 80
BAB IV ANALISIS KANDUNGAN DAN PENERAPAN HADIS SYAHID DALAM WABAH ... 81-96 A. Hakikat Syahid Saat Terjadi Wabah ... 82
B. Syarat Memperoleh Gelar Syahid ataupun Pahalanya ... 88
C. Penerapan Syahid dalam Wabah Terhadap Kondisi Kekinian ... 93
BAB V PENUTUP ... 97-99 A. Kesimpulan ... 97
B. Implikasi Penelitian ... 99 DAFTAR PUSTAKA ... 100-105
x
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN DAN SINGKATAN A. Transliterasi Arab-Latin
Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam bahasa latin dapat dilihat sebagsi berikut:
1. Konsonan
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama
ا
Alif tidak dilambangkan tidak dilambangkanب
Ba B Beت
Ta T Teث
s\a s\ es (dengan titik di atas)ج
Jim J Jeح
h}a h} ha (dengan titik di bawah)خ
Kha Kh ka dan haد
Dal D Deذ
z\al z\ zet (dengan titik di atas)ر
Ra R Erز
Zai Z Zetس
Sin S Esش
Syin Sy es dan yeص
s}ad s} es (dengan titik di bawah)ض
d}ad d} de (dengan titik di bawah)ط
t}a t} te (dengan titik di bawah)ظ
z}a z} zet (dengan titik di bawah)ع
‘ain ‘ apostrof terbalikغ
Gain G Gexi
ؼ
Fa F Efؽ
Qaf Q Qiؾ
Kaf K Kaؿ
Lam L Elـ
Mim M Emف
Nun N Enك
Wau W Weق
Ha H Haء
Hamzah ’ Apostrofم
Ya Y YeHamzah (
ء
) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apapun. Jika ia terletak di tengah atau akhir, maka ditulis dengan tanda (’).2. Vokal
Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.
Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
َ ا fath}ah a A
َ ا Kasrah i I
َ ا d}ammah u U
Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
َ ى ى
fath}ah dan ya>’ Ai a dan iَ و ػى
fath}ah dan wau Au a dan ixii Contoh:
َ ف ي ك
: kaifaؿ و ه
: haula3. Maddah
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Harakat dan
Huruf Nama Huruf dan
Tanda Nama
لَ ...ََ ...
fath}ah dan alif atau ya>’ a> a dan garis di atasل
kasrah dan ya>’ i> i dan garis di atasو ى
d}ammah dan wau u> u dan garis di atas Contoh:َ تا م
: ma>taى م ر
:rama>َ ل ي ق
:qi>laَ ت و يَ
:yamu>tu 4. Ta>’ marbut}ahTransliterasi untuk ta>’ marbu>t}ah ada dua, yaitu: ta>’ marbu>t}ah yang hidup atau mendapat harakat fath}ah, kasrah, dan d}ammah, transliterasinya adalah [t].
Sedangkan ta>’ marbu>t}ah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah [h].
Kalau pada kata yang berakhir dengan ta>’ marbu>t}ah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta>’
marbu>t}ah itu ditransliterasikan dengan ha (h).
xiii Contoh:
َ ؿاف ط لأ اَ ة ض ك ر
: raud}ah al-at}fa\>lَ ة ن ػي د م ل ا
َ ة ل ضا فلا
: al-madi>nah al-fa\>d}ilahَ ة م ك لْ ا
: al-h}ikmah5. Syaddad (Tasydi>d)
Syaddah atau tasydi>d yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydi>d ( ّ), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.
Contoh:
َ انَّب ر
: rabbana>َ ان يَّ نَ
: najjaina>ق َحْلَا : al-h}aqq
َ مّع ػن َ
: nu‘‘imaَ ك د ع
: ‘aduwwunJika huruf ى ber-tasydid di akhir sebuah kata dan didahului oleh huruf kasrah (
َ ِ
), maka ia ditransliterasi seperti huruf maddah menjadi i>.Contoh:
َ ي ل ع
: ‘Ali@ (bukan ‘Aliyy atau ‘Aly)َ ب ر ع
: ‘Arabi@ (bukan ‘Arabiyy atau ‘Araby)6. Kata Sandang
Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf لا (alif lam ma‘rifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika ia diikuti oleh huruf syamsiyyah maupun huruf qamariyyah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).
xiv Contoh:
َ س مَّشل ا
: al-syams (bukan asy-syamsu)َ ة ل ز لَّز ل ا َ
: al-zalzalah (az-zalzalah)َ ة ف س ل ف ل ا
: al-falsafahَ د لا ب ل ا
:al-bila>d 7. HamzahAturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrof (’) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.
Contoh:
َ ف ك ر م أ ت
: ta’muru>nَ ء وَّػنل ا
: al-nau‘َ ء ى ش
: syai’َ ت ر م أ
: umirtu8. Penulisan Kata Arab yang Lazim Digunakan dalam Bahasa Indonesia Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, atau sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia, atau lazim digunakan dalam dunia akademik tertentu, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya, kata al-Qur’an (dari al-Qur’a>n), alhamdulillah, dan munaqasyah. Bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab, maka harus ditransliterasi secara utuh. Contoh:
Fi> Z}ila>l al-Qur’a>n
Al-Sunnah qabl al-tadwi@n
xv 9. Lafz} al-Jala>lah (
للها
)Kata ‚Allah‛ yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya atau berkedudukan sebagai mud}a>f ilaih (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.
Contoh:
َ للاَ ن ي د
di>nulla>hَ للاا ب
billa>hAdapun ta>’ marbu>t}ah di akhir kata yang disandarkan kepada lafz} al- jala>lah, ditransliterasi dengan huruf [t]. Contoh:
َ للاَ ة حْ رَ فَِ م ه
hum fi> rah}matilla>h 10. Huruf KapitalWalau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (All Caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenai ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (Al-). Ketentuan yang sama juga berlaku untuk huruf awal dari judul referensi yang didahului oleh kata sandang al-, baik ketika ia ditulis dalam teks maupun dalam catatan rujukan (CK, DP, CDK, dan DR). Contoh:
Wa ma> Muh}ammadun illa> rasu>l
Inna awwala baitin wud}i’a linna>si lallaz\i> bi Bakkata muba>rakan Syahru Ramad}a>n al-laz\i> unzila fi>h al-Qur’a>n
Nas}i>r al-Di>n al-T}u>si>
xvi Abu> Nas}r al-Fara>bi>
Al-Gaza>li>
Al-Munqiz\ min al-D}ala>l
Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibn (anak dari) dan Abu>
(bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus disebutkan sebagai nama akhir dalam daftar pustaka atau daftar referensi.
