• Tidak ada hasil yang ditemukan

27982 75676587033 1 PB

N/A
N/A
Seruni Kusuma

Academic year: 2025

Membagikan "27982 75676587033 1 PB"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERSEPSI RESIDEN TENTANG PELAKSANAAN KONSELING KELOMPOK PADA PENYALAHGUNAAN NAPZA DI REHABILITAS

RUMAH RAHAYU YAYASAN PLUS PONTIANAK

Prima Nugraha, Purwanti, Yuline

Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Untan Pontianak Email: [email protected]

Abstract

The perception is a process for organizing and interpreting information and messages that are influenced by a number of psychological factors, including assumptions based on past experiences, moods and attitudes. Resident perception in this case refers to the implementation of group counseling which aims at the process of improvement, be it the behavior or positive attitude of the client towards a better, productive and recovery of drug dependence. The definition of drug abuse is the use of drugs and the like outside the purpose of treatment and science as well as medical indications and doctor's supervision for its own satisfaction which gives physical and psychological damage. So that there can be some appropriate adjustments so that group counseling gets an attractive appreciation by the residents. The problem in this study is "What is the resident's perception of the implementation of group counseling on drug abuse in Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak?". This study aims to determine the perceptions of residents about the implementation of group counseling. The method used is descriptive method with a quantitative approach with a form of survey study. The sample of this study was 15 residents. Data collection techniques of this research are direct and indirect communication techniques with data collection tools in the form of questionnaires and interviews. Data analysis techniques use percentage calculations. Based on the analysis of the resident perception data about the overall group counseling implementation reached 79.06% with the "Good"

category.

Keywords: Resident Perception, Group Counseling, Drug Abuse.

PENDAHULUAN

Era globalisasi berpengaruh besar terhadap pembangunan nasional. Hal ini membawa dampak positif terhadap kemajuan pembangunan nasional. Jika kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mampu dimanfaatkan dengan baik. Dampak negatif dari globalisasi antara lain timbulnya berbagai pergeseran nilai dan sosial budaya akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi yang akan

merusak sumber daya manusia.

Kemajuan dalam bidang farmasi misalnya, berkembangnya jenis-jenis zat atau obat-obatan seperti Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya yang dalam penyalahgunaannya memiliki akibat berbahaya kepada penggunanya.

Menurut Badan Narkotika Nasional (2003:4) menyatakan bahwa: “Korban penyalahgunaan narkoba adalah orang yang menggunakan narkotika atau

(2)

2 psikotropika tanpa indikasi medis dan tidak dalam pengawasan dokter.” Salah satu usaha untuk menanggulanginya korban penyalahgunaan narkoba ini banyak didirikan pusat-pusat rehabilitasi untuk para korban penyalahgunaan narkoba.

Pusat rehabilitasi bertujuan untuk membantu menumbuhkan kembali rasa kesadaran dan tanggung jawab bagi penyalahguna narkoba terhadap masa depannya, keluarga dan masyarakat sekitar. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam proses rehabilitasi dilakukan dengan dua tahapan program penanganan yaitu pengobatan medis dan pengobatan non medis.

Menurut Wicaksono dan Astuti (2011:24) mengatakan “Konselor dalam memberikan jasa atau pelayanannya dapat bernaung dibawah lembaga swasta (praktik swasta) yang dibentuk sendiri bersama rekan sejawat, di bawah perusahaan/bisnis, kantor-kantor (baik pemerintah maupun swasta), rumah jompo, panti asuhan, rumah sakit, bahkan di lembaga permasyarakatan berdasarkan modifikasi pelaksanaan pelayanan tertentu.”dilanjutkan dengan pendapat menurut Gibson dan Mitchel (2015:176) yang mengatakan bahwa

“Bidang-bidang pengetahuan yang merepresentasikan persyaratan kompetensi inti bagi konseling rehabilitas yaitu; Layanan konseling dan konsultasi pekerjaan, Aspek-aspek medis dan psikologis, Konseling individu dan kelompok, Program evaluasi dan riset, Manajemen khusus dan koordinasi layanan, isu-isu keluarga, gender dan multibudaya, Fondasi- Fondasi Rehabilitasi, Kompensasi pekerja, Penghalang-penghalang lingkungan dan sikap, Asessment.

