• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Manajemen Produksi Toyota

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sistem Manajemen Produksi Toyota"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

“SISTEM PRODUKSI TOYOTASISTEM PRODUKSI TOYOTA””

DOSEN

DOSEN PENGAMPU PENGAMPU : : Drs.Lipneldi,M.SiDrs.Lipneldi,M.Si

 NAMA

 NAMA : SHERLY ANDRIANI: SHERLY ANDRIANI  NPM

 NPM : D1D015027): D1D015027)

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU POLITIK DAN ILMU SOSIAL FAKULTAS ILMU POLITIK DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS BENGKULU UNIVERSITAS BENGKULU

2017 2017

(2)

Sistem Manajemen Produksi Toyota

Sistem manajemen produksi merupakan sebuah tata laksana yang didalamnya terdiri atas  pengaturan dan pengelolaan sumber daya produksi untuk didapatkan hasil produksi yang

memuaskan bagi perusahaan maupun konsumen produknya. Pelaksanaan sistem manajemen  produksi tidak hanya menjadi tanggung jawab oleh beberapa orang yang ada dalam proses  produksi melainkan semua orang dalam perusahaan berperan dalam pelaksanaan sistem manajemen produksi. Inilah fungsi loyalitas bagi pekerja yaitu untuk meningkatkan nilai  produksi perusahaan secara bersamaan. Sistem manajemen produksi yang dijalankan oleh  perusahaan Toyota Jepang terbagi atas metode produksi dan kerangka dasarnya. Berikut ini

adalah rincian pelaksanaan sistem manajemen produksi Toyota Jepang yaitu :Metode Produksi Toyota merupakan sebuah cara yang sistematis dan terstruktur untuk menghasilkan sebuah  produk jadi dari pengolahan bahan mentah atau bahan setengah jadi yang diterima oleh  perusahaan.

Begitu pun halnya dengan metode produksi yang dilaksanakan oleh Toyota Jepang. Perusahaan Toyota Jepang ini mengupayakan recruitment atau penerimaan pegawai yang  berkompeten dengan keterampilan serta kesederhanaan yang sangat fleksibel sehingga bisa memenuhi apapun kebutuhan konsumen di luar. Produk standar yang dihasilkannya pun bisa mencukupi seluruh permintaan konsumen di pasaran sehingga volume produksi perusahaan Toyota ini terbilang besar dibandingkan dengan perusahaan otomotif lainnya. Perusahaan Toyota menciptakan sistem produksi baru yang lebih memaksimalkan persediaan untuk konsumen dibandingkan dengan keuntungan yang dihasilkan sehingga ketika permintaan konsumen tersebut besar bagi perusahaan maka produsen Toyota Jepang menganggap bahwa dirinya sedang mengalami kesuksesan.

Sistem manajemen produksi Toyota Jepang menggunakan teknologi manajemen produksi yang komprehensif dengan membuka wawasan tekonologi modern sehingga mampu beradaptasi dengan berbagai perkembangan zaman. Tujuan dasar penerapan sistem manajemen produksi Toyota Jepang ini antara lain yaitu :

(3)

Perusahaan Toyota Jepang menjalankan sistem untuk beradaptasi secara fluktuatif serta variasi.

 b. Kualitas jaminan

Perusahaan Toyota Jepang dengan sistem manajemen produksinya melakukan penjamina terhadap seluruh aktivitas pemasokkan unit produk yang baik untuk selanjutnya

7 Prinsip dari Sistem Produksi Toyota 1) Mengurangi waktu Set Up

Seluruh aktivitas set up mesin/line adalah muda/waste, karena tidak menghasilkan nilai tambah, malah akan menaikkan volume kerja operator dan peralatan. Dengan training, cara set up yang benar dapat menurunkan set up time dari bulan ke hari, dari hari ke jam,  bahkan sampai menit.

2) Small Lot Production

Memproduksi dalam jumlot besar, akan berakibat kepada biaya set up yang tinggi, biaya investasi mesin, inventori tinggi, lead time yang lebih panjang, dan possibility reject

yang tinggi.

3) Keterlibatan Karyawan dan Pemberdayaan

Toyota mengelola karyawannya dengan membentuk team dan memberikan mereka tanggung jawab, juga training untuk tugas-tugas spesialis. Setiap kelompok diberi tanggung jawab untuk melakukan housekeeping dan perbaikan minor peralatan kerja. Setiap kelompok mempunyai leader yang terlibat kerja secara bersama.

