• Tidak ada hasil yang ditemukan

03 MANAJEMEN PRODUKSI USAHATANI

N/A
N/A
Sulasmi Istiqomah

Academic year: 2024

Membagikan "03 MANAJEMEN PRODUKSI USAHATANI"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN PRODUKSI USAHATANI

PERTEMUAN

3

(2)

PERTANIAN INDONESIA DI

PERSIMPANGAN JALAN

Kontribusi pertanian dalam pembangunan ekomomi

(Kuznets,1964; Todaro,2000):

1.Pertanian sebagai penyerap TK 2.Kontribusi terhadap INCOME 3.Kontribusi dalam penyediaan pangan

4.Pertanian sebagai penyedia bahan baku

5.Kontribusi dlm bentuk kapital 6.Pertanian sbg sumber devisa

Infrastruktur pertanian terabaikan Investasi rendah Akses pasar

lemah Akses

lembaga keuangan lemah

PERTANIAN

DI PERSIMPANGAN JALAN

Petani

terpinggirkan

Organisasi tani krng berfungsi Import tinggi

(3)

USAHA PERTANIAN DI INDONESIA

Didominasi Oleh

1. Skala kecil,

2. Modal yang terbatas,

3. Penggunaan teknologi yang masih sederhana, 4. Sangat dipengaruhi oleh musim,

5. Wilayah pasarnya lokal,

6. Umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi),

7. Akses kredit, teknologi & pasar sangat rendah,

8. Pasar yg sifatnya mono/oligopsoni yg dikuasai oleh pedagang-pedagang besar shg tjd eksploitasi harga yg merugikan petani.

(4)

ILMU USAHATANI

Ilmu terapan yang membahas atau mempelajari bagaimana menggunakan SUMBERDAYA secara efisien dan efektif pada suatu usaha pertanian agar diperoleh hasil semaksimal mungkin.

Lahan T. Kerja Modal Manajemen

(5)

ILMU

USAHATANI

ILMU

PERTANIAN

Produksi, tania, ekper, pembiayaan &

koperasi

Agronomi, Proteksi Tanaman, Hama Penyakit

Tanah, Pupuk, Irigasi,

Klimatologi Tanah /

Lahan

Manusia / Petani

Tanaman / Hewan

ILMU SOSEK

Sosiologi

(6)

POLA : menggolongkan usaha berdasarkan macam lahannya, yaitu pola usahatani lahan basah dan pola usahatani lahan kering.

CORAK : tingkatan hasil pengelolaan usahatani, subsisten, transisi dan komersial.

BENTUK : dibedakan berdasarkan penguasaan faktor-faktor produksi oleh petani, yaitu : bentuk perorangan (individu), koperatif (kelompok), kolektif (negara dan inti/plasma).

KLASIFIKASI USAHATANI (SOEHARDJO, 1972) :

POLA, CORAK, BENTUK, TIPE

(7)

TIPE menunjukkan bagaimana suatu komoditi diusahakan, khusus, tidak khusus dan campuran.

a. Khusus ketika pengelola usahatani selalu mengusahakan satu macam komoditi sebagai pilihan usaha.

b. Tidak khusus jika komoditi yang diusahakan jenisnya tidak tetap atau selalu berganti.

c. Campuran jika jenis komoditi yang diusahakan lebih dari satu, yaitu tumpangsari (menanam bermacam-macam tanaman pada satu

lahan dalam waktu yang sama) atau tumpang gilir (menanam

bermacam-macam tanaman secara bergilir pada lahan yang sama).

KLASIFIKASI USAHATANI (SOEHARDJO, 1972) :

POLA, CORAK, BENTUK, TIPE

(8)

TRI TUNGGAL USAHATANI

(MANUSIA, TANAH, TUMBUHAN/HEWAN)

(9)

Terdiri dari unsur – unsur manusia, tanah dan tanaman / hewan yg mrp satu kesatuan organis yg tdk dapat dipisahkan. Apabila satu dari ketiga unsur tersebut tidak ada maka produksi yg dihasilkan tdk akan memuaskan dan mungkin akan menyebabkan kegagalan

