ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149
EDITORIAL TEAM Ketua Penyunting
Masykur Arif, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep
Penyunting Pelaksana:
Syafiqurrahman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Penyunting:
Abd. Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Mohammad Takdir, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Ach. Maimun, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Fathor Rachman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Moh. Wardi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nahzatut Thullab, Sampang.
Moh. Dannur, Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat, Pamekasan.
IT Support:
Faizy, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep, Indonesia
Alamat Redaksi: REDAKSI JPIK
Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D)
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)
Jl. Bukit Lancaran PP.
Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep 69463 Email:
[email protected] Website:
http://jurnal.instika.ac.id/index.php/jpik
Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Terbit 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman menerbitkan hasil penelitian, baik penelitian pustaka maupun lapangan, tentang filsafat dan pemikiran serta ilmu-ilmu keislaman meliputi bidang kajian pendidikan Islam, politik, ekonomi syariah, hukum Islam atau fikih, tafsir, dan ilmu dakwah
ISSN (Cetak) : 2621-1130 ISSN (Online) : 2621-1149
1-18 Nasikh Mansukh Dalam Studi Ilmu Alquran
Dainori
19-42 Memahami Maqashid Syariah Perspektif Jaser Auda
A Washil
43-58 Tasawuf di Pesantren (Kajian Terhadap Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali)
Abd. Rahman Abdul Halim
59-81 Tipologi Pesantren (Mengkaji Sistem Salaf dan Modern)
Muhammad Nihwan Paisun
82-124 Potret Pendidikan Pesantren dalam Film “Sang Kyai”
Ah. Mutam Muchtar
125-168 Model-Model Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini
Moh. Jazuli
169-208 Politisasi Agama dalam UU Sistem Pendidikan Nasional
Mohammad Hosnan Mohammad Takdir
209-225 Manajemen Hubungan Masyarakat Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Darmista, Lenteng, Sumenep
Ach. Khatib
226-242 Upaya Islam dalam Pembentukan Keluarga Harmonis (Analisis Normatif)
Masyhuri
243-307 Peningkatan Pengawasan Sekolah/Madrasah dalam Bidang Pembelajaran
Fathor Rachman
TASAWUF DI PESANTREN
(KAJIAN TERHADAP PEMIKIRAN TASAWUF AL-GHAZALI)
Abd Rahman dan Abdul Halim
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep [email protected]
Abstrak
Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga yang paling penting adalah membentuk karakter atau akhlak santri. Pembentukan karakter atau akhlak santri dilakukan dengan dua cara, yakni pengajaran kitab akhlak dan tasawuf dan teladan dari kiai. Kitab tasawuf yang diajarkan di pesantren adalah berbasis kepada tasawuf al- Ghazali. Penekanan dalam tasawuf al-Ghazali terletak kepada tazkiyah al-nafs, yakni membersihkan jiwa demi terus mendekatkan diri dengan ilahi. Karenanya dalam tasawuf al-Ghazali ini justru berbasis kepada praktek ibadah sehari-hari.
Kata kunci: pesantren, tasawuf, al-Ghazali.
Pendahuluan
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka.
Menurut Nurcholish Madjid, pesantren merupakan lembaga
pendidikan yang asli Indonesia yang seandainya tidak dijajah
44 | JPIK Vol. 2 No. 1, Maret 2019: 43-58
oleh Belanda, maka akan menjadi ciri khas pendidikan hingga saat ini.
Lembaga pendidikan pesantren didirikan untuk mendidika kader muslim yang mumpuni dalam bidang agama.
Para santri yang sudah belajar di pesantren ini yang datang dari berbagai daerah kemudian diharapkan pulang ke daerah asal untuk mengembangkan Islam di daerah asalnya masing-masing.
Pesantren menjadi semacam lembaga yang memproduksi intelektual muslim untuk menyebarkan dakwah keislaman hingga ke pelosok.