4) Quality dari awal

Untuk menghilangkan produk gagal/ defect. Defect harus ditemukan dan dikoreksi sesegera mungkin. Operator di line adalah yang paling mengetahui proses terjadinya defect dan yang bertanggung jawab terhadapnya. Oleh karena itu, quality harus ada di dalam proses atau sering disebut Build in Quality.

5) Equipment Maintenance

Operator Toyota diberi tugas untuk melakukan basic maintenance karena mereka adalah orang yang pertama kali mengetahui abnormality. Operator maintenance bertugas

(4)

mendiagnosa dan menyelesaikan problem yang komplek, melakukan improvement  peralatan dan training masalah maintenance.

6) Pull Production (Pull System)

Untuk mereduksi biaya inventori dan lead times. Toyota membangun metode pull  production. Proses berikut menarik material dari proses sebelumnya, dengan type, jumlah dan waktu yang sudah tertentu. Proses ini dibantu dengan menggunakan tools  bernama kanban.

7) Supplier Involvement

Toyota memperlakukan suppliernya sebagai partner. Supplier adalah sebagai bagian dari implemetasi integral Toyota Production System (TPS). Suppliers juga ditraining untuk mereduksi waktu setup, inventori, defect, kerusakan mesin dll. Dan memastikan supplier mengirim barang dengan baik.

Just in Time

Sistem pemanufakturan tradisional mengatur skedul produksinya berdasarkan pada  peramalan kebutuhan di masa yang akan datang. Padahal tidak seorangpun yang dapat

memprediksi masa yang akan datang dengan pasti walaupun dia memiliki pemahaman yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap kecendrungan yang terjadi di pasar Produksi berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisonal memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over produksi daripada produksi berdasarkan  permintaan yang sesungguhnya.

Oleh karena itu munculah ide Just In Time yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi hanya akan memproduksi apabila diisyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai akibatnya pemborosoan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Kedua hal tersebut menjadikan perusahaan lebih kooperatif. Tujuan utama Just In Time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan  perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan

kinerja pengiriman.

Just In Time merupakan filosofi pemanufakturan yang memiliki implikasi penting dalam manajemen biaya. Ide dasar Just In Time sangat sederhana, yaitu berproduksi hanya apabila ada  permintaan (full system) atau dengan kata lain hanya memproduksi sesuatu yang diminta, pada

(5)

Prinsip dasar Just In Time adalah peningkatan kemampuan perusahaan secara terus menerus untuk merespon perubahan dengan minimisasi pemborosan. Terdapat empat aspek  pokok dalam konsep Just In Time yaitu

a) Menghilangkan semua aktifitas atau sumber-sumber yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk atau jasa.

 b) Komitmen terhadap kualitas prima.

c) Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi.

d) Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan visibilitas aktivitas yang memberikan nilai tambah.

Perusahaan-perusahaan meningkatkan perhatian terhadap keuntungan potensial dari : 1. Membuat pesanan pembelian yang lebih kecil dan lebih sering.

2. Membangun kembali hubungan dengan pemasok.

Kedua hal di atas berhubungan dengan peningkatan minat dalam sistem pembelian tepat waktu (Just In Time). Pembelian Just In Time adalah pembelian barang atau bahan sedemikian rupa sehingga pengiriman secara tepat mendahului permintaan atau penggunaan. Dalam keadaan ekstrim tidak adanya persediaan (barang untuk dijual bagi seorang pengecer, bahan baku barang dalam proses atau barang jadi bagi seorang produsen) yang ditahan

Konsep dasar JIT pada sistem produksi Toyota, yaitu suatu metode untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan akibat adanya gangguan dan perubahan permintaan, dengan cara membuat semua proses dapat menghasilkan produk yang diperlukan, pada waktu yang diperlukan dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam sistem pengendalian  produksi yang biasa, syarat di atas dipenuhi dengan mengeluarkan berbagai jadwal produksi  pada semua proses, baik itu pada proses manufaktur suku cadang maupun pada lini rakit akhir.

Proses manufaktur suku cadang menghasilkan suku cadang yang sesuai dengan jadwal, dengan menggunakan sistem dorong, artinya proses sebelumnya memasok suku cadang pada  proses berikutnya. Metode ini menyulitkan penyesuaian secara cepat terhadap perubahan yang disebabkan oleh gangguan yang timbul pada beberapa proses atau akibat adanya fluktuasi  permintaan. Untuk mengatasi berbagai gangguan dan perubahan permintaan ini, perusahaan

(6)

harus mengubah jadwal produksi tiap proses secara serempak yang cukup menyulitkan. Akibatnya perusahaan harus melakukan persediaan di antara semua proses untuk mengatasi gangguan dan perubahan permintaan ini. Sistem ini sering menimbulkan ketidakseimbangan  persediaan yang mengakibatkan pemborosan.

