Anggun Budi Wardani, Jhons Fatriyadi Suwandi, dan Ratna Dewi Puspita Sari│Pemetaan Tempat Perindukan Nyamuk Potensial di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura
Medula|Volume 8|Nomor 1|April 2018|83
Pemetaan Tempat Perindukan Nyamuk Potensial di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura
Anggun Budi Wardani1, Jhons Fatriyadi Suwandi2,Ratna Dewi Puspita Sari3
1
Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2
Bagian Mikrobiologi dan Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
3
Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Abstrak
Pada tahun 2017 malaria masih menjadi penyakit yang membebani dunia. Di Indonesia tahun 2016 terdapat sebanyak 261.100.00 kasus malaria dan Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah endemis malaria. Faktor lingkungan masih menjadi faktor yang sulit dikendalikan. Pada penelitian ini dilakukan pemetaan tempat perindukan nyamuk potensial.
Pemetaan dilakukan dengan pengambilan titik koordinat menggunakan Global Positioning System (GPS). Titik koordinat berada pada 5030’00.000” LS–5030’13.226” LS dan 105014’46.372” BT–105014’21.040” BT dengan ketinggian 1–25 meter diatas permukaan laut (mdpl). Pemetaan tempat perindukan nyamuk potensial di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura menunjukan bahwa tempat tersebut tersebat di daerah pinggir pantai serta area persawahan.
Kata Kunci: malaria, pemetaan, tempat perindukan.
Mapping of Potensial Mosquitos Breeding Place in Puskesmas Hanura working area
Abstract
Malaria is still become world burden disease in 2017. In Indonesia, there was 261.100.000 Malaria cases in 2016 and Lampung Province was one of its endemic area. Environmental factors remain to be difficult factor to control. This study has been mapping the potential breeding place of mosquitos.The mapping is done by taking coordinate points using Global Positioning System (GPS). The coordinate points of mapping was 5030’00.000” S–5030’13.226” S dan 105014’46.372” E–
105014’21.040” E with height ranges from 1–25 meters above sea level (masl). The mapping result show the potential mosquitos breeding places in working area of Puskesmas Hanura was on coastal areas and rice fields.
Key words: malaria, mapping, breeding places
Korespondensi: Anggun Budi Wardani, alamat Jl.R Suprapto 25 Margorejo Metro Selatan, HP: 085269590322, e-mail:
Pendahuluan
World Malaria Report 2017 menyebutkan bahwa malaria masih menjadi penyakit yang membebani dunia. Di wilayah Indonesia pada tahun 2016 malaria juga menyebabkan angka kesakitan yang tinggi, yaitu sebanyak 261.100.000 kasus sehingga menjadikan Indonesia negara endemis malaria. World Health Organization (WHO) menyebutkan hampir setengah populasi penduduk di Indonesia tinggal di wilayah yang endemis malaria. Salah satu provinsi di Indonesia yang masih menjadi wilayah endemis malaria adalah Provinsi Lampung.1,2,3
Provinsi Lampung pada tahun 2010 hingga 2015 memiliki API (Annual Parasite Incidence) 0,22–0,51%.4 Kabupaten Pesawaran merupakan saah satu daerah endemis di Provinsi Lampung. Kabupaten tersebut memiliki angka API yang berfluktuatif dalam rentang waktu 5 tahun dari tahun 2011–2015.
Pada tahun 2011 API kabupaten tersebut
adalah 4,76 per 1000 penduduk, tahun 2012 adalah 1,00 per 1000 penduduk, tahun 2013 adalah 4,77 per 1000 penduduk, tahun 2014 mengalami peningktan menjadi 7,26 per 1000 penduduk, dan menurun kembali di tahun 2015 menjadi 6,36 per 1000 penduduk. Dari 12 wilayah kerja puskesmas yang ada di kabupaten tersebut, wilayah kerja Puskesmas Hanura memiliki kasus positif malaria tertinggi pada tahun 2015, yaitu sebanyak 2.276 kasus.5
Angka API fluktuatif tersebut dipengaruhi oleh kondisi alam yang memungkinkan untuk menjadi tempat perindukan nyamuk penyebab penyakit malaria. Hal tersebut disebabkan karena adanya daerah pesisir pantai, hutan, lagun, dan tambak terlantar yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk.6 Hingga saat ini faktor lingkungan adalah faktor yang sangat sulit dikendalikan untuk mengurangi agent penyebab malaria.7 Lingkungan yang dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan angka
Anggun Budi Wardani, Jhons Fatriyadi Suwandi, dan Ratna Dewi Puspita Sari│Pemetaan Tempat Perindukan Nyamuk Potensial di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura
Medula|Volume 8|Nomor 1|April 2018|84 kejadian malaria, yaitu air tergenang, dan
lingkungan kotor atau tidak sehat.8
Publikasi tentang pemetaan tempat perindukan nyamuk potensial di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura yang sebelumnya belum pernah dipublikasikan. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti merasa perlu untuk menyajikan tempat-tempat yang potensial sebagai tempat perindukan nyamuk potensial dalam bentuk peta.