Penanganan kepada residen merujuk persyaratan kompetensi inti konseling di rehabilitas. layanan konseling kelompok termasuk salah satu bidang persyaratan kompetensi inti konseling rehabilitas dalam terapi

psikiatrik dan terapi psikososial seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

Dalam konseling kelompok terdapat beberapa keunggulan dibandingkan konseling lainnya. Keunggulan yang diberikan oleh konseling kelompok bukan hanya menyangkut aspek efisien dalam hal waktu dan tenaga saja, tetapi dalam konseling kelompok interaksi antar anggota merupakan suatu yang khas yang tidak mungkin terjadi dalam konseling perorangan.

Konseling kelompok merupakan bentuk khusus dari layanan konseling, yaitu wawancara konseling antara konselor profesional dengan beberapa orang sekaligus yang tergabung dalam suatu kelompok kecil. (W.S. Winkel &

M.M. Sri Hastuti, 2004:589). Konseling kelompok merupakan konseling yang diselenggarakan dalam kelompok, dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang terjadi di dalam kelompok itu. Adapun tahapan-tahapan konseling kelompok menurut Prayitno (1995:44), yaitu: (1) Tahap pembentukan,“Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap perlibatan diri atau tahap memasukkan diri kedalam kehidupan suatu kelompok”. (2) Tahap peralihan, “Setelah suasana kelompok terbentuk dan dinamika kelompok sudah mulai tumbuh, kegiatan kelompok hendaknya dibawa lebih jauh oleh pemimpin kelompok menuju ke kegiatan kelompok yang sebenarnya”. Untuk itu perlu diselenggarakan “tahap peralihan”. Dalam tahap ini pemimpin akan menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh anggota kelompok pada tahap kegiatan kelompok, yaitu kegiatan inti dan keseluruhan kegiatan (dalam tahap ketiga). Pada tahap ini pemimpin kelompok menjelaskan peranan para anggota kelompok. Kemudian pemimpin kelompok menawarkan apakah para anggota kelompok sudah siap memulai kegiatan lebih lanjut. (3) Tahap kegiatan, “Tahap ini merupakan tahap inti kegiatan kelompok maka aspek-

(3)

3 aspek yang menjadi ini dan pengiringnya cukup banyak, dan masing-masing aspek tersebut perlu mendapat perhatian yang seksama dari pemimpin kelompok”. Kegiatan pada tahap ketiga itu mendapatkan alokasi waktu yang terbesar dalam keseluruhan kegiatan kelompok. Tahap ini saling tukar pengalaman dalam suasana perasaan yang terjadi, penyajian dan pembukaan dari berlangsung bebas.Demikian pula, saling tanggap dan tukar pendapat berjalan dengan lancar. (4) Tahap pengakhiran, “Pada tahap pengakhiran pemimpin kelompok meminta kesan-kesan dari para anggota kelompok dan akhirnya kesan-kesan ini dikaitkan dengan kemungkinan pertemuan berikutnya.”

Pemberian layanan konseling kelompok dalam hal ini adalah upaya pemberian bantuan yang dilakukan oleh konselor Rehabilitasi Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak terhadap korban penyalahgunaan narkoba (residen) agar residen dapat meningkatkan kualitas hidup dan potensi yang diimplementasikan dan dirumuskan dalam tujuan pelaksanaan konseling kelompok. Sehingga pelaksanaan layanan konseling kelompok bisa diharapkan memberi sumbangan yang besar pada kesembuhan penyalahguna Napza dalam upaya pemberantasan maraknya penyalahgunaan Narkoba, Psikotropika, dan Zat adiktif di semua kalangan melalui salah satu layanan bimbingan dan konseling.

Dalam hal ini, tentu keterlibatan residen yang positif sangat penting dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui layanan konseling kelompok, yaitu mengenai persepsi residen itu sendiri terhadap kegaiatan layanan konseling kelompok, karena sebagai penunjang keberhasilan suatu program layanan khususnya konseling kelompok melalui cara pandang atau persepsi klien itu sendiri terhadap program pelaksanaan di rehabilitas.

Menurut Slameto (2015:102),

“Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia.”

Melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Sejalan dengan pendapat diatas, Sedangkan menurut Severin dan Tankard (2011:85), mengemukakan bahwa, “Persepsi dipengaruhi oleh sejumlah faktor psikologis, termasuk asumsi-asumsi yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman masa lalu (yang sering terjadi pada tingkat bawah sadar), harapan-harapan budaya, motivasi (kebutuhan), suasana hati (mood), serta sikap.” Menurut Sarwono (2012:86), “Kemampuan untuk membeda-bedakan, mengelompokkan, memfokuskan dan sebagainya itu, yang selanjutnya diinterpretasi disebut persepsi.”

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa persepsi

merupakan proses untuk

mengorganisasikan dan menafsirkan informasi dan pesan yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor psikologis, termasuk asumsi-asumsi yang didasarkan pada pengalaman- pengalaman masa lalu, suasana hati serta sikap. Persepsi klien dalam hal ini adalah pada kegiatan pelaksanaan layanan konseling kelompok yang dilaksanakan untuk menuju proses perbaikan baik itu perilaku ataupun sikap positif klien untuk menuju ke arah yang lebih baik, produktif dan kesembuhan atas ketergantungan Napza.

Melalui penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian berjudul “Persepsi Residen tentang Pelaksanaan Konseling Kelompok pada Penyalahguna Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak.”

Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian diatas, maka dirumuskan masalah umum dalam penulisan ini adalah “Bagaimanakah Persepsi residen tentang Pelaksanaan

(4)

4 Konseling Kelompok pada Penyalahgunaan Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak?.” Dari masalah umum tersebut dapatlah dirumuskan sub masalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah persepsi residen tentang tahap pembentukkan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak? (2) Bagaimanakah persepsi residen tentang tahap peralihan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak? (3) Bagaimanakah persepsi residen tentang tahap kegiatan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak? (4) Bagaimanakah persepsi residen tentang tahap pengakhiran pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak? (5) Apa saja faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak? (6) Bagaimanakah upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak?

Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kejelasan persepsi residen tentang pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan napza di rehabilitas rumah rahayu yayasan plus pontianak.

Adapun Secara khusus tujuan penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dan kejelasan serta mendeskripsikan persepsi tentang: (1) Tahap pembentukkan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di rehabilitas

rumah rahayu yayasan plus pontianak.

(2) Tahap peralihan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di rehabilitas rumah rahayu yayasan plus pontianak.

(3) Tahap kegiatan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di rehabilitas rumah rahayu yayasan plus pontianak.

(4) Tahap pengakhiran pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di rehabilitas rumah rahayu yayasan plus pontianak.

(5) Faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di rehabilitas rumah rahayu yayasan plus pontianak.

(6) Upaya dalam mengatasi hambatan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di rehabilitas rumah rahayu yayasan plus pontianak.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bertujuan untuk memecahkan suatu masalah dengan menggambarkan keadaan objek/subjek pada saat penelitian dilakukan. Metode pada dasarnya berarti cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Menurut Sugiyono (2017:2), “Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”.

Nawawi (2015:67) menyatakan bahwa, “Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian (seseorang, lembaga masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak, atau sebagaimana adanya”.

Populasi yang menjadi sumber dalam penelitian ini adalah residen Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak yang berjumlah 15 orang. Maka seluruh populasi dijadikan

(5)

5 subjek penelitian yang artinya dalam ini dapat dikatakan sebuah jenis penelitian populasi. Teknik dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik komunikasi tidak langsung dan komunikasi langsung. Menurut Nawawi (2015:117) mengatakan bahwa, “Teknik komunikasi tidak langsung adalah teknik dengan menggunakan angket atau kuesioner sebagai alat pengumpul data”.

Sedangkan Teknik komunikasi langsung merupakan alat pengumpulan data yang dilakukan secara langsung baik berupa hubungan dengan seseorang atau berupa interview yang dilakukan oleh peneliti kepada narasumber untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Menurut Nawawi (2015:117)

“Teknik komunikasi langsung dengan mempergunakan interview sebagai alat pengempulan data”. Hal ini sejalan dengan pendapat Hadi dan Haryono (1998: 135) yang menyatakan bahwa,

“Teknik komunikasi langsung, yaitu teknik pengumpul data dengan mempergunakan interview sebagai alatnya”.

Alat pengumpul data dalam penelitian adalah angket dan wawancara Sugiyono (2017:142) mengatakan,

“Kuesioner merupakan teknik pengumpul data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya”.

