• Tidak ada hasil yang ditemukan

107

MENYEJAHTERAKAN PEREKONOMIAN BANGSA

108

Tujuan dari karya tulis ini adalah untuk memberikan informasi terkait fungsi, pelaksanaan dan strategi terkait penyaluran ZISWAF sebagai bentuk tindakan dalam upaya memajukan perekonomian Islam dengan memaksimumkan fungsi dan manfaat ZISWAF dalam upaya menyejahterakan keadaan ekonomi masyarakat khususnya dalam mengatasi masalah kemiskinan dan ketempangan pada perekonomian serta menumbuhkan semangat berfilantropi pada masyarakat sebagai bentuk kontribusi dalam menyejahterakan perekonomian bangsa.

Manfaat akademis dari gagasan tulisan ini adalah sebagai masukkan bagi para pembaca dalam upaya memajukan perekonomian Islam dengan mengoptimumkan penyaluran ZISWAF kepada subjek yang tepat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan perekonomian bangsa. Selain itu, dapat menanamkan semangat berfilantropi sebagai bentuk kecintaan terhadap sesama manusia. Metode yang digunakan dalam menunjang penulisan karya tulis ilmiah ini adalah metode penelitian kualitatif.

Bahan pustaka yang digunakan terdiri dari buku, jurnal dan internet.

SOROTAN LITERATUR Zakat

Zakat merupakan komponen utama polisi fiskal dalam ekonomi Islam. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (2008) mengatakan bahawa zakat merupakan sumber pertama dan terpenting dari penerimaan negara, pada awal pemerintahan Islam. Pada beberapa ayat al-Qur‟an zakat beberapa kali disejajarkan dengan kewajipan solat. Hal ini memang tidak dihairankan kerana zakat pun menjadi salah satu dari lima perkara yang harus dilakukan oleh seorang Muslim, di mana Nabi Muhammad SAW., bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahawa tiada Illah yang berhak disembah selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan solat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadan.” (al-Bukhari & Muslim). Konsep zakat secara mendasar tidak mengalami perubahan yang signifikan dari waktu ke waktu. Hal yang membezakan hanyalah masalah operasional penghimpunan dan pemberdayaan dana zakat, kerana konsep fikah zakat menyebutkan bahawa sistem zakat berusaha untuk mempertemukan pihak surplus Muslim dengan pihak defisit Muslim. Hal ini dengan harapan terjadi projeksi pemerataan pendapatan antara surplus dan defisit Muslim atau bahkan menjadikan kelompok yang defisit (mustahiq) menjadi surplus (muzakki) (Nasution, 2006).

Perkembangan kajian dan pembahasan tentang zakat di Indonesia telah memasuki babak baru pasca disahkannya Undang-Undang No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Dalam Undang- Undang tersebut, zakat didefinisikan sebagai harta yang wajib disisihkan oleh seorang Muslim atau badan yang dimiliki oleh orang Muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya. Menurut Hafidhuddin (2002) zakat adalah bahagian dari harta dengan pensyaratan tertentu, yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya, untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya, dengan pensyaratan tertentu pula. Dengan pemahaman ini, zakat dapat dikategorikan sebagai ibadah maliyyah ijtima‟iyyah, maksudnya ibadah di bidang harta yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam membangun masyarakat (Fernandi & Fujiyono, 2011).

Infaq

Muhsin (2004) berpendapat bahawa infaq adalah pemberian kepada keluarga atau keluarga rapat (ibu, bapa, anak, bapa saudara dan lainnya), anak-anak yatim, orang miskin, musafir yang kehabisan bekal (ibnu sabil) dan budak-budak yang berusaha untuk memerdekakan dirinya. Hal ini sesuai dengan isi daripada al-Qur‟an surah al-Baqarah, 215 yang bermaksud, “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”

109

Menurut Undang-Undang No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, infaq adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Menginfakkan harta didukung oleh sejumlah ayat dan hadith-hadith Rasulullah SAW yang menganjurkan, bahkan memerintahkan untuk melakukannya dan menggalakannya.