TANAH / LAHAN Diperlukan karena suatu

kegiatan usahatani memerlukan tempat untuk bercocok tanam, beternak, dan memelihara

ikan TANAMAN /

HEWAN Komoditas yg dibudidayakan dlm kegiatan usahatani yg

dpt menghasilkan produksi

MANUSIA / PETANI

Penggerak atau sumber TK &

pengelolaan yg mengatur, mengawasi,

& memelihara pertumbuhan tanaman / hewan

TRI

TUNGGAL

3 2

1

(10)

USAHATANI DAL AM SISTEM AGRIBISNIS

(11)

A. PRODUSEN

penghasil produk agribisnis, berupa :

tanaman, ikan, ternak, serat-seratan dan kayu untuk memenuhi keluarganya

maupun memenuhi keluarganya maupun pasar (domestik dan pasar ekspor).

PETANI

PERAN : PRODUSEN, KONSUMEN, MANAJER

B. KONSUMEN

membutuhkan komoditas yang tidak dihasilkankannya, terutama hasil

industri-manufaktur yang bahan bakunya dari produk pertanian dan juga dari hasil pertanian sendiri.

(12)

C. MANAJER 1. Menjalankan fungsi-fungsi manajemen, memilih berbagai alternatif (pilihan) usaha agribisnis

yang akan dikelolanya.

2. Menerima resiko akibat adanya ketidak pastian usaha (risk and uncertainly).

3. Menerima penghargaan dari siapapun atas prestasi yang ia peroleh dari kesuksesan hasil pengelolaan usaha taninya.

4. Penanggung jawab atas kesejahteraan semua anggota keluarga yang ada di bawah tanggung jawabnya.

5. Sebagai warga negara yang harus mentaati aturan formal yang dibuat pemerintah, antara lain membayar pajak, dan kepentingan

kelompok masyarakat lain disekitarnya.

(13)

A. Subsisten

1. Tujuan utamanya menjaga keamanan pangan keluarga secara maksimal.

2. Produk usahatani yang dihasilkan bermacam-macam bahan makanan.

3. Status lahan yang diusahakan milik sendiri atau keluarga.

4. Sumber tenaga kerja yang utama adalah keluarga dan tenaga gotong royong.

5. Investasi mengutamakan tenaga kerja ( intensive labour), input usahatani umumnya rendah.

6. Hasil usahatani untuk memenuhi konsumsi keluarga.

7. Pendapatan umumnya rendah tetapi relatif stabil.

8. Sangat tergantung pada kondisi alam.

KLASIFIKASI PETANI

(14)

B. Komersial

1. Memaksimumkan keuntungan dengan batasan kendala.

2. Specialisasi pada produk-produk untuk dijual.

3. Status lahan yang diusahakan berstatus bebas (sewa, bagi hasil atau hak guna usaha).

4. Sumber tenaga kerja utama adalah tenaga sewa.

5. Investasi yang senantiasa meningkat terutama pada bangunan, alat-alat pertanian, dan pemakaian input usahatani.

KLASIFIKASI PETANI

(15)

KATEGORI SUBSITEN/KOMERSIAL

1. Subsisten/Komersial dalam pola pikir.

2. Subsisten/Komersial skala usaha.

3. Subsisten/Komersial dalam komoditi yang diusahakan.

Dewasa ini mungkin tidak ada lagi petani yang subsisten penuh ataupetani yang subsisten penuh atau komersial penuh, sekarang sebagian besar kelompok tani pada tahap:“ semi komersial

(Johnson, 1981)

KLASIFIKASI PETANI

(16)

A. > 0.5 Ha B. < 0.5 Ha C. TUNA LAHAN

Mempunyai modal.

Kemudahan memperoleh kredit.

Surplus uang tunai untuk investasi.

Mengalami defisit dalam menghidupi keluarga.

Mengandalkan tenaga untuk disewa oleh pemilik lahan atau bekerja di sektor

informal lainnya.

KATEGORI BERDASAR LUAS LAHAN

(Makeham dan Malcolm, 1991)

(17)

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

Alam (Iklim dan Lahan), TK, Modal dan Pengelolaan

Faktor produksi usahatani terdiri dari : lahan, tenaga kerja, modal dan pengelolaan.

Menurut Soekartawi et. al. (1986), ciri-ciri usahatani

sehubungan dg faktor produksi yang dimilikinya adalah : a) lahan yang dimiliki sempit,

b) modal kurang,

c) pengatahuan petani masih terbatas dan kurang dinamis,

sehingga: pendapatan petani rendah.