Sedangkan menurut Arikunto (2006:151), “Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui”.

Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket terstruktur dengan pertanyaan tertutup. Setiap angket disediakan untuk empat alternatif (Sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju), yang ditujukan kepada residen Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak. Data

angket yang dikumpulkan adalah persepsi peserta didik terhadap layanan bimbingan karier. Alternatif jawaban yang disediakan pada angket tertutup menggunakan skala likert gradasi.

Menurut Sugiyono (2017:93), “Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial”.

Wawancara merupakan alat pengumpul data dengan cara membuat daftar pertanyaan yang digunakan sebagai pedoman untuk mengadakan wawancara dengan sumber data.

Menurut Arikunto (2012:126), mengatakan bahwa “Wawancara adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari sumber yang terwawancara.” Menurut pendapat Nawawi (2007:111), dikatakan bahwa wawancara atau interview adalah

“Usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula.” Selanjutnya menurut Widoyoko (2012:40), “Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan antara pewawancara (interviewer) dengan responden atau orang yang diinterview (interviewee) dengan tujuan memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh peneliti .” dalam penelitian ini digunakan wawancara berstruktur, yaitu dengan pertanyaan yang telah disusun untuk residen dan konselor rehabilitas rumah rahayu yayasan plus pontianak untuk melengkapi informasi yang belum tergali dari angket.

Bentuk penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk studi survey. Penggunaan penelitian ini untuk meneliti persepsi residen tentang pelaksanaan konseling kelompok di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak.

Berdasarkan hasil uji coba soal yang dilakukan di Rehabilitas Rumah

(6)

6 Rahayu Yayasan Plus Pontianak diperoleh dari 50 soal yang di uji validitaskan ada 9 soal yang tidak valid, serta keterangan bahwa tingkat reliabilitas soal yang tersusun tergolong baik dengan koefisien reliabilitias sebesar 0,979.

Hasil dari angket dianalisis menggunakan rumus sebagai berikut:

pemberian skor sesuai dengan pedoman penskoran, menggunakan rumus presentase, menguji validitas dan reliabilitas menggunakan aplikasi SPSS versi 19. Prosedur penelitian ini terdiri dari 3 tahap, yaitu:

Tahap Persiapan

Langkah - langkah yang dilakukan pada tahap persiapan antara lain sebagai berikut: (1) menyusun angket beserta kunci jawaban dan pedoman penskoran serta pedoman wawancara terstruktur untuk konselor Rehabilitas (2) membuat surat izin penelitian; (3) menganalisis hasil uji coba soal tes; (4) melakukan uji coba angket yang telah divalidasi; (5) peneliti menemui pihak Rehabilitas untuk berkonsultasi sekaligus mempelajari teknis dilapangan sebelum penelitian (6) menentukan jadwal penelitian.

Tahap Pelaksanaan

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap pelaksanaan antara lain; (1) Residen dikumpulkan di ruang laboratorium untuk mengisi angket; (2) Residen mengisi angket sesuai dengan yang dirasakan, jujur dan tanpa paksaan;

(3) mengumpulkan angket yang telah diisi oleh residen; (4) mengecek kembali setiap item soal yang telah diisi. (5) Melakukan wawancara kepada konselor di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak.

Tahap Akhir

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap akhir antara lain; (1) memasukan jawaban angket peserta

didik ke aplikasi SPSS versi 19; (2) menganalisis angket yang telah diisi oleh residen dan analisis hasil wawancara dengan konselor rehabilitas;

(3) menentukan kategori hasil angket yaitu Sangat baik, Baik, Cukup dan Kurang dengan menggunakan tolok ukur; (4) mendeskripsikan hasil analisis data dan memberikan kesimpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah;

(5) menyusun laporan penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi residen tentang pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak dalam kategori baik.

Hasil Angket

Angket dalam penelitian ini berjumlah 41 item soal pada variabel persepsi residen tentang pelaksanaan konseling kelompok. Adapun hasil dari perhitungan persentase yang diperoleh berdasarkan hasil angket menunjukkan bahwa secara layanan konseling kelompok pada penyalahguna Napza mencapai kategori “Baik” dengan skor aktual sebesar 1945 dari skor maksimal ideal 2460 sehingga mencapai persentase 79,06%.