Sedekah

Secara prinsip sedekah tidak berbeza dengan infak, namun dalam beberapa hadith Rasulullah SAW memberikan penjelasan bahawa sedekah yang merupakan suatu pemberian kepada orang lain tidak harus dalam bentuk materi, di mana Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu, walaupun itu hanya bermuka cerah pada orang lain,” (Muslim). Bahkan dalam Undang-Undang No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, definisi sedekah sama dengan definisi infaq, iaitu harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan di luar zakat untuk kemaslahatan umum.

Wakaf

Dalam hukum Islam, wakaf bererti menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama (zatnya) kepada seseorang atau nazir (penjaga wakaf) baik berupa perorangan mahupun lembaga, dengan ketentuan bahawa hasilnya digunakan sesuai dengan syariat Islam. Harta yang telah diwakafkan keluar dari hak milik yang mewakafkan (wakif) dan bukan pula hak milik nazir/lembaga pengelola wakaf tapi menjadi hak milik Allah yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Mustafa al-Siba‟i (1987) dan Muhsin (2004) membagi wakaf menjadi dua bahagian. Pertama, adalah wakaf dalam lingkungan keluarga (zurri) dan wakaf untuk lingkungan masyarakat umum (khairi). Wakaf yang pertama adalah harta yang digunakan untuk jaminan sosial dalam lingkungan keluarga sendiri dengan syarat dipakai semata-mata untuk kebaikan yang berjalan lama, seperti untuk menolong keluarga yang melarat, sakit, sedang menuntut ilmu dan sebagainya. Wakaf yang kedua adalah harta yang digunakan untuk kepentingan masyarakat umum dalam hal jaminan sosial, seperti membangun masjid, pesantren, madrasah, sekolah Islam, membantu anak yatim, orang-orang fakir- miskin dan sebagainya.

KEBAJIKAN PEMERINTAH INDONESIA TERKAIT ZISWAF

Konsepsi zakat sebagai satu bahagian dari rukun Islam merupakan salah satu rukun dalam membangun perekonomian umat. Dengan demikian dimensi zakat tidak hanya bersifat ibadah ritual saja, tetapi mencakup juga dimensi sosial, ekonomi, keadilan dan kesejahteraan. Di Indonesia saat ini dengan 88 peratus penduduknya adalah Muslim (CRCS, 2008), Potensi dana zakat di Indonesia pada tahun 2007 lalu mencapai Rp 9,09 trilion. Data ini diperoleh dengan asumsi pada tahun 2007 ada 29,065 juta keluarga sejahtera dari sekitar 87 persen penduduk Muslim yang membayar zakat rata-rata Rp 684.550 per tahun per orang (www.pksinteraktif.com) untuk zakat profesi saja potensinya adalah 6,3 trilion/tahun. Dari seluruh potensi zakat maal yang ada bisa tergali sebesar 19,6 triune/tahun.

Potensi ini sangat luar biasa, namun potensi tersebut belum terkelola dengan baik. Kelahiran UU No.

38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat cukup mampu meniupkan angin segar dalam dunia perzakatan di Indonesia, namun regulasi pemerintah berupa PP (Peraturan Pemerintah) yang mengurai tentang pelaksanaan teknis dari Undang-Undang tersebut sampai saat ini belum juga ditetapkan.

Sehingga apa yang terjadi Pelaksanaan undang-undang tersebut menjadi tempang. Pasca sisi lain tingkat kepercayaan (trust) masyarakat pada badan atau institusi pengelola zakat masih rendah. Hal ini disebabkan oleh belum adanya standard profesionalisme baku yang menjadi tolak ukur bagi badan atau lembaga pengelola zakat di Indonesia. Studi kes pada mendistribusikan zakat yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur hingga menimbulkan korban jiwa. Kes ini menunjukkan bahawa di satu sisi angka kemiskinan yang masih tinggi di sisi lain pola pengelolaan zakat belum terorganisir secara baik. Sehingga akibat yang ditimbulkan adalah ketempangan sosial yang berhujung pada potensi konflik di masyarakat.