Contoh:
B. Daftar Singkatan
Beberapa singkatan yang dibakukan adalah:
swt. = subh}a>nahu> wa ta’a>la>
saw. = s}allalla>hu ‘alaihi wa sallam a.s. = ‘alaihi al-sala>m
H = Hijrah
M = Masehi
SM = Sebelum Masehi
L = Lahir tahun (untuk orang yang masih hidup saja) w. = Wafat tahun
QS.../...: 4 = QS al-Baqarah/2: 4 atau QS A<l ‘Imran/3: 4 HR = Hadis Riwayat
Abu> al-Wali@d Muh}ammad ibn Rusyd, ditulis menjadi: Ibnu Rusyd, Abu> al- Wali>d Muh}ammad (bukan: Rusyd, Abu> al-Wali@> Muh}ammad Ibn) Nas}r H}a>mid Abu Zaid, ditulis menjadi: Abu> Zai@d, Nas}r H}a>mid (bukan: Zaid,
Nas}r H}a>mi>d Abu> )
xvii ABSTRAK Nama : Muh Ridwan
Nim : 30700117071 Prodi : Ilmu Hadis
Fakultas : Ushuluddin dan Filsafat
Judul : Syahid dalam Wabah Perpektif Hadis
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis syahid dalam wabah perspektif hadis dan penerapannya dalam kondisi kekinian. Adapun pokok masalah dalam penelitian ini adalah; 1) Bagaimana kualitas hadis tentang syahid dalam wabah?; 2) Bagaimana kandungan hadis tentang syahid dalam wabah?; 3) Bagaimana penerapan hadis syahid dalam wabah terhadap kondisi kekinian?.
Dalam menjawab permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode penelitian hadis, analisis tahli@li@ dan tehnik interpretasi hadis. Penelitian ini adalah penelitian pustaka. Pengumpulan data dilakukan dengan mengutip, menyadur dan menganalisis literatur-literatur yang representatif dan relevan dengan masalah yang dibahas, kemudian mengulas dan menyimpulkannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis yang menjadi objek kajian pada penelitian ini berjumlah 9 jalur periwayatan yang terdapat di beberapa kitab sumber, khususnya dalam al-kutub al-tis’ah hadis ini tidak memiliki ‘illah dan terhindar dari sya>z\, bahkan sejalan dengan al-Qur’an, hadis sahih, fakta sejarah dan akal sehat. Maka penulis berkesimpulan bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal adalah s}ah}i>h}. Kemudian ada 3 kandungan pokok bahasan yaitu; hakikat syahid, syarat untuk memperoleh gelar syahid ataupun pahalanya, dan penerapan syahid dalam wabah tehadap kondisi kekinian.
Implikasi dari penelitian ini dapat mendorong setiap umat Islam mengimplementasikan langkah-langkah ketika berada dalam kondisi wabah agar ganjaran yang dijanjikan oleh Allah swt. bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk dari Rasulullah saw. dalam menghadap situasi wabah dapat diraih sehingga masyarakat mampu berusaha mencegah dirinya untuk berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirinya dan orang lain serta konsekuensi hilangnya ganjaran syahid. Di Samping itu penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan keilmuan dan memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya menggali ajaran agama Islam berdasarkan al-Qur’an dan hadis sehingga dapat dipahami dengan baik dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Studi hadis merupakan kajian yang selalu menarik. Alasannya sangat sederhana, bahwa hadis atau sunnah menurut keyakinan umat Islam adalah sumber agama dan keberagamaan. Karena posisinya sebagai sumber kedua memiliki posisi yang sangat sentral bagi kajian-kajian dan studi-studi Islam dan menarik perhatian banyak pihak.
Berbeda halnya dengan al-Qur’an, hadis memiliki permasalahan ganda.
Pertama, setiap sabda atau kata yang diklaim berasal dari Nabi, tetap harus diverifikasi menyangkut apakah sabda atau kata itu benar adanya diucapkan oleh Nabi atau tidak. Masalah ini memicu perdebatan dalam studi hadis yang terekam dalam kajian hadis yang disebut dengan kajian sanad. Kajian ini merupakan kajian sangat krusial dan di dalamnya terdapat berbagai versi mengenai kesahihan atau keotentikan sebuah hadis. Kedua, setiap hadis yang sudah dinilai sebagai ucapan yang benar adanya bersumber dari Nabi harus dipahami sesuai apa yang diinginkan oleh penuturnya (Nabi). Pada level ini hadis juga tidak jarang memicu masalah, karena sebuah ucapan atau perilaku Nabi boleh jadi menimbulkan banyak pemaknaan atau interpretasi.1
Di antara sekian banyak permasalahan yang termasuk bahasan dalam studi hadis yang saat ini masih menjadi pembahasan beberapa kalangan adalah mengenai status syahid bagi orang yang terkena wabah. Problematika perihal
1Hamzah Harun al-Rasyid dan Abd. Rauf Amin, Melacak Akar Isu Kontekstualisasi Hadis dalam Tradisi Nabi & Sahabat, (Cet. I; Yogyakarta: Lembaga Ladang Kata, 2015), h. 1-3.
2
status syahid orang yang terkena wabah menjadi bahasan yang banyak didiskusikan oleh berbagai kalangan.
Syahid merupakan sebuah kematian yang sangat indah dan diidam- idamkan oleh setiap muslim di dunia ini, sehingga menjadikan setiap orang akan berusaha mendapatkan anugerah mati dalam keadaan syahid. Kemuliaan dan kedudukan syahid atau syuhada sendiri di dalam al-Qur’an disejajarkan dengan para nabi, siddiqin dan para orang sholeh seperti dalam QS. an-Nisa/69:4.2
Selama ini pemahaman makna syahid dalam masyarakat masih identik dengan jihad dan perang, padahal di dalam hadis terdapat banyak sabda Nabi saw. tentang golongan orang-orang yang syahid. Salah satunya, yaitu hadis yang berbunyi :
َح نغ ْنِم ُتْلُك َتاَم َ ِبِ َيَْ َيَ ُوْنَغ ُ هللَّا َ ِضِ َر ٍ ِلِاَم ُنْج ُسَوَأ ِلِ َلاَك ْتَماَك َنيِير ِس ُتْنِت ُة َطْف
ٍِلَّ ْسُم ِّ ُكِم ٌةَداَي َش ُنوُغاهعما َهلَّ َسَو ِوْيَلَػ ُ هللَّا هلَّ َض ِ هللَّا ُلو ُسَر َلاَك : َلاَك ِنوُغاهعما
َ
3Artinya :
Hafshah Binti Sirin, ia berkata, 'Anas bin Malik telah berkata kepadaku,' Apa penyebab kematian Yahya Bin Abi 'Amrah? aku menjawab: "Oleh (penyakit) T}a'u>n ", lalu ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
"T}a'u>n penyebab syahid bagi setiap muslim".
T}a'u>n dalam riwayat di atas berdasarkan Kamus al-Munawwir Arab Indonesia diartikan sebagai pes, sampar atau wabah.4 Hadis tersebut juga mengindikasikan bahwa orang yang syahid bukan hanya orang yang terbunuh di jalan perang, melainkan derajat syahid bisa didapatkan melalui wabah penyakit.
2Anwar al-Awli dan Muhammad Salim, ‚Sembilan Belas Tips Menjadi Pendukung Jihad‛ Majalah Sabili, no 15 (29 Februari 2009), h.50-52.
3Muh}ammad bin Isma>‘i>l Abu> ‘Abdilla>h al-Bukha>ri> al-Ja’fi>, S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, Juz 2 (Cet.
II; Beirut: Dar Ibn Kasir, 1407 H/1987 M), h. 1529.
4Ahmad Warson Munawwir. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia (Cet. XIV: Surabaya:
Pustaka Progresif, 1997), h. 853.