(18)

I. LAHAN EKOSISTEM BASAH II. LAHAN EKOSISTEM KERING a. SAWAH

b. KOLAM c. TAMBAK d. DANAU e. WADUK f. SUNGAI

a. LADANG b. TEGALAN

c. PEKARANGAN d. STEVA

e. SAVANA/SABANA f. HUTAN

KLASIFIKASI LAHAN:

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

A. LAHAN

(19)

a. SAWAH b. KOLAM 1. Sawah pengairan teknis

2. Sawah pengairan setengah teknis 3. Sawah pengairan pedesaan

4. Sawah rawa

5. Sawah rawa pasang surut

6. Sawah lebak (di muara sungai)

1. Kolam air tenang (fish fond)

2. Kolam air deras (running water) I. EKOSISTEM BASAH

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

A. LAHAN

(20)

1. Air Payau 2. Air BIasa c. TAMBAK

d. DANAU

e. SUNGAI

1. Danau Alam (Danau Toba Dll) 2. Danau Buatan (Jatiluhur,

Saguling, Gajah Mungkur) 1. Alam

2. Buatan (Terusan)

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

A. LAHAN

(21)

21

a. Penyempitan Luas Lahan Pertanian

Hal ini disebabkan oleh beralihnya fungsi lahan pertanian menjadi lahan untuk industri, pemukiman, lapangan golf dan sebagainya.

b. Fragmentasi Lahan

Fragmentasi lahan (lahan pertanian yang lokasinya terpencar dan terpecah) disebabkan oleh pembelian, warisan, sewa, sakap dan sebagainya.

Ditinjau dari kegiatan usahatani, fragmentasi lahan menimbulkan kerugian, antara lain: tidak efisien waktu, pengawasan, perencanaan alat dan banyak tanah produktif yang hilang.

PERMASALAHAN LAHAN

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

A. LAHAN

(22)

c. Status Penguasaan Lahan

Status penguasaan lahan oleh petani :

Milik sendiri

Sewa

Bagi hasil.

Perbedaan status penguasaan lahan berpengaruh terhadap kemampuan petani membuat perencanaan jangka pendek mau pun panjang (penentuan jenis komoditi, alokasi sarana produksi dll.), kebebasan mengelola usahatani tanpa campur tangan orang lain, rasa tanggung jawab lebih besar terhadap usahataninya dan sebagainya.

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

A. LAHAN

(23)

I. Jenis tenaga kerja

1. Tenaga Kerja Manusia, terdiri dari : TK Pria, TK Wanita dan TK Anak

2. Tenaga Kerja Ternak 3. Tenaga Kerja Mesin

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

B. TENAGA KERJA

(24)

II. Satuan tenaga kerja

Hari Kerja Pria (HKP)

Hari Kerja Wanita (HKW) Hari Kerja Anak (HKA) Hari Kerja Ternak (HKT) Hari Kerja Mesin (HKM)

Konversi (1HKP=8 jam per hari) antar TK (Kaslan Tohir):

1 HKP = 1.25 HKW 1 HKW = 0.7 HKP 1 HKT = 2.1 HKP 1 HKM = 4 HKP

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

B. TENAGA KERJA

(25)

III. Sumber tenaga kerja dalam usaha tani :

1. Tenaga kerja dalam keluarga (family labour) 2. Tenaga Kerja luar keluarga (hired labour)

3. Tenaga kerja gotong royong

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

B. TENAGA KERJA

(26)

IV. Sistem kerja

1. Sistem upah kerja harian tidak tetap (upah harian lepas)

2. Sistem upah harian tetap 3. Sistem upah borongan 4. Sistem upah kontrak

5. Sistem upah “ceblokan” identik dengan upah kontrak berjangka

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

B. TENAGA KERJA

(27)

V. Bentuk upah

1. Uang dan Makanan (Natura)

2. Uang saja (In-Natura), biasanya dilaksanakan pada sistem upah borongan.

3. Bentuk lain seperti dengan bagian hasil panen (bentuk hasil usaha tani)

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

B. TENAGA KERJA

(28)

I. Jenis Modal

1. Modal tetap (fixed capital), contoh : traktor, alat- alat pertanian

2. Modal tidak tetap (variabel capital), contoh : nilai untuk membeli pupuk, bibit, pestisida.

FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

C. MODAL (CAPITAL)

(29)

II. Sumber modal

1.Modal sendiri

2.Modal pinjaman (kredit)

3.Modal bantuan tidak mengikat dan bantuan yang

mengikat (bantuan, pemerintah, swasta atau luar negeri).

FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

C. Modal (Capital)

(30)

III. Tingkat bunga (kredit) dalam usaha tani ;

1.Dari sumber lembaga kredit formal (BRI, BPR, Koperasi) berkisar antara 1-1.5 % per bulan.

2.Dari sumber lembaga kredit non formal (pelepas uang) berkisar antara 5-20 % per bulan.

IV. Bentuk jaminan kredit dalam usaha tani (agribisnis) dapat : lahan usaha tani, tanaman, ternak atau benda lain yang berharga (emas, alat-alat produksi)

FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

C. Modal (Capital)

(31)

V. Jangka waktu kredit :

• Kredit jangka pendek : 3 – 7 bulan

• Kredit jangka menengah : 8 bulan – 2 tahun

• Kredit jangka panjang : 2 tahun keatas

FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

C. Modal (Capital)

(32)

Manajemen dalam subsistem produksi agribisnis (usaha tani) dapat dibedakan atas :

1. Manajemen keluarga (dalam manajemen ini tidak ada pembagian yang jelas antar bagian (kegiatan usaha).

2. Manajemen tradisional ( dalam manajemen ini sudah ada pembagian tugas tetapi tidak mutlak)

3. Manajemen modern (sudah ada pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas antar bagian), misalnya dalam usaha agribisnis skala besar (manajemen perkebunan)

FAKTOR PRODUKSI USAHATANI :

D. Manajemen (Pengelolaan)

(33)

Biaya usahatani merupakan nilai semua pengorbanan yang diperlukan untuk menghasilkan produk di tingkat usahatani.

Besar kecilnya biaya usahatani dipengaruhi oleh : 1. Jenis komoditas yang diusahakan.

2. Jenis lahan.

3. Topografi.

4. Teknologi.

PEMBIAYAAN USAHATANI

(34)

Jenis Biaya :

1. Biaya Tetap (fixed cost), yaitu biaya yang nilainya tidak dipengaruhi oleh jumlah output yang dihasilkan. Contoh:

pajak, sewa tanah, bunga pinjaman, peralatan pertanian, dll.

2. Biaya variabel (variable cost), yaitu biaya yang nilainya dipengaruhi oleh jumlah output yang dihasilkan. Contoh:

biaya saprodi, tenaga kerja, bahan bakar dll.

PEMBIAYAAN USAHATANI

(35)

1. Efisiensi Biaya Usahatani

Diukur menggunakan R/C Ratio.

Merupakan rasio total penerimaan dengan total pengeluaran usahatani.

R = Py Y

C = TFC + TVC

R/C ratio = {(Py.Y) / (FC +VC)}

Keterangan :

R = Penerimaan (Rp)

C = Biaya (Rp)

Py = Harga output (Rp/Kg)

Y = Output (Kg)

TFC = Biaya tetap (fixed cost) (Rp) TVC = Biaya tidak tetap (variabel cost) (Rp)

PEMBIAYAAN USAHATANI

(36)

Kriteria Efisiensi

• Jika R/C ratio > 1 : penggunaan biaya usahatani efisien.

• Jika R/C ratio < 1 : penggunaan biaya usahatani tidak efisien.

• Jika R/C ratio = 1 : penggunaan biaya usahatani belum efisien.

PEMBIAYAAN USAHATANI

(37)

2. Efisiensi Penggunaan Teknologi

Menggunakan B/C ratio, dengan rumus :

n

i

Pxi Xi n

i

Pyi Yi Ratio

BC

1 1

PEMBIAYAAN USAHATANI

Keterangan :

Y = tambahan output setelah penggunaan teknologi

Py = harga output X = tambahan input Px = harga input

(38)

Kriteria Efisiensi Teknologi :

• Jika Jika B/C ratio > 1 : penerapan teknologi efisien.

• Jika B/C ratio < 1 : penerapan teknologi tidak efisien.

• Jika B/C ratio = 1 : penerapan teknologi belum efisien.