110

Untuk menfasilitii kewajipan berzakat bagi umat Islam di Indonesia, pemerintah telah menerbitkan undang-undang pengelolaan zakat (Undang-undang No 38 Tahun 1999) Undang-undang menetapkan kewajipan pemerintah memberikan perlindungan, pembinaan dan pelayanan kepada muzakki, mustahiq dan amil zakat. Pengelolaan yang dilakukan oleh badan amil zakat yang dibentuk oleh pemerintah. Di samping itu, undang-undang juga memberi pelang kepada amil zakat swasta untuk mengumpulkan zakat dan mendistribusikan zakat dengan syarat dan ketentuan yang diatur lebih lanjut oleh Menteri Agama. Undang-undang negara hanya mengatur lembaga pengelola zakat.

Sedangkan hukum zakat tetapi mengikuti ketentuan syariah sesuai dengan al-Qur‟an dan sunnah.

Upaya memperkuat lembaga amil zakat dalam rangka melaksanakan syariah Islam di bidang ekonomi perlu didorong oleh pemerintah dan lembaga legislatif dengan memberikan dukungan yang maksimal.

Dukungan politik dan polisi pemerintah juga perlu dilakukan secara simulant dengan sosialisasi zakat yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata. Berkaitan dengan masa depan pengelolaan zakat dalam perspektif hukum Indonesia, maka penataan lembaga zakat adalah hal yang perlu dilakukan agar perkembangan lembaga zakat tidak stagnant atau jalan di tempat dalam situasi di mana harapan umat begitu tinggi kepada lembaga zakat. Penataan lembaga zakat harus dilihat dari dua skala yang berbeza tetapi saling berkaitan satu sama lain. Pertama bahagian yang dapat dilakukan sendiri oleh lembaga amil zakat iaitu hal-hal yang bersifat teknik dan mikro. Kedua bahagian yang berada dalam zon polisi pemerintah iaitu hal-hal yang bersifat fundamental dan makro. Penataan pada hal-hal yang fundamental dan makro yang menjadi kewenangan pemerintah sebagai pemegang autoriti polisi publik tidak bermaksud mengurangi atau mempersempit ruang partisipasi masyarakat dalam pengelolaan zakat.

Tetapi adalah untuk mewujudkan persatuan sistem dalam pengelolaan zakat di tingkat nasional dan daerah, sehingga upaya untuk mengurangi kemiskinan dan pembangunan kesejahteraan sosial melalui pendayagunaan dana zakat, infaq dan sedekah mencapai hasil sebagaimana yang kita harapkan bersama. Peranan pemerintah dalam pengelolaan zakat dapat diringkas dalam 2 (dua):

pertama, pemerintah berperanan sebagai pelaksana tunggal dalam pengelolaan zakat, baik dalam pemungutan mahupun pembahagian zakat; dan kedua, pemerintah berperanan sebagai pemberi hukuman („uqubat) terhadap mereka yang enggan melaksanakan zakat (Huda, 2011).

ANALISIS PENGARUH PEMANFAATAN ZISWAF

Salah satu contoh penerapan ZISWAF iaitu pada Masjid Jogokariyan Yogyakarta merupakan salah satu lembaga organisasi yang bergerak di bidang ibadah keagamaan, yang sudah berkembang dan selalu ingin mengikuti perkembangan teknologi informasi yang sedang berkembang. Bidang administrasi masjid selama ini masih terasa sulit untuk dikerjakan kerana menggunakan format manual, hal ini menarik penulis untuk meneliti dan mengembangkan system informasi masjid berasas komputer. Kegiatan masjid, semua data masih dikerjakan secara manual dan disimpan ke dalam satu buku besar, pencatatan yang masih manual menyebabkan terjadi human error, jumlah jemaah yang semakin banyak pada tahun 2009 jumlah jemaah kurang lebih 850 orang jemaah, tahun 2010 jumlahnya 1.020 orang jemaah, tahun 2011 tercatat jumlah jemaah masjid sebanyak 1.784 jemaah. Hal ini mengakibatkan pendataan jemaah yang semakin banyak Data jemaah tersebut digunakan untuk membuat program kegiatan masjid seperti pendataan jemaah yang berpotensi menjadi sohibul qurban dan jemaah yang mendapatkan girik daging qurban dan pembahagian zakat fitrah. Dari jumlah tersebut didapati banyak kesulitan seperti kemas kini data apabila jemaah pindah domisili atau meninggal dunia dan kesulitan mencari data untuk mengetahui kondisi jemaah apabila ada program bantuan, kesulitan tidak dapat memberikan informasi yang cepat mengenai data jemaah yang dituju, serta apabila diperlukan golongan darah yang sama dapat diketahui.