Wabah didalam hadis dijelaskan dengan istilah t}a'u>n. Istilah ini mencakup semua bentuk virus atau penyakit yang dapat menular dan mewabah kepada setiap orang. Melalui kata t}a'u>n, hadis-hadis Nabi saw. tentang wabah dapat ditelusuri. Hal ini menunjukan bahwa di masa Nabi dan sahabat telah terjadi kondisi penyebaran wabah.5 Dalam kurun waktu 14 abad terakhir mulai zaman Nabi hingga saat ini terdapat berbagai penyakit yang berstatus sebagai wabah, muncul dan terbilang sangat beragam.
Penyakit yang ada pada zaman Nabi seperti kusta atau wabah lepra dan kolera merupakan penyakit menular yang sangat dihindari oleh Nabi dengan tujuan meminimalisir sahabat yang tertular oleh penyakit. Selain wabah penyakit tersebut yang muncul berabad-abad lalu, muncul berbagai wabah penyakit yang terbilang baru dalam kurun satu abad terakhir ini, wabah ini lebih mematikan dari wabah penyakit yang disebut oleh penulis sebelumnya, di antaranya : flu Burung, sars, flu babi hingga virus covid-19 atau yang disebut dengan corona yang muncul baru-baru ini dan telah menewaskan banyak korban jiwa di dunia.
Kematian yang disebabkan oleh wabah yang melanda saat ini yakni covid-19 juga termasuk dalam kategori mati karena t}a'u>n, karena pengertian t}a'u>n menurut ulama dan ahli bahasa adalah penyakit menular secara umum yang bisa menimpa dan menulari banyak orang yang tidak memandang jenis kelamin, usia, kebangsaan dalam satu wilayah bahkan bisa meluas ke banyak wilayah, pernyataan ini berdasarkan fatwa yang dikeluarkan lembaga fatwa Mesir (darul ifta).6
5Firdaus, ‚Virus Corona Dalam Perspektif Sunnah‛, al-Mubarak: Jurnal Kajian Al- Qur’an dan Tafsir. http://journal.iaimsinjai.ac.id/indeks.php/al-mubarak (12 Juli 2021)
6Dar al-Ifta al-Mishriyah, ‚Al-Mutawafaa bi al-Sabaab Fayrus Kuruna Yuadu Shahidan‛, Situs Resmi Dar al-Ifta. https://www.dar-alifta.org/ar/ViewFatwa.aspx?ID=15313 (11 Juli 2021).
4
Lebih lanjut terkait hal ini, Majelis Ulama Indonesia dalam fatwanya menyatakan bahwa umat Islam yang wafat karena wabah (covid-19) dalam pandangan syariat termasuk kategori syahid akhirat dan hak-hak jenazahnya wajib dipenuhi, yaitu dimandikan, dikafani, disalati, dan dikuburkan yang pelaksanaanya wajib menjaga keselamatan petugas dengan mematuhi ketentuan- ketentuan protokol medis. Dalam poin lain MUI memberikan penjelasan terkait syahid akhirat yakni muslim yang meninggal dunia karena kondisi tertentu antara lain karena wabah, tenggelam, terbakar, dan melahirkan, yang secara syar’i dihukumi mendapat pahala syahid (dosanya diampuni dan dimasukkan ke surga tanpa hisab) sebagaimana ketentuan pada poin sebelumnya.7
Di sisi lain, status syahid dalam wabah yang disebutkan secara mutlak dalam hadis dan uraian sebelumnya, ternyata memiliki batasan dan ketentuan sebagaimana yang tersirat dalam salah satu hadis Nabi saw. berikut :
َة َدْيَرُج ِنْج ِ هللَّا ِدْحَغ ْنَغ ِتاَرُفْما ِبَِأ َنْجا ِنِْؼَي ُدُواَد اَنَزهدَح َلاَك ٍدهمَحُم ُنْج ُسُووُي اَنَزهدَح َيَْ َيَ ْنَغ
ِنْج ُوْثَ َبَْخَأ اَ هنََّأ َهلَّ َسَو ِوْيَلَػ ُ هللَّا هلَّ َض ِّ ِبهنما ِج ْوَز َة َشِئاَػ ْنَغ َرَمْؼَي ُ هللَّا هلَّ َض ِ هللَّا ه ِبَه ْتَمَب َس اَ هنََّأ
ُوههَأ َهلَّ َسَو ِوْيَلَػ ُ هللَّا هلَّ َض ِ هللَّا ُّ ِبَه اَىَ َبَْخَبَف ِنوُغاهعما ْنَغ َهلَّ َسَو ِوْيَلَػ هزَغ ُ هللَّا ُوُثَؼْحَي ًبًاَذَػ َن َكَ
ُنوُغا هعما ُعَلَي ٍدْحَغ ْنِم َسْيَلَف َينِنِمْؤُمْلِن ًةَ ْحَْر هلَجَو هزَغ ُ هللَّا ُ َلََؼَجَف ُءا َشَي ْنَم َلََّػ هلَجَو ِويِف
َم هلَّ ا ُوْح ِطُي ْمَم ُوههَأ َُلَّْؼَي اًح ِ سَدْحُم اًرِجا َض ِهِ َلََت ِفِ ُرُكْمَيَف ِ ُلْثِم ُ َلَ َن َكَ هلَّ ا ُ َلَ هلَجَو هزَغ ُ هللَّا َةَخَن ا ِ
ِديِي هشما ِرْجَأ
8
.
Artinya:
7Majelis Ulama Indonesia, ‚Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pemulasaran Jenazah (Tajhiz al-Jana’iz) Muslim yang Terinfeksi Covid-19‛
(Jakarta: Komisi Fatwa MUI, 2020), h. 5-9.
8Ah}mad bin Muh}ammad bin H}anbal bin Hila>l bin Asad al-Syaiba>ni> Abu> ‘Abdillah, Al- Musnad li Ima>m Ah}mad bin H}anbal, Juz 17, (Cet` I; Kairo: Da>r al-H}adi>s\, 1416 H/1995 M), h. 307.
Yunus bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami dia berkata: "
Daud, telah menceritakan kepada kami yaitu Ibnu Abi Al-Furrat dari Abdullah bin Buraidah dari Yahya bin Ya'mar dari Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: 'Ia memberitahu bahwasanya ia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wabah tha`un, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahunya: "Tha`un adalah sebuah adzab yang dikirimkan oleh Allah Azzawajalla terhadap siapa saja yang Dia kehendaki, lalu Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang mukmin. Tidak ada seorang hamba yang terkena wabah tha`un di tempat tinggalnya, lantas ia berdiam diri di dalamnya dengan sabar dan berharap pahala, ia tahu bahwa Tha`un tidak akan menimpanya kecuali yang telah ditetapkan Allah padanya, melainkan hamba tersebut akan mendapatkan seperti pahala orang yang syahid."