PEMBIAYAAN USAHATANI

(39)

1. Pemilihan Komoditas Pertanian

Pemilihan komoditas yg diusahakan sangat penting dlm keberhasilan usaha produksi pertanian.

Komoditas yg bernilai ekonomis tinggi mjd prioritas utama, tp perlu dipertimbangkan pemasarannya.

Bisa jd komoditas bernilai ekonomis dlm produksi, tp tdk tepat utk daerah produksi & wilayah pemasaran yg dituju.

Komoditas yg telah dipilih selanjutnya ditetapkan jenisnya/varietasnya sesuai dg kondisi topografi & iklim lokasi yg direncanakan.

PERENCANAAN USAHATANI

(40)

2. Pemilihan Lokasi Produksi Pertanian & Penempatan FasilitasAgribisnis berskala kecil pemilihan lokasi produksi tidak

menjadi suatu prioritas, karena umumnya produksi dilakukan di daerah domisili para petani.

Agribisnis yg berskala menengah ke atas, seperti perusahaan perkebunan, peternakan, perikanan, dikelola olh perusahaan dg investasi besar, maka pemilihan lokasi akan besar pengaruhnya bagi keberhasilan & kesinambungan usaha.

Beberapa pertimbangan dalam pemilihan lokasi:

ketersediaan tenaga kerja

ketersediaan prasarana dan sarana fisik penunjang

lokasi pemasaran

(41)

Produk pertanian yg umumnya tidak tahan lama memerlukan penanganan & pengangkutan yg cepat menuju ke lokasi.

Pertimbangan lainnya lokasi pemasaran. Sebaiknya lokasi produksi dekat dg lokasi pemasaran, terutama untuk komoditas yg tidak tahan lama, seperti produk hortikultura.

Pada era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, jarak antara lokasi produksi & lokasi pasar tidak menjadi prioritas karena dg teknologi daya tahan produk dapat diperpanjang & jarak relatif dapat diperpendek dengan alat-alat pengangkutan yang cepat

(42)

Insentif wilayah juga merupakan faktor pertimbangan dalam menetapkan keputusan lokasi produksi.

Insentif wilayah terkait dg kebijakan pemerintah daerah.

Insentif wilayah yang memiliki daya tarik bagi investor untuk berusaha di daerah:

1. Kebijakan pajak

2. Kebijakan dan peraturan tenaga kerja 3. Kebijakan investasi

4. Budaya pelayanan publik

5. Efektivitas pelayanan publik (debirokrasi)

(43)

3. Skala Usaha Pertanian

Skala usaha sangat terkait dg ketersediaan input dan pasar.

Skala usaha hrs diperhitungkan shg produksi yg dihasilkan tidak mengalami kelebihan pasokan atau permintaan.

Ketersediaan input, seperti modal, tenaga, bibit, peralatan, serta fasilitas produksi lainnya harus diperhitungkan.

Skala usaha yg besar, scr teorietis, akan dapat menghasilkan economics of scale yang tinggi. Kadang kala sering kali skala besar mjd tidak ekonomis yg disebabkan oleh karakteristik produk & produksi komoditas pertanian yg khas.

(44)

4. Perencanaan Produksi Pertanian

Suatu usaha produksi yg baru memerlukan perencanaan yg bersifat umum disebut sebagai praperencanaan.

Faktor penting & harus diputuskan dlm praperencanaan dlm agribisnis, khususnya subsistem produksi primer/usaha tani, adalah pemilihan komoditas, pemilihan lokasi produksi dan pertimbangan fasilitas, serta skala usaha.

Yg perlu dipertimbangkan dalam perencanaan proses produksi adl biaya produksi, penjadwalan proses produksi, pola produksi, & sumber input dan sistem pengadaannya.

(45)

Pengorganisasian mengenai sumberdaya berupa input-input dan sarana-sarana produksi yang akan digunakan akan sangat berguna bagi pencapaian efisiensi usaha dan waktu.

Pengorganisasian tersebut terutama menyangkut bagaimana mengalokasikan berbagai input dan fasilitas yang akan digunakan dalam proses produksi sehingga proses produksi dapat berjalan secara efektif dan efisien.