Metode
Pemetaan dilakukan dengan mengambil titik koordinat menggunakan Global Positioning System (GPS) pada tempat-tempat yang telah ditentukan. Tempat-tempat tersebut merupakan tempat perindukan potensial nyamuk vektor seperti tambak terlantar, lagun, selokan, sawah, dan perahu rusak. Titik koordinat yang telah didapatkan
akan diolah dalam bentuk tabel pada software Microsoft Excel. Data yang telah berbentuk tabel nantinya akan dimasukkan kedalam peta digital dengan menggunakan software SIG (Sistem Informasi Geografis).
Variabel dalam penelitian ini adalah tempat perindukan nyamuk potensial sebagai vektor malaria, yaitu tambak terlantar, lagun, selokan, sawah, dan perahu rusak.
Hasil
Hasil pemetaan terdapat pada gambar 1. Titik koordinat tempat perindukan nyamuk potensial sebagai vektor malaria dapat diketahui berada pada 5030’00.000” LS - 5030’13.226” LS dan 105014’46.372” BT - 105014’21.040” BT. Tempat perindukan tersebut berada mengelompok di daerah pinggir pantai serta persawahan Desa Sukajaya Lempasing.
Gambar 1. Gambaran Sebaran Lokasi Tempat Perindukan Nyamuk Potensial di Desa Sukajaya Lempasing, Wilayah Kerja Puskesmas Hanura
Terdapat tiga tempat perindukan potensial yang berada berdekatan dipinggir pantai, yaitu perahu rusak, lagun, dan tambak terlantar. Perahu rusak berjarak 32 meter dari pinggir pantai, lagun berjarak 63 meter, dan tambak terlantar berjarak 99 meter dari
pinggir pantai. Sementara itu selokan berjarak 94 meter dari pinggir pantai dan sawah berjarak lebih jauh lagi, yaitu berjarak 1 kilometer dari pinggir pantai. Kelima tempat perindukan potensial tersebut memiliki jarak berkisar 31 meter–1 kilometer satu dengan
Anggun Budi Wardani, Jhons Fatriyadi Suwandi, dan Ratna Dewi Puspita Sari│Pemetaan Tempat Perindukan Nyamuk Potensial di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura
Medula|Volume 8|Nomor 1|April 2018|85 lainnya. Ketinggian dari tempat-tempat
tersebut berkisar 1–25 meter diatas permukaan laut.
Pembahasan
Lokasi yang potensial sebagai tempat perindukan nyamuk vektor malaria tersebut memiliki ketinggian yang berbeda-beda.
Ketinggian pada kelima tempat perindukan yang potensial tersebut berkisar 1–25 meter diatas permukaan laut, dengan rincian sebagai berikut sawah di ketinggian kisaran 17–25 meter diatas permukaan laut, tambak terlantar 4–9 meter diatas permukaan laut, selokan 4–9 meter diatas permukaan laut, lagun 2–4 meter diatas permukaan laut, dan perahu rusak 1–2 meter diatas permukaan laut. Dari kelima tempat perindukan nyamuk vektor malaria lokasi yang tertinggi adalah sawah yaitu 17–25 meter diatas permukaan laut. Perahu rusak yang berada di pinggir pantai menjadi lokasi terendah, yaitu 1–2 meter diatas permukaan laut.
