• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Inisiasi 1 Analisis Air

N/A
N/A
quartus suwedi

Academic year: 2024

Membagikan "1. Inisiasi 1 Analisis Air"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

TUTO N KE-

1

TUTORIAL KIT 1

ANALISIS AIR BAHAN PANGAN

• Pengembang: Dr. Ir. Alsuhendra, M.Si

• Penelaah: Dr. Lula Nadia

(2)

1. AIR DALAM BAHAN PANGAN

3. ANALISIS KADAR AIR DENGAN METODE TIDAK LANGSUNG

2. ANALISIS KADAR AIR DENGAN METODE

LANGSUNG

(3)

• Air menjadi bagian penting dari suatu makanan.

• Air dapat mempengaruhi penampilan, tekstur, citarasa, warna, serta daya simpan suatu makanan.

• Air dalam bahan pangan terdapat dalam 3 bentuk:

1)Sebagai pelarut/pendispersi komponen pangan 2)Terserap pada permukaan pangan

3)Terikat secara kimia dalam bentuk hidrat

1. AIR DALAM BAHAN PANGAN

(4)

A. SIFAT KIMIA AIR

• Air (H

2

O) disusun oleh satu atom oksigen dan satu atom hidrogen.

• Atom oksigen memiliki inti dengan delapan proton dan kulit elektron bagian dalam (inner electron shell) mengandung 2 elektron, tetapi hanya 6 elektron (defisiensi 2 elektron) pada kulit terluar (outer electron shell).

• Atom hidrogen memiliki inti dengan satu proton dan satu kulit elektron bagian dalam yang hanya memiliki 1 elektron.

• Setiap satu molekul air terdapat dua pasang elektron yang

dipakai bersama secara kovalen

(5)

• Satu molekul air dapat bersatu dengan 4 molekul air

lainnya (molekul air tetangga) melalui ikatan hidrogen

(6)

B. SIFAT FISIK AIR

Sifat 0o 20o 50o 100o

Massa jenis (g/cm3) 0.99987 0.99823 0.9981 0.9584 Panas jenis  (kal/g/oC) 1.0074 0.9988 0.9985 1.0069

Kalor uap (kal/g) 597.3 586.0 569.0 539.0

Konduktivitas termal (kal/cm/s/oC) 1.39 ×

10−3 1.40 ×

10−3 1.52 ×

10−3 1.63 × 10−3

Tegangan permukaan (dyne/cm) 75.64 72.75 67.91 58.80 Laju viskositas (g/cm/s) 178.34 ×

10−4 100.9 ×

10−4 54.9 ×

10−4 28.4 × 10−4

Tetapan dielektrik 87.825 80.8 69.725 55.355

(7)

Air monolayer

Air yang terikata dalam bahan

pangan secara kimia melalui ikatan

hidoregen

atauikatan ionik

dengan komponen bahan pangan. Air tipe ini ulit

dihilangkan pada proses pengeringan dan sulit dibekukan.

Air yang dapat

membentuk ikatan hidrogen dengan komponen bahan pangan yang

mempunyai gugus O seperti karbohidrat atau N seperti

protein

Air multiyaler

Air yang terikat pada molekul air

monolayer. Air tipe ini lebih mudah

dilohalngkan dengan penguapan atau

pengeringan dibandingkan dengan air monolayer

Air bebas

air yang terikat secar fisik dalam matrik komponen bahan pangan. Air ini sangat mudah dikeluarkan dalam proses penger

C. KETERIKATAN AIR DALAM BAHAN PANGAN

(8)

PENYEBUTAN TIPE AIR LAINNYA

• Tipe I  air terikat kuat melalui ikatan hidrogen yang berenergi besar. Air berikatan dengan molekul lain yang mengandung atom O dan N, seperti karbohidrat, protein, dan garam. Air ini tidak dapat membeku pada proses pembekuan biasa, tetapi sebagian dapat dihilangkan dengan cara pengeringan biasa.