Hasil Wawancara

Hasil wawancara digunakan untuk menjawab sub masalah faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan konseling kelompok di rehabilitas dan upaya dalam mengatasinya hambatan pelaksanaan konseling kelompok di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak. Berdasarkan hasil wawancara terkait hambatan-hambatan dalam pelaksanaan konseling kelompok dan upaya mengatasinya yang diuraikan sebagai berikut: (1) Fasilitas yang kurang memadai (2) Penurunan emosional residen (3) Jumlah anggota

(7)

7 yang diikutsertakan dalam pelaksanaan konseling kelompok (4) Penyangkalan (5) Faktor Perbedaan usia antar residen.

Pembahasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 11 Juli 2018 berdasarkan surat

pengantar dari Fakultas sampai tanggal 1 Agustus 2018 dimana peneliti mendapatkan kesempatan untuk menyebarkan angket dan melakukan wawancara di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak.

Tabel 1

Hasil Persentase Persepsi Residen

Aspek Variabel S. Aktual S. Maksimal Ideal % Kategori Tahap Pembentukan

Konseling Kelompok 514 660 77,87% Baik

Tahap Peralihan

Konseling Kelompok 382 480 79,58% Baik

Tahap Kegiatan

Konseling Kelompok 377 480 78,54% Baik Tahap Pengakhiran

Konseling Kelompok 672

840 79,08% Baik Berdasarkan perhitungan

persentase pada tabel 1 di atas, menunjukkan bahwa secara keseluruhan layanan konseling kelompok pada penyalahguna Napza mencapai kategori

“Baik” dengan skor aktual sebesar 1945 dari skor maksimal ideal 2460 sehingga mencapai persentase 79,06%.

Selanjutnya untuk mengetahui selengkapnya hasil perhitungan persentase kategori penilaian tiap aspek dalam variabel Persepsi residen tentang pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza diberikan interprestasi hasil perhitungan yaitu: (1) Persepsi residen tentang tahap pembentukan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza memperoleh hasil skor aktual 514 dan skor ideal 660 dengan hasil persentase 77,87% masuk kedalam kategori “Baik”.

Hal ini sejalan dengan pendapat Prayitno (1995:41) yang menyatakan bahwa

“Tahap ini merupakan tahap pengenalan, perlibatan diri, atau tahap memasukkan diri kedalam kehidupan suatu kelompok”. (2) Persepsi residen tentang tahap peralihan pelaksanaan konseling

kelompok pada penyalahgunaan Napza memperoleh hasil skor aktual 382 dan skor ideal 480 dengan hasil persentase 79,48% masuk kedalam kategori “Baik”.

yang artinya tahap ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan dari sikap positif dan antusiasme serta ketertarikkan residen dalam mengikuti layanan konseling kelompok.

“Terbebasnya anggota dari perasaan atau sikap enggan, ragu, malu, atau saling tidak percaya untuk memasuki tahap berikutnya, makin mantapnya suasana kelompok dan kebersamaan, makin mantapnya minat ikut serta dalam kegiatan kelompok tersebut. (Kurnanto, 2013:157). (3) Persepsi residen tentang tahap kegiatan pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza memperoleh hasil skor aktual 377 dan skor ideal 480 dengan hasil persentase 78,54% yang artinya masuk kedalam kategori “Baik”. yang artinya tahap ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan dari sikap positif dan antusiasme serta ketertarikkan residen dalam mengikuti layanan konseling kelompok. Menurut Prayitno (1995:162) mengatakan bahwa

(8)

8

“Kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap ini adalah masing- masing anggota secara bebas mengemukakan masalah atau topik bahasan, menetapkan ,asalah atau topik yang akan dibahas terlebih dahulu, anggota membahas masing-masing topik secara mendalam dan tuntas, dan kegiatan selingan”. (4) Persepsi residen tentang tahap pengakhiran pelaksanaan konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza memperoleh hasil skor aktual 672 dan skor ideal 840 dengan hasil persentase 80,83% yang artinya masuk kedalam kategori “Baik”.