Namun demikian, pesantren bukan hanya berfungsi
sebagai lembaga pendidikan Islam an sich. Yang
dikembangkkan dalam pesantren bukan hanya keilmuan, tetapi
yang lebih penting dari itu adalah pendidikan akhlak. Pesantren
bertujuan untuk membangun akhlak santri-santrinya sehingga
mereka menjadi pribadi yang berbudi luhur dan memiliki
karakter kuat. Tentang keluhuran budi serta akhlak ini, tidak
hanya diakui oleh komunitas pesantren itu sendiri, tetapi juga
oleh orang luar yang tidak pernah mendapat pendidikan
Abdul Halim, Tasawuf di Pesantren| 45
pesantren. Dr. Soetomo, salah satu pendiri organisasi Budi Utomo menyebutkan bahwa pesantren memberikan pengajaran lahir batin kepada muridnya, dan kelakukan guru (kiai) yang penuh kejujuran dan kesucian mempengaruhi sikap hidup murid-muridnya. Pesantren telah menjadikan pemuda yang belajar di dalamnya hidup dalam persatuan dan kiai dengan segala pengaruhnya telah berjasa besar dalam membentuk masyarakat yang tenteram dan damai.
Pembentukan akhlak di pesantren memang sangat kental sekali dan diajarkan secara masif, baik dalam bentuk pengajaran resmi maupun dalam pembiasaan perilaku. Dalam pengajaran, akhlak dijarkan melalui kitab-kitab akhlak tasawuf di pesantren.
Sementara itu, santri juga dibiasakan untuk selalu terbiasa melakukan hal terpuji dalam kesehariannya, sehingga nantinya dapat membentuk dirinya menjadi pribadi baik.
Tulisan ini berusaha untuk menggambarkan tentang
proses pembelajaran tasawuf di pesantren, bagaimana corak dan
pembelajaran tasawuf di pesantren, berikut dengan karakter dan
46 | JPIK Vol. 2 No. 1, Maret 2019: 43-58
perbedaannya dibandingkan dengan pembelajaran tasawuf di luar pesantren.
Pembahasan
Tasawuf merupakan salah satu khazanah keilmuan pesantren yang sangat penting. Hampir setiap pesantren mengembangkan dan mengajarkan khazanah keilmuan ini.
Tentu saja sumbernya bisa berbeda satu sama lain. Kitab yang diajarkan biasanya disesuaikan dengan tingkat pengetahuan santri itu sendiri.
Namun, pada umumnya hampir setiap pesantren di Nusantara menjadikan Al-Ghazali sebagai rujukan dalam pembelajaran tasawuf di pesantren. Kitab-kitab Al-Ghazali, dari
Bidayatul Hidayahhingga
magnum opus-nya, Ihya Ulumuddin.Kitab-kitab Al-Ghazali menjadi rujukan utama dalam proses pembelajaran tasawuf di pesantren. Bahkan, kitab-kitab kecil yang lebih simpel juga merujuk kepada tasawuf Imam Ghazali tersebut.
Hal tersebut terjadi karena pesantren pada umumnya
berpaham Islam Ahlussunnah wal jamaah. Dalam paham
Ahlussunnah wal jamaah memang digariskan bahwa dalam
tasawuf, ikut kepada Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid al-
Baghdadi. Karenanya tidak heran jika ilmu tasawuf yang
Abdul Halim, Tasawuf di Pesantren| 47
diajarkan di pesantren pada umumnya mengacu kepada kitab- kitab Imam Ghazali.
Imam al-Ghazali hidup sejak kecil berasal dari keluarga religius. Walaupun ayahnya tidak dikenal sebagai ulama besar, tapi ia adalah seorang yang sangat taat beragama dan aktif dalam berbagai diskusi ulama di daerahnya. Sang ayah telah meninggal ketika al-Ghazali masih kecil bersama saudaranya Ahmad dan dititipkan pada teman ayahnya yang juga seoran sufi, Ahmad ar-Razkani. Bersamanya, al-Ghazali telah akrab dengan kehidupan sufistik yang kental di kota Tus pada usia mudanya (sekitar 15 tahun).