• Tipe II  air terikat lemah. Kalau air ini dihilangkan semuanya, maka kandungan air bahan adalah antara 3- 7%.

• Tipe III  air bebas. Kalau air ini dihilangkan semuanya, maka kandungan air bahan antara 12-25%.

• Tipe IV  air biasa

(9)

1. Air bebas  terdapat di dalam ruang-ruang antar sel dan intergranular serta pori-pori yang terdapat pada bahan. Air ini dapat dihilangkan secara mudah dengan cara penguapan ataupun pengeringan menggunakan panas.

2. Air yang terikat secara lemah  terserap (teradsorpsi) pada permukaan kolloid makromolekuler seperti protein, pektin, pati, dan selulosa serta terdispersi di antara kolloid tersebut dan merupakan pelarut zat-zat yang ada dalam sel. Air yang ada dalam bentuk terikat secara lemah masih tetap mempunyai sifat air bebas dan dapat dikristalkan pada proses pembekuan. Ikatan antara air dengan kolloid tersebut merupakan ikatan hidrogen.

3. Air dalam keadaan terikat kuat  membentuk hidrat dan ikatannya bersifat ionik sehingga relatif sulit dihilangkan atau diuapkan. Air ini tidak membeku meskipun pada suhu 0oF

PENYEBUTAN TIPE AIR LAINNYA…

(10)

TIPE AIR LAINNYA…

• Air imbibisi  air yang masuk ke dalam bahan pangan dan akan menyebabkan pengembangan volume, tetapi air ini tidak merupakan komponen penyusun bahan tersebut. Misalnya:

air yang masuk ke dalam beras ketika memasak nasi atau air untuk membuat lem kanji.

• Air Kristal  air terikat dalam semua bahan,

baik pangan maupun nonpangan yang

berbentuk Kristal, seperti gula, garam,

CuSO4.7H2O

(11)
(12)

D. HUBUNGAN Aw DENGAN KEAWETAN BAHAN PANGAN

• Proses kerusakan bahan makanan akibat reaksi mikrobiologis, kimawi, enzimatik, atau bahkan akibat aktivitas serangga perusak dapat terjadi karena adanya air dalam bentuk bebas.

• Air dalam bentuk lainnya tidak membantu terjadinya proses kerusakan tersebut.

• Karena itu, kadar air bukan merupakan parameter yang absolut untuk dapat dipakai dalam menduga kecepatan terjadinya kerusakan bahan makanan.

• Untuk kepentingan ini, maka digunakan digunakan pengertian Aw (aktivitas air) untuk menentukan kemampan air dalam proses-proses kerusakan bahan makanan.

(13)

AKTIVITAS AIR (Aw)

Adanya air dalam bahan pangan ikut menentukan kerusakan bahan pangan tersebut, karena air dalam bahan ini dimanfaatkan oleh mikroba untuk pertumbuhannya.

Bakteri, kapang, dan khamir merupakan mikroba yang banyak terdapat dalam bahan pangan pada tingkat aktivitas air (Aw) tertentu

Aktivitas air (Aw) adalah sejumlah air bebas di dalam media pertumbuhannya (growth media) dan bahan pangan, dinyatakan sebagai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni.

Aktivitas air dapat pula dijelaskan sebagai sejumlah air bebas di dalam bahan pangan yang pada kondisi tertentu mikroba tidak dapat tumbuh dan memungkinkan bahan pangan tersebut tidak baik lagi untuk dikonsumsi.

(14)
(15)

HUBUNGAN ANTARA KADAR AIR DENGAN A

W

Kadar air yang sama belum tentu memberikan nilai a

w

yang sama, bila bahan pangannya

berbeda.

(16)

Umumnya mikroba akan tumbuh pada bahan pangan dengan aw > 0,6.