Secara lahiriah hadis ini dapat dipahami mengandung perintah ketika terjadi wabah untuk menghindar dan sabar, serta dijelaskan bahwa ketika hal tersebut dilaksanakan maka ganjaran pahala syahid akan didapatkan. Selain itu, sebagai makna lain dari perintah ini adalah adanya ketegasan akan larangan untuk berbuat hal-hal yang dampaknya dapat menyusahkan atau membahayakan orang lain dan diri sendiri. Seandainya seseorang yang tetap tinggal di negeri yang dilanda t}a'u>n dalam keadaan panik dan menyesal karena tidak bisa keluar, dan beranggapan jika keluar niscaya tidak akan ditimpa wabah, lalu dia tetap tinggal sehingga ditimpa penyakit itu, maka orang seperti ini tidak mendapatkan pahala syahid meskipun meninggal karena wabah (t}a'u>n). Inilah menjadi konsekuensi makna hadis tersebut sebagaimana makna tekstualnya menyatakan bahwa mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut niscaya memperoleh pahala syahid meskipun tidak meninggal karena wabah (t}a'u>n).9
Kemudian yang menjadi persoalan, pelaku maksiat di antara umat ini apakah wabah menjadikanya syahid atau khusus bagi orang yang beriman dengan sempurna. Selain hal itu, teks hadis di atas dapat berimplikasi terhadap indikasi bahwa Allah menimpakan wabah sebagai hukuman, jadi bagaimana
9Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari; Syarah Shahih Bukhari, Juz 3 (Cet. I; t.t: Pustaka Imam Asy Syafi’i, 2010), h. 33.
6
mungkin wabah merupakan jalan kesyahidan dan rahmat. Olehnya itu masalah ini perlu dibahas lebih mendalam. Di sisi lain permasalahan yang juga muncul adalah sebagian masyarakat masih belum rela atas kepergian keluarganya karena wabah. Bahkan mereka merasa dihantui oleh stigma sebagian orang bahwa terkena atau meninggal karena wabah itu adalah balasan dan hukuman dari Allah swt. dengan adanya stigma seperti ini, kemudian, keluarga yang ditinggalkan merasa takut terkucilkan dan dijauhi oleh masyarakat khususnya tetangga di sekelilingnya. Belum lagi, mereka juga kadang merasa minder sendiri karena kepergian keluarganya akibat wabah. Terlebih adanya fenomena dimana beberapa masyarakat menolak pemakaman jenazah yang wafat karena wabah.10 Harusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi apalagi yang beragama Islam. Karena di dalam sejarah agama Islam, penyakit seperti ini bukanlah hal baru meski dalam bentuk dan nama yang lain, bahkan ganjaran syahid menanti.
Pemahaman terhadap hadis ini secara tidak menyeluruh dapat menjadi legitimasi bahwa mati karena wabah pasti memperoleh status syahid yang tentunya pemahaman ini dapat berimplikasi terhadap ketidakpedulian masyarakat pada protokol kesehatan. Faktanya tindakan-tindakan sebagian umat Islam dewasa ini terkesan tidak sejalan dan mengabaikan petunjuk yang terekam dalam hadis tersebut. Hal ini dapat dilihat dari abainya beberapa masyarakat terhadap pelaksanaan protokol kesehatan, pelaksanaan prokes acap kali hanya sebagai tuntutan formalitas. Hal ini tentunya dapat berimplikasi dengan masifnya penyebaran wabah ini. Bahkan, yang menjadi ironi adalah pelaku atau aktor yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan-permasalahan tersebut kebanyakan adalah orang Islam itu sendiri.
10Kompas, ‛Penolakan Jenazah Covid-19‛, https://www.kompas.id/label/penolakan- jenazah-covid-19 (12 Juni 2021)
Dalam hal ini, besar kemungkinan disebabkan karena umat Islam khususnya yang ada di Indonesia, mayoritas belum mengetahui keberadaan hadis tersebut atau mereka telah mengetahuinya, namun belum memahaminya dengan baik dan masih bertanya-tanya apakah petunjuk dan kandungan hadis tersebut juga mengecam tindakan-tindakan seperti yang telah disebutkan pada bahasan sebelumnya. Kemungkinan-kemungkinan ini merupakan sesuatu yang harus diperhatikan, apalagi mengingat kajian seputar hadis tersebut masih minim di kalangan masyarakat, baik dari aspek sanadnya maupun matannya terutama dari segi kandungan dan implikasinya.
Menanggapi kondisi seperti ini, maka dibutuhkan sebuah karya tulis dalam bentuk skripsi untuk membahas hadis tersebut secara mendalam dengan menggunakan metode tah}li@li@ (analisis), dengan berbagai pendekatan dan bentuk interpretasi hadis yang ada. Dengan begitu, makna-makna yang terkandung di dalamnya dapat diketahui, yang pada akhirnya dapat dilihat apakah petunjuk hadis tersebut juga mengecam tindakan-tindakan di atas atau tidak.
Oleh karena itu, perlu kiranya mengkaji dan memahami hadis tentang syahid dalam wabah dengan kajian tah}li@li@ terhadap hadis Nabi saw. melalui sebuah penelitian dengan judul Syahid dalam Wabah Perspektif Hadis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarakan latar belakang masalah di atas, maka peneliti menyusun beberapa rumusan masalah sebagai berikut
1. Bagaimana Kualitas Hadis tentang Syahid dalam Wabah?
2. Bagaimana Kandungan Hadis Syahid dalam Wabah?
3. Bagaimana Penerapan Hadis tentang Syahid dalam Wabah terhadap Kondisi Kekinian?
8
C. Pengertian Judul
Skripsi ini berjudul Syahid dalam Wabah Perspektif Hadis untuk menghindari kesalahpahaman dalam memaknai judul di atas, maka penulis akan memberikan pengertian sebagai berikut:
1. Syahid
Syahid dapat didefinisikan sebagai saksi dalam artian usaha menegakkan atau mempertahankan dan mengikuti petunjuk kebenaran agama atau juga dapat diartikan sebagai orang yang mati karena membela agama.11 Bentuk jamak dari kata syahid adalah syuhada yang merupakan salah satu terminologi dalam Islam yang artinya adalah seorang muslim yang meninggal karena berjuang di jalan Allah membela kebenaran atau mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menegakkan agama Allah.
2. Wabah
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) wabah adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas.12 Wabah dalam skala besar biasa disebut dengan istilah epidemi. Sedangkan wabah yang memiliki skala global biasa dirujuk dengan istilah pandemi. Selain itu wabah juga sering disebut dengan istilah t}a'u>n.
Adapun istilah t}a'u>n berasal dari kata tha’ana, terdiri dari huruf tha‘ain dan nun, dengan makna dasarnya adalah mencucuk atau mematuk sesuatu dengan terus menerus.13 Makna ini bersifat umum karena masih meliputi segala hal yang
11Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Pusat Bahasa, 2008),h. 1576.
12Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:
Balai Pustaka, 1993), h. 1122.
13Ahmad bin Faris Abu Husain, Mu’jam al-Maqayis al-Lughah (Bairut: Dar al-Fikr, 1994), h. 619.
dapat mematuk atau menyakiti seseorang secara berkesinambungan. Makna lain kata tersebut adalah al-wabaa’, yaitu wabah atau penyakit menular, atau pes.14 Ini juga masih bersifat umum, karena meliputi seluruh penyakit atau virus yang menular dan dapat menjangkiti siapa saja, termasuk covid-19. Lebih spesifik, makna kata t}a'u>n dapat dilihat dalam kamus al-Munjid al-Abjadiy,15 yaitu wabah atau epidemi yang berkaitan dengan demam/virus yang keras dan tersembunyi serta merusak, menempel dan menyebar. Arti ini lebih jelas lagi dan khusus karena telah menyebutkan salah satu jenis wabah dan sifat-sifatnya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa covid-19 adalah salah satu jenis t}a'u>n atau wabah yang dapat menjangkiti dan menulari siapa pun secara berkesinambungan.