yang artinya tahap ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan dari sikap positif dan antusiasme serta ketertarikkan residen dalam mengikuti layanan konseling kelompok. Hal ini sejalan dengan pendapat Kurnanto (2013:170) mengatakan bahwa “ Tahap penutup merupakan penilaian dan tindak lanjut, adanya tujuan terungkapnya kesan-kesan anggota kelompok tentang pelaksanaan kegiatan, terungkapnya hasil kegiatan kelompok yang telah dicapai yang telah dikemukakan secara mendalam dan tuntas, terumus rencana kegiatan yang lebih lanjut, tetap dirasakannya hubungan kelompok dan rasa kebersamaan meskipun kegiatan diakhiri”. (5) Hambatan dan upaya dalam mengatasinya. Berdasarkan hasil wawancara dengan konselor didapatkan informasi mengenai hambatan dan upaya mengatasinya dalam pelaksanaan konseling kelompok yang akan diuraikan yaitu sebagai berikut: (a) Fasilitas yang kurang memadai, Menurut Sam (2012: 12), “Fasilitas adalah segala sesuatu yang berupa benda maupun finansial untuk memudahkan serta memperlancar pelaksanaan suatu usaha tertentu.” (b) Penurunan emosional residen, Menurut Mc Croskey (1984),

“Kecemasan berkomunikasi merupakan suatu level ketakutan atau kecemasan sesorang, baik nyata maupun hanya prasangka berkaitan dengan

berkomunikasi dengan orang lain ataupun dengan banyak orang.” (c) Jumlah anggota yang diikutsertakan dalam pelaksanaan konseling kelompok, Penentuan ideal jumlah anggota yang mengikuti konseling kelompok tentu ada pertimbangan-pertimbangan dan alasan- alasan tertentu. Menurut Wibowo (2005:

18), mengatakan bahwa “Ideal pelaksanaan konseling kelompok adalah 6 orang meskipun pada umumnya anggota berjumlah 4-10 orang.” Maka untuk kegiatan evaluasi konselor membagi kelompok lebih kecil yang terdiri dari 3-4 orang yang disebut static group. (d) Penyangkalan, Sikap penyangkalan dapat dikategorikan sebagai sikap residen menolak otoritas, Menurut Munandar (2002:383),“Cara yang dapat dilakukan konselor untuk menanggapi kebutuhan unik dari individu adalah melalui program komprehensif yang disusun dengan baik.” Maka dalam hal ini konselor membutuhkan pendekatan individual kepada residen yang cenderung menolak. (e) Perbedaan Usia, Perbedaan usia antar residen menimbulkan kesenjangan baik itu berupa pengalaman dan banyak hal lainnya, Menurut Santrock (2012:122), menyatakan bahwa “Frekuensi interaksi teman sebaya yang dilakukan selama bertahun- tahun baik positif maupun negatif terjadi cukup signifikan.” Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya peranan teman sebaya dalam untuk mendapat dukungan sosial agar hubungan dapat terjalin lebih akrab.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa secara umum bahwa “ Persepsi residen tentang Pelaksanaan Konseling Kelompok pada Penyalahgunaan Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak” masuk ke dalam kategori

“Baik”. Secara khusus bahwa Persepsi residen tentang pelaksanaan layanan

(9)

9 konseling kelompok pada penyalahgunaan Napza dapat disimpulkan seperti berikut; (1) Tahap pembentukkan pelaksanaan layanan konseling kelompok pada penyalahguna Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak memperoleh hasil yang masuk dalam kategori

“Baik”. (2) Tahap peralihan pelaksanaan layanan konseling kelompok pada penyalahguna Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak memperoleh hasil yang masuk dalam kategori “Baik”. (3) Tahap kegiatan pelaksanaan layanan konseling kelompok pada penyalahguna Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak memperoleh hasil dengan kategori “Baik”. (4) Tahap pengakhiran pelaksanaan layanan konseling kelompok pada penyalahguna Napza di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak memperoleh hasil dengan kategori “Baik”. (5) Faktor- faktor yang menjadi hambatan pelaksanaan konseling kelompok dan Upaya dalam mengatasi hambatan pelaksanaan konseling kelompok yang dilakukan oleh konselor di rehabilitas tergolong cukup baik yang artinya masih bisa di upayakan agar semua hambatan tersebut dapat di atasi sebaik mungkin serta program yang dijalankan secara optimal.