Ketinggian tambak terlantar berkisar antara 4-9 meter diatas permukaan laut. Pada penelitian yang dilakukan oleh Sugiarto dkk (2016) di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara menyatakan bahwa di tambak terlantar dengan ketinggian 2–5 meter diatas permukaan laut adalah tempat perindukan yang paling potensial.9 Menurut Suwito dkk., (2010) tambak terbengkalai merupakan habitat yang disenangi oleh larva Anopheles sundaicus.10
Selokan berada pada ketinggian 4–9 meter diatas permukaan laut dengan air menggenang. Pada penelitian Sugiarto dkk., (2016) menemukan adanya Anopheles pada parit atau selokan dengan ketinggian 4–6 meter diatas permukaan laut.9 Rahmi (2016) pada penelitiannya menemukan adanya larva Anopheles vektor malaria di selokang dengan air tergenang.11
Lagun dan perahu rusak terletak di pinggir pantai. Ketinggian lagun berkisar 2–4 meter diatas permukaan laut sedangkan perahu rusak 1–2 meter diatas permukaan laut. Hal tersebut relatif sama dengan penelitian Sugiarto dkk., (2016) ditemukan adanya larva Anopheles di lagun pada ketinggian 1–2 meter diatas permukaan laut.9 Pada penelitian Kazwaini dkk., (2015) di Kabupaten Lombok Tengah menyatakan bahwa pada ketinggian 0–30 meter diatas
permukaan laut terutama daerah pesisir pantai berupa lagun merupakan tempat perindukan nyamuk vektor malaria yang potensial.12 Penelitian yang dilakukan oleh Mardiana dkk., (2002) menenemukan adanya larva Anopheles pada lagun yang berjarak ± 300 meter dari pantai.13
Sawah yang menjadi lokasi tempat perindukan paling tinggi, yaitu 17–25 meter diatas permukaan laut. Menurut Wahyuni dk., (2014) di Wilayah Kerja Puskesmas Subah yang dilakukan di ketinggian 21–26 meter diatas permukaan laut menyatakan bahwa sawah merupakan tempat perindukan potensial karena tidak adanya predator dan kedalaman tipe sawah dangkal.14 Menurut Mading dan Kazwaini (2014), An. subpictus dapat bertahan hidup pada air payau ataupun air tawar sehingga pada musim hujan memungkinkan untuk ditemukan di sawah.15 Hasil penelitian yang berbeda di dapatkan oleh Rosmini dkk., (2013) bahwa di sawah juga dapat ditemukan An. vagus, An. barbirostris, An. tesselatus.16
Simpulan
Pemetaan tempat perindukan nyamuk potensial di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura menunjukan bahwa tempat tersebut tersebar di daerah pinggir pantai serta area persawahan dan titik koordinat diketahui berada pada 5030’00.000” LS - 5030’13.226” LS dan 105014’46.372” BT - 105014’21.040” BT.
Daftar Pustaka
1. WHO. World Malaria Report 2017.
Geneva: World Health Organization;
2017.
2. WHO. Malaria Country Profile. Geneva:
World Health Organization; 2017.
3. WHO SEARO. Malaria Negleted Tropical Disease. Geneva: World Health Organization; 2009.
4. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Profil kesehatan Provinsi Lampung tahun 2015.
Teluk Betung: Dinas Kesehatan Provinsi Lampung; 2016.
5. Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran.
Profil kesehatan Kabupaten Pesawaran tahun 2015. Gedong Tataan: Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran; 2016.
6. Babba I. Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kejadian malaria (Studi kasus di Wilayah Kerja Puskesmas
Anggun Budi Wardani, Jhons Fatriyadi Suwandi, dan Ratna Dewi Puspita Sari│Pemetaan Tempat Perindukan Nyamuk Potensial di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura
Medula|Volume 8|Nomor 1|April 2018|86 Hamadi Kota Jayapura) [Thesis].
Semarang: Universitas Diponegoro; 2007.
7. Santi M. Faktor-faktor yang berpengaruh dengan kejadian malaria pada penduduk Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi yang pernah bermigrasi tahun 2011 [skripsi]. Depok: Universitas Indonesia; 2012.
8. Sugiarto, Hadi UK, Soviana S, Hakim L.
Karakteristik habitat larva Anopheles spp.
di Desa Sungai Nyamuk daerah endemik malaria di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. BALABA.
2016.12(1):47-54.
9. Suwito, Hadi UK, Sigit SH, Sukowati S.
2010. Hubungan iklim, kepadatannyamuk Anopheles dan kejadian penyakit malaria.
J. Entomol. Indon. 2010;7(1):42-53.
10. Rahmi. Identifikasi tempat perindukan larva nyamuk Anopheles sp vektor malaria sebagai alternatif sumber belajar Biologi pada mata kuliah Parasitologi.
JESBIO. 2016;5(1):7-9.
11. Kazwaini M, Mau F. Hubungan sebaran habitat perkembangbiakan vektor dengan kejadian malaria di daerah High Incidence Area (HIA) Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bul.
Penelit. Kesehat. 2015;43(1):23-34.
12. Mardiana, Shinta, Enny WL, Sukijo.
Berbagai jenis nyamuk Anopheles dan tempat perindukannya yang ditemukan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
Media Litbang Kesehatan. 2002;7(4):30-6.
13. Wahyuni S, Saleh I, Hernawan AD.
Perbedaan kepadatan jentik, jenis dan breeding place nyamuk Anopheles sp pada tiap tingkatan daerah endemis (studi di Wilayah Kerja Puskesmas Subah Kabupaten Sambas). Fakultas Ilmu Kesehatan [skripsi]. Pontianak:
Universitas Muhammadiyah Pontianak;
2014.
14. Mading M, Kazwaini M. Ekologi Anopheles spp. di Kabupaten Lombok Tengah. Aspirator. 2014;6(1):13-20.
15. Rosmini, Jastal, Srikandi Y, Risti, Nurwidayati A. Jenis-jenis habitat nyamuk Anopheles spp. di Kecamatan Labuan dan Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Jurnal Vektor Penyakit.
2013.7(1):1-8.