3. Perspektif Hadis
Kata perspektif dalam bahasa Indonesia bermakna cara melukiskan suatu benda dan bermakna sudut pandang.16 Sedangkan hadis menurut bahasa berarti
ديدلجا ,
yaitu sesuatu yang baru dan menunjukkan sesuatu yang dekat dan waktu yang singkat seperti perkataan :ديؼما ريدح وى ملاسالا فى
, artinya dia baru masuk atau memeluk Islam. Lawan kataريدلحا
adalahيملَما ,
artinya sesuatu yang lama. Hadis juga berartiةلخا
, artinya berita, yaitu sesuatu yang diperbincangkan, diberitakan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain.Di samping itu, hadis juga berarti
ةيرلما
yang artinya dekat, tidak lama lagi terjadi, sedangkan lawannya adalahديؼدما
artinya jauh.17
14Majd al-Din Muhammad bin Ya’qub al-Fairuz Abadi, al-Kamus al-Muhiith (al-Qahira:
Daar al-Hadits, 2008), h. 1219.
15Al-Munjid al-Abjadiy, (Bairut: Dar al-Masyriq, 1967), h. 1457.
16Happy El Rais, Kamus Ilmiah Populer, (Cet. I: Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2012), h.
486.
17Mudasir, Ilmu Hadis ( Bandung: Setia Pustaka, 1999), h. 11.
10
Adapun hadis secara terminologi oleh para ulama terdapat perbedaan pendapat, di antaranya:
a. Hadis adalah setiap apa yang disandarkan kepada Nabi saw. dari perkataan atau perbuatan atau taqrir atau sifat khilqiyyah atau khuluqiyyah, dan setiap apa yang disandarkan kepada sahabat dan tabiin. Definisi ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh al-T{i@bi@.
b. Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. dari perkataan atau perbuatan atau taqri@r atau sifat khilqiyyah atau khuluqiyyah. Hal ini khusus terhadap hadis marfu>’ bukan mauqu>f dan maqt}u>‘.
c. Bahwa sesungguhnya setiap apa yang disandarkan kepada Nabi saw. berupa perkataan atau perbuatan semata.18 Pendapat ini dihubungkan kepada pendapat ‘Abd al-Wahha>b Ibn Subki@.
d. Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. berupa perkataan atau perbuatan atau taqri@r (pengakuan) atau sifat.19
e. Segala ucapan Nabi saw. segala perbuatan beliau, segala taqri@r (pengakuan) beliau dan segala keadaan beliau. Termasuk segala keadaan beliau adalah sejarah hidup beliau, yakni waktu kelahirannya, keadaan sebelum dan sesudah beliau diangkat sebagai rasul dan sebagainya.20
Dari sekian pendapat tersebut, maka defenisi yang penulis maksudkan dalam karya ilmiah ini adalah pendapat yang keempat, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. baik itu berupa perkataan atau perbuatan atau penetapan atau sifatnya. Dengan demikian, penelitian ini nantinya dalam
18Ha{ ri@s\ Sulaima>n al-D{ari@, Muh}ad{ara>t fi@ ‘Ulu>m al-Ha{di@s\, Juz 1 (Da>r al-Nafa>is li al-Nasyr wa al-Tauzi>‘, 1420), h. 14.
19Mah}mu>d T{ah}h}a>n, Mus}t}ala>h} al-Ha{di@s \ (Beirut: Da>r al-Fikr, t.th), h. 14.
20M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Cet. II:
Bandung: Angkasa, 1994), h. 2.
melihat syahid dalam wabah akan mengacu pada sudut pandang Nabi Muhammad saw.
D. Kajian Pustaka
Setelah melakukan penelusuran dan pembacaan terhadap berbagai karya ilmiah yang berkaitan dengan rencana penelitian di atas, penulis belum menemukan pembahasan tentang syahid yang fokus kajiannya terhadap wabah perspektif hadis. Hal ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa skripsi ini belum pernah ditulis sebelumnya. Terdapat beberapa tulisan yang membahas terkait dengan variabel pada judul yang penulis kaji namun hanya dibahas secara parsial dan tentunya berbeda dari segi fokus pembahasan dan pendekatan serta paradigma yang digunakan. Adapun literatur yang relevan dengan judul skripsi ini sebagai berikut:
Buku yang ditulis oleh Ahmad Sarwat dengan judul Mati Syahid 21 di dalam buku ini menguraikan seputar masalah mati syahid dengan berbagi kajian hukum syariah yang kemudian dijelaskan keunikan orang yang mati dalam keadaan syahid. Yakni orang yang dinyatakan mati syahid nantinya akan masuk surga tanpa dihisab, seakan-akan semua dosa dan kesalahannya tidak lagi harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Serta jenazah orang yang mati syahid ternyata tidak wajib dimandikan atau dikafani, cukup disalatkan dan dikuburkan.
Di dalam buku ini terdapat uraian terkait syahid karena wabah namun hanya menjadi pelengkap pembahasan dan tidak dipaparkan secara mendalam.
Ernawati dalam skripsi yang berjudul Hadis tentang Orang yang Mati Syahid 22 Skripsi ini menggunakan pendekatan studi ma’ani al-Hadis dengan pembahasan yang berkaitan dengan kriteria orang yang mati syahid dalam kajian
21Ahmad Sarwat, Mati Syahid (Jakarta: Rumah Fiqih, 2021).
22Ernawati, ‚Hadis Tentang Orang yang Mati Syahid‛, Skripsi (Yogyakarta, 2017).
12
hadis. Di dalam skripsi ini juga disebutkan bahwa berdasarkan hadis, kriteria mati syahid ada 6 akan tetapi pada hadis lain terdapat 27 kriteria dan semua kriteria syahid tersebut mengarah kepada arti kematian. Namun di dalam skripsi tersebut lebih memfokuskan pada kajian mati syahid secara umum bukan pada penelitian hadis secara spesifik terkait wabah.
Jurnal Kebijakan Nabi Muhammad saw. Menangani Wabah Penyakit Menular dan Implementasinya dalam Konteks Menanggulangi Coronavirus Covid-19 tahun 2020 oleh Mukharom dan Havis Aravik.23 Jurnal ini menggunakan metode ma’ani al-Hadis dengan pendekatan analisis kritis.
Adapun pembahasan dalam jurnal ini adalah kebijakan rasulullah dalam menangani wabah pada masa itu yang jika dikontekskan dalam situasi dan kondisi wabah covid-19 saat ini, bahwa kebijakan tersebut masih sangat relevan diterapkan. Berbeda halnya dengan penelitian penulis yang tidak hanya mengkaji wabah secara umum termasuk covid-19 melainkan juga dikaitkan dengan status kesyahidan orang yang terkena wabah.