Beberapa nilai aw untuk mikroba adalah:

Yeast dan jamur mempunyai kisaran aw yang lebih lebar daripada bakteri. Yeast, jamur dan fungi mampu tumbuh pada aw rendah.

Sebaliknya, pertumbuhan bakteri membutuhkan aw tinggi.

Bakteri

• aw = > 0,9 Khamir

• aw = 0,8 – 0,9 Kapan

• aw = 0,6 – 0,7 g

(17)

CONTOH NILAI AKTIVITAS AIR

Bahan a

w

Air suling 1

Air kran 0.99

Daging mentah 0.99

Susu 0.97

Sari buah 0.97

Sosis 0.87

Daging asap < 0.85

Garam dapur 0.75

Buah kering 0.60

Udara luar 0.5 - 0.7

Madu 0.5 - 0.7

(18)

2. ANALISIS KADAR AIR DENGAN METODE

LANGSUNG

A. Pengeringan dengan Oven

B. Metode Desikasi Kimia

C. Metode Termogravimetri

D. Metode Destilasi

E. Metode Karl Fischer

(19)

A. Pengeringan dengan Oven

• Dilakukan dengan cara mengeluarkan air dari bahan pangan dengan bantuan panas (proses pengeringan)

• Metode yang paling sering digunakan  Metode oven udara

• Dasar analisis kadar air metode oven  berat air yang hilang dari bahan

Faktor kondisi oven yang penting diperhatikan:

a)Suhu

b)Gradien suhu

c)Kecepatan aliran udara

d)Kelembaban udara

(20)

A. Pengeringan dengan Oven

Pengeringan oven udara Pengeringan oven vakum

Jenis Pengeringan Oven

(21)

1) Ketelitian analisis air dengan pengeringan dipengaruhi oleh:

Suhu

pengeringan

Suhu dan

kelembaban ruang

pengeringan Kecepatan

pergerakan udara dalam ruangan

pengeringan

Kondisi vakum

Kedalaman dan ukuran partikel sampel

- -

- -

-

(22)

Hambatan dalam analisis menggunakan metode pengeringan:

1. Retensi air dalam sampel tinggi, seperti adanya glukosa, maltosa, laktosa, dan hidrat dari ion dan polimer yang mengikat air

2. Adanya barrier atau hambatan terhadap difusi air dalam bahan pangan, seperti permukaan yang keras karena case hardening

3. Penggunan suhu pengeringan yang cukup tinggi

4. Adanya senyawa mudah menguap, seperti etanol, minyak esensial, asam lemak tidak jenuh, dan tannin.

5. Penyerapan uap air dari udara sekitar oleh sampel yang telah kering

(23)

2) Persiapan Sebelum Pengeringan

a. Penimbangan sampel

b. Perlakuan pendahuluan sampel c. Cawan

d. Persiapan oven

(24)

3) Metode Oven Udara

a. Prinsip

Sampel dikeringkan dalam oven udara pada suhu 100oC – 102oC sampai diperoleh berat konstan

b. Peralatan

Oven, cawan, desikator berisi bahan pengering, seperti silika gel, penjepit cawan, timbangan analitik

(25)

c. Prosedur Kerja

cawan kosong dan tutupnya

dikeringkan dalam oven selama 15

menit

cawan

didinginkan dalam desikator (10-20

menit)

keringkan cawan dan sampel dalam oven suhu 100oC –

102oC selama 6 jam sampai kering

timbang 5 g sampel dalam cawan kering, lalu

tutup cawan

cawan

dimasukkan ke dalam desikator untuk didinginkan

cawan ditimbang

cawan dimasukkan kembali ke dalam

ovem dan

ditimbang hingga diperoleh berat

konstan

(26)

d. Perhitungan

% kadar air (basis kering) = b-(c-a) x 100

(c-a)

Keterangan:

a = berat cawan kering yang sudah konstan b = berat sampel cawan

c = berat cawan dan sampel kering yang sudah konstan

% kadar air (basis kering) = b-(c-a) x 100

b

(27)