1Walaupun sejak awal ia juga telah akrab dengan tasawuf, terutama dari belajarnya pada al-Farmazi, tapi ia masih lebih banyak berkutat dalam disiplin ilmu lain, terutama fiqih. Setelah itu ia mendalami teologi dan filsafat. Terutama di tangan al-Juwaini, ia menjadi seorang intelektual muda yang handal. Sepeninggal al- Juwaini, al-Ghazali hijarah ke kota Mu‟askar, markas para ilmuwan.
Di sana ia disambut baik hingga akhirnya menduduki jabatan tertinggi
1 Abu al-Wafa‟ al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zman, terj. Ahmad Rofi‟i Utsmani, Bandung: Pustaka, 1997, hlm. 148.
48 | JPIK Vol. 2 No. 1, Maret 2019: 43-58
dan guru besar di bidang fiqih, teologi dan filsafat di Madrasah Nizamiyah pada saat ia baru berumur 34 tahun (484/1091).2
Pada saat itu, di dunia Islam terjadi persaingan aliran pemikiran, antara fiqih, kalam, filsafat dan lain sebagainya, termasuk persaingan antar mazhab dan aliran. Masing-masing memiliki dasar- dasar kokoh sendiri. sebagai intelektual yang menjadi rujukan, al- Ghazali telah mendalami semuanya. Tapi spirit intelektualnya justru menggirinnya pada krisis intelektual. Setelah menyelami semuanya dengan berbagai pertentangannya, al-Ghazali merasa tak ada aliran yang betul-betul bisa meyakinkannya dengan keyakinan matematis, sebagaimana 1-1 = 2. Bagi al-Ghazali, semua penjelasan ilmiah disiplin ilmu tentang kebenaran masih dapat diperdebatkan.3 Karena semua disiplin tersebut bertumpu pada perangkat dua perangkat pengetahuan: indera dan akal. Masih selalu ada ruang untuk dipertanyakan, diragukan bahkan ditolak. Setelah mendalami ke akar- akarnya, al-Ghazali selalu menemukan kelemahan dan kerancuan argumen dan penjelasannya. Filsafat sebagai disiplin yang tampak
2 M. M. Sheikh, “Al-Ghazali: Metaphysics,” dalam M. M. Sharif, A History of Muslim Philosophy, Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1966, hlm.
584.
3Krisis yang dimaksud di sini adalah krisis keilmuan yang tidak merasuk ke wilayah keyakinan akidahnya. Pencarian ini terekam dengan baik dalam karya al-Ghazali yang berjudul Al-Munqidz min al-Dhalal.
Abdul Halim, Tasawuf di Pesantren| 49
paling kokoh argumentasinya karena mengandalkan logika yang canggih ternyata juga menyimpan banyak kerancuan sehingga al- Ghazali menulis buku Tahafut al-Falasifah untuk menyingkap kerapuhannya.
Akhirnya ia menemukan kebenaran yang dicarinya dalam tasawuf, kebenaran yang dapat menenteramkan hati karena memberikan keyakinan dan keimanan yang kokoh. Kebenaran itulah yang ditemukan orang-orang ‘arif, orang-orang yang telah
“mengenal” Allah, jenis kebenaran yang dapat melahirkan keimanan tertinggi.4 Kebenaran yang ditemukan dalam tasawuf itulah yang tak menyisakan ruang keraguan sedikitpun. Menurutnya, kaum sufi adalah orang-orang yang menempuh jalan ke Hadirat Allah secara khusus. Jalan yang mereka adalah jalan terbaik dan akhlak mereka adalah akhlak paling luhur. Lebih jauh al-Ghazali menegaskan bahwa seandainya para filsuf dan para ulama ahli syari‟ah bergabung untuk membuat panduan jalan luhur menuju kebenaran hakiki, mereka tidak akan bisa menandingi jalan yang telah ditempuh oleh para sufi.
4 Al-Ghazali membagi keimanan menjadi tiga: (1) iman orang awam, yakni iman berdasdar taklid, (2) iman para ahli kalam (mutakallimun), iman yang dibangun atas campuran taklid dan penalaran, (3) iman orang- orang yang mengenal Allah (‘arif), iman yang diterangi “cahaya keyakinan”
(nur al-yaqin). Lihat al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Kairo: Musthafa Bab al- Halabi, t.t., juz 3, hlm. 15.