Pengelolaan sistem informasi administrasi di Masjid Jogokariyan saat ini yang masih minim dalam penggunaan sumber daya komputer sangat menyulitkan pengurus di bidang administrasi kewangan dan kesekretariatan masalah yang sering terjadi adalah kesulitan dalam masalah pelayanan pendataan jemaah, peningkatan jumlah jemaah seiring peningkatan jumlah penduduk membutuhkan kecepatan pelayanan dari tenaga administrasi. Kemudian pelayanan dalam pencatatan transaksi

111

kewangan dan laporan pendapatan kewangan masjid di setiap minggu, bulan atau tahap-tahap tertentu pelaporan kewangan. Tenaga administrasi harus mengumpulkan semua berkas pencatatan dari awal sampai dengan akhir tempoh.

Masjid Jogokariyan memiliki visi, iaitu “Terwujudnya masyarakat sejahtera lahir batin yang diredai Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid”. Sementara itu, misi dari Masjid Jogokakariyan adalah menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat; memakmurkan kegiatan ubudiyyah di masjid; menjadikan masjid sebagai tempat rekreasi rohani jama „ah; menjadikan masjid tempat merujuk berbagai persoalan; dan menjadikan masjid sebagai pesantren dan kampus masyarakat. Masjid Jogokariyan merancang beberapa program dengan konsep management masjid.

Program-program tersebut dijalankan oleh takmir sebagai langkah strategis dan praktis untuk menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai pusat peradaban umat. Beberapa penjelasan detail mengenai program-program yang ada antara lain:

Pemetaan Jemaah Takmir dan pengurus Masjid Jogokariyan memiliki peta dakwah yang jelas, wilayah dakwah yang nyata dan jemaah yang terdata. Masjid Jogokariyan menginisiasi sensus masjid yang ditujukan untuk mengetahui data-data jemaah secara detail, mencakup potensi dan keperluan, peluang dan tentangan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, serta kekuatan dan kelemahan. Pendataan itu dimaksudkan sebagai database dan peta dakwah agar kegiatan masjid bisa lebih komprehensif. Database yang mereka miliki tidak hanya menyoal hal-hal semacam itu, melainkan juga menyoal siapa saja jemaah yang sudah menunaikan solat dan yang belum, siapa jemaah yang solat berjemaah ke masjid dan yang tidak, siapa jemaah yang berqurban dan berzakat di Baitulmal Masjid Jogokariyan, serta siapa saja jemaah yang aktif mengikuti kegiatan di masjid, seperti kajian dan yang tidak. Di dalam peta data yang mereka miliki, diperlihatkan peta rumah penduduk Kampung Jogokariyan yang sekali gus menjadi jemaah masjid tersebut. Di dalam peta tergambar beberapa simbol seperti Kaabah (bagi penduduk yang telah berhaji), unta (bagi yang telah berqurban), coin (bagi yang telah berzakat) dan lain-lain. Peta tersebut juga disimbolkan dengan berbagai warna yang berwarna-warni seperti hijau, hijau muda, kuning dan seterusnya. Sementara itu, data-data mengenai potensi tadi dipergunakan oleh Masjid Jogokariyan untuk berbagai keperluan. Masjid Jogoakriyan sengaja tidak membuat unit usaha sendiri di sekitar masjid. Hal itu dimaksudkan untuk tidak menyakiti hati jemaah yang memiliki usaha serupa. Sebagai gantinya, Masjid Jogokariyan selalu memberdayakan warga yang tinggal di sekitar masjid untuk berbagai macam kegiatan. Sebagai misal, setiap minggu, Masjid Jogokariyan selalu menerima ratusan tamu. Untuk keperluan konsumsi, takmir masjid memesankannya pada jemaah yang memiliki usaha rumah makan atau katering.