3) Metode Oven Vakum

a. Prinsip

Sampel dikeringkan dalam oven vakum dengan tekanan 25-100 mmHg sehingga air dapat menguap pada suhu lebih rendah dari 100oC, misalnya pada suhu 100oC – 102oC

b. Peralatan

Oven vakum, cawan logam dan penutup, desikator berisi bahan pengering, seperti silika gel, penjepit cawan, timbangan analitik

(28)

c. Prosedur Kerja

cawan kosong dan tutupnya

dikeringkan dalam oven selama 15 menit

cawan didinginkan dalam desikator

(10-20 menit)

keringkan cawan dan sampel dalam oven suhu

70oC dengan vakum 25 mmHbselama 6

jam sampai kering

cawan

dimasukkan ke dalam desikator

untuk didinginkan cawan ditimbang

cawan dimasukkan

kembali ke dalam ovem dan ditimbang hingga

diperoleh berat konstan

(29)

d. Perhitungan

% kadar air (basis kering) = b-(c-a) x 100

(c-a)

Keterangan:

a = berat cawan kering yang sudah konstan b = berat sampel cawan

c = berat cawan dan sampel kering yang sudah konstan

% kadar air (basis kering) = b-(c-a) x 100

b

(30)

B. METODE DESIKASI KIMIA

• Analisis kadar air dengan bantuan bahan kimia yang mempunyai kemampuan menyerap air tinggi

• Bahan yang digunakan yang dengan efisien paling tinggi: fosfor pentaoksida (P2O5), barium monoksida (BaO), magnesium perklorat (MgClO3), kalsium klorida anhidrous (CaCl2), dan asam sulfat (H2SO4) pekat. P2O5, BaO, dan MgCLO3 merupakan bahan kimia yang paling praktis

• Sampel ditempatkan pada cawan, kemudian diletakkan dalam desikator. Bahan pengering ditaburkan atau dituangkan pada alas desikator. Proses pengeringan dilakukan pada suhu kamar sampai mencapai berat tetap

• Metode ini cocok untuk bahan yang mengandung senyawa menguap tinggi, seperti rempah-rempah. Penggunan suhu kamar dapat mencegah hilangnya senyawa menguap selama pengeringan

(31)

C. METODE TERMOGRAVIMETRI

• Dilakukan dengan cara mengeluarkan air dari bahan pangan dengan bantuan panas.

• Perubahan berat karena hilangnya air dari bahan selama pemanasan dicatat oleh neraca termal (thermobalance) secara otomatis sebagai fungsi dari waktu dan suhu.

• Akan didapatkan kurva perubahan berat selama pemanasan atau suatu termogram yang spesifik untuk suatu program suhu tertentu sampai dicapai berat konstan

Keuntungan:

- Waktu singkat - Kesalahan kecil

- Jumlah sampel sedikit, yaitu mg - 1 g

(32)

D. METODE DESTILASI

• Dilakukan dengan cara mengeluarkan air dari bahan pangan dengan bantuan panas.

• Perubahan berat karena hilangnya air dari bahan selama pemanasan dicatat oleh neraca termal (thermobalance) secara otomatis sebagai fungsi dari waktu dan suhu.

• Akan didapatkan kurva perubahan berat selama

pemanasan atau suatu termogram yang spesifik

untuk suatu program suhu tertentu sampai dicapai

berat konstan

(33)

ADA 2 JENIS METODE DESTILASI

1. Destilasi langsung

• Air diuapkan langsung dari cairan yang

imisibel (tidak

dapat bercampur dengan air yang mempunyai titik didih tinggi)

2. Destilasi azeotropik

• Air diuapkan

bersama-sama dengan pelarut yang sifatnya imisibel pada suatu

perbandingan

yang tetap

(34)