50 | JPIK Vol. 2 No. 1, Maret 2019: 43-58
Karena diam dan gerak lahir-batin para sufi dituntun oleh cahaya kenabian (misykat al-nubuwwah), cahaya yang tak tertandingi di muka bumi.5
Wajah Sunni dalam tasawuf al-Ghazali terlihat pada penekanannya pada praktik, bukan pada gambaran-gambaran abstrak tentang realitas seperti terlihat dalam pemikiran Ibnu Masarrah, Suhrawardi al-Maqtul dan Ibnu „Arabi. Ajarannya sangat kental diwarnai oleh ajaran-ajaran Alquran dan hadits atau tidak menyimpang dari ajaran syariah tradisional.
Selain karena latar belakang intelektualnya sebagai ulama Sunni, atau secara khusus ahli fiqih Sunni, al-Ghazali juga berkepentingan meluruskan berbagai ajaran yang dinilai menyimpang yang melahirkan ketegangan antara para ulama –terutama ahli fiqih dan ahli Kalam-- dengan para ahli tasawuf. Al-Ghazali hadir untuk melerai konflik tersebut dan menjembatani syariah dalam pengertian fiqih dengan tasawuf. Karena terutama sejak abad III/IX ketegangan itu muncul ke permukaan. Kaum sufi yang tidak dominan secara politis kala itu tertindas dan tersudut dengan tuduhan zindiq yang akhirnya mengarah pada kafir. Kasus Abu Mansur al-Hallaj yang
5 Al-Ghazali, Al-Munqidz min al-Dhalal, dalam Majmu’ Rasa’il al- Imam al-Ghazali, Beirut: Dar al-Fikr, 1996, hlm. 554-555.
Abdul Halim, Tasawuf di Pesantren| 51
dihukum mati pada 309/922 adalah contoh paling tragis. Perlakuan tak adil itu juga dialami oleh sufi lain seperti Zunnun al-Mishri, Abu Yazid al-Basthami dan Junaid al-Baghdadi. Bahkan tuduhan itu sering tidak jelas, mengada-ada dan sering bersifat politis.6
Dalam pandangan al-Ghazali, tasawuf yang dicontohkan Nabi Muhammad saw sebagai dasar tasawuf Sunni hakikatnya tidak bertentangan dengan syari‟ah dan memang tidak perlu dipertentangkan. Hanya belum tampil tokoh yang mampu memberi penjelasan lugas dan komprehensif yang mampu menjembatani ketegangan syari‟ah dan tasawuf. Tentu saja dalam perjalannya masing-masing memiliki dimensi menyimpang. Dalam tasawuf yang dipandang jalan paling luhur juga terdapat penyimpangan yang dilakukan oleh oknum tertentu dengan motif-motif duniawi. Demikian juga dalam syari‟ah dalam pengertian fiqih. Terdapat banyak penyimpangan berupa pemanfaat fatwa-fatwa untuk kepentingan duniawi, mendukung kekuasaan tiran, popularitas dan sebagainya.
Dalam disiplin kalam demikian halnya. Ilmu kalam tidak jarang hanya sekedar keterampilan bersilat lidah untuk popularitas dan keuntungan duniawi, bukan demi menghadirkan bukti-bukti untuk menguatkan
6 Abdul Aziz Dahlan, “Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi:
Tinjauan Filosofis”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, no. 8, vol. II, 1999/1411 H.
52 | JPIK Vol. 2 No. 1, Maret 2019: 43-58
keimanan. Karena itu, ia merangkai lagi seluruh disiplin ilmu keagamaan yang dinilainya telah mati dan dihidupkan kembali dengan memasang ruh tasawuf yang merujuk pada ajaran Nabi Muhammad saw , sehingga dikenal sebagai tasawuf Sunni.