Saran

Berdasarkan pada kesimpulan diatas, dapat dikemukan beberapa saran sebagai berikut: (1) Pada tahap pembentukkan, diharapkan residen dapat meningkatkan keterlibatan dirinya dalam mengikuti pelaksanaan konseling kelompok. Karena sikap positif dan antusiasme residen dalam melibatkan diri pada sebuah kelompok masih tergolong rendah. (2) Pada tahap peralihan, konselor/ pemimpin kelompok diharapkan dapat menjelaskan kegiatan yang ditempuh dengan jelas dan mengamati kesiapan anggota

kelompoknya untuk menjalani kegiatan ke tahap selanjutnya. (3) Pada tahap kegiatan, diharapkan seluruh anggota kelompok mampu berdiskusi untuk menentukan permasalahan yang akan dibahas terlebih dahulu. menyelesaikan tugasny. (4) Pada tahap pengakhiran, diharapkan residen mampu mengemukakan hasil-hasil kegiatan menjadi sebuah kesimpulan yang telah bersama-sama dirumuskan lebih baik lagi serta pesan dan kesan yang residen atas pelaksanaan konseling kelompok.

(5) Pada hambatan pelaksanaan konseling kelompok dan upaya mengatasinya, konselor selaku pemimpin kelompok diharapkan diharapkan agar persoalan paling utama yang menyangkut sarana dan prasarana dan tidak kalah pentingnya yaitu konselor diharapkan memaksimalkan peran teman sebaya dalam menciptakan peluang optimalisasi layanan khususnya pelaksanaan konseling kelompok di Rehabilitas Rumah Rahayu Yayasan Plus Pontianak.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Badan Narkotika Nasional. (2003).

Pedoman Pencegahan

Penyalahgunaan Narkoba. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pelayanan Dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI.

--- (2010).

Advokasi Penyalahgunaan Narkoba. Jakarta: Direktorat Advokasi Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional.

Gibson, Robert & Mitchell, Marianne H.

(2015). Introduction To Counseling And Guidance. Person Prentice Hall, Pearson Education, Inc, Upper Saddle River, New Jersey.

(10)

10 Hadi Dan Haryono. (1998). Metode

Penelitian Pendidikan.Bandung:

CV Pustaka Setia.

Kurnanto, M.E. (2014). Konseling Kelompok. (Cetakan Ke- 2) Bandung: CV Alfabeta.

Mc Croskey. (1984). The Communication Apprehension Perspective. Diakses dari http://www.Jamesmccroskey.(diaks es pada tanggal 25 juli 2018).

Munandar, AS. (2002). Psikologi Industri Dan Organisasi. Depok:

Universitas Indonesia (UI Press).

Nawawi, H. (2015). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Prayitno. (1995). Layanan Bimbingan Dan Konseling Kelompok. Jakarta:

Balai Aksara.

Sam, Arianto. (2012). Sahabat Bersama.

Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Santrock, W. Jhon. (2003). Adolescence, Perkembangan Remaja. Jakarta:

Erlangga.

Sarwono, Sarlito W. (2012). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Press.

Severin, Werner J & Tankard, James W.

(2011). Teori Komunikasi Sejarah, Metode Dan Penerapan Di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana.

Slameto. (2015). Belajar Dan Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi.

Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D.

Bandung: Alfabeta.

Wibowo, M.E. (2005). Konseling Kelompok Perkembangan.

Semarang: UNNES Press.

Wicaksono, Luhur & Astuti, Indri.

(2011). Konseling Diperluas.

Pontianak: Fahruna Bahagia.

Widoyoko, Eko P. (2012). Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Winkel, W.S Dan Sri Hastuti, (2004).

Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:

Media Abadi.

(11)

11

(12)

12

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Arikunto (2013: 198 ) “ interviu yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk

12 Metode interview merupakan dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari

Interview adalah suatu bentuk dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewed) dinamakan interview.

Wawancara sering juga disebut sebagai metode kuesioner lisan, yaitu sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara

Wawancara adalah sebuah diaolog yang digunakan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Wawancara dilakukan pada setiap akhir siklusnya. Dalam

Wawancara adalah salah satu metode untuk mendapatkan data melaui sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. 4

Dengan menggunakan teknik wawancara, peneliti dapat memperoleh data atau informasi untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab antara pewawancara dan terwawancara yang

a) Wawancara, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Pengumpulan data melalui berupa tanya jawab dengan