Sebaliknya, sistem produksi Toyota bersifat revolusioner, dalam arti proses berikutnya akan mengambil suku cadang dari proses sebelumnya, metode ini dikenal sebagai sistem tarik. Hanya lini rakit akhir yang dapat mengetahui dengan tepat penetapan waktu yang diperlukan dan  jumlah suku cadang yang diperlukan. Lini rakit akhir pergi ke proses sebelumnya untuk mendapatkan suku cadang yang diperlukan dalam jumlah yang diperlukan pada waktu yang diperlukan. Kemudian proses sebelumnya memproduksi suku cadang yang diambil oleh proses  berikutnya. Tiap proses yang memproduksi suku cadang mengambil bahan atau suku cadang

yang diperlukan pada proses sebelumnya, begitu seterusnya.

Dengan demikian apabila ada perubahan permintaan tidak perlu dilakukan perubahan  jadwal produksi secara serempak untuk semua proses. Hanya lini rakit akhir yang perlu diinformasikan mengenai perubahan jadwal produksi ketika merakit produk satu per satu. Untuk menginformasikan mengenai penetapan waktu yang diminta dan jumlah suku cadang yang diperlukan, digunakan KANBAN. Sistem kanban hanya bisa berfungsi secara efektif melalui kombinasi dengan elemen-elemen JIT lain secara utuh. Bila semua elemen JIT sudah dipadukan maka keunggulan sistem produksi JIT baru akan menjadi nyata.

Gambaran umum perusahaan Toyota

Penerapan Strategi produksi JIT telah berhasil dilakukan oleh perusahaan Toyota di Jepang, yang pada saat ini menduduki peringkat atas dalam 200 perusahaan terbesar di Jepang. Toyota merupakan salah satu perusahaan yang paling banyak meraih keuntungan di Jepang.  Namun manajemen belum merasa puas terhadap hasil kerja yang telah diraih itu. Pihak manajemen Toyota seringkali melakukan pengurangan jumlah tenaga kerja di suatu divisi. Kemudian membebani tenaga kerja yang tinggal untuk tetap mencapai tingkat produktivitas yang sama sebelum adanya pengurangan. Pada kondisi tersebut para pekerja biasanya akan berusaha keras mencari gagasan baru agar target produksi atau produktivitas dapat dicapai. Pengurangan

(7)

tenaga kerja pada suatu divisi bukan berarti pemecatan, namun dipindahkan divisi lain atau tempat kerja lain untuk menciptakan unit kerja baru yang produktif. Bahkan Toyota pernah menutup salah satu gudang pemasok (suppliers ware house) yang isinya menyimpan material untuk Toyota, dan mengangkut material tersebut ke pabrik Toyota. Berkat Toyota, pemasok tersebut dapat menerapkan strategi produksi JIT.

Gambar di atas menerangkan, Proses assembling akan berproduksi apabila ada penarikan part oleh konsumen. Kemudian proses painting akan berproduksi setelah part di depan proses  painting di tarik oleh proses assembling. Demikian seterusnya sampai proses hulu. Sistem ini memberikan kondisi positif, bahwa setiap station proses akan berproduksi apabila ada perintah dari proses berikut, sehingga stock/ inventori antar proses dapat terjaga min imum.

Perusahaan Toyota, sebuah perusahaan mobil ternama di dunia. Produknya yang banyak digunakan di berbagai Negara di seluruh dunia menarik minat banyak kalangan, terutama untuk mengulas tentang kesuksesan Toyota dalam memasarkan produk mobil mereka. Kinerja yang tinggi dan kontrol kualitas yang sangat baik merupakan salah satu kunci sukses bagi perusahaan ini. Salah satu kinerja yang digunakan oleh beberapa perusahaan lain, dinamakan “Toyota Ways”. Jelas saja ini menjadi sebuah tolak ukur penting bagi kesuksesan sebuah perusahaan ketika cara dan kinerja dari perusahaan tersebut coba digunakan dan diterapkan dalam  perusahaan lain.