KEUNTUNGAN METODE AZEOTROPIK

• Kadar air ditetapkan secara langsung

• Lebih teliti

• Waktu analisis singkat

• Peralatan sederhana dan mudah didapat

• Pengaruh kelembaban lingkungan dapat dihindari

• Dapat mencegah oksidasi selama pemanasan

• Cara pengerjaan sederhana dan mudah

ditangani

(35)

KELEMAHAN METODE AZEOTROPIK

• Permukaan alat gelas harus benar-benar bersih dan kering

• Senyawa alkohol atau gliserol mungkin terdestilasi bersama air

• Pelarut mudah terbakar

• Sebagian pelarut beracun, seperti benzen

• Ketelitian membaca volume air yang terkondensasi

terbatas

(36)

E. METODE KARL FISCHER

• Digunakan untuk mengukur kadar air sampel dengan metode volumetri berdasarkan prinsip titrasi

• Titran yang digunakan adalah pereaksi

Karl Fischer, yaitu campuran iodin,

sulfur dioksida, dan piridin dalam

metanol

(37)

A. Metode Listrik-Elektronika

B. Metode Penyerapan Gelombang Mikro

C. Metode Penyerapan Sonik dan Ultrasonik D. Metode Spektroskopi

3. ANALISIS KADAR AIR DENGAN METODE

TIDAK LANGSUNG

(38)

A. Metode Listrik-Elektronika

1. KONDUKTIVITAS DC DAN AC

Dilakukan dengan cara menempatkan sejumlah sampel di dalam wadah kecil di antara dua elektroda, selanjutnya arus listrik yang melewati sampel diukur berdasarkan tahanan listriknya.

 

2. KOSTANTA DIELEKTRIK

Konstanta dielektrik air : 81, bahan kering: 2,2-4,0

Kenaikan kadar air 1% dalam setiap bahan akan menaikkan

konstanta dielektrik bahan tersebut sekitar 0,8 unit

(39)

B. Metode Penyerapan Gelombang Mikro

Gelombang mikro dengan frekuensi 9-10 GHz dapat

digunakan untuk memantau kadar air dari bahan pangan yang berkadar air rendah, padatan, atau cairan

C. Metode Penyerapan Sonik dan Ultrasonik

Didasarkan pada kemampuan molekul air dalam menyerap

energi sonik dan ultrasonik dan derajat penyerapannya

tergantung pada jumlah air yang terdapat dalam sampel

(40)

D. Metode Spektroskopi

1. Spektroskopi Inframerah

Spektrum penyerapan inframerah dari molekul air dapat digunakan sebagai dasar penetapan kadar air dari suatu bahan pangan baik padatan maupun cairan

 

2. Spektroskopi Nuclear Magnetic Resonance (NMR)

Didasarkan pada sifat-sifat nuklir dari atom-atom

hidrogen dalam molekul air

(41)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Proses pengeringan dapat diasumsikan sebagai proses adiabatis, sehingga panas yang diperlukan untuk menguapkan air dari bahan (irisan tempe) hanya didapat dari

Pada dasarnya, metode pengeringan buatan dilakukan melalui pemberian panas yang relatif konstan terhadap bahan pangan atau biji-bijian, sehingga proses pengeringan dapat

Pada dasarnya, metode pengeringan buatan dilakukan melalui pemberian panas yang relatif konstan terhadap bahan pangan atau biji-bijian, sehingga proses pengeringan dapat

Pengeringan dilakukan dengan kontak langsung antara bahan yang akan dikeringkan dengan udara panas.. Uap air akan terbawa oleh media pengeringan

Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan padat dengan cara menguapkan sebagian besar air dengan

Pengeringan adalah suatu metoda untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas.

Pengeringan dilakukan dengan kontak langsung antara bahan yang akan dikeringkan dengan udara panas.. Uap air akan terbawa oleh media pengeringan (udara

Pengeringan dilakukan dengan kontak langsung antara bahan yang akan dikeringkan dengan udara panas.. Uap air akan terbawa oleh media pengeringan