Jurnal yang ditulis oleh Eman Supriatna yang dimuat dalam jurnal salam tahun 2020 dengan judul Wabah Corona Virus Disease Covid-19 dalam Pandangan Islam. Jurnal ini menggunakan pendekatan ma’anil hadis dengan teori studi matan yang pembahasannya memaparkan tentang wabah dalam Islam dengan fokus kajian pada wabah virus korona dalam rangka pencegahan penularan penyakit. Tulisan ini juga menyimpulkan bahwa wabah merupakan sebuah ujian bagi suatu kaum agar selalu mendekatkan diri kepada Allah.24
23Mukharom dan Havis Aravik, ‚Kebijakan Nabi Muhammad saw. Menangani Wabah Penyakit Menular dan Implementasinya Dalam Konteks Menanggulangi Coronavirus Covid-19‛, Salam: Jurnal Sosial dan Budaya Syar‘i , 7, No. 3 (2020).
24Supriatna Eman, ‚Wabah Corona Virus Disease Covid 19 Dalam Pandangan Islam‛, Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i, 7, No. 6 (2020).
Kitab karya Ibnu Hajar al-‘Asqala>ni, dalam hal ini kitab Fath} al-Ba>ri>
membahas secara singkat tentang syahid dalam wabah pada salah satu babnya, sebab kitab beliau memuat banyak macam pembahasan, karena Fath} al-Ba>ri>
merupakan kitab syarah} hadis. Berbeda dengan peneliti yang tidak hanya membahas masalah syarah} hadis tentang syahid dalam wabah, namun juga merambat ke bahasan lain, seperti men-takhrij hadis bersangkutan untuk memperoleh data yang valid tentang kredibilitas hadis tersebut, serta pembahasan-pembahasan pendukung.
Jalaluddin al-‘Suyuthi dalam kitabnya terkait wabah dengan judul, Ma Rawahu al-Wa’un fi Akhbar ath-Thâ'un juga menguraikan masalah hadis tentang status kesyahidan orang yang terkena wabah dalam salah satu bahasannya. Imam al-Suyuthi membahasnya dengan mengangkat tema wabah secara umum, sehingga bahasan tentang syahid dalam wabah hanya beliau bahas secara singkat.
Berbeda dengan peneliti yang mencoba mengkhususkan pembahasan tentang syahid dalam wabah, meski juga menggunakan hal-hal lain yang termasuk dalam pembahasan wabah, tetapi hanya sebagai pembahasan pendukung.
E. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yang hanya menganalisis data yang bersifat kualitatif. Penelitian ini, penulis mengacu pada penelitian yang berusaha mendeskripsikan bentuk pengamalan yang berangkat dari hasil pemahaman atas sebuah hadis Nabi saw.
2. Metode Pendekatan a) Pendekatan ilmu hadis
14
Analisis ilmu hadis dimaksudkan untuk menetukan validitas dan otentisas hadis yang akan diteliti atau dengan kata lain menguji tingkat keshahihan hadis berdasarkan kritik ulama hadis yaitu ketersambungan sanad, periwayatannya bersifat adl dan dha>bit,25 terhindar dari sya>z\ dan ‘illah.26
b) Pendekatan bahasa (linguistik)
Pendekatan bahasa yakni menganalisis masalah tentang syahid dan wabah dengan melihat permasalahan dari segi bahasa.
3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menelusuri data primer dan data sekunder. Data primer yaitu hadis-hadis tentang ‚syahid dalam wabah‛ dengan menelusuri kitab-kitab hadis standar yakni al-Kutub al- Tis’ah dengan menggunakan kelima metode takhrij al-H}adi>s}.27 Data sekunder yaitu data yang digunakan untuk mendukung dan melengkapi pembahasan dalam penelitian ini, yaitu kitab-kitab periwayatan dan syarah hadis dalam mengkaji sanad dan matan, buku ilmu hadis dan buku yang terkait dengan pembahasan dalam penelitian ini, ayat-ayat al-Qur’an, kitab-kitab tafsir, dan kitab-kitab fiqih.
25adl artinya memiliki sifat-sifat yang baik, jujur, mengutamakan kebenaran dan tidak terlibat pada sifat-sifat tercela sedangkan dha>bit artinya perhatian perawi kepada yang didengar ketika dia menerimanya serta memahami apa yang didengarnya itu, sehingga ia bisa menerima dan menyampaikan suatu riwayat dengan sempurna. Lihat, Basri Mahmud dan Mukhtar, Ulumul Hadis: Media-Media Pokok Dalam Mengkaji Hadis, (Cet. I; Makassar: Gunadarma Ilmu,2015), h.
29-30.
26sya>s dalam bahasa berarti ganjil, terasing, atau menyalahi aturan maksud sya>s di sini adalah periwayatan orang tsiqah bertentangan dengan orang yang lebih tsiqah sedangkan illah dari segi bahasa illah berarti penyakit, sebab, alas an atau udzur. Sedangkan arti illah di sini adalah suatu sebab tersembunyi yang membuat cacat keabsahan suatu hadis padahal lahirnya selamat dari cacat tersebut. Lihat, Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Cet. II; Jakarta: Amzah, 2013) h. 171-172.
27Takhrij al-Hadi>s adalah penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab sebagi sumber asli dari hadis yang bersangkutan yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadis yang dimaksud. Lihat, A. Syahraeni, Kritik Sanad Dalam Perspektif Sejarah, (Cet. I; Makassar: Alauddin University Press, 2011), h. 139.
4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Pada penelitian ini menggunakan metode tah}li@li@ sehingga dalam menganalisis juga menggunakan langkah-langkah metode hadis tah}li@li@. Data yang dianalisis adalah kualitas sanad dan matan. Dalam usaha menganalisis data tersebut, digunakan kritik sanad dan matan. Setelah data terkumpul, maka akan diinterpretasi dan dianalisis dengan memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Data yang terkumpul akan diidentifikasi dan diklasifikasi.
b) Melakukan i’tibar28 yakni dengan cara membuat skema sanad untuk menetukan syahid dan mutabi29 dari hadis pada setiap jalur yang diteliti.
c) Melakukan kritik sanad terhadap setiap jalur yang dipilih yang bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas dan akurasi informasi dari setiap sanad, si>gat atau lambang tahammul wal ada>’ yang dipergunakan oleh periwayat hadis.
d) Melakukan kritik matan pada semua lafal yang diriwayatkan oleh setiap mukharrij untuk mengetahui apakah ada atau tidaknya ziya>dah,30 idra>j31 atau
28I’tibar dalam istilah ilmu hadis ad alah mengikutsertakan berbagai sanad hadis yang hanya tampak diriwayatkan oleh seorang periwayat, untuk mengetahui apakah ada periwayat lain atau tidak yang meriwayatkan hadis yang sama dengannya. Lihat, Lihat, A. Syahraeni, Kritik Sanad Dalam Perspektif Sejarah, h. 140.
29Syahid (dalam istilah Ilmu Hadis yang jamaknya syawahid) ialah periwayat yang berstatus pendukung yang berkedudukan sebagai dan untuk sahabat Nabi sedangkan mutabi’
(biasa disebut tabi’ dengan jamak tawabi) ialah periwayat yang berstatus pendukung yang berkedudukan bukan sebagai sahabat Nabi. Lihat: Abustani Ilyas dan La Ode Ismail Ahmad, Pengantar Ilmu Hadis (Cet II; Surakarta: Zadahaniva Publishing, 2013), h. 117.