Undangan Solat Subuh Dalam rangka meningkatkan niat jemaah untuk beribadah subuh berjemaah di masjid, takmir Masjid Jogokariyan memiliki cara tersendiri. Mereka membuat undangan khusus kepada seluruh jemaah yang disertai dengan nama lengkap mereka. Undangan tersebut berbunyi, “Mengharap kehadiran Bapak/Ibu/Saudara .... dalam acara Salat Subuh Berjemaah, besok pukul 04.15 WIB di Masjid Jogokariyan.”. Di dalam undangan tersebut juga disertai hadith-hadith mengenai pentingnya beribadah Subuh berjemaah di masjid. Undangan semacam itu terlihat sangat eksklusif dan terbukti mampu meningkatkan jumlah jemaah solat subuh berjemaah di Masjid Jogokariyan.

Gerakan Infak Nol Rupiah Berbeza dengan masjid pada umumnya, Masjid Jogokariyan sangat berupaya agar saldo infak yang diberikan jemaah habis setiap pekan alias nol rupiah, kecuali apabila ada perencanaan pembangunan atau renovasi tertentu. Para pengurus berpendapat bahawa infak

jemaah

bukan seharusnya disimpan di dalam rekening, melainkan harus dipergunakan untuk kemaslahatan umat agar dapat memiliki nilai guna. Pemanfaatan wang infak pun bermacam-macam, selain untuk operasional masjid, juga digunakan untuk keperluan mendesak jemaah atau warga yang tinggal di sekitar masjid. Sebagai misal, apabila ada jemaah yang anaknya perlu membayar wang sekolah, berubat ke rumah sakit dan lain-lain. Menurut mereka, sangat tidak etis ketika saldo rekening bank masjid menumpuk tetapi di sekeliling mereka masih banyak warga yang merasakan kesulitan hidup.

112

Gerakan Jamaah Mandiri diinisasi oleh Masjid Jogokariyan yang bertujuan untuk menghitung jumlah infak ideal yang perlu dibayarkan oleh

jemaah

. Setiap jemaah akan diberi tahu jumlah wang infaknya tiap pekan, apabila jumlah yang ditentukan sesuai dengan jumlah yang diinfakkan, maka jemaah tersebut disebut sebagai jemaah mandiri. Apabila wang infaknya lebih, mereka disebut sebagai jemaah pensubsidi, sedangkan apabila wang infaknya kurang, mereka akan disebut sebagai jemaah disubsidi. Metode semacam itu mampu membuat nominal infak yang diterima oleh Masjid Jogokariyan meningkat sebesar 400 peratus setiap minggu. Takmir masjid pun akan memberikan laporan transparent terkait alur pemasukan dan pengeluaran dana, sehingga jemaah akan merasa senang berinfak sekali pun tidak diminta. Hal itu diharapkan oleh takmir sebagai upaya agar ketika akan melakukan renovasi masjid, mereka tidak perlu membebani jemaah dengan proposal.

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

Islam menganjurkan seorang Muslim untuk berfilantropi agar harta kekayaan tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya (al-Hasyr, 7). Ketika menerangkan filantropi, al-Qur‟an sering menggunakan istilah zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF) yang mengandung pengertian berderma.

Kedermawanan dalam Islam, yang mencakup dimensi-dimensi kebaikan secara luas seperti ZISWAF (zakat, infak, sedekah dan wakaf) merupakan istilah-istilah yang menunjukkan bentuk rasmi filantropi Islam. Sistem filantropi Islam ini kemudian dirumuskan oleh para fuqaha (ahli fiqih) dengan banyak bersandar pada Al-Qur‟an dan hadith Nabi mengenai ketentuan yang terperinci, seperti jenis-jenis harta, kadar minimal, jumlah, serta aturan yang lainnya terkait ZISWAF. Zakat merupakan komponen utama polisi fiskal dalam ekonomi Islam. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (2008) mengatakan bahawa zakat merupakan sumber pertama dan terpenting dari penerimaan negara, pada awal pemerintahan Islam. Menurut Undang-Undang No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, infak adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Menginfakkan harta didukung oleh sejumlah ayat dan hadith-hadith Rasulullah SAW yang menganjurkan, bahkan memerintahkan untuk melakukannya dan menggalakannya.