Ajaran tasawuf al-Ghazali didasarkan pada contoh-contoh dalam kehidupan Nabi Muhammad saw. Tapi ia membangunnya sebagai kesatuan integral dengan syari‟ah. Menurutnya, syari‟ah dan tasawuf adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dengan menegaskan jalinan syari‟at, hakikat dan ma‟rifat. Hal ini secara umum tergambar dalam karya utamanya Ihya’ ‘Ulum al-Din.
Dari gambaran di atas corak moderat dalam tasawuf Sunni al- Ghazali terlihat dalam dua hal: (1) dalam ajarannya yang menengahi antara syari‟ah dan tasawuf, (2) dalam ajarannya yang membatasi ekspresi-ekspresi ekstrim. Baginya tasawuf adalah prilaku dan amal yang berusaha untuk terus mendekatkan diri pada Allah. Karena itu, tasawuf al-Ghazali adalah juga tasawuf praktis sebagai panduan prilaku sehingga sangat nampak sebagai akhlak tertinggi.
Salah satu langkah yang digunakan oleh al-Ghazali dalam menampilkan tasawuf moderat yang menjembatasi syari‟ah dan tasawuf adalah dengan menjadikan tasawuf sebagai ruh syari‟ah.
Abdul Halim, Tasawuf di Pesantren| 53
Dalam pandangan al-Ghazali, syari‟ah dalam pengertian fiqih adalah perbuatan-perbuatan lahiriah yang tidak akan berarti apa-apa tanpa ruh berupa ajaran-ajaran tasawuf.7 Tapi ajaran tasawuf yang berinti pendekatan diri kepada Allah tidak bisa dilakukan tanpa syari‟ah.
Karena syari‟ah adalah jasadnya, tempat ruh bersemayam. Syari‟ah adalah langkah-langkah dasar untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Allah sendiri yang telah menunjukkan cara mendekatkan diri kepada- Nya. Syari‟ah telah mengatur demikian lengkap prilaku dan ibadah yang semuanya berujung pada pendekatan diri (taqarrub). Jika dilakukan secara intens dengan penghayatan maksimal, ia akan memberikan pengalaman-pengalaman mistik hingga akhirnya terus mendorong pelakunya untuk semakin intensif mendekatkan diri.
Muaranya adalah tersingkapnya tabir (kasyf) yang kemudian memperlihatkan kebenaran hakiki.
Karena pengalaman yang diperoleh bertingkat-tingkat sebagaimana maqam-maqam tasawuf yang juga bertingkat, al-Ghazali selalu membagi hamba Allah menjadi dua kelompok, atau bahkan menjadi tiga kelompok: awam, (masyarakat umum), khawash
7 Karena itu al-Ghazali memberinama bukunya Ihya’ ‘Ulum al-Din (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama). Al-Ghazali melihat kecenderungan bahwa ilmu agama tidak lagi memiliki ruh, hanya berkutat dengan persoalan lahiriah dan rasional dan mengabaikan nilai-nilai di balik ajaran yang tampak lahiriah tersebut.
54 | JPIK Vol. 2 No. 1, Maret 2019: 43-58
(khusus), dan khawash al-khawash (super khusus). Masing-masing memiliki pola pemaknaan yang berbeda terhadap syari‟ah. Dalam ibadah puasa misalnya, masyarakat umum hanya menahan diri dari segala yang membatalkan yang bersifat fisik, seperti makan dan minum. Tapi puasanya orang khusus, adalah puasa dari dosa, termasuk dosa kecil yang tidak membatalkan puasa secara fiqih.
Sedang puasanya orang super khusus adalah puasa dari yang selain Allah. Tentu makna tertinggi puasa adalah yang terakhir, yang merupakan inti dari tujuan puasa yang harus selalu diupayakan. Tapi kemampuan dan pengalaman orang yang tidak sama mengharuskan pembagian tingkat. Artinya, puasa masyarakat umum tetap diakui sah sebagai sebuah proses awal yang seharusnya terus ditingkatkan. Tapi orang khawas yang telah berpuasa dosa juga tetap berkewajiban menjalankan ibadah puasa, karena ia adalah perintah yang harus dilakukan oleh seorang hamba yang harus selalu disadari oleh semua manusia.