30Ziya>dah menurut bahasa adalah tambahan. Menurut istilah ilmu hadis ziya>dah adalah tambahan yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang s\iqah, baik satu kata maupun satu kalimat, baik dalam sanad maupun matan hadis. Lihat. Nuruddin Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al- Hadis, terj.Mujiyo, Ulum al-Hadis (Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 453.
31Idraj merupakan bentuk masdar dari fi’il adraja yang berarti memasukkan sesuatu dalam lipatan sesuatu yang lain. Menurut istilah hadis idraj atau mudraj adalah segala sesuatu yang disebut dalam kandungan suatu hadis dan bersambung dengannya tanpa ada pemisah, padahal ia bukan bagian dari hadis itu. Nuruddin Itr, ‘Ulum al-Hadis, h. 472.
16
maqlu>b32 pada setiap riwayat atau riwayat tersebut hanya semata-mata diriwayatkan secara makna (riwa>yah bi al-Ma’na>) bukan secara lafal (riwa>yah bi al-Lafzi>).
e) Menjelaskan kualitas hadis33 yang akan diteliti baik dari segi sanad maupun matan apakah hadis tersebut sahih, hasan atau daif.
f) Menganalisis kosa kata, frase atau syarh} al-Mufrada>t.
g) Menjelaskan sebab-sebab turunnya hadis (asba>b al-Wuru>d).
h) Menjelaskan kandungan hadis.
i) Menguraikan hikmah yang dapat dipetik dari hadis.
j) Sebagai usaha dalam mengetahui Tathbi>q al-H{adi>s\ maka dibutuhkan pengetahuan kandungan dari segi tanggung jawab, waktu dan tempat, dan dari segi urgensi terhadap hadis yang peneliti kaji.
k) Setelah menemukan kandungan tersebut, maka langkah terakhir yaitu menyimpulkan bentuk penerapan dari hadis yang menjadi kajian peneliti.
Metode pengolahan data yang penulis gunakan yaitu metode deduktif yakni suatu cara pengolahan data yang dimulai dari hal-hal yang bersifat umum kemudian menyimpulkan secara khusus.
F. Tujuan dan Kegunaan
Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan peneliti diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui kualitas hadis tentang syahid dalam wabah.
b. Untuk mengetahui kandungan hadis tentang syahid dalam wabah.
32Maqlu>b yaitu hadis yang terbalik susunan kalimatnya tidak sesuai dengan susunan yang semestinya, terkadang mendahulukan yang seharusnya diakhirkan atau sebaliknya , atau mengganti kata lain dengan tujuan tertentu. Lihat, Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, h. 218.
33M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi saw. h. 32-33.
c. Untuk mengetahui penerapan hadis tentang syahid dalam wabah terhadap kondisi kekinian.
2. Kegunaan
a. Memperluas wawasan keilmuan dan memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya menggali ajaran agama Islam berdasarkan al-Qur’an dan hadis.
b. Memberikan pengetahuan pada aspek pemahaman hadis terutama yang berkaitan dengan janji nabi bagi orang yang terkena wabah sehingga dapat diterapkan dalam masyarakat.
c. Penelitian ini diharapkan memberi bukti kongkrit bahwa sumber ajaran Islam bermanfaat bagi kehidupan sosial kemasyarakatan terkhususnya dalam memahami hadis Nabi.
d. Dari segi kepustakaan dapat menjadi salah satu karya ilmiah yang dapat menambah koleksi pustaka yang bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya untuk dijadikan sebagai bahan acuan penelitian selanjutnya.
18 BAB II
TINJAUAN TEORITIS A. Syahid
1. Definisi Syahid
Kata syahid
دييش
yang merupakan bentuk tunggal (mufrad/singular) dijamakkan menjadi syuhadaءاديش.
Ia berasal dari kata kerja (fi'il) : syahida- yasyhaduديشي - ديش
yang memiliki beberapa arti antara lain: menyaksikan, mengetahui, dan menghadiri.1 Perlu dijelaskan di sini bahwa dari segi bentuk katanya (sigat) kataدييش
satu wazan (timbangan kata) dengan fa'ilليؼف.
Wazanini bisa berfungsi sebagai ism al-Maf'ul (kata penunjuk obyek) di samping juga berfungsi sebagai sifah musyabbahah bi ism al-Fa'il (sifat yang diserupakan dengan kata penunjuk subyek atau pelaku).2
Penjelasan ini perlu diperhatikan dalam rangka memahami uraian para ulama tentang latar belakang penamaan syahid bagi orang yang tertimpa atau meninggal dalam wabah. Al-Fayyumi misalnya menyatakan bahwa syahid berarti masyhud/yang disaksikan, karena malaikat rahmat menyaksikan dimandikannya orang syahid atau malaikat menyaksikan pemindahan ruhnya ke surga atau Allah mempersaksikannya sebagai orang yang masuk surga. Dari sinilah kemudian dibuat kalimat ustusyhida
ديشدسٔأ
dalam bentuk kata kerja pasif (bina' li al-Maf'ul) dengan arti terbunuh dalam keadaan syahid (qutila syahida).3
1Muhammad ibn Abi Bakr ar-Razi, Mukhtar as-Sihah, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 14.
2Fuad Ni'mah, Mulakhkhas Qawaid al-Lugah al'Arabiyyah, (Damaskus: Dar al-Hikmah, t.th.), h. 44-46.
3Ahmad al-Fayyumi, al-Misbah al-Munir, Juz 1, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 324.
Al-Qurtubi menyatakan bahwa penyebutan syahid karena ia dipersaksikan sebagai orang yang masuk surga. Di samping itu, al-Qurtubi mengutip pendapat para ahli bahasa Arab, ada yang berpendapat bahwa disebut syahid karena para malaikat menyaksikannya. Ada pula yang berpendapat bahwa disebut syahid karena ruh-ruh mereka dihadirkan ke surga, negeri kedamaian (dar as-Salam), seperti ditegaskan dalam al-Qur'an bahwa mereka hidup di sisi Tuhan mereka seraya diberi rezeki. Hal itu berbeda dengan ruh orang yang bukan syuhada yang tidak mencapai surga. Dengan demikian, kata syahid di sini berarti syuhada
دىاش
yakni orang yang hadir di surga.4Sementara itu al-Ragib al-Isfahani menyatakan bahwa syahid berarti muhtadar (yang dihadiri). Seseorang yang gugur dalam berjihad disebut syahid, karena para malaikat menghadiri kematiannya atau karena mereka menyaksikan kenikmatan yang telah disiapkan untuk mereka atau karena ruh-ruh para syuhada itu hadir di sisi Allah.5
2. Macam-Macam Syahid
Syahid atau syuhada sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya terkait definisi dan pendapat para ulama, maka di dalam hadis bahasan syahid terkait dengan macam-macam dan perluasan maknanya sudah sangat populer di kalangan para sahabat Nabi. Hal ini dapat dibuktikan antara lain dengan menyimak dialog Nabi dengan para sahabatnya seperti yang dituturkan oleh Abu Hurairah berikut:
4Abu 'Abd Allah al-Qurtubi, at-Tazkirah fi Ahwal al-Mawta wa Umur al-Akhirah, Juz 1, (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2007), h. 131.