Secara prinsip sedekah tidak berbeza dengan infak, namun dalam beberapa hadith Rasulullah SAW memberikan penjelasan bahawa sedekah yang merupakan suatu pemberian kepada orang lain tidak harus dalam bentuk materi, di mana Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu, walaupun itu hanya bermuka cerah pada orang lain.” (Muslim). Mustafa As-Siba‟i (1987) dalam Muhsin (2004) membagi wakaf menjadi dua macam. Pertama, adalah wakaf dalam lingkungan keluarga (zurri) dan wakaf untuk lingkungan masyarakat umum (khairi). Wakaf yang pertama adalah harta yang digunakan untuk jaminan sosial dalam lingkungan keluarga sendiri dengan syarat dipakai semata-mata untuk kebaikan yang berjalan lama, seperti untuk menolong keluarga yang melarat, sakit, sedang menuntut ilmu dan sebagainya. Wakaf yang kedua adalah harta yang digunakan untuk kepentingan masyarakat umum dalam hal jaminan sosial, seperti membangun masjid, pesantren, madrasah, sekolah Islam, membantu anak yatim, orang-orang fakir-miskin dan sebagainya. Dapat disimpulkan perlunya menanamkan pola fikir berfilantropi sejak dini sebagai upaya mengoptimumkan pemanfaatan dan penyaluran ZISWAF pada subjek yang tepat sehingga fungsi ZISWAF tersalurkan dengan baik.

Rekomendasi

Dapat disimpulkan bahawa berfilantropi atau memanfaatkan penyaluran ZISWAF seperti yang dianjurkan dalam ekonomi Islam merupakan cara yang efektif dalam upaya menyejahterakan perekonomian suatu negara dengan menyalurkan ZISWAF kepada subjek yang tepat sehingga fungsi ZISWAF dalam upaya meratakan keadilan dalam perekonomian dapat terlaksana dengan adil. Oleh kerana itu ZISWAF memiliki peranan yang cukup penting sehingga ZISWAF perlu diterapkan sebagai upaya dalam memajukan perekonomian suatu bangsa. Sehingga menanamkan pola fikir untuk berfilantropi sejak dini harus dikuatkan sehingga generasi penerus akan memiliki sikap pro terhadap filantropi sebagai bentuk kecintaan terhadap sesama manusia sebagai upaya penyetaraan keadaan ekonomi.

113 RUJUKAN

Fernandi, S. D., & Pujiyono, A. (2011). Analisis Efektifitas Pemberdayaan Dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (Ziswaf) Lembaga Amil Zakat Nasional Pos Keadilan Peduli Umat (Pkpu) Cabang Semarang Pada Prosmiling Terpadu Dan Program Klinik Peduli (Doctoral Dissertation, Universitas Diponegoro).

Hafidhuddin, D. (2002). Zakat dalam perekonomian modern. Gema Insani.

Huda, M. Peran Pemerintah Dalam Pengelolaan Zakat Menghadapi Pasar Tunggal Asean 2015.

Ilchman, Warren F., Stanley N. Katz dan Edward L. Queen II (ed.). (2006). Philanthropy in the World Traditions (Filantropi di Berbagai Tradisi Dunia), Jakarta: Center for the Study of Religion and Culture (CSRC)

Islam, Pusat Pengkajian Dan Pengembangan Ekonomi (2008). "Ekonomi Islam." Jakarta Raja Grafindo Persada.

Klein, Kim. (2001). Fundraising for Social Change, Fourth Edition, Oakland California: Chardon Press.

Siba‟i, Mustafa dan Muhsin. 2004. Hukum Islam dan Perundang-undangan. Jakarta: Bulan Bintang Nasution, M. E. (2006). Zakat Dan Wakaf Sebagai Pilar dalam Sistem Perekonomian

Nasional. IQTISHODUNA, 1(3).

Zahrah, Abu. (2005). Muhadlarah fî al-Waqf, Dar al-Fikr al-„Arabi, Cairo

114