Selain persoalan ibadah, al-Ghazali mengangkat tema tentang hati (qalb) yang menjadi juga menjadi pusat perhatian pada sufi secara umum. Karena arti penting hati sebagai pengendali dan penentu jalan kehidupan manusia, ia harus selalu mendapat perhatian dengan
Abdul Halim, Tasawuf di Pesantren| 55
penyucian yang dapat dilakukan dengan zikir dan dilindungi dari segenap yang dapat mengganggu. Karena itu, al-Ghazali berbicara panjang lebar tentang penyakit hati yang harus diwaspadai dalam terutama dalam Ihya’ jilid 3. Seperti pandangan para sufi umumnya, bahwa kebersihan hati adalah keharusan untuk dapat menangkap cahaya Tuhan dalam kasyf.
Corak tasawuf seperti inilah yang dianggap cocok untuk diterapkan di pesantren. Hal ini karena tasawuf seperti ini lebih kepada tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dengan cara membersihkan hati dari kotoran-kotoran yang melingkupinya. Kotoran-kotoran tersebut bisa dibersihkan dengan senantiasa berdzikir kepada Allah dan bertaubat atas segala dosa yang telah dilakukan. Riyadhah selanjutnya adalah senantiasa berupaya membiasakan berbuat baik dalam segala hal. Kemauan bertaubat dan berdzikir dan berbuat baik kepada orang lain merupakan kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Di pesantren, kebiasaan berdzikir memang ditradisikan dalam kehidupan keseharian. Dzikir tersebut baik dilaksanakan secara bersama-sama maupun sendirian. Kebiasaan dzikir ini sebagai bagian
56 | JPIK Vol. 2 No. 1, Maret 2019: 43-58
dari praktek tasawuf untuk senantiasa dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Karenanya, dapat dipahami bahwa corak tasawuf yang dipelajari dan dikembangkan di pesantren dalah corak tasawuf yang dikembangkan oleh Imam Ghazali. Yang mana, ajaran utamanya lebih kepada praktek dari pada teori. Lebih banyak kepada upaya membersihkan hati dan jiwa demi terciptanya hamba Allah yang senantiasa beriman dan bertakwa.
Simpulan
Kedudukan ilmu tasawuf di pesantren sangat penting. Ini karena pesantren tidak hanya berupaya untuk melahirhan ahli ilmu agama, tetapi juga orang yang memiliki akhlak, baik kepada sesama manusia, alam dan terutama kepada Allah Swt.
sebagai pencipta makhluk.
Tasawuf di pesantren menggunakan Al-Ghazali sebagai
rujukan utamanya. Kitab-kitab Al-Ghazali seperti Bidayatul
Hidayah dan Ihya Ulumuddin diajarkan hampir di semua
pesantren. Hal ini terjadi karena tasawuf Imam Ghazali
Abdul Halim, Tasawuf di Pesantren| 57
dianggap lebih pas karena lebih moderat dan bisa bersinergi dengan syariah, tidak saling melepaskan satu sama lain. Di Samping karena memang Imam Ghazali sendiri adalah penganut Sunni yang bermadzhab Syafi‟ie.
DAFTAR PUSTAKA
al-Taftazani, Abu al-Wafa’ al-Ghanimi. Sufi dari Zaman ke Zman, terj. Ahmad Rofi’i Utsmani. Bandung:
Pustaka, 1997.
Sheikh, M. M. “Al-Ghazali: Metaphysics,” dalam M. M. Sharif, A History of Muslim Philosophy. Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1966.
Al-Ghazali. Ihya’ Ulum al-Din. Kairo: Musthafa Bab al-Halabi, t.t., juz 3.
Al-Ghazali. Al-Munqidz min al-Dhalal, dalam Majmu’ Rasa’il al-Imam al-Ghazali. Beirut: Dar al-Fikr, 1996.
Dahlan, Abdul Aziz. “Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi:
Tinjauan Filosofis”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an,
no. 8, vol. II, 1999/1411 H.Salahuddin, Muhammad.
58 | JPIK Vol. 2 No. 1, Maret 2019: 43-58