5Ar-Ragib al-Isfahani, Mu'jam Mufradat Alfaz al-Qur'an, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h.
276.
20
ا ضىر ةريرى بىٔأ نغ ﷲ
ا لَّض بنما نٔأ ونغ ﷲ
؟كميف دييشما نودؼث ام :لاك لَّسو ويلػ
ا لوسر يا :اوماك ,ﷲ
ا ليخس فى لذك نم ﷲ
.ليللم نذٕا تىمٔأ ءاديش نٕا :لاك .دييشما ويف
ا لوسر يا هم نفم :اوماك ﷲ
ا ليخس فى لذك نم :لاك ؟ ﷲ
ليخس فى تام نمو ,دييش ويف
ا ﷲ ا فى تام نمو ,دييش ويف فى تام نمو ,دييش ويف نوغاعم
قيرغماو ,دييش ويف نعحما
)ةريرى بىٔأ نغ لَّسم هاور( دييش
6Artinya:
Abu Hurairah radiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi salllallahu 'alayhi wa sallam bertanya (kepada para sahabatnya): Siapa gerangan yang kamu anggap syahid? Mereka menjawab: ya Rasulullah, orang yang terbunuh di jalan Allah, dialah syahid itu. Rasul berkata: jika demikian, syuhada di kalangan umatku sangat sedikit. Mereka bertanya: lalu siapa sebenarnya syuhada' itu ya Rasulullah? Rasul menjawab: orang yang terbunuh di jalan Allah adalah syahid; orang yang mati di jalan (ketaatan) kepada Allah adalah syahid; orang yang mati karena penyakit ta'un (kolera) adalah syahid; orang yang mati karena sakit perut adalah syahid; dan orang yang mati tenggelam adalah syahid. (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).
Hadis di atas menginformasikan kepada kita bahwa pengertian syahid sebagai orang yang terbunuh di jalan Allah merupakan pengertian yang dipahami secara umum dan merata di kalangan para sahabat nabi. Bahwa kemudian Nabi memperluas pengertian syahid sehingga mencakup empat golongan yang lain, itu merupakan informasi baru bagi para sahabat. Perlu dikemukakan di sini bahwa terdapat banyak hadis yang datang memperluas pengetian syahid di luar hadis di atas. Al-Qurtubi telah membawakan sebagian dari hadis-hadis itu dalam kitabnya al-Taskirah fi Ahwal al-Mawta wa Umur al-Akhirah7, antara lain berikut ini:
6Muslim ibn al-Hajjaj an-Nisaburi, Sahih Muslim, Juz 2, (Bandung: Dahlan, t.th.), h.
160-161.
7Abu 'Abd Allah al-Qurtubi, at-Tazkirah, Juz 1, (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2007), h. 130-131.
a. Hadis riwayat at-Tirmizi:
ا لوسر نٔأ ةريرى بىٔأ نغ ﷲ
ا لَّض ﷲ ,نوؼعلماو ,نوعحلما :ةسخم ءاديشما :لاك لَّسو ويلػ
ا ليخس فى دييشماو مديما ةحاض و ,قيرغماو ﷲ
نسح ريدح اذى :لاكو .لجو زغ
ََ. حيصح
Artinya:
Abu Hurairah bahwa sesungguhnya Rasulullah salllallahu 'alayhi wa sallam bersabda: syuhada itu ada lima: orang yang mati karena penyakit perut, mati karena kolera, mati tenggelam, mati karena tertimpa bangunan dan syahid di jalan Allah. At-Tirmizi berkata: Hadis ini hasan sahih.
b. Hadis riwayat an-Nasai:
ا لوسر لاك :لاك رجاج نغ ﷲ
ا لَّض ﷲ ليخس فى لذلما ىوس ةؼح س ءاديشما :لَّسو ويلػ
ا :ﷲ ,مديما تتح تويم ىلذاو ةنلجا تاذ ةحاضو,قرلحاو ,قرغماو ,نوعحلما و ,نوؼعلما
عمبج توتم ةٔأرلماو
Artinya:
Jabir bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda: syuhada itu ada tujuh, selain yang terbunuh di jalan Allah, yakni: mati karena kolera, mati karena penyakit perut, mati tenggelam, mati terbakar, mati karena penyakit bagian dalam tubuh, mati di bawah reruntuhan dan perempuan mati ketika melahirkan.
c. Hadis riwayat At-Tirmizi, Abu Dawud dan an-Nasai
. ا لوسر تؼسم:لاك ديز نج ديؼس نغ ﷲ
ا لَّض ﷲ ويف لَام نود لذك نم :لولي لَّسو ويلػ
ويف لَىٔأ نود لذك نمو ,دييش ويف ونيد نود لذك نمو ,دييش ويف ومد نود لذك نم ,دييش ما لاكو دييش حيصح نسح ريدح :ىذمتر
Artinya:
Sa'id ibn Zaid bahwa ia berkata: Saya dengar Rasulullah bersabda:
barangsiapa terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid.
Barangsiapa terbunuh karena membela darahnya, maka ia syahid.
Barangsiapa terbunuh karena membela agamanya, maka ia syahid dan barangsiapa terbunuh karena membela keluarganya, maka ia syahid. At- Tirmizi berkata: Hadis ini hasan sahih.
22
d. Hadis riwayat Abu Bakr al-Kharaiti:
ا لوسر لاك :لاك لِام نج سؤأ نغ ﷲ
ا لَّض ﷲ ادييش تام احيرغ تام نم :لَّسو ويلػ
Artinya:
Anas ibn Malik berkata bahwa Rasulullah bersabda: barangsiapa mati dalam keadaan terasing, maka ia mati syahid.
e. Hadis riwayat At-Tirmizi:
ا لوسر لاك :لاك راسي نج للؼم نغ ﷲ
ا لَّض ﷲ ثلاز ححطي ينح لاك نم :لَّسو ويلػ
بً ذوغٔأ :تارم ﷲ
نم يملؼما عيمسما شرلحا ةروسرخٓأ نم تيآأ ثلاز ٔأركو ,يمجرما ناعي شما
ا كلو ,ادييش تام وموي نم تام نٕاف , سىيم تىح ويلػ نولطي لكم فمٔأ ينؼح س وت ﷲ
ةيرغ نسح ريدح :لاك .لِذكف سىيم ينح اىٔأرك نمو
Artinya:
Ma'qal ibn Yasar berkata: Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang pada waktu pagi hari membaca (a'uzu billahissami'il-'alim minasy-syaitanirrajim) dan membaca tiga ayat terakhir dari surah al-Hasyr, maka Allah akan menugaskan 70 ribu malaikat untuk mendoakan keselamatannya hingga sore hari. Jika ia mati pada hari itu, maka ia mati syahid. Dan barangsiapa membacanya pada waktu petang, ia akan mengalami hal seperti itu juga.
At-Tirmizi berkata: Hadis ini hasan garib.
f. Hadis riwayat Abu 'Umar:
ا لَّض بىنما نغ رذ بىٔأو ةريرى بىٔأ نغ ﷲ
وىو لَّؼما ةماظ تولما ءاج اذٕا :لاك لَّسو ويلػ
ادييش تام لَاح لَّػ
Artinya:
<