Meskipun demikian, perusahaan sebesar Toyota pun tidak lepas dari masalah. Di bulan Februari 2010, Toyota melakukan kesalahan produksi pada pedal gas dan sistem rem. Tentunya ini mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi perusahaan ini. Penarikan mobil dari seluruh dunia menjadi jalan keluar yang diambil oleh Toyota demi mempertahankan kepercayaan

(8)

 pelanggan kepada produk mereka. Setelah didiskusikan, ternyata ada beberapa hal yang mendasari kejadian ini.

Perusahaan Toyota yang ingin mendominasi pasar mobil dunia, mencoba inisiasi ke wilayah Eropa dan Amerika. Runtuhnya United Motors menjadi salah satu gerbang masuk yang  paling ampuh untuk mengambil alih pasar perusahaan otomotif nomor satu di dunia tersebut. Demi suksesnya produk mobil di wilayah Amerika dan Eropa, Toyota mengganti namanya menjadi Lexus dengan menyesuaikan design dan karakteristik mobil-mobil yang diminati masyarakat Amerika dan Eropa.

Rencana inisiasi ke dua benua yang sangat berpengauh di dunia tersebut ternyata tidak semulus apa yang dibayangkan. Banyak tuntutan yang harus dipenuhi oleh perusahaan Toyota termasuk harus membangun pabrik di wilayah Amerika. Tentunya pembangunan pabrik ini mengalami kendala di mana-mana. Kendala yang paling mendominasi adalah masalah budaya kerja. Budaya kerja Toyota yang sangat disiplin dan ketat dalam kualitas ternyata tidak dapat dengan mudah diterapkan di dataran Amerika dan Eropa. Perbedaan budaya kerja ini ternyata menjadi mata pisau tajam bagi perusahaan yang sewaktu-waktu dapat menjadi masalah besar. Ini terbukti dengan adanya masalah pada pedal gas dan sistem rem yang terjadi di bulan Februuari 2010 tersebut.

Kualitas dan kinerja dijadikan satu-satunya alasan yang mendasari masalah ini. Ternyata  bila dilihat secara mendalam, budaya kerja yang tidak sesuai yang menjadi penyebab utamanya.

Ketidaknyamanan para pegawai menjadi salah satu penyebab penurunan kontrol kualitas yang terjadi di dalam perusahaan. Terlebih lagi bagi pasar Amerika dan Eropa kualitas produk menjadi nomor satu. Seperti diketahui di atas, akibat dari kesalahan yang terjadi pada pedal gas dan sistem rem-nya, Toyota memutuskan untuk me-recall   mobil hasil produksinya yang telah  beredar di masyarakat. Selain itu Toyota juga menunda penjualan delapan model-nya di AS,

termasuk model yang terlaris yaitu Camry.

Akibat dari kesalahan yang berujung pada recall  itu tentu saja pangsa pasar mobil di AS menjadi berubah posisinya. Semula Toyota berada pada posisi kedua setelah General Motors (GM), maka kini diprediksi Toyota akan turun ke posisi ketiga dengan GM tetap pada posisi tertinggi dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 18,1%,  Ford   naik ke posisi kedua dengan  pangsa pasar sebesar 16,6%, sedangkan Toyota menduduki posisi ketiga dengan 16,5%.

(9)

Sementara Toyota sedang terpuruk dalam masalahnya, pesaingnya, GM, yang merupakan  produsen mobil terbesar di AS siap-siap menerkam pelanggan Toyota. Apa yang GM lakukan sungguh dahsyat. Tipikal pemangsa di rimba belantara persaingan. GM menawarkan insentif  berupa potongan harga sebesar US$1,000 bagi pemiliki Toyota untuk berganti ke mobil produk

GM.

Demikianlah kondisi pasar yang full-competition. Kepuasan pelanggan menjadi taruhan utama. Pelanggan yang kecewa menjadi sasaran empuk untuk direbut oleh pesaing. Kepuasan  pelanggan ini pada dasarnya dibentuk oleh tiga faktor utama mulai dari mutu produk itu sendiri, harga jual yang kompetitif dan pengiriman (= penerimaan di tangan pelanggan) tepat waktu. Ketika terjadi kesalahan ataupun kegagalan yang menyangkut salah satu dari ketiga faktor itu maka sungguh akan besar dampak negatifnya terhadap citra perusahaan, dalam hal ini citra  produknya (brand image). Bila penanganannya kurang tepat, atau bahkan salah, akan tamatlah riwayat perusahaan itu. Sehingga akan beratlah kerja keras yang harus dilakukan untuk mengembalikan citra itu kembali seperti semula.