PENGORGANISASIAN INPUT DAN

SARANA PRODUKSI PERTANIAN

(46)

Pencapaian efektivitas dlm pengorganisasian menekankan pada penempatan fasilitas dan input-input secara tepat dalam suatu rangkaian proses, baik segi jumlah maupun mutu dan kapasitas.

Pencapaian efisiensi dalam pengorganisasian input-input dan fasilitas produksi lebih mengarah kepada optimasi penggunaan berbagai sumberdaya tersebut sehingga dapat dihasilkan output maksimum dg biaya tetap atau biaya minimum dg output tetap.

Pencapaian efektivitas & efisiensi dlm pengorganisasian input &

sarana produksi mrp salah satu komponen yg sangat menentukan tingkat produktivitas perusahaan scr keseluruhan.

PENGORGANISASIAN INPUT DAN

SARANA PRODUKSI PERTANIAN

(47)

Keg produksi mrp pelaksanaan rencana produksi yg telah dibuat dan mrp kegiatan yang mempunyai masa yg cukup lama serta terkai dengan bagaimana mengelola proses produksi berdasarkan masukan, baik yang langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan produk.

Proses produksi dlm agribisnis menjadi kegiatan yang sangat menentukan keberhasilan usaha dan merupakan penyedot biaya paling besar

Efektifitas kegiatan produksi tersebut harus dilakukan secara efektif dan efisien untuk mencapai produktivitas yg tinggi.

Efektifitas keg produksi dpt dilihat dari alokasi sumberdaya yg benar, perencanaan proses produksi yg benar, serta pelaksanaan yg benar

PELAKSANAAN PRODUKSI PERTANIAN

(48)

• Pengawasan dalam usaha produksi pertanian meliputi pengawasan anggaran, proses masukan, jadwal kerja dan sebagainya dalam rangka upaya untuk memperoleh produksi yang maksimal.

• Pengawasan dilakukan agar perencanaan yang telah disusun dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan semua karyawan melakukan apa yang telah ditugaskan sesuai dengan tugas masing-masing

PENGAWASAN PRODUKSI PERTANIAN

(49)

• Evaluasi dilakukan secara berkala, mulai dari saat perencanaan sampai akhir usaha tersebut berlangsung

• Jika terjadi penyimpangan dari rencana yang dianggap dapat merugikan, maka segera dilakukan pengendalian.

EVALUASI PRODUKSI PERTANIAN

(50)

Pengendalian dalam usaha produksi pertanian berfungsi untuk menjamin agar proses produksi berjalan pada rel yang telah direncanakan.

Dalam usaha tani, misalnya: pengendalian dapat dilakukan pada masalah kelebihan penggunaan tenaga manusia, kelebihan penggunaan air, kelebihan biaya pada suatu tahap proses produksi, dan lain-lain

PENGENDALIAN PRODUKSI PERTANIAN

Referensi

Dokumen terkait

Sarana produksi yang diperlukan dalam usahatani padi sawah selain lahan, dan tenaga kerja umumnya adalah bibit, pupuk, dan obat-obatan agar produksi padi baik sehingga keuntungan

Hal ini disebabkan karena setiap penambahan pupuk SP36 pada lahan pertanian berarti akan meningkatkan unsur hara Sulfur dalam tanah yang sangat dibutuhkan oleh

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani kacang tanah adalah luas lahan, benih, pupuk urea dan

memuaskan bagi perusahaan maupun konsumen produknya. Pelaksanaan sistem manajemen  produksi tidak hanya menjadi tanggung jawab oleh beberapa orang yang ada dalam

Manajemen merupakan faktor produksi tidak langsung (intangible)  aktivitas keahlian pengorganisasian, pengoperasian dari ketiga faktor produksi yang lain (tanah, tenaga kerja,

Koefisien regresi dari ketiga varietas yang sekaligus menjadi koefisien elastisitas dari faktor produksi, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Luas Lahan, Benih,

CONTOH PT MERDEKA:  Rencana penjualan 6 bulan PT Merdeka:  Persediaan awal 500 unit  Persediaan akhir 550 unit Susunlah anggaran produksi dengan menggunakan kebijakan yg

Penelitian ini memberikan hasil bahwa input produksi yang memiliki pengaruh nyata terhadap produksi jagung di sentra produksi Kabupaten Banyumas adalah luas lahan, benih, pupuk organic,