Maka ketika ditemukan identifikasi kesalahan pada pedal gas dan sistem rem-nya, masalah kualitas yang berhubungan erat dengan keselamatan, Toyota segera hasil produksinya. Secara keseluruhan, Toyota me-recall  sebanyak lebih dari 8 juta unit mobil yang sudah berada ditangan pelanggannya. Bayangkan, lebih dari 8 juta unit mobil Juga patut dicatat, Toyota bakal mengalami kerugian sebesar US$ 2 miliar sebagai biaya atas penarikan mobilnya itu. Sungguh, suatu harga yang teramat besar untuk satu kesalahan. Harga yang teramat mahal untuk mempertahankan citra baik perusahaan. Harga yang teramat luar biasa untuk tetap fokus kepada filosofi kepuasan pelanggan.

Itulah bagaimana cara organisasi besar kelas dunia bertindak menangani kesalahannya. Mereka  gentle  mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara terbuka di depan publik. Presiden Direktur Toyota rela membungkukkan badannya dan meminta maaf kepada dunia mengenai kesalahan produksi yang telah dilakukan perusahaannya. Ini adalah satu contoh sikap  baik pemimpin yang patut kita teladani. Mereka bertindak cepat dan tepat untuk memperbaikinya. Keluar, dengan me-recall   produknya. Sedangkan kedalam, dengan ketat lagi dengan membentuk panitia khusus yang dipimpin langsung oleh Presiden Toyota Motor Corp sendiri yaitu Akio Toyoda. Maka tak heran bila model organisasi seperti ini tampil menguasai  pasar global.

(10)

Toyota melakukan hansei (critical self reflection) dan memperbaiki organisasinya untuk kembali ke filosofi dasar yang telah dimilikinya kemudian bergerak cepat merebut kembali  posisinya di pasar global. Tentu saja hal ini memerlukan analisis terhadap akar penyebab kesalahan itu terjadi (root cause analysis) dan kemudian melakukan sejumlah tindakan-tindakan  perbaikan (countermeasures) yang tepat dan sistematis.

Dari penjelasan diatas, menurut saya Sistem Produksi Toyota sudah cukup baik, karena  perusahaan nya sudah mengestimalisasi pengelolahan data, kualitas informasi dan kontrol manajemennya sudah cukup baik untuk mendorong terciptanya produk-produk baru. Dari CEO  perusahaan Toyota sendiri sudah melakukan upaya agar perusahaannya bisa menjadi perusahaan yang maju, Toyota sudah melakukan penyesuaian terhadap input untuk melakukan proses, yakni  painting,dan assembling untuk mendaptkan output yang maksimal, sehingga akan mendapatkan

(11)

DAFTAR PUSTAKA

www.Academia.edu http://www.sistemproduksitoyota.com http://manajemenproduksi.com http://yayan-industri.blogspot.co.id http://rumahkecilkita.blogdetik.com/index.php/2010/02/kasus-toyota-belajar-dari-kesalahan/

Gambar

Gambar  di  atas  menerangkan,  Proses  assembling  akan  berproduksi  apabila  ada  penarikan  part oleh  konsumen

Referensi

Dokumen terkait

Transparasi pengungkapan informasi kinerja Pemerintah Daerah melalui media internet dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah persaingan politik,

Keretakan ini terjadi karena bahan perkerasan yang digunakan kurang baik, tanah dasar atau bagian perkerasan di bawah lapis permukaan kurang stabil, adanya pergeseran horizontal

Pada penelitian sebelumnya pembuatan cookies dari tepung kacang merah sebagai makanan pendamping ASI (MP – ASI) telah didapatkan perlakuan terbaik dengan kandungan

Dalam rangka persiapan dan juga koordinasi dengan pihak Kementerian Luar Negeri Slowakia terkait dengan pelaksanaan FKB ke-IV di Jakarta pada tahun 2015, KBRI telah

oligonukleotida antara 18--24 basa, memiliki urutan basa-basa spesifik untuk melekat pada DNA cetakan, tidak terdapat basa-basa yang berkomplemen pada ujung 3’ sehingga terjadi

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh hibah opsi saham pada tingkat pengelolaan laba semakin besar dengan adanya pengelolaan faktor volatilitas harga di dalam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kejadian DRP’s ketidaktepatan pemilihan obat, ketidaktepatan dosis dan interaksi obat pada pasien hipertensi geriatri di Instalasi

Pengujian terhadap sistem ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan penempatan arrester yang optimal terhadap tegangan lebih transien pada transformator daya